JUST AWAKE
*LEE SUNGMIN*
Declaimer : theirself, God, except the story is mine
Cast : feel free and find it
.
.
.
Lelah. Sungguh aku sangat lelah. Tidak, bukan fisik yang melelahkan. Sudah menjadi resiko dan kewajiban untuk merelakan waktu 24 jam hingga 48 jam bahkan lebih andai sehari memiliki kisaran waktu lebih dari itu. Inilah konsekuensi terjun dalam dunia entertainment terutama dunia entertainment Korea yang sangat tidak main-main dan disiplin. Sekali lalai tamatlah riwayatnya. Lagipula kelelahan fisik sama sekali sekali tak pernah aku rasakan.
Oh ayolah, sebagai seorang ahli matrial art tentunya aku sudah melalui kelelahan fisik yang lebih luar biasa dari killer scheduleku sekarang. Yeah benar, aku adalah seorang pecinta kelinci dengan tubuh pendek yang tergabung dalam sebuah boyband yang sedang meniti karir. Lee Sungmin atau yang sering dikenal sebagai bunny Super Junior. Aneh. Memang. Aku sendiri tak pernah mengerti penyebab julukan bunny menempel di sekitar namaku.
"Aish!" kutepuk kedua pipi chubby-ku setelah menyadari bahwa aku bermonolog -lagi- dengan diriku sendiri.
"Waeyo, Hyung?" Tanya Ryeowook -Wookie- uri eternal maknae. Manik kelamnya menatap khawatir padaku.
"Waeyo wae?" kataku balik bertanya. Memang ada yang salah denganku? Ok, selain kebiasaan bermonolog sendiri -yang tentunya tidak diketahui siapapun termasuk member Super Junior-, aku merasa tanpa salah. Sok polos? Aku tak peduli, terserah anggapan orang lain toh aku tidak berbohong dan tidak merugikan orang lain.
"Pipimu," tunjuk Wookie pada kedua pipiku yang baru kusadari ketika menatapan kaca besar di belakang Wookie sedikit berwana merah. Yang jelas ini bukan merona karena malu, marah, ataupun demam.
"Ah ini, gwenchannnayo Wookie-ah," sebuah senyum tulus terulas di bibirku. Dongsaengku yang satu ini memang sangat perhatian padaku.
"Aniya, Sungmin-ah. Kamu tahu kau baik-baik saja, mungkin," kali ini Leeteuk Hyung angkat suara, ragu. "Yang kami tanyakan, kenapa kau menepuk kedua pipi montokmu ini," ujarnya sambil mengelus sayang kedua pipiku.
Aku menatap Hyungku ini dengan pandangan tak mengerti. Memiringkan kepalaku tanpa sadar ke kanan yang membuahkan kekehan halus dan acakan rambut dari tangan leader-ku itu. Kenapa Leeteuk Hyung terkekeh? Apa aku melakukan sesuatu yang lucu? Kurasa tidak.
"Aish, kau ini benar-benar uri King of aegyo," sontak aku membulatkan mata tak percaya.
"Ya Hyung! Apa-apaan itu? Kenapa tiba-tiba malah ngejekakku?" omelku. Aku tak pernah suka sebutan itu bukan tanpa alasana tapi karena aku memang benar-benar tak pernah merasa aegyo dan tak pernah bersikap seperti itu. Ish, Lee Sungmin adalah seorang lelaki tangguh yang tampan bukan aegyo.
"Ani, Sungmin-ah. Aku tidak mengejekmu hanya saja jurus aegyo-mu lagi-lagi kau keluarkan tanpa sadar membuatku gemas," jelasnya membuatku mengerucutkan bibirku kesal. "Jangan kesal begitu, lihat yang lain juga setuju dengan ucapanku,".
