Chapter 2
.
.
.
.
.
.
I Can See You
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Genre: Supranatural,Mystery,Romance,Friendship
Beberapa karakter ada yang ooc untuk mendukung cerita.
Happy reading^^
.
.
.
.
.
.
Pagi hari di Konoha High School.
Konoha high school adalah salah satu sekolah asrama terbaik didunia sejak jaman dahulu. Letaknya jauh dari kota dan berada di daerah pegunungan yang paling indah dijepang. Sistem pendidikan di khs ini sangat baik, setiap siswa diperlakukan intens dan eksklusif oleh para pengajar. Kurikulum didesain khusus dengan standard internasional dan memberikan siswa banyak pengalaman melalui kegiatan,perjalanan,komputer dan olahraga.
Sekolah ini mempunyai rumah sakit,mall,restaurant,pertokoan,kolam renang,berbagai tempat rekreasi dan berbagai macam lapangan khusus untuk setiap cabang olahraga. Semuanya dirancang khusus bagi para murid agar bisa menghasilkan prestasi yang memukau dan dimaksudkan agar mereka tidak usah jauh-jauh pergi ke kota untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun begitu sekolah ini lebih cocok disebut sebagai perkotaan kecil daripada sebuah sekolah sebagai tempat belajar dan mengajar.
Sekolah mewah dengan fasilitas sangat memadai ini hanya dapat dimasuki oleh kalangan atas mengingat mahalnya biaya sekolah tersebut. Akan tetapi, walaupun harus bekerja keras siang dan malam. Orang tua mereka tidak sayang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit itu untuk menyekolahkan mereka disini. Karena mereka sangat yakin sekolah ini sangat bagus dan dapat membuat anak-anak mereka sukses dikemudian hari.
Kantin Konoha High School.
Sama seperti bangunan-bangunan lain yang ada disini. Kantin konoha High school sangat luas dan mewah khas sekolah-sekolah orang kaya. Di kantin ini terdapat dua lantai. Biasanya di lantai kedua kantin ramai dipadati oleh murid-murid yang sedang makan sambil mengobrol dengan para sahabatnya atau murid-murid yang hanya ingin menghabiskan waktu istirahatnya untuk memandangi pemandangan indah yang ada dibalik jendala besar kantin tersebut. Anehnya, saat ini hanya terlihat seseorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna merah muda dengan sebuah pita berwarna merah yang melingkar di kepalanya. Menambah pesona kecantikan dari gadis tersebut.
Saat ini ia sedang fokus mendengarkan ocehan yang keluar dari mulut kelima orang yang berada diatas panggung sembari meminum jus kesukaannya dengan kaki yang diangkat keatas meja. Panggung tersebut biasa dipakai para murid untuk menunjukan bakat mereka pada saat jam istirahat atau saat sarapan pagi seperti saat ini. Gaya gadis tersebut benar-benar tidak mencerminkan sifat murid perempuan sekolah ini yang terkenal dengan keanggunan dan kefeminimannya. Kancing atas kemeja putihnya sengaja tidak ia kancingi. Bukan karna ingin memamerkan tubuhnya dan memikat para lelaki mungkin karna ia memang terlalu malas untuk mengancinginya. Jas yang menutupi kemeja polosnya itu ia gulung sampai siku. Roknya pendek dengan kaus kaki hitam panjangnya.
Murid-murid berdesak-desakan mengerumuni panggung dan berebutan untuk mendapatkan tempat paling depan panggung tersebut . Murid-murid yang mendominasi tempat itu adalah murid-murid perempuan. Walaupun begitu, tidak dipungkiri cukup banyak juga siswa laki-laki yang ikut entah itu karena diajak temannya,merasa penasaran,atau hanya sedang iseng saja. Dari kejauhan terlihat kelima murid yang semalam pergi keruang musik dibangunan tua tersebut sedang berada diatas panggung yang mewah. Terlihat Lee yang sangat bersemangat menceritakan pengalamannya menjelajah bangunan tersebut diikut oleh anggukan setuju sang ketua geng. Dengan sombongnya mereka menceritakan pengalaman hebat mereka, yang sebenarnya terlalu banyak unsur tambahan cerita yang mereka karang sendiri.
