Disclaimer: Kagerou Days/Mekakucity Actors milik Jin. Ide cerita berasal dari cerita Sleeping Beauty dengan beberapa perubahan.

Warning: OOC, mungkin. Typo(apabila ada). Plottwist? Tidak dapat sepenuhnya dibilang 'twist', sih. Dan, bisa jadi berupa Spoiler! Karena hal ini akan menggarap kemampuan khusus Mary. Untuk yang belum tahu maksudnya, saya beritahu sekali lagi kalau ini bisa jadi Spoiler.

Selamat menikmati~


.

Dibukanya pintu besar itu dengan gagah.

.

Suara pintu terbuka kemudian menyapa telinga.

.

.

Sleeping Beauty

[Fanfiction by Wiwitaku]

.

.

Seto menepukkan kedua telapak tangannya—sebagai upaya pembersihan dari debu. Ia rasa ia menyesal tidak membawa masker… Karena percaya atau tidak, kerajaan ini sangatlah tak terawat.

Memang, ia sudah memunculkan pemikiran bahwa kerajaan ini tidak berpenghuni lagi. Tapi, melihat debu-debu ini—yang membuatnya kadang bersin—sepertinya tempat ini telah ditinggalkan sejak lama.

Tertutup dan terpencil. Tak heran…ia membatin.

Ia kemudian memegang beberapa pilar kusam yang untungnya masih agak kokoh, dan melanjutkan perjalanannya menelusuri kerajaan ini. Lampu telah terlihat meremang, kaca berdebu, begitu juga dengan lantainya. Namun secara dekorasi, sebenarnya kerajaan ini memiliki penataan yang cukup bagus.

Bagaimana dan dimana pilar-pilar itu dibangun, bentuk tangganya yang memang ala kerajaan pada umumnya, meja kursi yang kelihatannya dibeli pada jaman-jaman dulu—semua itu bagus.

Kecuali kotoran-kotoran yang menempel di seluruh tempat.

Kecuali beberapa anak tangga yang agak kurang aman untuk dinaiki.

Kecuali pintunya yang mulai melantunkan suara aneh ketika dibuka.

Dan kecuali tubuh yang secara tak sengaja ia tendang ketika berjalan—

"—AAARGHHHHH—A-APA INI—?!"

Suara teriakan menggema, membuat burung-burung yang tadinya berpijak pada ranting kecil pohon kompak berterbangan.


"D-dia belum mati…"

Suara Seto memelan seraya ia menyingkirkan jari telunjuknya dari depan hidung orang—mayat?—yang ia temui tergeletak tadi.

Orang itu tidak mati, dan itu adalah suatu kelegaan tersendiri baginya. Tapi juga merupakan keanehan, karena orang itu sama sekali tidak bergerak. Kelihatan seperti orang mati yang bernapas.

Bahkan ketika Seto mengguncang tubuh itu, berteriak memanggilnya, mencoba mencubit lengannya—tubuh itu tetap tidak memberikan reaksi sedikit pun.

Akhirnya, Seto memutuskan untuk menidurkan kembali tubuh itu—maksudnya, menyandarkan tubuh itu ke dinding, kemudian melanjutkan perjalanannya.


Terimakasih pada keberaniannya untuk menapaki tangga yang kelihatan berbahaya itu. Kini, ia telah sampai ke lantai dua kerajaan ini.

Jika lantai satu lebih terlihat seperti ruang-ruang penting—dapur, ruang tamu, ruang makan besar, dan lain-lain—maka lantai dua terlihat seperti ruang tinggal yang dipenuhi banyak kamar.

Dan di depan kamar-kamar tersebut, telah tersuguhkan komplit dengan pemilik-pemiliknya.

Tubuh yang terbaring asal di lantai—seperti di lantai satu tadi, namun jauh lebih banyak.

Oke, Seto tidak akan terlalu kaget. Ia jauh lebih takut ketika melihat tubuh lelaki di lantai bawah tadi. Ia yakin, semua orang itu tertidur, bukan mati.

Karena di tempat ini, ada hal aneh yang sedang terjadi.

Rasa penasarannya takkan berhenti sampai di sini. Ia memajukan kakinya, memasuki tiap kamar yang dapat ia raih dan buka.


Seto mengibaskan tangan kanannya di depan wajah.

Kibasan tangan yang cepat itu membuat penglihatannya agak terhalangi—menyebabkan ia hanya bisa melihat sebuah ranjang besar dengan meja rias dan lemari yang ukurannya melebihi ukuran normal.

Pasti ini kamar Ratu atau Raja di sini, pikirnya sambil berjalan mendekati kasur itu.

Kasurnya berdebu—sudah bisa disangka. Tidak ada orang di sini.

Setelah merasa cukup melihat isi ruangan ini, ia kemudian menutup pintu itu dari luar.


