Chapter 2: What the Hell was that?
Apa katanya? Tunangan? Hal seperti itu bisa terjadi dalam 3 hari saja? Oke, 3 hari itu lumayan lama. Tapi kenapa harus 'tunangan'? apa tidak ada hal lain yang sama besarnya dengan itu?
"Alois!" geram Ciel, dengan pipinya yang memerah.
"Wah, ada yang merah nih~" ucap Alois dengan girang sambil mencubit hidung kecil Ciel, senang melihat ekspresinya yang malu-malu itu. Ciel jarang sekali memperlihatkan wajahnya yang seperti itu, atau lebih tepatnya tidak pernah. Elizabeth pun tidak pernah melihatnya. Apa ekspresinya itu khusus untuk 'Alois'?
Alois dan Ciel asyik sendiri, hingga Elizabeth tidak tahu harus melakukan apa. Ia tahu kalau ia harus memberi respon, tapi respon seperti apa? Memberi selamat? Tidak, ia tidak berani. Ia punya firasat jika ia memberi selamat, mungkin ia akan menangis.
Dan kalau dia tidak merespon, mungkin Alois akan membuat asumsi bahwa Elizabeth tidak senang dengan pertunangan mereka. Itu jelas akan menyinggung dan mungkin saja Alois akan menindas Elizabeth.
"Elizabeth?" ucap seseorang, menyadarkan Elizabeth dari lamunannya. Alois. "Kau kenapa? Kau sakit?" lanjutnya. Apa ia benar-benar khawatir?
Elizabeth menggeleng, membuat Alois terlihat lega, lalu kembali beralih ke arah Ciel. "Hei, Ciel! Kita ke taman yuk! Aku ingin melihat bunga-bunganya!"
"Aku malas, ah. Lagipula kerjaanku masih banyak,"
"Maaf, tuan muda," sela Sebastian. "Pekerjaan apa yang anda maksud? Kalau tidak salah, anda sudah menyelesaikan semuanya kemarin agar dari sore h\ari anda bisa pergi ke hutan,"
Ciel mendelik. 'Kenapa orang ini pakai memberitahu hal itu?!' batinnya. Alois senang mendengarnya. "Tuh kan? Kau berbohong lagi padaku! Sekarang, kita ke taman!"
Ciel hanya menurut untuk diseret Alois ke taman, meninggalkan Elizabeth sendirian duduk di meja makan. Paula merasa ada yang membuat tidak nyaman di sana, dan akhirnya menawarkan Elizabeth untuk pergi ke taman juga, tapi tidak ke tempat yang sama dengan Ciel dan Alois tempati.
Elizabeth berjalan dengan lemas. Ia jadi ingin kembali jadi merpati saja kalau seperti ini caranya. Paula yang mengikutinya dari belakang jadi merasa khawatir. Memang dari saat Paula menemui Elizabeth di kamar, Elizabeth sudah terlihat tidak bersemangat, tapi saat ini lebih parah.
"A-anu..nona Elizabeth-"
"kau tidak perlu sekaku itu padaku, Paula. Panggil aku Elizabeth saja," ucap Elizabeth, tidak memberi kesempatan untuk Paula menyelesaikan kalimatnya.
"t-tapi nanti saya akan dimarahi tuan muda, nona," jawabnya, sambil menunduk dan meremas bajunya. Elizabeth hanya tersenyum, seperti mengatakan 'tidak apa-apa'. Paula terdiam. 'nona yang baik...'
xXxWatashiNoJikanxXx
Di taman, Elizabeth dan Paula sama sekali belum memulai pembicaraan apapun juga. Memang mereka berada di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama, tapi ternyata apa yang ada dalam kepala mereka sama sekali berbeda.
Paula hanya diam, memikirkan apa dia saja yang memulai percakapan atau tidak. Karena kelihatannya mood Elizabeth tidak bagus, jadi kalau melakukan tindakan yang salah kemungkinan besar akan tambah merusak suasana.
