.

.


Sophia terlahir cantik alami dengan kontur wajah dan perawakannya yang memang indah diwariskan dari gen sang ibu hingga kadar yang mendekati sempurna. Keseluruhan tingkahnya sangatlah menggemaskan ditambah celotehan khas gadis kecil yang ceria. Hal-hal yang menjadi kegemarannya pun tak kalah menarik dari kebiasaan mengerdipkan iris coklat terangnya lucu. Segala makanan manis sudah menjadi favoritnya sejak berada dalam kandungan Zitao, terutama pada kue bulat imut seperti kancing berwarna cerah —macaron.

Saat ini, si cantik Sophia sedang duduk tenang didepan meja rias sang ibu dengan berbagai make-up ringan yang hampir kesemuanya telah terbuka dari wadah penutup. Zitao ikut mendudukkan diri mendempet pada gadis mungilnya di kursi panjang kecil nan empuk yang bertatapan langsung dengan kaca, menyisihkan beberapa alat make-up yang akan ia balurkan pada wajahnya, sedang untuk sisanya biarlah Sophia mainkan dulu.

Sophia suka sekali mengamati sang Mommy saat berhias diri. Mulai dari menyapukan moisturizer dengan dibubuhi krim-krim yang entah apa itu tak ia tahu, membingkai kelopak mata dengan kuas ber-gel hitam, hingga mengaplikasikan sesuatu berwarna cantik keatas bibir. Nah bagian terakhir itulah yang paling Sophia suka, bahkan dia ikut-ikutan memakainya juga. Hampir setiap hari dia meminta sang Mommy membaurkan sesuatu beraroma peach pada bibir mungilnya—lipbalm.

Zitao memang banyak mengoleksi alat perias wajah lengkap dengan aplikatornya. Untuk lebih mempercantik bibir kucingnya yang sudah tercetak indah itu, olesan dasar lipbalm saja tidak cukup. Dia memiliki liptint berbagai warna yang memang selalu cocok disapukan diatas bibirnya, tidak hanya dari satu merek saja. Wajahnya bersih normal dengan pipi sedikit gembil yang tidak sampai menutup bentuk tulang pipinya, sehingga dipulas blush-on sedikit saja sudah membuatnya bak Barbie hidup.

"Sophia mau lipbam (lipbalm) juga Mommy." Bibirnya ia cemberutkan kedepan, menunggu sang Mommy mengoleskan sesuatu yang harum itu pada permukaannya.

"Tapi nanti jangan dijilat-jilat sayang, itu bukan peach." Tangan lentik Zitao mengambil salah satu lipbalm dalam kemasan jar dengan tanda-tangan dan wajah Do Kyungsoo—personil member EXO, tercetak diatas jeli balm-nya yang transparan. Satu jarinya ia oles tipis keatas permukaan balm, baru kemudian memulasnya pada bibir mungil Sophia hingga meninggalkan warna merah jambu natural yang cantik.

Sophia meningkupkan kedua bibirnya supaya lipbalm tadi teroles merata, mengundang lengkung manis dari celah bibir Zitao. Make-up di meja segera Zitao bereskan, menatanya rapi satu-persatu pada make-up holder berbentuk tabung dengan celah-celah kecil khusus yang bisa diputar ke segala arah mirip komedi putar. Sedang untuk aplikatornya sendiri, ia tempatkan dalam mason jar hasil do-it-yourselfnya bersama Sophia dulu yang sengaja mereka isi dengan biji-biji kopi untuk memberinya aroma yang menyegarkan.

"Ayo sayang, Paman Hun sudah menunggu." Kedua pinggang kecil Sophia ia bawa turun dari kursi. Sedikit merapikan tatanan rambut sang gadis kecil kemudian membimbingnya keluar kamar menemui Sehun di ruang tamu. Zitao mengecek sekilas seluruh penampilannya lalu menyelipkan ponsel tipis pada clutch bag sebelum ikut menghampiri Sehun.

.

