Tiga orang yang terdiri dari dua orang Beta dan satu orang Alpha berlari kecil di tengah kesunyian malam. Ketiga pria bertubuh kekar karena latihan itu mengenakan seragam kamuflase yang biasa dikenakan jika mengintai di daerah musuh. Mereka memberi isyarat pada satu sama lain untuk tetap berada di jangkauan tempat yang mereka tuju. Setelah menemukan tempat persembunyian aman, mereka menggelar alas yang terbuat dari matras tipis dan menempatkan tubuh di atas matras tersebut.
Seorang Beta menggunakan binokuler militer untuk mengamati kejauhan. Diamati olehnya, sebuah kamp militer yang terdiri dari 4 bangunan berjejer yang terbuat dari tenda berwarna hijau tua, dijaga oleh dua orang Beta. Dua orang Beta ini bergantian ketika matahari terbit dengan dua orang Beta lainnya. Sesekali dua buah mobil bersenjata yang dilapisi besi dan baja melintas, menurunkan satu dua orang untuk masuk ke dalam perkemahan militer.
Salah seorang Beta yang lain memberitahu yang mereka lihat pada Alpha yang bertubuh tinggi dan berkulit gelap. Alpha itu kemudian mengeluarkan sebuah handheld radio berupa HT dan menyetel frekuensi yang tepat. Ia mendekatkan tangannya yang dilingkari oleh sebuah jam tangan ke mulut, setelah menekan layar arloji di pergelangan tangannya.
"Basis militer. Barat daya, sesuai dengan kordinat yang telah diterima. Aman."
"Affirmative."
Alpha itu kembali memasukkan HT kembali ke tas.
Seorang Beta menoleh pada Alpha itu dengan wajah sedikit khawatir, "Jongin-ah, kau yakin kita akan bisa menghadapi mereka? Kudengar mereka salah satu pasukan tentara terbaik pilihan Korea Selatan."
"Tidak perlu khawatir, Ken-Hyung. Kita tidak akan menghadapi mereka satu persatu. Lagipula Hyungsik-nim terlalu cerdas untuk hal-hal seperti ini," Alpha itu memandang pada kejauhan di hadapan mereka. "Dan jangan memanggilku lagi dengan nama asliku. Kita sedang menjalankan misi saat ini."
"Bahkan aku yakin, tentara Korea Selatan tidak akan menyusahkan diri dengan menggunakan nama-nama samaran," sahut Beta itu mendengus.
"Kalau begitu," ucap Jongin sambil menyeringai kecil, "Artinya akan semakin mudah mengorek informasi dari mereka bukan?"
SPRING DAYS
Summary: 2045, Omega dan Beta perempuan mengalami degradasi populasi, angka kelahiran menurun, cuaca yang terus memburuk, perang dunia. Jeon Jungkook, wakil kapten dari Pasukan Brigade Khusus ke 13, harus terjun ke dalam kejamnya peperangan dan menemukan setitik harapan di dalam tahun-tahun yang mengerikan.
Warnings: Rape, forced pregnancy, ABO AU, mpreg, gore, character death, typos everywhere.
Pairings: KookV, NamJin, YoonMin, incoming pairings
24 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
08.22 a.m
Yoongi sedang mengutak-atik radio yang rusak sambil memasang wajah serius. Punggung dan bahunya serasa mau lepas karena sudah dua hari ini ia tidur sambil terduduk di atas kursi kesayangannya. Ia tidak akan mau tidur di atas bunk bed yang ia tiduri berdua bersama Hoseok sampai ia berhasil membenarkan radio yang rusak ini. Toh sudah menjadi hobinya mengutak atik peralatan komunikasi yang rusak dan menjadikannya alat komunikasi unik.
Perhatiannya tersita saat seseorang masuk ke ruang kerjanya.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak suka—" ia menoleh dan melihat sesosok Omega mungil berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan berisi segelas kopi panas. Yoongi langsung mengerutkan dahi, "Oh. Rupanya kau, Omega. Kau yang bernama Jimin itu 'kan? Ada apa kau ke sini?"
Omega itu mengangguk malu-malu, "Uhh—aku membawakanmu kopi? Jin-hyung menyuruhku membawakannya untukmu," Omega mungil dengan takut-takut mengangkat gelas berisi kopi.
"Hn, begitu. Taruh saja di sana."
