Chapter 2: Apa yang Ingin Disampaikan Oleh Nii-san

Warning :Very weird fanfict, OOC , full of typo. EYD hancur berantakan.

Pair: (kayaknya) SasuNaru, tapi bukan Yaoi.

*WHAT I HEAR IS FÜR ELISE*

Sasuke membuka matanya, sesekali ia mengedip-ngedipkan matanya. Ia menoleh dan menatap jam dan mendapati jarum jam yang pendek berada di angka enam. Sasuke terduduk dan ia baru saja menyadari sesuatu, ia terbangun dikamarnya, bukan di sofa ruang tengah. ia pun mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin.

flashback...

Sasuke menjatuhkan dirinya ke sofa. Saat tangannya hendak mengambil remote tv, ia mendengar suara dentingan piano, Für Elise. Bulu kuduk Sasuke kembali berdiri. Ia pun menyalakan Tv dan mengencangkan suara Tv. Ia pura-pura menyanyikan lagu Theme song dari anime "Menma Shippuden" kesukaanya itu. Berharap ketakutan itu perlahan menjauh.

JEP!

"Kuso! Kenapa harus ada acara mati lampu juga?!" Gerutu Sasuke karena tiba-tiba listrik yang ada dirumahnya padam. Ia pun perlahan-lahan mengambil senter dikamarnya dan menyalakannya. Ia lalu berjalan ke arah pintu rumah dan tentu saja membukanya. Gelap. Semua rumah yang didekat rumahnyanya gelap. Tidak ada satu pun lampu yang terlihat menyala. "Aliran , ya..."

Sasuke pun mulai menyoroti rumahnya dan sedikit bermain-main seakan senter itu adalah sebuah pistol. Sasuke membelakan matanya karena nelihat sekelebat bayangan hitam lewat. Sasuke menelan ludahnya lalu cepat cepat ia mengambil lilin dari menyalakan tiga batang lilin dan menaruhnya di atas meja makan, meja dapur dan meja pendek depan sofa di ruang tengah.

Sasuke lalu duduk meringkuk di sofa dan yang dilakakunnya berikutnya adalah menutup mata dan telinganya. Ia tidak mau mengambil resiko melihat hantu atau mendengar lagu yang dimainkan orang yang sudah mati.

'Bayangan tadi...itu pasti bayangan itachi-ni. Rambutnya terlihat di ikat pony tail. Kenapa aniki menghantuiku?Aku 'kan outotonya!' Batin Sasuke bertanya-tanya.

Sasuke melepaskaan tanganya dari telinganya. Ia merasa pegal karena hampir dua puluh menit ia menutup telinganya dengan tanganya.

SRAT

Sesuatu melintas dengan cepat , mengakibatkan lilin didepan Sasuke bergerak mengikuti angin yang dibuat oleh benda yang melintas tadi. Sasuke membeku, ia merasa sangat ketakutan.

"Jangan takut...outoto..." Terdengar suara berat yang Sasuke yakini sebagai suara Itachi. Bukannya menjadi tidak takut , rasa takut Sasuke malah itu kembali melintas dan kini semua lilin menjadi padam.

"Aku ingin memberitahumu...sesuatu..." Suara itu terdengar kembali. Sasuke merasa ada orang yang mendekatinya, duduk disebelahnya dan merangkulnya. Tangannya benar-benar dingin. "Pembunuhnya...dia ... dekat..."

Ketakutan menguasai Sasuke sehingga ia pun jatuh pingsan.

Flashback end...

*WHAT I HEAR IS FÜR ELISE*

"Jadi begitulah cara pengerjaan soal ini." Jelas Guru Kurenai setelah menjelaskan sebuah soal di papan tulis. "Karena saya ada keperluan, saya akan memberikan 10 soal pada kalian. Kerjakan dengan tertib."

"Baik, sensei!" ujar murid di kelas itu dengan serempak , kecuali Sasuke yang tengan corat-coret di buku tulis yang ia sebut dengan buku corat coret. Guru Kurenai pun meninggalkan kelas.

"Teme, kau tidak mengerjakan?" Tanya Naruto yang menyadari Sasuke yang tidak menyentuh buku tulis Matematikanya.

"Tidak." Jawab Sasuke pendek sambil menggambar rubah di bukunya.

