Gekkan Shoujo Nozaki-kun by Tzubaki Izumi

.

Chapter 2, Cerita 1: Baju Pengantin

"Ini bagus," Seo mengangkat baju pengantin putih dengan manik-manik perak menghiasi bagian tepinya.

"Wah ini juga!" seru Kashima memperlihatkan baju pengantin warna hitam berpotongan bahu rendah yang terkesan sexy.

Hari ini para perempuan dengan bersemangat memilihkan baju pengantin untuk sahabatnya yang akan segera menikah. Rasanya menyenangkan sekali padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka menghadiri pernikahan Nozaki, namun memilihkan pakaian pengantin adalah hal pertama bagi dua wanita (kalau bisa dibilang) aneh ini.

Pramuniaga toko juga ikut-ikutan bersemangat memilihkan, mulai dari yang keliatannya mahal hingga yang sederhana ia sodorkan pada wanita mungil itu. Chiyo pun mencoba baju-baju tersebut dengan bersemangat jua.

Namun apa dikata, ternyata dari semua pakaian itu beberapa ada yang kepanjangan dan selebihnya membuat Chiyo terlihat lebih pendek dari biasanya.

"A-ayo cari lagi." Kashima mencoba mengacak-ngacak persediaan toko itu kembali agar tak menyinggung perasaan Chiyo.

"Sepertinya di toko di depan ada yang cocok!" Yuzuki menunjuk toko di seberang jalan.

"Yuzuki itu toko untuk costum anak-anak!"

.

Setelah akhirnya keluar masuk belasan toko baju pengantin, akhirnya ada baju yang sesuai dengan tubuh dan cocok untuk Chiyo kenakan.

Warna dasarnya putih dengan pita merah besar di pinggang, bawahannya menyapu lantai namun tidak membuatnya terlihat tenggelam serta dilengkapi kerudung pengantin yang cantik sekali.

Kashima dan Seo seketika berbisik-bisik.

"Psst, apa si Pria itu bisa tahan nantinya di acara pernikahannya?"

Kashima menggeleng, "kurasa dia pasti akan malu-malu mau."

Dan Chiyo memandang dua tukang gosip itu dari kejauhan.

.

Di lain tempat, di hari yang sama

"Senpai ini sepertinya cocok!" Wakamatsu mengangkat setelan tuxedo berwarna abu tinggi-tinggi. Entah karena refleksnya atau apa, ia langsung mengoper setelan itu pada Nozaki.

"Ini juga bagus, hei Mami…koshiba lihat!" Hori menarik Mikoshiba dan mencatutnya dengan tuxedo hitam gelap. Padahal sudah hampir dua tahun Mikoshiba menjadi partner kerjanya, tapi tetap saja sesekali lidahnya masih keseleo antara Mamiko dan Koshiba.

Sedangkan Nozaki—yang masih menenteng tux coklat di tangannya—malah asyik melirik-lirik ke bagian pakaian wanita.

Mikoshiba akhirnya mencoba tux hitam dengan gugup di kamar pas. Berbelanja dengan pria-pria ini ternyata lebih menghabiskan tenaga dan perasaan daripada berbelanja dengan kekasihnya.

Setelah ia melihat bayangan dirinya di cermin yang berbalut tux hitam yang elegan dan terlihat (bukan hanya terlihat tetapi memang) mahal itu di cermin kamar pas, ia tersenyum puas. Lihatlah dirinya, muda, tampan dan mapan. Siapa saja pasti akan jatuh dipelukannya, apa pun permintaannya pasti akan dikabulkan (ah, sudahlah).

Tetap dengan pikirannya yang seperti itu dan dengan hidung yang kembang kempis karena rasa bangganya, ia membuka tirai yang memisahkan kamar pas dengan dunia luar.

Dan seketika disambut kilatan cahaya kamera digital Nozaki dan gumaman Hori bahwa Kashima akan terlihat lebih tampan dengan tux yang sama.

.

Cerita 2: Undangan

Beberapa hari setelah perjuangan mendapatkan pakaian pengantin untuk keduanya, kini mereka tengah memikirkan desain kartu undangan. Penuh bunga-bunga atau totol-totol macan, berwarna terang atau malah pucat pasi, semua desain yang didapat dari internet dan telah di cetak tersebar begitu saja di lantai kamar Chiyo beserta perempuan tiga sekawan yang juga merebahkan badan di lantai yang sama.

