B.C

Chapter : 1

' Crek klek,'

Suara sebuah senapan di kokang.

' Tik,tik,'

Suara fokus Teleskop di setel.

'' Pokoknya aku tidak mau tau, kasus ini harus segera di hapus. Aku sudah membayarmu mahal, jadi seleseikan dengan cepat...klik,''

Seorang pria berperut buncit berbicara di telephon genggamnya dan terlihat sangat marah. Teleskop yang telah di atur fokusnya menatap tepat di kepala pria buncit yang baru saja bertelefon.

'' Target siap di eksekusi,'' ucap seseorang yang tengah berdiri di atap sebuah gedung sepuluh lantai sambil memegang senapan yang telah terbidik lewat headset yang telah terpasang di telinganya.

'' lenyapkan '' balas suara di ujung Headseat.

'' Roger,''

' Sting,, sleb,'

Pelurupun di tembakan oleh pemuda berambut pirang dan mengenai targetnya dengan telak, tak ada suara tembakan karena senapan itu dilengkapi dengan peredam suara.

Pemuda berambut kuning yang mempunyai sepasang mata berbeda itu mengecek sang target lewat lensa teleskop memastikan targetnya benar-benar telah tewas.

'' Target, Clear,'' ucap pemuda bernama lengkap Naruto Uzumaki itu lewat headsetnya.

'' Bagus, ini tugas terakhirmu sebelum keluar dari dunia kriminal , '' balas suara di ujung headset. '' Beberapa minggu lagi ada seseorang yang menyewamu untuk membatalkan pertunangan anaknya, dia akan datang menemuimu bila waktunya tiba dan mungkin kamu harus kembali kekampung halamanmu, disini terlalu berbahaya identitasmu sudah ada yang mulai menciumnya,'' lanjut suara itu.

'' Di mengerti, besok pagi aku akan meninggalkan negara ini,'' balas Naruto lalu memutuskan sambungan teleponnya.

' Crek, Klak,,, ting...ting...ting,'

Naruto mengokang senapannya dan mengeluarkan selonsong kosong dari kamar peluru dan jatuh ke lantai atap kedung tempat dia berdiri.

Memasang pengaman kembali ketempatnya guna mencegah hal yang tidak diinginkan, Naruto kembali menyimpan senapan itu ke dalam tas khusus senapan dan tak lupa perangat yang terpasang di senapan pun di lepasnya.

Naruto menggendong tas berisi senapan berkaliber 45 nato itu dan turun dari atap gedung lewat pintu darurat guna menghindari kecurigaan orang lain.

.

..

...

Naruto P.o.V

Hola, ketemu lagi dengan ku, yup aku Uzumaki Naruto manusia setengah iblis yang telah kehilangan kekuatan iblisnya karena di segel oleh 'Tuhan' karena dendam yang senan tiasa tinggal di dalam kegelapan hatiku yang terdalam yang mungkin tidak akan pernah bisa dihilangkan dan sebab itulah jiwa iblisku tidak akan kembali karena syarat terlepasnya segel adalah aku menghilangkan dendam di hatiku.

Aku sedang mengendarai ducati sport warna putih miliku, aku baru saja menyeleseikan misi terakhir di benua eropa ini dan setelah ini aku kembali kejepang untuk menjalankan misi penutupan sebelum aku keluar dari dunia kriminal ini.

Yah dunia kriminal dan aku bekerja sebagai eksekutornya, eit jangan salah walaupun dunia kriminal aku bukanlah di bidang kriminal yang melakukan kejahatan yang bertentangan dengan hukum malah aku yang melakukan apa yang hukum tidak dapat lakukan.

Yah aku eksekutor untuk para koruptor yang bebas berkeliaran yang selalu lepas dari hukum yang menjeratnya karena selalu 'menyogok' para aparat agar dia tidak kena hukuman. Namun bukan para koruptor saja yang aku bersihkan, Vampir, aparat yang ikut membantu para koruptorpun tak luput dari peluru senapanku, dan juga.. Iblis, yah walaupun aku juga iblis tapi iblis yang aku bantai adalah iblis liar, iblis yang telah meninggalkan majikannya, mirip seperti aku mungkin, bedanya aku sudah melepas kontrak terikatnya aku dengan 'Mantan majikanku' yang paling aku hormati namun telah mengecewakanku, ingatan itu tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku sampai kapanpun.

Ah sudahlah, aku sedang tidak ingin mengingat itu sekarang. Kuparkirkan motor putih miliku dan aku masuk kedalam rumah, rumah kontrakan kecil yang selelu melindungiku dari hawa panas dan dingin sejak pertama kali aku menginjakan kakiku di tanah eropa ini.

Kubereskan semua barang-barangku yang tidak banyak ini sesegera mungkin, yah tidak banyak cuma beberapa baju dan celana juga berkas-berkas sekolahku. Ah sekolah, sekolahku tidak pernah aku pikirkan yah terbukti dari aku harus mengulang di kelas dua sebanyak dua kali, begitupun di kelas tiga aku mengulang dua kali juga selama aku bersekolah di Hight School yang tidak terlalu terkenal di Eropa ini. Bukan berarti aku bodoh loh, aku hanya terlalu malas dan aku melakukan itu untuk penyamaranku selama disini.

Setelah aku bereskan semua barang-barangku, aku menempelkan puluhan -tidak-tidak- ratusan kertas peledak di setiap inci rumah kontrakanku. Kenapa aku menempelkan kertas peledak,? Ya jelas aku mau meledakan rumah ini untuk menghilangkan jejak, dan dari mana aku punya kertas peledak,? Aku membuatnya sendiri, aku mempelajarinya saat kecil dulu waktu masih di desa Ninja, aku belajar dari Tou-san. Hanya membutuhkan beberapa kertas dan tinta khusus, lalu dengan sedikit pengetahuan tentang Fuin aku membuatnya walau beberapa kali gagal namun akhirnya aku bisa membuatnya.

Setelah aku selesei memasang kertas peledak, aku juga memasukan motorku kedalam rumah, yah tentu untuk meledakannya juga, aku tempel beberapa kertas peledak di motor putih miliku. Setelah itu aku pergi dengan menggendong tas punggungku yang berisi baju dan berkas-berkas penting dan juga menenteng sebuah tas gitar yang pastinya berisi 'partner' kerjaku selama ini, setelah terasa cukup jauh aku melakukan Heandseal untuk mengaktifkan kertas peledak yang telah aku pasang.

' kaBooooooommmmmmm,'

Terdengar ledakan yang sangat besar dengan api yang membumbung tinggi dari bekas rumah kontrakanku, aku tidak terlalu khawatir akan ada korban karena rumah kontrakanku jauh dari para tetangga.

Aku melanjutkan perjalanan kebandara, berhubung pesawat yang akan aku naiki take off pukul setengah enam pagi jadi aku bisa sedikit santai. Sekarang baru pukul tiga dinihari, sedangkan tugas terakhirku disini dilakukan jam duabelas malam tepat tadi, jadi aku masih punya waktu bersantai dua setengah jam.

.

Ah akhirnya aku bisa duduk di dalam pesawat juga, huft gara-gara senapan yang aku bawa jadi sedikit repot saat memeriksaan tadi. Namun untung saja aku punya surat-surat dan sertifikat kepemilikan senapan, jadi yah dengan sedikit membuka dompet lancarlah urusanku. Sekali-kali ikut perbuatan para koruptor nggak apakan,? Jadi tau gimana rasanya lepas dari sebuah masalah hanya dengan beberapa lembar dolar amerika.

Aku duduk dengan tenang di kursiku yang persis di samping jendela, menengok sejenak keluar jendela nampak beberapa pesawat terparkir siap menaikan dan menurunkan penumpang. Memejamkan mata sejenak mengilangkan penat yang akan aku alami selama perjalanan yang akan memakan waktu tidak sedikit, sejenak aku teringat kembali saat aku di kirim 'sang pencipta' ke sebuah keluarga yang lumayan berada namun belum di karuniani anak.

Flash back (masih Naruto PoV)

Aku muncul di depan pintu sebuah rumah yang berukuran sedang, tidak kecil juga tidaklah besar. Namun sepertinya pemilik rumah ini adalah orang yang lumayan berada ya menengah keataslah, dari mana aku tau,? Aku tau karena asal nebak aja, hehehe.

' Tok,tok,tok,'

Kuketuk pintu rumah itu tiga kali dan aku mendengar sahutan dari dalam rumah untuk menunggu sebentar.

' Ckek,'

Pintu di buka dan terlihatlah seorang wanita yang terlihat masih muda berkisar duapuluh delapan tahunan membukakan pintu untukku, rambut biru panjangnya nampak pas dengan wajahnya yang ayu, mata birunya menenangkan.

'' Siap-,, eh adik siapa,? Kenapa malam-malam gini di depan rumah bibi,? Orang tuamu diamana,?'' tanya beruntun wanita itu agak sedikit terkejut melihat aku yang masih kecil berdiri di depan pintunya.

Aku menggeleng kecil, '' Namaku Uzumaki Naruto, aku yatim piyatu tidak punya orang tua, orang tuaku di bunuh beberapa waktu lalu di depan mataku. Aku takut, aku lapar,'' aku menjawab dengan airmata mulai membayang di mataku saat mengingat bagai mana orang tuaku di bunuh.

' Greb,'

tanpa aku duga, wanita yang membukakan pintu langsung memeluku dengan erat dan mengelus punggungku untuk menenangkanku. Sejenak mataku melebar melihat wanita itu yang tiba-tiba memeluku, namun rasa nyaman di peluk seorang wanita dewasa langsung meluluhkan pertahananku. Aku rindu di peluk Kaa-san, rasa hangat yang telah terlupa kini datang lagi. Tanpa di suruh, aku langsung menangis sesunggukan di pelukan wanita itu.

'' Ssstt, tenanglah Naru-chan jangan menangis,'' ucap wanita itu mencoba menenangkanku yang kian kencang menangisnya.

'' Hiks, hiks, a-aku rindu di peluk Kaa-chan, hiks,'' ujarku tanpa sadar dan membalas pelukan wanita itu seakan tidak mau meleepasnya.

'' Sssstt, peluklah bibi, anggap bibi sebagai Kaa-chanmu, walau bukan Kaa-chan asli Naru-chan. Bibi akan selalu memberi pelukan untuk Naru-chan,'' wanita itu juga mengeratkan pelukannya pada tubuh mungilku dan aku merasa tubuhnya bergetar, apa dia juga menangis,? Batinku.

'' Yemi-chan, siapa yang mengetuk pintu,?'' aku mendengar suara laki-laki dari dalam rumah yang sepertinya sedang berjalan kearahku, terbukti dari suara kaki yang aku dengar.

'' Ah Toru-kun, ini Naru-chan yang mengtuk pintu,'' ucap wanita yang memeluku lalu melepas pelukannya di tubuhku, sesaat aku melihat dia menghapus air matanya lalu menengok kearah laki-laki yang aku tebak pasti suaminya.

'' Naru-chan,?'' laki-laki berambut putih bermata hijau tegas yang di panggil Toru itu melihat kearahku yang masih sesunggukan.

'' Iya, Naru-chan anak kita,'' balas wanita yang aku tau bernama yemi penuh semangat.

'' Eh, emmm bolehkan kalau aku mengadopsi Naru-chan menjadi anak kita,? Kasihan dia, orang tuanya di bunuh di depan matanya dan dia tidak punya siapa-siapa lagi,'' lanjutnya yang sadar akan perkataan pertamanya.

Sejenak aku murung mendengar perkataan terbunuhnya orang tuaku, namun itu sesaat sebelum Yemi memelukku. Mungkin karena sadar perkataannya telah membuatku sedih.

'' Maaf Naru-chan, ucapanku membuatmu sedih,'' Yemi meminta maaf kepadaku dengan tulus.

Toru melihat intens kepada kami, dalam pikiranku dia pasti tidak akan mau mengadopsiku menjadi anaknya. Namun pemikiranku salah, dia tersenyum dan mengatakan kata-kata yang membuatku,,, senang,? Sedih,? Ah entah apa itu.

'' Tentu, tentu saja boleh. Naru-kun kelihatannya anak baik, dan juga kamu kelihatan sangat menyayanginya walau baru bertemu,'' ucap Toru.

'' Sungguh,?'' tanya Yemi memastikan dan di balas anggukan oleh Toru. '' Terimakasih, Toru-kun. Kamu selalu mengerti aku,'' Yemi memeluk Toru dengan aku berada di tengahnya, jadi yak kita berpelukan bertiga kayak teletubies.

'' Ne, Naru-kun mulai sekarang Naru-kun memanggil aku Tou-san dan Yemi Kaa-chan, karena mulai sekarang Naru-kun menjadi bagian keluarga kami,'' ucap Tor-.. Maksudku Tou-san seraya mengelus surai pirangku.

'' T-tou-chan,? Kaa-chan,?'' aku masih tidak percaya.

'' Iya sayang, Tou-chan dan Kaa-chan,'' ucap terharu Kaa-chan angkatku yang memandangku dengan air mata bahagia menetes dari matanya.

'' Ah ayo masuk kedalam rumah, di luar mulai dingin,'' ajak Tou-chan angkatku.

'' Iya ayo masuk Naru-kun, Naru-kun laparkan,? Kaa-chan masak Ramen, ayo kita makan,'' timpal Kaa-chan dan langsung membuatku berbinar dan melupakan kesedihanku. Yah walaupun kekecewaanku beberapa saat yang lalu aku rasakan masih melekat erat di hatiku, aku mencoba sejenak tidak memikirkannya dan berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas dari-Nya yang aku sudah anggap menjadi misi jangka panjang.

Kaa-chan tersenyum melihatku terlihat melupakan kesedihanku, mereka kemudian mengajakku masuk ke dalam rumah dan menyuruhku makan, tentu saja bersama mereka juga.

' Slurrrp,'

aku menghisap mie ramen masuk kedalam mulutku lalu mengunyahnya sebelum menelannya.

'' Enak,'' gumamku langsung dengan lahap memakan Ramen itu hingga habis, aku sejenak teringat akan aku dengan Kaa-chan asliku, kami berdua adalah pecinta ramen. Hampir tiap hari kami makan Ramen, yah walaupun makanan itu kuranglah menyehatkan namun kami tidak peduli dan bahkan Tou-san yang selalu memperingati kami jadi ikut-ikutan terbawa kami menjadi pecinta Ramen. Ah kenangan indah masa lalu.

'' Pelan-pelan Naru-chan makan ramennya, nanti tersedak,'' tegur Kaa-chan yang melihatku sangat bersemangat makan ramennya.

'' Ramen buatan Kaa-chan sangat enak, Naru tambah lagi,'' ucapku lalu menyodorkan mangkukku yang telah kosong pada Kaa-chan untuk di isi lagi dengan ramen.

'' Wah-wah-wah, ternyata anak Tou-chan seperti Tou-chan, sangat menyukai ramen,'' aku melihat kearah Tou-chan yang tengah tersenyum kearahku.

'' Tentu saja, Ramen adalah makanan para dewa dan satu-satunya makanan terenak di seluruh dunia bahkan mungkin di seluruh alam semesta,'' balasku dengan suara cempreng khas anak umur empat tau.

'' Hahahaha, Tou-chan sangat setuju denganmu Naru-kun, ramen adalah makanan para dewa,'' Tou-chan tertawa senang mendengarku, akupun jadi ikut tertawa karenanya.

'' Ckckck, Ayah anak sama saja, ramen itu kurang menyehatkan jadi jangan terlalu banyak makan ramen,'' ucap Kaa-chan menanggapi perkataanku dengan Tou-chan seraya menaruh mangkok ramen keduaku.

'' Terimakasih Kaa-chan, tapi ramen adalah makanan paling menyehatkan bagiku,'' ucapku berterima kasih dan kemudian memakan ramenku dengan lahap.

'' Ya sama-sama, tapi jangan terlalu banyak, Kaa-chan tidak mau kalau nanti Naru-chan sakit karena terlalu banyak makan ramen,'' balas Kaa-chan. '' Pelan-pelan Naru-chan makannya,'' lanjut Kaa-chan melihat aku seperti kesetanan makan ramennya.

'' Naru-kun tenang saja, kalau Kaa-chan tidak mau masakin kita ramen, kita makan ramen di luar, di tempat langganan Tou-chan. Di sana ramennya sangat lezat,'' bisik Tou-chan yang aku jamin Kaa-chan juga mendengarnya.

Aku menghentikan acara mengunyahku lalu menengok kearah Tou-chan dan memberinya satu jempol, mengisaratkan aku sangat setuju.

'' Tidak boleh, kalian tidak boleh makan ramen di luar. Kalau sampai kalian makan ramen di luar, jatah ramen selama satu bulan kalian akan Kaa-chan stop.'' ucap Kaa-chan terlihat sangat serius, sontak aku dengan Tou-chan langsung bersujud dan mengeluarkan mata memohon.

'' Tolong jangan hentikan jatah ramen kami,'' ucapku dan Tou-chan kompak.

Sementara Kaa-chan bersidekap dan tersenyum kemenangan.

.

Setelah selesi makan, mereka mengantarku kesebuah kamar dan kamar itu menjadi kamar tidurku.

Mulai saat itu aku hidup dengan mereka dan kami menjadi keluarga yang bahagia atau lebih tepatnya merekalah yang sangat bahagia, aku,? Aku juga bahagia melihat mereka bahagia. Tou-chan jadi rajin bekerja, sedangkan Kaa-chan selalu memanjakanku.

