Author's Note: Terima kasih yang telah memberi review, follow, dan membaca fic ini... Terima kasih banyak... Sekarang, langsung saja mulai Chapter 2... Maaf tak bisa membalas review karena modem yang bermasalah... ==

WARNING: Only Friendship, kekerasan, bloody theme, mungkin sedikit OOC...


Sekarang tanggal 1 Januari 2012, hari pertama ditahun 2012. Akibat pesta semalam, semua terkapar termaksud aku...

DUUAAAKK

"Aduh... Kepalaku... Kuma! Geser napa?!" kesalku melihat si beruang yang tidur disebelahku dengan banyak gerakan dan menendang kepalaku.

"Kuma... Nyem nyem... Kuma..."

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Pagi ini aku menginap di rumah Yuu dan lebih tepatnya di kamarnya. Aku melihat jam yang ada di ponselku dan tertulis pukul 9 pagi. Akibat pesta semalam, waktu tidurku berkurang. Aku dan Yuu baru tidur jam 3 pagi gara-gara harus beresin bekas pesta. Teman-teman yang lain sih sudah pulang. Yah, di jalan pasti rame karena pesta tahun baru jadi tidak ada yang harus di khawatirkan. Kuma? Dia satu rumah denganku dan memilih menginap disini dengan alasan "Aku tidak mau sendiri~"

"Hh... Yuu, kau sudah bangun, kah? Kau hari ini mau..."

Ucapanku terpotong karena saat aku melihat kearah kasur Yuu berada, Yuu sudah tidak ada.

"Eh? Yuu?"


Disclamer: ATLUS (Shin Megami Tensei: Persona 4)

That's Only Past

Chapter 2


"Eh? Yuu?" heranku.

Yep, kasur dimana tempat Yuu tidur semalam sudah kosong dan rapih. Aku panik dan membangunkan Kuma yang masih dengan tenangnya pergi ke alam mimpi. "Kuma! Bangun! Yuu menghilang!"

Mendengar kata 'menghilang', Kuma langsung bangun. "Hah? Sensei menghilang? Ah... Paling ke kamar mandi... Kuma... Krrr... Krr..." tidurnya lagi.

Aku hanya bisa mengeluh melihat tingkah dia yang sudah seperti kerbau. "Sialan, dasar kau pemalas!"

Aku bangkit dari sofa tempatku tidur semalam (sedih amet, ya?) dan berjalan menuju kamar mandi. Sesampai di lantai bawah, keadaan hening. Sampah pesta sudah dibereskan semalam olehku, Yuu, Kuma, dan Nanako. Nanako masih tertidur di kamarnya. Kamar mandi pun terlihat kosong dan tidak ada orang sama sekali. Aku mengusap kepala belakangku, "Kemana sih, dia?"

Selesai dari kamar mandi untuk cuci muka serta gosok gigi, aku mengambil sebotol susu di kulkas. Kemarin saat aku dan Yuu ke Junes, aku nitip beli minuman ini. Aku pun duduk di ruang tengah, tempat biasa Yuu duduk dan kemudian aku menyalakan televisi. Acara yang ditampilkan adalah reality show yang masuk genre humor. Tetapi, aku tidak memperhatikan acara tersebut. Yang sedang kupikirkan adalah ceritanya Yuu semalam. Waktu dia berumur 8 tahun, dia sudah membunuh 2 orang. Itu membuatku berpikir tentangnya. Bagaimana caranya aku berhadapan dengannya di kemudian hari? Apakah aku harus menunjukan ketakutanku ini padanya? Ya... Aku benar-benar takut. Dia sudah berubah semenjak Nanako diculik. Apakah penculikan Nanako itu membuat dia ingat akan traumatik saat dia kecil. Sehingga...

Arrgggh... Pusing! Semoga saja firasat burukku tidak menjadi kenyataan. Aku memilih minum susu saja deh biar bisa menjadi tinggi...

Apa hubungannya dengan firasat buruk, ya?

Tiba-tiba, acara dipotong untuk berita 5 menit.

"Hari ini, tanggal 1 Januari 2012, di kota Inaba telah dikejutkan oleh suatu kasus pencurian. Yang menjadi korban adalah seorang wanita paruh baya. Dia nyaris dibunuh jika saksi tidak muncul untuk menolongnya."

Awal tahun sudah ada kejadian begini lagi? Apa jadinya dunia? Hh... Jaman sekarang baik di desa seperti ini, sudah tidak aman jalan sendiri, ya?

"... Untuk lebih jelasnya, kami wawancara saksinya. Selamat pagi, dik!"

"Pagi!"

BRUUUUSSHHH...

Susu yang aku minum, dengan mulusnya muncrat dari mulut akibat mendengar suara orang yang menjawab salam dari repoter tersebut. Suaranya sudah tidak asing lagi. Ini suaranya Yuu!

"Bisa ceritakan apa yang terjadi?"

"Aku tidak bisa menceritakan banyak tapi yang aku bisa simpulkan, kalau wanita itu diserang oleh para pelaku dengan cara pendekatan. Mereka menodongkan senjata dari belakang sang nenek. Sang nenek bertahan sayangnya itu tidak cukup. Dia ditebas di bagian tangan dan terjatuh. Para pelaku berencana kabur tetapi aku mencegatnya dibantu beberapa orang dan berhasil menangkapnya." Jelas Yuu dalam televisi.

