Disclaimer : Hiro Mashima

Based on Toshokan Sensou

Evil Instructor

"KALIAN SEMUA! LARI DARI GARIS INI KE GARIS FINISH DI UJUNG SANA! DILARANG MENGGUNAKAN SIHIR! CEPAT!" Perintah Jelal kepada satu pasukan trainer yang dipimpinnya.

"OOOSSSHH!"

Para prajurit trainer berlari di lapangan seluas lapangan bola tersebut, debu-debu bertebaran, mereka berlomba untuk menjadi yang tercepat dan terlihat pemandangan mencolok, di antara sekumpulan pria trainer muda itu, nampak seorang perempuan muda berambut panjang dengan warna scarlet yang mencolok.

Perempuan itu berlari paling depan, lebih cepat dari semua pria yang ada di belakangnya, hingga dia sampai ke garis finish, lalu...

BRUGHH!

Perempuan itu terjatuh tepat setelah sampai di garis finish akibat kelelahan, nafas nya tersengal-sengal.

Tak berapa lama kemudian beberapa pemuda juga sampai ke garis finish, mereka juga terjatuh akibat lelah.

"KAU! YANG BERAMBUT MERAH! SIAPA SURUH KAU TIDURAN! SEKARANG PUSH UP 50 KALI!" bentak Jelal kepada perempuan itu.

"Nama saya Erza, sir!" sahut perempuan itu.

"Oh begitu? Erza sekarang push up 50 kali!"

"Tapi yang lain juga terjatuh sir!" bantah Erza seraya menunjuk beberapa pemuda yang juga terjatuh di garis finish, seketika para pemuda itu buru-buru berdiri tegap kembali.

"JANGAN MELAWAN! INI PERINTAH! ATAU KAU MAU HUKUMANMU KU TAMBAH JADI 100 KALI PUSH UP?!" gertak Jelal, membuat Erza ciut.

Dengan perasaan dongkol akhirnya Erza melaksanakan hukumannya, push up 50 kali, nampaknya latihan neraka tidak berhenti sampai di sini...

Evil Instructor

"ARRRGHHH! Kau tahu? Pria itu nampaknya mempunyai misi untuk membuat hidupku seperti di neraka!" omel Erza seraya menyuapkan sesendok nasi untuk makan siang nya.

"Siapa maksudmu? Instructor Jelal?" tanya seorang wanita cantik berambut putih yang duduk disebelahnya.

"Ya! Kau tahu Mira? Tadi pagi aku berlari di lapangan! Aku berhasil menjadi nomor satu! Tapi pria bertato itu malah menghukumku! Bukan hanya itu dia hanya menghukumku! Padahal yang lain berbuat kesalahan yang sama denganku!"

"Benarkah? Tapi menurutku Instructor Jelal sangat baik, dia juga keren, aku menyukainya." Sahut Mira sambil matanya menerawang.

Mirajane Strauss, seorang wanita primadona di Guild Fairy Tail. Dia juga masih dalam tahap pelatihan di bagian informasi yang bertugas mengumpulkan data informasi dan dia teman sekamar Erza di Guild.

"Menyukainya? Serius? Si pendek itu?!"

"Jangan melihat orang dari tingginya, lagi pula Instructor Jelal tidak begitu pendek, kau saja yang agak tinggi untuk ukuran perempuan." Bantah Mira.

"Huh! Bukan hanya pendek dia juga kejam!"

"Jadi itu yang kau pikirkan tentangku heh?"

Terdengar suara Jelal dari belakang Erza, membuat Erza dan Mira memalingkan wajah kebelakang.

Berdiri Jelal dan Laxus sambil membawa piring makan siang mereka.

"Kau menganggap aku si cebol maniak yang kejam? Kuberikan kau peringatan, apa yang kulakukan padamu masih berprikemanusiaan, tapi bisa saja aku melakukan lebih dari itu." Ujar Jelal dengan tampang horor, membuat Erza gelagapan dan mulai memakan lauknya dengan cepat.

"Halo Insructor Jelal, Instructor Laxus." Sapa Mira, ramah sembari tersenyum.

"Oh, halo, hey Erza jangan makan begitu cepat." Tegur Laxus sambil duduk di samping meja Erza dan Mira.

