Okeeee, Selena Ravenheart balik lagi!

Buat anaktarbak : ini update-nya, semoga memuaskan... Walaupun mungkin endingnya agak maksa sih hehe

Kwon Eun Soo: kalau ngga rusuh, bukan anak-anak Hetalia namanya ;)

Makasih juga buat Ariana Hemlock dan JenIchi Kamine buat reviewnya :)

Seperti biasa, tolong review yaa, karena review kalian itu sangat berharga buat saya :)


"Veeeeeee ayo ngadain pesta piyama~" Feliciano lompat-lompat di samping Ludwig. Anak-anak Hetalia lagi pada jalan pulang ke asrama abis sekolah.

"PESTA PIYAMA?" tanya Ludwig, Gilbert, Eliza dan Alyssa yang lagi jalan barengan.

"Hmm sebenernya gue milih tidur sendiri, tapi berhubung Feli yang ngasih idenya pasti awesome kayak gue!" Gilbert ngangguk-ngangguk sendiri kayak boneka einstein di film Night at the Museum 2.

"Wah iya tuh pasti seru! Aku setuju banget!" Alyssa ikutan semangat.

"Hmmmm... Boleh juga tuh, kayaknya menyenangkan," dukung Kiku. "Ini bisa menambah pengalamanku tentang negara lain." Seperti biasa, anak itu selalu mikir (terlalu) jauh ke depan.

"*sigh* asal jangan ada kejadian aneh aja," kata Ludwig yang udah tau pasti bakal ada yang nggak beres kalo semua Hetalians ngumpul bareng-bareng di satu ruangan. Liat aja kelas mereka tiap pagi. ANCUR LEBUR.

"Siiiip! SEMUANYA, NANTI MALEM KITA NGADAIN PESTA PIYAMA YANG PASTI SUPER DUPER AWESOME YAAAAA!" Teriak Gilbert dengan suaranya yang super duper kenceng, bahkan bisa dibilang *ehem* melebihi kekencengan suara manapun kecuali rengekan Alfred soal burger dan kecemprengan Matthias *ehem* (itu udah dikasih majas penghalusan sama author)

"Eh, tapi gue sama Emil mau..." sisa perkataan Lukas tenggelam sama teriakan Matthias. "IDE BAGUS!"

"Apa poinnya ita pesta piyama, kan kita emang seasrama. Kayaknya aku sering tuh ngeliat kalian pake piyama," komen Heracles.

"Pesta piyama tuh bukan buat ngeliat piyama satu sama lain, aru!" kata Yao yang baru aja facepalm. "Itu tuh buat lebih mengenal satu sama lain dan bersenang-senang bareng!" Tiba-tiba Yao kepikiran apa yang bakal adiknya katakan disaat seperti ini. 'Pesta piyama itu asalnya dari Korea, da ze!' Ngingetnya aja udah bikin Yao sweatdrop sendiri.

"Gue udah kenal kalian kok," kata Vladimir dengan tampang bodoh. Yao deathglare ke cowok vampir itu. Anaknya cengar-cengir tak berdosa. "Bercanda..."

Gumaman setuju terdengar dari semua anak. Terpaksa Emil dan Lukas membatalkan niat mereka belajar bareng. Kurang rajin apa coba mereka?

"Lud, temenin gue beli dvd yuk!" ajak Kaoru. Ludwig memandang Kaoru capek, tapi ngangguk. Feli melambai pada mereka berdua yang langsung ganti arah sambil meninggalkan pesan: "Veeeeee Ludwig belinya jangan kayak kaset *piiiiiiip* yang ada di kamar kamu yaaaa!" senyumnya polos. Ludwig langsung mencak-mencak ke Feli, tapi Kaoru keburu nyeret dia kearah gerbang sekolah. "Udah, semua juga udah tau kok aib lu itu..."

*time skip*

Jam 8, semua Hetalians udah ngumpul di ruang rekreasi, tepat diatas dapur. Mereka udah nyiapin barang apa aja yang kira-kira mau dipake/dishare selama pesta piyama. Eliza bawa frying pan (udah pasti), Ivan bawa pipa kesayangannya (jangan tanya kenapa dia bawa benda menyeramkan itu, author juga nggak tau), Feliks bawa baju crossdressing (siapa tau aja ada yang mau pake), dan Arthur bawa scones kebangsaannya (yang daritadi tergeletak di meja tanpa ada yang mau nyentuh).

Gilbert lagi menunaikan tugas berat yang ditimpakan ke bahunya: mendisiplinkan sohib-sohibnya selama 5 menit. Sebenernya dia juga yang mau sih.

"Matthew, jangan ngilang mulu aja, unawesome banget sih. Berdiri disini."

"Heh cewek frying pan nyeremin, jangan cekikikan aja disitu sama Kiku, berdiri sini sebelahnya Eduard!"