Enambulan telah berlalu semenjak aku tinggal bersama mereka dan kini Kaa-chan tengah menganduk 'adikku' yang baru tiga minggu.

Kebahagiaan mereka bertambah mendengar Kaa-chan tengah hamil, Tou-chan jadi semakin giat bekerja untuk mempersiapkan kelahiran adikku. Kasih sayang mereka tidak berkurang walau tau Kaa-chan tengah hamil, tapi malah bertambah dan menganggapku anak pembawa keberuntungan.

Kenapa mereka menganggapku begitu,? Yah pasalnya mereka menikah hampir lima tahun tapi tidak di karuniani seorang anak, namun setelah aku datang, beberapa bulan kemudian Kaa-chan hamil. Bukan anakku loh, anak Tou-chan asli.

Setelah adikku lahir, keluarga kami kian bahagia. Adikku berjenis kelamin perempuan, berambut putih seperti Tou-chan dan bermata biru-hijau gabungan dari mata Kaa-chan dan Tou-chan. Nama adikku adalah Momo Hanakai.

Tahun silih berganti dan Mo-chan adikku kian bertambah besar, namun kita seperti tidak bisa akur, semenjak dia berumur empat tahun kita selalu bertengkar. Yah seringnya sih kesalahan dia, aku si hanya diam dengan sikap dinginku. Yah aku bersikap pendiam yang terkesan dingin namun Tou-chan dan Kaa-chan memakluminya mengingat masalaluku yang kelam.

Saat aku lulus kelas tiga smp dan Mo-chan baru masuk kelas satu smp aku minta izin ke kedua orang tua angkatku untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.

Kaa-chan terang langsung menolak, namun aku bersikeras meyakinkan dan akhirnya dengan beruraian airmata Kaa-chan mengijinkanku dan mengantarku ke bandara.

Bukan tanpa alasan Kaa-chan menolakku melanjutkan smaku di luar negeri, Kaa-chan sangat menyayangiku karena aku sudah dianggap anak kandungnya dan juga aku sudah membantu membahagiakan mereka sebelum mereka mempunyai anak.

Aku pergi keluar negeri tanpa pamit ke adik perempuanku, Momo Hanakai. Yah mengingat kami selalu bertengkar, kebanyakan aku mendiaminya, namun aku menyayanginya sebagai adikku, dan akan selalu melindunginya dari bahaya.

Selama aku tinggal dengan mereka, kegelapan di dalam hatiku mulai menghilang namun tetap masih ada, aku pergi bukan tanpa alasan. Mengingat pesan dari-Nya bahwa aku harus membahagiakan sebuah keluarga, jadi setelah aku membahagiakan mereka aku pergi meninggalkan mereka karena misiku telah selesei dan berharap dengan tidak adanya diriku, mereka akan semakin bahagia.

Aku terbang menuju Eropa, dan disinilah aku memulai karir di balik bayangan.

Enam bulan hidup disana sangat sulit, apa lagi aku harus membiyayai hidup dan sekolahku. Aku menolah uang dari orang tua angkatku dan beralasan ingin mandiri.

Saat aku berjalan di sebuah jembatan besar yang berdiri kokoh di atas sungai yang lebarnya hampir limaratus meter sambil memikirkan bagaimana aku mendapatkan uang, hingga aku melihat direksi seorang pria yang sudah cukup tua berdiri di atas tiang melengkung jembatan yang tingginya sekitar sepuluh meter dari jalan.

Aku menduga pria itu akan bunuh diri, jadi aku menyusul pria itu dan berdiri di sampingnya.

Terlihat pria itu tidak menyadari kedatanganku hingga aku buka suara.

'' Hidup memang tidak adil ya, hingga mati adalah pilihan yang tepat,'' ucapku mencoba menyindirnya sambil menatap lekat kearah sungai.

Sejenak pria itu terkaget dan mengalihkan pandangannya kearahku.

'' Apa maksudmu anak muda,? Dan sedang apa disini,?'' tanya pria itu setelah tidak kaget lagi.

'' Tidak ada, aku disini mau melihat orang yang menyalahi takdir. Lalu sedang apa paman disini,?'' jawab serta tanyaku seraya membalas pandangannya yang terlihat putus asa.

'' Heh, takdir, kamu sedang menyindirku anak muda,?'' kulihat dia mendengus pesimis dan kembali memandang kearah sungai.

'' Ya kalau paman kerasa sih,'' balas ku.

'' Memang ada masalah apa yang menjadikan paman seputus asa seperti ini,?'' lanjutku bertanya.

'' Baiklah akan aku ceritakan sedikit tentangku, walau aku tidak mengenalmu anak muda,'' jawab pria paruh baya yang akulihat rambutnya mulai memutih.

Dia menceritakan keluarganya yang bahagia dengan anak laki-laki yang tampan dan kini sudah menikah dan memberikannya cucu perempuan yang sangat manis, dia adalah pengusaha yang sukses hingga dia di tipu rekan bisnisnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri. Dia menceritakan sahabat yang telah menipunya menyesal dan meminta maaf kepadanya dan bilang akan membantu mengembalikan kejayaan usahanya.

Namun, kucing tetaplah kucing, tidak mungkin seekor kucing menjadi anjing. Sekali lagi sahabatnya menipu dan menjebaknya dan menuduhnya berkorupsi yang mengakibatkan kerugian bagi kerja sama mereka.

Dia menolak tuduhan itu, namun saat sidang dia kalah karena semua bukti memberatkannya. Dia tidak menceritakan masalahnya kepada keluarganya, takut membuat keluarganya cemas sampai sidang terakhir yang mengharuskan dia membayar ganti rugi sebanyak seratus juta dolar untuk menebus korupsi yang tidak ia perbuat.

Pikirannya kalut dan akhirnya dia berdiri di sini, diatas sebuah jembatan berniat mengakhiri hidupnya.

'' Paman, dengan mati masalah tidaklah akan selesei tapi masalah itu akan mengejar keluargamu. Sebiknya paman ceritakan masalah ini dengan keluarga paman dan cari solusi yang tepat untuk memecahkannya. Aku yakin mereka akan menerimanya dengan tegar dan akan membantu paman menyeleseikan masalah paman,'' aku memberi nasihat kepada paman itu yang ber nama Adam.

'' Kenapa kamu seyakin itu anak muda,? Mereka pasti tidak akan menerima penjelasanku,'' balas paman Adam terdengar pesimis.

'' Coba dulu, kita belum taukan kalau belum mencobanya,? Dan urusan sahabat paman yang menipu dan memfitnah paman biar aku yang urus. Carikan aku sebuah senapan dan aku akan menghilangkan namanya dari daftar kehidupan,'' ucapku serius.

Paman Adam langsung menoleh kearahku dengan terkejut.

'' Siapa kamu anak muda,? Apa kamu mau membunuhnya,?'' tanya paman Adam yang masih terkejut.

'' Namaku Uzumaki Naruto, panggil saja aku Naruto dan yak aku akan membunuhnya jika paman mau dia mati, namun paman juga harus membayarku karena aku juga butuh uang,'' jawabku.

'' Tentu saja aku ingin dia mati, namun bagai mana aku membayarmu dan juga pasti polisi akan mengejarku,'' uacap paman Adam penuh ambisi namun juga terlihat tidak berdaya.

'' Tenang saja, aku akan melakukannya dengan halus dan juga bila nanti aku tertangkap, aku tidak akan membawa nama paman, aku janji. Dan paman bisa membayarku setelah paman bangkit kembali, namun tetap aku kasih waktu tidak kurang dari setengah tahun,'' balasku dan aku lihat paman Adam berpikir sejenak.

'' Baiklah, aku mau menerima bantuanmu. Apa yang kamu butuhkan,?'' tanyanya terlihat sedikit agak tenang.

'' Sebuah senapan lengkap dengan teleskop dan peredamnya dan kalau bisa berkaliber agak besar jadi target akan langsung mati,'' jawabku.

'' Baiklah, dua hari lagi jam tiga dini hari kita bertemu disini,'' ucapnya lalu kami turun dari atas jembatan.

Dua hari kemudian kita bertemu lagi disini dan dia bercerita telah menceritakan semua kepada keluarganya dan tanggapan keluarganya sangat marah terutama anak laki-lakinya, dia terlihat sangat murka. Bukan murka kepada paman Adam melainkan kepada sahabat paman Adam dan dia berjanji akan mengusut kasus itu dan mencari bukti yang menyatakan paman Adam tidak bersalah.

Setelah menyerahkan sebuah tas senapan yang berisi sepucuk senapan Magnum berkaliber 45, kita berpisah dan tak lupa dia berjanji akan membayarnya jika dia sudah bisa kembali sukses.

Aku setuju aja, dan malam itu juga aku langsung mendatangi sang target yang tidak lain adalah sahabat paman Adam.

Aku membututi kemanapun dia pergi, hingga di tempat yang strategis dan sepi lebih tepatnya di palang kereta api aku langsung menembaknya dari jarak tidak terlalu jauh dan peluru itu tepat mengenai kepalanya.

Seketika dia mati di tempat dan mobil yang di kendarainya berhenti tepat di tengah perlintasan kereta, hingga ada sebuah kereta yang melintas dan menabrak mobil itu hingga meledak dan hancur.

Aku membuatnya seperti kecelakaan, dengan tertabrak kereta pasti tubuhnya hancur dan bekas pluru yang menembus kepalanya hilang.

Mulai saat itu aku berkelana di balik bayangan, dengan bantuan seseorang di kepolisian, aku mendapat konsumen yang lumayan.

End Flash back.

Aku kini sedang dalam perjalanan menuju apartemen miliku, aku membelinya lewat internet yah berhubung tidak selamanya aku tinggal di negeri orang bukan,? Tiga puluh menit yang lalu pesawatku mendarat di bandara international Jepang, badanku rasanya pegal-pegal karena duduk terlalu lama di pesawat, jadi setelah sampai di apartemen aku akan langsung menuju tempat tidur dan tidur untuk waktu yang lama.

Setelah sampai, aku langsung masuk kelobi apartemen dan melapor kepetugas lobi untuk mengambil kunci apartemenku. Setah itu aku langsung masuk lift dan menuju lantai lima, lantai teratas di mana apartemenku berada.

' Ting,'

Bunyi pintu lift terbuka, aku langsung mencari pintu bernomor 21, nomor pintu apartemenku, setelah menemukannya, aku langsung menggesekan kunci apartemen yang berbentuk seperti kartu atm di tempat kuncinya yang berada di samping pintu.

Setelah itu, aku mengetik pin standarnya sebelum menggantinya.

' Cklek,'

kubaka pintu apartemenku dan aku langsung di suguhi pemandangan isi apartemenku yang bersih dan tertata rapi, perabotan seperti sofa, meja tamu dan tv layar lebar nampak pas di tempatnya. Ah memang harga selalu sama dengan barang, aku langsung masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu dan langsung rebahan di kasur King size yang berwarna putih, melemparkan tas gitar berisi senapan kesamping kasur dan tak lupa melemparkan juga tas yang masih aku gendong, sejenak aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar.

Kamar ini di cat dengan warna putih gading, lemari besar dengan tiga pintu nampak bertengger manis di pojok kanan tempat tidur mepet ke dinding, meja kerja di samping kiri dekat nakas yang berada di samping kiri tempat tidur.

Di tembok sebelah kanan, tidak jauh dari lemari ada sebuah pintu yang aku yakini pasti itu pintu kamar mandi. Setelah mengagumi isi kamar, mataku terpejam karena sudah sangat ngantuk.

Naruto PoV End.

.

..

...

' Krrrrrrriiiiiiiiiiinnnnnnnggggg,'

Bunyi jam weker di atas nakas berbunyi dengan sangat nyaring, mencoba membangunkan pemuda bersurai pirang yang masih setia menjelajahi alam mimpinya. Padahal jam weker itu sudah berbunyi untuk yang kedua kalinya dan pemuda pemilik sepasang mata berbeda warna itu belum bangun juga.

' Krrriiiiinnnggg,'

Jam weker itu masih senan tiasa mencoba membangunkan pemuda bernama asli Namikaze Uzumaki Naruto itu, jam weker itu terus berbunyi dan bergetar dan karena getaran itu membuat jam weker seperti bergerak dan bergeraknya kearah tempat tidur.

' Krrrriiiinnnggg,, Pluk,, Krrriiinng,'

jam weker itu jatuh tepat di depan telinga Naruto yang tidurnya meped ke Nakas.

'' Iya-iya aku bangun jam wekerku yang aku sayangi,'' Naruto akhirnya menyerah dengan jam wekernya dan mematikan alarm jam itu kemudian meletakannya kembali ke atas nakas namun sebelumnya melihat dulu ke-jam itu dan matanya lasung melebar melihat waktu yang di tunjukan jam tersebut.

'' Uwwaaaaahhh, aku terlambat,'' triak Naruto langsung melesat dengan kecepatan cahaya kedalam kamar mandinya, lima menit kemudian dia keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.

Mengacak kopernya, Naruto mencari seragam sekolah barunya dan setelah di temukan, Naruto langsung memakainya.

Setelah lengkap memakai sragam sekolahnya, Naruto mengambil tas slempang hitamnya dari dalam koper pakaian dan tidak lupa kunci kendaraan yang akan menemaninya ke sekolahnya.

Setelah itu, Naruto melesat keluar apartemennya dan tidak lupa menguncinya. Masuk kedalam lift dan langsung memencet tombol B1 yang langsung menuju basement tempat parkir seluruh kendaraan penghuni apartemen di mana Naruto tinggal.

' Ting,'

Pintu Lift terbuka tanda telah sampai mengantar Naruto sampai ke tempat parkir kendaraannya, dengan sigap Naruto bergegas berlari kearah parkiran sepeda motor dan setelah sampai dia langsung menuju sebuah motor berwarna putih bermesin Kawasaki.

Ninja 1000 cc itulah Motor yang sedang di naiki Naruto, motor yang di belinya lewat online juga seperti apartemennya.

' Cklek, csssrrr, Bruuum Bruuuummmm,'

Naruto memutar kontak motornya dan menstaternya kemudian memanaskan sebentar sebelum dia menjalankannya.

Naruto mengendarai motornya dengan gila, rambut pirangnya yang kini agak panjang berkibar kebelakang karena dia tidak memakai helm. Untung jalanan sedang sepi hingga dia sampai di sekolah barunya dengan cepat, hanya membutuhkan waktu lima menit yang harusnya di tempuh sepuluh menit dengan naik kendaraan bermotor.

Masuk dengan pelan ke halaman sekolah yang telah sepi karena jam pelajaran pertama telah di mulai, Naruto kemudian menjalankan motornya ketempat parkir.

'' Huft, akhirnya sampai juga,'' gumam Naruto dan mengacak pelan rambutnya yang masih serempak menghadap kebelakang dan menjadikan rambut itu acak-acakan dengan beberapa helai jatuh menutupi mata kirinya.

Turun dari motor sportnya, Naruto kemudian berjalan kedalam gedung utama sekolah itu. Sekolah yang dulunya hanya di khususkan untuk wanita kini di buka untuk umum dengan perbandingan antara wanita dengan laki-laki 7:3, Kuoh Academy itulah nama sekolahnya.

Naruto berjalan keruang kepala sekolah untuk menyelesikan admilistrasinya dan setelah itu, Naruto di beritau di mana kelasnya.

Dengan berbekal sebuah surat dari kepala sekolah, Naruto berjalan ke ruang kelas yang kelak akan di tempatinya, kelas 3A itulah kelas yang sedang Naruto tuju.

' Tok, Tok, Tok,'

Naruto mengetuk pintu kelas yang dia tuju setelah sampai di depannya.

' Sreek,'

Pintu di buka oleh guru yang mengajar, Naruto menyerahkan surat yang di bawanya dari ruang kepala sekolah.

'' Murid baru ya,? Ayo masuk,'' ucap Guru berjenis kelamin perempuan itu setelah membaca surat yang Naruto berikan.

Mengangguk kecil kemudian Naruto mengikuti sang guru masuk ke dalam kelas yang mendadak senyap.

'' Anak-anak, kita mendapat teman baru,'' ucap sang guru yang tengah berdiri di depan kelas disamping Naruto. '' Uzumaki-san, silahkan perkenalkan dirimu,'' suruh sang Guru.

'' Selamat pagi Mina-san, perkenalkan namaku Naruto Uzumaki, kalian bisa memanggilku Naruto dan aku pindahan dari Eropa, Huamz,'' Naruto memperkenalkan diri dan di akhiri dengan menguap sangat lebar. '' Sensei, bolehkah aku duduk,? Ah iya aku mau duduk di pojokan dekat jendela yang menghadap keluar itu,'' lanjut Naruto dan menunjuk kearah pojok belakang dengan sangat cuek dan tidak mempedulikan tatapan cengo dari seisi kelas.

Tanpa menunggu jawaban, dengan cueknya Naruto berjalan kebangku yang dia tuju dan duduk dengan tenang di bangku itu.

' Ih, sangat tidak sopan,'

' Tampilanya kayak preman,'

' Sombong banget sih,'

Bisik-bisik murid sekelas Naruto berdengung seperti ribuan tawon yang tengah pindah sarang dan tidak di gubris oleh Naruto.