"Warna dasarnya merah saja seperti rambut Mikoshiba!"

"Kalau pria itu berketombe jadi seperti cairan tip-x di kertas merah ya!"

Hush, Yuzuki.

Chiyo hanya tertawa-tawa saja dengan ulah sahabatnya, ketika ia mengangkat contoh undangan berwarna merah muda yang manis, pintu rumahnya diketuk dan ia bergegas menuju pintu depan dan membukanya.

Wakamatsu, Hori dan suami istri Nozaki muncul dari balik pintu.

"Daripada memesan di tempat membuat undangan, bagaimana kalau kita buat dan cetak sendiri saja?"

Semuanya melihat ke arah Wakamatsu sedangkan Nozaki tanpa dikomando sudah mengeluarkan peralatan gambarnya dan istrinya sudah menggenggam kertas putih dengan senyum mengembang.

Hori menghela napas panjang kemudian duduk tanpa disuruh dan mengeluarkan penggaris serta pensil dari sakunya. Semuanya kemudian berkumpul dalam satu meja dengan aura bersemangat.

Akhirnya terbentuklah undangan paling unik (lebih ke arah aneh sebenarnya). Berlatar merah serta ada dua pria dan wanita yang mencerminkan Mikoshiba dan Chiyo yang digambar oleh Nozaki. Dengan background istana yang dibuat oleh Hori dan Kashima, pewarnaan oleh Chiyo dan Wakamatsu ditambah sentuhan terakhir gambar tanuki oleh Yukari.

Beberapa hari setelah itu, akhirnya undangan tersebut sampai pada meja kerja si mempelai pria sehari sebelum undangan akan disebar.

Undangan unik itu ia raih dari atas meja kemudian ia hempaskan ke lantai kantor.

Cerita 3: Catering

"Aku tidak suka,"

Semua pilihan jasa penyedia makanan untuk resepsi pernikahan yang tertera di webpage yang mereka buka tak ada yang menarik hati Mikoshiba, jangankan menarik hatinya, membuatnya berselera saja tidak.

"Mikorin, yang memakan itu nanti tamu kita, bukan kita." Chiyo mencoba menengahi, jika mereka tak memutuskannya hari ini, ia khawatir jika pesanan mereka tak akan selesai di hari H.

"Pokoknya aku tidak suka. Titik." Lelakinya menutup layar laptop yang sedari tadi mereka gunakan, seolah situs-situs itu tak berarti lagi dan ia sudah sangat tahu dengan apa yang harusnya mereka lakukan.

"Lalu?"

"Lihat saja nanti di hari pernikahannya," ia memasukkan laptopnya ke dalam tas sandang, "aku tahu koki paling hebat!"

" … jangan bilang dia Nozaki-kun,"

Mikoshiba tersentak memasang ekspresi 'bagaimana-kau-bisa-tahu?!' pada Chiyo dan gadis itu membalasnya dengan wajah hopeless.

"Mikorin! Dia tamu kita!"

.

Cerita 4: Janji Suci

Gereja di jalan sudut kota itu terlihat riuh ramai dengan terparkirnya berbagai kendaraan, seperti seharusnya jika sebuah pernikahan sedang dilangsungkan. Di dalamnya, sudah berkumpul kerabat dekat dan teman-teman dari dua orang yang akan menyambut hari bersejarah mereka ini.

Si mempelai pria sudah berada di altar dengan pendeta yang siap mengikat janji suci mereka— dengan gugup dan detak jantung bergaung di telinganya—menanti kekasihnya untuk memulai upacara pernikahan, dan waktu dengan ajaibnya berjalan begitu lambat hingga membuatnya mulai gelisah berdiri di sana.

Pintu menuju ruang upacara akhirnya di buka. Muncul dua orang wanita—yang satunya berpakaian seperti pria—Kashima dan Seo menjadi pengiring pengantinnya dan Chiyo dengan ayahnya di belakang mereka.