Murid-murid perempuan dengan bodohnya mempercayai kata-kata mereka sehingga membuat sebagian dari mereka banyak yang menangis,berteriak ketakutan,saling memeluk satu sama lain dan ada juga yang tidak kuat lalu memuntahkan menu sarapan paginya. Sedangkan murid-murid lelaki hanya menatap mereka dengan tatapan kagum dan iri karena tidak bisa ikut dalam petualangan hebat mereka.
Kembali pada lantai dua kantin.
Setelah gadis itu meneguk sisa-sisa terakhir jusnya. Ia membanting keras botol jusnya keatas meja dan menimbulkan suara yang cukup keras sehingga menarik perhatian murid-murid yang berada didekat panggung. Lalu gadis pink tersebut naik keatas meja sehingga murid-murid yang lain bisa melihatnya dengan jelas. Ia pun menarik napas dalam-dalam dan mulai mengeluarkan suaranya dengan sangat lantang.
"Hantu itu tidak ada. Tidak dan takkan pernah ada. Jangan mau dibohongi oleh penipu ulung seperti mereka!"
Suara perempuan itu menggema memenuhi seluruh ruangan kantin. Hening seketika melanda mereka semua. Lalu beberapa saat kemudian murid-murid terlihat saling berbisik dan menatap heran pada gadis aneh tersebut.
"Aku! Haruno Sakura dari kelas 3-1 tidak percaya pada hantu atau hal-hal mistis lainnya. Hantu itu tak ada dan tak pernah ada. Itu hanya lah sebuah akal- akalan manusia bodoh seperti kalian."
Teriaknya kembali dengan percaya diri sembari mengangkat tangannya dan menunjuk kearah kelima orang murid yang sedang berdiri diatas panggung.
Merasa dihina dan direndahkan oleh gadis yang tidak dikenalnya itu. Karin pun merasa sangat kesal dan menjawab perkataan gadis tersebut. "A-apa? kau bilang ini hanya akal-akalan kami? Ini adalah kenyataan!"ucapnya tidak terima. Sedangkan teman-teman segrupnya hanya bisa memandang gadis tersebut dengan geram.
"Kenyataan? Memangnya ada bukti kalau kalian memang bertemu dengan hantu itu? Tidak ada saksi atau rekamannya kan?" Sahut Sakura dingin dengan nada yang mengejek.
Ya mereka berlima membenarkan ucapan gadis tersebut dalam hati. Tidak pernah terlintas pada pikiran mereka untuk merekam petualangan mereka tersebut. Sebab mereka yakin murid-murid sekolah ini akan selalu mempercayai kata-kata mereka seperti biasa. Walaupun para murid itu tidak tahu yang dikatakan kelompok ini benar atau tidak. Kalau mereka tahu akan ada gadis yang menyebalkan yang mempermalukan mereka didepan umum seperti ini pasti lah mereka akan merekam petualangan mereka di ruang musik sialan tersebut. Akan tapi bayangan kejadian memalukan kemarin melintas dipikirkan mereka dan mengingatkan mereka kembali, kejadian yang membuat mereka menjadi sangat malu dan merasa seperti seorang pencundang karena lari terbirit-birit hanya karena hantu. Bahkan Shikamaru-sang ketua grup yang biasa dikenal dengan sikap pemberaninya pun dibuat tak berdaya karnanya.
Anak-anak kembali berbisik-bisik. Kelihatan dari tatapan mereka sepertinya mereka mempercayai perkataan gadis menyebalkan tersebut. Melihat hal itu kelima murid itu menjadi cemas dan takut jika kelompok mereka akan dicap sebagai pembohong. Itu akan merusak reputasi mereka dan tidak akan ada lagi yang akan mempercayai mereka untuk mengatasi kasus-kasus lagi. Shikamaru yang tidak terima diperlakukan seperti itu, mengepalkan tangannya kencang. Menahan emosinya. jika saja orang itu bukan lah seorang gadis pastilah wajah orang itu sudah babak belur terkena hantaman keras dari sang laki-laki ini.
