PERTAMA-TAMA, SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BUAT READER YANG UDAH MEMBERI REVIEW DI CERITA INI YAITU:

Shinaru

Aichan14

Buat Shinaru, balasan review sudah saya kirim ke PM. Sekarang saya akan membalas review buat Aichan14:

"Hm, gimana ya? Saya juga masih bingung memilih pairing gaafemnaru atau sasufemnaru. Padahal kedua-duanya saya suka lho. Tapi, liat aja chapter-chapter berikutnya. Akan jadi pairing apa di cerita ini. Yang pasti itu menurut kesukaan si tokoh utama, Naruko maksudnya. Dia akan memilih Gaara atau Sasuke. Ya, liat aja yang lebih baiknya."

.

.

.

SELANJUTNYA SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BUAT YANG UDAH BACA SECARA SILENT READER, YANG UDAH FAV DAN FOL. TERIMA KASIH BANYAK YA...

.

MARI KITA MULAI MEMBACA CERITANYA, OK!

.

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

NARUTO

MY SISTER IS A MAGICAL

BY HIKARI SYARAHMIA

GENRE: HUMOR/ROMANCE/FANTASY/FAMILY

RATING: T

PAIRING: GAARAFEMNARU/SASUFEMNARU

JUMAT, 3 OKTOBER 2014

WARNING: OOC, AU, TYPO, HUMOR GARING, NOT YAOI DAN TERUTAMA ANEH. BILA ANDA TIDAK SUKA, SILAKAN TINGGALKAN CERITA INI.

.

.

.

CHAPTER 2: AKU ADALAH ANAK SEORANG PENYIHIR?

.

.

.

MY SISTER IS A MAGICAL

.

.

.

SOUNDTRACK THIS STORY

SAYONARA- BY KANA NISHINO

.

.

.

HAPPY READING!

.

.

.

CHAPTER SEBELUMNYA:

Kaki Naruko tersandung sesuatu. Ia pun jatuh tersungkur mencium lantai.

Tanpa ia sadari, ia terjatuh di dekat sebuah tangga. Tempat itu sangat sepi. Lalu lagi-lagi angin bertiup kencang ke arah Naruko sehingga menerbangkan kembali foto yang berhasil didapatkan Naruko.

WHUUSH! SREEET!

"WUUUAAAAAH! TIDAAAAAAK! FOTONYAAAAAAAA!" teriak Naruko menatap nanar foto yang terbang melayang tinggi jauh dari hadapannya. Dramatis sekali.

GREP!

Sebuah tangan kekar menangkap sempurna foto tersebut. Naruko membulatkan matanya untuk melihat seseorang yang telah menangkap foto tersebut.

.

.

.

"Haaah...?"

Kedua mata Naruko benar-benar membulat sempurna melihat seseorang yang berdiri tak jauh ia berada.

Seorang laki-laki berambut merah. Kedua mata jade berwarna hijau. Kulitnya putih. Ada tato tulisan kanji 'ai' di kening kirinya. Ia memakai pakaian yang aneh. Ada syal berwarna merah melingkari lehernya. Ada semacam pasir yang tengah terbang melayang di sekitar tubuhnya.

Hening dan terdengar suara angin semilir yang berhembus di antara Naruko dan laki-laki itu.

WHUUUSH!

Sejenak Naruko terpana melihat laki-laki itu. Ia terdiam tanpa kata-kata.

"Hei...!"

Tiba-tiba Naruko dikejutkan oleh suara keras dari arah sampingnya. Naruko membulatkan matanya menatap ke depan. Ternyata laki-laki itu tidak berdiri lagi di sana. Lalu di manakah dia? Tidak mungkin ia bisa menghilang begitu saja?

"Hei...," sekali lagi suara itu terdengar lagi dari arah samping Naruko.

Naruko pun menoleh ke arah samping dan bersamaan itu sebuah tangan terulur di depan wajahnya.

Laki-laki berambut merah itu kini sudah berjongkok di samping Naruko. Bagaimana bisa? Kapan dia bisa berada di samping Naruko dalam satu detik?

"Mau kubantu kamu berdiri?" tawar laki-laki itu dengan wajah yang sangat datar. Tidak ada ekspresi dari wajah putih pucat itu.

