Title: A Prince for A Princess
Author: KJR3497
Genre: Romance, Fantasy, AU, Adventure
Rating: T
Length: Chapter
Disclaimer: Yesung is Ryeowook's and Ryeowook is Yesung's. No doubt!
Warning: Genderbender, OOC, typos, dll
Pairing: YeWook
.
.
Don't like don't read! I told you!
.
.
*Chapter One*
.
.
Seorang yeoja paruh baya berjalan dengan tergesa-gesa di sebuah koridor panjang. Ia bahkan mengangkat sedikit bagian bawah gaun yang ia kenakan agar bisa berjalan lebih cepat.
Yeoja itu sampai pada sebuah pintu besar berwarna putih dengan kenop pintu berwarna emas dan mendorongnya pelan. Ia tidak terlalu terkejut saat mendapati kamar tersebut lagi-lagi kosong ditinggalkan oleh pemiliknya.
Yeoja itu menghela napas berat saat melihat potongan-potongan kain yang disambung memanjang terikat dan terjuntai dari jendela kamar yang besar itu. Yeoja itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya kemudian ia berteriak.
"Pangeran Ayrie telah kabur!"
Sesosok namja dengan rambut coklat caramelnya yang halus terkikik geli saat teriakan dari seseorang yang sudah ia kenal terdengar hingga ke telinganya. Ia merapatkan jubahnya yang berwarna biru gelap dan membenarkan posisi tudungnya. Namja itu berjalan santai menyusuri jalan dengan batu-batu berwarna putih sambil menikmati pemandangan yang ada. Ia masuk ke daerah pemukiman dan membaurkan dirinya dengan para penduduk disana, melihat-lihat keadaan sekitarnya sambil bersenandung kecil.
Ia mendudukkan dirinya di sebuah kedai makanan kecil yang ada di pemukiman itu, membuka tudung yang menutupi kepalanya sedari tadi dan memesan makanan kecil pada pelayan. Tak lama kemudian sang pelayan membawakan pesanan namja itu, meletakkannya di atas meja dengan pelan-pelan, dan membungkuk hormat lalu pergi. Namja itu tersenyum manis saat dirinya mengambil sebuah roti kesukaannya namun sebuah suara dari luar membuatnya terdiam seketika.
"Pangeran Ayrie telah menghilang dari istana dan barangsiapa bisa membawa pangeran kepada kami akan diberi imbalan."
Glekk
Namja manis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Appanya telah menyuruh para prajurit untuk menangkap dirinya. Kalau dirinya pulang sekarang maka ia akan mendapat masalah yang besar walau sebenarnya pemikiran semacam itu justru salah karena cepat atau lambat appanya akan tetap menghukumnya. Namja itu dengan cepat menghabiskan makanan kecil yang dibelinya dengan maksud secepatnya pergi dari kedai tersebut namun sayang seorang pelayan melihat tanda 'mark of the sun' di belakang lehernya dan berteriak. Bukan hari keburuntunganmu rupanya bukan?
"Aaaahhhh dia… dia yang di situ itu pu… punya mark of the sun. Pangeran ada disini!" teriak yeoja pelayan itu sambil menunjuk ke arah namja yang kini tengah mengumpat pelan.
Para prajurit yang mendengar teriakan dari sang pelayan langsung masuk ke dalam dan menemukan orang yang mereka cari sedang mengoceh pelan atas kebodohan pelayan itu dan atas kecerobohannya sendiri.
"Pangeran kami harap pangeran pulang sekarang juga ke istana," ucap sang kepala prajurit yang berdiri beberapa langkah di hadapan sang namja.
Namja itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan sebal sekaligus menantang.
"Aku tidak mau. Aku baru saja keluar. Nanti saja pulangnya."
"Pangeran ini merupakan perintah dari raja untuk membawa pangeran pulang jika pangeran tidak mau maka kami terpaksa menggunakan kekerasan untuk melakukannya," ucap sang kepala prajurit sambil menundukkan kepalanya, mencoba menghormati tata krama yang ada.
"Aku tidak mau. Biarkan aku lewat. Aku akan kembali nanti tapi sekarang aku ingin jalan-jalan dulu. Bilang pada appa aku bosan diam di istana," namja itu tetap bersikukuh tidak mau keinginannya ditentang. Sedari kecil tidak ada yang menolak permintaannya dan kali ini pun harus begitu.
