"Have you ever been hurt and the place tries to heal a bit, and you just pull the scar off of it over and over again." -Rosa Parks


Tokyo, 5 November 2013

.

.

"Saki, benar kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali."

Aku membalas nada khawatir ibu dengan senyum manis, yang tentu saja kupalsukan. "Kaa-san tenang saja. Aku sehat."

Itu kebohongan terjelek yang pernah kubuat. Sungguh.

Sama halnya ketika aku berdusta pada ibu saat tertangkap basah menyelinap keluar pukul 8 malam hari, untuk menemui pacarku. Ya, laki-laki busuk yang kini resmi menjabat sebagai mantan pacarku. Oh, ya ampun. Aku bahkan keberatan untuk menyebutnya mantan pacar. Sekarang aku terlalu malas untuk mengakui bahwa kami dulu pernah berinteraksi.

Dan ketika itu aku tidak punya pilihan lain selain berbohong. Ibu memang tidak pernah menyukainya sejak awal—bisa dibilang hubungan kami kurang disetujui. Aku bisa lama menjalin hubungan dengannya pun berkat kegigihanku beradu argumen (kuakui kepalaku memang sekeras batu). Padahal beliau selalu mengatakan bahwa aku pantas mendapatkan pria yang lebih baik. Entahlah, mungkin semacam intuisi, atau sebangsanya. Yang jelas aku belajar sesuatu yang baru. Jangan pernah meremehkan indra keenam seorang ibu untuk memprediksi masa depan.

Kondisiku sekarang adalah akibatnya. Terpuruk, kacau, hampir tidak menyentuh alam mimpi tiga hari berturut-turut, sulit untuk fokus. Jangankan sehat, aku bahkan meragukan kewarasanku. Juga tidak yakin dapat melewati seminggu ini tanpa pingsan atau mendadak tersedu-sedu. Bisa jadi lebih buruk, mengingat jarangnya aku berinteraksi dengan teman atau siapapun selain ibuku selama beberapa minggu terakhir. Semua lantaran aku terlampau antusias untuk menyiapkan kejutan yang sialnya berpuncak pada tragedi malam itu. Terkutuklah 1 November.

Aku sungguh—sangat amat sungguh beruntung malam itu ibu terpaksa menginap di kantornya karena lembur. Tak dapat kudeskripsikan neraka macam apa yang harus kuhadapi bila beliau mendapati anak gadisnya pulang tengah malam dengan keadaan hampir sekarat. Walaupun pada hari berikutnya aku dibombardir pertanyaan seputar mengapa bisa terserang demam dan kenapa telapak kakiku bengkak. Yang tentu saja kujawab dengan dusta lain.

"Aku pergi dulu!"

.

.

.


Dapatkah hari ini menjadi lebih mengerikan?

Aku tahu cepat atau lambat kami pasti bertemu, tapi tidak dalam situasi seperti ini.

Bahkan aku hampir berhasil melupakan fakta bahwa kami berada di bawah naungan atap sekolah yang sama. Mungkin bukan lupa. Tepatnya aku yang tak sudi mengingat. Toh selama tiga hari ini aku sukses menghindarinya. Tapi kenapa dewi keberuntungan hanya menghadiahiku tiga hari tenang? Aku layak mendapat lebih.

Kebencianku bertambah tatkala melihat buaya darat yang setahun lebih tua dariku itu melenggang bebas di kantin bersama gadis barunya, dengan jarak kurang dari dua meter di hadapanku. Kami-sama, nampaknya satu kali melempar heels pada wajah mereka belumlah cukup. Tanganku gatal untuk melakukannya berkali-kali, ratusan kalau perlu. Apapun asal bisa menyingkirkan makhluk-makhluk itu dari jarak penglihatan. Sulit bagi mataku untuk menerima pemandangan baru ini.

Hanya saja, tak ada yang dapat kulakukan selain menusuk-nusuk vanilla shortcakeku menggunakan garpu dengan ganas. Beberapa siswa memberiku tatapan janggal dan takut, seolah-olah aku adalah psikopat gila yang tengah mengincar mangsa. Aku memaklumi. Ketakutan mereka beralasan.

Aah, kenapa aku jadi begini?

Rasa sakit itu kembali menyeruak, sedikit semi sedikit merobek lubang di hatiku. Semakin lama semakin lebar dan dalam, sampai-sampai aku sendiri tidak bisa mengukurnya. Ruangan ini tidak dingin, tapi entah bagaimana beku yang sama layaknya malam itu menjamah kulitku. Dalam sekejap perih membasuh wajah, pikiran, dan segala hal, termasuk perasaanku sendiri. Mataku sudah terlanjur sembab, terlalu lelah untuk meneteskan bahkan setitik air mata. Juga sangat tidak keren untuk menangis di depan pria itu lagi. Harga diriku sudah cukup terinjak oleh kejadian beberapa hari lalu.