"Eh? Kenapa?" Tanya Naruto yang langsung menutup buku corat-coret Sasuke.

"Malas." Jawab Sasuke acuh tak acuh. "Lagipula, aku tahu kau ingin mencontek jawabanku, Dobe."

Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia merasa tertangkap basah. "eh... bukan itu, nanti jika Kurenai-sensei tahu kau tidak mengerjakan tugasnya...hiii" Naruto menggerakan jari telunjuknya didepan lehernya. Yah... bisa dibilang ini adalah bahasa isyarat dari 'kau akan dipenggal'.

"Huh... ancaman seperti itu tidak berlaku untukku." Ujar Sasuke dengan nada meremehkan.

"Bagaimana kalau kau dapat nilai nol dan kau tidak naik kelas karena nilai nol itu dan kau kesepian karena tidak sekelas denganku?" Tanya Naruto ngaco. "Lebih parah lagi, bagaimana kalau...-hehe- Bagaimana kalau nilaimu jelek dan Itachi-san marah, lalu dia menghantuimu tiap malam?Lalu-"

"Cukup, Dobe. Aku tidak ingin membicarakan hal ini oke?" Ujar Sasuke dengan nada mengancam. Naruto yang sudah tahu kalau dengan nada seperti itu sedang terganggu saat ini.

"Apa... Kau melihat Itachi-san lagi?" Tanya Naruto.

"Aku mau mengerjakan tugas dulu." Ujar Sasuke cepat sambil membuka buku tulisnya.

"Teme!"

"Kenapa kau penasaran akan hal itu?" Tanya Sasuke sedikit membentak. Ia pun lalu pura-pura menekuni soalnya.

"Karena... Kemarin aku juga melihat Itachi-san saat dirumahmu." Ujar Naruto.

"Bicara konyol apa kau?" Tanya Sasuke sambil memasang wajah menyelidiki. "Jangan bicara konyol tentang orang mati."

"Teme," Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke sehingga jarak antara wajahnya dengan Sasuke hanya berjarak sekitar 5 cm. "Apa aku terlihat berbohong?"

"Tidak." Jawab Sasuke pendek.

"Kau lihat Itachi-san setiap saat ya?Aku saja yang melihatnya dibelakangmu saat aku hendak pulang saja sebenarnya aku sudah sangaaaaaat merinding." Celetuk Naruto.

"Yah, hampir setiap saat. Aku bahkan melihatnya saat ini." Ujar Sasuke penuh misteri.

"Ehhh?"

"Dia sedang duduk di kursi guru."

Mendengar itu Naruto langsung ketakutan dan bersembunyi dibawah meje. "Kalau sudah tidak ada bilang ya, Teme."

"Aku bohong." Ujar Sasuje yang lumayan puas karena sudah menjahili Naruto.

"Grrh... Apa? Aww!" Geram Naruto. Ia juga meringis karena kepalanya menghantam kolong meja.

"Kau memang pantas kupanggil 'Dobe'." Ledek Sasuke sambil sedikit menjulurkan sedikit lidahnya.

"Kau bilang jangan bicara konyol tentang orang mati! Kau sendiri menjahiliku tentang orang mati, HUH!" gerutu Naruto lalu duduk dibangkunya. "Ngomong-ngomong, kau sudah Pr biologi?"

"Pr biologi?!" Pekik Sasuke. Melihatnya, Naruto langsung sweatdrop. "Sial! Aku lupa!"

"Aku sudah, mau menyontek dariku?" Tanya Naruto dengan nada bangga sambil menunjukan buku tulis Biologinya dan menggoyang-goyangkanya di depan wajah Sasuke. 'Seorang Sasuke Uchiha lupa mengerjakan PR? menarik...menarik...'

Sasuke mengambil buku biologinya,, dan membukanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat prnya sudah tertulis rapi dibukunya.

"Eh? Ternyata kau sudah Teme." Ujar Naruto.

"Dobe." Sasuke menatap Naruto dengan pandangan seakan ia melihat hantu. "Aku belum mengerjakan prku, aku lupa."

"Apa maksudmu? Sudah selesai begini." Tanya Naruto bingung.

"Perhatikan baik-baik, ini 'kan bukan tulisanku."Ujar Sasuke sambil menunjuk soal pertama dari prnya tersebut.