"Pangeran hal seperti itu tidak bisa kami lakukan," sang kepala prajurit menunjukkan nada penyesalan saat berbicara.
Namja itu mendengus sebal pada kepala prajurit yang tetap tak mau membiarkannya pergi sebentar. Saat ini dia merasa sangat bosan dan appa hanya membuatnya semakin ingin untuk pergi menjauh dari istana dan segala rutinitasnya. Sejak kecil dia dikurung di istana dan belajar tata cara mengatur negara, sejarah negara, dan beberapa hal lainnya yang dia sendiri tak menginginkannya jadi apa salahnya jika ia pergi berjalan-jalan sebentar dan melewatkan pelajaran ketatanegaraan dengan yeoja paruh baya yang berteriak tadi?
Begitulah pemikiran namja itu namun pada faktanya ia telah 5 kali melewatkan pelajaran itu dalam seminggu ini membuat appanya mau tak mau menggeretnya paksa untuk pulang dengan mengirimkan prajurit terbaik untuk mencarinya.
Namja itu menghela napas pelan untuk menenangkan dirinya. Otaknya yang pintar mulai berputar untuk mencari jalan keluar terbaik dalam keadaannya saat ini. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di otaknya. Ia tersenyum kecil saat ide itu datang walaupun sebenarnya ia bermaksud ingin menyeringai tapi nampaknya tidak bisa.
"Aku tetap tidak mau jadi kalian harus menggunakan jalan kekerasan."
Kepala prajurit itu menghela napasnya berat. Ia terpaksa harus melawan sang pangeran ini dan memaksanya untuk pulang tanpa melukainya. Bukankah sebuah pekerjaan berat? Melawan tanpa melukai? Kepala prajurit itu menatap sang pangeran dengan tatapan memohon namun di tangannya telah terdapat sebuah tombak yang terbuat dari petir untuk berjaga-jaga kalau pangeran benar-benar menginginkan jalan kekerasan.
Seluruh penduduk awam yang ada di sekitar tempat itu hanya bisa menyaksikan dan menunggu kejadian yang akan berlangsung selanjutnya. Sang pangeran tidak terlihat takut walau sang kepala prajurit sudah mengeluarkan senjatanya.
"Aqua flutura," bisik sang pangeran dengan pelan dan tiba-tiba saja sebuah gelombang air yang sangat dahsyat menghempaskan para prajurit itu.
Pangeran tersebut melarikan diri selagi para prajurit-prajurit yang ingin menangkapnya tengah bergelut dengan gelombang air yang baru saja ia ciptakan. Namun bukan prajurit terbaik namanya jika mereka tidak mampu mengatasi hal seperti itu. Dengan cepat para prajurit itu bangkit dan mengejar sang pangeran yang masih terus berlari.
"Pangeran tunggu!"
Sang pangeran tak menghiraukan teriakan dari para prajurit yang mengejarnya. Ada untungnya juga pelajaran mengontrol elemen yang dia ikuti selama ini. Paling tidak di saat terdesak seperti ini.
Sang pangeran berlari sekuat kakinya yang mungil bisa membawanya pergi. Para prajurit masih saja bersikukuh mengejarnya padahal ia sendiri sudah agak lelah berlari. Pangeran itu tidak sadar bahwa sekarang ia telah keluar dari pemukiman penduduk dan menuju hutan perbatasan. Ia terus berlari sambil sesekali memperhatikan para prajurit yang terus mengejarnya tanpa lelah.
Pangeran itu berhenti saat sampai di hutan yang lebat. Napasnya tersengal-sengal dan kakinya sudah terasa sangat pegal. Wajahnya penuh dengan keringat namun suara langkah para prajurit yang mengejarnya malah terdengar semakin dekat. Dalam hati ia sedikit merutuk karena jarang melakukan latihan lari. Tentu saja sekarang ia kalah stamina dengan para prajurit terbaik itu walau untuk urusan otak memang dia yang lebih pintar.
