DISCLAIMER : NARUTO BUKAN PUNYA SAYA

a/n : sekedar meluruskan hinata tetep hinata cuman hidungnya aja yang kaya babi ko ^ ^

The Tale of hinapig and icy prince


Sebelumnya ..

'Aku lelah, setelah 6 tahun mengalami penolakan dari setiap pria bagaimana mungkin aku masih bisa berharap ada satu diantara mereka yang tidak berlari.'

'Bagaimana mungkin.'

Hinata mengusapkan air matanya menjauh dan menatap matahari yang bergerak ke arah peraduan. Hinata menatap matahari senja lama,mendengarkan kicauan burung yang saling bersautan di luar sana.

"Mereka bilang negeri ini negeri keajaiban. Jadi,bolehkah aku berharap?"

Hanya angin yang berhembus dingin telah menjawab Hinata. hanya rasa hangat sekecap dari mentari yang tersisa yang memberi hinata kemampuan untuk berharap.


Bagiku semua sesudah terang pasti gelap

Semua sesudah bahagia pasti sakit

Semua sesudah hangat pasti dingin

Dan lembaran kosong bernamakan cinta

Hanyalah khayalan kosong dari sang pengembala

Berkeliling berharap dengan penuh dosa

Karena kehangatan pada akhirnya akan membawa luka

Lalu mengapa aku harus merasakanya?


Ia memejamkan matanya perlahan menikmati kegelapan yang menyusup ke dalam dirinya. Merasakan desir lembut dari angin yang menerpa wajahnya perlahan. Bias matahari senja yang hangat pada kulitnya. Bersandar pelan pada pohon Ek yang berdiri tegak didalamnya. Mendengar percikan kecil sungai yang mengalir riang di telinganya. Menikmati kesunyian dan ketenangan saat matahari meredup pelan. Sasuke Uchiha pangeran bungsu keluarga bangsawan Uchiha selalu berusaha menghabiskan senja di hari-harinya dengan cara yang sama, bersembunyi.

Sekali lagi perlu ditekankan, ia berusaha menghabiskan senja harinya yang tenang. Berusaha ..

"Sasuke-kun!dimana kau?" teriak Sakura berulang-ulang. Mendengar suara Sakura yang memanggilnya, Sasuke hanya mendecih kecil dan bersiap menghadapi penganggu kecil sorenya yang tenang.

"Sasuke-kun!akhirnya aku menemukanmu!" ucap Sakura. Perlahan Sasuke membuka matanya dan menatap mata emerald cemerlang Sakura dihadapanya. Senyum Sakura merekah lebar melihat Sasuke yang kini menatapnya.

"Kenapa disini?aku mencarimu." Ucap Sakura sekali lagi sambil mendekatkan diri pada Sasuke.

"Jangan ganggu aku,Sakura."ucap Sasuke dingin. Matanya menatap Sakura bisu yang perlahan memudarkan senyum dari wajahnya.

"Kenapa Sasuke?kenapa kau begitu dingin padaku." Ucap Sakura nanar berusaha menahan air mata yang mengembang dipelupuknya. Matanya berkaca-kaca menatap Sasuke perih. Dengan senyum tertahan Sakura kembali berusaha meraih jemari tangan Sasuke dan berusaha mengaitkan jemari mereka.

"Aku memang seperti ini Sakura. Bukan hanya padamu. Namun, semua orang." Ucap Sasuke melepaskan kaitan tanganya dari Sakura dan pergi menjauh. Sakura menatap sosok Sasuke yang menjauh, melihat bayanganya yang semakin gelap, semakin dingin dengan dimulainya malam. Sakura merasakan dingin di jemari tanganya. Sakura menatap jemari tanganya lama merasakan jejak dingin yang ditinggalkan Sasuke di tanganya dan juga dihatinya.


Pelari pelari kecil itu menyongsong hatiku

Meneriakkan kebahagiaan yang tidak aku kenal

Seperti lusinan bunga kecil yang harus ku urutkan

Mereka juga mengajarkanku cinta yang mungkin hanya rekaan


Menghamparkan dirinya di padang bunga kecil dibelakang kastil keluarga Hyuuga, Hinata memejamkan matanya pelan menghembuskan segala resah dalam hatinya dengan bermandikan sinar matahari lembut yang memebelai hangat wajahnya. Menyerap aroma manis dari bunga Lili di sekelilingnya. Senyum indah mengembang di wajah kecilnya, senyum kecil penuh damai.

"Hangat .. lalu apa ini rasanya dari cinta?"gumamnya kecil masih memejamkan matanya.

Semenjak kecil Hinata diasingkan dari dunia. Hanya kastil berdinding tebal ini yang menjadi dunianya. Pagar-pagar yang tinggi menjulang merupakan ujung dunianya. Hanya dengan membaca dia merasakan, membayangkan keindahan dunia di luar.