"Kalau begitu siapa yang mengerjakan?" Tanya Naruto penasaran sambil mengambil buku biologi Sasuke. Naruto pun membaca tulisan yang ada dibuku itu. "Benar! Ini bukan tulisanmu!"

"Aku hafal betul tulisan siapa ini. Ini tulisan Itachi-nii." Jelas Sasuke sedikit pelan.

"Te-Teme, jangan menakut-nakutiku!" Pekik Naruto sambil menggeser sedikit kursinya menjauhi Sasuke.

'Huf... Terima kasih, Itachi-nii...' Batin Sasuke lega sekaligus berterima kasih walaupun bulu kuduknya sedikit berdiri. Ia tidak tahu apa nasibnya di tangan guru killer bernama Yamato itu jika ia tidak mengerjakan soalnya. "Aku tidak menakut-nakuti. . Yasudah, aku akan mengerjakan Matematikaku sekarang-"

GLEKH

Sasuke tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika melihat Itachi disebelah Naruto. Itachi tampak menyeramkan dengan bekas luka dan darah disekujur tubuhnya walaupun ia terlihat tersenyum.

"Teme? Kenapa?" Tanya Naruto yang menyadari raut wajah Sasuke berubah menjadi agak pucat Sasuke hanya menunjuk ke arah sebelah Naruto dengan jarinya yang bergetar. Refleks Naruto menoleh dan ia tidak melihat apa-apa. "Ada apa, Teme? Tidak ada apa-apa."

"Su-sudahlah, aku ingin kekamar mandi!" Ujar Sasuke dengan suara yang sedikit bergetar . Ia segera berdiri dan pergi kekamar mandi.

"Si Teme, itu kenapa sih?" Tanya Naruto sambil menggambar wajah Sasuke di buku corat-coret milik Sasuke.

*WHAT I HER IS FÜR ELISE*

Sasuke menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Lalu ia pun menghela naas dan mulai membasuh wajah tampan idaman author Seiko/? dengan air yang mengalir dari wastafel.

DHEG!

Sasuke membeku, ia merasakan sebuah tangan dingin menyentuh bahunya. Tampa melihat ia sudah tahu kalau kalau tangan itu adalah milik Itachi.

"Sasu..."

"Ja-Jangan hantui aku. Kumohon..." Ujar Sasuke dengan nada ketakutan,. Ia memegangi kepalanya lalu berjongkok. "Aku tidak punya salah denganmu 'kan? Nii-san?! Uhh..."

"Ada yang...ingin...kusampaikan..Kau harus dengar..." Suara Itachi terdengar jelas ditelinga Sasuke. " Ini tentang pembunuhnya..."

"Aku tidak tahu! Jangan ganggu aku lagi!" Desis Sasuke.

BRAAK!

"Teme! Sedang apa kau?" Naruto tiba-tiba datang. Naruto terheran-heran karena keadaan Sasuke sama seperti keadaanya kemarin. "Apa kau sakit?"

Sasuke menggeleng pelan. "Apa dia masih disini?" Tanya Sasuke dengan suara bergetar.

"Siapa?" Tanya Naruto balik. "Disini hanya ada kita berdua."

"Aniki...tadi dia disini..." Ujar Sasuke. Naruto mendekatinya dan membantu Sasuke untuk berdiri.

"Kita ke kelas..." Ujar Naruto sambil membawa Sasuke ke pun berjalan ke arah kelas. "kenapa...Itachi-san menghantuimu?"

"Dia bilang...dia ingin menyampaikan sesuatu..." Jawab Sasuke pelan. "Soal pembunuhnya..."

"Pembunuhnya? memang belum tertangkap ya?" Tanya Naruto. Sasuke hanya mengangguk. "Mungkin Itachi-san memintamu untuk membalas dendamnya."

"huf... Aniki bukan orang yang dendaman."Ujar Sasuke.

"Oh... hey! bagaimana kalau aku membantumu mencari pembunuhnya?" Tanya Naruto.

"Hei, berhentilah mengatakan hal yang konyol. Jadilah Dewasa-"

Saat Sasuke menoleh kearah jendela, Sasuke kembali melihat Itachi. "Jangan ganggu aku aniki..." Desis Sasuke. ia membenamkan wajahnya pada bahu Naruto.