Yoongi kembali pada pekerjaannya dan nyaris tidak memperhatikan ketika Jimin mendekatinya. Omega mungil itu memperhatikan apa yang dilakukan Yoongi dengan wajah penasaran. Ketika Yoongi membalikkan badannya—merasa terganggu karena bayangan tubuh Omega itu menghalangi sinar jatuh, ia berdecak frustasi. Apalagi ketika Omega itu mendekat ke arahnya, ia bisa mencium aroma manisan Korea yang ia rindukan semasa ia kecil dulu—memecah konsentrasinya.
"Halo? Aku sedang bertugas untuk membereskan radio di sini, bisakah kau minggir sebentar? Atau melakukan sesuatu yang lebih berguna?"
Jimin tampak tidak terintimidasi oleh ucapannya, "Aku tidak mengerti, kenapa kau terlihat serius saat mengerjakan ini semua. Aku hanya bisa melihat kabel-kabel rumit di sini, tapi bagaimana kau melakukannya?"
Yoongi menghela napas panjang, menyerah, "Warna-warnanya yang sedikit berbeda memberiku petunjuk untuk memperbaiki ini semua."
"Kau bilang kemarin kau butuh asisten untuk memperbaiki radio yang rusak ini, kan?" tanya Jimin dengan wajah gembira. Senyuman merekah di wajahnya, dan Yoongi merasakan dirinya terpaku memandangi wajah itu. Aroma yang dikuarkan oleh Omega itu semakin tidak membantu keadaan.
"Aku berubah pikiran—" kata Yoongi, "Aku akan butuh bantuan jika aku memang butuh. Sekarang tidak. Kau boleh pergi sekarang."
"Wae yo—" ketika melihat Alpha bertubuh pendek dan berambut perak itu menatapnya dengan tatapan kesal, Jimin terpaksa mundur. Wajahnya berubah kecut, "Ne, ne. Aku keluar. Dasar orang tua."
Ia mendengar suara pintu ditutup dengan keras, tetapi Yoongi tetap berusaha acuh tak acuh. Setelah ia yakin bahwa Jimin sudah pergi dari ruangannya, Alpha itu menarik napas dalam-dalam. Kepalanya dipenuhi dengan aroma manis yang begitu mengganggu fokusnya. Bertahun-tahun ia tidak pernah bertemu Omega dalam hidupnya, dan kini ia hidup bukan hanya dengan satu Omega, tetapi tiga sekaligus.
Tapi Yoongi tidak pernah mencium aroma Omega sedekat ini.
Dulu Appanya selalu bercerita, bagaimana aroma tubuh Eommanya membuatnya kehilangan akal.
Masalahnya saat ini, Yoongi tidak tahu kapan Omega-Omega ini akan tetap bersama mereka. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi suatu saat nanti, jika ia dan anggota yang lain membawa Omega-Omega ini ke medan peperangan. Bagaimana reaksi pemerintah Korea Selatan jika mereka tahu bahwa mereka berhasil menyelamatkan Omega-Omega ini. Karena pada peperangan ini ia tidak tahu ke arah mana politik di Korea Selatan akan dibawa, mengingat kondisi ekonomi dan politik semakin tidak stabil dengan adanya perang.
"Kenapa aku tidak terlahir sebagai batu saja, huh," gumamnya pada diri sendiri, sebelum akhirnya ia kembali pada pekerjaannya yang membosankan.
24 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
08.42 a.m
Jungkook sedang melatih otot-otot tangannya dengan mengangkat barbel. Sudah 2 jam lebih sejak ia mulai latihan fisiknya, dimulai dengan peregangan, lari mengelilingi perkemahan, dan dengan latihan angkat barbel yang dilakukannya saat ini.
Kemarin ia telah mengunjungi Taehyung di kamarnya, dan bersyukur karena keadaan Omega itu sudah lebih baik daripada dua hari lalu saat ia melakukan kunjungan ke sana. Taehyung sudah bisa ia ajak bicara tanpa perlu menangisi anak-anaknya yang sudah tiada, bahkan Omega itu sudah bisa tersenyum meski hanya satu dua kali Jungkook bisa melihatnya.
Beberapa tahun yang lalu, ia begitu mengidolakan Taehyung sebagai seorang Alpha yang kompeten dan berbagai macam pencapaian mengesankan. Bahkan ia mengidolakan sifat Taehyung yang mudah berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Jungkook beberapa kali berusaha meniru gaya berkelahi tangan kosong melalui Taehyung. Alpha yang pernah ia idolakan dulu bahkan bisa menjatuhkan senior mereka yang bertubuh 2 kali lebih besar darinya dalam Judo.