Sejenak Naruko menatap dalam wajah laki-laki yang terbilang sangat tampan – menurut Naruko di dalam hatinya – walaupun tidak ada alisnya. Sebuah mata seperti mata panda karena ada lingkaran hitam di kedua matanya. Tapi, rasanya Naruko menangkap adanya cahaya kesedihan dari kedua mata jade itu.

Tanpa berpikir panjang lagi, Naruko menyambut uluran tangan laki-laki itu yang terbilang sangat lembut.

Naruko pun berdiri dibantu oleh si laki-laki berambut merah. Saat tangannya digenggam begitu oleh seorang laki-laki lantas membuat wajah Naruko sedikit memerah.

"A-arigato go-gozaimasu," ucap Naruko gugup sambil menunjukkan senyum lebarnya yang disertai kemerahan di kedua pipinya. Membuat ia semakin imut jika tersenyum malu begitu.

Laki-laki itu menatap datar Naruko yang berbadan kecil darinya.

'Cewek yang manis.'

Naruko terus tersenyum hingga merasakan ada sesuatu yang ganjil.

Apakah itu?

"Ano, apakah kamu bisa melepaskan tanganku sekarang?" pinta Naruko yang merasa risih bila tangannya masih dipegang oleh orang yang tak dikenal.

Mendengar permintaan Naruko, lantas laki-laki berambut merah itu melepaskan genggamannya dari tangan Naruko. Sepertinya ia tidak sadar masih menggenggam tangan Naruko dengan eratnya karena saking terpesonanya dengan wajah manis si Uzumaki Naruko.

Wah, sepertinya sudah terjadi cinta pandangan pertama rupanya!

Wajah laki-laki berambut merah itu sedikit memerah namun cepat-cepat ia bisa menguasai dirinya agar tidak gugup.

"Maaf," katanya singkat dengan wajah yang kembali datar seraya menyerahkan sesuatu kepada Naruko."Ini."

Naruko menjadi bengong karena melihat sikap aneh si laki-laki itu. Kemudian Naruko menerima sesuatu yang disodorkan oleh laki-laki berambut merah tersebut.

Naruko memperhatikan sesuatu yang telah berada di telapak tangan kanannya tersebut. Sebuah foto. Di dalam foto tersebut terpapang seorang pria berambut pirang yang sedang berdiri sambil menggendong bayi laki-laki yang sangat mirip dengan pria berambut pirang tersebut. Lalu di samping pria berambut pirang tersebut, berdirilah seorang wanita berambut merah sepinggang sedang tertawa lebar sambil menggendong bayi perempuan yang berambut pirang panjang dikuncir dua.

Itulah foto Namikaze Minato, si kembar Namikaze Naruto dan Uzumaki /Namikaze Naruko yang berusia satu tahun, dan Uzumaki/Namikaze Kushina. Foto itu diambil dengan latar belakang sebuah taman yang indah.

Naruko tersenyum senang akhirnya fotonya berhasil kembali di tangannya berkat laki-laki berambut merah yang telah menolongnya. Ia pun ingat kepada laki-laki berambut merah yang masih terpaku berdiri di sampingnya.

"Ano, terima kasih kalau ka...," kata Naruko menoleh ke samping namun orang yang berada di sampingnya itu tidak ada lagi."Lho, dia kemana lagi sih?"

Naruko memutarkan kepalanya ke segala arah untuk mencari sosok laki-laki berambut merah tersebut. Akhirnya matanya menangkap sosok itu telah sampai di puncak tangga di dekat Naruko jatuh tadi.

"HEIII!" teriak Naruko sekeras mungkin berharap suaranya bisa terdengar lagi oleh laki-laki berambut merah itu.

Sukses. Laki-laki itu menyadari Naruko yang memanggilnya. Ia pun menoleh. Sejenak ia menghentikan langkahnya.

"SIAPAKAH NAMAMU?" tanya Naruko dengan suara yang keras. Ia masih berdiri di bawah tangga.

Laki-laki berambut merah itu menatap ke bawah – menatap ke arah wajah Naruko yang tersibak oleh poninya yang bergoyang-goyang karena dimainkan angin – menambah manisnya wajahnya dengan lambaian kedua rambut pirang panjang dikuncir dua yang melambai-lambai. Menjadi daya tarik Naruko bagi si rambut merah tersebut.