Kuedarkan pandangaku ke sekeliling ruangan yang dipenuhi seluruh anggota Super Junior lengkap. Semua terkekeh dan menggangguk-angguk setuju akan pendapat Hyung lembut di hadapanku. Bahkan dengan tidak elitnya Eunhyuk dan Donghae terguling-guling di atas lantai, tertawa tanpa suara. Selucu itukah aku?
Sejenak, hanya beberapa detik, aku terbelak kaget melihat senyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi tersungging di bibir Kibum. Indahnya. Benar kata orang, senyum terindah adalah senyum dari bibir yang jarang mengumbar senyum pengecualian untuk senyum dari orang yang dicintai. Pantas kibum begitu dicintai tidak sepertiku yang selalu tersenyum. Pasti senyumku jelek sekali. Lagi-lagi tanpa kusadari aku menunduk dan menggelengkan kepalaku pelan. Andai Leeteuk Hyung tak memegang kepalaku dan menarikku dalam dekapan hangatnya aku pasti tak sadar telah melakukan sesuatu di bawah sadarku meski aku dalam keadaan sadar.
"Waeyo, Sungmin-ah? Kenapa berwajah seperti itu? Kau membuat saudara-saudaramu cemas," ujarnya lirih. Dari sudut mataku, bisa kulihat duo EunHae yang telah duduk dengan pandangan cemas menatapku. Yesung Hyung, Heechul Hyung, Hankyung Hyung, Shindong Hyung, dan Kangin Hyung menghentikan ricuh coletah mereka masing-masing. Begitupun dengan Kibum dan Siwon yang mulai bergerser dari tempatnya di pojok ruangan yang berseberangan dariku. Wookie bahkan sudah menghambur memelukku dari belakang, menumpahkan hangatnya kasih sayang. Dan mata itu, tatapan penuh penyesalan dan rasa bersalah sarat permintaan maaf menyembut penglihatanku saat tanpa sengaja kuedarkan lagi pandanganku.
"Ya ampun, kalian ini berlebihan sekali," ucapku santai. "Leeteuk Hyung, Wookie-ah, aku tidak apa-apa. Hanya saja tiba-tiba aku merasa lelah, jadi aku menepuk pipiku untuk membangkitkan semangatku lagi," jelasku agak keras agar semua member mendengarnya meski aku hanya menyebutkan dua member yang memelukku saja. Akan sangat aneh bukan jika aku sebutkan semua nama member Super Junior di ruangan ini, seperti mengabsen murid sekolahan saja.
"Chinjayo?" Tanya Wookie tidak percaya.
"Ne, chinjayo Wookie-ah," yakinku. "Dan aku menggelengkan kepalaku tanpa sadar karena aku merasa malu telah merasa lelah padahal kita semua mempunyai jadwal yang sama tapi tak satupun dari kalian yang mengeluh lelah. Hanya aku. Aku merasa lemah. Tapi pikiran itu segera kubuang jauh-jauh karena aku tau kalian pun sama lelahnya denganku dan sama besarnya dalam mencintai ELF sehingga kelelahan itu tak berarti saat membayangkan senyum bahagia mereka," terangku sebelum Leeteuk Hyung sempat bertanya.
"Pabboya Lee Sungmin,"
"Aww appo, Hyung," ringisku saat sebuah jitakan dihadiahkan Shindong Hyung yang entah sejak kapan ada di sebelahku. Seketika tawa meledak di ruangan luas bertembok kaca ini. Aku pun turut tertawa melihat semua member tertawa. Senang rasanya bisa membuat saudara-saudaraku ini tertawa.
"Sudah, sudah," suara Heechul Hyuung menghentikan tawa kami. "Ayo kembali ke dorm, sudah waktunya istirahat dan aku sudah lapar," perintahnya santai. Beginilah Heechul Hyung, seenaknya memerintah tapi sangat peduli apa kami semua.
"Heechul benar, ini sudah terlalu larut dan kita belum makan. Lebih baik kita segera pulang kerena besok jadwal kita padat,"
"Baiklah Hyung, biar aku menggantikan tugas masakmu hari ini," pinta Wookie pada Leeteuk Hyung yang memang bertugas masak hari ini.
