Darkest Moment

Someday

Mulailah kehidupan sehari-harinya sebagai Roxas biasa. Bukan sebagai XIII, namun sebagai seorang pria dengan rambut acak-acakan, dan lebih suka menganggur di atas tempat tidurnya yang empuk daripada mencari pekerjaan di surat kabarnya yang selalu datang tiap pagi. Sambil menyeruput kopinya yang hangat, ia berjalan memasuki ruang kerjanya yang penuh akan puluhan komputer penuh data. Ia duduk di kursi kerjanya, lalu mulai mengetik di salah satu komputernya sambil menyelidiki situs web milik perusahaan Maleficent, Heartless, Inc.

Bukan hari biasanya yang menyenangkan, memang. Mungkin, kalau saja ia bukan XIII, sekarang dia pasti sedang minum bir bersama Axel, ataupun menjaga panti asuhan. Namun, baginya hal tersebut sudah biasa. Hidup sendiri di apartemen kesayangannya, sambil menyelidiki situs website para pengusaha terkenal itu. Bukan sekedar iseng saja, tapi sekaligus mencari informasi apa yang mereka lakukan di masing-masing perusahaan. Gerak-geriknya. Titik kelemahannya. Yeah, menyenangkan..

Namun, kesenangannya yang baru saja dimulai itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sambil mendengus kesal, Roxas menjawab ponselnya yang berdering. Ia sedikit kesal karena pekerjaannya baru saja diganggu oleh salah satu sahabat baiknya. Mungkin soal yang kemarin, batinnya.

"Roxas!" Axel berteriak dari sisi lain telepon, "Kau tidak akan percaya apa yang baru saja kutemui pagi ini!"

Roxas tertegun begitu ia mengerti maksud Axel. Karena setelah Axel berkata seperti itu, sebuah pesan masuk ke dalam e-mailnya. Roxas buru-buru menekan pesan itu dengan pointer mouse-nya, lalu membaca isinya.

"Kau pasti menganggapku gila! Oh, astaga! Aku baru saja melihat—oh.. bagaimana caranya aku menjelaskannya?" Axel tidak sempat menarik nafas, membuat nafasnya yang kini tersengal-sengal begitu ia menarik nafas dalam-dalam. Namun hal itu tidak terlalu berpengaruh dengan suaranya yang terdengar panik. "Ketika aku keluar dari bar, dia—aku—kita berpapasan dan—"

"Aku tahu, Axel. Tenanglah," Roxas berkata sambil mengernyitkan matanya ketika ia selesai membaca e-mail miliknya. "Aku juga baru dapat kabar dari Sora. Tidak kusangka dia akan kembali ke Dark City secepat ini. Apa ada kaitannya dengan kasusnya Xion?"

"Entahlah, Rox! Kau pikir aku pun tahu?" Axel berteriak sambil membuat Roxas mengambil sedikit jarak dari ponselnya karena suara Axel yang membuat telinganya berdengung. "Dan kalau pendapatmu benar, dia pasti sudah gila. Kasus itu telah ditutup selama dua tahun! Saat itu ia sebaya denganmu! Memang sudah sewajarnya seseorang dengan umur yang masih muda melakukan tindakan balas dendam atau semacamnya. Tidak mungkin ia akan melakukan tindakan bodoh yang sama seumur hidupnya!"

"Kau benar. Apalagi kalau ia berhubungan dengan seorang gadis yang tujuh tahun lebih muda darinya," Roxas berkata sambil membuka situs dimana ia melihat status tempat tinggal orang itu. Statusnya mengatakan bahwa ia telah pindah, dan dengan membacanya saja, Roxas merasakan perasaan tidak enak di sekujur tubuhnya. "Tapi, entahlah, Axel.. Aku merasakan firasat buruk.."


"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Hm? Bukan apa-apa.."

Wanita berambut merah itu tersenyum sambil menggenggam erat kedua tangan tunangannya. Ia mendekatkan wajahnya, "Sora, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Apa yang ada di pikiranmu? Kau mengerutkan keningmu lagi. Apa yang terjadi dengan Soraku yang selalu tersenyum?" tanya Kairi lembut.

Sora tersenyum, lalu tertawa. Tingkahnya memang bisa dibaca oleh tunangannya. Lalu, sambil menatap Kairi, ia menjawab, "Aku hanya berharap dia tidak pergi lagi. Setahun lalu ia pindah, dan sekarang ia akan kembali. Semoga ia tidak di bawah banyak tekanan lagi.."

"..Bagaimana perasaanmu?"

Sora terdiam sejenak. Lalu sambil tersenyum lemah, ia berkata, "Marah. Tapi entah kenapa, mendengarnya dia kembali ke kota ini membuatku merasa lega, senang, kesal.. Perasaanku bercampur aduk. Dan aku tidak mengerti.."

"Tenangkan dirimu. Memang sudah sewajarnya kau merasa seperti itu. Kau itu adiknya. Dan itu tidak apa-apa.." Kairi memeluk Sora pelan. Lalu ia berbisik pelan, "Jujur, Sora.. Kau merindukannya."