"Betul juga. Jangan-jangan kalian berbohong! Jangan-jangan selama ini semua cerita kalian adalah kebohongan belaka. Awas saja jika kalian berani menipu kami, kami tidak akan segan-segan melaporkan kalian ke tsunade-sama dengan tuduhan kabur dari asrama. " Salah satu murid menimpali. Diikuti anggukan kompak para murid lainnya. Kelima murid yang berada diatas panggung itu bertambah cemas dan takut. Pasalnya mereka sudah sering keluar-masuk ruangan kepala sekolah. Mereka tidak ingin tindakannya kali ini benar-benar membuat mereka meninggalkan sekolah setelah mendapat teguran keras dari kepala sekolah waktu itu. Setelah berpikir dalam-dalam akhirnya Shikamaru sang ketua grup pun angkat bicara.
"Baiklah jika memang kau tidak percaya pada kami. Dengan senang hati kami akan menemanimu untuk membuktikan apakah perkataan kami ini benar atau hanya lah karangan kami semata. Nona Haruno Sakura." ucap Shikamaru datar dengan penekanan pada bagian nona Haruno Sakura. Teman-temannya yang mendengar ucapan sang ketua pun sontak kaget tidak percaya apa yang dikatakan ketuanya itu.
Apa dia sudah gila? Memikirkannya saja sudah membuat mereka kembali bergidik. Mereka pikir semalam adalah petualangan terakhir mereka memasuki bangunan tua itu. Tetapi sekarang dengan santainya Shikamaru berkata jika mereka akan menemani gadis itu membuktikan perkataan mereka yang tidak lain adalah kembali pada ruangan terkutuk itu.
Sialan! Tubuh mereka bergetar hebat membayangi kejadian sebelumnya, jika awal saja sudah begitu apalagi selanjutnya? Akan tetapi mereka percaya bahwa Shikamaru tidak mungkin asal bicara. Mereka yakin Shikamaru berkata seperti itu untuk melindungi mereka.
Sakura-yang dipanggil namanya hanya tersenyum senang. Bagus! dia merasa sangat tertantang dia pun menerima ajakan dari sang ketua grup.
"Baiklah. Lihat saja nanti. Akan kubuktikan jika hantu itu tak ada!" Ucapnya dengan nada sombong dan sangat percaya diri.
"Ya dan kuharap kau tak akan kabur dari perjanjian kita. Jika kau tidak datang pada jam yang sudah kita tentukan maka akan ada konsekuensinya. Kau mengerti kan nona Haruno?"tutur Shikamaru dengan sebuah seringai liciknya.
"Hm. Aku tidak pernah mengingkari janjiku."
.
.
.
Kring!
Terdengar bel berbunyi memenuhi seluru penjuru sekolah yang menandakan pelajaran pertama sebentar lagi akan segera dimulai. Dan sukses memunculkan tatapan kesal dari para murid yang sekarang berada di kantin. Walaupun kesal karena mengganggu kesenangan mereka, mereka tetap mematuhi bel tersebut dan pergi meninggalkan kantin. Menyisakan beberapa murid yang mungkin masih betah menghabiskan waktunya dikantin.
"SAKURAAAAAAAAA!" suara cempreng milik seorang gadis berambut kuning panjang dengan poni yang menutupi sebagian wajah cantiknya menggema di ruang kantin yang luas dan mulai kosong ini. "Kau sudah gila ya? Mau cari mati haaaa? Sudah bosan hidupkah?" teriaknya dengan kencang dan disambut tatapan acuh milik Sakura. "Hei ini masih pagi Ino-pig bisakah kau menunda hobimu ini sampai nanti siang?" jawabnya sambil mengelus-ngelus telinganya-seakan akan takut jika teriakan itu akan membuat telinganya tuli. "Aku tidak bisa menahannya sampai nanti siang nona sok berani!" celotehnya dengan menoyol-noyolkan tangannya ke kepala merah muda itu. "Apa otak kecilmu ini sudah tidak bisa berfungsi dengan baik haaa? senang ya membuatku jantungan terus."
"Hei tidak sopan! Walaupun otakku ini memang kecil tapi aku yakin dia masih bisa berfungsi dengan baik. Dan satu lagi! aku sama sekali tidak melakukan apa pun yang membuatmu mengalami gejala serangan jantung saat masih muda." ucap Sakura tidak terima.