Pintu kamar Zitao terbuka, menghadirkan sosok mungil Sophia dari ruang beraroma kayu manis tersebut seorang diri. "Paman Hun, Sophia sudah siap ets go (let's go)!" serunya bersemangat saat mendapati Sehun duduk termenung diatas sofa. Sehun mengalihkan pandangannya pada gadis kecil bersweater beruang itu "Cantik sekali, sini… Paman gendong biar Mommy tidak lelah nanti." Kedua tangannya ia rentangkan kearah Zitao kecil itu dan menarik pinggang kecilnya sekalian beranjak berdiri dari sofa.

"Kau pikir aku nenek-nenek bergigi dua apa huh." Balas Zitao sensi setelah menutup pintu kamarnya. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Sehun pecah fokus. Badannya hampir limbung kebelakang bila kakinya tak segera menapak kuat pada lantai.

Zitao malah tertawa kecil sambil mengibaskan tangan, "Aku tau aku cantik, jadi perhatikan pandanganmu." Sophia hanya mengerjap lucu, kedua tangannya ia kalungkan erat ke leher Sehun takut-takut kalau Pamannya itu limbung lagi dan membuatnya jatuh.

.

.

.

.

.

WINDING FATE

Huang Zitao, Wu Yifan, Cai Shuya (Sophia), Oh Sehun and others

Genderswitch / Marriage Life / OOC

Romance / Drama

Semuanya milik yang punya kecuali cerita punya aku

"Zitao dibuat hamil Yifan saat keduanya masihlah minor. Zitao harus membesarkan anaknya sendiri disaat Yifan sibuk dengan dunia keartisannya. Dan Sehun yang tidak pernah absen mengunjungi Zitao."

.

.

.

.

.

Sudah menjadi hal lumrah jikalau Zitao dan Sophia belanja kebutuhan harian, pasti Sehun akan menemani keduanya tanpa perlu diminta. Sehun sendiri bahkan sudah hapal diluar kepala dengan jadwal ibu-anak itu apa saja. Setiap Zitao akan pergi, entah ke supermarket atau memutuskan mengajak Sophia ke kedai es krim langganan pasti Sehun dengan tiba-tiba bertamu kerumahnya sekalian mengantar mereka.

Baik Sophia maupun Sehun tidak keberatan dengan hal yang selalu terulang itu, namun tidak bagi Zitao. Orang sekitar selalu mengasumsikan Sophia adalah adiknya, sedang Sehun adalah kekasihnya dan hal itu sering menurunkan tingkat suasana hati. Zitao tidak menampik bahwa Sophia memang menduplikat penuh dirinya, makanya dia sedikit memaklumi estimasi orang meski dugaan tersebut sepenuhnya salah.

"Kau bisa berjalan-jalan sendiri Hun, aku akan menghubungimu bila kita selesai."

"Tidak bisa! Kau terlalu cantik untuk dilepas sendiri dengan gadis mungilmu itu." balas Sehun tegas. Lontaran Sehun selalu sama, alasannya tidak pernah berubah bila Zitao memberinya waktu untuk menikmati waktu berharganya sendiri. Meski tak dapat dipungkiri kehadirannya membuat suasana menjadi lebih hidup, terlebih dengan Sophia yang begitu lengket pada sosoknya.

.

Zitao dengan kereta belanjanya melenggang santai mempioneer Sophia yang asyik mengemil kentang goreng hasil rengekannya saat melewati snack corner tadi, dalam gedongan Sehun. Terkadang Sophia ikut memilih snack-snack yang lebih sering ditolak Zitao, karena kandungan didalamnya tidak baik bagi pertumbuhan. Atau saat Zitao bingung ingin membeli apa dan hanya memutari lorong satu ke lorong lain, maka Sophia dengan riangnya mengingatkan, meski apa yang dia utarakan hampir keseluruhan adalah snack.

Sehun cukup mengikuti kemana Zitao melangkah, tanpa perlu bergabung menentukan apa-apa yang harus dibeli gadis cantik yang sebenarnya tidak bisa disebut gadis lagi itu. Kebahagiaan sedikit ia dapat saat tatapan orang sekitar lebih sering mengartikan Zitao adalah kekasihnya. Meski didalam benak, dia menginginkan hal itu terimplementasi.

