Disclaimer to it's rightful owner :
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadoshi
Original Story :
The Perks of Being a Phantom Player © Urei Miura
OCs © Urei Miura
Translation :
The Perks of Being a Phantom Player by Misamime
I own nothing but this translation
(Saya tidak mengakui hak milik diatas kecuali terjemahannya)
And, I don't make any commercial profit within this story
(Dan, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)
Translation is under permission of it's original author
(penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)
WARN :
"berbicara dengan bahasa inggris"
"berbicara dengan bahasa jepang"
The Perks of Being a Phantom Player
"Where there is much light, the shadows are deepest."
-Johan Wolfgang von Goeth
Chapter 2: The Perks of Kagami Taiga
10 April
Dear Friends,
Kehidupan SMA adalah momen yang paling penting untukku, tapi yang aku lakukan hanyalah berhenti bernafas. Oke, tidak juga. Aku kewalahan. Banyak hal yang tidak bisa dipercaya terjadi.
Pertama-tama adalah SMA Seirin. Seirin adalah sekolah yang baru dibuka tahun lalu, jadi sekolah ini sangat bersih dan juga masih berkilau. Satu-satunya alasan aku memilih sekolah ini adalah karena sekolah ini dekat dengan rumahku. Aku tidak akan mengambil resiko mengambil jalan yang jauh hanya untuk tersesat (Hello?!). Tapi tetap saja, walaupun ini adalah sekolah baru, upacara pembukaan disambut baik oleh para murid dari berbagai klub yang ingin merekrut anggota baru. Bagian depan sekolah benar-benar penuh! Masalahnya, sekarang aku tergencet, aku kesulitan untuk berjalan menuju ke dalam gedung. Aku katakan padamu, ini tidak mudah untuk dilewati.
Saat aku (susah) berjalan—aku melihatnya. Cowok yang sangat tinggi dengan rambut berwarna merah. Dia sedang membawa seorang murid seperti bagaimana membawa kucing dengan lehernya yang dipegang. Aku mengira dia adalah Sakuragi Hanamichi, jadi aku mengikutinya. Maksudku, siapa lagi yang mempunyai rambut bewarna merah selain Sakuragi?! Karena dia tinggi dan berotot, dengan mudahnya dia melewati murid-murid lain yang menghalangi jalannya. Lalu dia berhenti di sebuah stan.
Seperti penguntit, aku terus memperhatikan cowok—Sakuragi itu. Ternyata dari awal dia bukan Sakuragi (iyalah!). Kalaupun Sakuragi benar-benar ada, mungkin dia akan mempunyai wajah yang sama dengan orang ini (Sakuragi itu preman! Aku harap kau nonton DVD-nya). Wajahnya garang dan liar, juga agak menakutkan. Aku mendengar dia mengatakan sesuatu kepada seorang senpai perempuan.
"Aku tidak peduli, aku akan pergi setelah menulis namaku."
Aku sedikit mendekat untuk melihat apa yang ditulisnya. Ternyata dia mengisi aplikasi pendaftaran klub basket. Dia hanya menulis informasi apa yang diperlukan. Aku berlatih menulis Hiragana dan Katakana, juga menghafal beberapa Kanji—jadi, aku bisa membacanya sedikit.
Namanya adalah Kagami Taiga. Terlalu jauh dari Sakuragi Hanamichi yang aku harapkan, tapi hei, dia mendaftar klub basket, jadi itu adalah kemiripan mereka. Aku membacanya lagi—ternyata dia juga anak kelas satu dan berasal dari Amerika seperti aku. Dia tidak mengisi apa alasannya bergabung klub basket. Senpai perempuan itu bertanya kenapa dia tidak mengisinya.
"Tidak juga. Basket itu dimana-mana sama saja walaupun kau pergi ke Jepang." Kata Kagami Taiga, dia berjalan meninggalkan stan itu.
Aku mengira kalau dia itu keren. Aku sangat senang kalau dia juga sama sepertiku, berasal dari negara yang sama. Aku bisa berbicara dengan bahasa inggris. Akhirnya! Kau tidak tahu betapa putus asanya aku ingin berbicara dalam bahasa Inggris. Seluruh keluargaku sedang menikmati bahasa Jepang—yang membuatmu berpikir kalau itu adalah bahasa utama mereka. Aku hampir tidak berbicara dengan mereka selama satu bulan. Itu gila!
Aku mengikuti Kagami Taiga dan aku memanggilnya dengan bahasa Inggris.
"Hey!"
Dia menoleh ke arahku. Kalau dibandingkan dengannya aku ini benar-benar kecil—seperti kurcaci! Hal itu membuatku sedikit tidak nyaman. Aku tersenyum ragu.
"Ehehehe, uhm, wow, kau sangat tinggi!" Kataku.