'Dia memang cewek yang sangat manis.'

Sebuah seulas senyuman simpul terukir di wajah datar bak boneka tersebut. Naruko bisa melihatnya dengan jelas.

"Sabaku No Gaara."

Begitulah jawabannya. Setelah itu, laki-laki berambut merah yang diketahui bernama Sabaku No Gaara tersebut membalikkan badannya untuk pergi dan menghilang dari pandangan Naruko.

WHUUUSH!

Angin yang tidak jelas munculnya entah darimana, bertiup kembali menerpa tubuh Naruko. Naruko tampak terdiam mematung sesaat melihat Gaara itu berlalu.

"..."

Apakah yang terjadi dengan Naruko?

Badannya bergetar. Keringat dingin mengucur. Senyuman tipis terukir. Wajah yang merona merah.

"Cowok itu... benar-benar... kereeen...," bisik Naruko nyaris pelan.

Saking terpesonanya dengan senyuman laki-laki berambut merah itu, tanpa Naruko sadari, foto yang sedari tadi ia pegang akhirnya terlepas dan angin pun muncul bertiup lagi serta menerbangkan foto itu lagi!

WHUUUUSH!

Naruko menoleh dan kaget setengah mati melihat foto itu telah terbang tinggi di atas langit sana. Lantas membuat Naruko membelalakkan kedua matanya dan segera mengejar foto itu kembali.

"AKH... FOTONYA TERBANG LAGI!" seru Naruko dengan suara keras yang sangat menggelegar dan mengguncang tempat itu.

Ya ampun, Naruko memang ceroboh sekali!

.

.

.

"Haaah..." terlihat Naruko menghelakan napas panjangnya. Ia sangat keletihan. Napasnya tersengal-sengal. Keringat dingin mengucur. Ia terduduk begitu saja di tepi trotoar dekat sebuah gedung.

Sudah tiga jam lamanya ia mengejar foto petunjuk satu-satunya untuk mencari Ayah dan kakak kembarnya. Namun, foto itu semakin terbang tinggi ditiup angin yang mendadak kencang. Alhasil, akhirnya foto itu lenyap ditelan awan. Bukti satu-satunya itu telah lenyap dari pandangannya.

Naruko menundukkan kepalanya. Lesu. Sejenak ia pundung di tempat itu.

"Ke-kenapa jadi begini kejadiannya? Kenapa hari ini aku sangat sial?" kata Naruko menyesali dirinya sendiri."Pasti Kaasan marah bila aku menghilangkan foto satu-satunya yang ia punyai. Haaah... Betapa cerobohnya aku."

Naruko semakin pundung di tempat itu. Di tengah orang lalu lalang yang sedang berjalan di trotoar – dekat Naruko duduk – mereka keheranan melihat seorang gadis terduduk lesu di tepi trotoar sambil mengoceh panjang tidak jelas. Hingga muncul di pikiran mereka jika melihat pemandangan seperti itu. Mereka mengira Naruko adalah gadis tidak waras karena berbicara sendiri di tengah keramaian seperti ini.

Sejenak terdengar bunyi deru kendaraan yang lalu lalang di jalan raya beraspal tersebut. Orang-orang yang sedang berjalan santai di trotoar. Pepohonan rimbun dan mekar tampak berdiri di sepanjang trotoar sehingga menjadi tempat peneduh bagi pejalan kaki. Berbagai gedung tinggi yang menjulang dengan berbagai bentuk yang sangat aneh. Ada beberapa orang yang sedang menaiki tongkat yang bersayap di langit sana. Lalu ada beberapa makhluk aneh yang berkeliaran di sepanjang trotoar tersebut.

Lho, tempat apakah ini? Apakah ini benar Desa Konoha yang dikatakan oleh Kushina? Desa? Konoha? Desa Konoha? Bukan, ini bukan desa namanya. Tapi, sebuah kota besar.

Ya, sebuah kota besar dengan berbagai gedung yang bentuknya aneh. Lantas kenapa Naruko belum menyadari semua ini?