Apa yang dipikirkan Elizabeth? Sekarang kita lihat ke mana arah pandangannya. Alois dan Ciel yang sedang asyik duduk-duduk rupanya. Pandangannya luar biasa muram. Padahal baru kemarin ia merasa kegirangan bisa tinggal dengan Ciel di bawah satu atap untuk sementara, tapi ternyata ada kata 'pertunangan' yang menghalangi sehingga tidak dapat mencapai kebahagiaan maksimal. Ah, lihatlah. Ciel tertawa ketika Alois tertawa. Seketika Elizabeth jadi merasa...aneh. ia ingin melihat Ciel tertawa juga saat Alois pergi.
Ia tidak kuat kalau terus-menerus memendam perasaannya yang semakin lama jadi semakin kusut. Ia ingin menumpahkan semuanya sebelum perasaan kusutnya itu menjadi sama sekali tidak bisa dilepaskan lagi. Tapi pada siapa? Elizabeth masih belum terbiasa dengan Paula, dan lagi mereka juga masih lumayan canggung.
"N-nona?" lagi-lagi lamunan Elizabeth pecah. "Nona kenapa? Kalau ada yang nona risaukan, saya akan dengarkan. Tapi yah mungkin tidak terlalu membantu,"
Wah, bagus sekali. Ini dia yang Elizabeth tunggu. Satu poin kebaikan Paula tercatat di benak Elizabeth, karena hanya dengan itu, Elizabeth merasa kekakuan antara mereka mulai merenggang.
"kau mau dengar?" balasnya, terulas senyum tipis di wajahnya. "itu akan sangat meringankan bebanku. Tapi aku harap kau tidak akan menertawakanku atau memberitahukan isi ceritaku pada siapapun," Paula mengangguk, bertanda dia menyetujuinya.
"Sebelum aku bercerita, boleh aku mengajukan pertanyaan? Seandainya kau menyukai seseorang yang sebenarnya kau tahu kalau kau tidak bisa menggapainya, lalu Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan untuk bersamanya walau hanya sebentar. Tapi ternyata orang yang kau sukai itu sudah mempunyai ikatan kuat dengan orang lain?"
Paula terhenyak mendengarnya. "No-nona.. menyukai..tuan muda?" Elizabeth terdiam. Pertanyaannya memang bisa langsung memberitahu apa masalahnya. Siapapun pasti bisa.
Walaupun tidak mendapat respon, Paula bisa menganalisis jawabannya jika mendengar suara isakan yang mendalam dari Elizabeth. Suasana sangat menyesakkan, padahal di tempat mereka –Ciel dan Alois terlihat sangat berwarna dan menyenangkan.
"Nona, saya mengerti perasaan nona. Tapi, bukankah nona dan tuan muda bertemu di hutan untuk pertama kali? Bagaimana bisa nona sudah menyukai tuan muda bahkan sebelum bertemu dengannya?" Elizabeth menghentikan isakannya sebentar, sama sekali tak terkira bahwa Paula ternyata mempunyai pemikiran yang tajam. "Lain kali akan kuceritakan, Paula," balasnya dengan disertai sedikit sesenggukan. Paula lebih memilih diam daripada salah berkata.
"Paula, apa saja yang kau ketahui tentang tuan Ciel?" tanya Elizabeth, ingin memulai topik baru sekaligus menghilangkan jarak di antara mereka. Paula memutar otak, berusaha mengingat hal-hal khusus Ciel.
"Yang saya tahu, tuan muda hanya pengusaha perusahaan Funtom, anjing penjaga ratu dan sangat suka makanan manis," Elizabeth ber-'oh', karena hal-hal itu sudah diketahuinya. Tidak adakah hal baru yang bisa ia ketahui mengenai tuannya tercinta?
"Ah! Saya pernah mendengar sesuatu dari Maylene!" Elizabeth terkejut mendengarnya, dan lagi ekspresi Paula terlihat sedikit muram. "orangtua tuan muda tewas terbakar, dan tuan muda pun hilang. Di bongkahan arang bekas terbakar mansion, hanya ditemukan tulang-belulang orang dewasa. Sudah diadakan pencarian secara menyeluruh, tapi tuan muda tetap tidak berhasil ditemukan, dan akhirnya diputuskan tuan muda sudah tewas juga bersama orangtuanya sekaligus,"
Elizabeth kali ini terkejut. Padahal ia sudah lumayan lama tinggal di sana, tapi tidak pernah ia dengar tentang hal ini sekalipun. Memang ia selama dalam wujud merpati, tahu mengenai tuannya yang sudah tidak punya orangtua, tapi... tewas terbakar? "Lalu? Tuan Ciel ditemukan di mana?"