Barusan itu malu-maluin banget! Bunuh aku sekarang juga!
"Siapa kau?" Jawabnya. Bahasa Inggrisnya benar-benar sempurna. Tapi dia menakutkan. Dia seperti tidak suka kepadaku. Maksudku, seriusan deh. Alis matanya terbelah menjadi dua!
"Namaku adalah Maya. Barusan aku melihatmu mendaftar untuk klub basket, dan dulu kau bersekolah di Amerika. Kau tahu, aku juga dari luar negeri dan ini adalah pertama kalinya aku ke Jepang dan belum bisa beradaptasi disini. Jadi saat melihatmu berasal dari Amerika, aku mengira kalau aku bisa berbicara denganmu karena aku belum terlalu bagus dalam bahasa Jepang. Maksudku, kita adalah teman!" Aku terus berbicara dan mengulangnya sembari berkeringat seperti orang idiot. Sudah aku bilang kan, aku ini bukan orang 'sosial'.
"Ho? Jadi kau ini menguntitku?" Dia mengatakannya acuh tak acuh.
Sebuah batu besar jatuh menimpaku—yang entah darimana asalnya. Aku terbatuk. Aku tidak benar-benar menguntitnya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu kepada orang yang baru dikenalnya!?
"Menguntit?! Tidak kok!" Aku berteriak. Beberapa murid langsung melihat kami berdua.
Aku langsung diam. "Sudah aku bilang, kita adalah teman! Kau harus membantuku demi ikatan persaudaraan kita!"
"Tapi kau ini perempuan!" Katanya. Aku tidak yakin kalau itu sarkastis.
"Oke, maksudku demi menolong orang lain dengan hatimu yang baik dan bersih."
Ada jeda yang cukup lama, lalu dia menoleh ke arah lain dan mulai berjalan.
"Jadi, kau ingin aku melakukan apa?" Tanyanya sama sekali tidak menoleh kepadaku. Dia berjalan sangat cepat jadi aku harus berlari kecil agar bisa terus bersamanya. Karena dia sudah membiarkan kami berbicara dengan santai, aku langsung menganggap kalau kami ini benar-benar sudah menjadi teman; dan aku memutuskan untuk membiasakan diri dengannya.
"Sebagai permulaan, mari kira bicara. Apakah kau senang sudah mendapatkan teman pertama di SMA?"
"Tidak juga." Jawabnya tidak tertarik.
Dengan tinggi dan tubuhnya yang besar, dengan mudahnya dia melewati kerumunan itu—sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju gedung sekolah. Sebenarnya, aku berteman dengannya bukan karena ini. Oke, mungkin sedikit, tapi itu bukan penyebab utamanya.
"Kau masuk kelas apa?"
" Tahun pertama, kelas B."
"Woah! Kita sekelas! Apa kau tahu kelas kita ada dimana?"
Dia menatapku seperti kalau aku ini adalah orang yang lemot.
"Ada di lantai pertama. Sistem ruang kelas di Jepang disesuaikan dengan tingkat tahun. Tahun pertama, lantai pertama. Tahun kedua, lantai kedua." Kagami Taiga menjelaskannya sambil terus menatapku. Padaku. Aku jadi merasa gelisah.
"Bisakah kau berhenti menatapku seperti 'itu'?" Aku meminta baik-baik.
"Maaf saja, wajahku memang seperti ini." Jawabnya.
"Ngomong-ngomong, berapa tinggimu?"
"190 sentimeter. Enam kaki dan dua inci."
Mataku melotot, hampir saja keluar dari tempatnya. Aku kurang bisa memperkirakan sesuatu, jadi aku benar-benar kaget saat mengetahui kalau tingginya itu lebih dari enam kaki. Sakuragi lebih pendek beberapa senti darinya "Apa kau serius?! Apa kau yakin kalau dulu kau tidak pernah mengkonsumsi obatsteroid saat masih SMP?"
"Itu sangat tidak sopan kepada orang yang baru kau kenal!" Kata Taiga tersinggung.
"Maafkan aku. Tidak heran kenapa kau bermain basket!"
"Hmp. Aku jago dalam hal itu." Katanya dengan angkuh.
"Kau sedikit pamer, bukan?" Balasku.
Kami tiba di kelas. Yang bisa aku katakan adalah ini benar-benar mirip anime. Aku serius, dengan pintu geser dan name tag ruangan. Jantungku berdetak dengan kencang, aku benar-benar gugup. Soalnya ini adalah hari pertamaku di sekolah.
Taiga mau membuka pintunya tetapi aku menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan mata yang sedikit melebar.
"Berikan aku waktu untuk menangkan diri." Kataku, bernafas dalam-dalam dan kemudian menghebuskannya.
"Memangnya kau ini murid SD?" Tanyanya sinis.