"Hun, bisa ambilkan yang dibelakang itu?" pinta Zitao kalem, telunjuknya mengarah pada rak berisi jamur Champhignon dideretan atas.

Sehun tak langsung bertindak tapi malah merespon "Cium dulu…" bahkan satu pipinya ia gembungkan menyamping kearah Zitao yang lebih pendek, sambil tetap menggendong Sophia yang mulai tersenyum manis melihat tingkah Paman tersayang.

"Mommy… ayo kasih Paman Hun kecupan." Sophia malah mendukung godaan Sehun. Satu tangannya yang bebas tak menggenggam kentang goreng, menepuk-nepuk pipi Sehun seolah mengisyaratkan sebelah-sini-Mommy. Sehun tersenyum bangga dalam hati, si kecil tak pernah tidak berpihak pada dirinya, meski dia suka mengumbar kelakuan mesum pada ibunya sendiri.

"Tidak bisa sayang, nanti dimarahi Daddy." Bujuk Zitao lembut sambil mengembangkan senyum manis pada Sophia, agar segera menghentikan topik konyol ini. Tangannya mulai mengelus helai coklat terang Sophia, mencoba memberinya pengertian melalui tindakan. Ingin rasanya menjejalkan kepala Sehun ke wastafel yang penuh cucian kotor, karna otak Sehun tak kalah kotornya dengan itu.

Sehun menetralkan raut mukanya kembali, tatapannya ia fokuskan pada Zitao. Tubuh berlekuk penuh daya tarik terbalut dress keseharian simple dengan sepatu datar bak penari balet yang segradasi warna dengan pakaian tadi melingkup cantik pada sosoknya yang lembut keibuan. She's totally my tipe!

"Sedikit saja Mommy~" rupanya Sophia masih keukeuh supaya sang Paman mendapat kecupan dari sang Mommy, dan mulai memasang wajah memelas seperti anak kucing dengan kedua bola mata yang terlihat antara berkilau dan berlinang. Aw that's cute dear!

Zitao memandang Sehun sengit, sang objek malah menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu kaku. Dengan gerak cepat Sehun mengambil sesuatu yang dimaksud Zitao sebelum ini, memasukkan kotak plastik kemasan berisi jamur yang berbentuk mirip kancing, pada keranjang belanja Zitao yang mulai menggunung.

Sehun sering menghabiskan waktu yang sengaja ia luangkan demi menemani Sophia bermain dirumah, tapi sepertinya dia kurang paham jikalau membujuk Sophia itu gampang-gampang susah. Meski gadis kecilnya itu jarang bandel namun tetap saja anak kecil sepertinya suka sekali merengek kalau permintaannya tidak dituruti.

Sehun kemudian berbisik lirih "Sudah ya cantik, Paman tidak jadi minta cium kok." Gadis kecil dalam gendongannya menoleh cepat, memberi satu kecupan singkat pada pipi kirinya dan meninggalkan lengkungan bulan sabit yang terbentuk. "Itu gantinya Paman hehe…" Sehun tak bisa menahan senyumnya untuk tidak terkembang mendapati tingkah menggemaskan Sophia. "Terima kasih sayang."

.

.

.

.

.

Wu Yifan, semua orang mengenalnya sebagai Wu Yifan yang itu. Seorang aktor tampan dengan kepribadian hangat namun tegas dan berwibawa, apalagi feromonnya tidak pernah gagal menggaet jiwa-jiwa para gadis untuk takhluk meski dirinya hanya diam sekalipun. Sebagai aktor yang mulai menanjak, Yifan sudah mengantongi image yang memang dibutuhkan dalam menunjang karir.

Mengawali karir sebagai model freelance saat menginjak semester kedua di universitas dan mulai menapaki dunia entertain setelahnya. Tawaran iklan silih berganti masuk pada agensi tempatnya bernaung semenjak brand pakaian yang cukup terkenal memberinya kontrak bilateral. Hingga tanpa terduga ada sebuah email berisi tawaran drama sebagai figuran, dan berkat hal itulah jalannya terbuka menuju dunia entertainment.

