Ketika Hiashi menyuruh Hinata untuk mencari pendamping hidup seseorang yang bermata hitam karena permintaan mendiang istrinya, Hinata bingung mencari jalan keluarnya. Dapatkah Hinata memenuhi permintaan mendiang ibunya itu? Semenjak Sasuke datang semuanya berubah / 'Kata Ayah, Ibu ingin cucu bermata hitam? Yang benar saja. Kemana aku harus mencari calon suami bermata hitam, padahal kan aku masih SMA, masih terlalu jauh untuk menikah' /. AU / SasuHina / typos / ide pasaran / crack pair, / bahasa campuran / dll / mind to RnR? :D /
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Fujiwara Hana
Title : Finding Future Husband
Pair : SasuHina -always-
Cerita murni saya sendiri (walaupun ide pasaran), kesamaan watak tokoh, setting, dan lainnya merupakan kebetulan.
Warning : AU, SasuHina, typos, ide pasaran, crack pair, bahasa campuran, EYD yang buruk, dll, mind to RnR?
Preview chapter :
Jalan terlihat ramai dengan siswa-siswi yang pergi ke sekolah maupun ibu-ibu yang sibuk berbelanja untuk keperluan dapur. Dengan langkah tergesa Hinata berjalan menuju sekolahnya. Sungguh malang bagi Hinata, ia menabrak seseorang sehingga keduanya sama-sama terjatuh.
"Ah, gomenasai," Hinata dengan cepat meminta maaf dengan pandangan menunduk belum berani melihat kedepan.
"Ya, tidak apa-apa,"
Hinata sontak mendongak ke atas ketika telinganya menangkap suara yang ramah dan bersahabat. Dan hal pertama kali yang ia lihat adalah mata sipit akibat tersenyum, rambutnya yang lurus dan tertata rapi, dan yang terakhir adalah seragam yang sangat berbeda dengannya.
~Happy Reading Minna-san~
Chapter 2
-oOo-
Sakit yang terasa di telapak tangannya semakin menjadi. Tangan Hinata yang menjadi tumpuan dalam jatuh, menekan dengan keras aspal yang kasar. Inginnya, Hinata segera bangun dan menepuk roknya yang kotor, tapi apa boleh buat badannya tidak bergerak sesuai harapannya.
"Butuh bantuan?" tanyanya ketika tak kunjung melihat Hinata bangun.
Hinata langsung tersadar dari lamunannya, sontak ia bangun, "Eh, t-tidak,"
"Kau tidak apa-apa, 'kan?" nada kekhawatiran terdengar sedikit jelas dari suaranya.
"Y-ya, t-tidak apa-apa,"
Menit demi menit dilalui tanpa sepatah katapun dari kedua belah pihak. Hinata yang terlalu pendiam dan sulit membuka percakapan, dan orang asing yang terlihat bingung melihat gerak-gerik orang di hadapannya, kedua telunjuk tangan saling bersinggungan ditambah wajahnya sedikit memerah dan pandangan melamun.
"Kau yakin akan diam di sini sampai nanti? Ini sudah hampir pukul 07.00 lho," demi mengehentikan adegan yang membuang waktu ini, pemuda itu melirik jam tangan hitamnya sebentar dan berujar. Penunjuk waktu yang tampak elegan itu tampak kontras dengan warna kulitnya yang sangat pucat.
"Hah! Aku terlambat, sampai nanti," sadar akan waktu yang terus mengalir, seketika Hinata berlari menuju kelasnya dengan wajah memerah ketahuan melamun oleh pemuda tadi. Berlari kencang sosoknya ditelan jarak yang kian jauh.
"Hm, gadis aneh," pemuda tersebut hendak melanjutkan perjalanannya yang tertunda sebelum melihat sesuatu berkilauan di tanah. Jemarinya mengambil sesuatu itu dan mengamatinya.
"Kalung?"
.
.
.
Hinata terlihat sibuk menulis sesuatu saat waktu istirahat. Tidak seperti siswa lainnya yang pergi ke kantin atau ke taman, ia justru hanya duduk di kelas. Sendirian. Beberapa menit kemudian, murid-murid yang sudah puas memanjakan perutnya segera masuk kelas dan duduk di tempat duduk masing-masing.
"Hei Hinata-chan sedang sibuk menulis apa?" tanya Ino bingung. Ia heran melihat Hinata yang sibuk entah menulis apa. Padahal biasanya Hinata selalu memakan bento yang dibawanya dari rumah.
"B-bukan apa-apa Ino-chan," jawab Hinata sedikit gugup. Ia langsung menutup bukunya cepat. Ia takut Ino melihat apa yang ia tulis. Sejenak Ino melihat catatan yang ditulis Hinata.
"Sepertinya tadi aku melihat nama Shikamaru, Kiba, dan entah siapa. Memangnya untuk apa data itu Hinata-chan?" Tanya Ino meminta penjelasan. Ia memang sangat penasaran dengan apa yang ditulis sahabatnya itu.
"Eto... ," Hinata gugup. Apa yang harus ia jawab? Bagaimana kalau ia bercerita kepada Ino? Tetapi apakah Ino dapat menjaga rahasianya? Menghilangkan pikiran negatif dari otaknya, Hinata memutuskan untuk bercerita.