Aku meneguk ludahku. Aku tidak habis pikir, aku ditinggal sendirian di kamar Yuu dan sekarang orang bersangkutan ada diberita televisi? Aku punya firasat buruk akan ini semua. Padahal pelaku penculikan, alias Adachi, sudah ditangkap...

Aku memutuskan untuk melihat ramalan cuaca hari ini dan ternyata malam hujan. Ya... malam ini aku harus melihat Midnight Channel. Jangan-jangan ini semua saling berhubungan.

"Onii-chan... Oha... Hee? Yosuke nii-chan... Onii-chan mana?" ucap Nanako dari lorong kamarnya dan sedang berjalan menuju ruang tengah.

Aku mematikan televisi dan melihat Nanako. Aku tidak ingin Nanako khawatir akan Yuu.

"Nanako-chan? Yuu sedang pergi keluar. Apa kau perlu sesuatu?" senyumku.

Nanako mengangguk. "Onii-chan bilang katanya, hari ini mau mengantarkanku ke rumah sakit buat check up. Tapi... Kok dia pergi?" sedihnya.

Aaa... Akhirnya aku tahu kenapa Yuu sister complex, Nanako-chan... Kau manis sekali! Mau jadi adikku gak? Ups... Aku bakal dilempar sama 'Onii-chan' nih...

"Mau kuantarkan? Aku pikir Yuu akan sore pulangnya. Ayo, Nanako-chan!"

Nanako tersenyum. "YA!"

Akhirnya, kami bertiga sampai di rumah sakit. Bertiga? Ya, kubangunkan Kuma agar dia ikut kami ke rumah sakit. Kalian tahu apa yang terjadi padanya jika dia ditinggal sendiri? Bisa saja dia menangis guling-guling dan meraung raung gak jelas.

"Nana-chan~ Apakah check up itu menyenangkan?" tanya Kuma dengan polos. Ya, dia memang baru pertama kali mendengar kata-kata 'Check Up' tersebut.

Nanako menggelengkan kepalanya, "Tidak! Tapi, karena dokternya baik, check up itu menyenangkan! Cuma Nanako sedikit bosan..."

"Kuma akan menemanimu check up supaya Nana-chan tidak merasa bosan!" semangat Kuma.

Nanako mengangguk senang. Sebentar lagi, kita sampai di ruang Check up. Di lorong yang sempit itu muncul seseorang pria yang baru keluar dari sebuah ruangan. Ya, pria berambut perak dengan pakaian musim dinginnya.

"Yuu? Kamu ngapain disini?" tanya heranku.

Yuu mendekati kami dengan tatapan kaget. "Kalian? Ngapain di- Oh? Ini waktu check up untukmu ya? Maaf ya Nanako, tadi Onii-chan pergi duluan. Onii-chan ada perlu..."

Yuu mengelus Nanako dan adiknya itu senang. "Tidak apa, Onii-chan! Yosuke nii-chan dan Kuma-san mengantarkanku kemari"

"Maaf merepotkan kalian..." tunduk Yuu.

Aku menggelengkan kepala. Nanako teringat kalau sekarang waktunya dia untuk diperiksa. Sesuai janji, Kuma mengantarkan Nanako ke ruangan check up. Aku menunggu di lorong bersama Yuu.

"Yuu... Kenapa kau tidak membangunkanku saat kamu mau pergi, hah?" kesalku sambil memasukan tanganku kedalam jaket putihku.

"Kamu terlihat sangat nyenyak jadinya aku biarkan kamu tidur.." jelasnya.

Aku memalingkan wajahku yang memerah. Kenapa merah? Habisnya, wajah tidurku yang innocence dan defendless dilihat orang lain. Sudah cukup Kuma yang sekamar denganku dan orang tuaku. Aku protes, "... Tapi gak gitu juga kali..."

Tiba-tiba aku teringat akan apa yang ingin kutanyakan pada Yuu. "By the way... Kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu harusnya di kantor polisi?"

Yuu tersenyum dan mengangkat rendah tangan kanannya. Terlihat tangan kanannya diperban dengan cukup tebal. Yuu menjelaskan kalau dia memukul para pencuri itu dengan cukup keras dan kemudian kesambit pisau. Dia melakukan perlawanan yang cukup keras untuk melindungi nenek-nenek di berita tadi.

"Kamu mau memberi kesaksian bukan? Ayo kuantarkan kamu ke kantor polisi..." ucapku sambil bangkit dari kursi.

Yuu menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Aku sudah memberikan kesaksian kok. Sekarang aku ada perlu denganmu..."

Aku mengangkat alis. Me... Merinding... A... Ada apa dengan cara bicara dia. Mengerikan banget. Ingat Yuu, aku masih normal! N-O-R-M-A-L!

"... Apa yang kamu mau ceritakan... Disini saja, Yuu..." grogiku.

Yuu membalikkan tubuhnya. Pergelangan tanganku dipegang olehnya dan ditarik. Dia berjalan menuju lorong yang sepi dan sampailah kita di sebuah ruangan. "I... Ini bukannya ruangan kamu dirawat kemarin? Mau apa kita disini?"

