Sedikit untuk :

Katzius the Kaze: Cuma buat ngebunuh Sugou aja syusyahnya minta ampun yak! (Reki Kawahara ga sejahat ini dehh)

Arakida Kirito : aku suka kalau kau suka,,, terimakasih ya udah review.. iini lho chapternya udah lanjut. baca lagi yaaa.. senyum geje.

Subuh : aku akan berusahaaa!

juga Shuuya Phantomhive (terimakasih sekali untuk LN-nya, maaf untuk membuat karakter Kirito jadi seperti ini.. aaa..). Maaf kalau jadi sering merepotkanmu untuk hal-hal ngga penting. Banyak janji yang kuutarakan tapi semuanya tidak menemui titik pelunasan. Bunuh aku sesukamu.

Saya senang jika anda-anda semua menyukai fic saya, dan meminta maaf jika fic ini jelek karena kelemahan saya, mohon maaf lahir batiiinn.

Review adalah motivasi paling halus di dunia perfanfic-an.. :D

Disclaimer :

- Kalimat ber-italic sepenuhnya milik Galih Pandu yang dengan seijin beliau saya comot dari status facebook.

- SAO dan game serta karakter yang ada di dalamnya sepenuhnya milik Reki Kawahara, kalo saya yang punya SAO, Sugou bakal saya ganti namanya jadi Sengkuni. Lalu saya suruh mengkudeta SB*.

- Matt adalah seorang gamer mata keranjang yang CUMA muncul satu (1) menit di anime Deathnote milik Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (kalo saya yang punya Death Note, Matt bakal jadi tokoh sentral ngalahin kemunculan Light Yagami). Dan saya ngga bakalan bikin dia mati dengan tembusan peluru di tubuhnya. Biarkan saya yang memperkosanya sampe mati. *lho?

-Ulquiorra Schiffer sepenuhnya punya Tite Kubo tapi pernah saya sewa buat jadi pacar saya.

HERE WE GO!


z


THIS IS NOT OVER YET

CHAPTER 2:

ELIMINATE THE SPACES

Kitapun bertemu dengan sederhana,

Kenapa pula kita tidak berpaling dengan sewajarnya saja..

Cukuplah menangis,

Lantas mengenangmu,

Dan pada sebuah tikungan_entah kapan_kita kembali bertemu, lantas saling melemparkan senyum yang tenteram

Dengan dada yang mungkin biasa-biasa saja

"Kirito-kun,"

"Kirito-kun,"

"Tolong aku, Kirito-kun,"

"Aku ingin kembali hidup,"

"Ini semua karena kau,"

"Karena kau,"

"Karena kau,"

Gema tajam menusuk gendang telinga Kirito, suara-suara yang sejak tiga tahun lalu terus memutar kaset dalam latar mimpinya. Suara Asuna, jeritan, lolongan, mendebarkan jantungnya, meneriakkan riak di telinga, membangunkan nyenyak tidurnya.

Seketika ia bangkit duduk dan memijit-mijit dahinya yang terasa pening. Walaupun dengan seperti itu pun, pikiran-pikiran buruk tidak menghentikan aksi melintas di depan matanya.


Sebuah ruangan, remang. Di dalamnya, beberapa perangkat komputer dan sebuah televisi LED layar lebar berjajar rapi memenuhi ruangan. Kesemuanya menyala menerangi ruangan itu. Ya. Cahanya yang ada hanyalah yang berasal dari perangkat elektronik tersebut.

Tepat di depan layar, seorang lelaki berumur 19 tahun duduk bertopang dagu memandangi gambar bergerak di layar tersebut, meneliti setiap detail grafis dan suaranya, Kirigaya Kazuto yang telah tumbuh dewasa.

Sesosok makhluk virtual berjubah putih, berwajah pucat, di kepala bagian kirinya merekat topeng hollow bertanduk, dan lubang hitam menganga di dadanya. Dari matanya nampak kesedihan yang teramat mengakar. Serta garis hitam membujur dari kelopak matanya ke dagu, seperti menangis dengan air mata sehitam aspal.