"Kamar pelayan... lagi." Gumamnya ketika memasuki salah satu kamar, yang dengan cepat membuatnya sadar bahwa kerajaan ini memiliki banyak sekali pelayan.

Bayangkan! Ada lebih dari duapuluh kamar yang ia masuki, dan ia tahu bahwa itu adalah kamar pelayan.

Seluruh isi kamar pelayan sama. Cuma berisi meja polos, kasur untuk seorang, dan lemari biasa.

Oh, itu mengingatkannya—tadi, ia sempat memasuki sebuah ruangan yang lebih besar dari ini. Ruangan itu berisi ranjang untuk dua orang, lemari yang cukup besar, dan sisanya kurang lebih sama dengan isi kamar Raja atau Ratu yang ia dapat tadi.

Sepertinya, itu adalah kamar milik seorang Putri—bukan Pangeran. Kenapa? Sederhana, karena lemari di kamar itu hanya berisi gaun-gaun dan terusan(yang didominasi oleh warna biru).

Tetapi, ruangan itu bernasib sama dengan ruangan utama tadi. Sama-sama tidak ada pemiliknya… Dan bagi Seto, itu adalah sesuatu yang agak janggal.

Ia juga sempat melirik sebuah bingkai foto yang ada di dalam kamar sang putri. Foto itu berbingkai emas, dengan gambar mengenai seorang perempuan muda dengan wanita yang lebih tua sebagai pusat utama.

Jujur, matanya terpaku melihat paras sang perempuan muda itu. Dengan rambut panjang bergelombang yang berwarna putih dan mata merah kemudaan, siapa lelaki yang takkan pangling melihatnya?

Hatinya menyerukan keberadaan Putri itu sekarang. Ia sungguh ingin melihat wajah itu secara nyata—wajah yang pasti tengah tertidur di suatu tempat di dalam kerajaan ini.

Ia melangkahkan kakinya mendekati pintu dengan semangat baru yang tumbuh di dalam dirinya. Dengan segera ia menarik gagang pintu itu—dan sedetik kemudian, ia dikejutkan akan hadirnya sebuah wajah dingin yang menatapinya.

Lelaki dengan rambut hitam dan tatapan yang menusuk.


"Apa?"

Seto bertanya dengan raut tidak percaya. Lelaki itu hanya memandanginya dalam diam usai ia memberi beberapa penjelasan.

"T-Tunggu," Seto berkata. "Mereka semua terkena kutukan? Karena sang Putri? Uh, bangun jika dicium—?"

Lelaki itu tak menjawab.

Seto berusaha mengatur ulang pikirannya. Ya, ia memang pernah mendengar cerita yang serupa dengan penjelasan lelaki di hadapannya tadi—tapi ia sungguh tidak percaya bahwa akan ada kutukan macam itu yang diturunkan secara nyata. Selama ini, ia mempercayainya sebagai dongeng belaka.

Seto menurunkan pandangannya. "Lantas… Dimana Putri itu?"

Ia berusaha untuk kembali berjalan, melewati sang lelaki—namun ditahan.

"Eh?"

"Anu, permisi, aku ingin le—"

"Heh," lelaki itu tertawa kecil. "Kau kira segampang itu kau bisa bertemu dengannya?"

Seto mengerutkan dahi.

"Langkahi dulu mayatku—jika kau bisa."

Lelaki itu mengangkat kepalanya yang sedaritadi tertunduk, dengan sebuah seringai lebar pada wajahnya.

Suara yang mengintimidasi itu terdengar kembali. "Keluarkan pedangmu jika kau berani; dan keluarlah dari kerajaan ini jika kau pengecut."

Seto terdiam sejenak, sebelum seringai bertemu dengan seringai.

Pedangnya nampak agak berkilau di bawah cahaya lampu yang mulai meredup.


"Hosh, hosh—hhh,"

Napasnya kian memburu, sementara langkahnya tetap melaju ke ruang terpojok di kerajaan itu. Tangannya berusaha menggapai pintu yang mulai terlihat di matanya.

Dan pintu itu terbuka.

Seto mengistirahatkan dirinya—berusaha menstabilkan nafasnya yang tidak beraturan—kedua tangannya ia tumpukan di lututnya dengan posisi setengah menunduk. Lelah telah bercampur dengan rasa senang.

Akhirnya ia bisa bertemu dengan putrid itu. Putri malang yang tertidur di pinggiran single bed itu—dan seorang pelayan perempuan serta wanita(Ratu?) yang tertidur di lantai.

Ia berjalan mendekati sang Putri.

"Hai," Seto menyapa. "Kau telah tertidur sejak lama, bukan?"

