Haloo ~ akhirnya aku balik dengan membawa lanjutan ff ini dan sepertinya ada tambahan pair baru hoho :3
di ff ini umur ngga sesuai dengan kenyataan/? ya, karena ada yang aku ratakan sekelas :Dv
Perhatikan perubahan sudut pandang :)
Oke sip, happy reading ~
Your Hands
.
.
.
Yaoi - BoysLove / NamSeok - Namjoon x Hoseok / Don't Like Don't Read :)
.
.
.
.
Empat hari telah berlalu semenjak mereka bertemu di rooftop hari itu. Dan hanya satu hal yang menjadi pegangan keduanya untuk dapat saling mengenali.
.
.
Hoseok's POV
Semenjak hari itu, aku terus memikirkan namja yang kutemui di rooftop tempo hari. Rasa itu, aku masih sangat mengingatnya dengan jelas. Aku sangat berharap dapat bertemu dengannya lagi. Tapi bagaimana bisa bertemu kalau mengenalnya saja pun tidak. Di situ kadang aku merasa sedih(?).
"Haah ~". Aku menghela napasku kasar. Aku tidak tahu siapa dia. Yang kuingat hanyalah rasa saat menggenggam tangan dan suara husky-nya yang juga tidak dapat kulupakan. Suara itu terus berputar-putar di kepalaku. Membayangkan dia menyebut namaku dengan suara berat itu. Ah.. Memikirkannya saja pun dapat membuat kedua sudut bibirku tertarik.
"Hopie.."
"Jung Hopie.."
"YA! JUNG HOSEOK!"
Teriakan Eunji noona di telingaku membuat ku tersentak kaget dan refleks berteriak. "Ya! Noona kau mengagetkanku!"
"Siapa suruh kau mengacuhkan ku. Seingatku hingga pagi tadi aku masih memiliki adik manusia dan bukan patung." Dapat kulihat Eunji noona memutar matanya malas lalu mendengus.
"Kita sudah sampai di sekolahmu. Apa kau tidak mau turun ?"
"Eh ? M-maaf noona hehe. Aku tidak sadar jika kita sudah sampai." Jawabku dengan menunjukkan cengiran andalan yang menunjukkan gigiku yang tersusun rapi.
"Apa yang sedang kau pikirkan sih ?"
"Bukan apa-apa kok noona, aku masuk dulu ya. Semoga hari mu indah. Cup." Ku sempatkan mengecup pipi kakak ku satu-satunya itu sebelum berlari masuk ke dalam gedung sekolah.
.
.
Aku berjalan menuju kelasku yang terletak di lantai 2. Dan saat baru saja akan menaiki anak tangga pertama seseorang memanggil namaku.
"Hai, Jung!"
Aku menoleh bersamaan dengan orang itu mengalungkan lengannya di leherku, merangkulku dengan sebelah tangannya. Ah, biar kuperkenalkan.
"Oh, hai Park."
Orang yang sedang merangkulku ini bernama Park Jimin, dia siswa tingkat sebelas sama sepertiku namun kami tidak sekelas. Alasan mengapa kami bisa akrab adalah karena dia mengambil ekskul yang sama denganku, ekskul Musik Klasik.
Dan ngomong-ngomong, dia cukup populer di kalangan gadis-gadis, mengingat dia adalah Cellist* yang berbakat di sekolah ini.
.
.
"Kyaaaa.. Tampan sekali astaga! Aku akan menunggu nya lewat di koridor ini."
Aku dan Jimin refleks menoleh pada kumpulan yeoja yang ada di dekat jendela itu. Langkah kami terhenti sejenak memperhatikan mereka.
"Iya, aku juga. Hei jangan dekat-dekat dengannya nanti!". Ucap salah satu yeoja yang berambut pendek sebahu.
"Kau melarangku tapi kau sendiri yang selalu mencobanya."
"Enak saja! Kapan ?!".
.
.