Ulquiorra Schiffer, Kirito menamai karakter game buatannya itu. Ia sendiri yang nanti akan menjadi pemainnya, karakter boss yang menjadi lawan terakhir bagi penantang game ini. Tentu saja, karakter yang sangat mirip dengan gambaran keadaan Kirito. Ia pucat, skillnya sebanding dengan iblis. Kehampaan hatinya tercermin dalam lubang hollow di dadanya, dan tangisan tanpa jeda, persis seperti garis pada pipi Ulquiorra.

Ia benar-benar seniman yang memahami potret dirinya sendiri.

"Hoi, Kirito. Demomu kali ini keren sekali. Kalau begini terus, aku jadi bersemangat!" sapa seorang lelaki berrambut merah yang baru saja membuka pintu ruangan tersebut. Ia tak juga masuk, kusen pintu lebih menggoda punggungnya untuk bersandar. Mata zamrud yang dimilikinya terpancar ketika goggle yang menutupinya dilepas dan terkalung pasrah di leher.

Tak ada jawaban dari Kirito. Kebekuan menyemat di mulutnya sejak lama. Ia hanya akan berbicara ketika benar-benar dibutuhkan, selain itu, ia akan terus mengunci rapat suaranya. Dan ruangan itu membeku bersamanya.

Suara dari dalam layar adalah satu-satunya yang masuk ke telinga lelaki bermata zamrud itu, dari mulut sang tokoh sentral dalam game, Ulquiorra, menjawab pertanyaan yang tidak diacuhkan Kirito,

"Lawan aku dan kau akan menemui ajalmu!"

"Mulchierago! Cero Oscuraaas!" Itu jurus andalannya.

Kemudian berganti dengan adegan berpelukan dan berciuman dengan seorang gadis imajiner. Ya, konsep pembedaan gender dari otak Kirito. Para pemain pria harus bertarung melawan musuh dan menaikkan level untuk mengalahkannya. Sedangkan pemain wanita harus menemukan sandi-sandi yang tepat untuk dapat menemukannya dan mendapatkan cintanya, walaupun sebelum itu mereka juga harus bertarung melawan monster.

Mimik muka lelaki itu berubah. Terbias. Kesabarannya cepat sekali habis. Ia tidak lagi ramah seperti saat menyapa Kirito.

"Setidaknya berikan jawaban untuk bosmu,, Kirito!"

"Berhenti memanggiku seperti itu, Matt!" jawab Kirito. Kasar.

Keduanya mendengus. Salah satunya menyembulkan asap rokok dari mulut yang terselip batang rokok. Mulut Matt.

"Kau lebih cocok dengan panggilan Kirito daripada Kazuto,"kata Matt polos tanpa rasa bersalah.

"Namaku bukan Kirito!"

Matt mendengus lagi. Lalu hanya diam yang kembali menyatukan mereka. Kedua pasang mata itu kemudian tenggelam dalam layar yang sejak tadi memainkan video yang sama: Sebuah demo game. Dalam covernya tertulis deretan kata dalam Bahasa Inggris " The Great Espada". Game keempat buatan Kirito yang bernaung di bawah perusahaan Matt, Jeevas Company. Ya, Matt adalah pemilik perusahaan game tersebut dan Kirito adalah asset terbesar yang dimilikinya. Matt tahu benar bagaimana potensi bisa dikeruk dari pemenang SAO dan Afheim Online ini.

Tak disangka, setelah beberapa lama Kirito terlebih dahulu membuka mulutnya, memenggal keheningan abadinya, "Matt."

"Matt-san,"

"Matt,"

"Heffh,"Matt meneyerah. Anak buah yang satu ini memang sulit sekali diatur. "Ada apa?"

"Kurasa game yang kubuat selau tidak sempurna."

"Bicara apa kau ini? Game yang kau buat selalu menjadi nomor satu di Jepang."

"Berarti semua game di Jepang tidak sempurna."