"...NATALYA BERENTI MAIN-MAIN PISAU DI POJOKAN, CEPET GABUNG"

Setelah mengorbankan setengah kotak suaranya, akhirnya para Hetalians berdiri di posisi (hampir) rapi di tengah ruang rekreasi. Gilbert yang udah sakit tenggorokan memilih untuk puas aja dan buru-buru berdiri di depan mereka, mengeluarkan hp androidnya.

"Bilang kejuuuuu!" serunya dengan cengiran khasnya, dan lampu blitz kamera hp pun menyala. Sayangnya, karena pada kaget dan gak siap, para anak-anak dodol itu malah berbalik dengan rusuh dan mendorong satu sama lain, dan akhirnya bikin mereka semua jatoh dalam satu tumpukan. "Kesesese, ini nanti buat aku post di blog baruku!" kata Gilbert puas.

"JADI DARITADI TUH CUMA BUAT FOTO? BILANG AJA NAPA?" protes Basch yang kesel karena kegiatannya moles AK-41 nya jadi keganggu (bukannya gara-gara ketimpa orang). Kita tuh lagi mau pesta piyama bung, bukan mau perang...

Sementara Toris yang dengan sialnya mendarat paling bawah sibuk meriksa diri. Jangan-jangan ada yang patah. Mengingat semua junk food yang dimakan Alfred –secara gak langsung bilang Alfred GENDUT– dan adanya Ivan tepat diatas dia, gak heran sih kalo ada bagian tubuhnya yang gepeng.

"Tr's s'k'rang ng'pain?" tanya Berwald masih bisa aja kalem. Tiba-tiba kedengeran suara menggelegar. "Eh? Hujan ya?" tanya Tino sambil ngecek jendela. "Tapi jendelanya nggak basah kok..."

"Eh... itu... suara perut gue," Alfred ngaku, bikin semuanya jatoh di tempat. "HERO LAPER NIH MAKAN DULU YUUUUK" teriaknya memelas.

"Al, lu nyadar gak kalo kita baru aja makan sejam yang lalu?" tanya Jack. Sang Hero tetep memasang muka memelasnya. "Iya tau, tapi gue laper..." Toris pun bersyukur dia ketimpa Alfred sebelum anak itu makan lagi.

"Nih makan aja scones Arthur," Kirana dengan muka berusaha polos menyerahkan kotak makan bergambar Unicorn.

"Dude, gue masih mau hidup!" pekik Alfred, yang berujung Arthur nimpuk dia pake benda terdekat. Akhirnya Alfred memuaskan diri dengan makan makanan kucingnya Heracles (jangan dicoba dirumah ya— udah dibuktikan berhasil kok sama kakak author).

Sementara itu Kiku sibuk masukin dvd yang baru aja dikasih Kaoru. Begitu nyala, dia kencengin volumenya biar yang lain nyadar kalo film-nya udah mulai tanpa harus mengorbankan kotak suaranya kayak Gilbert. Seketika semuanya langsung ngerubung di depan TV kayak ngengat.

"Film apa nih?" tanya Kayutsha.

"Film por—" jawab Francis ngasal, tapi keburu digebuk duluan sama Lovi. "Pervert Bastardo!"

"Gak mungkin Kaoru beli film kayak gitu, tapi kalo Ludwig..." kata Feliks sambil ngelirik kearah Ludwig, yang langsung dibales deathglare sama orangnya. Kalo tatapan bisa ngebunuh, Feliks udah 'Innalillahi' di tempat saat itu juga.

"Film action kok," gumam Eduard yang mulai udah gak tahan sama keberisikan temen-temennya.

Setelah beberapa kejadian rebutan tempat duduk, popcorn, –yang baru aja dibawa sama Roderich– dan minuman, akhirnya mereka bisa duduk tenang, setenang yang mungkin dilakukan dengan adanya tukang komen kayak trio Alfred, Gilbert dan Matthias.

"Hahahaha liat tuh Iggy, mereka makan McDonald!"

"DIEM, git! Dan nama gue tuh ARTHUR!"

"Woooooow, mereka bertatapan, saling mendekat, daaaaan..."

Anak-anak yang baik hati nan budiman udah lebih tau untuk membiarkan mereka sendiri dan berkonsentrasi sama filmnya.

"Mana tuh tomato bastardo?" tanya Lovi setelah setengah film berlalu. Emang aneh juga gak ngeliat sosok cowok Spanyol kelewat ceria itu di ruangan.

"Gak tau juga, tadi mon ami Toni kabur ke supermarket sambil menggumamkan sesuatu tentang tomat," jawab Francis yang lagi sibuk cekek-cekekan sama Arthur. Entah apa alasannya.

Seakan diberi aba-aba, pintu ruang rekreasi kebuka –dibanting, lebih tepatnya– dan Antonio berdiri disitu, bajunya penuh noda merah dan matanya gak fokus. Filmnya terabaikan sementara anak-anak Hetalia ngeliat dengan horor kalo temen mereka kayak baru aja mutilasi orang.