Yuu hanya diam. Dia buka pintu kamar kosong itu dan terlihat sebuah televisi yang cukup besar. Yuu terus menarikku dan berjalan dengan cepat. Kemudian dia berhenti di depan televisi tersebut. "Yuu... Kalau mau ke TV World, kita lebih baik lewat Ju-"

Sebelum selesai bicara, Yuu menarik kerah jaketku dan dia berusaha memasukkanku ke dalam televisi. Sontak, aku menolak. Aku menahan tubuhku agar tak jatuh. Jika aku terjatuh ke dalam TV World, aku tidak akan tahu aku akan jatuh dimana. Bisa-bisa, aku diserang oleh Shadow yang berada disana dan tewas seperti Konishi-senpai dan announcer setahun yang lalu.

"Yu... Yuu! He... Hentikan! A... Aku bisa jatuh!" berontakku.

Tetapi Yuu tidak menghiraukannya. Yuu terus menerus mendorongku agar aku jatuh kedalam televisi. Kupegang tangannya untuk melepaskan pegangannya pada jaketku. "Yu... Yuu! Sadar-"

"Sadar? Aku sudah sadar, Yosuke Hanamura..."

Aku membuka mataku dan melihat siapa yang sudah berada di depanku. Fisik memang seperti Yuu Narukami yang kukenal. Tetapi, saat kulihat matanya, dia ternyata adalah seorang Shadow. Lebih tepatnya Shadow Yuu.

"Sha... Shadow? Ba... Bagaimana kau bisa berada disini? Yu... Yuu mana?" panikku.

"Yuu? Aku adalah Yuu Narukami. Tidak ada lagi selain Yuu Narukami diriku..."

Shadow terus menerus mendorongku. Napasku sesak. Dia mendorongku tepat di leherku. Pandanganku semakin buram. Tanganku lemas. Tampaknya, hidupku akan berakhir dengan tak menyenangkan. Dibunuh secara tidak langsung oleh Shadow milik sahabat sendiri? Hmmf... Benar-benar tidak elit!

Aku tersenyum saat aku sudah nyaris tenggelam dalam televisi. Peganganku juga sudah lemas. Hampir semua tubuhku sudah masuk kedalam televisi. "Yu... Yuu..."

Kupegang pundak Shadow Yuu dan kutarik tubuhnya bersamaan dengan tenggelamnya diriku kedalam televisi. Aku tidak mau ada Shadow diam di duniaku. Aku harus mengembalikannya pada dunianya walaupun nyawaku taruhannya.

Dan itu berhasil, Shadow Yuu masuk kedalam TV World bersamaku. "Mati seperti ini... Hmmf... Gak ada elitnya..." gumamku sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.

(NORMAL POV)

Maaf, nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan service. Silahkan coba beberapa saat lagi.

Kuma mematikan ponselnya setelah beberapa kali gagal menelepon Yosuke dan Yuu. Jawabannya pasti sama... Kalau gak diluar jangkauan service, ya mail box. Nanako mulai khawatir dengan menghilangnya Yuu. Kuma menggelengkan kepalanya. "Kita pulang yuuk! Tampaknya mereka sudah pulang duluan ke rumah. Lagipula hari sudah sore. Bahaya kalau kita pulang teralu malam." senyum Kuma.

Nanako mengangguk. Saat mereka berjalan menuju lift, mereka dikagetkan oleh para perawat yang berlari membawa kasur untuk menuju ruang ICU. Nanako dan Kuma tentu berjalan ke pinggir agar tidak tertabrak kasur tersebut. Walau itu kasur, tetap saja kalau tertabrak akan sakit. Kuma yang kebetulan cukup tinggi bisa melihat siapa yang di kasur tersebut (Ya, dia itu orangnya penasaran). Kuma kaget karena orang yang dibawa ke ICU merupakan orang yang tidak asing. "Se... Sensei!"

Nanako melihat kearah kasur tersebut dibawa. Dia langsung berteriak. "Onii-chan?!"

"Kuma! Nanako-chan!" teriak seorang wanita yang membuat pandangan kedua bocah teralihkan. "Yuki-chan? Chie-chan?"

"Onii-chan! Onii-chan kenapa?" takut Nanako.

Yukiko berusaha untuk menghibur Nanako yang sudah mau nangis dengan cara memeluknya. Chie menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Kami menemukan Narukami di Junes bagian elektronik, tempat biasa kita masuk keluar ke TV World. Waktu itu, kita sedang melihat-lihat mp3 yang mau aku beli. Iseng-iseng kami berjalan melalui bagian televisi. Saat itu juga, kami dikagetkan dengan munculnya Narukami dari televisi. Kami langsung mendatanginya dan melihat keadaannya yang terjatuh di lantai. Ternyata, dia dalam keadaan sakit dan tidak menyadarkan diri. Kami pun memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa..." Jelas Chie.

Kuma kaget dengan penjelasan Chie yang sedikit cepat karena napasnya yang pendek akibat lari untuk mengejar para suster yang membawa Yuu. "Chie-chan, apakah kau melihat dia bersama Yosuke?" tanya Kuma.

Chie menggelengkan kepalanya. Dia hanya menemukan Yuu sendiri dari TV World. Kuma merasakan sebuah firasat buruk. Dia memutuskan untuk pergi ke TV World dan membuktikan firasatnya itu tidak benar. Dia pun menitipkan Nanako pada Yukiko dan Chie.