"Begini Ino-chan... ," Hinata mendekatkan mulutnya ke telinga Ino agar cerita yang ia sampaikan tidak terdengar oleh siapapun.
"A-apa?!" Ino tergagap menanggapi cerita Hinata. Seolah memberi penjelasan bahwa cerita yang ia dengar salah atau tidak benar. Tetapi Hinata tidak memperbolehkan Ino untuk tidak percaya terhadap apa yang telah ia dengar.
.
.
.
"Nara-san, b-bolehkan m-minta waktumu s-sebentar saja?" Tanya Hinata takut dan malu. Ini pertama kalinya ia bicara pada orang yang dipanggil Nara tersebut. Sejenak pemuda tersebut menoleh dengan malas ke arah sumber suara.
"Hm, ada apa Hyuuga-san?" Jawab Shikamaru santai. Matanya terlihat mengantuk. Sepertinya pemuda ini selalu memprioritaskan tidur diatas segalanya, alias nomor 1. Melihat gelagat Shikamaru, Hinata jadi mengurungkan niatnya untuk melakukan interogasi lebih lanjut.
"E-eh maaf Nara-san, tidak jadi," tukas Hinata sopan. Segera ia pergi dari tempat tersebut. Setelah jauh, ia mengeluarkan kertas dan bolpoin. Shikamaru Nara coret. Huh, pemuda seperti Shikamaru Nara tidak akan mungkin disukai Ayah, apalagi sifatnya yang pemalas sangat bertolak belakang dengan sifat Hyuuga.
Mata lavender Hinata melihat keadaan sekitar, mencari seseorang yang dicarinya. Di kejauhan dilihatnya pemuda bertato segitiga merah di pipinya. Segera ia menemui pemuda tersebut dengan langkah kaki kecilnya.
"Kiba-kun ada waktu?" Tanya Hinata. Ia memang tidak gagap ketika berbicara dengan sahabat dekatnya yang sudah sangat akrab.
"Ya, ada apa Hinata-chan?" Sahut Kiba sambil membuka kaleng minuman yang hendak diminumnya. Diminumnya isi kaleng tersebut dan membuang kaleng tersebut sembarangan.
"Ano- apakah Kiba-kun terbiasa membuang sampah sembarangan?" Hinata berkata sambil mengacungkan telunjuknya ke arah kaleng.
"Aku terlalu malas untuk mencari tempat sampah, hehe," sahut Kiba sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Tak tampak sedikitpun raut menyesal di wajah tan-nya.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, aku pergi dulu Kiba-kun, sampai jumpa," sahut Hinata. Segera ia berjalan menjauh dari Kiba Inuzuka, sahabat dekatnya. Kiba Inuzuka coret. Bagaimana bisa Hyuuga menerima pemuda yang tidak membuang sampah ditempatnya, pikir Hinata. Sepertinya Hinata memang harus menyerah melanjutkan misi tersebut.
"Hinata-chan apa kau telah menemukannya?" Tanya Ino setengah berteriak memanggilnya. Jaraknya memang cukup jauh dengan tempat Hinata berada.
"Sst, jangan keras-keras Ino-chan, nanti ada yang dengar," sahut Hinata seraya meletakkan telunjuknya di bibirnya. "Sepertinya aku memang harus menyerah Ino-chan, aku sudah mendata semua laki-laki bermata hitam."
"Benarkah? Termasuk Kabuto-sensei dan Orochimaru-sensei?" Tanya Ino histeris.
"Yang benar saja Ino-chan, tentu saja Kabuto-sensei dan Orochimaru-sensei tidak ikut hitungan," ujar Hinata seraya tersenyum.
"Ah Hinata-chan, sepertinya kau melupakan seseorang-,"
"Gomen Ino-chan, aku pulang dulu, kita lanjutkan besok saja," ucap Hinata sambil berlari kearah mobil Neji lalu hilang ditelan pintu mobil. Yang setelahnya mobil tersebut melaju kencang.
"Yaah, padahal 'kan aku belum selesai bicara," Ino melihat Hinata dengan lesu.
.
.
.
Hinata mengamati kertas penuh coretan dihadapannya. Daftar nama anak laki-laki terpampang menurun lengkap identitas katar belakangnya.
"Haaaah, kenapa hidup begitu susah?" keluh Hinata. Kepalanya bersandar pada meja kecil tempat ia belajar seharusnya.
"Nee-chan kenapa sih?"
Sontak Hinata bangun dari lamunannya. Kaget akan kedatangan adiknya yang tiba-tiba datang seperti itu dengan hawa keberadaan yang tipis, atau memang Hinata saja yang tidak peka?
"Ah Hanabi-chan, nee-chan tidak apa-apa, mungkin hanya mengantuk," kebohongan Hinata yang sangat sulit dipercayai oleh adiknya.
"Ya sudah, jangan mengeluarkan suara bisik-bisik lagi, mengerikan," Hanabi mengedikkan bahunya sesaat sebelum pergi dan menuju kamar tidurnya.
-oOo-
To be continue...
Makasih buat yang udah review di fic-fic sebelumnya
Special Thanks to :
Shine and SHA
Hanako Kiyoshi
aindri961
Mind to RnR?
Thanks for all reviewer & all reader