Aku segera beranjak, mengabaikan kue yang hancur lebur akibat dijadikan sarana pelampiasan. Aku hanya ingin semua kembali normal. Salahkah jika aku berharap bisa menjalani rutinitas biasa tanpa dibayang-bayangi kejadian malam itu? Tanpa ada ingatan tentang pemuda yang pernah berbagi kasih sayang denganku selama 4 tahun mencium gadis lain? Apa itu permintaan yang terlalu berat? Aku sadar, mungkin aku terlalu mendramatisir. But it hurts. It hurts as hell.

.

.

.


Sisa sore kuhabiskan untuk berkeliling di sekitar jalan pertokoan. Aku hanya tidak ingin pulang ke rumah. Ke kamarku, lebih spesifiknya. Karena disanalah aku akan menangisi diriku sendiri sampai kantuk mengambil kendali. Ironis, bukan? Di satu sisi aku menolak dianggap sentimental, di sisi lain aku bisa tiba-tiba meledak dan menciptakan tsunami mini pada mataku. Terakhir aku melirik cermin, pita suaraku refleks memekik. Berani taruhan tidak ada yang bisa membayangkan rupa wajahku saat itu. Menatap cermin dengan pantulanku di dalamnya setara dengan melihat bencana.

Sedikitnya itu bisa menjelaskan kenapa setiap orang yang berpapasan denganku di jalan membulatkan mata mereka. Tapi siapa peduli. Tanpa motivasi, pada dasarnya aku memang tidak becus mengurus diri sendiri. Omong-omong soal mengurus diri, perutku kini sibuk meraung kelaparan. Kalau diingat-ingat, aku melewatkan sarapan dan cake tadi siang terbuang percuma.

Bola mataku menelusuri satu persatu toko. Ada banyak nama-nama unik kafe terpampang, tapi khusus saat ini aku mengesampingkan itu. Kafe bukanlah pilihan terbaik. Kenapa? Sudah jelas karena aku akan semakin frustasi disana, menonton pengunjung lain menikmati dunia berdua dengan teman kencan mereka. Lama mencari, iris hitamku akhirnya menangkap papan neon bertuliskan Maji Burger. Terdengar jauh lebih menyenangkan di telingaku. Tak ingin membuang waktu, kulangkahkan kaki menuju restoran cepat saji itu.

Rileks membasuh sekujur tubuh, begitu aku menghirup aroma nikmat burger di restoran ini. Hal tersebut menjadi pemicu tambahan bagi perutku untuk menggeram lebih keras. Segera aku berjalan menuju kasir pemesanan, menunjuk paket menu yang kuanggap cocok dengan selera. Lima menit kemudian, aku sudah duduk manis sembari menyantap hidangan yang baru kupesan. Setelah sehari penuh siksaan, akhirnya aku bisa merelaksasi saraf otakku walau barang sebentar.

Seraya menggigit, aku mengamati tiap-tiap sudut ruangan. Tipikal restoran franchise pada umumnya, tempat ini selalu ramai pengunjung. Aku menghela nafas lega, sedikit terhibur karena bukan hanya aku yang duduk sendirian. Ada beberapa orang yang tengah menikmati santapan tanpa keluarga atau teman layaknya pelanggan lain, beberapa lainnya sibuk dengan gadget mereka.

Mendadak sekilas gaduh terdengar, membuatku memalingkan mata ke arah pintu masuk. Dahiku mengernyit, memperhatikan pengunjung-pengunjung restoran yang baru saja tiba. Mencolok, boleh kukatakan. Jumlah mereka lumayan—mungkin sekitar delapan sampai sepuluh—dan semuanya laki-laki. Pakaian mereka hampir senada. Kaos oblong berlapis jaket olahraga hitam bertuliskan Tōō Gakuen. Tōō? Aku tidak punya banyak pengetahuan mengenai sekolah lain, tapi kalau tidak salah ingat, sekolah itu terkenal dengan kurikulum serta sistemnya yang bagaikan universitas. Bebas, merdeka, tidak mengikat.

Peraturan yang longgar bisa jadi alasan mengapa orang-orang ini berperawakan seenaknya. Salah satu yang berambut pirang berkali-kali menjitaki pemuda lainnya yang lebih pendek (sependengaranku ia terus-menerus mengutarakan maaf). Tidak ada yang berusaha melerai, semua terpaku pada obrolan masing-masing. Tentu hal itu menciptakan bising yang menarik berpasang-pasang mata tertuju ke arah mereka. Entah kenapa, kehadiran mereka membawa aura tersendiri yang membuat restoran ini terasa lebih ramai lagi. Haruskah mereka seribut itu? Bagaimanapun juga ini rumah makan, bukan taman bermain.

Instingku mengatakan untuk segera keluar dari sini, atau sesuatu yang buruk akan menimpaku—untuk kesekian kalinya.