"Ayo, Park. Kita ke kelas. Palingan juga yeoja itu sedang memperhatikan salah satu dari mereka." Aku menarik tangan Jimin segera dan menyeretnya untuk masuk ke kelas, kelas kami bersebelahan lagipula sebentar lagi bel pelajaran pertama akan berbunyi.
Menurutku tidak ada untungnya juga memperhatikan mereka seperti yang dilakukan oleh yeoja-yeoja itu. Mereka itu adalah siswa-siswa yang memiliki julukan pangeran di sekolah ini. Pertama, ada yang berambut senada pelangi namanya Oh Sehun, dia masih siswa tingkat sepuluh, wajahnya yang terkesan dingin itu lah yang mungkin di sukai oleh para yeoja itu. Kedua, Choi Junhong, dia berada di kelas yang sama dengan Sehun, anak ini memiliki rambut berwarna biru dan tubuhnya sangat tinggi, daya tariknya mungkin ?.
Ketiga, Kim Namjoon, dia siswa kelas sebelas sama denganku. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang pangeran yang satu ini, yang aku tahu hanya rambutnya yang berwarna putih dan sebutan lain untuknya. Keempat, Kim Taehyung, aku bisa dengan sangat jelas menjelaskan pangeran sekolah yang satu ini karena... Haah ~ malas rasanya menjelaskan makhluk yang satu ini. Dia adalah teman sebangku ku, yang berarti dia sekelas dan duduk tepat di sebelahku. Anak ini sedikit 'aneh' dan sangat suka bermanja-manja padaku, entah kenapa. Oh, jangan lupakan rambutnya yang berwarna orange cerah itu.
Dan yang terakhir, Kris Wu. Dia adalah sunbae yang sangat populer dengan rambut pirang dan ukiran wajah tegas bak pangeran sungguhan. Kurasa diantara semua pangeran sekolah dialah yang paling populer.
Oke, jangan tanyakan mengapa aku mengetahui semua tentang mereka. Itu karena aku mendengar nama mereka hampir di tiap sudut dari sekolah ini. Gadis-gadis itu membicarakan mereka dimanapun mereka berada. Dan yang membuat ku terkadang berpikir adalah mengapa rambut sang pangeran semuanya berwarna warni seperti itu ? Sudahlah, lupakan.
.
.
.
Normal POV
Jimin dan Hoseok masuk ke kelas mereka masing-masing setelah berpisah di ambang pintu kelas Hoseok yang berada lebih dekat dari tangga.
Hoseok langsung mendudukkan dirinya dan menyandarkan punggungnya di kursi dekat jendela yang langsung menghadap ke lapangan tengah sekolah. Namja manis itu mengeluarkan beberapa buku dan alat tulis untuk bersiap menerima pelajaran pertama walaupun baru akan dimulai beberapa menit lagi.
Ia mulai membuka halaman buku itu dan membaca deretan huruf-huruf yang tercetak di sana. Namun belum menyelesaikan baris pertama kegiatan membacanya terhenti karena bahu kanannya yang tiba-tiba tertimpa sesuatu.
Namja manis itu hanya menggembungkan pipi chubby-nya mengetahui siapa yang baru saja bersandar di bahunya. Siapa lagi kalau bukan alien-coret- Taehyung teman sebangkunya. Sudut matanya dapat menangkap helaian rambut orange cerah namja berwajah tampan itu.
"Hei, apa yang kau lakukan Tae ?"
"Pinjam bahumu sebentar Hoseokkie, aku ingin tidur." Jawab Taehyung masih dengan mata yang terpejam.
"Ini sekolah Tae, bukan kamar tidurmu! Ayo cepat bangun kepalamu berat!" Hoseok mendorong-dorong puncak kepala Taehyung agar namja itu menjauhkan kepalanya dari bahunya.
"Sebentar saja, lagipula bel belum berbunyi 'kan ? Kau mau aku tidur sekarang atau saat pelajaran nanti ?"
"Mwo ? Tentu saja sekarang, kau bisa dihukum nanti bodoh."