"Lovi, Francis, Gilbeeert~" anak-anak yang disebutin langsung gak berani napas. Jack yang pertama kali sadar. "KABUUUUUUUR!" dengan satu kata itu anak-anak langsung ngelakuin apa yang dari tadi pengen mereka lakuin: dengan berbagai manuver yang, kalo diperhatiin bakal mempermalukan ninja sekalipun, mereka buru-buru ngacir dari tempat itu.

Sebagian besar Hetalians berhasil selamat dengan sentosa keluar ruangan dan ngejadiin kamar-kamar terdekat sebagai bunker darurat, kecuali Gilbert, Francis, Emil, Lukas, Williem dan Caelum yang desek-desekan di kamar mandi.

"Woi kasih tempat, gue kedempet nih,"

"Lu pikir? Gue juga sama aja. Mil, geseran."

"Udah gak ada tempat lagi!"

"Caelum, lu nginjek kaki gue!"

Gilbert tiba-tiba merasa ada bola lampu yang nyala diatas kepalanya. "Franny, lu inget gak pas lagi ada festival tomat tahun lalu? Toni juga kayak gini kan, kurang lebih..."

"Iya kalo gak salah, dia kebanyakan makan tomat yang dijual disana, trus nari-nari ditengah lapangan kan?" jawab Francis yang lagi sibuk mijitin jemari kakinya.

Anak-anak yang lain cengo. "Jadi maksud kalian... DIA OVERDOSIS TOMAT?" Williem udah gak ngerti apa jadinya dunia ini. Emang ada, ya, overdosis tomat?

"'TUL! Biasanya, kalo udah gini dia bakal nyari korban buat seenggaknya nari-nari dan makan tomat bareng dia, plus dengerin dia ngeracau sedikit. Abis itu dia tenang kok," entah kenapa disini Gilbert tiba-tiba nyengir licik kearah Emil sama Lukas. Yang ditatap bales natap kalem sampe mereka ngerti apa maksudnya cengiran Gilbert.

"Jangan berani-berani..." desis Lukas beracun kayak kobra, sementara Emil ngeliatin mereka dengan tampang total horor. Tapi telat, tiga orang lainnya udah keburu punya cengiran yang sama. Dalam hitungan detik, pintu kamar mandi dibuka kemudian ditutup lagi dengan pengurangan dua orang di dalamnya.

"Mari kita berdoa untuk keselamatan mereka..." Williem sok khidmat dan serius sampe Caelum udah gak tahan buat ngakak. Siapa yang gak bakal ketawa ngedenger Antonio nyanyi balada Spanyol –walaupun suaranya bagus– sambil melakukan apa yang kedengerannya kayak pengejaran maraton seputar ruangan, ditingkahi sama teriakan Lukas dan Emil.

Setelah 15 menit, tawa Caelum akhirnya berhasil mereda dan dunia di luar kamar mandi hening. Perlahan, Francis ngebuka satu-satunya batas yang tadi berhasil nyelametin mereka dan ngintip keluar, cuma buat disambut sama dua orang anggota negara Nordic yang lagi sidekap dan menyipitkan mata dengan berbahaya kearah mereka. Dan, meskipun mereka tau kalo tindakan mereka sangat berbahaya bagi keselamatan masing-masing, gak ada yang gak ngakak pas ngeliat duo itu berlumur tomat dari ujung kepala hingga ujung kaki, memegang apa yang kelihatannya seperti sekeranjang tomat segar. Sang tersangka sendiri udah tidur pulas di sofa dengan damai kayak gak ada apa-apa.

"Seenggaknya kalian udah dapet facial dan lulur sendiri," komen Gilbert sambil kesedak gara-gara kebanyakan ketawa sebelum Lukas ngejejelin dia sama tomat.

"Makan tuh," geram Lukas, yang buru-buru ditarik sama Emil buat ngebersiin diri sebelum cowok ber-Nordic Cross itu sempet ngutuk Gilbert jadi kutu. Pas mereka pergi, Williem dengan bangganya teriak ke anak-anak asrama kalo ancaman udah berhasil ditangani. Satu per satu mereka keluar sambil merhatiin Antonio yang kayak 'lempar batu sembunyi tangan'.

"Tuh tomato bastardo kenapa lagi?" tanya Lovi.

"Gak papa, cuma overdosis tomat," jawab Francis yang bikin semuanya noleh kearah dia dengan tatapan cengo dan bingung. OD tomat? Yang bener aja!

"Trus kalian apain?" tanya Mei.

"Salah satu taktik kami yang brillian," cengir Caelum, bikin cewek itu gak yakin apakah dia mau tau atau nggak.

Ludwig cuma merhatiin seputar ruangan yang kayak baru aja dilewatin Godzilla dan membuat catatan mental untuk mengawasi SEMUA temen-temennya sampe acara pesta piyama ini selesai. Bener kan, pasti ada aja kejadian kalo mereka semua lagi ngumpul.


Seperti yang saya bilang, maaf kalau endingnya agak maksa. Plus kalau ada yang punya ide kejadian apa lagi yang bakal menimpa para Hetalians ini, atau request, bilang aja ;)

Selena Ravenheart, over and out!