Tidak, tidak. Ini bukan waktu yang tepat untuk berparanoid ria.

Aku menghela nafas panjang, berusaha menikmati sisa burgerku ditengah keributan yang mendadak ini. Maji Burger menyuguhkan makanan cepat saji nan lezat. Semua masyarakat dari berbagai lapisan, mulai dari kami para remaja hingga orang tua dan pekerja kantoran, tertarik menjadikan restoran ini sebagai tempat berhimpun dengan kawan yang seusia. Jelas harapan yang mustahil—dan agak sedikit gila—bila aku dengan seenak jidat menguasai tempat ini untuk ketenanganku sendiri, bukan?

"Hei! Jangan sembarangan duduk. Itu kursiku, Sakurai!"

"E-eh? M-maaf, maafkan aku!"

"Hentikan permintaan maafmu. Itu menyebalkan."

"Kalian berdua, berhentilah bertengkar. Semua orang melihat kita."

Ugh.

Dewi keberuntungan memang menaruh dendam padaku.

Dengan segala kebetulan yang ada—dan dari segudang kursi yang tersedia, kenapa sumber keributan tersebut harus duduk persis di sebelah mejaku? Maksudku, kenapa selalu di saat aku butuh ketenangan? Rasa-rasanya pun kejadian ini tidak asing lagi bagiku.

Kendati demikian, protes tak dapat dengan mudah kuungkapkan. Adalah mustahil jika aku mengusir mereka keluar seolah akulah pemilik restoran ini, hanya karena mereka membuat kegaduhan khas remaja normal pada umumnya. Aku sudah terlalu banyak kehilangan harga diri, tidak berminat membuat masalah baru. Jadi aku hanya duduk dalam diam, membabat habis burgerku serta menyesap perlahan soda yang masih penuh belum tersentuh.

Argumen demi argumen terus mereka lontarkan tanpa ada jeda. Semakin lama semakin berisik, tak lupa diselingi kata-kata kasar yang bertebaran. Inilah salah satu kebiasaan yang kubenci dari para pria jika sedang berkumpul dengan teman-teman mereka. Awalnya aku berusaha tidak terpengaruh oleh ocehan mereka serta—apa ini? Bau keringat?

Sayangnya, aku sudah mencapai titik dimana indra pendengaran dan penciumanku tidak mampu lagi bertahan. Kuputuskan untuk membereskan mejaku. Pindah ke pojok ruangan terdengar lebih menjanjikan.

Aku berdiri, mengambil tas beserta gelas soda yang masih tiga perempat penuh, saat telingaku menangkap seseorang dari antara kawanan di meja sebelah berseru,

"Oh, datang juga kau, Aomine!"

Persis ketika orang itu menyelesaikan kalimatnya, aku berbalik dan—

SPLASH!

...uh-oh.

Mataku beberapa kali mengerjap.

Coklat.

Yang pertama kali kulihat adalah kaos biru yang berlumuran soda coklat. Dan dada bidang seorang laki-laki. Dan kulit berwarna coklat. Dan, dan—

"Oi."

Suara bariton itu membuyarkan keterkejutanku. Aku mendongak, melihat wajah si pemilik suara. Sial, seberapa tinggi orang ini?

Namun sesaat setelah manik hitamku beradu dengan sepasang manik biru gelap, pertanyaan itu sirna dengan sendirinya. Begitu pula dengan warna pada wajahku, membuat kulitku terlihat lebih pucat dari yang telah ada.

"Sampai kapan kau mau terus bengong?"

Saat ini, aku tahu bahwa kecerobohanku sukses membuat kami berdua menjadi pusat perhatian. Aku juga sadar bahwa bukan hanya pakaiannya yang ternodai soda, seragamku pun mengalami nasib yang sama. Dari nada bicaranya, aku pun tahu bahwa ia jengkel dengan keteledoranku.

Tapi aku tidak bodoh untuk melupakan begitu saja wajah orang aneh yang melecehkanku malam itu. Terlebih ketika ia mentertawai cacian yang sudah susah payah kukeluarkan.

Tidak salah lagi. Pemuda di hadapanku adalah pemuda congkak yang sama.

Dapatkah hari ini menjadi lebih mengerikan?

Tentu saja, hari ini dapat menjadi hari yang sangat mengerikan.

.

.

.

To be continued.


Thanks for reading!

Untuk sementara, identitas (seperti nama, dll) dari mantan pacar Saki mungkin akan sambil lalu saya deskripsikan. But fyi, he has no relation to the GoM or any basketball player. Just another OC yang saya buat. Untuk fokusnya, bakal lebih ke Aomine dan si Saki ini. Jadi boleh dibilang, si mantan cuma jadi batu loncatan (?) atau semacam itulah, hehe.

Any kind of review, fav, and follow will be so much appreciated. Thank you and see ya on the next chap ;)