Matt tersedak. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Dengan menatap erat wajah Kirito, ia mendekati bocah tersebut. Duduk di sampingnya tanpa mengalihkan pandangan. Nafasnya terangkat berat. "Kau sudah berada di perusahaan ini selama tiga tahun. Rasanya kata-kata pesimistis itu tadi membuatku ingin menendangmu dari sini. Jika saja aku punya cecunguk dengan talenta sepertimu."

"…"

"Kau mau rokok?" Tanya Matt, mengacungkan sebatang rokok yang telah tersulut di sela jarinya. Kirito tak acuh. Isyarat penolakan yang tegas. Matt tersenyum atas reaksi itu. "Kenapa kau tidak bunuh diri saja?"

Aliran darah Kirito berhenti. Ia terkejut. Perhatian yang terrenggut kata-kata. Membuatnya menusukkan iris mata karamelnya ke mata Matt. "Apa maksudmu?"

"Kalau kau tidak mau hidup, kenapa harus hidup? Segalanya mudah, kau yang mempersulit dirimu sendiri."

"Apa maksudmu?!" pertanyaan yang sama. Hanya kali ini dengan penuh penekanan bercampur kegetiran.

"Kau hanya seonggok mayat, Kirito. Berpikir seolah-olah kau hidup hanya dengan Asuna. Kau tidak berusaha menengok sekelilingmu, sesiapa saja yang kehilanganmu. Hah! Kenapa tidak kau bunuh saja Asuna lalu ikut mati bersamanya?"

"Jaga bicaramu, brengsek!" Kirito berteriak. Lepas sudah kendali di lidahnya. Emosi yang lama terbungkam mencuat meledakkan hampa. Ia beranjak, mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, namun saat tinju itu hampir sekali mendarat di pipi Matt, sebuah benda logam keras nan dingin teracung di dahinya. Kali ini ia benar-benar terkejut.

"Kalau kau memintaku untuk membunuhmu, aku bisa dengan mudah melakukannya."

Kirito terdiam, mengulum tinjunya sendiri rapat-rapat. Tubuhnya berceceran; jiwa, pikiran, dan tubuhnya tidak lagi berada di tempat yang sama. Segera setelah itu. Sebuah ingatan menyatukannya kembali.

"Dari mana kau tahu Asuna?"

"Bagaimana aku tidak tahu?"

"Berhenti melontarkan pertanyaan kepadaku, Matt!"

Matt menurunkan pistolnya, menyimpannya kembali dalam sakunya. Kemudian membalikkan badan dan berlalu, meninggalkan Kirito dalam nanar. Namun sebelum ia benar-benar hilang, ia menjawab pertanyaan Kirito,"Sebulan yang lalu adikmu menemuiku. Mungkin kau harus meminta maaf dan bunuh diri di depan matanya."

Lagi-lagi Kirito terkejut,"Apa yang ia katakan?"

"Banyak. Tapi hanya berputar dalam satu topik. Ia merindukanmu."

Sebilah pedang imajiner menembus jantung Kirito. Satu lagi kehancuran, kebodohannya membuat orang lain tersakiti, adiknya sendiri.

"Aku tidak seharusnya mencintai Onii-chan!"

Berputar kembali kata-kata Sugu waktu itu, memenuhi tempurung kepalanya yang terasa berat.


Hidup memang tidak sekedar pertemuan dan kehilangan, suka atu sengsara, tabah atau tergesa, realitas atau absurditas, warna atau tak berwarna, cerita atau alpha, berdebar atau biasa saja,

Tetapi juga…

Sesekali ada kesempatan, keterlambatan-keterlambatan kecil dan kelicikan-kelicikan yang sesekali bikin senyuman.


8


Tiga tahun yang lalu…. (flash back on)

"Kayaba Akihiko, temui aku.."
-Suara-suara bersahutan, menggema tajam,

"Papa.."

"Kirito-kun"

"Kirito,"

"Kirigaya Kazuto,"

Ia telah terseret dalam dunia virtual. Dunia game yang ia rindukan. Namun, ia tidak lagi menemui warna. Semuanya hitam. Ia tak tahu di mana ia berpijak.