"Kau tahu, penjagamu itu sangatlah kuat. Aku kesulitan bertarung dengannya,"

"Tapi perjuanganku tidak sia-sia. Sekarang aku bisa berada di sampingmu—di samping seorang perempuan yang tak kunjung tua, yang jauh lebih cantik dari penampakan di sebuah foto."

"Apa kau butuh bantuan?" Seto bertanya tanpa mengharapkan jawaban.

"Aku akan menolongmu."

Sang lelaki mendekatkan wajahnya ke arah si gadis—semakin dekat, semakin dekat—hingga akhirnya kedua bibir itu bersatu.

Bersatu dengan lembut.

Karena Seto tidak butuh sebuah jawaban dari bibir. Yang ia butuh hanya sekedar mata yang terbuka—sesederhana itu saja.

Namun, yang ada di luar pikirannya adalah;

Sang Putri tak kunjung terbangun.


Seto mulai frustasi.

Seribu kali sudah ia tempelkan bibirnya pada bibir merah mungil itu—tapi seribu kali juga ia mendapatkan keheningan sebagai jawaban.

Apa? Kenapa? Ia tak bisa berhenti bertanya pada diri sendiri.

Sekali lagi ia coba mengecup pelan bibir sang Putri, tapi segalanya tetap sama.

Sang Putri tetap tertidur, sang Ratu tetap terlelap, sang pelayan tetap menutup matanya, dan sang penjaga tetap berdiri di sisi ranjang yang lain tanpa bersuara.

Seto mencium bibir itu lagi, berusaha mendapatkan jawaban yang ia mau.

"Berhentilah,"

Seakan menurut kepada kata-kata itu, ia menghentikan usahanya.

Seto menatap nanar. "Jelaskan padaku—kenapa?" Penekanan lebih ia berikan pada kata terakhir.

Sang penjaga menghela nafas.

"Karena kau sudah mati."

"Kau kalah melawanku. Dan kau tidak sadar akan kekalahanmu."

Tatapan Seto menyiratkan sejuta ketidakpercayaan.


Sepasang mata terbuka secara tiba-tiba. Pandangan bola mata merah muda itu menyapa langit-langit.

"Ini…" ia bergumam, "Sudah lewat berapa tahun?"

Kepalanya ia gerakkan, menyebabkan rambut putihnya ikut bergoyang. Ia berdiri dari kasur—berusaha mencari kaca.

Dan kaca membeberkan segala jawaban yang diminta.

Ia terdiam, tatapannya tidak selembut kala ia bangun. "Oh," ia berkata kembali.

"Aku menua."

Tatapannya menajam, menerawang tiap keriput yang ia dapat di wajahnya. Melihat tubuhnya yang kurus kering, ia memberi helaan nafas yang sangat panjang.

Suara lain menjawab pernyataannya, "Kau gagal lagi untuk kesekian kalinya."

"Aku—aku tahu itu, Kuroha. Tidak ada orang yang berhasil melepas kutukanmu."

"Jadi…" Sang lelaki berambut hitam berucap. "Kau mau mengulang lagi?"

"Tentu," perkataannya ia sambung. "Tidak mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku seperti ini, 'kan?"

Ia dapat mendengar sebuah pembenaran dari lawan bicaranya. "Aku tak ingin membuang waktu… Aku akan melakukannya dengan cepat."

Ia menegakkan diri sebisanya, menatap satu-satunya orang yang masih hidup disana selain dirinya.

"Time,reset."

Segalanya seketika berubah menjadi gelap.


.

.

[Ketika semua orang di kerajaan itu tengah bersukacita menyambut akan hadirnya seorang manusia baru di tengah-tengah mereka, ada sebelit kekhawatiran di dalam hati sang Ratu.]

.

[Aku lupa mengundangnya, bagaimana ini?]

.

[Sebuah ungkapan dalam hati yang tak diketahui satu orang pun—diucapkannya dengan suara yang berbisik seraya memandangi sang buah hati tercinta; Putri baru di lingkungan mewah ini.]

.

.

Dan semuanya hanya akan terulang, dengan harapan bahwa Seto akan berhasil merubah segalanya.

.

Karena jauh di dalam hatinya, sejak lama sekali—ia hanya ingin lelaki itu membangunkannya dengan cinta, lalu ia dan Seto hidup bahagia berdua.

.

Doa yang takkan pernah terkabulkan.

-fin.


A/N: Oke, plot twistnya serasa maksa banget, ya? :') Maaf dan maaf juga karena romance disini nggak sweet-sweet bagaimana... orz otak saya udah terprogram untuk bikin gini, sih...

Terimakasih sudah membaca! Dan, kalau berkenan... tinggalkan jejak? :'D Review/fav/dkk itu penyemangat para author, loh... *uhuk*

Sekali lagi, terimakasih sudah membaca~!

-Wiwitaku