"Bukan ditemukan. Tuan muda tiba-tiba saja kembali setelah sebulan, disertai Sebastian di sampingnya. Tapi itu masa-masa saat Maylene belum dipekerjakan, jadi dia tidak tahu banyak," balas Paula, berusaha mengingat-ingat, mungkin saja ada yang terlewat. "Ah, Tanaka-san sudah bekerja di sini sejak kepala keluarga Phantomhive generasi pertama! Dan dia juga orang yang selamat dari peristiwa kebakaran selain tuan muda,"
'Kalau begitu akan kucoba tanyakan padanya nanti' batin Elizabeth. Ia ingin tahu apa saja yang terjadi pada saat itu, dan lagi tentang Sebastian yang tiba-tiba sudah dipekerjakan oleh Ciel sendiri, padahal saat itu pasti Ciel tidak punya apa-apa untuk menggaji Sebastian.
Waktu terus berjalan. Kata-kata itu tetap berlaku di sini. Buktinya hari sudah semakin gelap, dan Paula mengajak Elizabeth masuk ke dalam mansion. Lagipula Ciel dan Alois juga sudah tidak di taman.
Sesampai di ruang makan, mereka mendapati Sebastian dan seorang pria tinggi berkacamata. Oh, jangan lupakan tentang Ciel dan Alois yang sedang bercanda di meja makan, yah atau lebih tepatnya Alois yang melontarkan lelucon.
"Selamat datang, nona. Makan malam sudah siap," sambut Sebastian, ramah. Paula mempersilakan Elizabeth duduk di meja yang sama dengan Ciel dan Alois, tapi Sebastian melarang. "Maaf, saya lancang. Tapi tuan muda dan nona Alois sedang mengakrabkan diri, apalagi tuan muda yang merasa segan dengan orang baru. Jadi, saya sudah siapkan tempat lain untuk nona Elizabeth.
Mendengar itu, Elizabeth merasa malu. Ia dianggap pengganggu antara Ciel dan Alois. Paula berniat menentang Sebastian, tapi hanya dengan tatapan tajam Sebastian, Paula membatalkan niatnya. Sebastian tidak menerima penolakan atau kata 'tapi' di sini, jadi dia hanya diam dan menunggu Elizabeth untuk menuruti saja.
Elizabeth dengan gemetar dan hampir menangis, berusaha membantah. "A..a..a-ku..."
"Kalian sedang apa? Kenapa kalian tidak mempersilakan Elizabeth duduk seperti yang kalian lakukan pada Alois?"
suara Ciel memotong bantahan Elizabeth, dan berhasil membuat mata Sebastian terbelalak. "Kau, Sebastian. Apa yang kau lakukan pada tamu? Aku tidak ingat pernah menyuruhmu untuk menyiapkan tempat lain untuk Elizabeth. Apa kau berniat untuk membantahku?"
Sebastian yang ditanyai seperti itu, bingung harus menjawab apa. "Tapi, tuan muda-"
"kau tahu kan aku tidak suka kata 'tapi'?" Ciel rupanya tidak ingin memberi kesempatan untuk Sebastian menyelesaikan kalimatnya. "Sekarang, aku harap kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan,"
Sebastian menghela napas. "Baiklah," Sebastian lalu menolehkan kepalanya ke tempat Elizabeth berada. "Nona Elizabeth, maafkan kelancangan saya. Saya akan segera menyiapkan tempat untuk anda," Elizabeth yang takut akan Sebastian yang berubah emosi dengan sangat cepat, hanya mengangguk.
Paula akhirnya lega, nonanya bisa semeja dengan yang lain. Ia langsung mempersilakan Elizabeth duduk, menunggu Sebastian menghidangkan makan malam. Tapi tetap saja Elizabeth merasa tidak layak dan mengganggu. Dengan enggan, ia duduk di sebelah Alois. Air mukanya sangat membuat orang iba, dan itu berlaku pada Ciel dan Alois.
"Elizabeth, kau tidak apa-apa? Sebastian akhir-akhir ini memang menyebalkan," tanya Alois, ingin melenyapkan kekakuan di sana. Ciel juga baru saja ingin bertanya, tapi sudah didahului Alois. Elizabeth tersenyum tipis, seakan berkata 'tidak apa-apa'.