Naruto menyadari kejanggalan saat Sasuke melihat ke arah jendela langsung menatap jendela. Nihil. Disana tidak ada apa-apa. "Teme...kau kenapa...? TEME!"

Naruto panik karena Sasuke tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri.

*WHAT I HEAR IS FÜR ELISE*

Sasuke membuka matanya. Orang pertama yang ia lihat adalah Naruto yang sedang menatap ke arah jendela yang menampilkan anak laki-laki sedang bermain bola. "Dobe..."

"Teme? Bangun juga!" Ujar Naruto sambil menoleh. "Kau pingsan. Tapi Tsunade sensei bilang kau tidak apa-apa. Hanya shock saja."

"Kau...kenapa disini?" Tanya Sasuke saat melihat jam dinding di UKS it menunjukan pukul 12. "Harusnya kau ada di kelas. Saat ini pelajaran Yamato-sensei sedang berlangsung."

"yah... Yamato-sensei bilang , aku harus menemanimu. Dari pada 'menemani' kata yang lebih cocok 'menjaga' sih..."Ujar Naruto sambil duduk di kursi sebelah ranjang Sasuke. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sasuke. "Yah...hitung-hitung bolos, sih. Hahaha!".

"Huf... dasar..." Ujar Sasuke.

"Teme, maaf aku mengukit-ungkitnya, tapi..." Naruto sempat terdiam. Sasuke tahu kalau Naruto akan membicarakan aniki-nya. "Tadi, saat kau pingsan. Aku melihat Itachi-san. di jendela."

"Hah?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Lalu? Lalu?"

"Dia memintaku untuk menjagamu dari pembunuhnya..." Jelas Naruto.

Flashback, 1 jam yang lalu...

"TEME!" Naruto berjongkok dan merangkulkan tangan Sasuke di lehernya. Naruto pun berniat untuk membawa Sasuke ke UKS. "Huf, UKS kenapa harus di lantai tiga sih?"

Dalam keadaan masih berjongkok, Naruto terdiam karena ia melihat sepasang kaki didepanya. Naruto merasa tidak bisa menggerakan tubuhnya, tangannya juga bergetar hebat karena ia menyadari di kaki yang ia lihat itu terlihat cairan berwarna merah darah. 'Ini...darah 'kan?' Batin Naruto. Perlahan ia menatap ke atas. 'Itachi-san!'.

"Jagalah adikku. Orang yang membunuhku mengincarnya juga." Ujar Itachi sambil membungkuk dan menyentuh bahu Naruto. Naruto sangat ketakutan dan menunduk. "Aku akan memberitahumu siapa pembunuhnya... dia..."

Ketakutan sudah menguasai Naruto sehingga ia pun lari sambil membawa Sasuke yang masih pingsan. Ia bersembunyi dibalik dinding. Samar-samar ia mendengar suara Itachi yang terkekeh.

Flashback end.

"Menjaga, eh? Yang be-tunggu dulu! Pembunuh? Apa Itachi-ni memberitahumu siapa pembunuhnya?!" Tanya Sasuke.

"Eh...ya...dia hampir memberi tahuku... tapi yah...jangang marah ya teme... Saat dia akan memberitahuku siapa pembunuhnya...aku terlanjur ketakutan...jadi...aku (membawamu) lari." Jelas Naruto malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Apa?!" Pekik Sasuke kencang. Hampir saja Naruto terjatuh dari kursinya karena kaget. "Apa kau sadar kalau kita hampir mendapatkan peti harta karun?!"

"Maaf,Teme. Salah Itachi-san sendiri sih... datang dengan keadaan seperti itu..." Ujar Naruto yang malah menyalahkan Itachi. "Yasudah, deh... Bagaimana kalau kita cari saja pembunuhnya?"

"Hah? Mencari pembunuhnya? Kau kira kau adalah seorang Sherloc Holmes?" Tanya Sasuke dengan nada meremehkan.

"Yah, kalau itu maumu, oke." Ujar Naruto polos.

"Jangan bodoh, Dobe. Kau tidak akan menggunakan jaket, kaca pembesar atau barang-barang aneh lainnya 'kan?" Tanya Sasuje.

"Tentu saja tidak! Kau pikir kita hidup di tahun berapa?" Bantah Naruto. "Bagaimana kalau kita tanya langsung pada Itachi-san?"

