Tangannya yang lemah nan penuh luka itu, mencoba menggeliat meraih apa yang dia inginkan.
Mata birunya berjuang menangkap apa yang terjadi di sekitarnya. Wajahnya memar dan penuh luka goresan yang indah nan menakutkan. Mata sebelah kirinya kini tak bisa dibuka lagi, lantaran ada memar di sana. Mulutnya berdarah-darah, seolah disayat-sayat dengan kejam oleh seseorang. Tubuhnya kini tak lagi kekar, melainkan sudah terlumuri oleh darah-darah serta luka-lukanya yang berhamburan di sana-sini.
"Bruder…" Ucapan itu terasa kelu di lidah terlukanya.
.
.
.
Hetalia ~ D.Y.S.T.O.P.I.A
Chapter 2
Jerman : You should help me, Brother!
© Axel 'Sverige' Oxenstierna / TIKToK-TimeTraveller
Disclaimer :
Hetalia © Hidekazu Himaruya
WARNING :
Dystopia world, OOC, AU, DLDR, banyak kata-kata kotor, sadis, continued, typo, tak ada shounen-ai dan lain-lain. Flame dilarang keras.
Author's Note
Halo~ Author datang lagi setelah 6 bulan terkurung di dunia nyata, menyelesaikan misiku. *lebay*
Okay, aye di sini membawa 1 cerita berseri dan bertema dystopia. Makasih untuk beberapa author yang secara gak langsung menjadi inspirasiku~ *halah*
Tolong digarisbawahi, fic ini BERBEDA TOTAL dengan Parallel World. Yang ini mah serius lho… Mungkin emang menyakitkan. *dibacok*
Mohon diperhatikan sekali lagi, fic ini hanya IMAJINASI LEBAY DAN MENGERIKAN milik author belaka. Mohon tak ditanggapi serius.
Sekali lagi, selamat membaca!
.
.
.
Suasana di sana terlalu mengerikan baginya. Baginya yang sudah tenggelam dalam samudra luka dan goresan sadis dan cantiknya. Mau mengangkat dan memandang sekelilingnya saja sudah kesusahan baginya. Kini sebuah negara yang melambangkan dirinya, benar-benar berada dalam ambang kebangkrutan. Mesti ngutang sana-sini, walau dulunya pernah berjaya sebagai negara terkuat. Mesti ngrombak sistem angkatan bersenjatanya, padahal dulunya penuh imajinasi gila dan mengerikan mengenai desain senjata-senjata artileri berat. Mesti melindungi rakyatnya mati-matian, walaupun dulunya pernah sempat makmur.
Kini dia sudah tak berdaya lagi. Di ruangan penjara itulah, di mana dia berada sekarang. Kondisinya benar-benar memprihatinkan, dan di sanalah dia disiksa hingga benar-benar tak bisa bergerak barang sejengkal pun. Satu senti saja susah. Dalam penjara yang lembap dan terasa sesak, ia mencoba bertahan hidup hanya dengan mengandalkan sisa spirit milik rakyatnya yang masih hidup di dalam dirinya. Betapa menyusahkannya. Kedua kakinya diikat dengan rantai besi yang panjang lagi kuat.
KRIIIEETTTT.
Suara pintu sel yang terisolasi, di mana pria itu terkurung sekarang, terbuka. Mata kanannya yang sayu, mencoba mendapatkan gambaran siapakah yang datang kemari kali ini. Rambut blonde-nya yang berantakan, terurai ke bawah, sehingga poninya menyentuh dahinya. Nafasnya tinggal dua-tiga, mencoba menghemat persediaan oksigen yang tersisa di sel yang pengap itu. Seorang lelaki berperawakan sedang, lantas berjalan kemari menghadap pria itu yang kini menjadi tahanan… Ya. Tahanan yang sebentar lagi akan menemui ajalnya.
"Dasar Jerman. Kini kau benar-benar tak tertolong, seperti seekor domba yang mati kehabisan darah. Kasihan sekali." ejek pria itu, sambil berkacak pinggang.