"Kalau begitu diamlah, jangan protes dan biarkan aku tidur." Ucap Taehyung final dan menyisakan Hoseok yang menjatuhkan rahangnya merasa bodoh karena sadar baru saja ia di kerjai oleh si alien ini.
"Haah..~". Entah ini sudah yang keberapa kalinya Hoseok menghela napas untuk hari ini. Bisa-bisa ia menjadi tua lebih cepat dari seharusnya jika terus menerus mengeluh seperti itu.
.
.
.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing ~~
Bel tanda pelajaran terakhir sudah berbunyi. Para siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing merapikan meja dan memasukkan semua barang ke dalam tas bersiap untuk pulang.
Seluruh siswa di salah satu kelas itu sudah meninggalkan ruangan. Sepertinya tidak semuanya, tersisa satu orang namja dengan surai putih di ruangan itu. Namja itu -Namjoon- memasang earphone terlebih dahulu sebelum beranjak dari duduknya dan menutup pintu kelas.
Ia pun berjalan dengan langkah kecih menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai sepi.
.
.
Namjoon's POV
"Sudah empat hari, ya ?" Gumamku sambil memandang telapak tangan kananku. Anak itu membuatku terus mengingatnya. Mengingat bagaimana ia menggenggam tanganku.
Jujur saja selama empat hari ini aku tidak pernah absen untuk ke rooftop karena berharap mungkin saja aku bisa bertemu dengannya lagi. Namun yang ku dapatkan malah beberapa siswa lain yang naik ke 'tempat pribadi' ku itu. Salahku juga karena tidak mengunci pintunya, tapi itu kulakukan untuknya. Terdengar aneh memang, tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk bisa menemuinya mengingat aku bahkan tidak mengenal dia.
Aku terus berjalan dengan langkah kecil di koridor sekolah. Masih berpikir apakah aku harus berhenti saja menunggunya ? Atau...? Ah, entahlah. Nanti saja kupikirkan.
.
.
.
Normal POV
Hoseok tampak merogoh saku blazernya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi. Ia membuka pesan yang baru masuk itu dan wajahnya seketika berubah menjadi sedikit murung setelah membaca isinya. 'Apa yang harus aku lakukan?' Gumamnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
PUK
"Hoseokkie ~". Hoseok berbalik dan memaksakan senyum pada seseorang yang meletakkan tangan di puncak kepalanya. Itu Taehyung.
"Oh, Ada apa Tae ?". Hoseok mulai berjalan mendahului namja tampan itu.
"Ingin pulang dengan ku ?". Ajak Taehyung yang berlari kecil untuk mensejajarkan langkah dengan teman sebangkunya itu.
"Tidak usah, aku akan pulang dengan Jimin."
"Ayolaah aku akan mengantarmu hari ini ya yaa ?" Namja berambut cerah itu menekan-nekan pipi chubby Hoseok dengan telunjuknya.
Hoseok memutar matanya malas lalu menoleh, membuat telunjuk Taehyung semakin terbenam dalam pipinya dan sontak membuat namja itu tertawa karena wajah Hoseok yang terlihat semakin imut.
"Pulanglah, Kim Taehyung!" Pinta Hoseok pada namja tampan berambut cerah di sebelahnya. "Sudah kubilang aku akan pulang dengan Ji-..."
"Hai, Jung!" Ucapan namja manis itu terpotong karena teriakan Jimin dari ujung sana.
Yes, Hoseok diam-diam bersyukur dalam hatinya karena Jimin datang di saat yang tepat untuk menyelamatkannya dari alien aneh ini.
"Oh, hai Park! Tunggu aku, aku akan ke sana."
"Aku ada urusan dengan Jimin. Pulanglah duluan Tae, daah ~" Hoseok langsung melenggang pergi begitu saja ke tempat Jimin berdiri.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga Taehyung tidak dapat memprosesnya dengan baik. Meninggalkannya terpaku dengan ekspresi blank yang terpahat jelas diwajahnya.
.
.