"Kau benar tidak apa-apa? Aku akan menghukumnya nanti. Dia benar-benar lancang, padahal aku sudah 'membayar'nya mahal-mahal," timpal Ciel, bersungut-sungut di tempat. Elizabeth ingat tentang yang diceritakan Paula tadi.
'Bukan ditemukan. Tuan muda tiba-tiba saja kembali setelah sebulan, disertai Sebastian di sampingnya'.
Rasanya...benar-benar aneh. Apalagi Ciel berkata dia sudah membayarnya mahal-mahal. Iya juga sih, butler yang punya banyak bakat itu pasti tidak mau dipekerjakan dengan harga murah. Dan lagi kalau dia jadi Sebastian, dia akan menganggap remeh Ciel. Secara, Ciel masih bocah dan berkata akan membayarnya dengan harga yang sangat mahal. Sulit dipercaya, kan?
Sebastian yang sudah kembali segera mempersiapkan makan malam untuk Elizabeth, dan akhirnya mereka mulai makan. Mungkin Alois pantas untuk diberi ucapan terima kasih, karena adanya dia kekakuan di antara mereka bertiga hilang karena suaranya yang melengking dan lelucon-leluconnya.
xXxWatashiNoJikanxXx
"Nona, tadi nona tidak apa-apa kan? Maaf, tadi saya tidak membela nona. Sebastian punya aura-aura menyeramkan, saya takut padanya," ucap Paula, tertunduk karena kejadian tadi.
"Tidak apa, Paula. Aku juga takut padanya. Dia terlalu suram,"
Sekarang Elizabeth dan Paula sudah berada di kamar karena makan malam sudah selesai. Paula berjalan mendekati lemari untuk mengambil gaun tidur Elizabeth, sementara Elizabeth sendiri menatap bulan penuh yang sekarang sedang menghiasi langit malam. Sekarang perasaannya sudah lebih lega karena sudah punya Paula sebagai teman berbagi cerita.
"Mari, nona. Saya bantu ganti," ucap Paula sambil tersenyum ramah, dengan gaun tidur di tangannya. Elizabeth mengangguk ringan, dan berjalan mendekati Paula.
"Eh, Paula. Menurutmu- ini menurutmu ya. Tuan Tanaka itu seperti apa?" tanya Elizabeth, membuka percakapan. Paula yang sedang melepaskan korset yang Elizabeth pakai.
"Hmm... bagaimana ya? Saya sih tidak suka mengomentari orang, nona. Tapi menurut saya sih ya tuan Tanaka itu lumayan misterius –walaupun tidak semisterius Sebastian. Dan dia juga bisa diandalkan di saat-saat darurat... tapi entahlah, saya juga tidak dekat dengannya, nona. Apa nona kepikiran tentang yang saya ceritakan tadi siang?"
"Eh? Kenapa kau bisa tahu?" Elizabeth kaget dan langsung menoleh ke tempat Paula yang sudah mulai mengambilkan gaun tidur.
"Tentu saya tahu, yang saya ceritakan tadi kan bukan cerita biasa yang bisa didengar di banyak tempat. Lagipula nona yang baru di sini sudah penasaran tentang tuan Tanaka yang hari ini tidak kelihatan. Itu pasti karena tadi saya bilang tuan Tanaka adalah satu-satunya orang yang selamat selain tuan muda, kan?" dugaan Paula benar. Elizabeth lumayan kagum, walaupun itu juga lumayan wajar untuk terlintas di pikiran orang biasanya.
Sebenarnya Elizabeth sudah tahu tentang tuan Tanaka, seperti apa orangnya. Tapi mungkin saja di hadapan yang lain dia tidak terlihat misterius, tapi ternyata terhadap siapapun dia tetap sangat misterius. Yang pasti dia lebih 'hidup' dari Sebastian.
"K-kalau begitu, ganti pertanyaan!" ucap Elizabeth, kelabakan. "Menurutmu, Sebastian selain seram, dia seperti apa lagi?" Paula mengerjapkan mata sebelum mulai berpikir.
"Apa ya? Hmm... mungkin..seram?"