Dasar pria sinting! Pria berambut blonde dengan mata berwarna biru ini, hanya bisa meludah ke depannya. Ludahnya bukan lagi hasil kimiawi yang terjadi dalam mulut sebagaimana manusia biasa, melainkan darah! Kedua tangannya yang diikat dengan rantai besi yang digantung di atas kepalanya, segera terayunkan, pertanda ia sangat protes. Apesnya, pria yang datang tadi, langsung menendang kedua tangan pria bermanik biru itu dengan kejam. Pria yang terluka ini, segera berteriak pelan, "ADUH! SAKIT!"
"Hahahahahaha. Kau ganteng sekali dengan tampang sadis seperti ini. Patut dihina. Patut diejek. Patut dikorbankan. Dan patut… Dibunuh. Tentu saja. Dasar penggila senjata artileri berat. Kalau saja aku bisa mencuri seluruh temuanmu pada Perang Dunia 2, aku bisa berjaya bersama Litwa!" ejek pria berperawakan sedang dengan rambut blonde sebahu, yang manakala wajahnya benar-benar seperti perempuan. Ia menyeringai, lalu berpaling darinya seolah menunggu sesuatu.
"Fe… Liks." gumam pria ini, lemah. Untuk mengatakan satu kata saja sudah susah payah.
DUK DUK.
Sekonyong-konyong Feliks memutar tubuhnya ke hadapan Ludwig. Saat itulah kaki kanan pria Polandia yang dipanggil Feliks ini, langsung menendang perut pria yang tergeletak lemah ini dengan sekuat tenaga. Seketika pulalah ia menjerit-jerit kesakitan, dan Feliks segera tertawa sinis menyaksikan penderitaan pria Jerman itu. Feliks lalu melanjutkannya, "Tenang saja, Ludwig. Vital region milik pria Italia yang manis dan yang tsundere itu sudah sukses dimakan sama Litwa-ku."
Brengsek! Pria yang dipanggil Ludwig ini, segera menggeram kesal. Entah karena kemarahan itu atau spirit-nya sudah kembali, jiwa seorang Jerman-nya segera keluar. Ia langsung meneriakinya kesal, "Dasar Feliks sadis! Tidakkah aku sudah berbaik hati mau memberikan jiwa kakakku kepadamu? ! Mengapa dua Vargas itu malah dibunuh juga? !"
"DIAM, BOCAH."
DUK DUK DUK DUK.
Rentetan tendangan maut milik Feliks, langsung melayang ke muka Ludwig, sehingga wajahnya tambah memar lagi.
DUK.
Kali ini wajah Ludwig benar-benar hancur dihajar dengan punggung boots-nya Feliks yang berat dan keras. Tapi yang ini, jauh lebih sadis. Telapak kaki kanan boots itu justru menginjak wajahnya, sehingga Ludwig segera sesak nafas. Pria Polandia ini lalu mendekat ke kaki kanannya yang menginjak wajah Ludwig, dan berkata dengan tenang nan keji, "Sebentar lagi Litwa akan datang dengan sebuah takdir yang kejam bagimu!"
"Ta… Takdir?" tanya Ludwig mencoba berkelit dari injakan kaki Feliks, namun gagal total.
"Ya. Kini… Wilayahmu sudah digenosida olehnya. Hebat bukan? Sebelum dia menciptakan aliansi denganku, dia sudah kuat dari awal. Lebih kuat dari kakakmu yang sok asem itu." jawab Feliks sambil mengulum senyuman sinis dan keji. Injakannya dikencangkan sekali lagi, sehingga tembok yang berada persis di belakang kepala Ludwig, meretak akibat gaya dorong yang sangat kuat dari kaki kanan pria Polandia itu.
"AAAAAAAARRRGGGHHHH ! ! ! ! !" jerit Ludwig kesakitan.
