Chapter 2: Masa Lalu
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, typo(s), EYD
Notes: kalau tidak suka dengan cerita saya, cukup close tab ya minna! ^^
Newbie, mohon bimbingannya *ojigi*
Sumimasen jika ceritanya aneh ^^a maklum newbie
Review, review, review. Arigatou :3
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Para murid berhamburan keluar kelas untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Aku melepas kacamataku dan menaruhnya di kotak kacamata. Okay, ini saatnya istirahat. Aku berani bertaruh bahwa sedetik kemudian para fansgirl-ku berkumpul di bangku mejaku.
"Sasuke-kun, ayo kita pergi ke kantin bersama!"
"Jangan, pergi bersamaku saja!"
"Tidak, denganku saja!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
Tuh kan? Kukepalkan tanganku kuat-kuat. Dasar gadis-gadis centil. Kalau saja di dunia ini tidak ada yang namanya hukum, sudah kubunuh kalian satu persatu.
"Teme! Ayo ikut aku!" bisik Naruko tepat di telingaku. Aku menatapnya bingung. Ia balas menatapku seakan berbicara –percayalah-padaku-aku-akan-menyelamatkanmu. "hei kalian! Lihatlah ada Kakashi-sensei di sana!" Kata Naruko sambil menunjuk depan pintu. Disaat itu juga Naruko membelah fansgirl-ku dan menarik tanganku sebelum mereka sadar bahwa mereka dibohongi Naruko. Tiba-tiba saja aku sudah berada di depan kelas. Aku menghela nafas lega.
"Eh? Mana Sasuke-kun? Kok menghilang?"
"Ah itu dia!"
"Kyaaa! Sasuke-kun, tunggu aku~!"
Aku mengerutkan kening bingung. Aku melihat sekeliling untuk berpikir, bagaimana caranya agar tidak dikejar oleh fansgirl fanatik itu. "Heh teme, kenapa kau diam saja? Ayo ikut aku!" kata Naruko membuyarkan lamunanku. Ia menarik tanganku lagi. Aku hanya bisa mengikutinya demi membebaskan diri dari fansgirl itu. Kulihat genggaman Naruko di tanganku agak melonggar. Sepertinya ia mulai kehabisan tenaga. Akhirnya aku mempercepat beberapa langkah didepannya dan menggenggam tangannya. Aku dan Naruko berlari menuju atap sekolah dan menutup pintu pembatas tangga rapat-rapat. Aku menghela nafas lega sekali lagi. Kulirik gadis manis disebelahku, nafasnya terengah-engah. Sepertinys ia sangat lelah setelah berputar-putar mencari tempat aman untuk bersembunyi, dan ketemunya disini, atap sekolah.
"Dobe…" panggilku pada gadis yang berada disebelahku.
"Hn?" jawabnya singkat sambil mengatur nafasnya.
"Arigatou…"
"Douita teme," Naruko tersenyum lembut kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman tipis.
"Ngomong-ngomong, kenapa banyak sekali yang mengagumimu di sekolah ini?" tanya Naruko polos setelah hening beberapa saat. Aku menatapnya datar.
"Entahlah,"
"Eh? Kenapa kau tidak tahu dattebayo?" jawabnya polos. Dasar dobe..
"Karena aku bukan mereka" jawabku singkat dan datar. Naruko hanya ber-oh ria mendengar jawabanku.
"Teme, ayo ceritakan tentang kehidupanmu…" kata Naruko sambil memeluk lengan kananku. Heh apa-apaan ini? Apa yang dia lakukan? Baka dobe..
"Tepas,"
"Tidak mau!"
"Kubilang lepas, ya lepas!"
"Kubilang tidak mau, ya tidak mau!"
"Kalau begitu aku tidak mau cerita!"
"Kalau begitu aku tidak mau lepas!:
"Tch dobe no baka!"
"Teme!" Naruko mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya kesal. Oh ekspresi ini lagi. Kuangkat tangan kiriku –yang tidak dipeluk olehnya- dan mencubit pipinya gemas.
"Sudah kubilang jangan menampilkan ekspresi ini!"