' Heih, sabar-sabar,'

Sang guru hanya menghela nafas melihat sikap Naruto yang seperti seenak udele dewek, dan melanjutkan pelajannya yang tertunda akibat masuknya Naruto.

Pelajaran terus berlanjut, sampai-sampai tidak terasa empat jam telah berlalu dan bel tanda istirahat berbunyi dengan nyaring.

Semua murid langsung berhambur keluar, namun ada beberapa yang mengajak Naruto untuk kekantin, namun tidak satupun di hiraukan Naruto, dia hanya cuek bebek dengan gatget di tangannya. Akhirnya dengan raut kecewa, para gadis yang mencoba untuk dekat dengan Naruto akhirnya menyerah dan pergi ke kantin sendiri-sendiri.

'' Huh, ternyata dimana-mana sekolah memboosankan. Tidak ada tantangannya,'' gumam Naruto tidak semangat kemudian dia berdiri dan berjalan keluar berniat mencari sesuatu yang sedikit menarik perhatiannya.

Naruto berjalan di koridor sekolahan dengan tanpa tujuan, hingga direksinya menangkap sosok gadis bersurai putih bermata biru-hijau berjalan di belakang gadis bertubuh kecil berambut hitam diatas pundak dan memakai kacamata tanpa gagang menutupi mata violetnya, dan dua gadis lainnya di belakang gadis bermata violet itu.

' Menarik, ada iblis disini. Ah, disini memang teritori iblis dari dua keluarga bangsawan. Tapi Mo-chan, apa dia sudah di ubah menjadi iblis,?' batin Naruto dan tersenyum tipis.

Naruto berjalan lurus kedepan, lebih tepatnya kekelompok yang salah satu diantaranya sangat di kenalnya. Naruto dengan sengaja berhenti di depan gadis berkacamata yang berjalan di posisi paling depan.

Si gadis ber dada kecil menatap heran namun datar kearah Naruto. '' Maaf ada yang bi-..'' gadis itu tidak menyelesikan pertanyaannya saat seorang gadis berambut putih di belakangnya berteriak kencang.

'' Kamu,! Sedang apa kamu disini,!'' ucap tajam yang harusnya pertanyaan di keluarkan oleh gadis bernama Momo Hanakai.

'' Rupanya kamu masih mengingatku, Mo-chan,'' balas Naruto sinis.

'' Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku tidak sudi di panggil olehmu dengan sebutan seperti itu,'' nada suara Momo meninggi dan terkesan penuh kebencian.

'' Momo, jaga sikap dan apakah kamu mengenalnya,?'' tegur dan tanya gadis pewaris dari keluarga Sitri itu.

'' Maaf, Kaichou. Yah aku mengenal dia,'' balas Momo kalem namun penuh tekanan saat menunjuk 'Dia' kearah Naruto. '' Dia Nar-..''

'' Perkenalkan, namaku Naruto Uzumaki, Nii-san dari Momo-chan,'' potong Naruto memperkenalkan diri.

Sontak kelompok yang dipimpin gadis bermata ungu berkacamata terkaget mendengar penuturan Naruto, bahkan sang ketua dan wakilnya yang terkesan datar dan tegas sedikit menunjukan ekspresinya walau sesaat.

'' Cih, kamu bukan kakaku. Aku tidak punya kakak,'' sangkal Momo terlihat marah.

'' Dia kakak Momo-chan,?''

'' Aku kira Momo-chan tidak punya kakak,?''

gumam pertanyaan dari para teman Momo di kelompok itu.

'' Sudah aku bilang, dia bukan Kakaku,'' ucap Momo makin marah mendengar gumaman teman-temannya.

'' Kamu tidak berubah sejak dulu, Mo-chan. Ah aku rindu masa-masa itu,'' ucap Naruto dengan nada kesinisan terdengar jelas di setiap katanya. '' Ah maaf, aku permisi dulu aku tidak ingin di hari pertamaku masuk sekolah, aku membuat keributan,'' lanjut Naruto lalu menunduk kecil dan pergi melewati kelompok itu dengan sangat cuek seolah tidak ada kejadian yang baru saja di alamminya.

'' Dasar, sudah tenang aku saat dia tidak ada. Kenapa dia harus kembali dan menghancurkan hariku,'' dengus marah Momo.

'' Sudahlah, ayo lanjukan jalan kita,'' sang Kaichou mengintrupsi dan mulai berjalan mendahului kelompoknya.

' Siapa pemuda itu, walau aura manusia yang aku rasakan, namun ada aura lain juga terasa darinya. Aku harus menyelidikinya dan jika berpotensi akan aku jadikan dia menjadi budaku,' batin pemilik nama asli Sona Sitri dan tersenyum menyeringai kecil yang tidak di lihat anggota kelompoknya.

Naruto terus melangkahkan kakinya dan kali ini ada tujuannya yaitu taman belakang Academy Kuoh.

' Momo, heh' kenapa warna rambutmu tidak seperti Kaa-san saja. Warna rambutmu mengingatkanku akan sosok yang pernah membuatku kecewa, menorehkan luka yang mungkin tidak akan mudah terobati,' batin Naruto tersenyum sinis.

Naruto terus berjalan kearah taman belakah Academy Kuoh, dan setelah sampai dia langsung menuju ke sebuah pohon besar yang ada di taman itu untuk kemudian duduk di bawahnya dan tidur. Yah tidur, dia masih mengantuk walau sudah tidur seharian.

Terlelap dengan damai Naruto sampai-sampai ia lupa waktu dan pelajaran sudah di mulai. Sampai kehadiran seseorang yang mendatanginyapun tidak ia rasakan.

'' Ehem,''

Deheman seorang gadis berambut hitam sebahu dan kaca mata beningnya membingkai mata violetnya, mencoba membangunkan Naruto yang sedang lelap dalam mimpi.

'' Ehemm,''

Sekali lagi gadis itu berdehem mencoba sekali lagi membangunkan Naruto namun Naruto tidak kunjung bangun juga hingga perempatan muncul di sudut kepalanya dan wajahnya memerah kesal.

'' Cih, bangsat kalian. Kalau mau menusuku dari belakang, jangan memberi harapan memuakan itu padaku,!''

Sang gadis tersentak kaget mendengar Naruto berucap dengan mata masih terpejam dan juga nada yang terdengar dingin juga raut wajah yang mengeras.

' Apa dia bermimpi,? Atau pura-pura tidur,?' batin gadis itu penuh tanya.

'' Kalian telah mengecewakanku, menorehkan luka di dalam hatiku dan tidak akan pernah bisa di obati. Perbuatan kalian tidak akan pernah kumaafkan,'' desisi dingin Naruto di tidurnya dan membuat gadis berambut hitam sebahu yang dari tadi didepannya menatap cemas dan khawatir.

'' U-Uzumaki-san,'' gadis itu menjulurkan tangannya mencoba membangunkan Naruto.

'' Bangsaat,!'' triak Naruto membuka matanya dan langsung mencekal tangan gadis ketua Osis yang dari tadi mencoba membangunkannya dan langsung berdiri seraya mengarahkan kunai cabang tiga yang entah di dapatnya dari mana kearah leher gadis Hairees keluarga Sitri itu hingga hampir menusuknya jika kesadarannya tidak kembali.

'' Eh,!'' Sona, nama gadis itu terpekik tertahan karena kaget melihat Naruto yang tiba-tiba bangun dan langsung menghunuskan senjata tajam kearah lehernya.

Naruto melebarkan matanya atas tindakannya sendiri, reflek yang sejak dulu di latih di tambah mimpi buruk yang kembali dari masa lalunya menjadikannya hampir gelap mata.

'' Ma-maaf a-aku tidak sengaja,'' Naruto meminta maaf dengan sangat lalu melepaskan cengkraman tangannya di tangan Sona dan menyingkirkan Kunainya kemudian menyimpannya kembali di balik bajunya.

'' Maaf, terbawa mimpi buruk sampai hampir melukaimu,nona-san,'' Naruto membungkukan badanya sejenak dengan sangat menyesal karena hampir menghilangkan nyawa orang tidak bersalah yang belum di kenalnya.

'' U-Uzumaki-san kamu baik-baik saja,?'' Sona terlihat khawatir sampai menghiraukan ucapan maaf dari Naruto.

'' Naruto, panggil saja Naruto dan ya aku baik-baik saja, mungkin aku hanya kecapaian gara-gara penerbangan yang sangat melelahkan,'' jawab Naruto dan memijat pelan tengkuknya yang terasa sedikit pegal.

'' Maaf, Nona-san,..''

'' Souna Sitori, panggil saja Souna,''

'' Maaf Souna-san membuatmu kaget dan hampir mati tadi, dan ah sepertinya pelajaran sudah di mulai, aku permisi dulu kekelas,'' sekali lagi Naruto meminta maaf dan pamit untuk kekelasnya kembali.

'' Ya, tidak apa-apa. Lain kali jangan di ulangi lagi, kalau kurang enak badan istirahat saja di UKS dan juga tolong jangan membawa senjata tajam kesekolah,'' balas Sona mencoba memaklumi dan menegur.

'' Ah iya, baiklah aku permisi dulu,'' Naruto berjalan kearah gedung sekolahnya dengan kepala tertunduk dan masih memikirkan mimpi buruk yang terus berputar di kepalanya.

' Cih, kalian yang berbuat, aku yang menderita,' batin Sinis Naruto.

Sona memandang datar punggung Naruto yang kian menjauh dan menghilang di koridor, walaupun pandangannya datar namun dia sedikit khawatir dengan remaja yang baru di kenalnya itu.

' Kejadian buruk apa yang pernah di alami olehmu Naruto-san,? Sampai terbawa mimpi seperti itu,?' batin Sona penuh tanya.

Akhirnya Sona juga berjalan kearah sekolahan karena tugas keliling mengecek siswa-siswi yang membolos telah selesei.

Sona masuk kekelasnya dan sedikit kaget melihat sosok Naruto yang tengah duduk di bangku sudut paling belakang dan matanya kosong. Dia keget juga karena ternyata Naruto sekelas dengannya. Sona berjalan ke bangkunya setelah di izinkan oleh guru yang sedang mengajar dan duduk dengan tenang mencoba mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.

Waktu silih berganti dan tidak terasa jam pelajaranpun telah usai dan sekarang waktunya untuk pulang.

Naruto melirik pesan yang baru masuk ke smartphonenya.

'' Bunuh beberapa iblis liar yang meresahkan di kota Kuoh, menurut informasi yang aku dapat mereka tinggal di sebuah pabrik tua di areal pinggiran kota. Mereka kira-kira berjumlah sekitar lima ekor. Nah Naruto ini permintaan terakhirku dan ini permintaan dari klien kita yang keluarganya di culik mereka,''

Isi pesan singkat itu langsung di hapus Naruto, setelah memasukan smartphonenya ke kantung celananya dia bangkit dan keluar dari kelas bergegas untuk pulang dan menyiapkan semua keperluan yang akan di gunakannya.

Sona terus melihat kearah Naruto dari mulai mengeluarkan hpnya hingga berjalan keluar, namun dia melihat Naruto berhenti tepat di depan pintu kelas, terlihat walau sekilas pandangan Naruto melunak dan menyinis.

'' Minggir jangan berdiri di depan pintu, kau menghalangi jalanku,!'' seru gadis berambut putih sepunggung dan beraset lumayan dengan penuh amarah, entah apa penyebabnya gadis itu jika bertemu dengan Naruto amarahnya selalu meningkat.

'' Cih, terserah kamu saja Imoutoku yang manis,'' balas Naruto dingin sedingin es di dalam es dawet Banjarnegara. Hal yang tidak pernah di dengar oleh gadis berambut putih di depan Naruto selama pertengkaran mereka selama ini. Naruto berucap dingin karena teringat mimpi buruknya setelah melihat rambut gadis bernama Momo Hanakai yang tidak lain adalah adiknya.

Sejenak Momo tertegun sampai kesadarannya kembali. '' Jangan panggil aku Imoutomu karena aku bukan adikmu,!''

Naruto tidak menggubris protesan adiknya dan nyelonong menerobos keluar kelas.

'' Dasar orang tidak bertanggung jawab,'' sungutnya kesal.

'' Momo ada apa,? Kenapa kamu marah-marah,?'' tanya Sona datar setelah dia menghampiri Bishopnya itu.

'' Ah, tidak Kaichou. Maaf membuat keributan,'' balas Momo dan meminta maaf.

'' Sudahlah, ada urusan lebih penting kita berkumpul di ruangan Osis,'' ucap tegas Sona.

.

Naruto berjalan kearah motor putihnya yang terparkir dengan gagah di halaman parkir Academy Kuoh, menaiki motornya lalu memasukan kunci ke lubang kontaknya dan memutarnya lalu menstarter motor itu.

Memanaskan mesin motornya sebentar sebelum melesat pergi dari halaman Kuoh Academy di ikuti tatapan beberawa wanita yang kagum.

Di suatu ruang di Academy Kuoh nampak kelompok dari OSIS sedang mengadakan rapat kecil.

'' Hari ini kita mendapat misi menggantikan tugas klub Penelitian Ilmu Gaib untuk membasmi Iblis liar, karena mereka sedang mempersiapkan untuk Rating Game yang akan mereka lakukan besok malam. Jadi seluruh anggota OSIS harus turun membasmi mereka,'' Sona sang ketua OSIS memberitaukan tugas mereka.

'' Maaf Kaichou, aku, Reya, Ruroka, dan Benia tidak bisa ikut. Kami harus menyeleseikan tugas dari Kaichou yang harus di kumpulkan besok pagi-pagi. Jadi kami minta izin untuk tidak ikut,'' ucap gadis berambut merah hati (bukan Pink) meminta Izin dan di ikuti anggukan para gadis yang ikut di sebut namanya.

'' Apa tidak bisa di seleseikan setelah misi selesei,?'' tanya Sona datar.

'' Kemungkinan tidak bisa, melihat masih sangat banyak tugasnya yang belum di garap,'' balas gadis bernama Tomoe Meguri itu.

'' Huft, baiklah kalian boleh tidak ikut tapi tugas yang aku berikan kepada kalian harus di seleseikan,'' Sona akhirnya membolehkan mereka tidak ikut karena banyak tugas mereka yang belum di seleseikan.

'' Terima kasih, Kaichou,'' ucap serempak Tomoe, Reya, Ruroka, dan Bennia.

'' Tsubaki, Saji, Tsubasa, Momo persiapkan diri kalian, kita tidak tau ada berapa dan seberapa kuat musuh yang akan kita hadapi,'' ucap Tegas Sona.

'' Hai,'' balas Saji, Momo, Tsubasa dan Tsubaki serempak.

Malam telah tiba dan jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, dan di sebuah kamar apartemen di lantai lima seorang pemuda bersurai pirang sebahu dan memiliki sepasang mata berbeda warna tengah mengecek sebuah senapan yang akan dia gunakan.

' Klek, crek klak,'

pemuda itu memasukan megazin ke kamar pluru yang ada di senapan tersebut dan mengokangnya.

'' Saatnya beraksi,'' gumam pemuda tersebut. Lalu memasukan senapan itu kesebuah tas gitar lalu menggendongnya.

Keluar dari kamar aprtemennya pemuda itu kemudia pergi turun lewat pintu darurat dan dengan kemampuan Ninjanya dia langsung loncat turun kelantai bawah melewati celah antar tangga. Dengan mengalirkan Chakra kekakinya untuk memperkuat kakinya saat mendarat di lantai paling bawah.

Melesat kearah Basement, pemuda itu kemudian menaiki motor putih kesayangannya, menstarternya tanpa memanaskan dulu pemuda itu langsung melesat kencang dari pelataran parkir basement Apartemennya.

Jaket putih berhodi yang di punggungya bergambar kepala naga berwarna hitam berkibar liar karena kencangnya ia mengendarai motornya dan menampakan kaos biru yang di gunakan sebagai dalaman.

Pemuda bernama Naruto itu telah sampai di gudang tua tempat tujuannya.

'' Huh, mereka juga ada disini rupanya,'' gumam Naruto lalu turun dari motornya dan mengeluarkan sepucuk senapan dari tas gitarnya, memasang teleskop dan peredamnya lalu ia menggendong senapan itu dan meloncat tinggi keatas sebuah tiang listrik yang lumayan tinggi dan mengekspos seluruh area tempat tujuannya tanpa ada halangan sedikitpun.

'' Mereka lumayan kuat menghadapi mereka,'' gumam Naruto seraya mengambil senapan di punggungnya.

Naruto menatap lurus kehalaman pabrik tua yang sudah tidak terpakai, disana dia melihat tim dari orang yang di kenalnya tengah melawan tiga iblis liar yang sudah berubah menjadi monster berbentuk Kuda, Beruang dan macan.

'' It's Show Time,'' Naruto lalu memposisikan senapannya siap menembak dengan teleskop telah membidik ke salah satu iblis liar yang tengah melawan sosok yang sangat di kenalnya dan terlihat tidak imbang di mana si Iblis liarnya lebih unggul.

Ketempat pertarungan di halaman pabrik tua.

'' Kaichou, mereka lumayan kuat,'' ucap pemuda berambut pirang lurus kepada ketuanya.

'' Saji bertahanlah, kita harus mengalahkan mereka demi misi yang di percayakan Mauo-sama kepada kita,'' sang Kaichou membalas ucapan dari Saji dengan masih menembakan demonic powernya keiblis berbentuk beruang.