"Aku sudah selesai, ayo Mira kita pergi dari sini."

Erza bangkit berdiri bersama Mira dan berlalu pergi, namun sebuah surat nampak terjatuh dari kantong celana Erza.

"Oi, suratmu terjatuh!" tegur Jelal.

"Buang saja surat itu." Sahut Erza dingin seraya terus berjalan.

"Itu surat dari orang tuanya, orang tuanya tidak tahu kalau Erza bergabung dengan MDF, mereka mengira Erza bekerja sebagai anggota Guild biasa." Jelas Mira seraya tersenyum, lalu membungkuk dan pergi menyusul Erza.

"Hmm. Artinya orang tua nya tidak mau kalau dia bergabung dengan MDF." Ujar Laxus seraya mengunyah ,makanannya.

Jelal hanya terdiam sembari membaca surat itu.

"Bagaimana pendapat lo tentang Erza itu?" tanya Laxus.

"Maksudmu?"

"Maksudku dia perempuan pertama yang bergabung dengan MDF, dia sangat unik."

"Unik? Dia itu monster! Dia mengalahkan 12 pria dalam lari 500 meter." Sahut Jelal.

"Jadi menurutmu dia cocok berada di militer?"

"Tidak! Walau kemampuan atletik baik belum tentu kompeten!"

"Oh, begitu."

Evil Instructor

Sore harinya merupakan latihan beladiri judo.

Latihan beladiri ini berguna untuk memperkuat fisik dan mempertahankan diri di luar Guild karena penggunaan sihir tidak di perbolehkan di luar dari wilayah guild dan berguna juga untuk memperkuat teknik serta fisik karena sihir yang hebat adalah sihir yang bisa dikombinasikan dengan fisik yang kuat.

Latihan ini sendiri tidak hanya mencangkup anggota MDF tapi juga seluruh bagian dari guild, dan latihan dibagi atas dua kelompok berdasarkan masing-masing gender.

BRUGGHH!

Erza membanting seorang perempuan berambut biru kelantai, terlihat beberapa perempuan juga sudah terkapar di lantai.

"Am-ampun, Juvia sudah tidak kuat." Seru perempuan berambut biru itu.

Juvia Lockser, adalah seorang agen yang masih dalam tahap pelatihan –sama seperti Erza dan Mira- bagian personalia, bertugas untuk membantu orang-orang yang datang ke guild untuk mempelajari Lacrima.

"Ya, Erza, kau terlalu kuat untuk ukuran seorang perempuan, harusnya kau melawan laki-laki." Sahut seorang wanita berambut kuning yang terkapar di tanah.

Perempuan berambut kuning ini bernama Lucy Heartafillia, seorang perempuan keturunan bangsawan Fiore. Dia kabur dari rumahnya dan bergabung dengan guild karena hasratnya untuk mempelajari Lacrima, berbeda dengan Erza, Mira dan Juvia, dia sudah lulus pelatihan dan bekerja dibagian keuangan guild.

Mendengar kata-kata Erza, sekelompok laki-laki langsung menawarkan diri untuk menjadi teman latihan Erza.

"Oh, kalau begitu aku bersedia menjadi lawan tandingnya!"

"Kalau lawannya perempuan sih nggak masalah."

"Lawan aku saja! Aku sangat lemah."

"Wah cihui nih (?)."

"DIAM KALIAN SEMUA!"

Terdengar teriakan Jellal, membuat semua orang menatap Instructor mereka yang baru masuk ke ruang latihan dengan mengenakan pakaian judonya.

"Tak akan kubiarkan mereka melawanmu, sekarang lawan aku, Erza Scarlet." Tantang Jelal yang di protes oleh para pria.

"Instructor Jelal tidak adil!"

"Instructor, mau ambil kesempatan?"

"BODOH! Aku tidak berminat mengambil kesempatan dengan perempuan sepertinya, dan aku pun tak berminat untuk mengalah."

Mendengar itu, muncul urat kemarahan di kepala Erza, "Instructor kau yakin sanggup melawanku? Kau lebih pendek dariku, aku tak yakin kau mampu menggapai kerah bajuku, sir."

Jelal tak menjawab, dia langsung maju menghadapi Erza.