"Useless. yang ada, kau sudah lari terbirit-birit saat melihatnya."Ujar Sasuke sambil tersenyum meremehkan.

"Oh, ya! Kenapa kau takut saat melihat Itachi-san? Itachi-san itu kakakmu bukan?" atanya Naruto.

"Itu karena... walaupun aku sebenarnya ingin bersamanya lagi... aku juga tidak bisa memungkiri kalau Itachi-nii sudah meninggal. Tentu saja aku tidak mau melihatnya dalam keadaan seperti itu."

"Kalau begitu siapkan dirimu. Kita akan menemui jangan takut." Ujar Naruto sambil menepuk-nepuk bahu Sasuke. "Oke! Operasi 'Pencarian Pembunuh Itachi-san' dimulai!"

*WHAT I HEAR IS FÜR ELISE*

"Mau menginap di rumahku? Malam ini?"

"Iya, boleh, ya, Teme? Besok 'kan kita libur karena guru sedang rapat."

"Boleh-boleh saja. Kebetulan aku merasa kesepian."

"Aku datang 30 menit dari sekarang, oke? Tunggu aku."

"Hn, baiklah."

PIP

Sasuke memutuskan sambungan teleponya dengan Naruto. Ia segera membersihkan sedikit rumahnya karena ia sedang tidak ingin mendengar ejekan dari sahabat Dobe nya itu. Sambil menunggu, seperti biasa ia menonton "Menma Shippuden" di Tv. Sasuke tampak serius menyaksikan pertarungan Menma melawan Pein itu.

"Dobe akan menyukai ini, fufufu..." Guman Sasuke saat menonton pertarungan 2 tokoh anime itu.

"orang yang tidak punya jawaban apa-apa sepertimu... menyerah saja!"

"lebih baik kau tidak menungguku untuk menyerah!"

TOK TOK TOK

Sasuke bangkit lalu membukakan pintu. Tampaklah teman Dobenya itu membawa ransel berisi pakaian. "Silahkan masuk."

"terima kasih, Teme." Ujar Naruto yang hanya ditanggapi 'Hn' oleh Sasuke. Ia pun duduk di sofa sebelah Naruto.

"Ada apa?" Tanya Sasuke yang pandangannya tetap tertuju ke arah TV.

" 'Ada apa' apanya?" Tanya Naruto balik.

"Kau tiba-tiba ingin menginap dirumahku." Ujar Sasuke. "Ada apa?"

"Oh... itu... tentu saja menunggu kedatangan anikimu." Ujar Naruto polos.

"Jadi yang tadi siang itu kau serius?!" Tanya Sasuke. Ia melepaskan pandangannya dari Tv.

"Eh? Iya." Jawab Naruto polos. "Aku juga menjalankan amanat dari anikimu, 'menjaga Sasuke dari pembunuhnya'."

"Kau tidak perlu melakukan ini,Dobe.." Ujar Sasuke.

"lho? Kenapa?" tanya Naruto sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kau sadar tidak sih, kalau pembunuh yang membunuh Itachi-san itu hendak membunuhmu juga? Itachi-san bilang begitu padaku."

"Aku...tidak menyadarinya. Tapi, kenapa si pembunuh itu mau membunuh ku juga? Apa dia demdam padaku?" Tanya Sasuke.

"Aku tidak tahu. Tapi tetap saja kau harus berhati-hati!" Tegas Naruto. "Karena aku juga tidak mau kau dibunuh oleh pembunuh itu. Nanti aku sama siapa?"

"Huh, aku tidak ingin membahas ini sekarang. Kita nonton saja." Sasuke kembali memalingkan wajahnya kearah Tv.

"Hei! Apa kau tidak merasa takut pada si pembunuh itu?" Tanya Naruto yang kesal pada Sasuke yang santai-santai saja, padahal saat ini, seseorang bernit untuk membunuh Sasuke.

"Aku bukannya tidak merasa takut. Aku hanya tidak ingin membahas ini saat ini"

TING TING TING TING TING

Seketika kedua orang itu membeku. Seperti biasa, Für Elise terdengar dari ruang musik.

"Kau dengar?!" Bisik Naruto. Sasuke mengangguk. "Ini kesempatan kita! Ayo..."

