Shingeki No Kyoujin © Isayama Hajime

This Is All Your Fault

Warning : Modern!Au, Yaoi, Bxb, Alur ngebut, Penggunaan bahasa asing,

And Typo Everywhere.

Chapter 2

What The...


"Aashhh, , Sialan kepalaku!" Armin memposisikan tubuhnya untuk duduk lalu seketika menunduk memegangi kepalanya yang terasa pusing teramat sangat, sehingga berhasil membuat bulir air keluar dari sudut matanya.

"Sakitnya~" Namun tiba - tiba Armin yang sedang sibuk dengan urusan pusingnya, di kagetkan dengan udara dingin yang berhembus ke arah tengkuknya. Dengan malas Armin melirik ke arah datangnya udara itu.

"Ahh, AC.."Armin memutar kembali kepalanya, lalu tiba - tiba terhenyak saat dia tersadar akan sesuatu hal.

"AC?! Siapa yang pasang AC di kamarku?!, Ini kamar siapa?"

Setelah sibuk celingukan, Armin berhasil menemukan ujung rambut berwarna coklat susu di balik sofa kulit berwarna hitam yg membelakanginya tersebut.

Armin mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi semakin Armin mencoba mereka ulang semuanya,kepalanya menjadi semakin berat.

Ok. Cukup, Kepalaku sakit.

Batin Armin yang kemudian mengesampingkan masalah itu.

Armin bangkit dari kasur besar itu, dan berniat untuk mengambil segelas air putih. Dilihat pintu di sebelah kiri kamar itu terbuka dan memperlihatkan Kitchen Set yang kecil dan agak berantakan. Armin beranjak menuju dapur itu,dengan sekali gerakan menyibakkan selimut putih tebalnya yang menyelimuti tubuh mungilnya.

kemudian Armin tersadar bahwa tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mungilnya.

"WAAAAAAAA!"

Armin yang kaget tak sadar bahwa teriakannya terlalu kencang di tengah malam begini, membuat seseorang yg tertidur di Sofa terguling ke lantai dengan absurbnya.

"Woi, bocah sialan! Gak mikir apa jam berapa ini! Teriak-teriak seenak udel mu!" Pria berambut Coklat susu itu ternyata adalah Jean, ia masih terbalut kemeja kerjanya dengan 3 kancing terbuka, mengekspos dada bidangnya yang berkulit putih itu.

Gluph~

Armin hanya meneguk ludahnya melihat keadaan Jean yang seperti itu.

Keduanya belum menyadari situasi yang terpampang saat ini, Sehingga yang d lakukan hanya mematung dan bengong juga menganga.

Sampai akhirnya.

"WUAAAAAAAA!" Armin sadar Jean sedang memperhatikan tubuhnya yang kini telanjang tanpa sehelai kain pun, berdiri disamping ranjangnya. Dengan secepat kilat Armin menarik selimut tebal tadi dan membungkus rapat tubuhnya. Sedangkan Jean, di hanya membuang muka dan menutup mulut dengan tangannya. Disuguhi pemandangan seperti itu membuat wajahnya sangat panas.

. . Hening menyelimuti keduanya. .

"A-a-apa yang telah kau lakukan, Jean?" Armin memeluk erat selimutnya sembari terduduk di sudut kamar itu.

"Apa nya yang apa?!" Jean masih enggan menatap Armin. Hatinya sungguh berdebar akibat pemandangan tadi.

"Apa yang terjadi?!, lalu saat ini aku dimana?!, dimana bajuku?! Dan APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU?!" Armin sedikit berteriak di kalimat yang terakhir.

Sepersekian detik Jean melempar pandangannya ke arah Armin, membelalak, membuat bola matanya bulat sempurna seperti hendak keluar dari cangkangnya.

"Ka-kau tidak ingat?" Jean mendadak gagap.

Armin hanya menggeleng lemah.

Jean terlihat menghela napas panjang.

'Kenapa dia begitu lega?'

Bertanya dalam hati tak akan membuahkan sebuah penjelasan,Armin~

"Kau pingsan setelah meneguk minuman yang di berikan saat kau berdansa dengan para pria Barbar yang brengsek itu. Aku membawamu ke Apartemenku, aku tak tau dimana rumahmu. Bajumu terkena muntahanmu, aku tak sudi kamu tidur di ranjangku dengan keadaan seperti itu, dan kumohon Armin jangan berpikiran begitu mesum. Aku tak sampai hati untuk [glup] nga-pa ngapain kamu.." Jean menelan ludah di tengah penjelasan panjangnya.

"Lalu kenapa kau tak memakaikanku pakaian?" Armin berkata sangat pelan, hampir seperti mencicit.