Erza dengan sigap langsung mencengkram kerah pakaian Jelal dan bersiap membantingnya, namun Jelal nampak tak bergeming dari posisinya.

'Gawat! Dia benar-benar tangguh' batin Erza.

Jelal lalu dengan sigap mencengkram lengan kanan Erza dan dengan sedikit memutar tubuhnya, dia membanting Erza ke lantai.

BRUGHH!

"Ternyata kau hanya bisa berbicara besar, walau tubuhmu lebih tinggi dariku tapi terbukti, kau tidak bisa menjatuhkanku." Remeh Jelal seraya membalik badan, bersiap meninggalkan Erza di lantai.

"BAIKLAH KALAU BEGITU KEINGINANMU!" teriak Erza yang bangkit dan langsung menendang punggung Jelal, membuat sang instructor terjatuh kelantai.

"Kau lihat! Sesuai keinginanmu! Aku menjatuhkanmu!"

Tiba-tiba menguak aura hitam dari diri Jelal, "Jadi begini cara mainnya huh?"

Dengan ganas Jelal berdiri dan membanting Erza ke lantai, bukan hanya itu, dia langsung mengeluarkan jurus 'Arm Breaker', jurus kuncian yang mengunci lengan dan bahu kanan Erza.

"ADAAAAWWWWW! SAKITTTTT! AMPUNNN!" Jerit Erza sejadi-jadinya.

"Oi, kau, hitung sampai 50." Perintah Jelal pada seorang laki-laki peserta latihan.

"DASAR CEBOL SADIS MANIAK! LENGANKU TAK AKAN BERTAHAN SAMPAI 50 DETIK! LEPASKAN AKU!"

Evil Instructor

"Dia benar-benar kasar! Sulit kupercaya ada laki-laki sepertinya!" maki Erza seraya mengurut lengan kanannya.

"Menurutku, kau yang sulit dipercaya, baru kali ini ada seorang newbie yang beranimenendang seorang High ranking officer, lagi pula caranya menanganimu sungguh benar-benar impressif, kalau dia mau, dia bisa saja mematahkan lenganmu." Sahut Mira sambil menggunakan masker tidurnya.

"KAU SERIUS?! LIHAT APA YANG DIA LAKUKAN PADA LENGANKU!" protes Erza.

"Dia benar-benar gentle, dia menangani seekor monyet bagaikan seorang manusia." Puji Mira lagi dengan pandangan penuh kekaguman.

"OI! OI! SIAPA YANG MONYET?"

"Hmmm, bagaimana kedua orang tuamu? Mereka kan tidak setuju kau bergabung dengan MDF, bagaimana kalau mereka berkunjung kemari? Bila ketahuan kau bisa disuruh keluar dari guild." tanya Mira, merubah topik pembicaraan.

"Entahlah, aku tidak memikirkan sampai kesana."

"Masuk ke guild kan tidak harus dibagian Defense Force, kau bisa masuk kebagian personalia atau administrasi atau bagian intel seperti diriku."

"Yah, memang, tapi kan kau tahu aku masuk ke MDF untuk mencari penyelamatku, bukan hanya itu, penyelamatku itu yang menginspirasiku untuk masuk ke MDF, untuk melindungi guild dan Lacrima, dia adalah panutan bagiku, aku ingin menjadi seperti dirinya."

"Sepertinya susah juga ya, itu kan kejadian dua tahun lalu, belum tentu juga sang penyelamatmu itu masih ada di guild ini kan?" sahut Mira.

"Aku tahu hal itu, namun bagi ku bertemu atau tidak, aku tetap akan berjuang di MDF, untuk menjadi seperti dirinya, melindungi Lacrima dan sihir."

Walaupun dalam hatiku masih berharap untuk bertemu dengan dirinya, penyelamatku, pahlawanku...

Evil Instructor

Keesokan harinya di hall Guild...

"Hey buku teks lo terjatuh." Panggil Laxus seraya mengulurkan buku teks nya pada Erza.

"Ah, Instructor Laxus, terima kasih."

"Buku teks lo terlihat sangat rapi, seperti tidak pernah dibuka."

"I-iya karena setiap pelajaran aku selalu tertidur." Panik Erza seraya membuka buku teksnya.