"Su-sudah lah te-teman teman..." Suara milik seorang gadis berambut biru pekat terdengar menengahi dengan pelan bahkan nyaris tidak terdengar karena kalah bersaing dengan suara lantang milik sahabat-sahabatnya itu. "Kenapa? Kau tidak terima aku bilang begitu? Kalau memang otakmu masih bisa berfungsi dengan baik seharusnya kau bisa membedakan perbuatan yang benar dan mana yang perbuatan tidak benar. Kau itu sudah 17 tahun Sakura! Bersikaplah seperti orang dewasa lainnya!" oceh Ino panjang lebar. Melihat Ino yang menasihatinya seperti biasa membuat Sakura mendengus sebal. Ia bukanlah seorang anak kecil yang harus selalu diingatkan dan dinasihati jika salah. Ia sudah besar dan bisa memilih jalan yang diinginkannya sendiri. "Cih dasar nenek tua yang cerewet." jawab Sakura sambil berjalan meninggalkan mereka.
"A-apa? dia bilang apa Hinata?" tanya Ino kepada sahabat birunya yang masih setia berdiri disampingnya. Ia tidak mendengar ucapan Sakura yang sebenarnya memang sengaja diucapkan pelan oleh Sakura. "Aaa...sepertinya dia bilang...hmm apa ya tadi... kenapa aku bisa lupa?"jawab nya sambil menutup kedua matanya dan mengetuk-ngetuk kepalanya. Ino menghela napas panjang.
Ya tuhan sebenarnya apa salahku dimasa lalu sehingga kau memberikan kedua sahabat bodoh ini kepadaku? Apa kau benar-benar ingin aku mati muda? Batinnya dalam hati lalu menghela napas panjang.
Seperti mendapat ilham darimana, gadis yang ditanya Ino tadi menepukan tangannya kompak seperti sudah mengingat sesuatu. "Oh ya tadi dia bilang nenek tua yang cerewet." jawabnya sambil memberikan senyum polosnya. Senang sudah mengingat perkataan Sakura tadi. Mendengar perkataan temannya ini sontak membuat Ino geram. "DASAR DAHI LEBAR! AWAS KAU YA!" teriaknya sambil mengikuti Sakura yang sudah pergi jauh meninggalkan mereka.
"Eh? Tu-tunggu Ino. Kenapa kau marah? Apa aku berbuat sesuatu yang salah?" Ucapnya polos sambil mengikuti sahabatnya
.
.
.
.
.
Kelas 3-1
Seperti kelas biasa pada umumnya. Keadaannya sangat ramai dan berisik. Mengingat guru belum ada yang masuk ke kelas tersebut. Murid-murid perempuan berkumpul pada satu bangku milik temannya dan mulai membicarakan sesuatu. Ya pembicaraan mereka tidak terlepas dari laki laki,barang mewah dan peralatan dandan. Sedangkan laki-lakinya berkumpul dipojok ruangan sambil memainkan gadget mereka. Entah apa yang mereka lakukan karena sejak tadi mereka hanya fokus memperhatikan gadget mereka. Sesekali terdengar desahan mengalun dari mulut mereka. Cih menjijikan.
Sakura pun melewati bangku teman-temannya dan duduk dibangkunya. Ia mencoba untuk tidur dengan siku sebagai bantalnya. Sakura memang tidak suka berkumpul dengan banyak orang. Dia tidak terlalu peduli dengan apa yang orang lain lakukan atau yang orang lain pikirkan. Yang ia pedulikan hanyalah dirinya seorang, tapi entah mengapa kedua orang yang menyebalkan itu malah betah sekali dekat-dekat dirinya. Walaupun Sakura sering sekali menjuteki dan mengusir mereka berdua, tapi perbuatannya itu sama sekali sia-sia karna itu hanyalah membuat mereka berdua tambah lengket dengannya.
Sakura sangat heran dengan kelakuan mereka padahal Sakura yakin jarang sekali ada orang yang betah berada didekat dirinya karena sifatnya yang acuh dan sombong itu. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya pelan mencoba mengacuhkan pikiran aneh yang sempat melintas diotaknya-sejak kapan ia mempedulikan sesuatu. Lalu ia kembali mencoba untuk tidur. Saat sudah akan memasuki dunia mimpinya. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu yang dibuka dengan keras.