"Karna bajuku tak ada yang muat untukmu."

Sadarlah wahai pembaca, tubuh Jean lebih besar dari Armin.

"Kenapa tak kau pakaikan saja, paling juga kebesaran!"

bingo, Armin memang cerdas.

"Baju ku belum kering" Kini Jean memalingkan wajahnya.

"Semua pakaian mu?"

"Tidak." Jean menjawab sambil tetap membuang muka.

"Lalu?"

"Eh, iya semua.!" Mendadak Jean menjadi salah tingkah.

"Tak ada satupun?" Armin bersikukuh untuk mengintrogasi pria jangkung di depannya.

"Unn~ tidak ada." Jean kini menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Bagaimana dengan jaket?."

"Tak ada juga." Jean masih enggan menatap Armin.

"Sarung atuh sarung!." Oke, sekarang Armin sudah kesal dengan tingkah laku si jangkung itu sehingga mengeluarkan kata – kata yang entah dari mana dia mempelajarinya.

"Aku tak punya." Jelaslah~ mana ada sarung di dunia Jean.

"Jean~"

"apaaa?!." Kali ini Jean sudah benar – benar memunggungi Armin.

"Jujurlah"

"Jujur apa?!"

"Apa yang telah kau lakukan?." Armin mencoba berdiri dari duduknya. Ya, dengan masih memeluk selimut tebal itu tentunya.

"Tidak ada!" Jean menggelengkan kepalanya, membuat rambut cepak kudanya menjadi agak berantakan.

"Jean, aku tau kamu berbohong!, Kamu benar-benar payah." Mendengar Armin mengatakan hal itu, Jean memutarkan tubuhnya 180 derajat dalam sekali gerak, lalu melongo bagaikan orang bego. wajahnya terlihat sangat lucu bagi Armin,

Lalu Jean menatap wajah Armin.

"Memangnya kau sanggup untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi?" Jean menatap lurus mata Armin.

Dan hanya ada anggukan mantap dari Armin.

"Kau tadii sangaat..."

Sebelummnyaaa~

Tubuh itu Jean letakkan perlahan di atas kasur empuk miliknyaa.

Jean merasa tangannya sangat pegal. Walau tubuh Armin kecil dan ringan, Menggendongnya dari lantai dasar ke lantai 14 sudah pasti membuat siapapun merasa tangannya seperti mau lepas dari persendiannya. Jean mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk sekedar menghilangkan pegal-pegalnya.

"Kau berantakan sekali, Armin." Jean memperhatikan Armin yang kini sedang tak sadarkan diri di atas ranjang milik Jean.

Surai keemasannya menutupi sedikit wajahnya. Terlihat sangat manis dan menggiurkan. Jean berdebar tak karuan ketika pikirannya melayang kesana kemari membayangkan apa yang di inginkannya terjadi. Tapi sayang itu hanya lamunan yang tak akan kunjung nyata.

Apalagi setelah Jean menemukan photo seorang wanita di dalam dompet Armin saat mencoba mencari informasi tentang alamat rumah Armin.

Jean merasa sangat sesak saat memandangi photo itu, dia juga bingung kenapa bisa sesesak itu.

Apakah Jean cemburu?.

Apakah benar Jean cemburu pada wanita bersuraikan coklat muda dan beririskan sewarna madu yang terlihat sangat cantik menurut Jean?.

Pantas saja Armin terlihat sudah tak memiliki perasaan apa-apa lagi saat pertama bertemu lagi dengannya siang tadi.

Cukup lama Jean memandangi wajah Armin..

Sebuah tarikan nafas yang sangat berat di hirup Jean, lalu mendesah panjang, sangat panjang.

Pikirannya kalut, dia hanya bisa mengacak kasar rambut sewarna coklat susunya.

Sekali lagi ia mendesah,

'Maafkan aku Armin'

Jean hanya ingin menyampaikan sisa-sisa perasaannya yang selama ini ia pendam.. Sejujurnya dari sebelum Armin mengatakan perasaannya, Jean sudah memilikinya lebih dulu. Namun ntah apa alasannya menolak Armin saat itu.

Didekatinya wajah Armin yang sedang pulas itu, dengan amat sangat lembut Jean menempelkan bibirnya ke kening Armin, Armin masih tak bergeming. Jean menghirup nafasnya sangat panjang sambil menahan posisinya, tercium wangi tubuh Armin yang lembut dan memberikan sensasi yang menenangkan.

Jean sangat enggan merubah posisinya. Dia bisa saja melahap habis Armin jika dia tak ingat bahwa Armin bukanlah miliknya. Kini yang Jean inginkan hanya menikmati detik demi detik merelakan perasaannya pergi jauh. Kedua mata Jean kini terkatup lemah.

