Silence
Summary : Sawada Tsunayoshi tidak dapat mengeluarkan suaranya akibat shock yang dialaminya saat berumur 15 tahun. Merasa kesepian karena kehilangan keluarganya, Alaude, mengaku dirinya sebagai teman kakaknya yang sudah meninggal bahwa ia akan hidup bersamanya dan membantunya mengembalikan suaranya. Namun beberapa tahun hidup dalam kedamaian, kemudian berubah 180 derajat setelah bertemu dengan orang yang pernah ditemuinya 10 tahun yang lalu yang merupakan cinta pertamanya
Warning : Yaoi, het, suspense.
Genre : Drama, angst, hurt/comfort, tragedy, romance
Pairing : 1827, AG, 1896, A27, etc.
Disclaimer : KHR is not mine. Kalo saya yang punya KHR, gak ada yang namanya Chrome Dokuro. 6927, 8018, DaeG udah saya bikin pair canon /duagh.
Note : Ciao..ciao minna! Kita ketemu lagi di chappi 2. Lega juga akhirnya bisa apdet ini fic. Gomen saya apdetnya lama soalnya saya ada tuh yang namanya UJIAN, dan akhirnya SELESAI, dan ntar lagi ada yang namanya TES SNMPTN jadi intinya masih KUDU harus BELAJAR. Tapi tenang aja, disaat waktu istirahat ini saya akan mengapdet fic-fic saya yang terbangkalai. Oke silahkan nikmati chap. 2 nyaa~~~
'Thinking' ngomong biasa.
'Thinking' dalam hati.
'Thinking' Kode Tsuna buat berkomunikasi dengan orang lain.
Enjooyyy this sort of chapter 2..
Chapter 2 : "Hai!" "Hello!"
…entah bertemu dengannya merupakan hal baik atau sebaliknya. Aku merasa, dia tidak ingat denganku… (Hibari Kyoya)
(10 tahun yang lalu, Namimori) (Hibari's POV)
Aku duduk diranjang rumah sakit yang kecil disebuah desa di Namimori. Alasan aku terbaring diranjang keras dan kecil ini karena kakak kelasku di SD memukuliku dan aku berakhir terbaring dirumahh sakit. Kaki kananku patah dan tidak boleh digerakkan selama beberapa hari. Rumah sakit ini kecil sekali, lebih kecil dari rumahku yang ada di kota (A/N : Hohe, rumahnya Kyoya sebesar apa emangnya?).
Terlebih lagi aku sendiri. Kedua orang tua-ku lagi berada diluar negeri mengurusi peruhasaan mereka yang berada di Negara lain dan sedangkan kakakku, aku sama sekali tidak mengharapkannya untuk datang.
Yang sering masuk ke ruanganku hanyalah suster dan pasien lain yang merupakan satu ruangan denganku. Dikamarku ada seorang wanita setengah baya. Ia mempunyai rambut berwarna cokelat panjang.
"Ara…kakimu kenapa?" tanyanya.
"Patah," jawabku singkat.
"Kasihannya. Kemana orang tuamu?" tanyanya.
"Mereka sedang diluar negeri," jawabku singkat. Orang ini sepertinya banyak bertanya.
"Kalau aku jadi orang tua mu, aku pasti tidak tega meninggalkan anakku sendiri," eh- "Aku punya dua ana laki-laki. Namun anakku yang paling tua bersekolah di SMP Namimori, sedangkan yang satunya masih SD dan bersekolah di desa ini. Karena terlalu jauh untuk pulang – pergi, anakku yang paling tua tinggal dengan ibuku," jelasnya.
"Yang paling muda, bagaimana?" tanyaku ragu.
"Dia sendiri. Suamiku meninggal dunia akibat kecelakaan bus 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku sakit-sakitan begini. Dokter bilang hidupku sudah tidak akan lama lagi," jelasnya lagi. Entah kenapa aku jadi mendengar cerita ibu itu.
"Mama!" aku mendengar teriakan anak kecil dari luar ruangan dan kemudian dapat aku lihat anak kecil berlari masuk ke ruanganku dan perempuan tengah baya itu. Nampaknya itu anaknya.
Anaknya berambut cokelat jabrik kemudian ia memiliki kedua mata cokelat yang besar. Perawakannya hampir mirip dengan anak perempuan.
"Ah…errmm – "
"Kyoya. Namaku Hibari Kyoya," ucapku menyebutkan namaku. Mungkin ia ingin menyebutkan namaku namun tidak mengetahuinya.