Naruko sedang bersedih hati karena kehilangan foto bukti untuk mencari ayah dan kakak kembarnya. Ia tertunduk lesu sambil duduk di tepi trotoar seperti orang galau begitu. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan mau kemana lagi untuk mencari ayah dan kakak kembarnya. Alamat di mana ayah dan kakak kembarnya berada, Naruko sendiri tidak tahu. Bahkan Kushina sendiri juga tidak tahu persis alamat Minato dan Naruto berada.

"Haaah, seharusnya lebih baik aku tinggal di desa Pusaran Air saja. Kasihan Kaasan ditinggal sendirian di sana."

Naruko teringat ibunya. Betapa ia mencemaskan ibu yang tinggal sendirian di sana.

Tapi...

Naruko mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.

"Aku ingin bertemu Tousan dan Naruto-nii. Aku tidak boleh menyerah begitu saja."

Tiba-tiba muncul api berkobar di kedua mata saffir biru Naruko. Ia bangkit berdiri.

"HARI INI JUGA AKU HARUS MENEMUKAN TOUSAN DAN NII-CHAN. MESKIPUN FOTO PETUNJUK ITU HILANG. AKU AKAN TETAP BERUSAHA MENCARI MEREKA!" seru Naruko bersemangat sekali dengan latar belakang ombak yang menghantam tebing.

Melihat tingkah Naruko yang berdiri sambil mengepalkan kedua tangan ke udara, sukses membuat semua orang di tempat itu sweatdrop melihatnya.

Memang dasar si Naruko. Dari tadi ia berteriak tidak jelas di tengah orang yang lalu lalang di belakangnya. Orang-orang mengira dia memang sudah gila.

KRIUK!

Terdengar bunyi yang tidak enak dari perut Naruko. Naruko membulatkan matanya.

"Ah, tiba-tiba perutku lapar jadinya."

Naruko sweatdrop sendiri. Diliriknya jam tangan berwarna orange yang tersemat di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul tiga sore.

"Haah?!" kata Naruko membelalakkan kedua matanya."Sudah jam segini."

Lantas Naruko buru-buru membalikkan badannya untuk pergi dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang tepat berjalan ke arahnya.

BRUUUK!

Naruko kehilangan keseimbangannya dan ia akan jatuh ke belakang.

"EEEEH?!" kata Naruko membulatkan matanya.

GREP!

Tangan kanan Naruko berhasil digenggam oleh sebuah tangan kekar. Naruko tidak jadi jatuh ke belakang.

Naruko memejamkan matanya sambil mengelus-elus dadanya. Lega.

"Oh, syukurlah, aku tidak jadi jatuh," kata Naruko menghelakan napas leganya.

"Do-dobe?!"

Sebuah suara berat seperti suara baritone terdengar di telinga Naruko. Naruko pun menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah di depannya.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi. Matanya hitam kelam bagaikan batu onix. Kulitnya putih pucat. Rambutnya hitam. Gaya rambutnya mencuat ke atas melawan gravitasi bumi. Bila diperhatikan, rambutnya mirip seperti pantat ayam. Gaya rambut yang aneh.

Sesaat Naruko terpana melihat wajah di depannya itu. Begitu juga dengan orang tersebut.

Hening. Terlihat orang lalu lalang yang berjalan di antara Naruko dan orang asing tersebut, para pejalan kaki memasang wajah kemerahan melihat adegan yang menurut pikiran masing-masing sungguh mempesonakan hati.

Kemudian Naruko menyadari sesuatu yang aneh. Ia melirik ke arah tangannya yang masih dipegang oleh laki-laki itu.

Ini mengingatkannya dengan laki-laki berambut merah bernama Gaara tersebut. Adegan yang sama. Ini sudah kedua kalinya tangan kanannya dipegang oleh seorang laki-laki yang tidak dikenal.

BRUUUSH!

Wajah Naruko memerah seketika. Apalagi orang asing itu masih menatapnya dengan aneh.

"Ka-kau, Do-dobe-kan?" tanya laki-laki berambut hitam itu dengan wajah yang kelihatan shock.

Naruko mengerutkan keningnya. Ia heran kenapa orang asing ini memanggilnya dengan sebutan "Dobe". Padahal ia tidak mengenali orang ini. Naruko heran kenapa bisa ada orang yang mengenalinya padahal dia baru pertama kali datang ke Konoha ini? Mana orang asing ini memanggilnya dengan sebutan "Dobe". Apa-apaan Dobe itu?

