Disclaimer: uh-uh not mine. SM, MG, ACD, BBC


Mary Watson sadar ketika Molly—satu-satunya ahli forensik yang ia kenal—mengiriminya pesan singkat tengah malam itu, bahwa ada sesuatu yang salah. Molly selalu mengirim pesan satu jam sebelum jam makan siang jika mereka perlu bertemu. Tetapi ia tidak pernah menyangka Molly akan pergi sejauh ini. Secara harfiah.

"Kau yakin, Mol?" tanya Mary meraih tangan Molly yang tergeletak di atas meja. Dua cangkir teh setengah terisi berada di antara mereka.

"Aku yakin, Mary," jawab Molly menganggukkan kepalanya tapi menghindari kontak mata langsung dengan wanita pirang di depannya.

"Kenapa harus Italia?"

"Aku punya kerabat di sana, dan uhm, Italia tidak begitu jauh, aku bisa naik kereta dan menikmati pemandangan, ahh, sudah bertahun-tahun aku belum pernah menginjak tempat itu lagi."

Mary memandang Molly dengan heran. Jika ia ditanya apa kelemahan seorang Molly Hooper ia akan langsung menjawab: akting yang buruk.

Mary bisa menerka dengan mudah bahwa Molly sendiri tidak yakin dengan keputusannya, apalagi berharap ia akan menikmati pemandangan Italia. Ya negara itu memang indah, ia menghabiskan beberapa tahun masa kecilnya di sana. Tapi apabila Molly, yang hatinya sedang rapuh memilih untuk pergi sendiri—atau bisa kau bilang melarikan diri—ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran, hal itu terdengar naïf. Bahkan ia menolak pergi ke Cardiff untuk menemani Mary mengunjungi teman kuliahnya yang baru melahirkan anak keduanya hanya karena ia tidak ingin meninggalkan London.

Ia tahu siapa Molly, satu-satunya yang bisa menenangkan pikirannya adalah pekerjaan. Molly mencintai pekerjaannya, di luar anggapan orang bahwa ia adalah gadis aneh karena mendapatkan ketenangan di atmosfer mayat dan bau formalin. Tapi itulah Molly, ia bukan gadis biasa, dan Mary selamanya merasa bersyukur akan itu. Molly dengan rasa humor khas rumah mayat (Mary terpingkal pada frasa ini) ternyata bisa menjadi pendengar paling baik dan teman yang bisa diandalkan.

Oh—tapi tentu saja alasan utama Molly pergi adalah untuk menghindari penyebab sakit hatinya. Ya, Sherlock Holmes, tidak perlu pun Molly memberitahunya Mary sudah bisa merasakan alasan itu sejak helaan nafas pertama Molly sebelum ia bercerita mengapa ia ingin mengambil cuti liburan. Dan Mary tidak merasa perlu bertanya lebih lanjut pada Molly. Jika gadis bermata cokelat itu tidak ingin bicara tentang Sherlock, maka itu haknya. Mary hanya bisa mengangguk memberinya persetujuan dan berharap Molly betul-betul bisa menikmati pemandangan Italia dengan sepenuh hati.

"Oh baiklah, apakah kau memberitahuku seperti ini untuk membuatku iri? Huh? Miss. Hooper?" tanya Mary berusaha terdengar santai kemudian menyesap tehnya.

"Mary Watson! Aku tidak akan pernah melakukan hal itu!" Molly berseru dengan komikal, Mary tertawa yang langsung diikuti dengan tawa temannya juga.

"Well, kau tetap membuatku iri, Mol," Mary mendesah, kilasan bayangan John dan Rose terlintas di pikirannya. "Kau bisa pergi berlibur dan mempunyai quality time dengan dirimu sendiri sedangkan aku harus menjaga dua orang Watson tetap pada koridor yang betul dan mendapat asupan gizi yang cukup."

Molly ikut mendesah, dengan ekspresi mengasihani Mary yang ia buat-buat.

Mary terpingkal lalu meraih tangan Molly dan menggengamnya di dalam dua tangannya sendiri, "Kuharap kauyakin dengan keputusan yang kauambil, Molly."

Molly mengangguk memberinya senyum simpul. memberinya kesan bahwa mungkin Molly memang betul tidak meyakini keputusannya.


TBC

Reviews?