"Yoroshiku Kyoya-kun. Namaku Sawada Nana. Dan ini anakku Sawada Tsunayoshi. Nah Tsu-kun, itu Kyo-kun," ucapnya. Dan Nana-san langsung memanggilku dengan nama kecilku. Aku melihat bocah bernama Sawada Tsunayoshi.
"Yo-yoroshiku Hibari Kyoya-san," ucapnya takut-takut.
"Yoroshiku Sawada Tsunayoshi," balasku. Aku tersenyum kepadanya dan bocah bernama Sawada Tsunayoshi itu membalas senyumanku.
Aku tidak menyadari bahwa bocah itu yang sedikit demi sedikit mengubah kehidupanku.
Aku berjalan ditengah keramaian kota Namimori yang dingin. Walaupun sekarang baru musim gugur, namun hawa dingin sudah menyelimuti kota ini. Dan jugaaaa aku lupa memakai syal dan sarung tangan. Kenapa kebodohanku muncul disaat-saat yang tidak tepat seperti ini. Alhasil aku kedinginan. Dan SANGAT kedinginan. Aku mempercepat langkahku agar sampai ke tempat tujuanku, dan aku dapat menghangatkan diriku disana.
Kemudian, ada seorang pria yang menyenggol tubuhku. Namun kuusahakan diriku agar tidak terjatuh. Pria yang menyenggolku itu langsung pergi tanpa meminta maaf padaku. Pria aneh. Kemudian baru kusadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari saku celanaku. Aku meraba saku belakang celanaku yang dimana terdapat dompetku. Kemudian baru kusadari bahwa dompetku tidak ada, dan aku langsung menyimpulkan bahwa pria yang tadi menyenggolku lah yang mencuri dompetku. Sial!. Disaat seperti inilah aku menyesal bahwa aku tidak dapat mengeluarkan suaraku.
Saat aku baru saja ingin mengejarnya, aku melihat seorang pria yang berlari dari belakangku menuju kearah si pencuri. Setelah berambut hitam itu mencapai si pencuri, ia langsung menghajar si pencuri itu dengan tonfanya yang entah dimana ia simpan.
Aku langsung berlari kearah si pria berambut hitam yang telah menghajar si pencuri. Aku melihat wajah sang pencuri ketakutan dan memegang pipinya yang memerah akibat dihajar tonfa sang pria berambut hitam.
"Oy, kembalikan dompet nona ini!" ucap pria berambut hitam itu. Tapi, nona? Tuan saya laki-laki tuan! Umpatku dalam hati. Kemudian pencuri itu menyerahkan dompetku ke pria berambut hitam itu dan kemudian lari terbirit-birit.
"Ini punyamu kan?" ucapnya sembari menyerahkan dompetku. Aku mengeluarkan note book ku dan menulis sesuatu.
"Terima kasih," tulisku kemudian memberikannya ke pria itu. Lalu aku melihati pria yang berdiri didepanku itu. Wajahnya tampak familiar dengan seseorang. Namun, dimana aku pernah bertemu dengannya? Pikirku dalam hati. Lalu aku teringat dengan senpai-ku sewaktu SMP yang merupakan ketua kedisiplinan di SMP Namimori. Mirip sih tapi…masa' sih?
"Hn…sama-sama," jawabnya. Keadaan hening sejenak. Pria itu melihatiku.
"Kau…Sawada Tsunayoshi?" ucapnya. Hiiiieee bagaimana ia tahu namaku? Jangan-jangan, dia ini Hibari-san? Tanpa kusadari aku langsung berlari. Entah mengapa aku langsung berlari menghindarinya. Aku tahu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Hibari Kyoya yang kukenal 5 tahun yang lalu. Namun aku takut akan kenyataan. Aku takut akan kenyataan bahwa ia melupakanku dan tidak menerima keadaanku yang tidak dapat berbicara.
Aku mengubah tujuanku yang awalnya aku ingin ke panti asuhan Yorozuya dan langsung pulang kerumah.
Rumah masih sepi. Alaude-san malam ini pulang telat lagi. Aku berjalan lunglai menuju kamarku. Aku langsung menutup pintu kamarku dan lututku yang daritadi berusaha sekuat tenaga menyangga tubuhku langsung kehilangan tenaganya dan aku langsung terduduk dilantai kamarku.
Padahal aku belum siap kalau harus bertemu dengannya lagi.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Tok..tok...