"SAKURAAAAAAAAA" terdengar teriakan seorang gadis yang berasal dari pintu yang membuat seluruh kelas mengalihkan perhatian mereka pada gadis tersebut. Sakura yang mendengar namanya dipanggil itu merasa tidak peduli dan mencoba untuk kembali melanjutkan kegiatannnya tadi-tidur. "Hei dahi lebar berani sekali kau mengataiku nenek tua yang cerewet!" Sakura mulai merasa kesal saat gadis itu memanggilnya dengan panggilan dahi lebar. Ialalu mengangkat kepalanya dan memperhatikan gadis pirang yang berada didepannya yang sedang berdiri dengan seorang gadis cantik berambut biru tua. Ia sangat membenci panggilan itu. Ya dahi lebar. Memang ukuran dahinya cukup berbeda dengan gadis-gadis sepantarannya. Tapi siapa juga yang suka diberikan dahi seperti itu? Walaupun tampangnya memang cantik tapi dengan dahi lebar seperti ini akan membuatnya mendapat nilai minus dihadapkan teman-teman laki-lakinya. Tu-tunggu sebentar... kenapa juga ia memikirkan hal ini tanyanya dalam hati. Benar-benar tidak penting.
"Apa lagi sih Ino! Kau mengganggu acara tidurku saja." Ucapnya dengan nada sinis namun wajahnya masih keliatan datar. Mencoba menyembunyikan emosinya yang sudah kesal. "Aku tidak terima kau memanggilku nenek tua yang cerewet. Aku begini juga untuk kebaikan mu nona dahi lebar yang sok berani!" ucap Ino dengan wajah meledek. "Berani sekali kau memanggilku dengan panggilan seperti itu! Dasar nenek-nenek tua cerewet yang memakai make up tebal!" sahutnya dengan tangan yang menunjuk kearah muka Ino.
Ino tersentak kaget "A-apa? Apa kau bilang? grrrr coba katakan sekali lagi dan dahimu benar-benar akan kubuat seperti lapangan sekolah." Geram Ino.
"Ck. Berisik make up tebal!"
"Apa kau muka datar!"
"Perempuan tua yang tak laku!"
"Dada kecil!"
Sakura pun menggeram kesal. Kemudian tidak terdengar lagi sautan sautan dari dua belah pihak. Walaupun begitu mereka masih saling melemparkan death glare mereka masing-masing.
Hinata yang daritadi hanya diam mencoba untuk melerai kembali dua sahabat yang tak pernah akur ini. "Su-sudah sudah teman teman. Ma-malu ini kan dikelas..."ucapnya menengahi temannya-temannya sambil menggiti kuku-kuku jarinya yang sukses diberikan death glare oleh Sakura dan Ino. Hinata pun hanya terkekeh takut.
"Diam kau gadis maniak kuku!" ucap mereka berdua kompak.
Loh kok jadi aku yang kena? Batinnya polos dalam hati. Memang saat mereka berdua bertengkar tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka berdua kecuali mereka sendiri yang sudah capek.. Hinata kemudian hanya bisa melihat mereka dan berdoa semoga pertengkaran mereka cepat selesai dan kembali menggigiti kuku-kukunya-khasnya saat ia merasa cemas dan ketakutan. Namun bukannya berbaikan mereka berdua malah saling mengacak-ngacakan rambut mereka.
"Hei teman-teman! Liatlah kumpulan orang-orang bodoh ini... Kurasa orang tua kalian tidak pernah mengajarkan kalian tata krama ya. Oh ya! aku baru ingat kalian kan hanyalah orang kaya rendahan yang tidak sebanding denganku. Pantaslah jika orang tua kalian tidak mengerti tata krama apalagi anak mereka." Gadis yang bergaya seperti tuan putri itu terus mengoceh merendahkan ketiga gadis yang berdiri didepannya. Dibelakangnya terdapat beberapa gadis cantik yang selalu tertawa sombong setelah mendengar sindiran sang tuan putri. Mereka seperti seorang pelayan yang mengikuti majikannya. Sakura yang mendengar orang tuanya direndahkan merasa sangat geram. Namun Ino berhasil menenangkannya untuk tidak terpancing emosi.