Feliks segera tertawa sadis menyaksikan penderitaan Ludwig, sekali lagi, "HAHAHAHAHAHAHAHAHA! ! ! ! ! RASAIN ITU, LUDWIG! ENAK, BUKAN? ! RASAKANLAH! INI SEMUA AKIBAT KAKAKMU YANG SUKSES MENAHAN KAMI BERATUS-RATUS TAHUN LALU! RASAKAN! RASAKAN ITU, ANJ***!"
"Hentikan, Feliks."
Seketika Feliks mendengar suara perintah yang tak asing itu, dan langsung berbalik ke arah mulut pintu. Di sana berdiri seorang lelaki berperawakan sedikit lebih tinggi darinya dengan rambut cokelat yang kira-kira mirip dengan punya dua Vargas, dan bermata hijau cerah. Wajahnya begitu dingin dan tegas, dengan kedua tangannya sudah berlumurkan darah, entah milik siapa. Ia lalu melanjutkannya dengan datar, "Feliks, kau bisa kembali ke ruang kerjamu."
Feliks lalu mengulum senyum manis, lalu membungkuk 75 derajat di depannya dengan tangan kanannya ditaruh di dekat dada sebelah kirinya. Begitu selesai membungkuk, ia langsung berjalan melewatinya sambil berbisik tanpa menolehnya, "Litwa, kini kau boleh apa-apain pria brengsek itu. Kalau perlu, ambillah vital regionnya dan habisi dia. Biar aku urus soal kakaknya yang biadab itu."
"Ya, Lenkija." jawab pria yang disebut Litwa, singkat dan tanpa menolehnya sedikitpun. Mata hijau dinginnya menatap seorang pria Jerman yang terkungkung di sana dengan segudang luka-luka dan darah yang diwarnainya dengan indahnya.
Pria Polandia itu, lalu mengibaskan rambut blonde-nya dan keluar dari sel itu, sedangkan Litwa maju menghadapnya. Pintu sel pun ditutup dengan kerasnya oleh pria Polandia itu. KRIIEEETTT. Kini suasana di dalam sel yang terisolasi itu benar-benar pengap dan panas, plus sengit. Mata biru milik Ludwig menatap mata hijau dinginnya Litwa dengan sinisnya, seolah ingin membunuhnya. Begitu pula dengan Litwa ini.
Litwa lalu memberinya senyuman sinis, dan berkata dengan nada datar, "Du musst mir helfen, Preuβen. Ini yang akan kau katakan di dalam hatimu?" (1)
"Terserah kau saja, Toris." jawab Ludwig sambil memutar mata kanannya ke sekelilingnya, berusaha tidak menatap wajah dan tubuh pemuda Litwa yang bernama Toris itu. Enyah kau sana, Lithuania!
"Kau tidak sopan pada lawan bicaramu." lanjutnya.
DUAK DUAK.
Kali ini kaki kanan Toris segera terangkat dan menendang wajah Ludwig berkali-kali, tanpa perasaan. Baginya, Ludwig adalah mainannya. Yang telah secara tak langsung diciptakan oleh kakaknya yang biadab itu, untuk menyabotase wilayahnya dan Feliks, bertahun-tahun silam. Meski tahun sudah berbilang, ia masih menyimpan sedikit dendam kepadanya, walau ia harus memasang wajah ketakutan sekalipun. Api hitamnya rupanya telah membara dengan dahsyatnya di hati kelamnya.
Setelah puas menghajarnya, Toris lalu membungkukkan punggungnya mendekati Ludwig yang terduduk dengan lemah sambil berkata dengan dingin, "Kini saatnya kau hancur bersama Prussia sialan itu. Tak lama lagi kami akan bertarung melawan Russia yang sadis itu. Kau nonton dari alam sana ya."
JLEB.