Ketakutan meracuni pikirannya.

Apa ini?

Inikah kehampaan?

Seperti inikah kematian?

Ia ingin berbalik, tapi ia tidak tahu ke mana arah ia menghadap. Ia ingin keluar, tapi tidak terlihat di mana pintu masuk dan keluar dari system tersebut. HP-bar yang ia harapkan dapat membantunya pun tidak ada. Jika ini bug, ini adalah bug paling parah di game manapun.

Dan ketakutan benar-benar menyambanginya.

Namun, sebuah suara menebas kekhawatirannya. Suara langkah kaki. Datang sebuah titik cahaya dengannya. Mendekat perlahan, membesar dan semakin jelas. Cahaya lentera, menerangi sosok yang membawanya, Yui , bersama pencipta gadis mungil itu, Kayaba Akihiko.

"Papa…," bibir mungil itu mesra mengalunkan penggilan sayang kepada ayahnya seraya tersenyum lebar menebar kerinduan.

"Yu.. Yui..,"

"Sistem di nervegear Papa mengirim sinyal yang buruk. Papa sedang dalam masalah?"

Kirito tak menjawab, kegetiran mengalir di wajahnya.

"Kirito-kun, senang bisa bertemu lagi denganmu. Jika sudah seperti ini, sepertinya ada hal penting. Bukan begitu?" kayaba melontarkan sapa.

"Ya.. mengenai benih dunia itu,"

"Seperti hidupmu, benda itu menunggu pemiliknya untuk digunakan. Kau dihadapkan dalam dua pilihan. Kau akan menggunakannya untuk kebaikan atau kejahatan, itu terserah kau. Kau yang memegang kekuasaan penuh atas itu."

"Tapi..,"

"Buatlah duniamu sendiri, Kirito. Aku telah menyambungkan ID Administrator dalam benda itu, aku mempercayaimu."

"Ada pertanyaan yang kuminta kau menjawabnya, Kayaba."

Kayaba menyeringai kecil, sinar matanya tidak terarah ke manapun.

"Apakah benda ini bisa kugunakan untuk membunuh?"

"Hahaha… Kenapa kau tidak tanyakan hal yang sebaliknya saja?"

Desis menderu di bibir Kirito," Apa maksudmu?"

"Asuna,"

Leher Kirito tercekat, namun ia tak memuntahkan keterkejutannya. "Jadi?"

"Kalau kau bisa membuatnya, bahkan tidak hanya membunuh, tapi kau bisa menghidupkan yang mati, Kirito,"

Sekelumit senyum terkembang di bibir Kirito. Jawaban yang lebih dari cukup untuknya. Urusannya telah sepenuhnya habis dengan Kayaba. Ia lalu mengalihkan pandang ke gadis kecilnya.

"Yui, maafkan Papa, Mamamu dalam keadaan yang sulit karena Papa. Kini Papa harus bertarung menyelamatkan Mamamu, pertarungan terakhir. Kau mau membantu Papa?"

Yui tersenyum, program itu benar-benar telah menjadi hidup dan berperasaan. Emosinya membuncah, meluapkan kerinduan yang dalam. Dipeluknya Kirito tanpa menghiraukan lentera di tangannya.

Saat kedua tubuh itu bersatu dalam rangkulan, lentera yang dibawa Yui jatuh dan pecah berhamburan. Api membakar minyak dan semua yang ada di hadapan Kirito, termasuk Yui dan Kayaba. Namun sebelum mereka benar-benar hilang, Kirito mendengar dari mulut mereka bisikkan kata yang sama, "Berjuanglah!"

Dan api membakar tubuh Kirito sendiri dan menyeretnya dalam kesadaran dunia nyata.