Sona sang Kaichou tengah menghadapi iblis berbentuk Beruang seorang diri, sang Queen menghadapi iblis berbentuk Kuda dengan Saji, dan Tsubasa menghadapi iblis berbentuk macan bersama Momo.

'' Momo,! Awas,!'' seru Tsubasa memperingati, pasalnya sang iblis macan tengah melesat kearah Momo dan siap melepaskan tinjunya ke perut Momo.

'' Kena kau,'' ucap sang iblis macan dan tinjunya tepat mengenai perut Momo.

' Bught, Brak,'

tubuh Momo melayang menghantam dinding dengan keras hingga menghancurkan dinding itu.

'' Ugh,'' lenguh Momo dan darah segar keluar dari mulutnya, belum juga tenang, Momo melebarkan matanya saat iblis liar itu melesat cepat kearahnya dan menyerangnya dengan cakarnya yang telah memanjang.

'' Mati Kau,!?'' serunya dan mengarahkan cakarnya tepat kearah Momo.

Rekan-rekannya nampak Shok dan tidak bisa membantu banyak karena mereka sedang menghadapi musuh masing-masing sedangkan Tsubasa tidak bisa bergerak cepat mengingat dirinya adalan seorang benteng.

Diatas tiang listrik, rahang Naruto mengeras dan matanya menajam melihat seseorang yang ingin selalu di jaganya tengah menghadapi bahaya yang mengancam nyawanya.

Dengan cepat Naruto menarik platuk senapannya dan mengokangnya hingga lima pluru berwarna putih melesat cepat kearah iblis liar yang sedang melayangkan cakarnya kearah Momo.

' Ckling, creek klek, ckling,'

suara pluru keluar dari ujung senapan dan suara kokangan senapan mengingat senapan yang di gunakan bukanlah senapan Otomatis atau Semi Otomatis melainkan manual bolt.

' Crass, Crass, Crass, Crass, Crass,'

Peluru putih yang sepertinya terbuat dari cahaya itu tepat mengenai sang iblis liar di bagian kepala dan bagian badannya.

'' Aaaarrrrrgggghh,'' iblis liar itu mengerang sakit dan sedetik kemudian menghilang mengurai menjadi debu.

Sontak kelompok Sona langsung mengalihkan pandangannya kearah asal suara dan mereka shok melihat iblis liar itu telah mati dan Momo sudah berdiri memegangi perutnya menahan sakit.

' Ckling,ckling,ckling,ckling,ckling,'

Naruto menembakan sisa pelurunya kearah dua iblis liar yang tersisa dan tepat mengenai mereka dengan telak.

' Aaaatrrrrrghh,'

' Aaarrrrghhh,'

Dua iblis liar berbentuk Beruang dan Kuda langsung mengurai menjadi debu begitu peluru Naruto tepat mengenai bagian vitalnya. Mereka hanya bisa mengeluarkan teriakan pilu saat menghadapi ajalnya.

' Crrrekk Swus, Klack,'

Naruto mengokang dan mengeluarkan selonsong terakhir pelurunya yang telah kosong.

'' Cih tidak membawa peluru cadangan, padahal masih ada,'' gumam Naruto menurunkan senapannya.

Di tempat Sona,

Sona dan kelompoknya nampak bingung akan musuhnya yang tiba-tiba lenyap menjadi debu.

'' Kaichou, siapa yang membunuh mereka,?'' tanya sang Queen, Tsubaki Shinra.

'' Aku juga tidak tau, Tsubaki,'' Balas Sona dan mengedarkan pandangannya mencari siapa yang telah membunuh target mereka.

'' Momo, kamu tidak apa-apa,? Maaf aku tidak bisa menolongmu tadi,'' Tsubasa menghampiri Momo dan membantunya berjalan ketempat kelumpoknya berkumpul.

'' Tidak apa-apa, Tsubaki-senpai aku baik-baik saja,'' balas Momo walau masih terlihat raut wajahnya menahan sakit.

'' Momo, kamu tidak apa-apa,? Dan kamu tau siapa yang membunuh mereka,?'' tanya sang Kaichou datar namun terdengar khawatir.

'' Aku baik-baik, dan aku juga tidak tau siapa yang membunuh mereka,'' jawab Momo yang sudah sampai di tempat kelompoknya.

Karena sedang mencari siapa yang membantu mereka, mereka menurunkan kewaspadaannya dan tanpa mereka sadari dua iblis liar berbentuk Minotor menembakan demonik power yang sangat besar kearah mereka.

Sona yang tiba-tiba merasakan bahaya langsung menengok kebelakang kearah pabrik tua dan matanya langsung melebar melihat dua iblis liar berbentu Minotor siap menembakan demonic powe berukuran jumbo.

'' Mati Kalian,!'' seru dua Minotor itu dan menembakan demonic powernya kearah tim Sona.

'' Menghindar,!'' triakan Sona menggema menyuruh para bidaknya untuk menghindar dengan cepat.

Semuanya langsung menghindar kecuali Momo yang masih terluka hingga tidak bisa menghindar.

Momo langsung menutup matanya pasrah sedangkan yang lainnya melebarkan matanya.

'' Momo, menghindar,!'' seru seluruh panik melihat Momo tidak bergerak sedangkan bola demonic power berukuran jumbo sudah sangat dekat dan akan mengenainya telak.

Naruto menatap garang kearah bola demonic power yang akan mengenai sosok yang sangat di bencinya karena rambutnya selalu mengingatkan rasa sakit yang pernah di torehkan oleh wanita yang warna rambutnya mirip dengannya, namun juga di sayanginya karena sudah di anggap adik yang akan selalu di lindunginya.

'' Cih, kalian akan menyesal,'' geram Naruto lalu mengeluarkan chakra petirnya untuk melindunginya dan untuk mempercepat pergerakannya.

Naruto menghilang dari atas tiang listrik, tempat dia berdiri dan muncul di depan Momo yang langsung dipeluknya dan memperbesar chakra petirnya guna melindungi mereka sesaat sebelum dua bola demonic power menghantam mereka.

'' Boooooooooommmmmmmmm,''

ledakan sangat besar terjadi saat dua serangan itu mengenai targetnya.

'' Momo,!'' Sona dan para budaknya berteriak khawatir.

'' Hahaha, pasti mereka langsung mati,'' ucap sang Minotor yang seluruh tubuhnya berwarna Hijau.

'' Tentu, tidak ada yang bisa menghindari serangan kombinasi kita,'' balas Minotor yang tubuhnya berwarna Merah.

Yah, dua Minotor itu kembar hanya warna tubuhnya saja yang berbeda.

Asap akibat ledakan masih mengepul pekat, dan dari asap itu keluar suara seperti banyak sengatan listrik.

' Zrrrrt, zzrrrrt, brrzzzt, criit,'

'' Minotor, iblis berbentuk banteng yang telah kabur dari tuannya. Dengan kekuatan yang sudah hampir menyamai mantan majikannya, kalian berbuat seenaknya dan memangsa manusia,'' ucap Naruto dari dalam asap yang kian menipis.

Sona nampak menajamkan pendengarannya dan penglihatannya mendengar suara yang familiar di telinganya.

'' Si-siapa kau,!'' triak Minotor merah,

'' Tunjukan dirimu,!'' imbuh Minotor hitam.

'' Hah, walaupun kalian kuat, kalian bodoh juga,'' balas Naruto yang kini mulai terlihat karena asap yang mengepul akibat ledakan mulai menghilang.

Mata seluruh kelompok Sona melotot shok begitu juga dua Minotor yang melihat hasil serangannya tidak membunuh Targetnya.

Terlihat Naruto masih memeluk Momo posesif, seakan tidak mau melepas pelukannya. Petir yang melindungi Naruto dan Momo perlahan menghilang.

Naruto menoleh kebelakang kearah dua Minotor yang masih shok.

Perlahan mata kiri Naruto yang berwarna Onix berubah menjadi merah dengan tiga tomoe berputar pelan.

Momo yang tidak merasakan sakit dan merasa ada seseorang yang memeluknya akhirnya membuka matanya dan hal yang pertama di lihatnya adalah kaos biru yang asing baginya, lalu dia mendongakan kepalanya dan dia melihat surai pirang yang amat di kenalnya dan sepasang mata berbeda warna yang menatap kebelakang dengan tajam.

'' Na-Naruto,'' lirih Momo yang masih di dengar Naruto.

Mendengar ada yang memanggilnya, Naruto langsung mengalihkan pandangannya kearah asal suara dan dia melihat sepasang mata Biru-Hijau yang nampak sendu.

Tidak membalas panggilannya, Naruto hanya memberikan senyum menenangkan.

Naruto melepas pelukannya, namun sepertinya gadis yang di peluknya enggan melepas pelukannya.

'' Huft,'' Naruto menghela nafas pelan lalu membuat heandseal yang sangat simple.

'' Kagebunshin no Jutsu,'' ucap Naruto.

' Pof,Pof,Pof,'

Muncul tiga clon yang mirip dengan Naruto di kanan kirinya.

'' Seleseikan dengan cepat dan efesien,'' perintah Naruto pada para bunshinnya.

'' Roger,'' balas para bunsin Naruto lalu masing-masing mengambil sebuah kunai dari balik jaketnya dan kemudian melesat kearah Iblis Minotor.

'' Jangan harap kalian bisa mengalahkan kami,!'' seru Minotor berwarna merah dan mereka melesat kearah bunshin Naruto dengan kampak siap terayun.

' Trang, Trang,'

dua bunshin Naruto menahan kampak dari duo Minotor itu sedangkan bunshin yang bebas lalu menebas kearah Minotor merah dengan kunai cabang tiga yang telah di aliri elemen angin hingga terlihat memanjang seperti sebuah belati.

' Craasshhh,'

serangan bunshin yang bebas itu tepat mengenai perut Minotor merah dan membuat luka menganga di sana, di luka menganga itu menguar aura hitam keunguan seperti asap.

'' Aaarrrggghhh, sakiiit,'' teriak Monotor merah sampai tersungkur di tanah.

'' Kurang ajar, kubunuh Kalian,!'' Minotor hitam tidak terima dan menarik dan menebas lagi kampalnya kearah bunshin Naruto yang tadi menahan kampaknya.

' Poft,'

karena kaget dengan serangan dadakan, bunshin itupun tertebas dan menghilang menjadi asap.

'' Huh, cuma segitu kekuatannya,'' remeh Minotor Hitam yang melihat serangan kecilnya sukses mengenai sasarannya.

'' Cih, seranganmu menyakitkan, akan aku balas puluhan kali lipat seranganmu,'' ucap Minotor Merah yang kini telah berdiri dan rasa sakit akibat tebasan bunshin Naruto tidak dirasanya.

Sona masih membulat shok melihat orang yang baru di kenalnya dapat menggandakan diri dan melukai iblis sekelas Minotor dengan mudah.

'' Oh iya,? Tapi maaf, boss tidak mengijinkan kami bermain-main, jadi maaf kami akan melenyapkan kalian dengan cepat,'' balas dua bunshin Naruto dan sama-sama membuat heand seal.

'' Hahaha, melenyapkan kami,? Jangan harap kalian bisa,!'' tawa meremehkan Minotor merah lalu membuat bola demonic power yang besar.

'' Bermimpilah bisa melenyapkan kami,!'' timpal Minotor Hitam yang juga membuat bola demonic power yang sama besarnya.

'' Kalian saja yang bermimpi,'' balas Bunshin Naruto.

'' Katon : Goryuuka No Jutsu,''

'' Fuuton : Furyuujin ''

seru kedua bunshin Naruto meneriakan jutsunya dan masing-masing menyemburkan angin dan api dalam insensitas yang sangat besar, angin dan api yang mereka semburkan memadat menjadi dua ekor Naga yang sangat besar dan kedua Naga itu melesat bersama-sama kearah Minotor hitam dan Merah.

Kedua Minotor yang belum siap menerima serangan karena masih mengkonsentrasikan pada bola demonic power masing-masing.

Kedua Naga buatan bunshin Naruto melesat cepat kearah duo Minotor.

' Kabuuuuummmmm,'

ledakan besar terjadi saat kedua naga itu mengenai bola demonic power yang sedang di buat oleh kedua Minotor dan juga mengenai kedua Minotor itu.

Kedua bunshin Naruto belum menurunkan kewaspadaannya dan malah membuat heandseal yang sama.

Setelah selesei membuat heandseal, mereka berdua mengangkat tangannya keatas dan dari tubuh mereka keluar listrik yang lumayan besar dan menguar ke langit.

Seketika awan menjadi mendung dengan petir menjilat di skujur awan.

'' Ugh, butuh lebih dari ini untuk membunuh kami,'' suara Minotor menggema dari balik asap bekas ledakan jutsu Naruto.

'' Argh, benar-benar akan kami bunuh kalian,'' ucap marah sang Minotor tidak tau bahaya apa yang akan mendatangi mereka.

Asap akibat ledakan kini mulai menghilang dan terlihat Minotor merah dan hitam nampak terluka cukup parah.

'' Sudah ku duga,'' gumam salah satu bunshin.

'' Raiton : Kirin ''

ucap kedua bunsin Naruto bersamaan dan dari balik awan keluar seekor naga yang amat besar dan panjang dan itu terbuat dari petir.

'' Apa,!'' kaget dua Minotor melihat naga petir yang amat besar keluar dari langit.

Kedua bunshin Naruto menurunkan tangannya dan menunjuk lurus kedua Minotor, seketika naga petir alami itu melesat lurus kearah dua Minotor yang masih tidak bergerak karena luka dari jutsu bunshin Naruto sebelumnya masih sangat di rasanya dan hampir seluruh tubuh mereka.

' Blennddduuuuuuuunnnnnnggggg,'

ledakan yang teramat besar terjadi dan Asap mengepul pekat lebih pekat dari serangan sebelumnya. Saking besarnya ledakan sampai-sampai bagian depan pabrik tua yang ada disana terkena ledakan dan hancur.

Asap kian menipis tertiup angin yang lumayan agak kencang malam itu, setelah asap menghilang terlihat kawah yang besar hasil ledakan jutsu Kirin buatan bunshin Naruto dan di kawah itu sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan alias sang Minotor telah tewas.

'' Hahaha, lihat jutsu buatanku berhasil membunuh mereka,'' bunshin Naruto yang pertama membanggakan dirinya.

'' Heh, itu karena jutsu buatanku,'' Bunshin kedua tidak mau kalah.

'' Huh, buatan kitalah,'' ucap bunshin pertama.

'' Terserah, ayo lapor ke Boss,''

Kedua bunshin Naruto berjalan ke Naruto yang asli.

'' Boss, kami telah menyeleseikannya dengan dengan cepat dan evesien,'' kedua bunshin Naruto melapor seperti seorang tentara.

Naruto menengok kearah bunshinnya,

'' Kalian berlebihan, aku yang terkena imbasnya,'' ucap Naruto menangis anime dan terlihat wajah Naruto pucat pasi.

'' Go-gomen, kami hanya melaksanakan perintah boss saja,'' kedua bunshin Naruto ketakutan melihat tampang Naruto yang seperti hantu.

'' Tapi dengan satu jutsu saja bisakan, misalnya langsung pake Kirin,?'' tanya Naruto lesu.

'' Go-gomen, kami pergi dulu, jaa,'' cepat-cepat kedua bunshin Naruto menghilang mengepul menjadi asap putih.

'' Huh, dasar bunshin tidak bertanggung jawab,'' kesal Naruto.

Sona dan para anggotanya masih menganga shok melihat dahsyatnya jutsu Naruto.

'' Ne, Mo-chan mau sampai kapan memelukku terus,?'' tanya Naruto tidak bermaksud menggoda.

Tidak menjawab tapi malah mengeratkan pelukannya dan tubuhnya bergetar dan sedikit terisak.

' Menangis,?' batin Naruto.

Sona yang telah sadar dari kagumnya berjalan kearah Naruto dan Momo di ikuti kelomponya.

'' Ehemm,'' Sona mengintrupsi Naruto yang masih memeluk budaknya.

' Hiks, hiks, hiks,'

terdengar ringikan tangis dari Momo yang masih dalam pelukan Naruto.

'' Momo ada apa,?'' tanya Naruto selembut mungkin dan mengelus surai putih milik Momo yang tiba-tiba membuat dadanya sakit.

Momo hanya menggeleng kecil di dada bidang Naruto.

'' Naruto-san, siapa dirimu sebenarnya,?!'' tanya datar namun tajam keluar dari mulut Sona.

'' Bolehkah aku pulang,?'' bukan menjawab malah bertanya balik.

'' Tidak boleh, kamu harus menjelaskan siapa di rimu dan apa tujuanmu melakukan itu,'' tuntut Sona dengan tegas dan tidak membolehkan Naruto pulang sebelum menjelaskan.

'' Ayolah, aku sudah sangat lelah. Ini kesadaran terakhirku sebelum pingsan,'' ucap Naruto memelas dan terlihat raut Naruto begitu kelelahan dan juga pucat.

'' Pokoknya tidak boleh, jelaskan semuanya dulu,!'' tegas Sona.

' Heih,' lenguh Naruto dan tubuhnya sedikit limbung.

Untung, Momo masih memeluk Naruto jadi dia tidak jatuh.

'' Ni-Nii-san tidak apa-apa,?'' tanya Momo khawatir dan untuk pertama kalinya seumur mereka saling mengenal, Momo memanggil Naruto dengan Nii-san.