"Hei...," kedua alis Naruko turun dengan cepat."Memangnya kau siapa? Kenapa kau memanggilku Dobe? Memangnya kita saling mengenal? Dan apa-apaan Dobe itu? Dasar, cowok aneh."

Naruko mengoceh tidak jelas dengan berbagai pertanyaan yang ia lontarkan kepada laki-laki itu. Sehingga laki-laki itu memasang wajah kesalnya.

"Bisa tidak kalau kau memberikan pertanyaan itu satu persatu, hei Dobe?" seru laki-laki itu juga turut menurunkan alisnya.

"HEI, AKU BUKAN DOBE. AKU UZUMAKI NARUKO," ujar Naruko mulai merah padam dan emosi naik perlahan-lahan ke ubun-ubunnya."DASAR SOK KENAL, MEMANGNYA KAU ITU SIAPA SIH? AKU TIDAK MENGENAL KAMU, TAHU!"

"APAAA? NAMAMU UZUMAKI NARUKO? SEJAK KAPAN KAMU MENGGANTI NAMAMU MENJADI UZUMAKI NARUKO. APA-APAAN JUGA KAU TIDAK MENGENALKU? AKU INI UCIHA SASUKE, DASAR DOBE!"

"BAKA! SUDAH KUBILANG AKU INI BUKAN DOBE. AKU INI UZUMAKI NARUKO. KA..."

"Ada apa, Teme? Kenapa kau malah ribut di sini?"

Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menegur dengan ada kata "Teme" di kalimat diucapkannya. Sontak membuat Naruko dan orang berambut hitam bernama Sasuke tersebut menoleh ke asal suara.

Seorang laki-laki berambut kuning pendek jabrik yang sangat berantakan. Kedua mata biru saffir. Kulit putih agak kecoklatan. Memakai jaket orange yang tidak diresletingkan. Ada baju kaos berwarna hitam di balik jaket orange yang ia kenakan. Bawahannya sebuah celana jeans berwarna hitam yang sama dengan baju kaos hitam tersebut. Sepatu kets berwarna orange melengkapi penampilannya yang kelihatan cool. Tampak guratan tiga garis di kedua pipinya. Lalu terlihat ada lambang seperti obat nyamuk di dada kiri jaket orange yang dikenakannya.

Sejenak Naruko dan Sasuke berhenti bertengkar. Mereka berdua ternganga bersamaan melihat orang itu. Terutama Sasuke, ia speechless sambil menatap Naruko dan orang itu secara bergantian.

"Kok, Dobenya jadi dua?" ucap Sasuke kebingungan sambil menunjuk Naruko dan orang yang mirip dengan Naruko secara bergantian."Wajah kalian sangat mirip."

"..."

"..."

"..."

Sesaat laki-laki berambut pirang itu menoleh ke arah Naruko yang menatapnya lama sedari tadi. Betapa kagetnya dia.

'Cewek ini mirip sekali denganku, jangan-jangan dia...,' pikir laki-laki berambut pirang tersebut memasang ekspresi shock dengan kedua mata membulat sempurna.

Ia menatap Naruko dengan pandangan seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Lalu tiba-tiba...

GREP!

Naruko secara langsung memeluk leher laki-laki berambut pirang tersebut. Tentu saja membuat laki-laki itu kaget setengah mati dibuatnya.

"NII-CHAN!" kata Naruko tertawa lebar senang.

Sementara orang yang dipeluk hanya terdiam terpaku berdiri. Sasuke yang speechless melihat adegan itu. Orang-orang yang lewat akhirnya membentuk kerumunan dan menonton pemandangan adegan romantis tersebut.

Hening. Semua orang memasang wajah yang benar-benar merah sepertti kepiting rebus.

'Nii-chan? Kenapa gadis ini memanggilku Nii-chan? Jangan-jangan gadis ini memang...'

'Nii-chan? Kenapa gadis ini memanggil Naruto dengan sebutan Nii-chan? Jangan-jangan gadis ini adalah...'

"Jangan-jangan kamu Na-naruko," ujar laki-laki berambut kuning yang diketahui bernama Namikaze Naruto."Naruko, saudara kembarku."

"Yap, itu benar, Nii-chan," jawab Naruko masih tertawa lebar sambil melepaskan pelukannya dari kakaknya.