Ia masih memaksakan kaki mungilnya untuk terus berlari tanpa menyadari ia telah berada di hutan dengan arah yang salah. Ayolah dia sedang panik dan bahkan tidak menyadari keadaan sekelilingnya apalagi sekedar tanda batas wilayah yang baru saja ia lewati. Ia cuma berpikir bagaimana caranya meloloskan diri dari kejaran para prajurit keras kepala yang bahkan tidak kehilangan jejaknya sama sekali. Satu yang ada di pikirannya saat ini adalah ia ingin bersembunyi karena tak mungkin ia memaksakan kakinya untuk terus berlari.
Pangeran itu merapatkan tubuhnya pada sebatang pohon besar yang ditutupi semak-semak. Semakin dekat suara langkah prajurit, ia akan semakin merapatkan dirinya pada pohon itu. Sang pangeran jatuh terjungkal saat pohon itu tiba tiba membentuk sebuah pintu putar yang mendorong tubuhnya untuk masuk ke bagian dalam pohon itu. Ia cukup tercengang saat menemukan bahwa di dalam pohon itu terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Tidak ruangan di dalam pohon ini memang besar, sebesar kamarnya mungkin?
"Pangeran jangan bersembunyi. Ayo cepat pulang. Raja akan sangat marah pada kami. Aku mohon," samar-samar terdengar suara kepala prajurit berteriak memanggil pangeran itu dari luar.
Kepala prajurit hendak melangkah lebih jauh untuk mencari sang pangeran namun lengannya ditahan oleh salah satu anak buah yang termasuk tangan kanannya itu. Ia menunjuk sebuah menara batu tanda batas wilayah pada sang kepala prajurit membuatnya mengangguk mengerti.
"Kita akan kena hukuman kalau melewatinya."
"Tapi sepertinya pangeran sudah lari hingga kesana. Bagaimana ini?"
"Kita tunggu saja di dekat sini siapa tahu pangeran akan keluar tanpa ketahuan mereka."
"Tapi ini beresiko. Bagaimana kalau pangeran tertangkap dan disandera oleh mereka?"
"Kalau begitu pengadilan agung yang akan menentukannya. Kita tidak bisa berbuat apapun. Kita juga tidak bisa pulang sekarang dengan tangan hampa. Lebih baik kita menunggu disini sampai batas waktu tertentu."
Sang kepala prajurit mengangguk menyetujui perkataan dari tangan kanannya. Ia memerintah seluruh anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar daerah itu untuk memastikan keberadaan pangeran.
Sang pangeran masih terkagum-kagum atas ruangan di dalam pohon yang baru saja ia masuki. Ruangan besar berbentuk lingkaran ini memiliki rak-rak yang tak kalah besar dan memenuhi setengah ruangan ini. Rak-rak itu setengahnya berisi ramuan-ramuan pada gelas kaca yang punya warna beraneka ragam dan setengahnya lagi berisi buku-buku yang tebalnya luar biasa. Di tengah-tengah ruangan terdapat meja eboni berwarna merah dengan beberapa buku, kertas, dan pena berserakan di atasnya.
Sang pangeran berjalan mengitari ruangan itu untuk melihat-lihat. Ia menatap langit-langit ruangan itu yang terlihat transparan menampakkan bintang-bintang yang bersinar.
Tunggu dulu. Bintang? Apa itu artinya sekarang sudah malam? Sang pangeran menggaruk kepalanya gatal. Dia masuk beberapa menit yang lalu dan diluar masih terang jadi ini pasti semacam observatorium. Walaupun begitu ia menyukai pemandangan bintang-bintang yang ada. Terlihat alami dan nyata untuk sebuah observatorium. Sebenarnya siapa yang memiliki ruangan seindah ini?
Brakk
Pangeran tersebut tanpa sadar menabrak sebuah rak besar membuat buku yang diletakkan asal di dalamnya terlempar keluar. Ia mengambil buku itu dan mencoba membaca judulnya namun dirinya tidak awas akan sebuah botol kaca yang berputar tepat di atas kepalanya karena tabrakannya tadi. Botol itu terus berputar dan akhirnya jatuh di atas kepala sang pangeran tepat saat ia akan membaca judul buku tersebut. Cairan berwarna perak itu membasahi tubuh sang pangeran membuatnya melepaskan buku yang diambilnya tadi dan jatuh pingsan.
.
.
*A Prince for A Princess*
.
.