"Manager Kim, kapan jadwalku kosong?" Yifan mendudukkan diri pada sofa dipinggir ruangan, sedikit merilekskan otot-ototnya sambil memejamkan mata. Setelah ini akan ada pemotretan lagi, dan dia baru bisa beristirahat setelah 3 jam berhadapan dengan terangnya lampu sorot.

"Lusa hanya ada satu jadwal, selebihnya kosong. Kau mau menemuinya?" Manager Kim adalah satu-satunya orang yang tahu cerita dibalik kehidupan seorang Wu Yifan, termasuk statusnya yang tidaklah single lagi. Ya, dia paham Wu Yifan yang ini, bukan Wu Yifan yang itu.

Tubuhnya mencari posisi senyaman mungkin dan berusaha mencuaikan pertanyaan sang Manager. Kedua tungkai kakinya yang panjang terjulur ia tumpukan diatas paha sang Manager, menendang-nendangnya kecil agar segera beralih kelain tempat, supaya setidaknya dia bisa tidur disana sejenak. Namun beberapa detik kemudian bibirnya berucap, "Aku ingin tidur saja memulihkan tenagaku."

Manager Kim memberinya tatapan heran, "Tidak takut milikmu diambil orang?" Saku kemejanya ia raba menarik ponsel tipis milik sang artis yang memang selalu dia bawa ketika jam kerja berlangsung. Dengan hafalnya ia mengetikkan kata sandi sebagai pembuka lookscreen, lalu membuka menu yang memuat berbagai foto. "Mana ada yang tidak tertarik dengannya, dia cantik dan seksi sekali. Aku ikhlas bila dia berpaling padaku."

Yifan segera mendudukkan dirinya tegak mendengar penuturan konyol sang Manager. "Yak, jangan memandangi foto istriku terus! Kau dilarang memperhatikannya sedetail itu! Dia milikku!" tangannya melempar bantal kecil yang dia pakai tidur kearah sang Manager. "Kembalikan ponselku!" perintahnya lagi saat sang Manager masih menggeser-geserkan layar.

"Sssttt pelankan suaramu, dasar bodoh." Bantal yang tepat mengenai wajahnya tadi, balik dia lemparkan pada anak asuhnya yang tampan namun bodoh itu. Emosinya suka meledak-ledak seperti gadis remaja bila perbincangan mereka sudah menyinggung tentang Zitao dan Sophia. Yifan melotot tajam "Kau juga bodoh, kenapa membahasnya sekarang dasar orang tua!"

"Hanya beda 4 tahun bocah! Bahkan aku tidak kalah tampan darimu."

.

Suara pintu diketuk, seorang wanita cantik nan anggun memasuki ruangan dengan heelsnya yang terdengar tiap dia melangkah. "Hei kekasihmu datang." Pandangan Manager Kim mengisyaratkan kehadiran seseorang dengan mata yang disipitkan sambil dagunya diangkat sedikit kearah pintu yang dipunggungi Yifan. Yifan sendiri malah memutar bola mata dan memasang ekspresi malas.

"Ah maaf mengganggu kalian, aku ingin meminjam Yifan sebentar." Secara tak langsung Manager Kim paham bahwa kehadirannya tak dibutuhkan. Dia segera beranjak meninggalkan keduanya dalam ruangan yang memang khusus untuk Yifan beristirahat tersebut.

"Ada apa? Aku lelah." Yifan mengambil ponsel yang diletakkan sang Manager diatas meja lalu menyandarkan tubuhnya kembali sambil memungut bantal kecil sebagai tumpuan tangan. Jarinya menutup halaman yang sedang dibuka sang Manager tadi dengan cepat, dimana foto Zitao berbikini sedang berselonjor kaki diatas pasir dan memberikan senyum manis pada kamera.

"Aku tau lusa besok kau tidak sibuk, mau menemaniku belanja?"