"Aahh! Sakit dattebayo! Memangnya kau siapa heh melarangku untuk menampilkan ekspresiku?! Ini wajahku, mau apa kau teme?!" protesnya sambil berusaha melapaskan pipinya dari cubitanku. Iya ya, memangnya aku siapanya?
"Hn terserah. Usuratonkachi" jawabku asal.
perdebatan terjadi sangat sengit dan lama, sampai bel tanda masuk berbunyi aku dan Naruko baru menghentikan perdebatan –yang sebenarnya tidak layak untuk diperdebatkan- itu dan kembali menuju kelas.
.
.
.
Sudah 3 hari semenjak pindahnya Naruko di sekolahku. Bangkuku selalu ramai dengan ocehannya dan perdebatan yang setiap hari kami lakukan di sela-sela jam kosong. Namun, itulah yang membuatku merasa nyaman jika berada di dekatnya. Dia bisa membuatku tertawa terbahak-bahak jika melihat ekspresi-ekspresi konyolnya. Biasanya, aku akan tertawa jika hanya bersama aniki dan kaa-san saja. Berbeda dengan gfadis-gadis lain yang cenderung menjaga image-nya di hadapanku., dan aku tidak menyukai itu. Sejak dulu aku selalu jarang mempunyai teman, mereka hanya menganggapku sebagai anak yang kelewat diam. Padahal, aku membutuhkan teman yang terbuka dan ceria seperti Naruko.
"Ohayou Sasuke-teme~" suara cempreng Naruko menyapa indera pendengaranku. Ia ceria seperti biasanya. Dengan wajahnya yang berseri-seri ia berjalan menuju bangkuku sambil bersenandung riang. "Hn dobe. Ohayou mo" jawabku datar.
"Teme, aku mau menagih janjimu kemarin lusa,"
"Janji apa?" tanyaku bingung. Ah iya aku baru ingat kalau aku menjanjikannya untuk menceritakan kisah hidupku kepadanya dua hari yang lalu. Aku mengangkat sebelah alisku pura-pura bingung. Naruko memutar bola mata biru kehijauannya dengan malas. Aku hanya bisa menahan ketawa saat melihat ekspresinya.
"yang waktu di atap," jawabnya kesal. Aku hanya terkekeh pelan melihat tingkah lakunya yang childish tersebut. "Heh, apa yang kau tertawakan?" tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan. "Baiklah, akan kuceritakan," jawabku. Aku menarik nafas panjang dan mulai bercerita.
.
.
.
"Tou-san, ayo ke taman! Tou-san janji kan akan mengajakku pergi kesana saat pulang kerja?" ujar seorang bocah berumur sekitar 5 tahun kepada sosok tinggi di depannya.
"Tou-san ada meeting sebentar lagi dengan clien baru tou-san. Mungkin lain kali, Sasuke" jawab sosok tinggi tersebut yang diketahui adalah Fugaku, ayah dari bocah 5 tahun bernama Sasuke tersebut. Para pelayan dengan cekatan melepas jas Fugaku dan menggantinya dengan yang baru. "Tapi, tou-san kan sudah berjanji…" gumam Sasuke kecil kepada ayahnya. Matanya berkaca-kaca. Karena saat ayahnya berbicara seperti itu, tiada kata maaf dalam kalimatnya. Itulah yang membuat Sasuke kecil sedih.
