Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan kita ke depannya. Jika kita sudah berada di masa depan, baik buruknya nasib akan mempengaruhi pemikiran kita. Jika nasibnya baik, maka ia tinggal menikmatinya dan akan memperhitungkan lagi bagaimana langkah selanjutnya harus ia ambil. Jika itu buruk, maka ia akan meratapinya, terlalu dipikirkannya dan kembali ke masa lalu, dimana ia menyesal dengan pilihannya terdahulu.

Contohnya seperti Song Mino, seorang fotografer yang sekarang ditugaskan ke acara wedding salah satu rekannya. Datang ke acara itu untuk memotret pasangan yang menikah itu justru membuatnya semakin terpuruk. Ia meratapi nasibnya yang menjomblo cukup lama semenjak mendapatkan pekerjaan. Ada banyak penyesalan terdahulu yang membuatnya masih menjomblo di usianya yang sebentar lagi menuju 30 tahun.

Pertama, ia menyesal jika dulu ia menggunakan tampang wajahnya untuk menjadi seorang playboy. Memainkan hati wanita di sana sini sambil mengumbar janji-janji manis tapi palsu. Ia pernah mendapat sumpah serapah dari mantannya dan mungkin inilah yang terjadi.

Kedua, ia tidak berniat untuk menjalin hubungan asmara ketika sudah mendapat pekerjaan. Ia berambisi penuh terhadap pekerjaannya tanpa perduli pada dirinya sendiri. Ia beranggapan mungkin ia akan mendapatkan jodoh dari model yang dipotretnya itu. Tapi semua rasanya salah. Untuk mendapatkan model cantik, awal mula perlu memiliki wajah seperti model pria yang memiliki wajah lebih jauh tampan dibandingkan dirinya yang hanyalah seorang kentang baru dicabut.

Terakhir, ia menolak rencana kedua orangtuanya yang hendak menjodohkannya. Walaupun ia mengetahui secantik apa yang akan dijodohkannya, ia tetap menolak karena alasan perasaan. Berujunglah orangtuanya tak mau menjodohkannya lagi karena alasan yang sama. Takutnya jika tetap dipaksakan, akan terjadi drama rumah tangga.

Sekarang ia menyesal dengan tindakannya di masa lalu. Di usianya yang semakin bertambah tua, ia jadi terpikirkan pertanyaan-pertanyaan kapan ia akan menikah. Dulu ia masih santai menghadapi pertanyaan itu. Sekarang bawaannya ingin pundung saja. Kalau ada mesin waktu, ia akan kembali ke masa lalu, dimana ia akan menuruti rencana kedua orangtuanya yang mau menjodohkannya.

"Susah ya yang masih menjomblo, mah."

Mino menoleh dan mendapati rekan senasibnya yang tak jauh berbeda dengan dirinya. Bedanya, rekannya itu kemarin sempat mendapat kesenangan yang sebentar. Menjalin hubungan dengan seorang janda yang harus kandas setelah sebulan. Alasannya karena tidak memiliki pemikiran yang sejalan.

My friends are leaving one by one

Surely, even my friends are leaving

I don't understand about fateful love

I really really don't understand women's heart

Aneh. Sebuah lagu yang tidak aman buat para jomblo malah terputar di acara pernikahan. Keduanya saling memandang dan kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Kelihatan mengenaskan 'kan?

"Hati wanita itu susah untuk dimengerti. Kalau begini, lebih baik belok saja."

"Hush! Sembarangan aja kalau ngomong!" tegur Mino. Rekannya tak peduli lalu melanjutkan acara merokoknya.

"Aku balik ke dalam ya."

"Temani aku lah, No. Kita ngobrol lebih lama lagi."

"No, thanks. Sudah terlalu lama istirahat, dan sudah terlalu lama menyendiri." Mino pun pergi kembali untuk menjalankan tugasnya. Rekannya yang mendengar hanya bisan tertawa pelan.

Objek foto tak selalu soal pasangan yang menikah. Maka dari itu sesampai di dalam ia mengarahkan kameranya ke segala arah. Siapa tahu ia dapat menemukan jodoh dari hasil jepretan kameranya.

I'm not going to spend my life alone

I know I can fall in love again

Where are the girls who are innocent like me?

I, too, don't know about women's heart

Mino tidak mau muluk-muluk. Ia tidak meminta gadis yang innocent. Ia sadar akan dirinya sendiri. Yang terpenting baginya adalah asalkan ada yang mau. Ia tidak mau sepanjang hidupnya hanya sendirian.