Si mempelai wanita terlihat begitu cantik dengan pakaian pengantinnya, gaun putih sedikit menyapu lantai dengan hiasan pita merah besar di pinggang. Tangannya dibaluti sarungtangan tipis, sedangkan kakinya dihiasi dengan sepatu putih berhak tinggi. Rambut oranyenya dikepang menyerupai bunga mawar—entahlah bagaimana penata rias melakukannya—yang pasti ia terlihat sangat cantik ditambah dengan kerudung yang menutupi sebagian wajahnya.

Nozaki yang duduk di barisan kedua tak bisa menahan diri untuk mengeluarkan kamera dan mengambil gambar dari berbagai sudut yang ia bisa, tamu-tamu yang tak mengenalnya hanya menganggap ia sebagai juru foto dadakan sementara istrinya yang sedari tadi diam kini mengeluarkan catatan kecilnya. Tiba-tiba saja ia mendapat ide cerita dan menuliskannya. Dasar dua orang itu tak bisa lagi diharapkan.

Sementara itu di bangku yang lain, Hori hanya mengangguk-ngangguk bergumam bahwa ternyata ia benar, Kashima memang terlihat tampan dengan tux hitam. Sedangkan Wakamatsu stress dan berteriak tanpa suara seketika ketika Seo melayang-layangkan buket bunga di tangan seenaknya, membuat beberapa bunga berjatuhan ke lantai, terpisah dari buketnya.

Terlepas dari semua keanehan teman-temannya, Chiyo sudah berada di sebelah Mikoshiba. Keduanya menatap ke arah yang lain, terlalu silau dengan pesona pasangan mereka masing-masing.

Pendeta berdehem kecil kemudian mulai melakukan pembacaan janji, " … maka dari itu," ia berhenti sejenak dari pembacaan janjinya, melayangkan tatapannya ke arah tamu-tamu yang datang memenuhi gereja siang itu, "adakah yang keberatan dengan pernikahan ini? Silakan katakan sekarang atau tidak sama sekali selamanya."

Nozaki Umetarou dengan tak diduga mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Semua tamu membelalakkan matanya tak terkecuali kedua mempelai. Nozaki itu? Nozaki yang itu yang berangkat kemari dengan istrinya menentang pernikahan ini?!

"Maaf Pak Pendeta, jangan lanjutkan janjinya dulu, saya ingin mengambil foto—"

Dan Nozaki Yukari menarik suaminya untuk duduk di bangku kembali.

.

Cerita 5: Resepsi

Malamnya, pernikahan dua sejoli ini dilangsungkan di hotel yang megah. Setelah paginya janji pernikahan baru saja terucap—dan diganggu dengan tidak elit oleh sahabat mereka, Nozaki—keduanya langsung menuju tempat resepsi pernikahan dilaksanakan setelah mengganti pakaian formal dengan tetap bernuansa serba hitam-putih.

Makanan yang disajikan malam itu begitu mewah melimpah, tamu-tamu berdansa di lantai dansa dengan diiringi musik pelan dan hentakan ceria yang diputar oleh dj secara bergantian. Denting-dentingan kaca gelas pun seolah tak mau ketinggalan terdengar di setiap sudut ruangan itu.

Mikoshiba duduk di sebelah istrinya, setelah berkeliling dari meja ke meja—mereka tak ingin tamu yang mengunjungi mereka, melainkan mereka yang berjalan dan mengobrol dari satu meja ke meja yang lainnya—menyodorkan segelas jus anggur yang ia dapat dari pelayan yang lalu lalang.

"Chiyo,"

Wanitanya menoleh setelah ia menyesap jusnya sedikit.

"Ya?"

"Chiyo Mikoshiba terdengar sangat bagus ya?"

Perempuan itu tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya seraya berkata, "aku lebih suka dipanggil Nyonya Mikoshiba,"

Membuat wajah suaminya memerah dan mencoba menyembunyikan rona itu di tengah keramaian, bersamaan dengan diputarnya nada-nada lembut dari arah lantai dansa, "uhm, baiklah, ayo kita berdansa, Nyo-Nyonya Mikoshiba."

.

Chapter 2 — End

.

A/N: karena chapter bonus dari chapter 2 ber-rating tinggi, saya hanya mempublishnya di A03. Link menuju Chapter 2+ /works/2315051

September 2014

G-Mo