(Flash Back off)


8


Rumah menyambut Kirito bersama pintu dan lantai dingin yang lama tak mengantarkan sapa. Sama seperti penghuniya yang tidak lagi hidup. Kirito tidak lagi tahu apa arti keluarga. Baginya, dirinya sejak tiga tahun lalu hanyalah seonggok daging yang keberadaannya tidak lagi menguntungkan siapapun. Persis seperti kata Matt. Dan alasan itu yang membuatnya tidak menaruh minat untuk berkomunikasi dengan Ibu angkatnya, juga Suguha.

Punggung Suguha adalah benda hidup pertama yang ia lihat, tak disadarinya, adik perempuannya itu telah menjelma menjadi seorang gadis manis matang yang menawan. Ia ingin memanggilnya, tapi rasanya, tiga tahun adalah waktu yang lama hingga ia melupakan caranya. Matanya terus mengawasi Suguha yang terbenam dalam layar televisi, mencoba merasakan apa-apa yang dialami gadis itu.

Pun begitu, dengan ragu, ia melafalkan nama itu juga pada akhirnya, "Suguha…" Suaranya pelan. Hampir tak terdengar, namun seolah ada ikatan yang mempersatukan mereka, si pemilik nama memalingkan muka, mencari asal suara.

Mata bertemu mata.

"Onii-chan…," seketika kelopak matanya menghangat, mencairkan kebekuan kelenjar air matanya. Kini mata itu tertimbun titik-titik air. Penuh sesak dan hampir meluap seperti gumpalan rasa yang berkecamuk dalam dada. Ia hampir tak mempercayai suara kakaknya yang memanggil namanya, jika saja sosok itu tidak sedang menatapnya.

"Maafkan aku, Sugu."

"Aku..

..hanya..

..merindukan..

Kakak yang dulu," kata Sugu di sela isaknya.

Kirito tertampar. Sebuah batu besar imajiner membuatnya tersedak. Suatu paradoks tumbuh di kepalanya. Tubuhnya menguat, Ia berlari berhamburan memeluk tubuh Suguha. Di sisi lain, air mata yang tergelar membuktikan betapa lemah hatinya kini.

"Jangan pergi lagi, Kak."

"Aku hanya tidak ingin menyakitimu, Sugu."

"Apa maksud kakak?"

"Bukankah keberadaanku hanya akan menyakiti kalian? Asuna, kau, ibu? Bahkan aku tidak ingat lagi bagaimana caramu tersenyum, Sugu."

Air mata di pipi Sugu menderas, suatu perasaan tak percaya akan kata-kata yang mengalir dari kakaknya. Ia manangis bahagia, sangat bahagia, atas kebenaran yang selama ini ia percayai, tentang kakaknya yang selamanya akan terus menjadi orang yang sama. Kairigaya Kazuto selamanya akan menjadi seorang figur kakak yang baik dan mempunyai naluri melindungi yang besar.

Gadis itu semakin menenggelamkan hidungnya ke dada Kirito, mencari aroma tubuh kakaknya yang ia rindukan. "Kakak hanya lupa pada diri kakak. Maka kembalilah menjadi diri kakak dan jangan pernah pergi lagi. Kami merasakan semua hal yang kau rasakan, untuk itu jangan menyakiti dirimu sendiri,"

Setitik embun meretas dalam kerongkongan Kirito, mengalir lembut mengisi relungnya. Sebuah perasaan yang asing namun menyamankan.

"Bahagialah, maka kami akan bahagia. Dan jika kau memerlukan sesuatu, katakan padaku, kak. Aku akan membantumu."

Seutas senyum terkembang, Kirito dengan sendu menatap mata adiknya, "Benar begitu?"

"Ya. Katakan saja,"
"Hemm. Baiklah. Kau harus membantuku dalam hal ini, Sugu."

"Ya?"

Kirito pura-pura berpikir keras, merekayasa wajahnya sedramatis mungkin.

"Carilah pacar! Seorang kakak laki-laki akan bahagia melihat adiknya mempunyai pacar yang tampan." Wajah jenaka Kirito tersembul. Ia terkekeh dan kecupan manis terantuk pada dahi Suguha. Kakinya kini meniti langkah ringan menuju kamar, meninggalkan Suguha yang menganga bersama keterkejutan.