"Terima kasih Park, kau menyelamatkanku."
"Eh ?"
"Ah, tidak lupakan saja. Hehe. Oh iya, ada apa tadi memanggilku ?"
Jimin mengambil sesuatu dari sakunya sesaat setelah Hoseok bertanya perihal mengapa dia tadi memanggilnya. Kemudian namja pemain cello itu menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan pada Hoseok.
"Apa kau sudah tahu soal ini Jung ?"
Hoseok tampak membaca isi pesan itu. Itu pesan yang sama yang di terimanya tadi.
"Iya, aku sudah tahu. Tadi aku juga mendapatkan pesan ini dari Kyungsoo."
"Aah kenapa harus dimajukan sih, padahal aku ada urusan hari itu." Rutuk Jimin sambil sedikit mengacak-acak rambut belakangnya.
"Itu artinya... Kita masuk latihan lusa, 'kan ?" Pertanyaan Hoseok itu ditanggapi dengan anggukan oleh Jimin. Dan setelahnya, namja manis itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
.
.
.
Hoseok menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk miliknya sementara tas nya ia biarkan tergeletak di karpet begitu saja. Seragam sekolahnya masih melekat tanpa ada niat untuk menggantinya lebih dulu. Namja manis itu lalu membalik tubuhnya hingga berbaring menyamping. Sejak tadi ia terus memikirkan jadwal kegiatan ekskul nya yang dimajukan.
Jujur saja dirinya tidak ingin bertemu dengan Yoongi-saem dulu untuk saat ini, lagi pula ia bisa bermain piano di rumahnya sendiri, 'kan ?
Tapi ia merasa tidak enak juga dengan anggota yang lain karena kerap kali tidak hadir dan sering pergi begitu saja sama seperti yang terjadi pada latihan minggu lalu.
Sepasang mata kucingnya kini tertuju pada miniatur Grand Piano yang terpajang indah di meja belajarnya. Itu adalah hadiah dari sang kakek tersayang. Kakeknya adalah seorang Pianist* terkenal, dan sejak kecil Hoseok lah yang paling dekat dengannya karena dari semua cucunya Hoseok yang paling menyukai piano sama sepertinya. Hadiah itu selalu mengingatkan Hoseok akan janjinya pada sang kakek. Janji akan berusaha menjadi penerus kakeknya dan terus memainkan musiknya pada dunia. Satu hal, karena di mata sang kakek, Hoseok memiliki bakat.
"Bantu aku, kakek.." Gumam namja manis itu kemudian beranjak dari ranjangnya menuju ke meja tempat miniatur itu terpajang. Mengusap tuts piano mini tersebut dengan ibu jarinya.
.
.
.
Hoseok's POV
Aku sudah memikirkan hal ini sejak tadi. Aku harus menemuinya. Yang aku tahu aku hanya membutuhkannya. Mungkin aku bisa sedikit lebih tenang setelah menggenggam tangannya lagi. Dan jika jadwal ekskul akan dimajukan lusa berarti aku tidak punya pilihan lain selain mencarinya besok. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak memiliki petunjuk apapun.
Aku menggembungkan kedua pipiku, menatap kosong langit-langit kamarku yang ditempeli bintang dengan berbagai ukuran. Setelah beberapa lama terdiam aku menyadari sesuatu. Ah, iya!
Aku segera meraih ponsel ku di meja belajar lalu menghubungi salah satu kontak yang ku simpan di speed dial. Kurasa tidak masalah jika aku bertanya soal ini padanya.
.
.
.
Normal POV
"Halo, noona."
Ya, Hoseok menghubungi noonanya hanya untuk menanyakan hal itu. Hoseok memang sering sekali bercerita apapun itu masalahnya pasa Eunji, karena wanita itulah yang paling dekat dengannya. Entah apa yang ada di dalam otak namja manis itu sekarang.
Sementara Eunji mengalihkan fokusnya pada ponsel yang berbunyi. Wanita cantik itu mengerutkan alisnya saat melihat siapa yang menghubunginya. Hoseok, adik tersayangnya.