Naruto mengurut keningnya yang lumayan pusing gara-gara ulah bunshinnya yang terlalu menguras chakranya untuk mengeluarkan tiga jutsu berank tinggi.

'' Yah, eh kamu tadi memanggilku apa,?'' Naruto mendengar panggilan Momo kepadanya.

'' Nii-san, jangan menggodaku,'' rengak Momo malu-malu dan membenamkan wajahnya yang memerah di dada bidang Naruto.

Sona dan yang lainnya melongo melihat tingkah manja dan malu-malu Momo yang berbanding terbalik dari saat mereka bertemu.

Naruto tersenyum sinis saat melihat pucuk kepala Momo yang berambut putih dan ingatannya kembali kepada sesosok gadis yang menghianatinya.

Namun senyum Naruto berubah menjadi senyum tulus mengingat siapa yang ada di pelukannya.

'' Ehemm, baiklah kamu boleh pulang tapi besok kamu harus menjelaskan pada kami di ruang OSIS,'' ucap Sona mengijinkan Naruto pulang walaupun dengan syarat.

'' Terserah kamu saja, Souna-san,'' balas Naruto cuek.

'' Ne, Mo-chan aku mau pulang, apa kamu mau aku antar pulang sekalian,?'' ucap Naruto menawarkan jasanya.

Momo menggelengkan kepalanya, '' Apa Nii-san akan pulang kerumah,?'' tanya polos Momo.

Naruto menggeleng pelan, '' Tidak, mungkin nanti. Nii-san akan pulang ke apartemen Nii-san,''

'' Kalau begitu aku ikut Nii-san,'' ucap Manja Momo.

'' Kalau begitu, ayo,'' balas Naruto dan merenggangkan pelukannya agar bisa berjalan.

Momo hanya mengikuti saja dan merangkul Naruto erat.

Sekali lagi Sona dan timnya melongo karena Naruto dan Momo terlihat sangat mesra bagai sepasang kekasih, tidak seperti sebelumnya yang baru ketemu seperti anjing dan kucing.

Naruto terus berjalan kearah motornya di parkir, setelah sampai dia mengambil tas gitar yang dia gantungkan di stang motornya, kemudian memasukan senapan yang dari tadi di gendongnya ke dalam tas gitar tersebut untuk selanjutnya di gendongnya, namun tidak jadi saat tangan putih mungil menarik tas gitar itu.

'' Biar aku yang membawakan,'' tawar Momo dan akan menggendongkan tas gitar itu di punggungnya namun tidak jadi juga saat tangan Naruto menahannya.

Naruto meletakan tas gitar itu di tanah, kemudian melepas jaket putihnya dan di pakaikan kebadan Momo.

'' Malam ini lumayan dingin,'' ucap Naruto yang telah selesei memakaikan jaketnya dan kemudian mengambil dan menyerahkan tas gitarnya pada Momo.

Naruto naik motor putih kesayangannya di ikuti Momo di belakangnya yang langsung memeluknya erat.

Menstarter motornya dan memanaskan sebentar sebelum dia melajukan motornya untuk pulang.

Di gerbang pintu pabrik tua, nampak Sona dan tiga anggotanya menatap kepergian Naruto dan Momo.

'' Kaichou, apa tidak apa-apa membiarkan Momo pergi dengannya,?'' tanya Tsubaki.

'' Tidak apa-apa, aku yakin Naruto-san orang baik. Lagi pula dia kakak Momo,'' jawab Sona datar seperti biasanya. ' Tapi wajahnya sedikit familiar,' lanjut Sona membatin.

Naruto mengendarai motornya tidak terlalu cepat karena tubuhnya terlalu lelah dan takutnya dia kecelakaan, yah kalau sendiri si tidak apa tapi adik kecilnya sedang membonceng di belakangnya, dia tidak mau terjadi sesuatu padanya.

Angin malam menerpa kencang wajah tampan Naruto dan aslinya cukup dingin bagi sebagian Orang, namun sepertinya dia tidak merasakannya.

Naruto membelokan motornya memasuki pelataran parkir basement tempat apartemennya berada.

'' Mau sampai kapan memelukku terus,?'' ucap Naruto setelah memarkirkan motornya di tempat biasa dia parkir. '' Kita sudah sampai, Mo-chan,'' lanjut Naruto masih dengan nada lembut.

Sontak Momo langsung melepaskan pelukan tangannya dan turun dari motor Naruto dengan muka memerah.

'' Kamu lucu sekali, Mo-chan,'' Naruto tersenyum sinis karena ingatannya kembali ke gadis yang telah membuatnya sakit.

Momo sedikit menegang melihat senyuman sinis yang sejak dulu di perlihatkannya saat menatapnya sedikit lama.

Naruto turun dari motornya lalu meraih tas gitar yang ada di punggung Momo, '' Sini biar Nii-san yang membawa,'' ucap Naruto dan langsung menggendongnya setelah di ambilnya.

'' Ayo,'' Naruto merangkul Momo yang dari tadi hanya diam, menuntunnya masuk kedalam lift dan memencet nomor 5 dimana apartemennya berada.

Setelah sampai di lantai yang di tuju, Naruto berjalan kearah apartemennya namun kali ini tidak merangkul adiknya, membuka kuncinya dan kemudian membuka pintu apartemennya.

'' Masuklah, anggap saja rumah sendiri, Mo-chan,'' suruh Naruto dan membuka pintu apartemennya lebar.

Momo masuk kedalam dan matanya melebar melihat apartemen Naruto yang besar dan terlihat bersih.

'' Disini ada tiga kamar, namun tinggal dua karena aku memakainya satu. Tinggal pilih mana yang membuatmu nyaman,'' ucap Naruto lalu ia berjalan kearah kamarnya.

' Greb,'

Baru memegang knop pintu kamarnya, sepasang tangan putih yang mungil memeluk tubuhnya dari belakang.

'' Hei, ada apa Mo-chan,?'' tanya Naruto lembut dan mencoba melepas tangan yang memeluknya.

Seperti Tidak rela, Momo pemilik tangan yang memeluk Naruto malah kian menggeratkan pelukannya walaupun tas gitar yang di gendong Naruto sedikit menghalanginya.

Dengan agak memaksa akhirnya Naruto bisa melepas pelukan Momo lalu kemudian dia berbalik menghadap Momo yang malah terisak.

Naruto mengangkat dagu Momo lalu menghapus air mata di pipi putih Momo dengan ibu jarinya.

'' Ada apa,? Kenapa menangis,?'' tanya lembut Naruto.

'' Hiks, ke-kenapa dulu hiks Nii-san pergi meninggalkan kami,?'' tanya Momo yang masih mendongakan wajahnya menatap kearah Naruto dan air matanya mulai mengalir lagi.

'' Kenapa pergi meninggalkanku,? Kenapa tidak pamit dulu kepadaku,? Kenapa main pergi saja tidak menemuiku dulu,? Kenapa,? Kenapa,?'' tangis Momo langsung pecah saat dia mengulangi pertanyaannya.

Naruto tertegun melihat raut kerinduan dan kehilangan di matanya, tidak menunggu lama Naruto langsung memeluk tubuh Momo dan membenamkan kepalanya di dada bidangnya, yah Momo hanya setinggi dadanya saja.

'' Maaf,'' hanya kata itu yang dapat Naruto keluarkan dari mulutnya.

' hikss, hikss, hikss,'

Tangis Momo makin kencang, melihat itu Naruto mengeratkan pelukannya dan kian membenamkan wajah Momo di dadanya untuk meluapkan semua emosinya.

'' Maaf karena Nii-san dulu meninggalkan kalian, meninggalkanmu. Maaf karena Nii-san tidak pamit saat Nii-san pergi, Maaf karena tidak menemuimu dulu saat Nii-san pergi,'' ucap Naruto setelah merasakan Momo sedikit tenang.

Momo mendongakan kepalanya menatap kemata Naruto, terlihat mata Momo membengkak karena baru saja menangis.

'' Kenapa Nii-san melakukan itu,? Apa Nii-san tidak menyayangiku,? atau Nii-san memang membenciku,?'' tanya Momo lagi dengan lirih.

Naruto diam sesaat mencari jawaban yang tepat. ' Apa aku harus memberi taunya,?' batin Naruto Galau.

'' Ya,'' akhirnya Naruto menjawab walaupun sangat singkat.

'' Ma-maksudnya,?'' Momo tidak mengerti, dia merasa taku, takut kalau alasan Naruto adalah membencinya.

'' Ya, Nii-san membencimu karena warna rambutmu mengingatkan Nii-san kepada perempuan yang telah menorehkan luka di hatiku yang mungkin akan sulit terobati,'' Momo menegang mendengar jawaban Naruto dan perlahan air matanya mulai keluar.

'' Ya, Nii-san menyayangimu, sangat menyayangimu dan selalu ingin melindungimu sampai kapanpun. Pernah Nii-san berharap saat kamu lahir dulu warna rambutmu seperti Kaa-san, jadi Nii-san bisa selalu melindungimu dari dekat tanpa melihat bayangnya yang selalu datang saat melihat warna rambutmu.

Namun ternyata warna rambutmu seperti Tou-san, sebenarnya Nii-san tidak terlalu masalah dengan itu hanya saja Nii-san tidak mau menyakitimu, melampiaskan rasa kecewa yang pernah Nii-san alami kepadamu,'' lanjut Naruto menjawab, matanya terlihat sendu dan terlihat semua perasaan yang pernah Naruto alami, mulai dari kehilangan, dendam, amarah, kekecewaan, rasa sakit, dihianati dan putus asa.

' Huuuuuuaaaaa, hikss, huuueeeeee, huuhuhu, hikss,''

Momo malah menangis lagi dan kini malah semakin kecang mendengar jawaban Naruto yang membuatnya bahagia dan juga sedih, dengan cepat dia langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Naruto lagi, dan menangis kencang disana.

'' Kenapa menangis lagi,?'' Naruto mengelus surai putih Momo di bagian kepala belakangnya.

'' A-aku kira Nii-san tidak menyukaiku, membenciku dan.. dan..''

'' Siapa bilang Nii-san membencimu,? Malah Nii-san berfikir kalau Mo-chan yang membenci Nii-san karena Mo-chan setiap bertatap muka dengan Nii-san selalu marah,'' ujar Naruto masih mengelus rambut Momo.

'' Kenapa Nii-san berfikir seperti itu,? Aku marah-marah karena ingin menarik perhatian Nii-san yang selalu datar dan dingin, aku hanya ingin bermain dan mengenal Nii-san karena aku mengagumi Nii-san, dan...'' ucap Momo menggantung dan seburat merah menjalar di pipi putihnya, lalu Ia menundukan kepalanya karena malu dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Naruto.

'' Dan,?''

'' Dan karena aku menyukai Nii-san,'' cicit Momo di dalam dekapan dada Naruto.

Naruto tertegun mendengar ucapan Momo yang terkesan polos dan tulus.

'' Mo-chan menyukai Nii-san,?'' tanya Naruto akhirnya. Momo hanya mengangguk kecil dan mengeratkan pelukannya.

'' Mungkin Mo-chan tidak menyukai Nii-san, tapi Mo-chan hanya kagum dan penasaran terhadap Nii-san,'' ucap Naruto dan langsung membuat Momo mendongak menatap Naruto yang tengah menatap kearahnya menuntut penjelasan dengan pandangannya.

'' Nii-san bukanlah sosok yang baik untuk di sukai ataupun di cintai, Nii-san menyimpan banyak rahasia yang mungkin tidak akan pernah kamu terima, Nii-san menyimpan dendam yang besar dan tidak ingin kamu terbawa arus dendam Nii-san, dan juga Nii-san terlalu tua untuk menjadi kekasihmu,'' jelas Naruto dengan masih menatap Momo tepat di matanya.

'' Aku tidak peduli, menurutku Nii-san adalah sosok yang baik, walau rahasia Nii-san sangat banyak aku akan mencoba untuk menerimanya, jika Nii-san menyimpan dendam yang besar aku tidak apa-apa, aku akan menemani Nii-san menyeleseikan dendam Nii-san dan juga, Nii-san tidaklah terlalu tua untukku, malah menurutku Nii-san cukup dewasa dan pengalaman untuk membimbingku. Dan itu sudah cukup untukku,'' ucap Momo akhirnya setelah terdiam beberapa saat.

Naruto melihat keseriusan dan ketulusan di mata Biru-Hijau milik Momo dan diam sesaat memikirkan semua ucapan Momo.

'' Mandilah ada air hangat di bathtube, itu akan menyegarkanmu karena sekarang penampilanmu sangat kacau,'' Suruh Naruto sembari mengacak pucuk kepala Momo dan tersenyum tulus.

Momo menangkap tangan Naruto yang mengacak pucuk kepalanya dan merengut cemberut.

'' Setelah misi terakhir Nii-san, Nii-san akan menjelaskan semua tentang Nii-san dan melihat apakah kamu masih menyukai Nii-san atau tidak,'' ucap Naruto akhirnya setelah di tuntut wajah cemberut Momo. '' Sekarang mandilah dulu, lalu tidur. Aku tidak ingin kamu terlambat ke sekolah,'' lanjut Naruto.

'' Misi terakhir,?'' tanya Momo tidak mengerti.

'' Yah, misi terakhir. Nanti pasti kamu akan mengerti,'' jawab Naruto.

'' Mmm, baiklah aku mandi tapi Nii-san janji setelah itu Nii-san ceritakaan semua rahasia Nii-san lalu menerima perasaanku,'' ucap Momo dengan nada kekanakan.

Naruto tersenyum, '' Nii-san janji,''

setelah itu Momo langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Naruto sedangkan Naruto hanya menghelanafas saja.

Naruto juga masuk kekamarnya dan membereskan peralatan yang baru saja di gunakannya dan juga membereskan semua bajunya ke dalam lemari namun tidak lupa ia mengambil kaos dan celana untuk di pakai Momo, setelah itu dia naik ketempat tidur dan kesadaran yang dari tadi di tahan langsung hilang.

Sma Kuoh, jam pelajaran terakhir telah berbunyi dan hampir seluruh muridnya terlah berhambur pulang, meski masih ada beberapa yang tinggal karena kegiatan Klub atau semacamnya.

Seperti yang di lakukan oleh anggota OSIS, seluruh anggotanya telah berkumpul di dalam ruang OSIS tidak terkecuali.

'' Momo dimana Naruto,? Kenapa dia tidak berangkat,?'' tanya sang ketua OSIS kepada gadis berambut putih yang tengah duduk di sofa bersama yang lainnya.

'' Nii-san ada di apaertemennya, katanya dia ada pertemuan dengan klien,'' jawab Momo.

'' Klien,? Memang kerja apa dia,? Dan tadi pagi kamu diantar dia kan,? Kenapa dia tidak menemuiku dan menjelaskan tentang semalam,?'' tanya beruntun sang Kaichou karena tidak puas akan jawaban Momo.

'' Itu masih di rahasiakannya, dan tadi pagi Nii-san mengantarku namun dia buru-buru pergi karena harus mempersiapkan semuanya katanya,'' jawab Momo dan wajahnya bersemu merah mengingat kejadian tadi pagi saat dia bangun tidur.

Flash Back.

Momo PoV.

Aku langsung masuk kekamar mandi setelah percakapan penuh emosi dengan Naruto-kun, Nii-sanku. Ah aku merasa senang dan juga sedih mendengarkan ucapan Nii-san.

Senang karena ternyata Nii-san menyayangiku, sangat menyayangiku dan sedih karena ternyata diriku atau lebih tepatnya warna rambutku ternyata mengingatkan Nii-san kepada perempuan yang telah membuat Nii-san sakit dan itu membuatku...marah,? Yah marah kenapa warna rambutku tidak seperti warna rambut Kaa-chan, seperti harapan Nii-san. Marah kepada diriku sendiri karena ternyata dirikulah yang membuat Nii-san di hantui masalalunya dan marah karena aku tidak mengetahui itu sejak dulu.

Huft, aku membuka jaket putih milik Nii-san yang di pakaikannya padaku saat setelah selesei melawan iblis liar tadi, sebenarnya aku tidak tau bagai mana iblis liar itu di kalahkan karena aku membenamkan wajahku di dada bidang milik Nii-san, rasanya sangat menenangkan saat aku bersandar di sana.

Aku memeluk erat jaket milik Nii-san, mencium aroma Nii-san yang masih menempel di jaket ini. Memang tidak ada bau parfum atau semacamnya di sana, tapi bau tubuh Nii-san langsuhlah yang menempel di jaket ini. Ugh, kenapa baru sekarang kamu dapat aku gapai Nii-san. Dari dulu aku selalu mencoba menarik perhatianmu dengan cara marah-marah tidak jelas kepadamu, yah walaupun seringnya Nii-san hanya diam dan kadang tersenyum... Sinis, seperti yang di tunjukannya tadi di parkiran. Rasanya sedih melihat Nii-san tersenyum sinis begitu saat menatap aku, tapi aku bertekad akan menghapus senyum sinis itu dan membuat Nii-san selalu tersenyum tulus juga akan membahagiakannya.

Aku menggantungkan jaket Nii-san ke gantungan yang ada di kamar mandi milik Nii-san, kemudian membuka baju sekolahku dan seterusnya mandi.

Selesei aku mandi aku mengeringkan tubuhku dengan handuk yang ada di kamar mandi lalu kemudian keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit sebatas dada sampai pahaku.