"Ani Wookie-ah, kau sudah terlalu sering memasak. Kau pasti lelah," tolak Leeteuk Hyung halus.
"Tapi Hyung, aku ingin kalian semua makan dengan kenyang hingga bisa tidur pulas," bujuk Wookie, sukses membuat Leeteuk Hyung menjatuhkan tas yang baru disandangkan di bahunya.
"A-apa maksudmu Wookie-ah?"
"Ne Hyung, Wookie benar. Kita semua lelah hari ini dan pasti butuh makan banyak, enak, dan kenyang supaya besok bangun dengan segar dan semangat," sahut Eunhyuk yang langsung kabur keluar ruangan menyusul Donghae yang sudah tertawa keras di lorong.
"Aish anak itu, selalu saja. Ne, Wookie-ah, masaklah sesukamu," memang tidak ada yang bisa menolak pesona polos Wookie yang mulai merengek.
"Kaja," ajakku pada Leeteuk Hyung dan Wookie, dua orang member selain aku yang masih tertinggal. "Aku juga akan membantumu masak,"
"Ne, gomawo Sungmin Hyung,"
.
.
.
Hhhh…lagi-lagi mataku terpaku menatapnya. 13 bulan sudah kami -Super Junior- lalui sejak debut kami, 7 bulan sejak bergabungnya Cho Kyuhyun sebagai member baru sekaligus maknae kami. Aku masih belum bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Cinta? Tentu aku sangat mencintainya, bukan sebagai saudara bukan sebagai rekan kerja bukan juga sebagai dongsaengku. Tapi apa mau dikata, cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta yang memang harus disembunyikan, dikubur dalam-dalam, dan dilupakan. Cinta tak pantas. Cinta pada sesama.
"Aku lelah, Hyung," tiba-tiba saja Kyuhyun menyandarkan kepalanya di bahuku. Dongsaeng-ku yang satu ini memang sangat manja padaku.
"Kyu-ah, mau minum?" kusodorkan botol minumku yang baru beberapa tegukan mengalir di kerongkonganku. Kami memang sering berbagi minuman dari tempat yang sama, Kyuhyun tidak suka jika aku menyodorkan minuman dari botol lain yang baru kuraih sementara aku sendiri sudah botol minuman. Pernah suatu hari Kyuhyun ngambek selama 2 hari mendiamkanku karena menyodorkan segelas air putih penuh sementara di tanganku yang lain tergenggam gelas yang separuh isinya telah berpindah ke perutku. Aksi ngambeknya itu hanya ditunjukkan di belakang kamera secara terang-terangan membuatku merasa bersalah karena Kyuhyun jadi tidak terawat, kurang tidur dan jarang makan. Kurang tidur dan kurang makan karena bermain game terus, tidak ada yang bisa merayunya sekain aku. Berhubung sedang ngambek maka bujukanku sama sekali tidak digubrisnya. Aku terkikik geli mengingat kejadian itu, Kyuhyun memang lain dari yang lain.
"Waeyo, Hyung? Mengerikan tiba-tiba senyum-senyum sendiri," ejekkan khas Kyuhyun.
"Aniyo, aku hanya geli mengingat aksi ngambekmu saat kuberikan minuman dari gelas berbeda,"
"Ish, wajib kau ingat Hyung," ucapnya sinis. Diraihnya botol minum yang sedari tadi kusodorkan di hadapannya. Dalam sekejap botol yang tadinya terisi lebih dari setengahnya itu habis tak bersisa setetespun.
"Kutawarkan padamu bukan berarti memintamu menghabiskannya 'kan, Kyu,".
"Hehehe,,,,mianhae, Hyung. Itu di tasku ada minuman, ambil saja," tunjukknya pada sebuah tas yang tergeletak tak jauh dariku.