"Hopie ? Kau serius menghubungiku ?"
"Iya noona, ini aku."
"Demi tuhan, Hopie! Noona ada di sebelah kamarmu! Kalau butuh sesuatu kemari saja atau ingin noona yang ke sana ?"
"Ah, tidak noona! Di sana saja aku hanya ingin menanyakan sesuatu."
"Baiklah. Ada apa, sayang ? Noona lihat sejak tadi kau melamun, bahkan saat makan malam."
"Bagaimana cara menemui seseorang jika kita tidak mengenalnya ?"
"Hah ?"
"Bantu aku noona. Aku sedang mencari seseorang, tapi aku bahkan tidak mengenalnya."
"Bagaimana bisa noona membantumu jika kau saja tidak mengenalnya Hopie sayang -_-. Memangnya siapa yang kau cari itu ?"
"Dia namja yang pernah kutemui beberapa hari yang lalu."
"Lalu ?"
"Aku ingin menemuinya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya noona."
Eunji terkekeh kecil, membayangkan wajah adiknya yang saat ini pasti sedang merajuk. Dari suaranya saja ia sudah tahu, pasti Hoseok sekarang sedang merengut dengan bibir yang dikerucutkan dan mata yang berair. Hoseok memang sangatlah manja.
"Dimana kau bertemu dengannya, hm ?"
"Eh ? Di atap sekolah."
"Apa kau sudah pernah mencoba mencarinya di sana ?"
"Belum. Ah, benar juga ya noona, kenapa aku tidak pernah mencarinya di sana." Ujar Hoseok dengan penuh semangat.
Eunji lagi-lagi tertawa dibuatnya. "Cobalah mencarinya di sana, mungkin saja kau bisa bertemu dengannya."
"Iya, siap noona! Terimakasih kau yang terbaik! Hopie menyayangimu ~"
"Noona juga menyayangimu. Jaljayo ~"
Tutt
Tutt
.
.
Hoseok tersenyum cerah setelahnya, besok ia akan mencoba mencari namja itu seperti yang di sarankan oleh sang kakak. Ia merasa bodoh kenapa tidak mencobanya dari dulu ya ?
Namja manis itu kemudian menaiki ranjangnya, memeluk boneka Spongebob kesayangannya dan mencoba untuk tidur lebih awal. Berharap semoga besok adalah hari keberuntungannya.
.
.
.
.
"Hopie ~ Ayo cepat nanti kau bisa terlambat! Noona tunggu di mobil ya." Teriak Eunji di ambang pintu untuk memanggil sang adik.
"Iya noona, aku sedang mengambil bekalku."
.
Hoseok mendudukkan dirinya di kursi penumpang sebelah Eunji dan sedikit mengatur napasnya yang sedikit memburu.
"Kenapa lama sekali sih ? Semalam memangnya kau terlambat tidur lagi, ya ?"
"Tidak kok, hehe. Tidurku terlalu nyenyak malah, aku sampai terlambat bangun tadi pagi." Namja manis itu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk 'peace' ditambah dengan cengiran kucingnya.
"Jadi, apa kau akan mencarinya sebentar ?"
"Iya noona, pasti."
"Memangnya siapa namja itu ? Noona jadi penasaran. Aah adikku sudah mulai dewasa rupanya kkk~" Eunji melancarkan aksinya menggoda adiknya yang manis.
"Ya! Noona jangan menggodaku. Dia bukan siapa-siapa kok. Aku hanya ingin menemuinnya saja."
"Duhh tidak usah malu sayang, perkenalkan pada noona nanti ya ~"
"Noona!"
"Hohoho.."
Sepertinya Hoseok akan terus merengut di sepanjang jalan menuju sekolahnya karena ulah jahil sang kakak.
.
.
.
Pagi menjelang siang di Bangtan High School.
Hoseok melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bel tanda istirahat sebentar lagi berbunyi, rasanya ia jadi tidak sabar ingin segera ke rooftop.