Entah sejak kapan Jean menurunkan bibirnya menuju pipi Armin yang lembut dan kenyal itu. Masih tak bergeming. Tak puas hanya sampai pipi. Jean menurunkan bibirnya menyentuh bibir Armin

"Sialan, ugh~, Bibirnya sangat lembut!"

Malaikat dan Iblis kini sedang berdebat hebat dalam benak Jean. Lama - lama mencumbui Armin membuat tubuh Jean terasa di aliri sengatan listrik dalam tegangan yang tinggi. Kini panas mulai terasa di sekujur tubuhnya. Ciuman yang sebelumnya hanya berupa adegan menempelkan bibir, kini berubah menjadi lumatan - lumatan yang lembut dan terkadang agak kasar.

Jean sudah lepas kontrol, kini tangan kanannya ia letakan di leher Armin mendorongnya agar Jean bisa memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menopang tubuhnya. Posisinya kini membungkuk penuh ke arah Armin. Lama sekali Jean melumat bibir Armin, hingga lupa kalau saja makhluk yang ada di dekapannya ini bisa mati jika kehabisan Oksigen.

Lama.. Sangat lamaa... Sampai akhirnya Jean berhenti melakukan aktivitasnya, bibirnya masih ia biarkan menempel dengan bibir Armin.

Tanpa di sadari setitik air jatuh menimpa pipi Armin. Jean menutup matanya erat.

"Sial, Siaaaal!" Jean hanya mengumpat dalam hatinya.

Jean merasa kesal, kesal karna mengapa hanya dia yang menikmati itu semua. Kenapa orang yang ada di hadapannya kini hanya terdiam seperti Manekin. Kenapa hanya Jean yang merasakan perasaan campur aduk ini. Kenapaa?!

Jean bangkit dengan lemahnya. Yang ada dipikirannya kini adalah segera pergi dari hadapan si pirang ini, pergi kemanapun untuk mendinginkan kepalanya. Jean tak ingin saat Armin terbangun, dia melihat keadaannya yang kacrut seperti itu, bisa jatuh Imagenya. Jean tersenyum kecut sambil melangkahkan kakinya dari samping ranjangnya.

Belum rampung satu langkah ia pijakan.

Jean kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada tangan yang teramat sangat dingin menyentuh pergelangan tangannya.

Spontan Jean membalikkan badannya.

Aneh... Armin masih terlelap, tapi kenapa tiba-tiba tangannya... Ahh sudahlah~

Jean dengan perlahan melepas satu persatu jari mungil itu dan menaruh tangan Armin kembali ke atas tubuh Armin. Namun saat Jean menggenggam tangan Armin. Pelan tapi pasti dia melihat iris biru itu bercahaya. Meskipun ruangan itu masih dalam keadan remang-remang dan hanya di sinari cahaya bulan, Jean masih melihat jelas mata Armin kini terbuka, dan menatap Jean pilu. Jean speechless dalam beberapa saat. Setelah beberapa saat membisu, Jean masih belum mendengar suara Armin sedikitpun.

"Arminn, kau tak apa?." Jean mencoba merobek kesunyian yang terjadi.

Masih tak ada jawaban.

"Armiiiin.. Jangan membuatku khawatir,Bocah" Jean mendekatkan wajahnya hendak memeriksa keadaan Armin..

Namun dengan sekali gerakan, Armin berhasil membuat Jean jatuh tersungkur ke atas tubuhnya.

Yang kini ada di depan wajah Jean bukanlah wajah Armin yang lugu dan polos.

Senyuman jahat terukir di bibir Armin yang masih basah oleh kelakuan jean tadi.

Jean merinding hebat.

Wajah Armin seperti iblis yang haus darah~

TBC


A/N~~~~~

Chapter 2 is hereeee every badeh!

Akhirnya fic ini bisa lanjut juga..

Thanks buat minna_san yang udah riview di chapter sebelumnya..

Ariisa_chan dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun dari para reader semuaa...

Dan Ariisa_chan mohon maaf di chapter ini adegannya agak menjurus. Hhehehehe

/memenuhi asupan diri sendiri wkwkwkwk

Balasan review nii

Yoshino Tada : siaaaap! Ini lanjut ni :D

citrusfujo : chapter 2 nyaaa niiiii... baca lagi yaahhh

Ichikawa Fue : ariisa_chan sungguh sangat berterimakasih sama sarannya fue_senpai, arigatou gozimasu. Semoga yang chapter 2 ini gak terlalu mengecewakan fue_senpai XP

Sankyu minna_san

Jangan lupa RnR nya yaaaaa..

Ariisa_chan Desu