Wanita itu menempatkan dirinya diatas sofa yang sama, meraba-raba dada Yifan dengan gerakan sensual, badannya juga sedikit dia condongkan kearah Yifan. Lelaki mana yang tidak tergoda dengan tingkah seksinya, bahkan wangi parfumnya merebak kuat menusuk indra pencium Yifan.

Karena Yifan tak segera merespon, jarak duduknya semakin ia persempit hingga paha dan lengan mereka menempel. "Yifan kau mendengarku tidak?!" Ucapnya sedikit kesal, bibirnya ia cebikkan agar terlihat imut. Yifan menoleh penuh menatap kearahnya dengan raut muka datar seperti biasa. "Kenapa tidak untuk wanita cantik sepertimu hm." Balas Yifan kemudian.

Meski tak pernah ada senyum terukir disana, namun wanita itu bahagia ajakannya selalu diterima Yifan. "Jemput aku seperti biasanya oke, bye~" satu kecupan di pipi, Yifan dapat dari wanita kecentilan itu sebelum sosoknya melambaikan tangan dan keluar ruangan. Kedua bahunya terangkat seirama, 'Dia memang cantik jadi tak ada salahnya kan' batinnya.

.

.

.

.

.

Dini hari bel apartment Zitao berulang kali dibunyikan seseorang, berhasil menyentak raganya yang masih terlingkup rasa kantuk berlebih. Ia menengok pada Sophia yang masih terbuai nyamannya udara didalam selimut. Selama mereka hanya tinggal berdua, gadis mungilnya itu selalu merengek untuk tidur bersama. Menikmati kebersamaan mereka sebagai sesama perempuan yang tercipta dengan segala keindahan menyertai.

Zitao mencomot cardigan panjang dari gantungan coat aluminium berkaki tunggal berbentuk seperti batang pohon yang berdiri kokoh disebelah pintu kamar, untuk menutupi gaun tidur hitam pendeknya yang tembus pandang. Seharusnya dia mengganti pakaian juga namun apalah daya kemalasan masih menyergap, kelopak meniknya bahkan susah untuk sekedar dibuka. Dengan gerak cepat ia juga menggelung asal rambut panjangnya seperti sanggul tepat diatas kepala dan menghampiri pintu dimana suara ribut berasal.

Saat mendekati intercom, matanya mendapati Sehun yang setengah mabuk dalam dekapan seseorang.

"Maaf menganggu istirahat anda, saya hanya membantunya pulang." Ucap lelaki dalam balutan hoodie dan snapback hitam. Tubuh Sehun dia bantu berjalan sampai ke ruang tamu untuk dibaringkan pada hamparan sofa empuk putih gading bermodel vintage.

Tatapan mata lelaki itu bukannya tertuju pada tubuh lemas Sehun, melainkan kearah dada Zitao yang tidak sepenuhnya tertutup cardigan karna terangnya pencahayaan didalam ruang tamu. Zitao hanya memberinya ucapan terima kasih dan senyum tipis tanpa tahu kalau tubuhnya yang bisa dikatakan setengah striptease sedang diawasi dua orang lelaki disana.

Sehun menyadari lirikan nakal yang difokuskan pada sang gadis tercinta, satu lengannya ia sikutkan pada lelaki itu sebagai tanda agar segera beranjak pamit. Dia sudah berakting seperti orang tolol begini agar pendekatannya semakin lancar dan tahapnya menjadi selangkah lebih didepan lagi. Bukan memberi tontonan gratis pada teman satu kampus yang kebetulan sama mesumnya itu.

"Saya pamit. Selamat malam, cantik…"

Sehun menggeram dalam hati mendengar ucapan tersebut. Zitao membalas terima kasih untuk kedua kalinya sambil mengantarkan sang lelaki keluar apartment, meninggalkan Sehun yang merana berbaring diatas sofa dalam akting gadungannya. Ternyata Sehun salah merekrut pemain figuran dalam hal ini.