Aku memutar bola mata dan mengabaikan teman baruku. Ketika sudah merasa tenang, aku mengangguk kepada Taiga memberikan izin untuk membuka pintunya. Ini akan menjadi kehidupan baruku. Lingkungan, orang-orang, dan pengalaman baru. Coba bayangkan ada cahaya putih yang terang menyambut kami untuk efek dramatis!
Dan begitulah. Itu adalah sebuah ruang kelas normal seperti di anime, kecuali orang-orangnya yang nyata. Oke, aku harus berhenti membandingkan semuanya dengan apa yang aku tonton. Aku duduk di bangku yang sudah ditetapkan. Taiga duduk dibelakangku. Setelah beberapa menit berlalu, wali kelas kami datang. Karena kami adalah kelas satu, dia menyuruh kami untuk memperkenalkan diri masing-masing. Saat giliranku sudah tiba, kakiku langsung menjadi dingin. Aku mulai menjadi gagap. Maksudku secara harfiah. Aku mulai dengan 'uhm', berhenti dengan 'uhm', dan berakhir dengan 'uhm', itu pun sambil membentuk kalimat bahasa Jepang untuk memperkenalkan diri. Aku menyebut nama, darimana aku berasal, dan situasiku disini. Ketika aku sudah selesai, mereka langsung bersorak dan bertepuk tangan untukku. Meskipun yang barusan butuh waktu selama tiga menit! Aku tersipu karena malu. Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, aku menjadi sangat lega saat disuruh duduk. Teman baruku, Taiga memperkenalkan dirinya dengan keras , enerjik dan kuat yang menunjukkan dia itu orang seperti apa. Dia menyelesaikan perkenalannya dalam waktu setengah menit.
Ya. Dia benar-benar pamer. Dia tipe orang yang seperti itu.
Saat istirahat makan siang. Ada beberapa murid datang dan berbicara kepadaku. Dua orang, keduanya perempuan, dengan mudah aku menjadi nyaman dengan mereka. Nama mereka adalah Mika dan Toru. Keduanya cantik dan manis. Dan aku mempunyai perasaan kalau kami akan menjadi teman yang baik.
"Apakah kamu dan Kagami-san saling kenal?" Tanya Mika. Kami berbicara dengan bahasa Jepang, dan aku merasa bersyukur karena mereka berbicara dengan pelan-pelan untukku.
"Tidak juga. Aku baru saja bertemu dengannya tadi pagi."
"Wah, benarkah? Kalian terlihat sangat dekat. Kau memanggilnya dengan nama kecil." Jelas Toru. Aku baru ingat kalau orang Jepang itu memanggil nama seseorang dengan nama keluarganya, aku menepuk keningku.
"Aku lupa. Aku harus memanggilnya 'Kagami-san' daripada 'Taiga' kan?"
Mereka berdua tertawa .
"Aku rasa tidak apa-apa kok. Dia tidak keberatan kalau kamu memanggilnya 'Taiga' kan?" Kata Toru.
"Err, karena sulit untuk mengubah kebiasaan, boleh kalau aku memanggil kalian berdua dengan nama kalian? Kalian bisa memanggilku Maya." Aku meminta izin.
"Tidak masalah. Tinggal tambahkan –chan sebagai suffix." Kata Mika sambil mengedipkan matanya.
"Kalau begitu, Mika-chan dan Toru-chan, senang bertemu dengan kalian." Kataku kepada mereka sambil menundukkan kepala.
Mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kau tidak perlu mendadak jadi formal!" Kata Mika-chan.
Hari itu berakhir dengan rasa khawatir yang besar. Aku akan gagal dengan semua test kalau aku tidak berusaha belajar bahasa Jepang. Wali kelas memperingatkanku seperti itu. Karena rumah Mika dan Toru berlawanan arah dengan rumahku, kami berpisah sampai gerbang sekolah saja. Taiga, yang beda lagi ceritanya, mengatakan kalau dia ada kumpul di gym bersama anak kelas satu yang mengikuti klub basket, jadi aku pulang sendirian ke rumah. Bukan berarti aku dan Taiga pulang ke arah yang sama. Taiga naik kereta sedangkan aku berjalan kaki. Sepertinya rumahnya (terlalu) jauh. Daripada itu, aku harus serius menata kehidupanku disini atau aku akan menderita.
Love always, Maya.
PS. Aku mengakuinya, aku rasa Taiga itu memang Sakuragi—karena itu aku berteman dengannya. Dan tolong ucapkan selamat kepadaku; aku baru saja mempunyai tiga teman pada hari pertama aku bersekolah. Aku sangat bangga pada diriku hari ini sampai-sampai aku ingin menangis.
Next : The Perks of Kuroko Tetsuya
SPECIAL THANKS FORloliconkawaii
dan juga makasih buat Reader dan silent reader yang udah fav, follow, dan review ^^
MIND TO REVIEW?