Para penyihir atau orang yang baru bergabung ke guild memang di wajibkan untuk memiliki buku teks dan ikut pelajaran seputar pengetahuan tentang sejarah peperangan guild dan pemerintah juga undang-undang perlindungan Lacrima wajib untuk dipelajari agar tidak melanggar ketentuan dan peraturan yang sudah ditetapkan antara guild dan pemerintah.

"A-anu, instructor Laxus, apakah anda tahu siapa pria ini?" tanya Erza sambil menunjuk sebuah foto yang ada di buku teksnya, foto seorang pria berambut hitam panjang dan diikat sambil memegang buku bertuliskan END.

"Pria di foto itu bernama Mard Geer, dijuluki King Of Hades, dia salah satu komandan pihak pemerintah yang mengomandoi pasukan demon." Jelas Laxus.

"Apakah dia sangat tangguh?"

"Tentu saja, bagi penyihir pemula seperti lo, bila bertemu dengannya di medan tempur lebih baik segera menghindar, hanya orang sekelas komandan di guild yang mampu menghadapinya..." Laxus memotong kata-katanya, menghela nafas sejenak.

"Luka diwajahku ini disebabkan oleh pertarunganku dengannya." Sambung Laxus sambil menunjuk luka yang berada di salah satu wajah bagian matanya.

Erza segera menutup buku teksnya, "Ma-maaf."

"Maaf? Untuk apa? Justru bagi tentara seperti kita, bekas luka adalah sebuah kehormatan dan kebanggan tersendiri, itu pertanda bahwa kita bertarung dan berjuang untuk apa yang kita yakini."

Namun Erza tetap merasa tidak enak hati, kepalanya tertunduk, membuat Laxus tersenyum, lalu mengusap kepala Erza dengan lembut.

"Lo tenang saja, gua tidak marah sama lo."

Merasakan tangan Laxus dikepalanya membuat Erza merasakan perasan Dejavu, perasaan yang sama seperti dua tahun lalu, saat penyelamatnya mengusap kepalanya.

"Ngomong-ngomong hari ini tidak ada latihan tempur, hari ini kalian akan berpatroli di perpustakaan Lacrima, masing-masing calon agen seperti lo akan didampingi oleh seorang instructor."

Evil Instructor

Setiap guild memiliki sebuah perpustakaan Lacrima, disinilah tempat dimana Lacrima disimpan dan dapat dipelajari oleh orang yang datang untuk belajar sihir.

Perpustakaan Lacrima sendiri sangat besar, dengan rak-rak yang menjulang tinggi, tersusun dengan rapi bola kristal Lacrima dari berbagai ukuran, warna dan jenis, tiap Lacrima mengandung pengetahuan dari jenis sihir berbeda.

Dan tugas Erza hari ini adalah berpatroli, tiap anggota MDF diwajibkan untuk berpatroli sesuai dengan shift mereka, karena ancaman bukan hanya berasal dari pihak pemerintah namun juga dari masyarakat sipil yang berpura-pura datang untuk mempelajari sihir padahal tujuan sebenarnya untuk mencuri Lacrima, dikarenakan harga Lacrima yang sangat tinggi di pasar gelap.

Seorang calon agen yang masih dalam pelatihan seperti Erza wajib berpatroli didampingi oleh seorang instructor, dan instructor yang mendampingi Erza hari ini... oh ya tentu saja, Jellal Fernandes.

'Instructor Laxus, kenapa aku harus berpatner dengan Jelal hari ini!' batin Erza.

Jelal sendiri tampak berjalan dibelakang Erza sembari memperhatikan pengunjung yang datang.

"Sir, orang itu sepertinya sedikit mencurigakan." Bisik Erza seraya menunjuk seorang pengunjung dengan gerak gerik mencurigakan.

"Sepertinya begitu, ikuti dan tanyai dia." Perintah Jelal yang ditimpali anggukan Erza.

Erza lalu mengikuti pria itu sampai ke bagian belakang perpustakaan yang sepi, lalu dia melihat, pria itu nampak ingin memotong sebuah Lacrima yang dia keluarkan dari dalam jaket yang dia kenakan.

"APA YANG KAU LAKUKAN!" bentak Erza yang membuat pria itu kaget.