Zitao segera menutup pintunya dan menghampiri Sehun yang terabaikan di sofa ruang tamu. "Sehun hei, Hun Sehun… kau mendengarku?" Zitao berbicara tepat di telinga Sehun, supaya tetangganya yang dengan kurang ajar menyebutkan nomer apartmentnya ketimbang apartmentnya sendiri itu cepat sadar. Pipinya ia tepuk-tepuk agak keras, sekalian membalas perbuatannya dulu yang bisa dikatakan mesum kepadanya.

.

"Kenapa memakai baju transparan seperti itu?"

Zitao terperanjat, dia pikir tetangganya ini mabuk betulan. Sehun beranjak dari tidurnya, menyandarkan diri pada punggung sofa dan melempar pandangan datar pada Zitao yang bersiap akan melangkah pergi. "Lepas!" Satu lengan Zitao digenggam Sehun paksa, kemudian menariknya untuk duduk.

"Hahaha kalau kesepian jujurlah padaku Zi, aku kan sudah sering menawarimu untuk kutemani."

"Namanya orang tidur jelas saja memakai pakaian seperti ini, bodoh."

"Mamaku tidak. Lihatlah apa yang kau kenakan itu, berniat menggodaku hm?"

"Pulanglah. Aku bosan mendengar ocehan mesummu."

"Aku menginap disini saja. Ayo kita kekamar, istriku yang seksi…"

.

.

.

Pagi ini Sophia bangun sedikit pagi dari biasanya, meski biasanya juga bisa disebut pagi sekali. Kamar tidurnya selalu dalam kondisi terang saat waktu beristirahat tiba karna sinar lampu tak pernah dinon-aktifkan oleh sang ibu. Gadis mungil itu takut gelap, entah kenapa parunya terasa bagai terhimpit sesuatu meski pada hakekatnya tidak ada suatu apapun yang menimpa.

Matanya terbuka lucu saat jendela apartment masih tertutupi tirai, itu tandanya sang ibu masihlah belum terjaga. Jam panda bulat diatas nakas menunjuk pada angka 4 dengan jarum panjang hampir mendekati angka 10 disana. Rautnya semakin terlihat menggemaskan saat tak mendapati sang Mommy dikasur tempatnya tidur semalam. Pantas saja tadi ia tak menemukan selimut bercembung disampingnya.

Kakinya ia bawa menuruni kasur perlahan, memakai sandal bulu berkepala panda yang sama seperti milik Zitao hanya saja berbeda ukuran. Sebelum keluar dari kamar, tak lupa ia menghampiri kaca seluruh badan yang ditempatkan terpisah disebelah meja belajar. Sedikit mengatur helaian rambut coklatnya yang terurai indah dengan jari, memastikan wajahnya terlihat lebih rapi barulah kemudian mencari keberadaan sang Mommy.

Melihat keadaan rumah yang sepi dan lampu-lampunya masihlah padam, Sophia berinisiatif menghampiri ruangan disebelah kamarnya—kamar sang ibu. Handel pintunya ia buka sedikit demi sedikit hingga menampilkan celah kecil yang cukup untuk ukuran badannya masuki.

Ruangan itu gelap, aroma kayu manis menyapa hidungnya yang terukir lucu, menambah beberapa persen tingkat kesadarannya. Sophia sedikit menyipitkan kelopaknya, berusaha mengimbangi kedua iris dengan temaramnya kamar. Dan semakin disipitkan lagi saat menemukan dua pasang tungkai kaki terjulur dari dalam selimut.

"Loh Daddy sudah pulang ya?"


.

.

.

.

.

.

.

A/N

Kayanya tao pesakitan juga disini wakakak. Yang sophia suka mintain lipbalm itu karna adekku yang 2 taun seneng banget minta dipakein liptint rasa cherry terus sama mama dimarahin kan, dikasih lipbalm akhirnya-_-

Makasih banyak reviewnya wahai cantik-cantikku, makin cantik deh semua tapi teteplah tao yang paling cantik hahaha. Tuh anak emang nggemesin apalagi sekarang pake rambut ungu keabuan gitu masyaolo itu Barbie Qingdao banget, eh tapi ken nya malah jadi bang toyib.

Review lagi cantik? smooch*