"Yosuke..."

Di depan ruang ICU, Yukiko, Chie, dan Nanako menunggu di perkembangan dari Yuu. Sudah sejam mereka menunggu, belum ada berita baik yang keluar. Suara hentakan kaki terdengar dari kejauhan dan semakin dekat. Ternyata, mereka adalah para junior.

"Senpai! Bagaimana keadaannya?" tanya panik Kanji.

Yukiko menggelengkan kepalanya. Kanji hanya bisa menggertak. Rise mulai menangis. Naoto berjalan mendekati Nanako yang sedang menangis. "Nanako-chan... Narukami-senpai pasti bisa bertahan. Kamu harus tenang, ya?"

Nanako menganggukan kepalanya. Tetapi tetap saja tidak bisa memendung kesedihannya. Dokter keluar dari ICU dan bertanya apakah ada kerabat dari Yuu. Nanako pun berdiri tetapi, karena Nanako masih teralu kecil, dia menanyakan ada kerabat lain. Suatu keajaiban datang! Doujima datang dengan cepat kesana. "Saya pamannya. Anda bisa bicara dengaku!"

Dokter mengangguk dan dibawalah Doujima ke sebuah lorong dimana tidak ada orang. "Kami telah memeriksa Yuu Narukami. Keadaanya bisa dibilang tidak berbahaya. Dia mengalami demam tinggi. Tetapi yang kuherankan adalah ini... Kemarin saya yakin dengan pemeriksaan terakhir saya kalau pasien itu sembuh. Bahkan suhu tubuhnya turun drastis dari 40 derajat menjadi 35 derajat. Suhu tubuh orang normal itu 37 derajat. Saya pun menyuruhnya untuk tidak pulang dulu tetapi dia bersikeras kalau dia sudah sembuh. Tapi, sekarang dia kembali kemari dalam keadaan yang lebih parah. Selain demam, dia mengalami sesak napas. Kasusnya nyaris sama menimpa anak anda sebulan yang lalu..."

Raut wajah Doujima berubah menjadi kaget. Berarti, dalam keadaan sakit begitu, Yuu pergi ke TV World. Tapi untuk apa? Kasus sudah selesai dengan ditangkapnya Adachi, kan? Dia teringat akan sesuatu.

Tadi pagi, sebelum ia pergi karena ada keperluan, Yuu turun dari tangga dengan cara berjalan yang tidak biasa. Dia seperi kerasukan sesuatu. Saat Doujima memanggilnya, Yuu terlihat berbeda. Senyumannya terasa sangat berbeda dengan Yuu yang biasa. Doujima masih bingung dengan apa yang terjadi pada keponakannya itu.

"Eh bentar... Bukannya tadi sebelum ini, Yuu..."

Tiba-tiba seorang suster datang mendekati mereka dan memberitahukan kalau Yuu sudah bangun. Doujima dan dokter langsung berlari menuju ICU. Sesampai di ICU, sudah berdiri semua sahabat Yuu bersama Nanako disamping kasur Yuu. Doujima langsung berdiri di sisi yang lain. "Yuu! Kamu tidak apa?"

Yuu mengangguk pelan. Ya, dia baru sadar dan keadaannya sangat lemah. Terlihat dari detak jantungnya yang cukup pelan di monitor. "Onii-chan tidak apa-apa?" khawatir Nanako.

Yuu melihat Nanako dan tersenyum. Nanako pun menangis dan digengamnya tangan Yuu. Chie yang tidak bisa membendung kepedihannya, menangis. "Huwaa... Hanamura! Kuma! Kenapa kau tidak ada di saat begini?!"

Yuu melihat Chie. "Yo... Yosu... Ke? Ke... Kemana dia?" tanyanya dari balik masker oksigen.

Chie menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu... Dia menghilang... Aku hubungin dia... Ponselnya out of service..."

Nanako menjawab pertanyaan Yuu. "Bukannya... Kakak tadi bersama Yosuke-nii chan mengobrol di lorong?"

Mata Yuu terbuka lebar. Dia berusaha bangun dari kasur tetapi, dadanya yang sesak, memaksa Yuu untuk berbaring. "Ga... Gawat... Semua, kalian harus selamatkan Yosuke!"

Semua kaget dengan perintah dari pemimpinnya itu. Yuu menceritakan semua yang ia bisa dari balik masker. "A... Aku dimasukan... Kedalam TV World kemarin, saat paman dan Yosuke meninggalkanku di kamar perawatan sendiri..."

Para investigation team saling memandang satu sama lain. Jadi, yang semalam bersama mereka adalah...

"Ya... Itu Shadowku... Dia mengincar Yosuke karena dia adalah partnerku dan orang terdekatku di team. Dia menginginkan Yosuke dan dia ingin... Membunuhnya..."

"Apa maksudmu, Senpai? Jadi Hanamura-senpai sekarang ada di..."

Yuu menutup matanya. "... TV World..."

"Itu benar..."

Semua pandangan teralihkan pada seorang pria berambut pirang yang baru saja datang dari TV World. "Aku merasakan kehadiran seseorang disana dan tidak salah lagi kalau dia adalah Yosuke. Tetapi, aku tidak bisa mengetahui dimana tempatnya..."