Aku mendengar pintu kamarku sedang diketuk. Aku membuka mataku. Kusadari ternyata aku mengunci pintu kamarku. Aku membuka pintu dan aku melihat Alaude-niisan berada didepan pintu.
"Tsunayoshi," ucap Alaude-niisan.
"Ada apa?" tanyaku memberikan kode yang biasa kugunakan. Kulihat Alaude-niisan menghela nafas.
"Aku kira terjadi sesuatu yang buruk padamu," jelas Alaude-niisan kemudian ia terduduk dilantai didepan kamarku. Akupun duduk dilantai seperti yang Alaude-niisan lakukan.
"Aku baik-baik saja kok. Kenapa Alaude-niisan berpikiran seperti itu?" tanyaku.
"Pintu depan tidak terkunci dan juga kuncinya masih menyangkut dilubang kunci kupikir – " belum selesai Alaude-niisan berbicara aku langsung terkikik.
"Ada apa?" Tanya Alaude ketika melihatku terkikik. Aku menggeleng.
"Tidak ada apa-apa kok," ucapku bohong sambil berusaha menahan tawaku. Alaude-niisan memandangiku dengan ujung matanya yang tajam. "Alaude-niisan terlalu khawatir," akhirnya aku mengatakannya.
"Anehkah aku terlalu khawatir padamu?" tanyanya balik. Aku menggeleng. "Lalu?" tanyanya lagi.
"Alaude-niisan terlalu baik padaku. Padahal kita baru bertemu saat oniisan meninggal," jelasku. Bisa kulihat Alaude-niisan mengangguk. "Bukannya aku ragu akan kebaikan Alaude-niisan, cuma…" sambungku lagi. Alaude-niisan masih memperhatikanku. Errmm salah , gerakan tanganku.
"Hn?"
"Alaude-niisan mengenalku…" aku memegang dada Alaude-niisan. Aku memberikan kode kepada Alaude-niisan. "Tapi aku tidak mengenal Alaude-niisan,"
"Tsunayoshi, sudahlah itu tidak perlu," jawabnya. Andai sekarang aku bisa mengeluarkan suaraku, mungkin aku sudah meneriaki Alaude-niisan.
Aku menggeleng.
"Bukan itu maksudku," aku memberikan kode lagi.
"Baiklah akan kujelaskan," ucap Alaude-niisan menyerah. Aku menatap kedua mata Alaude-niisan yang berwarna biru terang.
"Aku…memilih untuk tinggal bersamamu dan menolongmu karena Giotto adalah temanku. Lalu, aku punya utang padanya. Kemudian…" Alaude-niisan menghentikan kalimatnya. Aku memiringkan kepalaku. Alaude-niisan melihat kearahku. "…tidak apa-apa," jawab Alaude-niisan. Setelah itu kulihat sikap Alaude-niisan langsung berubah. Sebenarnya, apa hubungan Alaude-niisan dengan niisan?
Aku memasuki apartemenku dan langsung menjatuhkan badanku diatas sofa Tidak salah lagi pemuda itu adalah Sawada Tsunayoshi. Tapi, dia bisu? Bagaimana bisa? Dan juga, aku menemukan handphone milik Tsunayoshi terjatuh saat ia berlari menghindariku. Aku memandangi hanphone flip-top berwarna orange itu kemudain membukanya. Saat membuka Hp tersebut, aku dapat melihat wallpaper hp itu. Tidak tertarik dengan wallpaper hp itu, aku langsung membuka menu utama dan membuka gallery hp tersebut. Disana aku banyak melihat gambar yang menurutku tidak penting sama sekali. Dasar herbivore selalu melakukan hal yang tidak berguna. Aku terus memencet tombol 'next' sampai akhirnya aku menemukan gambar yang berbeda dari gambar sebelumnya.
Aku melihat foto seorang lelaki berambut kuning seperti mayonnaise sedang tidur pulas diatas sofa. Mataku membesar melihat foto di ponsel itu. Bukankah itu Alaude? Kenapa Sawada Tsunayoshi bisa mempunyai foto Alaude? Aku melihat tanggal foto itu diambil. Sudah 3 tahun yang lalu. Alaude menghilang 5 tahun yang lalu. Sedangkan foto ini diambil 3 tahun yang lalu, berarti 3 tahun yang lalu Alaude tinggal bersama Tsunayoshi. Lalu, mungkin saja… Tidak. Aku tidak mau berpikir seperti itu. Aku harus memastikannya lebih dulu.