Seketika pria itu menghadap Erza, lalu mengacungkan alat pemotong ditangannya ke arah Erza.

Erza langsung menyerang pria itu, dia menepis tangan pria itu hingga alat pemotongnya terjatuh dan dengan sigap dia lalu membanting pria itu kelantai.

"Rasakan itu!" seru Erza seraya berdiri.

"Erza!" panggil Jelal yang menyusul ke bagian belakang perpustakaan.

"Sir! Pria ini berusaha untuk menghancurkan Lacrima yang diambilnya dari perpustakaan!"

"BODOH!" teriak Jelal yang membuat Erza bingung.

Tanpa disadari Erza pria tadi sudah bangkit dari lantai dan bersiap memukul Erza dari belakang.

"MINGGIR!"

Jellal langsung mendorong Erza kesamping membuat Erza terjatuh, namun sebagai gantinya, dengan telak pukulan sang pria itu tepat mengenai pelipis Jellal.

Jellal lantas membalas dengan memukul perut pria itu, hingga pria itu terjatuh ke lantai, dan dengan cepat Jellal langsung mengeluarkan borgol dan memborgol kedua tangan pria itu.

Jellal lalu menghampiri Erza yang masih terduduk di lantai, terlihat darah keluar dari pelipisnya akibat pukulan dari pria pencuri.

Lalu dia mengulurkan tangannya ke arah Erza.

Erza menggapai tangan itu, dan ketika dia baru berdiri..

PLAKK!

Sebuah tamparan keras dari Jellal tepat menghujam pipi kanan Erza.

"Jangan anggap tamparan ini masalah pribadi, aku akan melakukan ini tak peduli siapa pun orangnya, kau jangan bodoh, ini bukan sebuah permainan yang bila kau berhasil memukul kau akan mendapatkan skor, kau harusnya tidak boleh lengah sampai pelaku atau lawan benar-benar berhasil diamankan, bila mereka belum benar-benar diamankan mereka bisa menyerangmu kapan saja."

Jellal lalu menyeret pelaku, "Bila kau hanya beranggapan ini permainan, lebih baik kau berhenti saja, tempat ini tidak cocok untuk dirimu."

Jellal lalu pergi bersama pria pencuri yang sudah diborgol itu, meninggalkan Erza yang termenung sambil memegang pipi kanannya.

Evil Instructor

Malam harinya, di kamar asrama guild..

"Pria itu seorang penjual Lacrima di pasar gelap, dia ingin memotong Lacrima itu menjadi beberapa bagian dan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, tanpa dia tahu kalau Lacrima dirusak maka pengetahuan sihir yang ada didalamnya pun akan ikut rusak." Jelas Mira, seraya merapikan tempat tidurnya.

"Oh, ya." Balas Erza dengan tatapan malas, terlihat pipi sebelah kanan nya sedikit membengkak dan tempelan koyo menempeli pipinya.

"Lihat wajahmu, seperti ada telur bebek yang menempel disana."

"Diam."

"Jangan marah begitu, instructor Jellal memberikanmu pujian dan mengatakan kau yang mengamankan pelaku dalam laporannya, walaupun kau membuat masalah tapi dia masih menghargaimu."

Seketika Erza tercenung.

'Kenapa? Aku tidak pantas menerima pujian, ini memang kesalahanku, aku tidak mengamankan pelaku, aku bahkan membuat instructor Jellal terkena pukulan! Aku bahkan tidak bisa membayangkan bila aku tidak menyingkirkan alat pemotong pelaku, mungkin akan terjadi hal yang lebih buruk!' batin Erza.

"Aku haus, aku keluar sebentar membeli minuman." Sahut Erza dengan perasaan berkecamuk dan wajah bersalah.

Erza POV

Aku melangkah ke arah lobby asrama untuk mencari mesin penjual minuman, namun saat aku melalui lobi, mataku menangkap sesosok pria yang ku kenal sedang duduk santai di sofa sambil meminum minuman kaleng, pria yang menamparku tadi siang, inspector Jellal...

"Tidak untuk sekarang, pergilah, tidur."

Dia menatapku dengan tatapan bosan, mungkin dia mengira aku akan mengajaknya ribut seperti biasa.