Kujulurkan kaki kananku untuk meraih tas Kyuhyun. Jujur saja aku masih sangatb haus dan Kyuhyun bisa cemberut seharian jika aku menggeser tubuhku walau hanya 5cm untuk meraih tasnya saat di bersandar di bahuku. Aku tak tega melihat Eunhyuk yang akan makin dikerjai Kyuhyun dalam mood ngembeknya itu. Aku juga malas mendengar teriakan Heechul Hyung akan makin memanas kerena digoda Kyu yang sudah bosan mengerjai Eunhyuk.
Belum sempat kakiku menyentuh tas Kyuhyun, sebuah tangan terjulur mengambil tas itu dan menyerahkannya padaku.
"Nih, Hyung,"
"Gomawo, Kyu-ah,"
Kyuhyun kembali menyandarkan kepalanya ke bahuku setelah mengambilkan tasnya. Dengan santai aku membuka tasnya dan mengeuarkan sebotol air mineral.
"Kenapa Kyu?" tanyaku.
"Aniya, hanya tidak tega melihat Hyung kesusahan mengambil tasku saja," jawabnya.
Lihat betapa kuat chemistry kami hingga tanpa aku jelaskan Kyuhyun tahu apa yang sebenarnya kutanyakan. Sejak awal bergabung menjadi member Super Junior, Kyuhyun memang dipasangkan sekamar denganku yang sendirian ditinggal Donghae yang kabur ke kamar Eunhyuk karena tidak tahan dengan aura pink-ku. Kecuekan Kyuhyun pada kehidupan pink-ku membuat kami tidak canggung dan akrab. Kadang akupun heran kenapa kami bisa sangat saling mengerti di saat yang lain tidak mengerti kami.
"Mengantuk Hyung?" taya Kyuhyun. Mungkin dia melihatku memejamkan mata sedari tadi.
"Sedikit," jujurku.
"Arraseo," kurasakan kecupan lembut di kedua kelopak mataku secara bergantian. Kebiasaan Kyuhyun saat aku akan tidur. Nyaman. Selalu rasa itu yang kurasakan. Aku pun makin terhisap dalam kantuk. Samar-samar kurasakan tarikan halus di pinggangku membuatku makin mendekat pada Kyuhyun. Refleks ku miringkan kepalaku, bersandar sepenuhnya pada tubuh hangat di sampingku. Kyuhyun.
.
.
.
"Memasak, Hyung?" sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku. Nyaris saja kuiris jariku sendiri.
"Aish, kau ini mengagetkanku saja," keluhku pada sosok yang mengusik kesunyian istana Wookie ini. Tanpa menoleh pun aku tau siapa yang menyapaku di pagi buta seperti ini. Yah siapa lagi kalau bukan si Anak Tuhan. Satu-satunya member yang sangat rajin bangun pagi. Choi Siwon.
"Apa kau terbangun karena aku berisik?" tanyaku meneruskan kegiatan yang sempat tertunda.
"Aniyo, Hyung. Aku hanya haus. Mana Wookie? Bukankah hari ini jadwalnya masak?" derit kulkas terdengar mengiringi pertanyaan Siwon.
"Sepertinya dia kelelahan, taka pa sekali-kali aku gantikan Wookie memasak. Sekalian membuatkan Kyuhyun tart buah, semalam dia merengek-rengek padaku," kekehku geli.
"Mau kubantu, Hyung?" tanyanya setelah bisu beberapa saat.
"Tidak perlu, Siwon-ah. Tart-ku sudah selesai kok dan sebentar lagi aku yakin Wookie akan terbangun. Istirahatlah lagi,"
"Aku tau, Hyung. Aku sudah melihat tart istimewamu," ucap Siwon sangat lirih hingga aku tidak mendengar selain kata tart dan istimewamu saja.