Aku melihat Nii-san telah menyiapkan baju untukku namun aku tidak memakai baju itu, aku langsung naik keatas tempat tidur Nii-san. Aku melihat raut kelelahan darinya, mungkin gara-gara membantai iblis liar tadi. Eh ngomong-ngomong iblis, aku adalah iblis reinkarnasi dari keluarga Sitri dan aku takut jika aku seorang iblis, Nii-san jadi membenciku dan menjauhiku.

Ah, aku buang pikiran tidak-tidak itu jauh-jauh, aku jelaskan dulu dan apa yang akan Nii-san tanggapi itu urusan nanti. Aku meraba wajah tampan Nii-san, aku telusuri garis tegas wajahnya dengan tanganku. Ah rasanya aku ingin menciumnya tapi aku tidak mau mencuri ciumannya, aku inginnya saat kita sama-sama sadar.

Setelah selesei mengagumi wajah Nii-san, aku melepas handuk yang melekat di tubuhku dan menjadikanku telanjang bulat, aku menarik selimut dan menyelimuti tubuhku dan tubuh Nii-san. Di dalam selimut, aku memeluk tubuh Nii-san dan membaringkan kepalaku di atas dada bidangnya yang penuh dengan otot-otot yang terbentuk oleh latihan atau kegiatannya.

Aku langsung terlelap di dada bidang Nii-san sambil terus memeluknya erat.

' Ught,'

Aku mendengar lenguhan orang yang sangat dekat dan tubuh yang sedang aku tindih bergerak-gerak.

'' Mo-chan,?'' suara parau penuh tanya keluar dari bibir orang yang aku sangat sayangi, Nii-san.

'' Selamat pagi, Nii-chan,'' salamku, ugh sejak kapan aku menganti -san menjadi -chan,? Ah sudahlah mungkin gara-gara hormon senang yang aku alami jadi aku memanggilnya begitu.

'' Eh, pagi. Kok Mo-chan tidar di atas Nii-san, dan kenapa tidak pakai baju,?'' balas Nii-chan dan bertanya dengan pipi yang sedikit bersemu merah.

'' Momo ingin tidur dengan memeluk Nii-chan, dan aku tidak pakai baju karena tadi malem aku malas makai baju, jadi setelah aku mandi aku langsung tidur di dada Nii-chan,'' jawabku dengan sama sepertinya, wajah memerah tentunya.

'' Huh dasar, mandi sana nanti terlambat ke sekolah,'' Nii-chan mengelus pucuk kepalaku dan menyuruhku untuk mandi.

'' Mmm, gak mau mandi kecuali Nii-chan yang mandiin,'' tolaku dengan nada kekanakan ah kenapa aku bersifat seperti ini kepada Nii-chan ya,?.

'' Hei kan sudah besar, masa mau di mandiin tidak malu apa sama Nii-san,?'' aku melihat Nii-chan tersenyum geli.

'' Biarin, pokoknya aku maunya di mandiin Nii-chan, kalau tidak ya aku tidak mau mandi dan lebih baik tidur lagi,'' rajukku dan langsung merebahkan kepalaku di dada Nii-chan kemudian memejamkan mata untuk tidur lagi.

'' Ya sudah ayo Nii-san mandiin,'' mendengar ucapan Nii-chan aku langsung duduk di atas tempat tidur.

'' Beneran,?'' tanyaku memastikan.

'' Iya, Imoutoku yang kayak anak kecil,'' jawab Nii-chan menggodaku. Sontak aku langsung tepuk tangan dan berayun naik turun di atas tempat tidur Nii-chan dengan masih terduduk.

'' Sudah, jangan melakukan seperti itu. Ntar ada gempa yang menghancurkan apartemen Nii-san gara-gara kamu melakukan itu,'' ucap Nii-chan menahan pundaku yang masih naik turun.

Sontak wajahku langsung memerah, aku mengerti maksud Nii-chan tentang gempa. Yang dimaksud Nii-chan adalah dadaku yang lumayan besar -walau tubuhku kecil- berayun mengikuti tubuhku naik turun.

'' Nii-chan membuatku malu saja,'' ucapku menunduk menyembunyikan rona merah di pipiku.

'' Makanya dari itu mandi sendiri biar tidak malu,'' ucap Nii-chan.

Ugh, kalau begini dia tidak akan memandikanku. Aku mengambil inisiatif, tanpa mempedulikan ucapan Nii-chan aku menggenggam tangan Nii-chan dan menariknya kekamar mandi untuk memandikanku dan yak Nii-chan pasrah saja mengikuti kemauanku.

Akhirnya Nii-chan mau memandikanku, walaupun saat menyabuni dan menggosok tubuhku dia menghindari bagian-bagian yang terlarang tapi dia tetap memandikanku.

Setelah selesei mandi dan aku memakai sragam sekolahku yang kemarin aku pakai, Nii-chan langsung mengantarku ke sekolah namun dia tidak ikut masuk kesekolah, ada urusan dengan klien katanya.

Setelah turun dari motor putih Nii-chan, aku berjalan memasuki halaman Kuoh Academy dan aku mendengar suara motor Nii-chan berjalan menjauh.

Momo PoV End.

End Flash Back.

'' Momo, kamu sakit,? Kenapa wajahmu memerah,?'' tanya si ketua Osis melihat wajah Momo yang memerah.

'' Ti-tidak kaichou, aku tidak apa-apa,'' jawab Momo tergagap.

'' Sudahlah, malam ini kita akan mengawasi jalannya Rating Game kelompok klub penelitian ilmu gaib, jadi periapkanlah diri kalian untuk nanti malam,'' ucap Sona sang ketua Osis tegas.

'' Hai, Kaichou.'' ucap serempak seluruh anggota OSIS yang merupakan para budaknya.

Naruto, kini sedang berada di kamar apartemennya dan dia sedang mempersiapkan alat-alat yang akan dia gunakan saat menjalankan misi terakhirnya.

Naruto telah menjejerkan semua alatnya di atas meja kerjanya di samping Nakas, yah walaupun semua alat itu 'hanya' ada kunai cabang tiga sebanyak liba biji saja, karena hanya kunai itu yang ada di kantung senjatanya dulu.

[ Naruto, pakai saja kekuatanku untuk menghadapi misi terakhirmu ]

tiba-tiba ada suara yang sangat familiar di telinga Naruto.

'' Ah Helios, sudah lama aku tidak mendengar suaramu,'' tanggap Naruto dan bibirnya tersenyum senang.

[ Tentu saja tidak pernah mendengar suaraku, karena aku tertidur dari saat perang besar dulu lebih tepatnya saat pertama kali kamu menggunakan kekuatanku ] ucap Suara yang di panggil Helios oleh Naruto.

'' berarti sudah sangat lama, dan sekarang kamu bangun dari tidurmu ada apa,?'' tanya Naruto.

[ Aku ingin kembali menemanimu, kawan.] jawab Helios.

'' Bukanya selama ini kamu menemaniku,? Helios,? Kamukan ada di dalam tubuhku,?'' Naruto sedikit bercanda.

[ Iya sih,]

'' Ada apa tiba-tiba menawarkan diri untuk menggunakan kekuatanmu,?'' tanya Naruto menanggapi tawaran Helios sebelumnya.

[ Karena aku ingin sedikit berguna untukmu Naruto, selama ini aku baru satu kali memberikan kekuatanku kepadamu ] jawab Helios.

'' Tidak perlu melakukan itu kamu juga sudah berguna untuku, berguna untuk menemaniku setiap saat dan bukanya kamu tidak memberikan kekuatanmu, hanya saja aku yang menolaknya bukan,?'' ucap Naruto.

[ Iya sih, tapi aku ingin melemaskan otot-ototku yang kaku karena terlalu lama tidur,] balas Helios.

'' Hahaha, memang jiwa bisa kaku juga ototnya ya,?'' tawa Naruto. '' Ok nanti kalau ada kejadian yang tidak di inginkan aku akan mengajakmu, teman,'' lanjut Naruto.

[ Huh, tentu bisa dan ok akan aku tunggu sampai waktu itu tiba, kawan ]

Helios memutus kontak percakapan mereka.

' Tok,tok,tok,'

terdengar pintu utama apartemen Naruto ada yang mengetuknya.

'' Sebentar,!'' seru Naruto dari dalam kamar.

Naruto berjalan kearah pintu utama apaertemennya dan membuka pintunya.

' Cklek,'

pintu terbuka, nampak di depan pintu laki-laki paruh baya berambut merah di bawah bahu, memiliki jenggot tipis berwarna merah bermata biru-hijau dan memakai setelan jas berwarna putih.

' Deg,'

Naruto tertegun, ternyata yang akan menjadi Kliennya adalah sosok yang amat di kenalnya, yang amat di hormatinya dan yang telah menolong dan membesarkannya.

Begitupun sosok laki-laki itu sedikit tertegun dan menatap penuh kearah Naruto, menjelaskan bahwa pemuda di depannya adalah benar pemuda yang pernah menjadi anaknya, bukan pernah memang sudah dianggap anaknya sampai kapanpun.

'' Ah maaf, mau mencari siapa,?'' tanya Naruto basa-basi setelah sadar dari keterkejutannya.

'' Naruto, kamu Narutokan,?'' tanya balik laki-laki itu menerka nama Naruto.

'' Ya ini aku, Naruto. Lord Gremory-sama,'' jawab Naruto menunduk.

' Greb,'

tak di sangka, laki-laki yang Naruto panggil Lord Gremory langsung memeluknya erat.

'' Akhirnya aku menemukanmu, sudah lama aku mencarimu. Maaf tentang kejadian itu sampai-sampai kamu pergi dari rumah,'' ucapan bahagia terdengar dari mulut Lord Gremory dan dia meminta maaf tentang kejadiannya dulu.

'' Ah sudahlah, jangan mengungkit masa lalu. Kita urusi urusan bisnis dulu,'' balas Naruto datar mendekati dingin.

'' Apa kamu masih belum memafkan mereka Naruto,?'' tanya Lord Gremory penuh sesal.

'' Belum,'' jawab dingin Naruto, ' dan mungkin tidak akan pernah ' batin Naruto. '' Mari masuk dan bicarakan bisnis yang akan aku lakukan,'' lanjut Naruto datar tidak dingin.

Lucius Gremory nama asli Lord Gremory mengikuti Naruto masuk ke dalam apartemennya.

' Maafkan mereka, Naruto. Telah membuatmu kecewa,' batin Lucius.

'' Silahkan duduk, dan mau minum apa,? Sirup kopi, susu, teh,?'' tawar Naruto kini lebih normal nada suaranya.

'' Ah tidak perlu repot-repot, air putih saja,'' balas Lucius yang telah duduk di sofa putih Naruto.

'' Tidak apa, tunggu sebentar,'' Naruto lalu berjalan kearah dapur dan mengambil minuman untuk tamunya.

Beberapa saat Naruto kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi tecko yang terbuat dari tanah liat dan dua buah cawan.

Naruto meletakan cawan itu di atas meja dan menuangkan cairan hijau yang ada di dalan tecko, teh hijau itulah yang sedang di suguhkan Naruto.

Naruto menyodorkan satu cawan ke depan Lucius dan satunya untuknya, setelah menyimpan nampan yang di guganakannya di bawah meja, Naruto duduk di sofa yang berseberangan dengan Lucius.

'' Menurut informasi yang di berikan kepadaku aku di suruh menggagalkan pertunangan anak seseorang, apa itu pertunangan Rias,? Mengingat anda sendiri yang datang,'' tanya Naruto langsung ke misi yang akan di jalankannya.

'' Santai saja Naruto, kita minum saja tehnya dulu,'' Lucius mengambil cawan tehnya kemudian menggoyangkan sebentar dan menyeruputnya. '' Hmm, teh milikmu enak, Naruto,'' komentar Lucius setelah merasakan teh Naruto.

'' Terimakasih pujiannya, itu katanya teh terbaik di toko yang aku beli,'' balas Naruto.

'' Ne, kamu sekarang sedikit berubah, Naruto. terlihat lebih muda dari sebelum kamu mengembara dan aku juga tidak merasakan aura iblis darimu,'' ucap Lucius heran.

Naruto tersenyum getir, '' Yah aku berubah setelah aku pergi mengembara dulu dan di perjalanan aku ketemu sosok yang tidak terduga dan dia mengubahku menjadi anak kecil lagi untuk bisa menjalankan misi dari-Nya dan juga jiwa iblisku di segel-Nya sampai batas waktu yang tidak di ketahui,'' balas Naruto dan di selingi kebohongan.

'' Sosok misterius,? Apa kamu tau siapa dia,? Dan kenapa sampai harus menjadikanmu seperti itu,?'' tanya Lucius ingin tau.

'' Yah aku mengenal-Nya tentunya setelah dia memperkenalkan diri-Nya, tapi aku tidak bisa memberi tau siapa dia, dan karena misi yang di perintahkan -Nya padaku mengharuskan aku seperti ini,'' jawab Naruto. '' Ah lebih baik kita membicarakan misi yang akan aku jalankan dulu, baru kita mengobrol yang lain,'' lanjut Naruto lagi-lagi mengganti topik ke misi yang akan di jalaninya.

'' Baiklah, kalau itu maumu,'' balas Lucius namun ekspresinya tetap santai. '' Yah seperti informasi yang kamu ketahui, kamu di suruh untuk menggagalkan pertunangan lebih tepatnya pertunangan Rias dengan Riser Phenex. Rias tidak mencintai Riser karena sifat Riser yang arogan dan suka main wanita,'' Lucius mulai menjelaskan.

'' Rias sebenarnya sudah menolak pertunangan itu, namun Riser tidak mau menerimanya dan tetap menginginkan pertunangan itu akhirnya akan di adakan Rating Game untuk menentukannya, dan kalau Rias kalah dia harus bertunangan namun jika Riser yang kalah maka pertunangan itu akan di batalkan,''

Naruto masih mendengarkan.

'' Dan aku tidak yakin kalau Rias bisa menang, bukan berarti aku tidak percaya kepadanya namun Bidak Rias tidak lengkap sedangkan Riser punya bidak yang lengkap.

Dan ini juga permintaan dari Lord Phenex, Lord Phenex ingin memberi pelajaran untuk anaknya Riser Phenex agar tidak terlalu sombong dan arogan,''

'' Jadi Lord Gremory-sama mengorbankan Rias hanya untuk memberi pelajaran si Riser itu,?'' komentar Naruto setelah mendengar cerita panjang dari Lucius.

'' Bukan begitu, ini juga pembelajaran untuk Rias agar lebih dewasa dan melatih kepemimpinannya berhubung dia calon pewaris tunggal Gremory.,'' balas Lucius. '' Dan jangan terlalu formal untukku Naruto, kamu masih aku anggap sebagai anakku, jadi panggil Tou-san saja,'' lanjutnya agar lebih akrab.

'' Tapi itu kurang sopan, Lord Gremory-sama,'' ucap Naruto kurang enak.

'' Ayolah, aku tidak ingin ada spasi antara kita,'' paksa Lucius.

'' Baiklah, Tou-sama,'' nyerah Naruto.

'' Hahaha, seperti itukan lebih baik,'' tawa Lucius

'' Ok aku akan mengambil misi ini, sekali-kali ingin bertemu Kaa-sama dan Rias-chan,'' Naruto menerima misi yang di berikan.

'' Bagus, aku akan menjemputmu jika waktunya tiba,'' ucap Lucius senang.

'' Tidak usah,'' Naruto mengambil Kunai cabang tiga dari balik bajunya. '' Tou-sama Jatuhkan saja kunai ini saat waktunya tiba,'' Naruto menyerahkan kunai itu pada Lucius.

'' Kunai,?'' tanya Lucius sambil mengangkat dan memperhatikan kunai pemberian Naruto.

'' Ya, bagaimanapun aku seorang Ninja, dan juga hanya itu yang bisa aku gunakan,'' jawab Naruto.

'' Baiklah aku akan simpan ini,'' Lucius kemudian menyimpan kunai pemberian Naruto kebalik jasnya.

'' Naruto, apa kabarmu dan ceritakan kisahmu selama mengembara,'' ucap Lucius memulai pembicaraan ringan.

Mereka akhirnya memulai pembicaraan panjang dan lumayan lama.

Di aula utama keluarga Gremory nampak Ramai, tempat itu telah di sulap menjadi tempat pesta yang megah, ada altar kecil di bagian tengahnya.

Di atas altar itu berdiri dua orang berbeda gender, yang pertama laki-laki berambut pirang berwajah tampan namun brengsek, memakai setelan tuxedo berwarna putih, yang kedua adalah seorang gadis berambut merah sepunggung, berwajah ayu, mata biru-hijaunya nampak sayu, dia memakai gaun pengantin berwarna merah seperti warna rambutnya.

Di lihat sekilas, penampilan mereka kurang serasi karena pakaian mereka tidak sama.

Mereka berdua adalah Riser Phenex dan Rias Gremory, Rias kalah dalam Rating Game yang mereka lakukan jadi dia harus menerima bertunangan denga Riser.

Di ruang aula itu tidak hanya mereka berdua, tetapi ada semua keluarga besar dari kedua orang yang bersangkutan dan para undangan dari kalangan atas hingga bawah.

'' Rias, penolakanmu menjadi sia-sia dan kamu akan tetap menjadi miliku dan akan aku robek keperawananmu saat malam pertama dengan keras,'' ucap Riser penuh kemenangan.