Seorang namja dengan tubuh tinggi melangkah pelan menyusuri sebuah hutan yang sunyi. Ia berhenti saat mata bulan sabitnya itu mendapati beberapa orang yang tampak seperti prajurit berjaga tidak jauh dari tempat yang akan ditujunya. Daerah ini tidak biasa didatangi oleh mereka lalu apa tujuan mereka kemari? Beruntung saat itu dia bisa melihat para prajurit itu dari jarak sejauh ini dan di tempat segelap ini.
"Furvus Receptaculum," bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Angin berhembus dengan pelan dan secara perlahan namun pasti tubuh namja itu menghilang di balik kegelapan malam. Menyembunyikan dirinya di bawah samarnya sinar rembulan yang menerangi tempat itu dan di antara rimbunnya pepohonan dan semak belukar yang ada disana.
Namja itu masuk ke sebuah ruangan melalui sebuah pintu putar yang ada pada sebuah pohon. Ia melepas pelindung sihir yang dipasangnya tadi hingga perlahan seluruh tubuhnya kembali terlihat seutuhnya di dalam ruangan itu. Ia melangkahkan kakinya santai ke tengah ruangan namun langkahnya terhenti saat sesosok tubuh seorang yang ia yakini sebagai yeoja tak sadarkan diri di ruangan miliknya.
Ia mengernyit bingung melihat kehadiran sosok tersebut karena menurut yang ia tahu tempat ini tidak pernah diceritakannya pada siapapun dan letaknya rahasia, hanya dia yang tahu tentang ruangan ini.
Posisi yeoja itu sedang berbaring menelungkup membuat namja itu tidak dapat melihat wajahnya. Yeoja itu tampak sangat aneh baginya karena memakai pakaian para namja bangsawan yang kebesaran bagi tubuhnya dan menggunakan tudung berwarna biru tua yang menutupi hampir seluruh tubuhnya yang mungil.
Namja itu melihat sebuah botol yang pecah di dekat yeoja itu tergeletak dan sebuah buku yang terjatuh dari raknya. Dengan cepat ia menyimpulkan bahwa kedatangan si yeoja kesini sepertinya adalah karena ketidaksengajaan.
Namja itu berjongkok untuk melihat keadaan sang yeoja yang masih tidak kunjung bangun itu. Ia akan mengangkat kepala yeoja itu namun tubuhnya membeku saat melihat sebuah tanda di belakang leher sang yeoja yang tidak sengaja terlihat saat helaian rambut coklat caramelnya yang panjang dan ikal bergerak sesuai dengan gerakannya.
'Mark of the sun,' gumamnya dalam hati.
Tentu saja tanda berbentuk matahari di belakang leher yeoja itu sudah tak asing lagi baginya. Ia sendiri memiliki tanda yang sama di lengan kanannya namun dengan bentuk yang berbeda. Milik namja itu adalah mark of the moon, tanda berbentuk bulan. Tanda itu ia dapatkan semenjak ia lahir dan appanya sendiri yang membuat tanda itu untuknya. Tanda itu dibuat untuk menyatakan bahwa dirinya adalah penerus kerajaan yang sah.
"Tidak mungkin. Setahuku Traerien memiliki seorang pangeran mahkota bernama Ayrie Vermilionfall. Lalu siapa yeoja yang memiliki mark of the sun ini?" ucapnya bingung kepada dirinya sendiri.
Namja itu meneruskan kegiatannya yang sempat terhenti tadi. Ia membalikkan tubuh yeoja itu dan memangku kepalanya di atas paha. Wajah yeoja itu mungil dengan bibir merah muda tipis serta tulang pipi yang agak tinggi dengan semburat merah muda di sekitar pipinya. Hidungnya bangir dan kulitnya seputih susu. Secara keseluruhan yeoja ini nampak begitu cantik membuat sang namja sempat terpukau karenanya. Namja itu sempat tersipu malu saat baju kebesaran yang dikenakan sang yeoja sedikit tersingkap memperlihatkan bahunya yang mulus.
Sejenak si namja seperti kehilangan akal karena terbuai pesona yang dipancarkan si yeoja namun cepat-cepat ditepisnya pikiran-pikiran itu. Bagaimana pun jika yeoja ini mempunyai tanda 'mark of the sun' berarti dia bukan orang sembarangan dan yang pasti yeoja ini tidak berasal dari bangsa yang sama dengannya.