"Kalau begitu, nanti malam kita harus melihat Midnight Channel agar mendapatkan clue dimana dia berada!" Seru Naoto.

Yuu menawarkan dirinya untuk bergabung dengan team. Tetapi sayangnya, dia dilarang oleh Doujima. "Kamu mau melakukan hal berbahaya dengan keadaan seperti ini!? Jangan mimpi, Yuu!

Yuu terdiam dia menundukkan kepalanya. "Tapi ini semua salahku. Yosuke berada dalam keadaan bahaya karena aku. Aku harus menolongnya!"

"Tidak!"

"Paman!"

Nada bicara Doujima pun ia tinggikan. "Turuti ucapanku sekali!"

Yuu tertunduk. Dia benar benar kesal dengan keadaannya saat ini. Lemah... Tidak berguna. Chie menepukkan tangan di dadanya. "Tenang Narukami! Kami bisa mengatasinya selama kami bisa kerja sama! Ya kan, semua?"

Para member Investigation Team mengangguk. Yuu hanya bisa tersenyum pelan. "Terima kasih... Semua. Sebagai pemimpin, aku mengandalkan kalian semua."

"Serahkan pada kami!" seru semua.

XXX

Jam 12 tinggal beberapa detik lagi. Kuma menginap di rumah Doujima dan tidur di kamar Yuu. Alasannya agar orang tua Yosuke tidak khawatir. Dengan menginapnya Kuma di rumah Yuu, ada kemungkinan mereka percaya kalau Yosuke menginap juga.

Detik demi detik terlewati dan sampailah pada jam 12 malam. Kuma berdiri dan berjalan ke hadapan televisi. Munculah suatu image yang jelas tanpa blur. Setting tempatnya itu tampak seperti sebuah ruangan bawah tanah sebuah kastil jaman dulu di Eropa. Sesosok bayangan seseorang muncul dan itu adalah Yuu Narukami dengan mata emas yang tajam dan menyeramkan.

"Selamat malam, para penonton setia Midnight Channel. Setelah sekian lama tidak ditayangkannya saluran ini, sekarang ditayangkan lagi!"

Kuma meneguk ludahnya. Sampai sejauh ini, image senseinya itu masih cukup normal sampai dimana muncul image Yosuke yang tergeletak di lantai dengan kedua tangan, kedua kaki, dan lehernya dirantai. Rantai tersebut dihubungkan dengan beban bulat yang terkesan berat. Kuma mendekatkan wajahnya untuk melihat apa itu benar-benar Yosuke. Dan itu benar! Yosuke sudah berada di TV World dan dia dalam keadaan bahaya. "Yosu-"

Shadow Yuu menarik rantai yang mengikat Yosuke di bagian leher. Wajah Yosuke terlihat seperti kesakitan. Sebuah pisau digoreskan sedikit pada wajah Yosuke sehingga di pipi kirinya keluar darah. "Bagi orang-orang yang ingin menyelamatkannya, kalian janganlah teralu berharap akan berhasil. Karena, mungkin saja... Kepalanya sudah tidak ada. Hahahaha..."

Acara tengah malam itu pun berakhir. Layar televisi sudah kembali menjadi hitam. Kuma gemetar. Shadow senseinya benar-benar menyeramkan. Dia dan tim harus segera menyelamatkan Yosuke. Memang resikonya sangat berat mengingat Yuu adalah orang terkuat di tim. Otomatis, Shadownya pasti kuat. Tapi, mereka tidak ingin Yosuke tewas. Jika itu terjadi, Yuu bisa-bisa menyalahkan dirinya terus menerus. Kuma meneguhkan hatinya.

"Aku akan menolongnya, Sensei..."

XXX

Tanggal 2 Januari 2012. Hari ini adalah hari senin dan kebetulan sekolah libur karena tanggal 1 Januari jatuh pada hari Minggu. Jam menunjukan pukul 10 pagi dan semua anggota Investigation Team sudah berada di Food Court Junes, base camp mereka.

"Tidak kusangka... Narukami-senpai..." ucap Naoto dengan nada lesu.

Rise mengangguk, "Iya... Dan gawatnya, Yosuke-senpai ada disana sebagai tawanan..."

Kanji memukulkan tangannya ke meja sehingga semua anggota tim melihatnya. "Tidak ada gunanya kita diam disini! Ayo kita selamatkan Yosuke-Senpai!"

Chie mengangguk, "Kanji benar! Ayo kita mulai berangkat!"

Yukiko melihat Kuma yang berada di hadapannya, "Bagaimana Nanako-chan?"

Kuma tersenyum lemas. Apa yang dia liat tadi malam membuat dia tidak bisa tidur dan badannya masih sedikit lemas. "Dia tidak apa-apa. Aku sudah menyuruhnya untuk menunggu di rumah dan berdoa untuk keselamatan Yosuke dan Sensei."

Yukiko mengangguk. Dia pun mengajak teman-temannya untuk berangkat sekarang.

Sesampai di Enterance TV World, Rise memanggil personanya dan mulai melacak keberadaan Yosuke. Dibantu oleh informasi dari Kuma, pencarian berbuah hasil. Mereka menemukan dimana letak Yosuke berada.