"Hinata."

Mendengar namanya dipanggil, hinata membuka matanya perlahan. Mendongak ke atas ia menatap Neji hyuuga,sepupu Hinata, yang sedang tersenyum simpul.

"Nii-san." Gumam Hinata kecil.

Menatap mata perak Neji, Hinata tersenyum melihat wajah bahagia Neji yang merindukanya.

Perlahan Hinata menegakkan tubuhnya, menghampiri Neji dan memeluknya pelan.

"Apa kabar Nii-san?" ucap Hinata lembut, melepaskan pelukanya dari Neji.

"Baik. Bagaimana rencana paman untuk menjodohkanmu?"

Hinata hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Neji karena ia tau tidak ada yang berubah atau perkembangan apapun. Mereka semua sama. Lari .

Menatap wajah Neji lama, Hinata merasakan gejolak hangat di hatinya. Merasakan orang yang menerima dirinya apa adanya berdiri di sampingnya, merindukanya.

"Nii-san, sudah makan?" tanya Hinata menarik Neji ke dalam kastil Hyuuga.


"Ini hanya sebentar,Paman."ucap Neji berusaha meyakinkan ayah Hinata. ayah Hinata menatap Neji lama sebelum akhirnya mengangguk.

"Terima kasih Otou-san. Aku berjanji tidak akan mempermalukanmu." Senyum Hinata lebar sambil berlari dan mengecup ringan pipi ayahnya.

"Jangan lupakan Syalmu." Ucap ayah Hinata.

Hinata mengangguk cepat dan tersenyum berterima kasih kepada Neji. Matanya bersinar bahagia mendengar izin ayahnya.


Sebelum Neji pergi dari konoha 2 tahun yang lalu, ia berjanji saat kembali ia akan membawa Hinata untuk pertama kalinya keluar kastil dan melihat kota Konoha. Mengingat janji itu, Neji menyampaikan keinginanya kepada ayah Hinata. namun, Hinata dapat keluar dengan menggunakan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Hidungnya.

Hinata menatap lama dirinya. Syal ungu panjang melilit di wajahnya menutup bagian hidung dan mulutnya. Menatap mata peraknya lama, Hinata tersenyum di dalam syalnya.

'Malam ini akan indah Hinata.'

Merapikan rambut birunya perlahan,membiarkanya jatuh perlahan ke pinggangnya. Gaun coklat membalutnya sempurna. Dengan renda kecil yang menghiasi ujung-ujung gaunya, gaun itu jatuh menuruni betisnya. Berirama lembut dengan kaki jenjangnya yang pucat. Flat shoes coklat yang senada dengan gaun coklat lembutnya.

"Kau siap?" tanya Neji yang berdiri di samping Hinata. mereka berdua tepat berada di depan gerbang kastil. Mendorong pelan gerbang kastil tersingkaplah dunia baru untuk Hinata.

Kilauan lampu jalan menyilaukan matanya. Sinar lampu dari gedung-gedung yang menjulang memperindah suasana malam. Kibasan angin yang cepat dari kendaraan yang lewat menerpanya. Orang-orang yang dengan cepat berlalu-lalang disekitarnya. Bunyi klakson terdengar mengiringi keramaian kota pada malam hari.

Hinata tidak dapat menahan rasa bahagia yang membuncah dalam dirinya. Rasa bahagia yang keluar dari hatinya.

Menatap wajah Neji yang tersenyum, Hinata maju melangkah berjalan mengitari kota dikala malam. Merasakan angin malam yang menerpanya riang,Hinata membuka kedua lenganya cepat, tidak tahan merasakan perasaan seperti ini. Seperti bebas.

Menatap deretan toko dan restaurant yang berjajar rapih dijalan-jalan sekitarnya,Hinata tersenyum semakin dalam. Menyusuri rumah-rumah indah di pinggiran jalan, hinata mengingatnya dengan jelas. Tanpa lelah kakinya berjalan menyusuri jalanan kota yang tak pernah padam ini. Memandangi lampu-lampu yang menghiasi jalan menerangi langkahnya.

Hinata sudah pernah mendengar kehidupan dan keindahan kota konoha dari buku yang ia baca ataupun pelayan yang menceritakanya. Tapi, merasakanya sendiri sangat berbeda.

Sangat jauh berbeda. Merasakan denging bunyi klakson untuk pertama kali. Menatap deretan gedung yang menjulang tinggi dalam jarak dekat. Hal kecil ini sangat berarti untuk putri kecil hinata. senyum indahnya bersembunyi di balik syalnya yang membungkus wajahnya rapat.

"Apa kau mau ke sungai yang terkenal itu?" tanya Neji.