.
Namja manis bermata kucing itu kini berjalan dengan sedikit mengendap-endap dari tempat duduknya. Takut membangunkan namja berambut orange cerah yang tertidur di sebelahnya. Demi pesawat UFO Taehyung(?), sejak pagi tadi Hoseok terus menerus di ganggu oleh alien tampan itu. Bisa-bisa rencananya untuk mencari dia di rooftop batal jika Taehyung terbangun. Karena namja itu pasti lebih dulu menariknya ke kantin.
Jadilah Hoseok mengendap-endap seperti sekarang ini. Tidak lupa pula namja manis itu menyimpan bekalnya yang di tempeli sticky notes untuk Taehyung agar namja itu bisa memakannya saat terbangun nanti. Hoseok tahu Taehyung tidak boleh terlambat mengisi perutnya, karena ia memiliki penyakit maag.
.
.
Setelah berhasil melarikan diri dari kelasnya, Hoseok segera berlari menuju ke rooftop. Tentu saja ia akan sangat senang jika dapat bertemu dengannya di dalam sana. Tapi tentu ia juga sudah mempersiapkan dirinya jika saja tidak menemukan siapapun nantinya.
Hoseok sudah tepat berada di depan pintu rooftop. Namja manis itu menghela napas dan menghembuskannya beberapa kali sebelum meraih gagang pintu itu. Dan...
1
.
.
2
.
.
3
.
.
BRAK
Pintu rooftop itu terbuka. Mempertemukan dua pasang mata yang saling menatap dalam diam.
.
.
Hoseok's POV
Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat melihat siapa yang baru saja kulihat saat ini. Bagaimana aku harus menyebutkan orang yang berjarak cukup jauh dari hadapanku. Tak pernah terbayangkan oleh ku sedikitpun akan bertemu dengan salah satu pangeran sekolah hanya berdua secara langsung selain dengan Taehyung.
Bagaimana aku harus menyapanya ? Lelaki itu memiliki julukan 'pangeran', namun ada juga yang mengatakan dia 'berandal'. Dan beberapa guru juga memanggilnya dengan 'si rambut putih'. Tapi satu hal yang ku tahu, lelaki itu bernama Kim Namjoon. Dan saat ini dia sedang menatap ke arah ku juga.
Harus kah aku menghampirinya ? Aku bahkan tidak yakin kalau itu dia yang kucari. Pikirku.
.
.
Namun pada akhirnya aku pun berjalan ke arah tempatnya bersandar di tembok pembatas rooftop. Mengabaikan segala pemikiran dan kemungkinan yang sejak tadi beradu di dalam otakku. Aku berharap semoga apa yang kulakukan ini benar, dengan asumsi bahwa jika lelaki itu merespon apa yang akan kulakukan setelah ini maka benar dia itu adalah dia yang kucari.
Aah jantungku terus saja bekerja lebih cepat dari seharusnya kala jarak yang memisahkan ku dengannya semakin dekat hingga akhirnya aku pun berada tepat dihadapannya yang sedang mendongak menatapku tanpa berkedip.
Segera kutatap kedua mata sipitnya yang tertuju padaku dengan sorot pandang yang menunjukkan kebingungan. Dan setelahnya aku mengulurkan tangan kananku setinggi wajahnya, dengan begitu aku akan terlihat seperti sedang mengajaknya bersalaman.
Baiklah, aku siap menerima apapun respon yang akan diberikan oleh nya setelah ini. Tapi yang jelas, aku sudah berusaha, 'kan ?
.
.
Namjoon's POV
BRAK
Kudengar suara pintu rooftop dibuka dengan terburu-buru.
"Tch, siapa lagi sih yang datang kemari." Umpatku dalam hati sebelum mengalihkan perhatianku dari buku ke arah pintu rooftop yang menampakkan sosok seorang lelaki berambut hitam yang sedang menatap lurus ke arahku.
Dapat kulihat lelaki itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berjalan dengan langkah kecilnya menjuku ke...
tempatku ?