"Dia ada di daerah sana bersama Shadow Yuu. Ikuti aku!" seru Rise.

Saat mereka mau berangkat, tiba-tiba seseorang muncul dari televisi yang biasa mereka gunakan untuk datang kemari. Seseorang dengan rambut peraknya dan baju musim dinginnya, tiba. Semua mendekatinya. "Narukami?! Ngapain kau disini? Kamu harusnya istirahat!" suruh Chie sambil membantu Yuu untuk duduk.

Yuu menggelengkan kepalanya. Napasnya terkesan berat. "Aku tidak apa-apa... Aku kemari untuk... Membantu kalian..."

"Doujima-san bagaimana?" tanya Naoto.

Yuu menundukkan kepalanya. "Tadi pagi... Dia datang mengunjungiku dan mengintrogasiku..."

"Yuu, aku ingin bertanya padamu mengenai hal kemarin. Apa maksudnya Shadow?" Tanya Doujima dalam flash back Yuu.

"Shadow... Itu adalah... Sisi lain dari seseorang..." jelas Yuu dengan pelan.

Doujima menghela napas. "Jadi, yang kemarin ada disini dan aku introgasi adalah..."

Yuu mengangkat alisnya. "In... Introgasi? Me... Memang... Apa yang dia lakukan?"

Doujima menggaruk kepala belakangnya. "Err...Ceritanya panjang... Yang pasti, kecurigaanku sudah terkuak. Itu bukan kamu."

Yuu memiringkan kepala karena heran. Doujima mulai bercerita. "Kemarin, aku merasakan ada yang aneh denganmu saat kamu baru bangun tidur. Kamu terasa seperti mayat hidup. Aku juga jadi ingat cerita Nanako pada malam setelah beres-beres bekas pesta kalau dia merasakan sesuatu yang berbeda denganmu tetapi, dia tidak bisa jelaskan. Hari ini semua terjawab... Itu bukan kamu..."

Yuu mengangguk. Doujima menghela napas lagi dan mengelus kepala Yuu dengan lembut seperti seorang ayah pada anaknya. "Berjanji padaku kau akan kembali dengan selamat bersama teman-temanmu, Yuu..."

Yuu melihat Doujima. Doujima mengangguk. "Terima kasih, paman..."

Selesai bercerita, teman-teman Yuu saling memandangi. Tak ada salahnya membawa pemimpin mereka karena dia juga sudah mendapatkan izin dari pamanya.

Kuma mengulurkan tangannya untuk membantu Yuu berdiri, "Kalau begitu, jika Sensei sudah kecapean, jangan paksakan dirimu, ya? Shadow masih belum akan datang untuk membabi buta kok..." jelas Kuma . Yuu mengangguk dan berdirilah dengan bantuan Kuma. Konsentrasinya sudah kembali dan dia melihat teman-temannya dengan tatapan lembut. "... Terima kasih... Semua!"

Mereka berjalan menuju dungeon dimana Yosuke berada. Selama perjalanan, Yuu menjelaskan bagaimana dia bisa kabur dari sana. "Shadowku pergi ke duniaku dan mengantikan posisiku disana. Otomatis, disini kosong kan? Itu saat dimana aku harus kabur. Tetapi, dungeon itu berisi Shadow yang kuat. Aku yang tidak bisa memanggil persona, memilih terus berlari. Akhirnya, sampai di Enterance TV World tetapi, tubuhku sudah tidak kuat. Aku pun terjatuh saat kembali ke Junes. Untungnya saat itu ada Satonaka dan Amagi... Terima kasih..."

Senyum Yuu membuat Chie dan Yukiko memerah. "Aaa... Su... Sudah sewajarnya, kan? Ahaha... Kita kan teman..."

Akhirnya mereka sampai di dungeon. Dungeon itu berbentuk seperti kastil jaman perang di Eropa-eropa lama. Bahan bangunan di dominasi oleh batu-batu. Dari luar mungkin terlihat seperti Dungeon milik Yukiko. Tetapi, ini terlihat jauh lebih tua dan angker. Setelah meyakinkan diri, mereka pun masuk dan mulai perjalanan. Lantai satu masih cukup normal. Beberapa Shadow datang menyerang. Mereka berusaha agar Yuu tidak ikut campur dalam pertarungan. Tapi gagal, Yuu tetap diincar oleh Shadow. Dia pun mengangkat pedangnya tapi tubuhnya terasa berat sehingga dia terlihat cukup lesu. Yuu memutuskan untuk guard tetapi, pandangannya berubah menjadi pandangan Velvet Room.

"Selamat datang di Velvet Room!" ucap Igor.

Dia menurunkan tangannya sedikit untuk berbicara dengan Yuu yang ia panggil dengan tiba-tiba.

"... Hooo... Nampaknya ada masalah disini. Anda tidak bisa memanggil persona, kah? Tampaknya anda telah melupakan sesuatu."jelas Igor.

"Eh? Maksud?" heran Yuu.

Sekarang, giliran penghuni Velvet Room yang berbicara, Margaret, "Social Links. Tampaknya anda sudah melupakan Social Links. Orang-orang yang mempunyai hubungan yang kuat dengan anda, mereka akan mengingat dan mensupport anda. Semakin tinggi dia mensupport anda, semakin hebat anda mendapatkan persona."

