LANGSUNG UPDATE, MWAHAHAHA. Okay inilah chapter satu. Sketchy ngerjain dua sekaligus nih. Oke langsung aja ya.
Warning: warming up nih, haha. Indonesia sama Malaysia mulai panas. Menyinggung konflik semenanjung Korea di sini, tak suka tak usah baca. Oh ya, flaming boleh asal log in dulu. mau saya balas pake bantuan Arthur lah. hahaha.
Disclaimer: punya mas Himaruya. gak usah banyak omong deh.
Rating: K+ kali? Soalnya masa anak 5 taun baca beginian, aneh deh rasanya.
Wasn't Mean To
Chapter 1 - Earn an Enemy, Earn an Ally
Indonesia terus memelototi Malaysia yang ada di seberang meja. Malaysia membalas tatapannya.
Hari ini bulan April, tahun 2053. Cuaca cukup hangat di New York, Amerika Serikat, mengingat sekarang musim semi di negara Paman Sam. PBB, atau dikenal sebagai United Nations, mengadakan rapat mendadak. Begitulah setiap kali ada permasalahan antar negara, diadakan rapat PBB tak lama kemudian, yang memang sudah lazim berlaku di era ini.
"Heeeeeeeey~ what's up?" Tanya America. Seperti biasa, ialah yang memulai rapat PBB. Tampaknya adu kedip Indonesia-Malaysia tidak mempengaruhi keceriannya. "Seperti yang kita tahu, Indonesia dan Malaysia memang menyatakan perang. Ada yang mau berpendapat?" Ia memerhatikan seisi ruangan. Pandangannya terutama tertuju pada England, France, China, dan Russia.
"Kamu sendiri, Alfred?" Tanya England, tidak begitu tertarik dalam hal ini.
"Aku sih mau tanya, apa sih faktor dimulainya persengketaan ini?"
"Dia duluan!" Jawab Indonesia dan Malaysia bersamaan. Keduanya tampak terkejut, tapi setelah itu keduanya langsung memelototi satu sama lain kembali. Indonesia pun bicara. "Dia mengambil Sipadan dan Ligitan! Tadinya mereka punya gue!" Malaysia tidak mau kalah. "Tapi gue yang mengelola mereka! Kekayaannya itu hasil kerja gue!"
"Hey, hey, tenang, masalah itu sudah diselesaikan sejak dulu, kan?" America mencoba menyela.
"Dia juga seenaknya men-claim batik dan kebudayaan gue!" Indonesia mulai bangkit dari kursinya, menggebrak meja. "Emang lo gak punya kebudayaan sendiri? Plagiat negara lo itu, urusin!"
"Plagiat?" Malaysia naik darah. "Orang lo tuh, urusin juga! Seenaknya bikin partai Ganyang Malaysia! Ngaca dong!"
"Wah, seru juga nih, da." komentar Russia. China hanya mengangguk.
"MALINGSIA!"
"INDON!"
Keduanya hampir saja berkelahi, jika Switzerland tidak menembak lantai tepat di antara mereka dan berkata, "Hentikan, bodoh. Ini ruang rapat, bukan arena pertandingan." Indonesia dan Malaysia kembali ke tempat masing-masing. Masih marah. Seisi ruangan tampaknya mulai tertarik dalam hal ini.
"Jadi?"
"Da, aku mau bantu Malaysia," Russia berkata. "Keliahatannya kamu enak diajak main, da, sini." Ia mengajak Malaysia datang ke pihaknya. Malaysia berbisik 'yessss' kepada dirinya sendiri, merasa mendapat teman yang kuat. Ia menatap Indonesia dengan tatapan mengejek. Dari seberang ruangan, Indonesia melihat bahwa Russia dan Malaysia mengobrol dengan North Korea.
Jangan jangan North Korea juga mau ikut campur, Indonesia mengeluh. "Tenang, Indo, gue bakal bantuin lo kok. Lagipula kan gue pahlawan! Masa' yang satu dapat bantuan yang satu tidak." America menepuk bahunya. Indonesia menoleh. "Tapi kalau gue bantu, lo juga bantuin gue ya, bantuin South Korea juga," kata America. Yong Soo melambaikan tangannya di belakang America. "Heya, da ze~" Sapanya. Indonesia tersenyum. Ia tidak sendirian, rupanya.
"Pasti."
TBC~
Hwaaaa, selesai juga akhirnya. ngerjainnya malem2 nih! Ngantuk banget. Ceritanya, konflik semenanjung Korea belom selesai nih di tahun 2053, dan udah pake tembak-tembakan nih. Russia juga bener bener bantu North Korea. Alasan kenapa Russia milih Malaysia, karena dia pikir Malaysia pinter nyari ng... comeback gitu buat ngelawan Indonesia. hwahahaha. okay segitu aja dari Sketchy. Arigatou~!
