Touhou Project (c) ZUN, not me.
saya hanya membuat cerita saja.
Warning : kata-katanya mungkin ada yang ganjil dan tidak sesuai dengan kaidah yang sering diajarkan oleh guru bahasa Indonesia saya di sekolah, dan mungkin ada typo yang telah lepas dari pengawasan saya.
.
.
.
Dakara, Atashi wa Hitori Janai
'Because I'm not Alone'
.
.
.
Pagi itu, Sanae bangun lebih pagi dari biasanya, entah karena apa. Udara dingin musim gugur yang mulai menusuk membuatnya ingin kembali masuk ke dalam futon miliknya, tapi diurungkannya niat itu. Sanae beranjak dari futonnya dan mulai mengenakan hakama miliknya lalu pergi ke halaman depan Kuil Moriya.
Langit pagi itu masih sedikit gelap, hanya samar warna kekuningan yang terlihat, pertanda matahari akan segera muncul di ufuk timur. Sanae menanggahkan kepalanya ke langit lalu terbang ke arahnya, setelah dikira cukup tinggi, Sanae melihat ke bawah. Pemandangan indah nan menakjubkan terlihat dibawah sana, dibawah kakinya sendiri. Ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa para dewi kuilnya tak ingin pergi meninggalkan dimensi yang dibangun oleh youkai bernama Yukari Yakumo ini.
Tapi Sanae bisa mengerti itu semua, karena semua pemandangan ini jarang sekali dilihat olehnya, gemersik dedaunan yang ditiup angin lalu jatuh kebawah bagaikan hujan daun yang mempesona, gemercik air terjun di Youkai Mountain, langit penuh bintang yang muncul setiap malam, lalu, terbang— Ah, Terbang.. Itu takkan pernah dirasakan oleh Sanae di tempat tinggalnya dulu. Melayang di udara, menikmati bagaimana udara itu menghembus tubuh dengan lembut dan syahdu. Betapa menyenangkan bisa terbang bebas disini.
Tapi bukankah itu beda jika tak ada yang menemani?
Sanae tahu dia memiliki Kanako dan Suwako, tapi mereka juga sibuk dengan tugas mereka sebagai dewi, dan sebagai seseorang yang melayani mereka Sanae tak mungkin meminta mereka hanya untuk menemaninya mengobrol Itu tak sopan menurutnya.
"oi, apa yang kau lakukan pagi-pagi sekali begini?" Sanae tersentak dari lamunannya, dihadapannya sudah ada si penyihir hitam-putih, Kirisame Marisa.
"ah, hanya jalan-jalan saja. Udara begitu dingin, tapi aku tak bisa kembali terlelap dalan futonku" ucap Sanae. "kau sendiri mau kemana?"
"oh, aku? Reimu bilang dia ingin aku membantunya membuat moon dumpling untuk nanti malam. Hari ini kan Full moon festival." Ujar Marisa sambil memperlihatkan senyuman khasnya.
"kau mau membantu?" Tanya Marisa lagi.
"eh? Aku, membantu?"
"iya, mau tidak?"
"ng, tapi.. aku belum minta izin pada Yasaka-sama dan juga Moriya-sama."
"hem, memang repot juga ya kalau jadi pelayan dewi. Tulis surat saja."
Sanae menganguk, gadis itu menuruti apa yang dikatakan si penyihir. Dia masuk kembali ke dalam Kuil Moriya, mengambil secarik kertas dari kamarnya lalu ditulisnya mengenai izin kepergiannya ke Kuil Hakurei—kuil milik Reimu—dan menyimpannya di meja makan, lalu kembali ke luar kuil untuk pergi bersama Marisa ke Kuil Hakurei.
'Ini pasti akan jadi hari yang menyenangkan untukku~!'
.
.
.
TBC
hdkashdskjada chapter 2~ pendek banget ya ceritanya wwwww XD
terimakasih yang sudah baca chapter pertama :D
semoga juga suka dengan chapter keduanya w
-reply review-
palver7 : halo~ terimakasih juga sudah mau mampir dan membaca fic saya. Senang sekali ada yang baca dan riview w
ehehe, saya dan beberapa teman saya memang memanggil Kanako dan Suwako itu dewa bukan dewi, memang tak ada alasan yang jelas sih mengenai itu, tapi nampaknya malah terbawa ke fic ya.. tapi tenang, sudah saya ganti jadi dewi biar tidak bingung :)
sampai jumpa chapter berikutnya~ :D *bow*