.
Aku mengamati setiap inchi lelaki itu dikala jaraknya semakin dekat dariku. Tubuhnya cukup tinggi tapi tidak lebih tinggi dariku, bahunya kecil untuk ukuran seorang lelaki, dari penampilannya sepertinya ia adalah 'anak penurut', dan rambut hitamnya yang tertata rapi cocok dengan bentuk wajahnya yang oval membuatnya terlihat... manis.
Ya, ku akui bahwa lelaki dihadapanku ini sangatlah manis. Aku bahkan baru sadar jika sedari tadi aku tidak berkedip melihatnya. Terlebih melihat rambut hitam yang terasa familiar bagiku itu. Rambut yang sama dengan miliknya.
Entah mengapa disudut hatiku terselip harapan jika lelaki ini adalah dia.
.
.
Saat ini ia sudah berdiri tepat di depanku, kami saling menatap dalam diam selama beberapa saat. Membuatku dapat mengamati wajah manisnya dari dekat. Dan satu pergerakan kecil darinya setelah itu mampu membuatku tersenyum dalam hati saat itu juga.
Ia mengulurkan tangannya di depanku.
Aku yang mengerti maksud dari lelaki manis itu pun langsung menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahku sebelum meraih tangan kanannya untuk kugenggam dengan tangan kiriku.
Rasa itu. Aku merasakannya lagi, perasaan yang kurasakan tempo hari saat menggenggam tangannya. Aku berucap senang dalam hati, hampir saja aku menyerah dan mengunci tempat ini untuk diriku sendiri lagi. Tapi penantianku seperti orang bodoh tidak sia-sia. Karena akhirnya dia datang padaku.
.
.
.
Normal POV
Mata kucing Hoseok membulat saat mendapatkan respon tiba-tiba namja itu. Namjoon menepuk tempat kosong disebelahnya lalu meraih tangan namja manis itu kedalam pelukan jemarinya.
"Sampai kapan kau mau berdiri seperti itu ?"
Hoseok semakin tidak dapat berkata-kata setelah mendengar suara namja yang sedang menggenggam tangannya saat ini. Ia sangat mengenali suara husky itu, suara yang beberapa hari ini memenuhi benaknya. Satu-satunya hal yang menjadi pegangan bagi Hoseok untuk dapat mengenalinya. Itu benar suaranya. Sungguh hati namja manis berpipi chubby itu sangat senang karena akhirnya dapat menemukan dia yang ia cari.
Mungkin efek terlalu senang membuat Hoseok terpaku cukup lama tak bergerak seperti patung. Hingga akhirnya namja bersurai putih itu gemas sendiri karena merasa terabaikan dan menarik tangan Hoseok untuk duduk di sebelahnya.
Mereka pun duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertautan di rooftop yang sepi saat itu.
.
.
"Kau yang tempo hari itu, 'kan ?"
Lagi-lagi Namjoon yang lebih dulu memecah keheningan sama seperti kali pertama mereka bertemu. Di tempat yang sama, dengan suasana canggung yang sama.
"Kau mengingatku ?"
"Tentu saja, kau mengganggu tidur siangku."
"Aku kan sudah minta maaf. Kenapa masih mengungkit itu ?"
"Aku tidak marah padamu, hanya saja aku baru menemui lelaki cengeng sepertimu."
Jawaban Namjoon sontak membuat Hoseok mengerucutkan bibirnya. Ternyata memang benar dia itu sedikit ketus. Biarlah jika Namjoon menganggapnya cengeng, itu memang ada benarnya, tapi setidaknya hari itu Namjoon tidak melihatnya menangis secara langsung.
.
.
Mereka pun berbicara tanpa saling berhadapan, keduanya hanya memandang lurus kedepan dengan tangan yang masih bertautan. Tangan kiri Hoseok yang bebas memainkan ujung blazernya, sedangkan tangan kanan Namjoon membolak-balik halaman buku di pangkuannya.