Hening lagi. Kerumunan terdiam mendengarkan percakapan duo rambut kuning itu. Sementara Sasuke memasang wajah stoic dan datarnya lagi.

"Huh, ternyata dia adik kembarmu, Dobe," sahut Sasuke mendengus pelan sambil menutup matanya seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya."Kupikir dia adalah dirimu, Dobe. Makanya aku mengira dirimu tidak waras lagi karena memakai pakaian perempuan."

Mendengar perkataan itu membuat kedua mata duo blonde kembar itu berkilat tajam. Terutama Naruko, dia sangat tidak suka kalau si rambut raven itu menjelek-jelekkan kakaknya. Ia pun memasang wajah geram dan mengacungkan telunjuknya kepada Sasuke itu.

"APA-APAAN KAU MENGATAI NII-CHAN-KU SEPERTI ITU? DAN APA-APAAN ITU DOBE? DASAR COWOK YANG MENYEBALKAN!" seru Naruko bersuara keras sambil mengeluarkan ledakan emosi yang meluap-luap.

Orang yang ditunjuk hanya tersenyum simpul dan malah berbalik arah tanpa mengatakan sesuatu. Sasuke pergi begitu saja.

Naruko yang merasa diacuhkan semakin menggeram. Gigi-giginya gemeretak. Ia kesal sekali melihat sikap si rambut raven itu.

"HEI, JANGAN MAIN KABUR AJA KAU!" kata Naruko merah padam dengan bermaksud mengejar Sasuke yang sudah berjalan jauh.

GREP!

Tangan kanan Naruko ditangkap Naruto. Niat Naruko untuk mengejar Sasuke pun batal.

"Jangan kejar dia, Naruko-chan. Biarkan saja," ucap Naruto memasang wajah datar.

Naruko menoleh ke arah Naruto.

"Ta-tapi, Nii-chan."

"Ayo, pergi."

Naruto pun menarik tangan si Naruko untuk meninggalkan kerumunan yang melongo menonton mereka sedari tadi. Naruko pun menurut saja diseret oleh kakak kembarnya. Mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu. Setelah itu, kerumunan akhirnya bubar dan memasang wajah puas karena menonton pertunjukan drama gratis di tepi jalan tersebut. Sungguh pemandangan yang indah.

.

.

.

Sebuah jalan raya yang tidak terlalu sepi. Masih ada dua atau tiga kendaraan lewat di jalan raya tersebut. Di sepanjang trotoar yang berada di tepi dua sisi jalan raya tersebut, berbaris-barislah berbagai tanaman yang sangat aneh dan berwarna menyolok seperti merah, orange, kuning serta warna-warna lainnya. Tidak ditemui gedung-gedung tinggi seperti tadi. Kini ditemui berbagai rumah aneh dengan bentuk bulat seperti kubah. Rumah-rumah itu berbaris-baris rapi tak jauh dari trotoar. Tampak berbagai makhluk aneh yang sedang berjalan dengan para manusia. Mereka lalu lalang di trotoar itu.

Di antara orang-orang yang lewat dengan makhluk aneh yang berjalan atau terbang tersebut, lewatlah Naruto dan Naruko. Duo blonde kembar yang manis dan tampan berhasil membuat semua mata – baik laki-laki atau perempuan – terpesona melihatnya. Terbukti, para orang yang terpesona itu akhirnya jatuh dibuatnya karena tersandung sesuatu atau malah miris seperti kepala terbentur menghantam pohon.

Naruto sedang berjalan santai dengan pandangan mata bosan tidak menyadari semua mata yang tertuju kepadanya atau adik kembarnya yang berjalan di belakang sambil celingak-celinguk dengan wajah yang bingung bercampur takut. Sesekali tangan Naruko didekapkan ke dada. Tangan satunya diarahkan ke mulut untuk digigit-gigit.

Sesaat Naruto memutar bola saffir birunya. Menyadari adik kembarnya yang sibuk kasak-kusuk sendiri.

"Ada apa, Naruko-chan?" tanya Naruto menoleh ke belakang dengan wajah yang bosan. Ia menghentikan langkahnya sebentar.