Sora mengerutkan keningnya lagi. Ia berniat menyangkal dan membantah perkataan Kairi. Namun yang dikatakan tunangannya itu memang benar. Sampai kapanpun, ia tetap adiknya. Tapi tetap saja, Sora menggelengkan kepalanya dan membuka mulutnya untuk menyangkal. Yang membuatnya heran, tidak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya, sampai ia sadar bahwa sepasang bibir mengunci bibirnya. Ciuman itu tidak lebih dari 5 detik, karena setelah itu Kairi memutuskan kontak mereka meski Sora terlihat tidak setuju.

"Akui saja, Sora. Aku benar," Kairi tersenyum. "Setidaknya kau masih menurut dibanding sepupumu itu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya?"

"Masih menyebalkan seperti biasa," Sora tertawa mendengar komentarnya sendiri, "Ia masih tidak mau mengunjungi keluarga kami di Hari Thanksgiving tahun lalu. Kuharap ia datang tahun ini. Yang paling kukasihani itu Ventus. Di hari libur saja ia juga tidak bisa datang karena pekerjaannya yang menumpuk. Namun dia bilang, hal itu sudah biasa. Tapi bagiku mengerikan. Ia sampai lupa apa itu Hari Valentine."

"Benarkah?" Kairi tertawa.

Sora ikut tertawa. "Tapi yah, memang sama dua orang itu. Sama-sama mencoba membuktikan bosnya, bahwa mereka bisa. Lagipula, aku kan punya tunangan yang harus kufokuskan dulu!" Kairi cekikikan mendengarnya. Wanita itu tersenyum cerah begitu menyadari bahwa senyum khas Sora telah kembali ke wajahnya.

"Bagaimana dengan saudaramu, Kai? Yang katamu bekerja sebagai penulis untuk Twilight Times itu. Katamu ia pindah kemari." tanya Sora.

"Untuk sementara. Ia berusaha mencari ide di kota ini dan tinggal di apartemen lamaku. Aku sudah memanggilnya untuk kemari, sih. Kuharap ia tidak lupa dengan janjinya hari ini," jawab Kairi. Ia memantau jam tangannya yang menunjukkan pukul 10.35. "Mungkin sebentar lagi ia datang."


"Camkan kata-kataku, XIII! Suatu saat kau datang lagi, kau akan—"

Roxas mematikan radio ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana jeansnya. Dia ingin mendengarkan radio tentang berita cuaca, namun kecewa karena tidak bisa mendengarnya. Ia sudah muak mendengar ancaman dari sang komisioner, Rufus Shinra di setiap stasiun radio yang ia dengar. Menjadi seorang buronan memang sulit..

Sambil menutup resleting jaketnya yang berwarna feldgrau, ia berjalan memasuki sebuah bar favoritnya sejak dulu. Harus dia akui, tempat ini bagaikan kenangan baginya. Ia ingat kenangan-kenangan berharganya ketika ia menjadi seorang pelanggan di sini, berpesta pora dengan Axel bahkan dengan Demyx, serta bagaimana mengerikannya si Larxene dan Saix ketika mereka sedang mabuk.

"Roxas?" Roxas berbalik mendengar suara familiar itu, Sora yang tengah duduk di bangku tengah melambai dengan semangat ke arahnya. Di sampingnya seorang wanita berambut merah (alias tunangannya) ikut melambaikan tangannya. Roxas sempat menengok ke kanan-kiri, sebelum ia berjalan mendekati mereka berdua.

"Halo, sobatku! Lama tidak ketemu!" Sora menepuk bahu Roxas sedemikian keras, entah seberapa kerasnya karena Roxas mulai kesakitan. "Aku kira kau bilang bahwa kau sibuk akhir-akhir ini! Hei, kenapa e-mailku tidak kau balas? Aku sudah mengirimmu sampai ratusan kali dan kau hanya menjawab sepatah kata saja."

"Nah, Jadwalku sedang longgar hari ini, jadi aku memutuskan untuk sedikit bersenang-senang," Roxas tersenyum paksa yang kemudian dibalas senyuman Sora yang melebar.

"Oh dan apa yang kau maksud dengan 'bersenang-senang' itu, Roxas?" tanya Kairi. "Kau sedang kencan?"

"Harus berapa kali aku katakan, aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau kencan," Roxas menyangkal.

"Benarkah?" tanya Sora tidak percaya. "Aku berani bertaruh, semua otot yang kau hasilkan dari pergi ke Gym adalah untuk memikat wanita. Apa aku benar? atau benar?" Kairi tertawa mendengar pertanyaan konyolnya. Mendengar itu, Roxas hanya tertawa hampa.

