DADDY
~hyoukassi~
.
.
.
Yoongi terus menguap sejak 20 menit lalu, dia benar-benar mengantuk tapi hari ini adalah hari keberangkatan sepasang suami istri Kim dan juga harus menjemput anak mereka yang akan tinggal bersamanya. Yoongi sejak kemarin terus membayangkan sosok seperti apa Jimin itu sekarang, dahulu ketika pertama kali mereka bertemu Jimin begitu menggemaskan dan ceria oh jangan lupakan pipi gembulnya yang membuat Yoongi ingin terus mencubitnya, walaupun Yoongi terlihat dingin tapi lelaki itu kuat terhadap hal-hal imut. Yoongi tersenyum seperti orang gila sampai seseorang menepuk bahunya.
"Yoongi-ah aku tau ini terlalu pagi tapi apa kau sudah minum obat?" Namjoon yang menepuk bahu Yoongi menatap dongsaeng kesayangannya itu dengan tatapan prihatin.
"ya! Aku masih sehat tuan Kim terhormat" balas Yoongi sambil menatap tajam padanya dan dihadiahi tawa dari mereka bertiga. Dan Yoongi baru saja menyadari disana ada Seokjin dan Jimin juga, Yoongi menatap Jimin lama tidak berkedip sama sekali. Lihat saja bagaimana penampilan anak Seokjin itu, baju crop tee yang ketat dan juga rok mini yang menampilkan kaki kecilnya tapi menggoda iman itu. Bantu Yoongi agar dapat menelan salivanya dengan benar.
'sial. Di cuaca dingin seperti ini apa yang anak itu pakai?'
"Ya, tidak usah menatap anakku dengan tatapan terpesona seperti itu, aku tau dia memang cantik seperti ibunya ini"
"nuna, kalau kalian bilang Jimin bukan anak kalian aku benar-benar percaya. Dia sangat berbeda dengan kalian berdua"
"dasar kakek tua, kami bisa terlambat ke New York karena terus membalas perkataan mu yang tidak berperasaan"
Jimin hanya menyaksikan perbincangan ketiga orang dewasa didepannya dengan senyum canggung karena orang-orang menatap mereka heran dengan keributan mereka dipagi hari itu. Sesekali Jimin lihat lelaki kulit pucat itu terus menatapnya walau tidak sampai 3 detik lelaki itu akan memalingkan wajah seolah tidak melihatnya.
Yang Jimin tau namanya Min Yoongi seorang pengusaha sukses yang perusahaannya sedang menjadi perbincangan diseluruh Korea bahkan terkenal sampai ke Jepang. Seingatnya dulu Yoongi sering main bersamanya ketika kecil tapi Jimin tidak tau kalau Yoongi telah berubah menjadi setampan ini dalam beberapa tahun. Tidak masalahkan dia harus tinggal bersama pengusaha kaya dan tampan.
.
.
.
Kini Jimin dan Yoongi sudah berada didalam mobil setelah mengantarkan kedua orang tua Jimin yang entah kapan lagi akan bersama anak mereka di Korea. Jimin terlihat biasa saja dengan kepergian orang tuanya, walau dirinya cukup manja tapi dia sadar kedua orang tuanya itu berjuang agar ia bisa terus merasakan hidup yang berkecukupan jadi tugasnya adalah menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang memuaskan.
Selama didalam mobil kedua manusia beda jenis kelamin itu terus terdiam, Jimin yang sibuk dengan handphone dan Yoongi yang sibuk dengan pikiran kotornya. Bagaimana tidak penampilan Jimin yang begitu menggoda cukup membuat Yoongi susah menahan hasratnya tapi tidak lucu kan kalau dirinya harus memperkosa anak itu diatas mobil walau dia tau pasti rasanya nikmat.
Sebelum kehilangan akal sehatnya Yoongi pun melepaskan mantel panjang yang membungkusnya dan di berikan kepada Jimin sementara ia mendapat tatapan penuh keheranan dari Jimin tapi wanita itu langsung memakai mantel tersebut.
"ahjussi tidak kedinginan?" suara lembut Jimin ditelinganya bahkan terdengar begitu menggoda, hentikan pikiran kotormu itu Yoongi.
"tidak. Aku sangat kepanasan"
"oh, aku pikir dirimu tergoda melihat anak sma dengan penampilan seperti ini" Jimin tertawa sinis sambil menatap Yoongi dari atas kebawah, sepertinya sesuatu dibawah sana membuat Yoongi tidak nyaman.
"aku berharap tempat tidur dirumahmu besar sehingga kita bisa melakukannya dengan nyaman, Yoongi-ssi"
"melalukan apa?" sadarkan Yoongi bahwa anak itu tidak sedang menggodanya kan, Jimin manis tapi sepertinya berbahaya.
"olahraga diatas kasur, mungkin" Jimin menampilkan senyuman liciknya melihat telinga Yoongi yang memerah begitu kontras dengan kulit putihnya. Paman tampannya itu benar-benar tergoda.
Yoongi berusaha fokus pada kegitan menyetirnya sambil terus mengumpat dalam hatinya. Belum sehari saja Jimin sudah seperti ini apa lagi bertahun-tahun mungkin dia sudah bisa menghamili anak itu ratusan kali.
.
.
.
Sesampainya di apartemen milik Yoongi, Jimin terpesona dengan interior yang di dominasi warna hitam dan putih yang terlihat begitu elegan dan mewah dirinya yakin bisa nyaman tinggal ditempat seperti ini padahal sejak kemarin dia menduga bahwa Yoongi adalah orang yang pemalas dan kotor tapi ini berbanding 180 derajat.