Kirito melirik nakal Suguha lewat sudut matanya saat ia telah sampai di bibir pintu. Suguha masih mematung di tempat yang sama. Tawa keras bergema di hatinya, terbilaslah sudah kesusahan dalam hati. Ia lupa. Dan gelap kamar memeluk tubuh itu.

Pemandangan yang sama kembali ia temui. Ranjang, furniture, deretan perangkat komputer rakitannya, dan sebuah nervegear yang sejak beberapa tahun lalu menjadi benda paling berharga untuknya. Semuanya sama, hanya hatinya yang kini sedikit lebih ringan dari yang lalu. Ranjang empuk dan rapi tidak juga membuatnya ingin cepat-cepat melemparkan tubuh ke atasnya, ia bersandar pada pintu kamar. Menjejalkan kumpulan rasa yang tertaut di dadanya.

Lalu ketika ia yakin inilah saat untuk mengeksekusi rencananya, ia tersenyum. Rencana matang untuk merebut kembali harga dirinya, juga Asuna. Ia segera tersambung dengan seseorang melaui alat komunikasi bernama telepon genggam yang bahkan hampir tidak pernah ia gunakan.

"Hoi, ini siapa?"suara dari seberang.

"Hah. Bahkan kau tidak menyimpan nomor anak buah terbaikmu, Matt? Gila!"

"Eh.. Oh.. Kirito ya?"

"Dasar!"

Hening sejenak. Keduanya masuk dalam ruang pikiran masing-masing. Matt dengan keheranannya, dan Kirito sibuk menata kata-kata.

Matt lebih dulu membuka suara, rasa penasaran takkan ia biarkan terlalu lama mengganggunya," Jadi, kenapa menelfonku?"

"Kau masih marah dengan insiden kecil tadi?"

"Jangan berbasa-basi, langsung sajalah!"

"Aku akan membuat game paling sempurna di Jepang, Matt."

"Oke, jagoan. Lalu?"

"Aku ingin kau kerjasama dengan recto."

"Listen! You're super annoying! Pertama, kau sudah mengganggu waktuku. Kedua, di manapun di dunia ini, tidak ada anak buah yang berani memerintah bossnya, kecuali kau berniat mengganti nama Jeevas Company menjadi Kirigaya Company."

"Hei, boss. This is just a suggestion! Not an order. Kau bisa menolaknya kalau kau tidak ingin!"

"Terserah kau sajalah. Lakukan sesukamu."

Tut.. tut.. tut..

Pemutusan secara sepihak, ciri khas Matt. Tapi itu cukup untuk membuat Kirito menyunggingkan seringaian, ini persetujuan. Dan ini adalah garis startnya, untuk memulai semua yang tertunda.

"Selamat datang kembali, Kirito. Tuggu aku, Asuna."


Author's note :

Chapter kedua updated.. (nada lemes). Gomen readers, aku tidak tahu apa yang salah dalam hidupku sehingga chapter ini terlihat mengecewakan bagiku sendiri. Aku tidak bisa menilai mana-mana yang salah dan kurang pas. Tolong jika ada yang tahu, write di review box yaa..

Jadi kerangkanya memang sudah jadi, tinggal edit saja, tapi beberapa hari yang lalu saya pindah kamar, dan entahlah… oret-oretan saya ILANG (author nulis di kertas, agak kurang bersahabat dengan monitor. Bikin mata sakit. ). Hah. Dan memulai dari awal itu enyakitkan, karean bagaimanapun feelnya udah tercurah ke hasil yang sebelumnya.. UUwwwwaaa…

Oya, emang di chapter ini belum ada konflik apa-apa, tapi karena halamannya udah banyak, saya memutuskan untuk segini aja dulu. Nanti chapter 3 baru munculin konflik. Maaf ya..

Saya jadi ngga tahu multichapt ini akan berakhir di Chapter berapa, kalo kemarin saya bilang mau sampe 3 chapter saja, saya ngga bisa menjamin. (labil detected)

Sekali lagii..

REVIEW.. REVIEW..