Yuu tertunduk. Tampaknya benar, Yuu sudah nyaris lupa dengan yang namanya Social Link. Dia hanya memikirkan kalau Shadownya muncul, dia tidak bisa memanggil persona. Padahal masih banyak orang yang mendukungnya, bukan?

"Tampaknya dia sudah mengerti. Kalau gitu, saatnya saya kembalikan anda pada dunia anda..."

Igor pun mulai menghapus pandangan Yuu dan membawa Yuu pada dunia nyata. Dan benar, dia masih dalam posisi guard dan Shadow datang mau menyerangku. "SENSEI!" teriak Kuma. Dan benar kata Igor, disaat genting dihadapan Yuu muncul sebuah kartu dengan arcana Moon.

"Terima kasih... Yuu-kun!"

"Ebi?"

Praaannng...

Dihadapan Yuu, munculah persona dengan nama Sandalphon. Sandalphon mengeluarkan Agneyastra. Shadow pun kalah tetapi kemenangan itu membuat tubuh Yuu terjatuh karena lemas. Semua berlari mendekati Yuu. Kanji berusaha untuk membantu Yuu berdiri. Yukiko mendekati Yuu dan bertanya apakah dia perlu diheal. Yuu menolaknya dengan cara menggelengkan kepalanya.

Yuu melihat tangannya. Kenapa dia bisa memanggil persona? Apakah gara-gara kuatnya Social Links yang dikatakan Igor? Apakah mereka... Berusaha melindungin Yuu?

Pintu terbuka dan berisi tangga menuju basement. Kuma mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Mereka pun berjalan menuju tangga tersebut. Sesampai di bawah, mereka menemukan ruangan yang seperti sebuah arena pertarungan. Tembok yang didomonasi oleh material batu itu, menambah kesan seram dan angker. "Yu... Yuu senpai..." takut Rise sambil memegang tangan Yuu karena ketakutan.

Tiba-tiba suara bergema di ruangan. Suara itu adalah suara anak kecil yang kesepian. "Aku tidak mau sendiri..." mata Yuu melebar karena kaget dengan suara yang ia dengar. Ya, itu suaranya waktu kecil. Lampu menyala dan menyoroti sebuah arena pertarungan. Di atas arena, muncul sebuah panel yang bertuliskan: Yuu Narukami dan Naoto Shirogane. Silahkan anda ke arena. Jika salah satu tidak ada diantara kalian, orang yang hadir di arena akan dibunuh oleh Shadow datang.

"A...Apa ini? Memang ini sebuah game?" kesal Chie.

Yuu tidak punya pilihan lain. Dia harus turun ke arena bersama Naoto. Entah apa yang akan terjadi di arena. "Jangan paksakan dirimu, senpai! Jika yang harus kita lawan itu adalah Shadow, serahkan saja padaku!" khawatir Naoto.

Yuu mengangguk. Sesampai di dalam arena, sebuah barrier muncul untuk menghalangi agar tidak ada orang yang ikut campur. Rise mencoba untuk menghubungi Yuu dan Naoto yang berada di dalam barrier tersebut menggunakan kekuatan Himiko. Untungnya, komunikasi masih berjalan dengan lancar dan jelas. Tiba-tiba, di hadapan mereka berdua, muncul 3 buah Shadow yang sebelumnya belum pernah mereka lihat.

"Senpai..."

Yuu mengangguk. "Bersiaplah, Shirogane..."

Para Shadow pun menyerang. Yuu dan Naoto berhasil menghindari serangan tersebut dengan berlari terpisah ke sisi lain dari arena. "Rise! Analisis!"

"Kelemahannya adalah cahaya! Gunakan Mahamaon!" seru Rise.

"Naoto!"

"Iya senpai! Ayo, Yamato-Takeru!"

Persona Naoto berhasil membunuh 2 musuh. Tetapi, yang masih bertahan berusaha menyerang Naoto. Yuu berusaha melindunginya dan saat dia berlari menuju Naoto, sebuah arcana muncul lagi di hadapannya. Kali ini adalah arcana tower.

"Sensei... Terima kasih..."

Yuu memecahkan kartu itu dan memanggil personanya. "Yoshitsune!" Serangan fisik yang ditujukan pada mereka diblock oleh Yoshitsune. Yuu menyuruh Naoto menjalankan Hamaon lagi. Naoto mengangguk dan mengaktifkan Hamaon. Shadow terakhir mati dan pintu menuju besement terbuka.

Tubuh Yuu oleng lagi dan berhasil ditahan oleh Naoto. "Senpai! Sudah cukup! Serahkan saja pada kami! Senpai bersama Rise saja! Jangan dengarkan omongan Shadow!" kesal Naoto.

Yuu menggelengkan kepalanya dan berusaha berdiri dengan tegak. " Aku tidak apa... Kita lanjutkan saja..."

Sesampai di besment ketiga, suara anak kecil muncul lagi. "Jangan tinggalkan aku sendiri... Ayah? Ibu? Aku takut..."

Tangan Yuu gemetaran. Tapi dia berhasil menyembunyikannya.