"dimana kamarku?"
"yang pintu berwarna putih" segera Jimin berlari tergesa menuju tempat kekuasaannya yang baru untuk beberapa tahun kedepan, mungkin jika kedua orang tuanya tidak kunjung kembali ke Korea.
Ketika membuka pintu Jimin melihat kamarnya yang terlihat paling berwarna diantara ruangan di apartemen ini dan Jimin sangat menyukai warnya, biru langit. Warna favorit Jimin sejak dulu. Perabotan dikamar itu di dominasi warna putih yang membuat Jimin berpikir Yoongi sangat terobsesi dengan warna itu dan kemudian dia menyadari ternyata belum ada tempat tidur dikamar itu, jadi dirinya harus tidur dimana.
"Yoongi dimana tempat tidur baru ku? Eomma bilang kau akan membelikannya untukku"
"iya bocah aku sudah membelinya bersabar saja sampai tempat tidurnya datang malam nanti, cepat bereskan barang-barangmu"
Setelah membereskan semua barang-barangnya Jimin melihat Yoongi yang sedang sibuk dengan berbagai macam kertas yang isinya bisa membuat Jimin mual karena terlalu banyak, dirinya terus menatap wajah serius Yoongi yang sesekali terlihat kebingungan membuat Jimin sedikit terkekeh dan juga memuji wajah pria itu yang entah kenapa semakin dilihat semakin bertambah tampan. Tidak sia-sia Jimin memutuskan untuk tetap tinggal di Korea apalagi bersama paman yang tampan nan menggoda seperti Yoongi.
"kau lapar?" tiba-tiba Yoongi menghentikan aktivitasnya dan menatap Jimin sedikit iba karena ia lihat wajah anak itu seperti kelaparan padahal anak itu sedang terpesona padanya, sangat tidak peka.
"hm, bagaimana jika aku yang memasak untukmu? Sepertinya kau masih sibuk, tenang saja masakan ku tidak kalah enak dengan eomma" Jimin segera menuju dapur untuk memulai kegiatan memasak karena ia yakin Yoongi pasti kerepotan jika harus mengurus dirinya padahal lelaki itu cukup sibuk dengan pekerjaannya, hubungan timbal balik lebih baik daripada hanya menumpang dan tidak melakukan apapun iya kan.
.
.
.
Yoongi menatap takjub pada hasil masakan Jimin yang cukup banyak padahal bahan makanan di kulkasnya tidak seberapa, segera mengambil sumpit dan mencicipi makanan yang telah dihidangkan Yoongi kembali takjub dengan rasa masakan Jimin.
"masakanmu enak, tetapi tidak lebih enak dari eomma kita" Jimin terlihat menggerutu setelah mendengar pujian dari Yoongi, menurutnya itu bukan seperti pujian tetapi menjelekkan dia. Kenapa tidak bilang enak saja.
"apa aku salah?" tanya Yoongi menghentikan makannya setelah melihat wajah Jimin yang jelas tidak senang.
"memang masakan eomma tetap palin enak kan?" tanya Yoongi lagi.
"memang benar sih"
"nah itu bahkan kau tau" Jimin kesal sepertinya dia tidak akan menang jika berdebat bersama Yoongi kecuali jika dia menggoda lelaki itu sudah pasti dirinya yang menang.
Ponsel Yoongi berbunyi tanda sebuah pesan masuk namun sang pemilik memilih untuk mengabaikannya dan terus makan seperti tidak ada hari esok membuat Jimin heran bukannya orang penting selalu sibuk dengan handphonenya, bahkan sang ayah juga beberapa kali membuat ibunya kesal karena hal itu.
"tidak membaca pesannya Yoon?"
"pasti tidak penting, lanjutkan makanmu"
"tapi bagaimana jika penting?"
"kalau itu pesan spam aku akan memperkosa mu malam ini"
"oh terserah saja tuan Min"
Yoongi pun segera melihat isi pesan yang ia dapat sedikit berharap semoga saja itu spam sehingga malam ini dirinya bisa bersenang-senang dengan bocah seksi didepannya, oh Yoongi cepatlah sadar mesum.
"sial"
"ada apa?"
"kau tau aku bilang aku membelikanmu sebuah tempat tidur"
"ya lalu kenapa?"
"mereka tidak bisa mengantarnya hari ini, salah satu pegawainya merusak tempat tidurmu itu"
"lalu?"
"lalu? Berarti malam ini kita akan tidur bersama, disatu ranjang yang sama"
"APA?!"
.
.
.
TBC
Haii semuanyaaa! Adakah yang masih mengingat ff ini? Maafkan aku jika melanjutkannya begitu lama, sebenarnya alur ff ini sudah terpikir dengan sangat baik bahkan sampai ke bagian ending ff ini tapi jujur saja waktu luang yang sedikit dan juga bingung harus mengetik ff ini seperti apa yang membuat diriku hampir menyerah pada ff ini.
Tidak menyangka banyak yang memberikan respon positif untuk ff ini, aku sangat berterima kasih. Ada yang bilang judul ff ini begitu ambigu, yah memang awalnya berniat membuat ff dengan rated M tapi ga yakin kalo aku bisa mengetik adegan 'itu' HAHAHA
Sekali lagi terima kasih semoga kalian puas dengan updatean ff ini! Sampai jumpa!