Mereka pun mulai berjalan mendekati ruang musik. Mereka menempelkan telinga mereka di pintu. Ya, memang ada suara dari dalam sana. Naruto memegang daun pintu "Kau siap? Akan kubuka."

Perlahan-lan Naruto membuka pintu dan...

"Tidak ada siapa-siapa." Ujar Sasuke sambil berkacak pinggang. "Sudah kubilang, dia Itachi-nii tidak akan datang. Kadang feelingku itu benar."

SRAT!

Sesosok bayangan bergerak cepat di belakang mereka. Naruto yang menyadarinya langsung menoleh kebelakang. "kau bilang 'kadang' 'kan? Mungkin dia benar-benar ada disini."

Refleks Sasuke ikut menoleh. Tidak ada apa-apa. "Sudahlah dobe... perasaanku menjadi tidak enak."

"Eits, tunggu." Ujar Naruto sambil menarik tangan Sasuke yang hendak pergi. "Kau jago main piano 'kan? Coba mainkan piano itu."

"Hah? Tidak mau." Tolak Sasuke. Sambil mundur tiga langkah.

"Ayolah... mungkin itu bisa membuat aniki mu tertarik." Ujar Naruto sambil menyalakan lampu ruangan musik.

"Dobe, kenapa kau begitu penasaran dengan Itachi-nii?" Tanya Sasuke.

"Karena kita teman, dan Itachi-san adalah kakak temanku. Dan kakak temanku akan memberitahu pembunuh yang memiliki rencana untuk membunuh temanku." Ujar Naruto agak berbelit-belit yang membuat Sasuke merasa friendzoned seketika/?."Sudahlah, mainkan saja."

'Apa urat ketakutanya juga sudah putus?' Batin Sasuke. Ia pun duduk didepan piano itu. Benar juga, setelah kematian Itachi, ia tidak menyentuh pianonya lagi. "Kau mau lagu apa?"

"Lagu apa pun yang Itachi-san suka." Ujar Naruto sambil duduk di kursi dekat piano.

"Ada ratusan lagu yang ia suka." Ujar Sasuke sambil memencet tuts piano asal.

"Lagu yang paling disukainya apa?" Tanya Naruo.

"Ng...Moonlight sonata karya Ludwig Van Beethoven , Canon In D karya Johann Pachebele ,Für Elise...hh... karya Ludwig Van Beethoven...The Blue Danube karya ." Jawab Sasuke.

"Yang kau bisa mainkan yang mana?" Tanya Naruto.

"Huf...biar suasana semakin horor, akan kumainkan Moonlight sonata." Ujar Sasuke. Ia pun mulai memainkan piano itu. Naruto yang melihatnya pun terkesima.

"Lagu yang bagus, Sasuke. Tapi rasanya... lagu ini membuatku mengantuk. Coba lagu yang agak cepat." Ujar Naruto. Ia tampak meopang dagunya.

"Lagu yang agak cepat? Für Elise? Ah... tapi lagu itu awal awalnya lambat. Bagaimana?" Saran Sasuke. Walau sebenarnya ia tidak mau merekomendasikan lagu itu.

"Für Elise? Lagunya seperti apa?" Tanya Naruto.

"Yang tadi kita dengar saat kita menonton. Kau ingat?" Jawab Sasuke.

"Oh yang itu! Seharusnya kau memainkan lagu itu dari tadi. Cepat mainkan!" Perintah Naruto. Sasuke menjawabnya dengan dengusan.

Sasuke terdiam dan menatap pianonya dengan tatapan yang mengatakan 'Aku tidak mau memainkan piano ini'. Ia lalu menatap bagian bawah piano dan mengingat tempat ini sebagai tempat dimana ia menemukan sang kakak juga teringat akan masa kecilnya dengan kakaknya. Rasa benci tiba-tiba menerkam hatinya."Tidak mau."

"Kenapa?" Tanya Naruto. Sasuke hanya terdiam dan menggigit bagian bawah bibirnya keras sehingga berdarah.

"Kalau dipikir-pikir, kau benar. Kita harus mencari si pembunuhnya." Ujar Sasuke pelan. "Kalau aku melihat ruangan ini, bukan rasa sedih atau takut saja yang datang. Tapi rasa benci juga."

"Akhirnya kau sadar juga." Ujar Naruto sambil memiringkan kepalanya. "Salah satu cara untuk menemukan pembunuhnya adalah menanyakan pada Itachi-san 'kan?"