"Arena lagi?" kesal Kanji. Tiba-tiba, seperti di lantai sebelumnya, di tengah arena muncul sebuah panel. Kali ini bertuliskan: Yuu Narukami dan Kanji Tatsumi, silahkan ke arena. Jika salah satu dari mereka tidak ada, orang yang hadir akan dibunuh oleh Shadow yang akan muncul nanti. Jika ada yang ikut campur, otomatis orang di dalam arena akan dibunuh.

Kanji menggertak. "Cih... Kenapa begini? Senpai! Serahkan saja padaku! Kau nanti jangan ikut campur!"

Yuu mengangguk dan munculah 3 Shadow yang harus dilawan. Seperti biasa, dia meminta Rise untuk analisis. "Kelemahannya adalah petir! Gunakan Ziodyne!"

"Serahkan padaku! Ayo, Rokuten Ma-Oh!" Personanya mengeluarkan Maziodyne. "Yeah! Senpai! Kita berha- Senpai! Awas!"

Yuu melihat kearah Kanji melihat dan dia menemukan Shadow yang mau menyerangnya. Ternyata Shadow yang tersisa itu ressist dari petir. Rise berteriak, "Kelemahannya adalah api! Gunakan Agidyne!"

Kanji tidak bisa menggunakan skill berelemen api. Berarti, satu-satunya cara adalah Yuu memanggil persona. Tapi, bagaimana? Selama ini dia tidak memanggil persona. Dia hanya dilindungi oleh arcana-arcana yang berasal dari Social Link yang dia bangun. Pemikiran Yuu benar! Disaat genting, muncul sebuah arcana Hanged Man.

"Anda berbeda dengan yang lain, Senpai..."

Praaannngg..

Munculah persona dengan nama Attis. Dia pun menggunakan Agidyne-nya dan berhasil mengalahkan Shadow tersebut. Seiring personanya menghilang, tubuh Yuu jatuh kembali. Setiap dia memanggil persona, pasti berakhir seperti ini. "Senpai!" seru Kanji sambil menangkap tubuh Yuu.

Barrier yang berada di arena pun menghilang dan rekan-rekan yang lain bisa mendekati mereka. "Narukami-kun! Kita lebih baik kembali sekarang! Keadaanmu semakin parah saja!" jelas Yukiko.

Napas Yuu terengah-engah. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak... Apa... Amagi..."

"... Tapi!"

Yuu tersenyum. "Aku masih bisa... Jalan... Tenanglah..."

Yukiko terdiam. Padahal dia sebenarnya ingin sekali melawan ucapan Yuu. Yuu mencoba berdiri dengan tumpuan bahu Kanji dan berhasil. Naoto sedikit terdiam. "Senpai..."

"Ya?"

"Katanya kau tidak bisa memanggil persona. Tapi kok..." ragunya.

Yuu mengangguk. "Saat aku menyelamatkan diri, aku memang tidak bisa memanggil persona. Tapi, saat aku bersama kalian dan aku harus melindungi kalian, tiba-tiba teman-temanku memberi kekuatan dalam bentuk persona. Mungkin itu yang bisa kusimpulkan sejauh ini..."

Semua terdiam. Ikatan kuat diantara orang-orang yang pernah Yuu temukan, membuat dia dan teman-teman Investigation Team berhasil sejauh ini. Itulah kekuatan sejati dari persahabatan.

"Teman-teman... Sekarang kita harus fokus dengan satu hal yaitu, menyelamatkan Yosuke. Aku butuh kerja sama dari kalian semua. Ayo, kita bebaskan dia dari Shadowku!" semangat Yuu dengan energi yang tersisa. Para Investigation Team menyambut baik perintah leader-nya itu.

Sedangkan di besement paling bawah di tempat Yosuke dan Shadow Yuu berada...

"Kenapa? Kenapa dia masih bisa memanggil persona? Padahal dia sudah hilang arah kan? Kenapa?" kesal Shadow Yuu sambil menendang-nendang kursi yang sudah hancur.

Yosuke yang tergeletak di lantai beralaskan karpet merah, mendapatkan kesadaran. Dia melihat sekitar dengan pandangan yang buram. Kepalanya pusing dan dia merasakan kalau pipinya itu basah. Dia bisa merasakan kalau yang membuat pipinya basah itu akibat darah. Tercium dari bau besi disekitar hidungnya.

"SIAL!" teriak Shadow Yuu.

Yosuke yang mendengar hal tersebut, melihat Shadow milik sahabatnya itu secara diam-diam. Terlihat kalau dia sedang bad mood dan marah-marah. Yosuke tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menunggu teman-temannya untuk menyelamatkan dia. Tapi dia tidak berharap untuk diselamatkan karena mereka pasti akan melawan Shadow Yuu dimana Yuu adalah orang terkuat di tim. Matanya pun terpejam karena efek dari kepalanya yang pusing.

"... Yuu... Jangan kemari..."


TO BE CONTINUED


Author's Note: Woho... Karena lagi libur kuliah seminggu, aku menyelesaikan fic ini cukup cepat... Tapi tampaknya sedikit maksa ya? == Writer's blockku nyaris kambuh disaat terakhir. Dan sialnya, seiring selesainya fic ini, aku masuk kuliah lagi dan gak yakin ini fic akan beres dan di update dengan cepat ... Ok deh... Kalau begitu, Ja'mata di chapter selanjutnya~