GYAAAAA! Aku berteriak di dalam pikiranku. Aku baru menyadari ternyata hp – ku hilang. Garis bawahi, aku baru menyadarinya sekarang. Bodoh, bodoh! Dan parahnya sekarang sudah pukul 11.00 AM.
Aku memutuskan untuk memberitahukannya kepada Alaude-niisan. Aku berjalan keluar kamar, kemudian berjalan sekitar 50 cm agar dapat mencapai kamar Alaude-niisan.
Aku mengetuk pintu kamarnya, dan kemudian ia mempersilahkan aku masuk. Aku membuka pintu kamar Alaude-niisan dengan perlahan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Aku dapat melihat Alaude-niisan duduk di meja belajarnya dengan sebuah laptop di hadapannya di tambah dengan kacamata bacanya.
"Ada apa Tsunayoshi?" Tanya Alaude-niisan sembari melepas kacamatanya kemudian melihatku yang duduk di ranjangnya.
"Aku…" jelasku ragu.
"Hn, kenapa?" Tanya Alaude-niisan lagi.
"Aku…menghilangkan handphoneku," jelasku dengan menggunakan kode yang biasa kulakukan.
Keadaan hening sejenak. Alaude-niisan memiringkan kepalanya dan kemudian berkata, "Aku akan membelikan yang baru". Spontan aku langsung menggelengkan kepalaku.
"Kau tidak mau kubelikan hanphone yang baru?" tebak Alaude-niisan. Aku mengangguk. "Kenapa?" tanyanya. Aku kaget mendengar pertanyaan Alaude-niisan. Aku tidak mau hanphone baru karena, di hanphone yang hilang itu, terdapat banyak sekali foto Alaude-niisan, dan tidak mungkin aku menyebutkan hal itu.
Aku diam. Tidak tahu harus mengatakan apa.
"Baiklah. Aku akan mencari handphone mu di tempat kau menjatuhkannya. Sedangkan kau tunggu saja," ucap Alaude-niisan, dan akhirnya mau mencarikan handphone-ku.
Aku tersenyum. "Arigatou Alaude-niisan. Besok, aku mau ikut," ucapku.
"Baiklah," jawab Alaude-niisan. Aku tersenyum lagi. Kemudian aku keluar dari kamar Alaude-niisan, kembali ke kamarku kemudian tidur.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Esok harinya, kami pergi dari rumah jam 10 pagi. Alaude-niisan memutuskan pergi jam segitu karena keadaan kota jam segitu tidak terlalu ramai. Alaude-niisan sebenarnya tidak suka keramaian, tapi tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dan memilih untuk diam dan mencarikan hanphone-ku yang hilang.
Kami sampai di daerah taman kota Namimori, tempat aku menjatuhkan hanphone ku. Aku menunjukan tempatku saat aku ditabrak orang asing dan dompetku nyaris dicuri orang itu.
"Tsunayoshi, kau tunggu di bangku taman dulu ya. Biar kucari handphone mu," ucap Alaude-niisan sambil menunjuk bangku taman yang letaknya cukup jauh dari tempat kami berada. Namun aku memutuskan untuk diam dan menuruti kata Alaude-niisan. Aku mengangguk dan berjalan menuju bangku taman itu.
Alaude membuka tutup flip-top handphone-nya dan menghubungi nomor seseorang. Kemudian ia membalikkan badannya dan melihat seorang pria yang beberapa tahun lebih muda darinya, dengan rambut berwarna hitam legam. Pria itu sedang menempelkan handphone flip-top berwarna orange di telinganya. Handphone orange itu sangat familiar di matanya karena itu adalah handphone milik Tsunayoshi.
"Sudah lama sekali ya, Alaude" ucap pria berambut hitam legam itu. Muka pria itu sangat mirip dengan Alaude, bahkan model rambutnya pun sama. Hanya beda warnanya, dan warna mata pria berambut hitam itu.
"Hn, apa kabar Kyoya – otoutou?" Tanya Alaude kepada pria berambut hitam yang berada didepannya itu, yang juga merupakan adik laki – laki nya.
- To be continued -
Oke Minna segitu dulu buat chappie 2 nya. Hope you like it. Mohon maaf apabila ad aide atau ada plot yang dikiranya nggak nyambung atau aneh dan mohon di Review.
Arrivederci… - Yamamoto Reika -