Namja itu tampak berpikir sebelum kemudian mengubah posisi sang yeoja menjadi duduk bersandar pada rak besar miliknya.
"Irretiant," ucap sang namja.
Sebuah tali entah darimana asalnya tiba-tiba mengikat yeoja itu. Tidak erat namun cukup untuk membuatnya diam.
"Sekarang tingal menunggu dia bangun dan aku akan bertanya padanya."
.
.
*A Prince for A Princess*
.
.
Yeoja itu mengernyit pelan saat dirinya merasa mulai sadar. Ia membuka matanya pelan namun kembali menutupnya dan kemudian mengerjap-ngerjapkannya lagi untuk membiasakan diri pada cahaya yang ada pada ruangan itu. Kepalanya terasa agak pusing dan pandangannya agak berkunang-kunang. Ia ingin menggerakan tangannya namun sesuatu menahannya. Ia memandang tubuhnya yang diikat seutas tali membuatnya susah bergerak.
"Kau sudah bangun rupanya?" sesosok namja menyapanya dan meliriknya sekilas dari kursi besar yang ia duduki. Tubuhnya membelakangi yeoja itu hingga sang yeoja tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Itu tali sihir. Tidak akan mudah melepaskannya," ucapnya lagi namun kali ini ia berbalik memperlihatkan wajahnya yang luar biasa tampan itu kepada sang yeoja yang terdiam menatapnya.
Namja itu memiliki postur tubuh yang bagus dan tegap. Rambutnya berwarna hitam legam dengan tatanan sedikit acak-acakan namun makin memperlihatkan ketampanannya. Kulitnya putih pucat dan hidungnya bangir. Matanya berbentuk bulan sabit dan tatapannya dingin tanpa ekspresi. Irisnya berwarna biru dengan bercak putih yang menyebar di sekeliling pupil matanya. Pakaian namja itu terlihat seperti seorang aristokrat.
'Tunggu dulu! Mata biru?' gumam sang yeoja dalam hati.
Yeoja itu kembali menatapnya dan memastikan warna iris mata sang namja yang masih memberikan tatapan dingin padanya. Sesekali ia mengerjapkan matanya berharap yang dilihatnya ini salah atau hanya mimpi namun tidak sama sekali. Seakan mengerti apa yang ada di pikiran yeoja itu sekarang sang namja melipat tangannya di dada dan tersenyum menyeringai.
"Ya. Kau sekarang berada di wilayah Thorenwan nona Traerien," sang namja menatap sang yeoja dengan tatapan menantang.
"Dan sekarang kau sedang berada di tempatku tanpa ijin," ucapnya angkuh dan arogan.
"Nona katamu? Siapa yang kau panggil dengan nona hah?" yeoja itu berteriak terbakar emosi dan balas menatap sang namja dengan tatapan melawan yang sangat sengit.
"Tentu saja kau. Apa kau melihat orang lain selain dirimu dan aku di ruangan ini?" namja itu masih berusaha menanggapi pertanyaan si yeoja dengan tenang dan tanpa ekspresi namun dirinya cukup bingung melihat sang yeoja yang kini tengah panik melihat kondisi tubuhnya sendiri.
"Apa… apa yang kau lakukan pada tubuhku?" teriaknya marah. Matanya yang berwarna kuning keemasan menatap langsung mata biru sang namja dengan ganas seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Kenapa kau mengubahku jadi yeoja? Apa maksudmu sebenarnya?" yeoja itu kembali berteriak pada sang namja yang kini malah mengerutkan dahinya bingung atas perkataan yang baru dilontarkan sang yeoja.
"Mengubahmu jadi yeoja? Memang apa untungnya bagiku? Lagipula bukannya kau memang yeoja?"
"Bukan! Aku bukan yeoja!" ucapnya bergetar.
"Aku ini namja. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa jadi seperti ini?" mata sang yeoja nampak berkaca-kaca membuat namja yang menatapnya dengan dingin itu sedikit meluruh. Air mata mulai jatuh menuruni pipi mulus sang yeoja.
"Hei jangan cengeng katanya kau bukan yeo…" ucapan sang namja terhenti saat ia merasakan suhu ruangannya menjadi dingin dan di langit-langit ruangannya dipenuhi dengan bilah-bilah es yang berujung runcing seperti stalaktit.