"Hei pengikutku! Kalian harus ingat baik-baik ya. Jika kalian masih ingin menjadi pengikutku kalian jangan sekali-kali mencontoh sikap gadis rendahan seperti mereka. Mengerti?" Ucap gadis sombong itu dengan nada memerintah. Gadis-gadis yang berada dibelakangnya mengangguk pelan tanda mengerti setelah itu ia beranjak pergi diekori pengikut-pengikutnya-pergi meninggalkan Hinata,Ino dan Sakura yang sedari tadi menahan kesal.
"Dasar kau makhluk menyebalkan! Kalian semua lah yang tidak mempunyai tata krama da-uhmmmmm." teriak Sakura namun tertahan karna sekarang mulutnya sudah ditutup oleh Ino. Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan Hinata hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
.
.
.
.
Setelah lama mendengarkan ocehan gay-sensei tentang bagaimana caranya mendapatkan semangat masa muda-topik yang selalu ia bahas jika memasuki kelas. Sakura berjalan menuju kantin diikuti kedua sahabatnya. Saat akan menuruni tangga tiba-tiba langkahnya dicegat oleh seorang perempuan aneh yang memakai sebuah tudung hitam dikepalanya sehingga wajahnya tidak kelihatan. Terlihat ia sedang memegang buku tebal mirip sebuah kitab disebelah tangan kanannya dan sebuah tasbih ditangan kirinya yang selalu ia majukan. Mulutnya tidak pernah berhenti bergumam-seperti sedang mengucapkan sebuah mantra.
Sakura mengernyitkan alisnya menatap heran pada gadis yang berada didepannya. Ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Apakah ia murid baru? Karena tidak kunjung pergi dan tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun, akhirnya Sakura angkat bicara. "Apa maumu?" Tanyanya to the point. Gadis itu terdiam sejenak namun tidak juga menjawab pertanyaan Sakura lalu kembali bergumam tidak jelas. Ino dan Hinata saling bertukar pandang. Wajah mereka menunjukan raut "apa yang sedang ia lakukan?"
Sakura yang merasa waktunya dibuang-buang percuma mendengus kesal dan berjalan meninggalkan gadis itu namun langkah kecilnya itu tertahan karna gadis tersebut akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Batalkan perjanjianmu." Ucapnya datar. Sakura yang mengerti maksud gadis tersebut langsung membalikan badannya cepat. "Siapa kau berani menyuruh-nyuruh ku?!" Jawab Sakura dengan nada yang mulai meninggi. Namun gadis yang dituju tetap tenang tak bergeming. "Kutukan itu akan bangkit lagi." Sakura menampilkan raut wajah bingung. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan gadis itu. Namun ia berusaha untuk tidak mempedulikannya dan kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga. "Tunggu! Kau tidak mengerti yang akan terjadi jika kau tetap melakukan perjanjianmu itu." Sakura tetap tidak peduli dan malah menutup matanya dan mengangkat kedua tangannya ke belakang kepalanya-seolah tidak ada yang berbicara padanya." "Ya. Aku sama sekali tidak mengerti dan tidak akan pernah mau mengerti. Aku tidak peduli."
Mendengar jawaban sang gadis merah muda itu membuat tubuhnya mulai bergetar ketakutan. Kepalanya yang sedari tadi menunduk kini sudah terangkat keatas. Ino bisa melihat dengan jelas raut muka cemas dan ketakutan pada gadis itu. Entah apa yang ia takuti dan ia cemaskan. Ino sama sekali tidak mengerti. "Ah! Sakura-chan tu-tunggu a-aku." Panggil Hinata yang sudah berlari kecil menyusul Sakura yang sudah berjalan jauh. Ino pun mengikuti Hinata. Namun ia menengokan kepalanya sedikit untuk melihat gadis itu sebentar. Ino melihat gadis itu sedang menggigit bibirnya lalu mengangkat kedua tangannya dan menyatukannya-berdoa. Gadis aneh! Batin Ino lalu segera menyusul kedua sahabatnya.
.
.
.
Gimana chapter 2 nya? Ngebosenin ya? Hehe maafkan daku ya. Chapter selanjutnya bakal menceritakan petualangan mereka di bangunan tua itu. Semoga kalian tetep baca cerita ini sampe abis. Jangan bosen-bosen yaaaa. Oh iya review jangan lupa. Jaa-nee~