"Selain seram!"
"...misterius?"
"selain itu!"
"E- ettou.." sedikit semburat merah mulai muncul di wajah Paula, dan membuat Elizabeth bengong. 'apa itu?' pikirnya.
"kenapa mukamu merah? Kau demam?" tanya Elizabeth, yang tidak tahu sama sekali jika merasa malu juga bisa membuat wajah memerah. Ia tempelkan tangannya ke kening Paula. "T-tidak kok, nona! Saya tidak apa-apa! S-saya mohon diri, nona! S-selamat malam!" dan Paula segera meninggalkan Elizabeth yang tidak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi.
Elizabeth's POV
Ada apa dengan Paula? Tiba-tiba saja dia pergi. Ah sudahlah, biarkan saja. Lebih baik aku pikirkan saja lagi tentang hal tadi.
Tuan Ciel kan katanya membayar mahal Sebastian agar menjadi butlernya. Tapi saat itu Ciel pasti tidak punya harta sepeserpun untuk melakukan apa-apa. Dan lagi mansion ini pun terbakar habis.
Ah, benar. Mansion-nya terbakar kan? Dan tuan Ciel tidak punya apa-apa. Bagaimana caranya bisa mendirikan mansion yang baru di atas reruntuhan mansion yang lama? Tidak mungkin Sebastian yang melakukan kan? Semahal apapun bayarannya, aku berani bertaruh Sebastian tak akan mau melakukan perintah semacam mendirikan ulang mansion.
'Tap tap'
Aku mendengar suara langkah kaki. Dan aku yakin itu pasti Sebastian. Ya, aku sewaktu masih dalam wujud lama sering melihat Sebastian melakukan berbagai macam pekerjaan di malam hari. Dan bahkan aku tidak pernah melihatnya menguap atau apa saja, padahal dia tidak tidur semalaman.
Itu juga aneh. Dia tidak tidur semalaman, dan tetap bisa bekerja dengan baik –sempurna? padahal yang kutahu jika manusia tidak tidur dalam tiga hari mereka akan mendapatkan berbagai halusinasi semacam melihat kabut. Dan walaupun tubuh tetap terjaga, otak akan tertidur dan selama itu akan terasa seperti melihat kabut putih.
Yah, itu kalau manusia. Jujur, aku lumayan meragukan eksistensi Sebastian sebagai manusia. Dia terlalu sempurna dan terlihat tak punya kelemahan. Tapi bukan itu masalah besarnya. Dia terlihat...tidak hidup? Dia tidak makan, terlihat tidak punya ketertarikan terhadap lawan jenis –atau jangan-jangan sebenarnya dia punya ketertarikan terhadap sesama jenis- dan yang tadi, dia tidak pernah terlihat tidur. Memasuki kamar pun juga jarang.
Aku mengintip dari balik pintu, dan benar saja. Sebastian adalah pemilik suara langkah tadi. kuperhatikan lagi dia. Seperti biasa, dia memakai pakaian butler serba hitam. Dan dia membawa sebuah kereta dorong yang biasa dibawanya untuk meletakkan teh pagi tuan. Terdapat sebuah perlengkapan minum teh yang biasa dipakai tuan, tapi tunggu. Itu selalu tuan pakai saat pagi hari. Memangnya tuan mau minum teh malam-malam begini?
Sebastian mengetuk pintu pelan. "Permisi, tuan, nona," Nona?! Ada Alois di sana?! "Saya bawakan teh untuk menemani kalian mengobrol. Dan agar kalian tidak melakukan hal yang belum pantas dilakukan di sini," lanjut Sebastian, meledek tuan Ciel juga.
"Siapa yang akan melakukan hal itu?! keluar kau!" teriakan Ciel yang terdengar keras sekali –cukup keras untuk di malam hari- justru ditanggapi dengan cekikikan Sebastian. Sebastian lalu mulai tampak keluar dari pintu, dan sialnya dia melihatku mengintip. Segera tatapannya mulai menajam. Dia mendekati kamarku dengan pelan –agar suara langkahnya tidak terdengar mengarah ke mana.
"S-selamat malam, Sebastian," ucapku agar tak terlihat mencurigakan. Tapi pasti lah, Sebastian lawanku sekarang. Dia pasti tahu apa yang kulakukan tadi. wajahnya mendekati wajahku, dan untuk sesaat kukira dia akan memakanku.