"Hei… hei tenanglah. Katakan apa yang terjadi," namja itu mulai mencoba menenangkan sang yeoja yang masih terisak kecil. Yeoja itu memandangnya dengan tatapan nanar.
"Aku… aku tidak sengaja menemukan tempat ini dan aku terpaksa bersembunyi disini untuk menghindari kejaran para prajurit."
"Tunggu dulu. Kenapa para prajurit itu mengejarmu?" namja itu menyela sebelum sang yeoja melanjutkan ucapannya.
"Kau berbuat jahat?"
Yeoja itu menggeleng dengan kuat.
"Bukan. Aku… aku dikejar… karena melarikan diri dari istana," keduanya terdiam dalam kebekuan malam. Tidak ada yang bersuara di antara mereka. Semua tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Yeoja itu telah berhenti menangis dan seketika itu sang namja menyadari bahwa stalaktit yang ada di langit-langit ruangannya tadi telah menghilang. Ia menghela napas pelan.
"Apakah kau Ayrie Vermilionfall?" tanya namja itu dengan nada dingin.
Sang yeoja hanya bisa mengangguk pelan saat namja itu menyebutkan namanya.
"Kau tahu namaku?" Ayrie bertanya kembali dan hanya dijawab dengan anggukan kecil namja itu.
"Lalu kau sendiri siapa?" Ayrie kembali bertanya.
"Aku? Aku adalah Ilosia Archcaster," ucap sang namja dengan nada arogannya membuat Ayrie terdiam dan menatapnya kaget. Seiingatnya nama Ilosia pernah terdengar di kerajaannya sebagai calon penerus sah kerajaan Thorenwan.
"Tidak usah kaget begitu. Kau pasti juga telah mengenalku kan?" Ilosia bangkit dari tempatnya duduk dan berjongkok di depan Ayrie. Ia menyentuh dagu Ayrie membuat yeoja itu menatapnya.
"Tidak kusangka pangeran Traerien begitu manis sebagai yeoja."
"Aku bukan yeoja!" sekali lagi amarahnya terbakar atas perkataan Ilosia. Mata kuning keemasannya terlihat membara seperti sebuah api besar yang akan membakar habis seluruh ruangan itu.
"Aku berubah jadi begini karena botol ramuan dengan cairan berwarna perak yang tadi jatuh menimpaku."
Ilosia terdiam dan melepaskan tangannya dari dagu Ayrie. Ia mengangguk seakan mengerti.
"Ah cairan itu ya ternyata. Pantas saja kalau memang jadi begini. Aku sudah mengerti."
"Apa yang kau mengerti? Kenapa aku jadi begini? Aku menuntut penjelasan darimu pangeran Ilosia," sahut Ayrie tak sabar. Dirinya mulai merasa gusar dan tak nyaman.
"Apa semua cairan itu telah menyirammu sampai habis?" tanya Ilosia lagi yang makin membuat Ayrie gusar. Dengan cepat dirinya mengangguk menjawab pertanyaan Ilosia.
"Yah kalau begitu kesimpulannya kau akan jadi yeoja untuk selamanya."
"Apa maksudmu?" Ayrie semakin gusar dan ia menatap Ilosia meminta penjelasan lebih.
"Aku tidak suka membuang-buang tenaga untuk menggunakan sihir atau merapalkan mantera jadi terkadang aku suka menampung sihirku pada sebuah ramuan yang nantinya bisa kupakai setiap saat dan tidak perlu memakai mantera lagi. Cairan berwarna perak yang mengenai tubuhmu kemungkinan besar adalah botol yang selalu kugunakan untuk menyamar."
"Menyamar?" dahi Ayrie berkerut.
"Sebagai seorang yeoja?" Ayrie melemparkan pandangan aneh pada Ilosia.
Ilosia mengedikkan bahunya.
"Paling tidak itu membuatku tidak dikenali dan lagi kalau aku tidak bawa uang aku bisa menggunakan wajah yeojaku yang cantik untuk sedikit membujuk pedagangnya," ia memandang lurus ke arah Ayrie dan menatapnya dengan serius.
"Setetes cairan itu bisa membuatku jadi yeoja untuk setengah hari. Sihir yang kuberikan sangat kuat jadi kalau sebotol itu habis maka kau mungkin tak akan bisa kembali."