"Yeah... tetapi, apakah kita terlihat seperti mengemis jawaban?" Tanya Sasuke dengan nada yang sulit dijelaskan.

"Jadi, kau ingin cara lain?" Tanya aruto balik. Sasuke mengangguk. "Yah...oke... kalau begitu, aku akan membuat pertanyaan 5W+1H dan kau harus menjawabnya. Sebagai saksi"

"Eh?Sasksi?" Sasuke langsung sweatdrop. Bukan ini cara yang diinginkanya. "Pertanyaan? Aku tidak mengerti."

"Yeah, aku akan memberimu pertanyaan. Seperti...apa hobi itachi-san saat dirumah?" Tanya Naruto sambil mengetuk-ngetuk jarinya di dagunya.

"Apa ini perlu?" Tanya Sasuke dengan nada sweatdrop.

"Tentu saja! Ini bisa juga disebut pencarian informasi yang berupa asumsi." Jelas Naruto seakan dia adalah seorang Sherloc Holmes. "Sudahlah jawab saja, siapa tahu ada yang bisa kita jadikan sebagai informasi."

"Yah... Hobi itachi-nii dirumah ya? Baca koran, main piano, menonton KNH48, membaca novel, dan... memarahiku." Ujar Sasuke. Dia menggaruk kepalanya saat ia berkata 'memarahiku'. "Sepertinya pertanyaanmu yang tadi tidak ada hubunganya dengan kematian kakakku."

"Oke-oke..." Naruto mengibas-ngibaskan tangannya. "Apa yang dilakakukanya sebelum pembunuhannya terjadi? Menurutmu?"

"Saat paginya...sarapan... lalu dia bilang dia ada janji dengan temanya. Itu saja 'sih." Jawab Sasuke.

"Tunggu dulu, ITU DIA!" Ujar Naruto sambil menepukan tanganya. Sasuke hanya mengangkat alis. "Kau bilang, dia ada janji denga temannya bukan? Bisa jadi 'temannya' itu lah pembunuhnya!"

"Eh? Kau jenius juga. Aku saja tidak sampai memikirkan itu." Puji Sasuke. "Tapi... belum tentu juga 'sih. Mungkin saja orang lain. Mana mungkin ada teman yang saling bunuh."

"Apa pun bisa terjadi didunia ini." Ujar Naruto. "Nah, sekarang kita tinggal mencari oraang yang terakhir berhubungan dengan Itachi-san!"

*WHAT I HEAR IS FÜR ELISE*

Naruto membuka matanya dan mendapati kini jam menunjukan pukul delapan. Untung saja hari ini sekolah libur,kalau tidak, Naruto pasti sudah kalang kabut menatap ranjang disebelahnya dan ia melihat Sasuke sudah tidak ada disana. Ia segera berdiri dan pergi menuju dapur karena ia mendengar suara sesuatu yang digoreng. Ia tidak sabar menceritakan hal yang dialaminya tengah malam.

"Teme, selamat pagi." Sapa Naruto dengan keras seperti biasa.

"Pagi." Jawab Sasuke pendek sambil menaruh piring yang di atasnya terdapat omelet dan roti panggang. Sasuke juga menaruh dua buah gelas yang berisi susu.

"Teme, aku boleh cerita tidak?" Tanya Naruto ragu. Bagi Naruto, Sasuke adalah pendengar cerita yang buruk.

"Tentu." Ujar Sasuke sambil memakan omeletnya.

"Tadi malam aku...melihat...Itachi-san." Ujar Naruto yang membuat Sasuke tersedak. Sasuke segera memunum susunya.

"Itachi-nii, katamu?"

"Iya! Jadi begini, tadi malam aku terbangun dan aku mendengar lagu Für... ah! Für apalah itu! Aku penasaran jadi aku bangun lalu aku melihat anikimu!" Cerita Naruto.

"Lanjutkan ceritamu, Dobe."

"Yah, sehabis itu dia bilang.. kalau dia tidak akan memberitahukan pembunuhnya."

"APA?!" Pekik Sasuke. "Apa maksudmu dia tidak mau memberitahu kita?"

"Yah... tapi... dia memberi petunjuk." Ujar Naruto. "Petunjuknya adalah G cres, A mayor dan E."