"Sasuke! Mengertilah keadaan tou-san! Tou-san bekerja banting tulang untuk menghidupimu! Jangan egois!" bentak Fugaku kasar. Sasuke kecil terkejut melihat ayahnya. Matanya membulat sempurna saat mendapat bentakan itu. Sasuke menangis dalam diam. Tangannya mengepal kuat, ia sangat marah sekaligus kecewa. 'justru tou-san yang egois. Hanya mementingkan kerja dibandingkan aku'
"Sudahlah Sasuke-sama…" ujar seorang butler sambil menarik tangannya. Sasuke hanya menurut dan pergi menuju kamar diantar oleh seorang butler. Dalam kamar, Sasuke hanya melamun diatas kasurnya. Ia mengingat-ingat kata-kata ayahnya 'Sasuke! Mengertilah keadaan tou-san! Tou-san bekerja banting tulang untuk menghidupimu! Jangan egois!' Sasuke menunduk sedih, rasa kecewa sedang meliputi hatinya. "Sasuke-kun, ayo makan dulu," muncul Uchiha Mikoto, sang ibu yang berdiri di depan kamar Sasuke sambil tersenyum. Mikoto duduk di samping Sasuke dan membelai rambut ravennya. "Kenapa tou-san tidak pernah peduli padaku? Apa aku salah jika mengajak tou-san ke taman? Padahal tou-san sendiri yang berjanji kepadaku," lidah cadel Sasuke bergumam lirih, seakan ia berbicara pada dirinya sendiri. Namun karena Mikoto berada disebelahnya, wanita itu mendengar gumaman kecil anaknya. "Sasuke-kun, tou-san bukannya tidak peduli denganmu. Justru, ia sangat menyayangimu. Tapi, karena tou-san sibuk, ia jadi tidak bisa menemanimu pergi ke taman. Biasanya Sasuke-kun kan juga pergi bersama kaa-san," jelas Mikoto panjang lebar. Sasuke kembali menunduk dan memainkan jarinya.
"tapi, aku juga ingin seperti teman-temanku yang lain. Aku juga ingin pergi ke taman bersama tou-san,"
seketika itu hati Mikoto mencelos. Mikoto menarik Sasuke dalam pelukannya. 'maafkan tou-san mu, Sasuke. Dia memang orang yang keras' batin Mikoto. Sejak saat itu Sasuke lebih diam dari biasanya. Ia menghindari ayahnya agar ia tidak dibentak lagi oleh ayahnya. Saat Sasuke berumur 9 tahun, Fugaku pernah menghajarnya habis-habisan karena masalah sepele. Mulai saat itu, Sasuke membenci ayahnya.
.
.
.
"Teme, tak kusangka masa kecilmu seperti itu. Maafkan aku telah memaksamu bercerita dattebayo," ujar Naruko pelan. Sebesit perasaan bersalah terpancar melalui mata indahnya. Aku menghela nafas dan menatapnya sejenak, sekedar menenangkannya agar tidak terlalu merasa bersalah. "tidak masalah, dobe. Lalu, bagaimana dengan kehidupanmu?" tanyaku masih dengan intonasi datar. Mata biru kehijauannya menatap onyx-ku lembut. "Teme, sudah masuk," jawabnya. Seketika itu bel pertanda masuk berbunyi. Sedikit kecewa karena aku bercerita terlalu lama padanya. Aku menghela nafas pelan dan memakai kacamataku.
Bel pertanda pelajaran telah selesai sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu, tapi aku tidak langsung pulang karena ingin mengunjungi ruang musik. Untuk apa? Untuk mengisi waktu luang. Biasanya jika sedang nganggur tidak ada pr, aku bermain piano disini. Sudah beberapa minggu ini aku tidak melakukan hobiku. Jadi pulang sekolah ini aku mau menyempatkan diri untuk bermain piano. Aku berjalan santai menuju ruang musik, merasakan semilir angin yang menyapu wajahku. Saat aku hendak membuka pintu…
To be continued…
Pojokan Chiriyuki: yesh! Chapter 2 ini akhirnya selesai~ *lap-lap keringat(?)* gomennasai jika chapter 2 kurang memuaskan dan terlalu lama update TAT habis, 20 hari lagi Chi mau ujian nasional /gananya/ baiklah, Chi mau jawab review dulu~
Astia aoi: hehe, terimakasih senpai^^ Chi akan berusaha mempertahankan alur ceritanya~
NamIKazENaNamI08: terimakasih senpai atas pujian dan dukungannya^^ Chi akan berusaha sekuat mungkin agar fic ini selesai ^^)9
AkemyYamato: hehe~ aku juga suka pair SasuFemNaru. Aaah itu miss typo! Maafkan Chi~~~ TAT
Rey ai3rien: iya baiklah! ^^)9