Sungai Konoha merupakan sungai yang terkenal karena perbatasan antarkota sehingga dipenuhi banyak restorant dan toko. Dibalik batu-bata merah para toko yang tersusun rapih, sungai ini tetap menyimpan keindahanya karena langit yang gelap bertabur bintang diatasnya.

Hinata menyusuri jembatan sungai itu perlahan,menatap bentuk lengkungan dari jembatan itu. Warna putih yang menghiasi setiap jembatan. Perahu sampan dibawah jembatan yang siap mengantarkanya menikmati sungai dan langit gelap diatasnya. Lampu taman yang berada di setiap ujung jembatan membiasi dengan indah sekelilingnya.

Hinata berhenti ditengah jembatan dan menatap kesekelilingnya lama, menikmati kesejukan malam yang menerpanya. Memegang erat syalnya merapatkan ke wajahnya.

"Kau ingin minum?" tanya Neji.

"Ya, Nii-san." Jawab Hinata.

"Tunggu disini. Aku akan kembali."

Masih menatap langit lama Hinata membayangkan apakah rasa ini.

'Apa rasa bahagia ini cinta?'

'Apa dingin dari malam itu cinta?'

Angin kencang menerbangkan syal Hinata, membawanya terbang. Dengan cepat Hinata menutup hidungnya dan lari mengejar syalnya.

"Syalku!"

Syal itu tersangkut di lampu taman jembatan satunya. Dengan cepat Hinata berlari berusaha mengambil syalnya. Hinata menatap syalnya yang mengapai-gapai tinggi tersangkut pada lampu taman.

"bagaimana ini?tinggi sekali" gumam hinata pada dirinya sendiri.

Tangan itu menggapai tinggi syalnya yang tersangkut. Dengan, satu tarikan cepat dia menarik syal itu turun. Menggengamnya erat, ia mengarahkan syal itu pada Hinata. Hinata menatap kedua tangan yang mengarah padanya, tangan yang menggengam syalnya erat. Dengan gugup Hinata mengarahkan matanya perlahan kepada wajahnya. Menatap matanya yang gelap dan dingin. Kulitnya yang puncat terselubung rambutnya yang gelap. Bibirnya yang penuh tertutup.

"ini punyamu?"

Kembali menatap matanya lama Hinata menyadari, mata itu hidup dengan caranya yang dingin. Mata itu menatapnya diam, menariknya perlahan ke dalam dunianya. Mata itu ..

Mengedipkan mata pelan, hinata tersadar akan suara yang memanggilnya. Hinata menerima syalnya dengan tangan satunya sementara yang lain masih menutupi hidungnya. Dengan cepat,hinata merundukan kepala dan membungkus wajahnya dengan syal itu.

"I-iya, terima kasih ."

Dia menatap hinata lama sebelum menjawab .

"Angin disini kencang. Ikatkan erat-erat"ucapnya. Matanya masih menatap hinata dalam tidak sedetikpun melepaskan pandangan darinya.


Jika kau bertanya padaku apa itu cinta?

Aku akan bilang

Cinta itu bukan sekedar rasa bahagia

Bukan sekedar rasa aman

Bukan sekedar rasa lega

Lalu kau akan bertanya bagaimanakah rasanya cinta?

Aku akan bilang

Cinta itu tidak seperti siang

Cinta itu tidak seperti malam

Aku akan jawab

Cinta itu adalah semua rasa

Karena saat aku menatapnya malam itu akan merasakan semua rasa itu

Semuanya tanpa terkecuali


TBC

Minna san!

Ini dia seperti janji saya kalo fic ini ga bakal update lama paling banter seminggu ^ ^

Tapi fic ini perlu bantuan review anda

Karena tanpa review yang banyak dari anda, keajaiban di fic ini ga bakal terjadi

Review ya kalo masih mau dilanjutin okee

REVIEW yang banyak

Saran,kritik semua dibuka ayo ayo saran yang banyak terima flame dll

Don't easy with me or I won't learn

Arigatou buat semua yang udah baca!

Review kalian sangat berarti untuk saya

Oia yang mau sumbang saran cerita boleh boleh ^ ^

Saatnya membalas :

Wely : siap! Update kilat. Keep reading ya ^ ^

Iyuunchan: bagus? Wah makasi banget, udah mau baca arigatou*bow*

Sasuhina-caem :makasi doa nya hehe manjur banget, chap selanjutnya juga udah siap tinggal tunggu aja ^ ^

Bottle : hai ganbatte juga ^ ^

Sukasnsd : banyak typo ya?aduuuh maaf - -; hehe maklum baru comeback dari hiatus yang panjang*alasan*

Hizuka miyuki : kereen?wah makasi.

Uchihyuu nagisa : sasuke ada kok tuh diatas hehe. Tenang bakal banyak sasuke hehehe ^ ^

For all readers keep reading and reviewing!

I'll wait for you all response for this chap ^ ^