"Anu, Nii-chan...," sahut Naruko memasang wajah horror."Sebenarnya ini tempat apa? Ke-kenapa de-desa Konohanya seperti tempat hantu begini?"

Naruto membulatkan kedua matanya,"desa kamu bilang, imouto-chan?"

"I-iya, ini memang desa Konohakan, Nii-chan?" tanya Naruko memiringkan kepalanya dan meletakkan telunjuknya ke dagunya.

Mendengar perkataan Naruko yang terkesan polos, membuat Naruto tersenyum simpul. Ia menjadi gemas melihat wajah adiknya yang imut bila memasang gaya seperti itu. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk mencubit kedua pipi imut si Naruko.

NGEK!

Akhirnya niatnya untuk mencubit kedua pipi si adik kembarnya terlaksanakan juga. Membuat Naruko terpekik keras saat kedua pipinya ditarik oleh Naruto.

"AW, SAKIT ITU NII-CHAN!"

"Kamu itu menggemaskan, Imouto-chan."

"Ah, Nii-chan sama seperti Kaasan," Naruko memasang wajah cemberut membuatnya semakin menggemaskan. Sehingga membuat cubitan di kedua pipinya dikuatkan oleh Naruto. Naruto semakin geram melihat wajah adiknya seperti boneka itu.

"UWAAAH, NII-CHAN! SAKIT TAHU. LEPASKAN AKU!" seru Naruko merah padam dengan suara yang sangat keras mengguncang tempat itu.

Saking kerasnya suara Naruko tersebut dapat membuat beberapa burung kecil yang hinggap di batang pohon mendadak terkapar pingsan semuanya.

Mendengar adiknya menjerit keras tidak jelas begitu, daripada telinganya pecah karena mendengar suara si adik yang terlampau keras melebihi kecepatan cahaya. Naruto segera melepaskan cubitannya. Ia pun kembali memasang wajah stay cool-nya.

Beberapa orang lewat bersama makhluk aneh di trotoar memasang wajah super sweatdrop melihat ulah duo blonde kembar tersebut.

Terlihat Naruko masih berwajah merah padam sambil memijat kedua pipinya berbekas merah. Naruto yang innocent hanya terpaku melihat Naruko yang sedang sibuk memijat kedua pipinya. Naruko melirik ke arah lain dan membuang muka saat Naruto melemparkan senyum jahil kepadanya.

Hening.

Duo blonde kembar sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga suara Naruko memecah suasana hening senyap ini.

"Nii-chan."

"Apa, Imouto-chan?"

"Se-sebenarnya ini desa atau kota Konoha namanya? Kenapa semuanya terlihat aneh?" kembali Naruko bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala tempat tersebut."Ke-kenapa ada makhluk aneh juga di sini?"

Kembali ke topik utama. Kembali Naruko merinding ketakutan. Ia pun melipat kedua tangan di dada. Tubuhnya bergetar hebat.

"A-aku takut tempat ini, Nii-chan," sahut Naruko berwajah horror sambil menoleh ke arah Naruto.

Naruto mengangkat salah satu alisnya. Lalu menghelakan napasnya dan berjalan pelan untuk menghampiri adiknya.

PUK!

Tangan kanan Naruto mendarat di puncak poni pirang si Naruko.

"Tidak usah takut, Imouto-chan. Nii-chan ada di sini kok," sahut Naruto menatap lembut si adik perempuannya yang pendek darinya.

Naruko menatap ke arah wajah kakaknya. Kakaknya tersenyum lebar.

'Ternyata Nii-chan memang keren. Nii-chan memang sangat tampan saat tersenyum seperti ini. Pasti banyak cewek yang menyukainya,' pikir Naruko terpana melihat cahaya wajah Naruto yang bersinar terang.

Kemudian tangan kanan Naruto bergerak untuk membelai rambut Naruko. Wajah Naruko memerah saat kakaknya membelai rambutnya. Naruko tersenyum kecil.

Betapa bahagianya Naruko bertemu dengan kakak kembarnya. Ternyata kakak kembarnya sangat menyayangi dirinya.

"Baiklah, Imouto-ku. Akan aku jelaskan kenapa tempat ini sangat aneh. Tempat ini bukan tempat biasa. Tempat ini bernama kota sihir."

"Ko-kota sihir?"