"Lobby ini berada di asrama, aku bisa berada disini kapan pun aku mau."

Bukan! Bukan itu yang ingin kukatakan.

"Umm.. sir masalah hari ini.."

"Lebih baik tak usah kau katakan, jika kau meminta maaf maka aku tak bisa menghiraukan pipimu yang menggelembung itu dan aku tidak mau meminta maaf juga karena hal itu."

Aku baru saja akan meminta maaf padanya, tapi mendengar kata-katanya seperti itu malah serasa membuat urat-urat kemarahanku keluar.

"Kenapa kau mengatakan kalau aku yang mengamankan pelaku dalam laporanmu?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Mira yang memberitahuku."

"Lalu? Kenapa memangnya?"

"TAPI BUKAN AKU YANG MENGAMANKAN PRIA ITU! A-aku hanya merasa.. aku tak pantas mendapatkan penghargaan ataupun pujian.."

Suaraku melemah, kepalaku tertunduk, aku berusaha untuk tidak menangis, akhirnya aku sadar akan kelemahan diriku, aku selalu merasa apa yang kulakukan sudah benar, namun akhirnya aku tersadar, walau tindakanku benar belum tentu aku melakukannya dengan baik.

Dan ketika air mata akan tumpah dari mataku, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengusap kepalaku dengan lembut.

Aku mengangkat wajahku, dan melihat instructor Jellal sudah berdiri dihadapanku seraya meletakkan tangan kanannya ke kepalaku.

Lagi-lagi aku merasakan familiar dengan sentuhan ini sentuhan yang membawaku pada kenangan dua tahun lalu.

Aku menatap wajah instructor Jellal sejenak, tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi, saat instructor Laxus juga mengusap kepalaku seperti ini.

"Sir, kau lebih pendek dari instructor Laxus."

BLETAKK!

"Aku tak percaya ini! Kenapa kau memukul kepalaku?!"

"Bodoh! Itu karena kau nya saja yang kelewat tinggi!"

Aku memegang kepalaku yang baru saja di jitak, tapi sangat aneh, aku merasakan perasaan yang lebih baik sekarang, hingga air mataku tidak jadi mengalir.

"Sir, aku tidak akan berhenti dari MDF.."

Aku menarik nafas sejenak.

"Ada seseorang yang sangat menginspirasiku, suatu hari nanti aku ingin bertemu dengannya dan mengatakan padanya bahwa dia sungguh menginspirasiku untuk menjadi seperti dirinya, karena itu aku tidak akan menyerah."

"Apakah orang itu adalah pria yang kau ceritakan pada saat interview? Apakah dia pantas menjadi inspirasi seperti itu?"

Pria itu lah yang membuat ku terus melangkah maju...

"Ya... Dia adalah pria impianku."

Dan setelah aku mengatakan itu, untuk pertama kali nya aku melihat ekspresi wajah instructor Jellal menjadi sedikit lucu, dengan wajah yang sedikit memerah.

"Terserah kau lah! Lakukan apa pun yang kau ingin kan!"

Instructor Jellal berbalik pergi, aku lalu membungkuk berterima kasih padanya.

"Terima kasih untuk petunjukmu hari ini, sir."

Instructor Jellal sudah benar-benar meninggalkan lobby, akhirnya aku menghampiri salah satu mesin penjual minuman yang berada di sana, namun...

"SIAAALLL! AKU LUPA BAWA DOMPETT!"

To Be Continue

Ini adalah fic Fairy Tail pertama kami sekaligus fic bergenre SciFi pertama kami

Bumbu romance ada tapi kami ingin mengedepankan action nya juga sih, memang sekarang belum karena masih awal-awal cerita, masih tahap pengenalan karakter dan dunia sihir Fiore

Oh ya dalam cerita ini Jellal lebih pendek tinggi badannya ketimbang Erza (mengingat kisah di fic ini sebagian di angkat dari Toshokan Sensou)

Dan untuk pakaian nya bayangin aja mereka pakai seragam serba hijau dengan tanda pengenal di dada (ini pas latihan combat) dan pakaian ala kantoran (pas lagi patroli) dan pake baju bebas pas lagi di asrama.

Terima kasih buat readers yang sudah membaca, terutama yang sudah membaca dan review #depaked