Bibirnya mengarah ke telingaku, dan suaranya mulai terdengar jelas. "Tolong jangan ganggu tuan muda," bisiknya.
Aku yang bingung di tempat, hanya bisa memperlihatkan ekspresi heran. "Apa maksudmu? Apa aku terlihat mengganggu?" tanyaku seolah menantang. Aku tidak senang kalau kalian menjawab 'ya'.
Kudengar sesaat Sebastian mendecih pas di depan telingaku. "Pasti nona tahu jawabannya. Sekarang ini tuan muda sedang ditentang beberapa orang di dunia bisnisnya, dan kedatangan nona Alois sekarang sangat membantu,"
"Kalau kau bilang jawabannya tergantung dari pendapatku, aku bilang aku tidak mengganggu. Hal apa yang bisa membuat tuan Ciel ditentang, dan apa yang membuat seolah kedatangan Alois adalah berkah?"
"Saya tidak perlu menceritakan hal seperti ini pada orang luar, tapi saya rasa nona butuh lebih banyak penjelasan untuk mengerti," balas Sebastian dengan tatapan yang sama. Ia mulai menjauhkan bibirnya dari telingaku. "Akan saya jelaskan, tapi lebih baik tidak di sini. Tuan muda akan mendengarnya,"
xXxWatashiNoJikanxXx
Dan sekarang kita ada di ruang makan. Karena hari sudah malam, mungkin penjelasan akan menjadi sulit dicerna, jadi Sebastian membawaku ke ruang makan agar sekalian menyuguhkan teh. Dan ini memang membuatku tidak mengantuk.
Kucoba menyesap teh nya sedikit, dan memang teh buatan Sebastian adalah yang paling enak. Ini tidak perlu diberitahu. "Lalu, bisa mulai penjelasannya?"
Sebastian mengangguk. "ini terjadi empat hari yang lalu," dia mulai bercerita. Empat hari lalu... aku masih di sini. "Saya menerima telepon di siang hari, dan itu berisi pemberitahuan beberapa pemilik perusahaan menentang tentang tuan muda yang masih berumur 13 tahun sudah memiliki perusahaan mainan nomor satu. Dan setelah saya memberitahu tuan muda tentang hal itu, tuan muda menganggap enteng seperti biasa," hm, aku bisa membayangkan.
"di hari kedua, mulai terasa pengaruh dari orang-orang itu. Banyak orang-orang protes tentang umurnya, dan mulai menyebarkan berita palsu tentang produknya,"
"Contohnya?"
"Seperti bahan-bahan sisa cokelat perusahaan lain yang tidak tuan muda habiskan seluruhnya dibuat ulang menjadi cokelat batangan milik Funtom. Dan boneka-bonekanya adalah boneka bekas yang diambil di pembuangan dan didaur ulang menjadi seperti yang sekarang,"
"Seram sekali. Kalau masyarakat percaya pasti penjualan perusahaan menurun drastis," ujarku. Yah walau aku juga tidak tahu caraku menyampaikannya dengan bahasa manusia benar atau tidak. "Lalu, apa hubungannya dengan Alois?"
"Nyatanya masyarakat percaya dan seperti yang nona bilang, penjualan menurun walau berita itu baru tersebar tidak sampai sehari penuh. Akhirnya tuan muda mau menanggapi ini serius. Tuan muda bilang, saya, Maylene, Bard, Finny dan tuan Tanaka menjadi saksinya kalau bahan-bahan yang digunakan Funtom berkualitas tinggi. Tapi mereka tidak percaya karena saksi yang dipilihnya merupakan bawahannya dan pasti akan memihaknya, baik secara finansial atau tidak," tutur Sebastian, mereka ulang kejadian. Dan akhirnya kita sampai di permasalahan. "Mereka akhirnya mengajukan syarat. Jika tuan muda punya saksi selain pekerjanya, beritanya akan diklarisifikasikan,"
"Lho? Bukankah itu mudah?"