"Ah, aku sama sekali tidak menyangka kalau namja itu adalah kau, Namjoon-ssi."
"Hm ? Kau tahu namaku ?"
"Siapa yang tidak mengenal salah satu pangeran di sekolah ini ? Kau itu terkenal, Namjoon-ssi."
"Sebaik itu kah reputasiku ?"
"Entahlah, awalnya aku juga bingung karena jujur saja kau memiliki banyak image. Salah satunya sebagai pangeran."
"Sepertinya kau mengenalku dengan baik. Yang lainnya ?"
"Jelas saja, kalau kau mengenalku itu baru aneh karena aku hanya siswa biasa." Hoseok memberi jeda sejenak terkekeh kecil atas perkataannya sendiri, lalu melanjutkan.
"Yang kutahu guru-guru menyebutmu 'si rambut putih' dan ada juga yang menganggapmu 'berandal'. Aku tidak tahu pasti yang terakhir itu."
"Hahaha... Ternyata benar. Tidak salah kok. Jujur aku juga tidak terlalu peduli dengan image ku, aku nyaman seperti ini." Perkataan terakhir Namjoon sukses membuat Hoseok berbalik padanya dan menatap bingung untuk sepersekian detik.
Hoseok hanya sedikit terperangah, ternyata pribadi seorang Kim Namjoon itu cukup menarik. 'Apa baru saja dia tersenyum ? Ah tidak, tertawa ? Apapun itu yang jelas Namjoon itu memang benar tampan.' Batinnya.
.
.
"Namamu ?"
"Eh ?" Hoseok melongo tidak memperhatikan pertanyaan Namjoon karena baru saja tersadar dari kegiatan mengagumi-ketampanan-seorang-kim-namjoon-nya.
"Aku menanyakan namamu, bodoh."
"Hoseok. Jung Hoseok, hehe."
Namja manis itu akhirnya menoleh dan tersenyum cerah pada Namjoon. Menampakkan gigi geliginya yang tersusun rapi.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Note* :
Cellist : sebutan untuk pemain cello.
Pianist : sebutan untuk pemain piano.
Makasi buat yang udah fav, follow dan review ff ini :3
Oke, waktunya bales review ~
shinhy.39 : ini udah dilanjuuuut :3 semoga chap ini ngga ngegantung lagi hoho
DiraDesfi26 : ini udah di lanjuuut cinta(?) :3 #dibom
ayumKim : iyaa udah disambung ini ~ sepakat *tos* emang si mini Minnie suga cocok tampang killer :3 #digamparjimin
kiddo : udah lajuuuut hehe sekarang pair mereka udh mulai bertebaran(?) kok, dan aku salah satu shipper mereeka juga :D
Phylindan : sepakat, pengen dinyanyiin ama dia huhu ;_; #ngimpi oke, mereka jadi salah satu otp ku juga setelah membaca Secret Star, duhh baru sadar kalau mereka ini imut huhu ;_; daddy namjun bikin gemess ih uke nya kebanyakan -_- #apa
anthi lee : imuuut sekali aah ~ tenang aja ada lanjutannya kok hoho :3 kalau perlu smpai ada namseok kecil(?) /ga xD haii salam kenal dariku untukmu :3
Deushiikyungie : makasi ~ aku udah mabok dari dulu gegara 7 ssang namja itu :D
namseokbae : baeeee ~ ini udah dilanjutxD
GitARMY : iyaa udah dilanjut ~ :D
Kokoro no Nyan : ha'i ini udah dilanjuut kok :3 yosh, ganbatte! Duhh kokoro ini lelah(?) karena namja namja tampan ituu ;_; *curhat /ga
Semoga chap ini bisa memuaskan/? readernim sekalian yaa :3
Aku usahakan ff ini dilanjut terus sama seperti Lingered cuman waktu updatenya yang mungkin ngga menentu maaf u_u
Itu juga kalau masih ada yang nungguin lanjutannya huhu #gelindingan
Oke, sekian dulu.. Mind to review ? :D
Saranghae ~ :3