Ilosia berdiri dari posisinya semula dan duduk di kursi satu-satunya yang ada di ruangan itu.
"Aku tidak terlalu membenci Traerien seperti para Thorenwan lain. Masalah mereka dulu tidak ada sangkut pautnya denganku. Lagipula Traerien tak mencari masalah dengan Thorenwan jadi kupikir akan baik-baik saja. Aku akan memaafkanmu dan tidak melaporkanmu pada pengadilan agung. Pulanglah aku melepaskanmu."
"Revelan," ucap Ilosia melepas sihir pengikatnya pada Ayrie tanpa menatap pangeran yang sosoknya telah berubah menjadi yeoja itu.
Ilosia hendak mengambil penanya jika saja ia tak melihat puluhan belati tajam yang terbentuk dari air mengelilinginya.
"Kau sombong pangeran Ilosia. Kau membelakangi musuhmu," Ayrie melangkah menuju ke arah Ilosia dan menatapnya dari depan. Ilosia hampir tertawa melihat baju longgar yang dipakai oleh Ayrie jika saja tidak ada belati Ayrie yang siap menusuknya kapan saja.
"Aku tahu tatapan mata itu Ilosia! Aqua resticula," teriak Ayrie membuat air yang ada di tanah keluar ke permukaan dan mengikat Ilosia di kursinya dengan kencang.
"Sekarang kau yang menjadi tawananku pangeran Ilosia."
Ilosia menyeringai dan memandang Ayrie dengan penuh ejekan.
"Apa maumu?" ucapnya tenang dan dingin seakan ia sedang tidak diancam oleh Ayrie.
Ayrie menggeram kesal melihat kelakuan Ilosia. Ia mengeratkan kekangannya di tubuh Ilosia membuatnya bergeming sebentar lalu kembali memasang tatapan dinginnya.
"Kembalikan aku seperti semula! Aku tidak mungkin pulang ke Traerien dengan tubuh seperti ini. Appa hanya akan membantaiku."
"Apa ada yang bisa kulakukan? Aku bukan raja. Jika kau mau kembali mintalah appaku melakukannya. Tapi mungkin kau akan berhadapan dulu dengan pengadilan agung dan sepertinya appa tidak berminat membantumu," Ilosia menjawab dengan santainya.
Ayrie mendesah kesal. Semua yang dikatakan oleh Ilosia benar tapi ia juga tak bisa terperangkap dalam keadaan seperti ini.
"Tidak bisakah kau memikirkan jalan lain? Kau yang membuat mantera itu."
Ilosia mengedikkan bahunya.
"Mungkin kau pun mengetahui tentang hal ini walau sebenarnya ini mustahil saja. Lebih baik kau menemui Oracle. Mungkin ia bisa membantumu."
"Mustahil! Oracle hanya sebuah mitos yang beredar di kalangan rakyat. Menemuinya hanya akan membawa kematian," Ayrie terdiam setelahnya. Pikirannya masih berkutat pada pertanyaan bagaimana cara mengembalikan dirinya seperti sediakala dan cepat pulang ke Traerien. Ia memejamkan matanya sebentar sebelum kemudian membukanya lagi.
"Baiklah tidak ada salahnya untuk mencoba."
Ayrie mendekati Ilosia yang masih santai dengan tampang tenangnya. Ayrie duduk di atas meja Ilosia tepat berseberangan dengan Ilosia yang masih terikat di kursi.
"Aqua catena," ucap Ayrie lirih dan sebuah rantai dengan mata pisau kecil tajam yang terbuat dari air menembus masuk ke dalam tubuh Ilosia tepat di bagian dada membuatnya kesakitan.
Ilosia terengah-engah. Peluh membanjiri wajahnya yang tampan. Perlahan namun pasti rasa sakit yang menyerangnya akibat rantai yang menembus dadanya itu makin menghilang. Ilosia memandang tajam mata Ayrie. Mata birunya yang tadinya menenangkan berubah menjadi sebuah api biru yang siap membakar siapa saja.
"Apa yang kau lakukan?" desisnya menahan marah.