Tanpa diduga-duga, tangan kiri Toris segera maju dan menghunjam dada sebelah kirinya, di mana vital regionnya bersemayam. Ludwig segera batuk berdarah, dan ia kembali melanjutkannya dengan wajah yang tiba-tiba sudah diganti dengan wajah sadis dan kejam, "Adakah kata-kata terakhir, Bundesrepublik Deutschland? Wilayahmu siap dipakai sebagai wilayahku dan sebagiannya untuk Liechtenstein yang manis itu."
Takkan kuserahkan! Brengsek… Ludwig berupaya melawannya dengan mencoba menjauhkan vital regionnya dari tangan besi dan sadis milik Toris, namun sudah terlambat. Tangan kirinya yang sepintas kurus tetapi kuat itu ternyata sudah mencengkeram jantungnya yang juga merupakan vital regionnya. Toris yang sepertinya sudah kesal karena tidak diberi sepatah kata jua oleh mangsanya, lalu menyindirnya, "Kuakhiri di sini saja."
ZRRRUUUUUGGGHHHHH.
Seketika saja Ludwig merasakan sensasi malaikat maut yang sedang mengelilinginya sambil mencabuti nyawanya. Bersamaan dengannya, tangan kiri Toris segera keluar dari tubuh Ludwig dengan memegangi sesuatu yang berukuran kepalan tangan dan kenyal. Itulah vital region, yang sangat penting bagi tiap-tiap negara. Dicabutnya vital region-nya, berarti dia sudah mendeklarasikan kekalahan telaknya. Toris hanya bisa tersenyum dingin ketika darah Ludwig muncrat mengenai wajahnya.
"Semuanya sudah berakhir di sini. Aku rasa Lenkija akan mengakhiri nasib kakakmu yang brutal itu." ujar Toris sinis kepada Ludwig yang kini telah menjadi mayat.
Ia lalu menegakkan punggungnya dengan posisi seperti orang yang sedang bersedekap dengan tangan kiri memegangi vital regionnya dan tangan kanannya berada di belakang punggungnya. Setelah beberapa lama menatap mayat Ludwig, ia lalu berbalik dan berjalan menuju pintunya sambil memain-mainkan vital regionnya yang sekarang sudah benar-benar tak berdetak lagi. Tangan kanannya lalu diulurkannya ke gagang pintu, dan ia pun membuka pintu sel tersebut.
KRIIIIEETTTTT.
Pintu pun terbuka, dan ia kemudian keluar dari selnya. Di luar sana, ia bertemu dengan dua pengawal sel yang terisolasi tersebut. Pemuda Litwa itu kemudian memberi perintah kepada dua pengawalnya dengan tegas dan dingin, "Urus mayat tahanan itu, dan bakar. Sekarang Jerman benar-benar tak ada, dan kitalah yang akan menguasai tanah yang kosong itu. Inilah akhir kekuasaan Jerman beserta Prussia."
"Ya, Tuan." jawab kedua pengawal tersebut, kompak.
Toris lalu mengulum seringaian mautnya kepada dua pengawal tersebut, kemudian berpaling dari mereka dan pergi menuju sel di mana sekutu terbaiknya, Lenkija alias Poland, mengurusi saudaranya Jerman. Sedangkan dua pengawal tersebut, segera masuk ke sel itu, dan melepas rantai-rantai yang menjerat tubuh Ludwig yang kini mulai mendingin, dan membawanya keluar dari sel tersebut serta mengiringnya ke ruang kremasi.
Selagi Toris berjalan menuju sel tempat Lenkija menyiksa Prussia, ia menggumamkan suatu kalimat sambil masih memainkan vital region Ludwig, "Duo Vargas, dan sekarang Ludwig. Tapi 'dimakan' Natalya juga tak ada jeleknya juga. Natalya, aku selalu ada untukmu, tak peduli kau bahkan perlu mencabut vital regionku. Du musst mir helfen, eh? Ludwig, masa-masamu sekarang tamat, tak ada gunanya meminta tolong begituan."
.
.
.
[ Chapter 2 – End ]
(1) Kau harus menolongku [Jerman]