Rias kaget, namun dia hanya pasrah karena tidak bisa melakukan apa-apa.

'' Ne, mulai saat ini kita bertunangan,'' ucap Riser lalu meraih tangan Rias dan memasukan sebuah cincin berlian kejari manisnya.

' Brak,'

Riser tidak jadi memasukan cincin itu kejari Rias saat tiba-tiba pintu utama aula itu di dobrag dengan paksa, dan semua tamu undangan langsung mengalihkan pandangannya keasal suara.

Mata Rias melebar saat melihat siapa orang yang mendobrag pintu aula, '' Issei,?'' gumam Rias tidak percaya.

'' Buchou,! '' triak pemuda berambut coklat yang mendobrag pintu. '' Untuk semua iblis kelas tinggi di sini, dan saudara Buchou, Maou-sama, aku Hyoudou Issei dari Kuoh Academy,aku datang untuk mengambil Buchou Rias Gremory-sama,'' lanjut Issei berseru lantang.

Aula menjadi riuh, karena seruan dari pemuda bernama Issei. Issei berjalan kearah altar dan tidak mempedulikan tatapan yang mengikutinya dari setiap tamu undangan.

'' Ara-ara, akhirnya kamu datang juga,'' ucap sang Queen dari Rias.

'' Kau terlambat,'' ucap datar gadis loli berambut putih.

Tiba-tiba ada beberapa orang yang akan menghentikan Issei.

'' Issei-kun, serahkan semua ini kepada kami,'' ucap pemuda berambut pirang berwajah cantik yang telah berdiri di depan orang yang menghalangi Issei.

'' Kalian, terimakasih,'' ucap Issei tulus, lalu ia melanjutkan jalannya dan menaiki altar tempat dimana Rias dan Riser berada.

'' Huh ternyata cuma iblis rendahan yang datang mengacaukan pestaku,'' ucap sinis Riser.

'' Riser Phenex, aku akan melawanmu dan membawa Buchou pulang bersamaku,!'' tantang Issei penuh keyakinan.

'' Issei,'' gumam lirih Rias.

'' Ehem, maaf mengganggu. Riser-kun sebenarnya sebelum kamu membawa Rias-chan ada satu ujian untukmu, yaitu kamu harus bisa mengalahkan satu petarung yang telah aku pilih tapi sepertinya kamu sedang sibuk,'' pria paruh baya berambut merah panjang berjenggot merah tipis menyela situasi yang ada di atas altar.

'' Maksud Lord Gremory-sama aku belum boleh bertunangan dengan Rias begitu,?'' tanya Riser tidak suka.

'' Boleh tapi setelah melawan orang pilihanku,'' jawab Lord Gremory sambil tersenyum tenang.

'' Baiklah, mana orang itu aku akan melawannya,'' ucap Riser arogan.

'' Tapi mungkin sebelumnya kamu melawan pemuda yang sedang memperjuangkan cintanya itu dulu,'' ucap Lucius menunjuk ke Issei. '' Tenang saja, kamu di perbolehkan menggunakan airmata Phoenix setelah melawan si kaisar naga merah,'' lanjutnya.

'' Cih, cuma iblis rendahan seperti itu tidak mungkin bisa melukaiku,'' sombong Riser.

'' Ne Issei-kun, sudah siap,?'' tanya Lucius Gremory.

'' Apapun untuk Buchou tentu saja siap,'' jawab mantap Issei.

'' Grayfia teleport mereka ke arena,'' perintah Lucius.

'' Wanita berpakaian maid berambut putih lalu naik keatas altar.

'' Baik Lord Gremory-sama,''

Grayfia lalu meneleport Issei dan Riser ke sebuah arena pertarungan.

*skip, sama kayak di canon tapi dengan Issei yang kalah.

'' Issei,!'' Rias tampak khawatir dan memangku kepala Issei di pahanya.

'' Bu-chou, Ma-afkan aku tidak bisa menang melawannya,'' lirih Issei.

'' Bodoh, kenapa kamu sampai melakukan itu,'' tangis Rias pecah melihat bidak kesayangannya terluka cukup parah.

'' Karena aku menyukaimu,'' balas Issei lemah.

'' Bodoh, '' hanya kata itu yang keluar dari mulut Rias, dia tidak bisa seenaknya membalas perasaan dari pawnnya karena dia sendiri masih merindukan sesosok yang sering menemaninya bermain dulu.

Yah, pertarungan telah selesei dengan kemenangan telak oleh Riser, walaupun Issei juga melawan dengan keras dan membuat Riser terluka cukup parah juga kewalahan.

'' Lord Gremory-sama, aku sudah mengalahkan iblis rendahan itu sekarang mana orang pilihan anda yang akan aku panggang,'' Riser tampak arogan walau tubuhnya penuh luka.

'' Pakai airmata Phoenix dulu untuk mengobati semua lukamu, baru aku panggil orang yang telah aku pilih itu,'' ucap Lucius tenang.

'' Tidak perlu, aku masih bisa mengalahkannya dengan cepat,'' tolak Riser dengan kesombongannya.

'' Pakai atau tidak sama sekali,''

'' Baiklah,'' Riser akhirnya meminum airmata Phoenix dan tubuhnya langsung kembali bugar.

'' Baiklah, saatnya aku panggil 'dia','' Lord Gremory lalu mengambil sebuah kunai cabang tiga dari balik jas putihnya.

Riser nampak bingung dengan apa yang di lakukan Lucius, begitu juga dengan semua undangan di pesta itu.

Lucius Gremory atau ayah Rias menjatuhkan Kunai itu kelantai.

disaat yang sama disebuah menara tertinggi di jepang, berdiri sesosok pemuda bersurai pirang, memiliki bola mata berbeda warna, tanda lahir di pipi tampannya seperti kumis kucing. Dia memakai jaket berhody besar berwarna merah, memakai celana seperti celana seorang shinobi, di pinggangnya ada seperti tas pinggang, dia memakai sepatu berwarna hitam.

Rambut pirangnya berkibar karena angin yang lumayan kencang, matanya lurus menatap bulan. Naruto, nama pemuda itu. Dia sedang menunggu panggilan dari klien yang sangat di hormatinya.

'' It's show time,'' desisnya kemudian memakai hody jaketnya hingga menutupi seluruh kepala dan wajahnya, kemudian dia melompat dari atas menara itu dengan tanpa takut sedikitpun, sesaat sebelum dia menyentuh tanah dia menghilang dalam kilatan cahaya berwarna kuning.

kembali ke aula pertunangan.

Sedetik sebelum Kunai cabang tiga yang di jatuhkan menancap di lantai altar, muncul kilatan cahaya berwarna kuning dan bersamaan dengan itu muncul pemuda berjaket merah yang langsung menangkap kunai itu dan berjongkok hormat.

'' Hamba siap menjalankan perintah anda,'' ucap pemuda itu a.k.a Naruto dengan penuh hormat.

'' Apa,?! Tidak salah hanya manusia rendahan yang akan melawanku,? Hahaha aku tidak perlu memakai air mata phoenix juga aku pasti menang melawannya,'' Riser meremehkan dan tertawa Arogan.

'' Jadi kamu siap melawan orang pilihanku, Riser-kun,?'' tanya Lucius tidak menanggapi ucapan Riser.

'' Akan aku kalahkan dia kurang dari lima detik,'' jawab Riser sombong.

'' Grayfia, kirim mereka ke arena yang dekat dengan danau,'' perintah Lucius.

'' Hai,'' Grayfia membalas dengan hormat.

'' Mencoba mencari arena yang menguntungkannya,? Silahkan itu tidak ada gunanya,'' ucap Riser sebelum menghilang bersama lingkaran sihir.

Naruto dan Riser kini telah berdiri berhadapan dengan jarak sepuluh meter di sebuah arena yang ada danau berukuran sedang.

'' Kau manusia rendahan, siapa namamu,? Aku tidak ingin membuat niisan tanpa nama,'' Tanya Riser menghina.

'' Untuk iblis yang akan aku beri sedikit tata krama, akan aku beritau siapa namaku,'' balas Naruto tenang. Lalu membuat heandseal singkat dan setelah itu tanpa mengucapkan nama jurusnya, dari tubuh Naruto menguar sentakan energi yang lumayan kecil dan menyebar keseluruh arena.

'' Namaku Uzumaki Naruto,'' lanjut Naruto setelah yakin kekai kedap suara yang dia buat telah menyelubung sempurna hingga yang menonton pertandingan mereka tidak akan mendengar percakapan mereka.

'' Uzumaki,? Seperti pernah dengar,?'' gumam Riser.'' ah sudahlah, akan aku buat nisan yang besar untukmu Uzumaki,'' Riser masih arogan tidak tau musuh apa yang di hadapinya.

Naruto masih diam dengan tenang tapi tangannya membentuk serangkaian heandseal.

'' Kearogananmu akan membunuhmu, Riser. Sebenarnya apa yang kamu banggakan hingga menjadi arogan sepperti itu?'' ucap dan tanya Naruto dengan datar.

'' Berisik kau, dan dari mana kau tau namaku,'' triak kesal Riser mendengar nasihat Naruto.

'' Dan apa yang aku banggakan,? Tentu saja karena aku iblis kelas atas dan juga karena aku abadi,'' lanjut Riser.

'' Didunia ini tidak ada yang abadi,''

'' Katon : Hosengka no jutsu,'' Naruto mengucapkan nama jutsunya.

Naruto menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya dengan mulutnya, namun bukanlah angin yang keluar melainkan puluhan buruh api yang langsung melesat kearah Riser.

Riser nampak kaget karena lawannya dapat mengeluarkan api.

Riser langsung terbang membentangkan sayap apinya dan menghindari burung api Naruto. Namun burung api itu mengikuti Riser terbang dan salah satunya mengenai lengan Riser, namun sepertinya tidak berefek apapun.

'' Hahaha, kau menyerangku dengan api,?! Bodoh, tubuhku terbuat dari api jadi serangan seperti itu tidak mungkin melukaiku,'' tawa Riser arogan.

'' Menurutku tidak begitu,'' balas Naruto dan menyuruh sisa burung apinya menyerang Riser dari segala arah.

' Swus, swus,swus,'

Burung api itu mengenai tubuh Riser dari berbagai arah.

'' Aarrrgghhh, sakiit,'' Riser jatuh dari ketinggian dan telak mengenai tanah.

Tubuh Riser menguar asap keunguan.

'' Sakiiit,'' triak Nista Riser.

'' Sudah aku bilang kesombonganmu akan membunuhmu,'' ujar datar Naruto.

'' Apa yang kamu masukan dalam seranganmu,?'' tanya Raiser sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.

'' Tidak ada, hanya saja di setiap seranganku mengandung elemen suci-Nya jadi semua serangan yang aku keluarkan akan melukai tubuhmu yang seorang iblis,'' jawab Naruto.

'' Keparat, pakai cara curang huh, dasar manusia rendahan,'' ejek Riser yang telah bisa berdiri tegap.

'' Jaga ucapanmu, Riser. kelakuanmu tidak mencerminkan bahwa kamu adalah iblis kelas atas atau bangsawan,'' tegur Naruto masih datar.

'' Cih, diam kau. Aku bunuh kau,''

Riser kemudian terbang lumayan tinggi, dan membuka telapak tangannya. Dia menembakan puluhan bola api dari telapak tangannya dengan jumlah yang amat banyak.

'' Matikau, hahaha, mati-mati,'' tawa Riser melihat Naruto tidak menghindari serangannya.

' Blum, blum, blum,'

ledakan beruntun terjadi saat bola api Riser mengenai di tempat Naruto berdiri.

Di aula, nampak para undangan melihat kesebuah layar hologram yang menampilkan pertarungan Riser dengan Naruto dan mereka sudah shok sejak awal pertarungan, dari serangan Naruto yang dapat melukai Riser, serangan Riser yang brutal tanpa di hindari Naruto dan juga yang paling membuat mereka bingung adalah pertarungan itu tidak terdengar suara sedikitpun padahal jelas terlihat ledakan dan pembicaraan mereka.

Nampak beberapa dari mereka ada yang lebih shok karena mereka mengetahui pola serangan yang di lakukan Naruto, terutama kelompok dari Hairees keluarga shitri yang pernah melihat langsung sosok yang bukan berasal dari keluarga Phenex bisa mengeluarkan api, tapi ada juga yang lainya yaitu seorang laki-laki berambut merah dan wanita berambut putih yang pernah hidup bersama, yah walaupun mereka masih ragu.

Kembali kearena.

'' Hahaha, ternyata kau hanya besar mulut, serangan seperti itu saja sudah membunuhmu,'' tawa Riser dengan angkuhnya.

'' Huh, hanya serangan kecil seperti itu tidak akan membunuhku,'' ucap Naruto dari balik asap yang mulai memudar, dan setelah asap menghilang tampaklah Naruto yang berdiri di tengah kawah kecil dengan tidak ada luka sedikitpun.

Mata Riser melebar karena musuhnya tidak mati, jangankan mati luka kecil saja tidak.

'' Ba-bagaimana mungkin,!'' Riser tidak percaya lalu melakukan serangan seperti sebelumnya lagi dan kali ini dalam intensitas yang lumayan gila, serangan Riser di akhiri dengan sebuah bola api yang sangat besar dan di tembakan langsung ke Naruto.

'' Kali Ini pasti kau mati, manusia rendahan,! Rasakan ini,!'' seru Riser saat serangan terakhirnya di tembakan.

'' Tidak pernah belajar dari kesalahan, sudah aku bilang serangan seperti itu tidak akan melukaiku,'' ujar Naruto terdengar sangat tenang dari balik asap.

Asap masih mengepul pekat, namun langsung menghilang saat naruto mengentakan kekuatannya sedikit.

Sebenarnya chakra Naruto sudah banyak terkuras gara-gara menggunakan jutsu pemilik asli mata kiri Naruto yang tidak lain adalan murid dari ayahnya yang tewas saat dirinya melawan pembantai warga desanya di gelombang pertama.

'' Sekarang giliranku,'' Naruto mengambil dua kunai cabang tiga dari kantung senjata di pinggangnya, kemudian melempar satu kunai itu dengan tangan kirinya kearah Riser sembari melakukan heandseal.

'' Kunai kagebunshin no jutsu,'' ucap Naruto dan kunai yang di lemparnya mengganda menjadi sepuluh.

'' Serangan seperti itu tidak akan bisa mengenaiku,!'' sombong Riser.

'' Oh iya,?'' tantang Naruto.

Kemudian Naruto mengalirkan chakra angin kekunai di tangan kanannya dan menjadikan kunai itu seperti memanjang dengan aura biru.

Riser sedang menghindari kunai Naruto yang melesat kepadanya, namun baru beberapa kunai melewati tubuhnya, Naruto sudah menghilang dari pandangannya dengan sebercak cahaya kuning.

Di tempat Raiser yang sedang menghindari kunai Naruto, Naruto muncul dengan kilat kuning di Kunai yang tepat di depan Riser.

'' Mari kita mulai pelajaran tentang sikap yang baik,'' ucap Naruto sebelum menghilang lagi dalam kilatan kuning.

' Crash, crash, crash, crash, crash,'

Di sekitar Riser muncul kilatan kuning dengan sangat cepat dan di setiap munculnya kilatan kuning itu, tubuh Riser pasti seperti tertebas sesuatu.

'' Aaaaaaarrrrrrrrrrrrggggggghhh,''

Triak pilu Riser dan kali ini penonton yang di aula mendengarnya karena Naruto melepas kekai kedap suaranya.

'' Crash, crash, crash,''

serangan Naruto masih berlanjut, dan terlihat bagian-bagian tubuh Riser mulai terpotong-potong mulai dari ujung jari tangan, telapak tangan, lengan bawah, lengan atas, kedua kakinya sampai terpotong menjadi puluhan bagian.

'' Aaaaarrrrggghhhhh, sakiiiittt, aaaarrrrghhh, hentikannn,'' Riser masih terus berteriak menahan sakit karena serangan Naruto tidak hanya dengan chakranya saja, melainkan kekuatan suci yang mengalir di setiap tetes darah dan chakranya.

Naruto muncul di atas Riser dan langsung menendang dada Riser dengan tumit kakinya menjadikan tubuh Riser yang sudah tidak utuh melesat cepat ketanah arena.

' Bumm,'

'' Aaaaarrrrrrrgghhhh, '' teriakan Riser masih terus bergema dan keluar setiap saat dari mulutnya dan terlihat air matanya sampai keluar karena menahan rasa sakit yang teramat sangat.

' tap,'

Naruto mendarat di samping Riser dan memandang Riser datar.

'' Kesombongan dan kearogananmu telah membuat kedua orang tuamu merasa malu, mempunyai regenerasi yang tinggi bukan berarti menjadikanmu abadi, dan mempunyai kekuatan yang besar tidak harus di sombongkan, jika memang kamu seorang pria, harusnya kamu itu mencontoh tanaman padi, semakin berisi dia akan semakin merunduk bukanya malah semakin menjulang keatas. Dan jika kamu mempunyai kekuatan hendaklah gunakan kekuatan itu untuk melindungi orang yang kamu sayangi, dan jangan sampai membuat orang yang di sayangi itu terluka apalagi 'Kecewa' karena dengan kekuatan yang besar kamu malah sombong,'' Nasihat Naruto panjang lebar dengan nada datar, juga nasihat itu untuk dirinya sendiri.