"Tidak semudah itu. hanya pekerjanya saja yang bisa menyaksikannya. Tuan muda tidak punya orang tua maupun saudara. Dia juga tidak punya teman ataupun kerabat lain. Dari pihak masyarakat pun tidak ada yang berani untuk memberi kesaksian," sekarang aku mulai mengerti ternyata masalah ini tidak begitu simpel. "Dan di saat seperti itu, nona Alois mengajukan diri sebagai saksi,"
"Tapi itu tidak ada hubungannya dengan menjadi tunangannya,"
"Orang-orang yang menentang tuan muda tidak kehabisan akal walaupun akhirnya sudah ada saksi. Mereka berkata kalau nona Alois adalah orang sewaannya jikalau ada hal seperti ini,"
"Lalu orang-orang lainnya mudah saja percaya?" tanyaku. Sebastian mengangguk. "Itu konyol," kata itu sangat cocok untuk ini.
"Saya juga yakin kalau nona menjadi 'orang-orang lainnya' itu pun akan meragukan tuan muda," ucap Sebastian, yang mudah sekali diketahui kalau dia sedang mengejekku.
"Hmph. Terima kasih," balasku, tersenyum sinis. "Lanjutkan saja,"
"Nona Alois lalu berkata kalau ia akan menjadi istri tuan muda sekaligus saksinya. Dia berkata, kalau dia hanya orang bayaran, dia takkan melakukan sampai sejauh itu. Dan orang-orang itu bungkam dan akhirnya hanya mendecih dan hanguslah berita bohong itu," Sebastian mengakhiri penjelasannya. Cukup melelahkan –walaupun tidak begitu jelas kalau untuk Sebastian. "Itu semua terima kasih terhadap nona Alois,"
"Hmmm,"
"Jadi? Nona mengerti kan? Nona hanya di sini sebagai penumpang dan tidak berarti macam-macam bagi tuan muda. Tapi tidak untuk nona Alois," ujar Sebastian yang semakin menajamkan matanya. Sampai aku bergidik dibuatnya. "Nona di sini hanya seperti kisah putri duyung yang sangat mencintai pangeran, dan memberikan suaranya dan mendapatkan sepasang kaki untuk menemui pangeran. Tapi ternyata putri duyung itu hanya berakhir menjadi buih. Takkan ada cinta di antara kalian,"
"Oh? Memangnya kenapa? Oke, aku tidak akan mengganggu tuan sekarang. Asal kau mau menjawab pertanyaanku," kataku, karena sepertinya ini bisa kumanfaatkan. Sebastian berpikir sejenak, lalu mengangguk. Sepertinya keadaan tuannya sangat penting untuknya. "Apa hubunganmu dengan tuan Ciel?"
Sebastian bingung sebentar. Mukanya terlihat heran sekali. "Apa? Apa nona mengira saya selingkuhan tuan muda?" asal kalian tahu, aku berusaha untuk tidak tertawa di sini. "sudah jelas saya butler tuan muda, dan tuan muda adalah majikan saya. Itu sudah tidak perlu ditanya,"
"Lalu, kau tidur berapa jam?" kuajukan pertanyaan lagi. Sebastian terlihat tidak begitu suka dengan pertanyaan ini, tapi dia masih tersenyum.
"Hm, jadi nona sebenarnya ingin mengincar saya," ujarnya, terlalu percaya diri. "Saya tidur tentu setelah kalian semua tidur. Kalau tuan muda membutuhkan sesuatu sewaktu saya tidur, nanti saya bisa dipecatnya,"
"Lalu-"
"Nona," perkataanku terpotong Sebastian. "Rasanya kalau nona memberikanku banyak pertanyaan sehari, itu berarti nona curang. Saya hanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebanyak 2 pertanyaan sehari," tawarnya.
"2 pertanyaan sehari? Itu tidak cukup,"
"Kalau begitu 1 pertanyaan sehari," oh bagus.
"Tidak, 2 pertanyaan sehari saja,"
TBC
Yohooi, akhirnya bisa update :3 Miharu lega banget, udah selesai UAS nya :3~ tapi nanti langsung down lagi deh pas liat nilainya –u-;;
Maaf nih, Sebastian-nya terlalu begitu D: gak kepikiran lagiii dia enaknya kayak gimana D: ni juga Lizzie OOC banget -3- terlalu berani ya -.-
Oke sip, nih yang bisa ngeliat tombol review, coba klik deh :*