Tiba-tiba kegiatannya terganggu karena ada seorang anak kecil menarik ujung kemejanya dan menatapnya dengan tatapan puppy eyes. Mino gemas melihatnya. Ia pun berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu.

"Ada apa adik kecil?"

"Om, bisa tolong cariin mama aku?" Gadis kecil itu menatapnya sambil berusaha menahan tangis. Padahal jelas-jelas matanya sudah berkaca-kaca.

"Om gak tahu gimana mama kamu. Jadi bisa kasih tahu ciri-ciri mama kamu?" tanya Mino. Gadis kecil itu pun menjawabnya. Setelahnya, Mino memutuskan mencari sendiri dan meminta gadis kecil itu untuk menunggu di ayunan yang terdapat di halaman rumah.

Mino keliling-keliling berputar mencari wanita yang disebutkan ciri-cirinya tadi. Terkadang ada hambatan seperti para tamu yang tiba-tiba meminta untuk difotokan. Dilain sisi ia ingin menolak karena kasihan gadis kecil itu akan menunggu. Tapi disisi lain ini adalah tugasnya.

"Sekali saja ya," pinta Mino pada tamu tersebut.

Setelah ia selesai dari tempat photobooth tersebut, kembali ia mencari si mama. Sayangnya ia masih belum menemukannya. Sehingga Mino terpaksa balik lagi ke tempat si gadis kecil.

Beberapa meter dari ayunan halaman rumah, ia menangkap gadis kecil itu sedang bercakap dengan seorang pemuda. Herannya, pakaian dan warna rambutnya persis seperti yang disebutkan anak itu.

'Masa sih...'

Tak mau berburuk sangka lebih, Mino berlari menghampiri keduanya. Setiba disana ia langsung disambut oleh panggilan ceria dari anak itu. Ia juga mendapat senyuman dari pemuda mungil itu. Senyuman yang tiba-tiba membuat fungsi jantungnya terhenti seketika.

'Apakah Tuhan sengaja menjomblokan aku karena ingin aku berjodoh dengannya?' batinnya dengan penuh percaya diri.

"Aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga anakku. Dan Mianhae, sudah membuat Anda repot mencari." Laki-laki itu membungkukkan badannya.

"O-oh. Tidak apa-apa."

Ia salah tingkah. Mendapat senyuman dibarengi dengan fakta yang menyakitkan itu membuatnya tak rela. Itu berarti mereka sudah memiliki keluarga kecil. Entah itu orangtua gadis kecil itu lawan jenis atau sesama jenis. Tapi firasatnya mengatakan untuk tidak menerima fakta tersebut.

"Ngomong-ngomong, kamu Song Mino kan? Perkenalkan saya Kim Jinwoo dan anak saya Kim Jinah."

"Halo, Om!" Gadis itu tersenyum lima jari.

"O-oh y-y-ya. Saya Song Mino. Dan senang berkenalan dengan kalian berdua. Eum, a-anu..." Mino menggantungkan kalimatnya. Ada satu hal yang membuatnya tergagu. Entah pikiran bodoh darimana ia ingin bertanya perihal keluarga dari mereka. Namun lidahnya terasa kelu.

"Oy oy!"

Suara itu membuat mereka menoleh ke sumber suara. Seorang wanita dewasa, sangat cantik. Mino tercengang. Bukan karena cantiknya. Tapi ciri-cirinya. Wanita itu lebih pantas disebut sebagai mama si gadis kecil. Itu artinya pemuda di depannya adalah...

"Kami pamit dulu ya. Daritadi sudah ditungguin di mobil tuh sama dia. Bye!" Mereka pun pamit sambil melambaikan tangan, termasuk wanita itu. Mau tidak mau ia membalasnya juga.

Mino menatap kepergian mereka dalam diam. Kemudian ia menatap langit biru yang sedang teduh-teduhnya.

'Ternyata dia suami wanita itu ya? Haaah' batinnya.

Ia harus merasa ikhlas. Memang sudah nasibnya begini. Ia yakin, suatu hari nanti pasti ia bisa mencapai salah satu cita-citanya di tahun ini, yaitu menikah.

Will I able to get married? Will I able to get married?

This year is ending, but will I be able to get married?

Meeting someone is a difficult thing

Like others, will I be able to get married?

END

[K-Indie] Coffee boy - Can I Get Married?