'' Aarrrgghhh, To-long,'' pandangan Riser mengiba kearah Naruto karena rasa sakit akibat luka yang di deritanya tidak beregenerasi.

Di aula tempat para tamu undangan, ada yang langsung kena menusuk ke hatinya mendengar ucapan Naruto dan wajah mereka langsung tertunduk.

Sementara, di atas altar Lucius Gremory masih berdiri di sana dan masih melihat kearah layar hologram yang menampilkan pertarungan Naruto dan Riser. Hingga kehadiran pria paruh baya berambut pirang membuat perhatiannya teralihkan.

'' Lord Gremory-dono, apa Riser tidak apa-apa,? Aku khawatir dengannya melihat lukanya tidak beregenerasi,'' Lord Phenex, itulah yang bertanya pada Lucius Gremory.

'' Tenang saja, Lord Phenex-dono. Dia pasti tidak akan terlalu berlebihan, lagi pula dia cocok untuk memberi sedikit pelajaran pada Riser, juga dia itu orang baik, pasti dia tidak akan membiarkan Riser seperti itu,'' balas Lucius mencoba menenangkan ayah dari Riser.

Kembali ke arena.

Naruto berjongkok di sampi Riser.

'' Riser, hilangkanlah sifat sombong dan aroganmu, dan setelah semua itu kamu hilangkan, datanglah kepadaku kita bertarung sekali lagi sebagai seorang laki-laki sejati,'' ucap Naruto yang membuat Riser dan penonton pertarungan mereka tertegun.

Naruto kemudian menyimpan kunai di tangannya dan mengambil sesuatu dari dalam kantung senjatanya, itu seperti sebuah botol kaca kecil, Naruto membuka tutup botol itu kemudian mengangkat kepala Riser dan meminumkannya ke Riser.

Perlahan namun pasti tubuh Riser bulai beregenerasi walau cukup lambat.

Naruto bangkit dan berbalik berjalan menjauh sebelum di teleport kembali ke aula pertunangan.

Naruto berdiri di atas altar dengan masih memakai hody jaketnya menutupi kepalanya, Riser juga di teleport dan tubuhnya masih beregenerasi walau belum semuanya.

'' Kenapa kamu melakukan itu,? Kenapa kamu menolongku,? Kenapa kamu mau merubah sifatku,? Uzumaki-san,'' tanya Riser beruntun.

' Deg,'

'' U-Uzumaki,?'' gumam seorang wanita berambut merah yang mendengar pertanyaan Riser.

'' Karena apaya,? Aku juga tidak tau, aku hanya tidak suka melihat seorang pria bersifat sombong dan arogan. Lagian pria akan menjadi kepala keluarga, jika dia sombong pasti keluarganya akan hancur karena kesombongan pria itu,'' jawab Naruto santai walaupun tidak tau artinya apa. '' Ne, Riser-san, aku tunggu kamu datang menemuiku dan kita bertukar tinju,'' lanjut Naruto dan berbalik berjalan kearah Lord Gremory.

'' Aku pasti datang, Uzumaki-san,'' balas Riser sebelum dia di bawa oleh tim medis.

'' Lord Gremory-sama, misi telah aku jalankan, bolehkan aku pergi,?'' tanya Naruto setelah di depan Lucius.

'' Tunggu,'' sela wanita berambut merah bermata coklat yang kini juga naik ke atas alatar.

'' Tadi aku mendengar, Riser-sama memanggilmu Uzumaki, apa benar kamu seorang Uzumaki,?'' tanya wanita yang menyela percakapan Naruto.

Naruto diam memperhatikan wanita yang kini berdiri di samping Lucius, karena dia tidak pernah melihatnya selama ini.

Sejenak dia memikirkan jawaban yang tepat,

'' Ya aku seorang Uzumaki,'' jawab Naruto sekenanya.

' Greb,'

tak pernah Naruto kira tiba-tiba wanita itu memeluk Naruto erat hingga membuat Hody Naruto terlepas, wanita itu membenamkan wajahnya di leher Naruto.

'' Hiks, tidak aku sangka ada Uzumaki lain selain aku, aku kira aku yang terakhir,'' ucap wanita itu sambil terisak.

Sementara, beberapa wanita dan seorang pria nampak tertegun dengan mata melebar melihat sosok di depannya.

'' Errr, maaf nona bukanya tidak mau di peluk tapi ini di tengah pesta dan kita belum saling kenal, akan menjadi pusat perhatian nantinya'' ucap canggung Naruto.

'' Hahaha, lucu sekali ekspresimu, Naruto,'' tawa Lucius Gremory melihat ekspresi Naruto.

Dua sosok berambut merah dan satu sosok berambut putih menegang saat Lucius memanggil langsung nama Naruto.

Wanita yang memeluk Naruto merenggangkan pelukannya dan dia sedikit kaget karena warna rambutnya tidak seperti dia.

'' Aku tau apa yang membuatmu heran, kenapa rambutku pirang bukan,?'' tanya Naruto dan di balas angguka oleh wanita itu.

'' Warna rambutku memang seperti Tou-sanku yang seorang manusia, tidak seperti Kaa-sanku yang keturunan Uzumaki murni,'' ucap Naruto menjawab kebingungan dari wanita yang memeluknya.

Rias, bukan satu-satunya wanita yang merindukan Naruto ada sosok wanita lagi yang sangat merindukannya dan berdiri tidak jauh dari Naruto.

Rias yang sedang berkumpul dengan anggotanya tiba-tiba berjalan mendekat kearah altar dan di perhatikan dengan bingung oleh anggota kelompoknya.

Terus berjalan kearah altar, Rias langsung memeluk Naruto begitu sampai di dekatnya.

'' Nii-sama, akhirnya Nii-sama kembali. Aku menunggu Nii-sama dari dulu,'' ucap Rias yang tengah memeluk dari belakang.

'' Eh,'' Naruto nampak kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

'' Rias-chan,? Ada apa,?'' tanya Naruto yang masih membelakangi Rias.

'' Aku rindu Nii-sama, kenapa Nii-sama lama kembalinya,? Apa Nii-sama tidak merindukanku,?'' jawab dan tanya Rias dengan manja, hal yang selalu di tunjukan jika dengan Naruto.

'' Gimana ya,? Rindu apa tidak ya,? Aku pikir-pikir dulu ya, Rias-chan,'' Naruto malah bercanda.

'' Nii-chaaan,'' rengek Rias akhirnya memanggil Naruto dengan panggilan sayangnya dulu.

'' Hahaha, tentu aku merindukanmu Rias-chan, rindu tingkah manjamu,'' tawa renyah Naruto.

'' Naruto, sudah lama ya tidak bertemu,'' sapa pemuda berambut merah yang wajahnya mirip dengan Rias.

'' Sirzech, cih,'' decih dingin Naruto yang membuat Rias langsung melepaskan pelukannya dan melihat kearah tatapan Naruto.

'' Apa kamu masih belum memaafkan kami Naruto,?'' tanya Sirzech terdengar penuh sesal.

Tamu undangan masih pada setia melihat drama yang ada di atas altar.

'' Maaf aku tidak ingin membahas hal yang dapat membuatmu malu sendiri,'' balas dinging Naruto.

'' Naruto, sebaiknya seleseikan masalah itu sekarang dari pada terbawa terlarut-larut tidak ada penyeleseian,'' saran Lucius Gremory yang tidak suka masalah yang pernah di perbuat anaknya dulu.

'' Maaf Tou-sama, yang membuat masalah itu bukanlah aku jadi bukanlah aku yang harus menyeleseikannya,'' jawab Naruto datar dan sedikit dingin. '' Maaf, sepertinya urusanku disini sudah selesei, aku pergi dulu,'' lanjut Naruto lalu berbalik dan hendak pergi.

'' Tunggu,'' Sirzek memegang pundak Naruto mencegahnya untuk pergi.

' Slash,'

Naruto langsung mengayunkan Kunainya yang entah kapan mengambilnya memutar ke arah Sirzech, tentunya Sirzech dapat menghindarinya.

'' Hei, apa yang kamu lakukan pada suamiku,?!'' wanita yang memeluk Naruto nampak kaget dan khawatir.

'' Suami,? Cih ternyata selain brengsek kamu juga tidak bertanggung jawab ya, Sirzech,?'' ujar dingin Naruto.

'' Memang apa kesalahan Sirzech-kun sampai kamu mau melukainya begitu,?!'' tanya wanita yang mengaku istri Sirzech.

'' Apa kesalahannya,?! Kesalahanya adalah dia telah membuatku kecewa,'' jawab Naruto dingin mencoba menahan apa yang tidak ingin di ucapkannya.

'' Cuma kecewakan,? Itukan mudah di maafkan,'' ucap wanita bermata coklat itu.

'' Cuma,? Cuma katamu,? Yah itu memang cuma, cuma 'menindih' tunangan seseorang yang baru kemarin sore di lamar, dan cuma karena orang yang melamar itu hanyalah budaknya, hanya seorang pion yang tidak berharga, hingga mereka melakukannya dengan tenang tanpa takut pion itu marah karena yang melakukannya itu rajanya,'' Naruto meluapkan semua emosinya. '' Dan kamu tau,? Mereka melakukan itu pagi harinya setelah orang itu melamar sang wanita di malam harinya,'' Naruto terlihat sangat marah, matanya menjalang, semua perasaan yang mungkin dirasakan manusia ada di sana.

'' Cukup,! Ok aku mengaku salah aku minta maaf, tapi tidak harus membawa dia dan membeberkannya di sini,'' ucap tegas Sirzek mencoba melerai Naruto.

'' Cih, Istrimu sendiri yang memintanya, istri yang telah kamu bohongi dari perbuatan bejad dan nista yang kamu lakukan,'' balas Dingin Naruto.

'' Cukup Naruto, '' Seru keras Sirzeck.

'' Apa,! Mau apa,!'' tantang Naruto.

'' Bertarunglah denganku dan seleseikan masalah ini,!'' balas Sirzech menyambut tantangan Naruto.

'' Cih, buat apa,? aku dapat dengan mudah mengalahkanmu,'' dingin Naruto.

'' Jadi, tidak masalahkan apa kamu takut,?'' Sirzech mencoba memancing amarah Naruto lebih keluar.

Tidak menanggapi, Naruto berbalik dan berjlan pergi.

'' Jadi siapa yang pengecut disini,? Lari dari masalah dan tidak mau menyeleseikannya,'' sinis Sirzech yang di tujukan pada Naruto.

'' Yah aku memang pengecut, pengecut yang lari dari masalah yang di buat oleh seseorang yang pernah di anggap saudaranya, pengecut karena tidak mau menerima kenyataan pahit yang menimpa sepanjang hidupnya,'' balas Naruto menengok sedikit kearah Sirzech.

'' Tapi setidaknya aku bukanlah pecundang yang menusuk temannya dari belakang dan membunuhnya dengan kekecewaan,'' desis dingin Naruto.

Sirzech tertunduk sedangkan Naruto melanjutkan jalannya.

'' Tunggu,!'' Sirzech melesat kearah Naruto dengan tinju yang telah di lapisi Power Of Destruction.

[ Neutral ]

Naruto langsung mengayunkan tangan kanannya yang telah terlapisi goutlet berwarna hitam yang terhubung dengan pedang sepanjang tujuhpuluh lima centi (#an. Gauntletnya kayak milik Issei yang sudah sempurnya dan dengan pedang ascalon yang siap hunus.) langsung kearah Sirzech dan tepat mengenai lehernya kalau dia tidak bisa menghentikan lajunya.

Nampak tamu undangan membelalakan matanya melihat ada yang berani dengan Raja Iblis, Sona yang juga masih di sana nampak shok ternyata pemuda yang baru di kenalnya itu adalah sosok yang pernah di lihatnya di masa lalu saat dia bermain ke tempat Rias, sosok yang selalu menorehkan senyum hangat dan nyaman namun kini semua itu telah hilang dan sekarang sosok itu tengah berhadapan dengan sang raja iblis dengan pedang terhunus.

'' Sirzech, tidak semua masalah dapat di seleseikan dengan mudah seperti membalikan telapak tangan, tidak semua masalah dapat di seleseikan dengan pertarungan. Aku kecewa padamu Sirzech, sebagai seorang Maou kamu tidak punya tanggung jawab bahkan masalahmu sendiri di limpahkan kepada orang lain,'' ucap Dingin Naruto sambil menatap tajam Sirzech yang masih tertodong pedang Gauntlet Naruto.

'' Jangan tambahkan penderitaanku lebih dari ini Sirzech, sudah cukup perbuatanmu menyiksaku selama sisa hidupku,'' Naruto menarik tangannya dari Sirzech.

[ Riset ]

suara mekanik dari dalam Gauntlet Naruto.

Sirzek tertegun, menundukan kepalanya penuh sesal dan marah. Sementara seorang wanita berambut putih telah menangis dalam diam karena dia telah membuat orang yang sangat di cintainya menderita.

Naruto terus berjalan menuruni altar dan setelah sampai dibawah tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

' Greb,'

'' Naruto-kun, maafkan aku, aku menyesal telah menghianatimu, maafkan aku telah membuatmu menderita, maafkan aku karena dulu-..''

'' Tidak ada yang perlu di maafkan, Grayfia. Karena semuanya adalah salahku, yah salahku. Salahku karena tidak melihat pandangan kalian berdua. Ah kenapa aku tidak mati saja saat seluruh warga desaku di bantai, kenapa aku tidak ikut mati saja bersama kedua orang tuaku,'' potong Naruto lalu melepas pelukan Grayfia.

Grayfia langsung terisak keras mendengar penuturan Naruto dan pelukannya di lepas tanpa menoleh padanya.

Naruto berjalan keluar lewat pintu yang di dobrag Issei dan menuju ketaman untuk mendinginkan amarahnya yang sempat memuncak.

'' Inilah takdir yang harus aku jalani, takdir yang membuatku merasakan rasa sakit sepanjang hidupku, aku di takdirkan untuk selalu sendiri,'' ucap Naruto sambil menatap lurus kearah langit.

' Greb,'

Seseorang memeluknya dari belakang.

T.B.C

yup update, semoga chapter pertama ini cukup menghibur dan ah semua waktuku aku curahkan untuk chap pertama ini dan memending menulis fic yang lainnya.

Terimakasih yang udah mau baca dan Review dan yang kasih saran.

Senin, 15-09-2014 .

Profile Naruto.

Nama : Uzumaki Namikaze Naruto.

umur : setelah di ubah menjadi empat tahun 18/19 thn, aslinya tidak di ketahui.

tinggi : 180 cm

penampilan : sementara dan untuk saat ini seperti di chanon penampilan wajahnya dan rambutnya yang panjang sebahu.

Kekuatan : Ninja, kontrol elemen angin, api, petir dan belum di ketahui.

Sacred Gear : belum di ketahui.

.*

*Ae Hatake : Grayfia dan Sirzech tidak menikah, dan jiwa iblis Naruto di segel dan sebagai gantinya di beri kekuatan cahaya. yah mungkin terlalu over, semua fic aku hampir kayak gitu semua, : )

*nanaleo099 : Naruto Netral, dia hanya mengikuti keinginannya sendiri dan sacred gearnya, nanti aja pasti terungkap seberapa kuat dan lemahnya sacred gear Naruto.

*REVANOFSITHLORF : yah banyak yang bilang ini mirip Naruto Phenec : Love, Battle and Betrayal. Sebenarnya dulu pernah terinspirasi dari fic itu, tapi yang ini murni aku terinspirasi dari dua Novel yang aku baca dan aku suka ceritanya.

*80w0-3-3v4 : sacred gear masih rahasia, Mungkin iya lebih muda atau lebih tua karena pekerjaannya.

*Dark Namikaze Ryu : tebakannya agak meleset, agak bener soal pair, karena ngikuti alur aja ama mod. :p

*Uzumaki 21 : wah kepinginan anda mungkin tidak bisa terwujud, kemungkinan disini aku bikin Narutonya jadi laki-laki gantle, no sex before merried.

*Bro Namikaze : tergantung mood aja, tamatin mungkin salah satu akan aku dis.

*6namikaze007 : wah sudah ada tu yang aku bikin adik.

*Black Dragon : kemungkinannya 50:50 di maafkan atau enggak.

*Sandal jepit : maksudnya tuh, diakan mantan manusia setengah iblis dan telah di ubah menjadi iblis. Dan melihat kalimat sebelumnya 'Dia' mau merubahnya menjadi manusia jadi dia tidak menjadi iblis lagikan,?

*Monkey D Nico : yup, itu kesalahan fatal yang lupa aku koreksi, yah jadinya disini Evile piece di ciptakan sebelum great war, nanti ada ceritanya sendiri.

*ferianda : Naruto bukan dark dan dia punyanya adik.

*Kebolblack : hahaha, itusi aku juga sendiri tidak maksud hanya mencari sebuah alasan agar Naruto masuk ke jalan cerita.

*Ikanatsu : terimakasih sarannya, tapi bacalah dari awal sampai akhir, bukanya tidak mau dirahasiakan cuman kurang bisa bikin yang rahasia-rahasia seperti yang anda maksud dan kalu di paksakan,? Yah mungkin iya, karena aku masih kurang ahli dan ya aku tentu saja baca fic punya senior tapi kadang punya pemula ada yang lebih bisa buat ref dan soal sudut pandang, aku masih kurang ahli dalam mengolah hal ini.

Ok sekian dulu, jangan lupa review dan saran...