"Eh? Petunjuk macam apa itu?" Tanya Sasuke. Naruto hanya mengangkat bahu.

-TBC-

Bonus...

TING TING TING TING...

Aku terbangun sekitar pukul 2 pagi. Sayup-sayup aku mendengar suara denting piano. Hah? Ini kan lagu yang kudengar saat menonton anime tadi tadi. Itachi-san! Pasti Itachi-san!

"Oi, Teme, bangunlah..." Aku bangkit, mendekati ranjang si Teme dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Dia benar-benar sulit dibangunkan. Dia terlihat seperti mayat sekarang! Lupakan si Teme itu dulu! Bagaimana kalau kau lihat sendiri sekarang dan melaporkan apa yang kau lihat? Kau jenius Uzumaki Naruto!

Perlahan aku membuka pintu kamar dan mendekati ruangan musik. Suara itu masih terdengar pun membukanya tampa keraguan sedikit pun dihatiku. Aku melihat Itachi-san disana, duduk didepan piano dengan jari jarinya sibuk menari-nari atas tuts piano. Aku bersyukur karena ia tidak terlihat menakutkan seperti biasa dengan kaus berwarna biru tua dengan celana jeans. Tampa darah setetes pun yang menghias pakaiannya.

"Itachi-san..."Panggilku pelan, aku memang sudah tidak takut lagi. Ia menoleh kearahku. "Kenapa kau masih disini, kau harusnya sudah 'disana' 'kan?"

"Yah, memang keberadaanku sebagai orang yang sudah mati patut dipertanyakan." Ujarnya. Tanganya sudah berhenti memainkan piano cokelat tersebut. "Aku masih punya urusan tertinggal didunia ini."

Urusan tertinggal,ya. Rasanya ini seperti novel tentang hantu yang sering kubaca. "Apa urusan tertinggalmu?" Tanyaku.

"Bukannya dari penampakanku dijendela sekolah tadi sudah membuatmmu tahu?" Tanya Itachi-san sambil mengangkat sebelah alisnya. "Aku ingin melindungi Sasuke dari orang yang membunuhku. Dia mengincar Sasuke juga. Sialan."

Aku menatap raut wajah Itachi-san yang menampilkan kekecewaan dan juga keresahan. "Siapa yang membunuhmu?"

"Aku tidak mau memberitahumu." Ujar Itachi-san enteng. Aku terheran-heran. "Carilah sendiri."

"Kenapa kau tidak memberi tahuku sekarang? Aku saat ini sudah tidak takut." Bujukku agar Itachi-san memberi tahuku siapa pembunuhnya. "Siapa tahu aku bisa membantumu melindungi Sasuke."

"Huf... kau jangan mengemis jawaban begitu." Ledek Itachi-san. Hah... dia memang mirip dengan Sasuke. Bukan, Sasuke lah yang mirip dengan Itachi-san. "Aku akan memberimu petunjuk, lalu mengawasimu dalam pencarian di pembunuh itu."

"Kenapa... harus berbelit-belit?" Tanyaku untuk kesekian kalinya. Itachi-san tersenyum.

"Selain menguji keberanian kalian dalam melihat makhluk sepertiku, aku juga ingin menguji kepintaran otak kalian juga." Ujar Itachi sambil mengetuk-ngetuk dahinya. "Aku hanya memberimu satu petunjuk,yaitu...

nada G cres , A minor,, E"

_SEE YOU_

Oke, chapter kedua akhirnya selesai juga Sorry lama dipublishnya, soalnya Seiko harus melewati banyak rintangan #alesan-_-. Kayaknya Ffnya makin gaje ,ya? Iya, pasti. Soalnya Seiko sedikit bingung. Hehehe...

Dan kayaknya...setelah menbaca chapter ini, ada beberapa readers yang tau siapa pembunuhnya lewat petunjuk yang diberikan abang Itachi.

Yang review sudah Seiko balas lewat PM. Tapi ada juga review tapi tidak log in, jadi, akan Seiko balas disini.

Lutfianne: Terima kasih atas reviewnya,masalah typo... iya...akan Seiko usahain^^, sami-sami.

Hosigaki: yah... saat ini Sasuke dan Naruto sedang mengungkapkan siapa si pembunuh itu. Terima kasih sudah review^^.

Mind to Review? Please :3