"Kalau begitu, Roxas kau pasti akan terkejut melihat wanita yang satu ini," Kairi tersenyum bangga, seolah-olah apa yang dikatakannya benar. "Dia saudaraku. Dia akan tinggal di sini untuk sementar wak" Sosok wanita berambut pirang keperakan yang panjang melewati bahunya datang menghampiri mereka. Nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja lomba lari marathon.

"Ah baru saja dibicarakan! Roxas, ini adalah saudara kembarku, Namine. Dia adalah seorang penulis," Kairi menyeringai pada mereka berdua. "Nah Kalian, berkenalanlah satu sama lain! Selamat bersenang-senang!" katanya gembira sambil mengajak Sora duduk di dekat bartender meninggalkan dua orang berambut pirang sendirian.

Namine duduk di bangkunya, menghadap Roxas yang dari tadi menatapnya. Ia memakai baju berlengan panjang berwarna hijau amazon, dan dilengkapi dengan celana jeans bewarna coklat. Ia juga memakai jam tangan dan gelang yang serasi dengan bajunya di tangan kirinya. Rambutnya ia biarkan tergerai, melewati bahu.

"Kau bekerja sebagai penulis?" tanya Roxas.

Namine malu-malu bertemu tatapannya. "Ya."

"Hijau tidak terlalu sesuai denganmu," kata Roxas terus terang, mendapatkan perhatian dari gadis itu. "Dan kupikir kau lebih cocok memakai berwarna biru."

Namine tersipu, "Terima kasih. Dan jeans berwarna biru tidak cocok apabila dikombinasikan jaket berwarna seperti itu. Menurutku warna jeansnya seharusnya lebih gelap lagi." Roxas menyeringai mendengarnya. Akhirnya ia mendapatkan perhatian darinya.

"Mungkin kau benar," kata Roxas. "Ah, kalau aku boleh tahu, kau bekerja sebagai penulis untuk siapa?"

"Untuk Twilight Times. Tapi sekarang aku sedang mengambil cuti dan menyelidiki tentang XIII. Dia berhasil membuat kekacauan di kantorku," Namine tertawa geli.

Roxas menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Dan bagaimana menurutmu? Si XIII itu?" Roxas berdeham. "Apa pendapatmu tentang dia?"

Namine mengangkat bahunya. "Kebanyakan orang marah ketika ia membuat kekacauan di kota, tapi aku mencoba melihat dari sudut pandangnya. Aku bertanya-tanya mengapa ia melakukan hal-hal yang membuat warga marah. Aku ingin tahu apa alasannya di balik kedoknya. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya sebagai orang yang sebenarnya. Banyak media yang mengatakan bahwa penjahat itu seperti binatang yang tidak bisa mengontrol dirinya atau kesadaran moral, psikopat menyedihkan, atau bahkan orang-orang miskin yang bingung.. Tapi aku tidak berpikir XIII adalah salah satunya. Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa lagi. " Suara Namine itu hampir terdengar monoton, namun kelembutan tidak hilang dari suaranya.

Roxas terkekeh. Diam-diam, di dalam lubuh hatinya mengatakan bahwa perkataan Namine memang benar. "Pendapat yang logis, menurutku."

Namine tersipu. "Oh, apa saya terlalu banyak bicara? Maaf, saya terkadang suka terbawa suasana sendiri."

Roxas menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa. Aku tidak berpikir kalau kau melantur," Katanya sambil tersenyum. Dia menunduk, memikirkan apa yang ia katakan. Entah kenapa, semua perkataan Namine tadi tentangnyaehem, XIII, membuatnya semakin ingin tahu orang seperti apakah Namine itu. Ia dapat merasakan kegugupan di dalam dirinya ketika Namine balas tersenyum. Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Roxas ingat ada sesuatu yang harus ia lakukan.

"Maafkan aku, tapi aku harus memotong 'kencan' singkat kita," Roxas tersenyum minta maaf. "Senang bertemu denganmu, Namine." Namine ikut berdiri ketika Roxas berdiri dari bangkunya. "Suatu hari nanti, kuharap kita akan bertemu lagi." bisik Roxas, wajahnya terlihat kecewa namun ekspresinya penuh harapan. Kemudian ia menghilang ke kerumunan.

Namine menatap punggung Roxas dari kejauhan. Ia berharap apa yang dikatakan Roxas menjadi kenyataan. Namun ada suatu keganjalan yang mungkin Sora dan Kairi tidak menyadari hal ini. Bagi Namine, Roxas adalah seorang pria yang menarik, dan tampak dewasa. Namun matanya kelihatan gelap, tidak terbaca. Apalagi ketika ia melihat bekas luka di belakang telinga Roxas. Hal itu semakin membuat Namine tambah penasaran. Ia ingin lebih mengenal Roxas. Lebih jauh..


A/N: akhirnya Namine nongol juga haha

sebelumnya thx buat reviewnya: Aiec Ginheyde, KuroMaki RoXora, dan Latifun Kanurilkomari

nih saya kasih chap 2 nya,makasih supportnya,review lagi ya don't runaway

oke guys!

Read and Review

Ja ne