"Mianhae. Aku hanya ingin kau menemaniku pergi mencari Oracle karena bagaimana pun semua ini terjadi akibat sihirmu juga walau kau tak bersangkutan," Ayrie menghela napasnya pelan sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Rantai itu hanya kugunakan pada beberapa orang tertentu. Rantai itu membelit jantungmu dan kapan pun sesuai dengan perintahku mata pisaunya bisa membunuhmu."
"Apa katamu? Membunuhku? Darimana kau mendapat keberanian untuk membunuhku?"
"Aku tak bermaksud membunuhmu. Aku hanya ingin kau menemaniku dalam perjalanan dan sebagai tanda untuk berjaga-jaga siapa tahu kau akan menolak aku memasangnya. Tapi bukan berarti aku tak akan berubah pikiran untuk membunuhmu. Nyawamu ada di tanganku."
Ilosia hanya bisa diam. Tubuhnya terasa kaku mendengar perkataan Ayrie. Tahu begini tadi dia tak akan melepaskan Ayrie begitu saja. Ia akan menyiksanya dulu dan menjadikannya budak sebelum kemudian menggeretnya ke pengadilan agung. Sekarang hidup matinya malah ditentukan di tangan Ayrie. Kau gegabah Ilosia!
"Oh iya ada satu hal lagi selain menemaniku. Aku tidak suka dipanggil Ayrie dengan penampilan seperti ini lagipula orang-orang akan memergokiku jadi panggil aku Ryeowook, Ilosia," ucapnya sambil memegang dagu Ilosia seperti yang tadi dilakukan namja itu padanya.
TBC
Annyeong karena beberapa uda ada yg liat ff ini dr blog jd saya update agak cepet aja ya. FFnya bakal saya lanjut terus kok, saya cuma becanda kemarin. Untuk yang pernah liat ff ini di blog saya mungkin akan ada sedikit perubahan di sini walau ga terlalu signifikan *bahasanya ribet*, cuma untuk menyesuaikan dan memudahkan aja kok. Awalnya nama-nama yang saya pakai memang agak ribet tapi selanjutnya saya bakal pakai nama Korea mereka terus kok. Paling cuma sekali-sekali pake nama ribetnya itu :)
Oya bagi yang bingung sama bentuk 'mark of the sun' dan 'mark of the moon' itu kalian bisa liat gambarnya di ryeoci69 . files . wordpress 2012 / 12 / a-prince-for-a-princess-1 . jpg? w=624 (hilangkan spasinya) itu poster cover aslinya tp karena ga bisa di-resize jd terpaksa ga dipakai disini ^^
Sekarang balas review dulu deh ^^
Meyleni3424: Namanya ga akan dipake terus-menerus kok. Gomawo uda RnR
KimSunRi: ok sip. I know what you mean. I won't do it again *maybe if I'm on the mood of trolling I will* but please don't read this one. This contain so many crazy, absurd, and random using of your lovely spells guide. Forgive me but I'm really embarrass with this. I beg you please...~
Devi AF: wah ternyata ada jg yg pernah berkunjung ke blogku. Iya ini cerita yg sama. Tunggu satu-satu dulu ya update-nya tapi akan diusahakan sebisa mungkin kilat. Gomawo uda RnR :)
bluerose: udah dimunculin 1 elemen yg bisa wookie kendaliin. Gomawo uda RnR
R'Rin4869: hehehe sesuai request-mu sudah di-post disini. Iya lanjut kok. Sabar ya. Gomawo uda RnR
RyeoFfan18: eh masih blm ngerti ya? mian T^T. semoga pas ceritanya berjalan jd bisa lbh jelas. Gomawo uda RnR
Yulia CloudSomnia: iya lanjut. ini sudah kilat blm?^^ Gomawo uda RnR
littleyewook: ne dilanjut kok. Gomawo uda RnR
wookie: sip ini sudah dilanjut. Gomawo uda RnR
choi Ryeosomnia: ini sudah dilanjut. Gomawo uda RnR
Dan gomawo juga buat yang sudah mereview ff 'Looking for A Star' mian ga bisa balas satu persatu untuk : redpurple, littleyewook, Meyleni3424, Kim Jongmi, CMYoung137, EternalClouds2421, KimSunRi, Yuzuki Chaeri, cloud prince, Kim Sooyeon, eunsoopark58. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ff tersebut. Rasa terima kasihku yang terdalam untuk kalian semua :)
Mind to RnR?^^
- Ryeowook's Aegi -