"Apa yang barusan kau katakana, Siwon-ah? Aku tak mendengarmu " tanyaku bingung. Kali ini kubalikkan tubuhku menghadap Siwon yang ternyata sedang tertunduk lesu. "Gwenchannayo, Siwon-ah?" tanyaku cemas. Tidak biasanya Siwon terlihat lemah seperti menanggung beban berat. Kumatikan kompor yang sedang menyala, lebih baik berhenti sejenak daripada menghasilkan masakan gosong.
Kutepuk bahunya lembut, "Ada masalah?"
"Ani, Hyung,"
Kuraih dagunya, memaksa kedua matanya menatapku. Tatapan mata tidak akan pernah berbohong, itulah yang kuyakini.
"Aku ini hyung-mu, Siwon-ah. Bukan musuhmu, kau bisa berbagi denganku. Kita saudara kan," bujukku lembut.
Siwon hanya menggeleng lemah, menolak berbicara lebih lanjut. Mungkin ada kaitannya dengan hubungan percintaannya. Siwon memang sedikit tertutup soal masalah percintaannya, tidak seperti member lain yang akan berbagi dengan yang lain saat terjadi masalah.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Mau kubuatkan kopi? Sekedar menenangkan pikiranmu, hari ini jadwalmu sangat padat kan. Kau tak mungkin bisa berkerja dengan mood kacau,"
Aku pun beranjak mengambil kaleng kopi milik Siwon, bersiap membuat secangkir kopi untuk sang Pangeran yang sedang kalut. Hingga sebuah pertanyaan lebih tepatnya permintaan mengejutkanku, menegangkan sendi-sendiku seketika.
"Hyung boleh aku memelukmu? Sebentar saja,"
"Tentu saja Siwon-ah, kau kan dongsaeng-ku, tentu kau boleh memelukku," jawabku. Kubuat suaraku seceria mungkin. Bisa dibilang aku takut, aku takut saat dia memelukkan akan ada pihak-pihak yang tersakiti dan menimbulkan salah paham. Tapi mendengar suara Siwon yang nyaris berbisik sangat lirih dan lemas membuatku tidak tega menolaknya.
"Ani, jangan berbalik Hyung," larangnya saat aku hendak berbalik dan meraihnya dalam pelukanku.
"Aku hanya ingin memelukmu Hyung, bukan kau peluk,"
"Ne, arraseo Siwon-ah,"
Jantungku yang berdebar sangat kencang tak dapat kuhentikan begitu sepasang lengan kekar meraih bahuku dan mememelukku. Jangan bayangkan Siwon memeluk pinggangku dengan rapat! Siwon hanya memeluk bahuku, tubuh kamipun masih berjarak. Sebuah pelukan ragu, seperti memeluk seorang wanita. Siwon menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku.
"Hyung,"
"Waeyo Siwon-ah,"
"Hyung," panggilnya berulang-ulang. Sepertinya Siwon hanya ingin memanggil tanpa menunggu respon yang dipanggil.
"Hyung mianhae,"
Permintaan maaf, entah maaf untuk apa. Aku tak tahu.
"Gwenchanna, Siwon-ah,"
Aku tahu Siwon menangis, bukan karena isakan atau gemetar yang kurasakan darinya tapi karena rasa dingin di leherku. Air mata Siwon perlahan mengalir membasahi leherku. Dingin. Menyesakkan. Kakak mana yang tidak miris mengetahui adiknya menangis seperti ini.
Di ambang pintu dapur, dalam kegelapan -kerena hanya lampu dapur yang menyala- sesosok tubuh berkulit pucat memandang live action di hadapannya dalam diam. Tanpa suara, tanpa gerakan. Kedua manic coklatnya merekam dengan sangat jelas apa yang dilihatnya. Lama dirinya berdiri di ambang pintu, menanti waktu yang tepat untuk menyela atmosfir yang sepertinya menolak siapapun termasuk dirinya untuk turut serta. Kesal. Marah. Cemburu. Sakit. Terangkum dalam sorot matanya yang sayu.