"Iya, kota Konoha adalah kota sihir satu-satunya di dunia ini. Tempat di mana segala yang aneh ada di sini. Ya, seperti yang kamu lihat ada makhluk aneh lalu lalang bersama para manusia, tanaman-tanaman yang aneh, rumah-rumah aneh yang berbentuk macam-macam dan lain-lain. Segalanya aneh. Pokoknya tempat ini adalah negeri sihir. Kamu tahu itu sangat membosankan."

"Membosankan?"

Naruto melirik ke arah lain dan menjauhkan tangan kanannya dari rambut Naruko. Lalu kedua tangan Naruto saling melipat lalu disanggahkan di belakang lehernya.

"Ya, membosankan. Tanpa adanya Kaasan di sini."

Naruko menundukkan kepalanya. Ia menatap jalan berbatu itu. Ia jadi sedih bila Naruto mengingatkan dia kepada ibu.

"Ya, Nii-chan. Nii-chan benar."

"Bagaimana kabar Kaasan di sana?"

"Baik. Kalau Tousan?"

"Baik juga."

"Kalau begitu, Tousan di mana, Nii-chan?"

"Tousan belum pulang. Beliau masih sibuk mengurus pekerjaannya di kantor. Kamu tahu, kalau Tousan kita seorang Hokage."

"Hokage?"

"Ya, istilah buat pemimpin kota sihir ini."

"Berarti..."

Naruto memutar bola matanya dan menoleh ke arah Naruko.

"Berarti kamu adalah anak dari pemimpin negeri sihir ini, Naruko-chan."

Mendengar penjelasan dari kakak kembarnya tersebut, membuat Naruko terdiam di tempat. Kedua mata Naruko membulat lebar.

'To-tousan adalah pemimpin negeri sihir ini? Berarti aku adalah anak dari seorang penyihir. Tapi, kenapa Kaasan tidak pernah bilang kalau Tousan adalah seorang penyihir dan kota Konoha adalah kota sihir? Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Kaasan.'

"HEI, NARUKO-CHAN! KENAPA KAMU BENGONG DI SITU?"

Terlihat Naruto sudah berjalan jauh meninggalkan Naruko yang berdiri terpaku seorang diri di sana. Naruko pun membelalakkan kedua matanya.

"HAAAH, NIII-CHAAAN! JANGAN TINGGALKAN AKUUUU DOOOOONG!"

Suara pekikan Naruko menggema dan mengguncang tempat tersebut sehingga siapa saja bisa pingsan mendengarnya.

Naruko pun mengejar Naruto yang sudah berjalan duluan. Ia kesal sekali karena ditinggal kakaknya begitu saja.

'Dasar, Nii-chan yang menyebalkan.'

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

AUTHOR NOTE:

YA, SELESAI JUGA CERITA CHAPTER 2 INI!

Hai, semuanya saya datang lagi menghadirkan cerita pairing Gaafemnaru atau Sasufemnaru. Saya sendiri masih bingung mau menetapkan pairing yang mana. Namun, yang pasti dua-duanya saya suka. Tapi, lihat saja perkembangan cerita selanjutnya, Naruko akan memilih siapa. Gaara atau Sasuke?

Sepertinya dalam cerita dunia fantasi ini, bakal terjadi cinta segitiga antara Naruko, Gaara dan Sasuke. Pokoknya saya akan membuat mereka bertiga menderita dalam cinta yang terbilang sangat rumit karena ada sesuatu yang membuat mereka akan terluka.

Di sini, Sasuke agak kelihatan ooc ya? Apa perasaan saya aja ya.

Ok, segini saja. Terima kasih udah mau membaca dan memberikan review-nya.

Arigato, salam saya.

Hikari Syarahmia.

.

.

.

Sekilas cerita minggu depan:

"Selamat datang, Gaki!"/"Ka-kamu itu makhluk apaan sih? Kenapa rubah bisa berbicara seperti manusia?"/"Kok, Naru-nya ada dua?!"/"Mengapa Tousan dan Kaasan berpisah?"/"Dialah Uciha Sasuke, si Pangeran Charming yang dapat membuat cewek-cewek mendadak pingsan seketika hanya karena tatapan mata kelamnya."

Sampai jumpa di chapter 3 ya...

Yang berjudul: Bertemu dengan sang Ayah

Bye bye...