Alpha yang kini telah menjadi Omega.
Dan melahirkan anak-anak yang tidak akan pernah ia temui seumur hidupnya.
Jungkook sangat membenci Korea Utara, membenci bagaimana mereka memperlakukan Taehyung. Benci bagaimana mereka telah merebut Taehyung yang sangat ia idolakan.
Kemarahan berkobar di dadanya.
Alpha itu pergi mendekati area latihan sasak tinju, dan meninjunya sekuat mungkin. Sasak itu terdorong mundur dengan keras dan isinya berjatuhan ke atas lantai. Jungkook tidak berusaha menahan isinya, hanya memperhatikan bagaimana isi samsak yang terdiri dari pasir tersebut mengalir tanpa henti ke lantai.
"Kau merusak samsak tinju lagi, Jungkook-ah?" Hoseok berjalan ke arahnya sambil menggeret sebuah trolley berisi berbagai macam senjata. "Kenapa kau sama sekali tidak bisa mengontrol kekuatanmu jika kau sedang latihan, huh? Kau tidak tahu betapa sulitnya memesan peralatan-peralatan kita latihan ke pusat?! Bisa-bisa aku dimarahi oleh orang-orang pusat di sana karena terus mengganti alat latihan!"
Jungkook mendengus, "Mianhaeyo, aku kehilangan akal saat menghancurkan samsak tinju di sini. Tapi aku yakin alat-alat latihan lainnya rusak karena digunakan oleh Namjoon-hyung."
Hoseok mengacungkan kedua tangannya ke arah Jungkook dan memasang wajah terpana, "Ah! Tentu saja! Namjoon-ssi! Saat barang-barang di sini rusak, justru di saat bersamaan dia yang paling banyak menggunakan ruang latihan!"
Alpha yang lebih muda itu tidak menarik otot wajah sama sekali ketika Hoseok tertawa lepas di depannya.
Menyadari ekspresi di wajahnya, Hoseok menghentikan tawanya dan menepuk bahu Jungkook dengan wajah prihatin, "Jungkook-ah, aku tahu bahwa berat bagimu mendapati Taehyung berbeda dengan Taehyung yang dulu. Tapi jangan sampai semua ini mempengaruhi perasaan dan pikiranmu di medan perang, oke?"
"Ne." Jungkook mengangguk.
Hoseok menaruh trolleynya dan pergi meninggalkan Jungkook sendirian di ruang latihannya. Sambil membalut tangannya dengan kain, Alpha itu mengarahkan pandangannya ke jendela kecil. Melihat langit berubah warna menjadi merah keabu-abuan—yang ia ketahui semenjak beberapa tahun lalu bahwa pertanda hujan asam akan segera turun.
Semenjak perang meletus 14 tahun yang lalu, cuaca di seluruh dunia memburuk. Kini di Korea pun hanya ada 3 musim. Musim kemarau yang perkepanjangan, musim hujan yang terkadang diikuti dengan hujan asam, dan musim dingin yang mematikan. Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan persediaan air semakin terbatas, hujan asam menyebabkan kendaraan dan bangunan mudah lapuk, serta musim dingin yang disertai bongkahan es. Musim-musim tersebut tidak hanya membuat malapetaka bagi Korea, tetapi juga telah menghilangkan beberapa desa kecil di Korea.
Busan, tempat kelahirannya dulu, kini hanya sebagian saja yang tersisa. Ia ingat beberapa tahun lalu, tidak lama setelah ibunya meninggal, ayah dan kakaknya pergi membawanya keluar Busan menuju ke Seoul karena tiba-tiba terjadi kebakaran hutan hebat akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka memulai hidup baru di sana, meski harus berusaha bergantung pada saudara jauh—dan hidup luntang lantung karena persediaan makan yang mulai terbatas.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak memakan nasi, mencoba rasa kimchi seperti apa di lidahnya.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pergi ke taman tempat ia bermain ketika kecil.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak bertemu Appa maupun Hyungnya.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak merasakan musim semi.
Seseorang menarik rambutnya, dan Jungkook terkesiap.
"Apa—"
Sesaat begitu ia membalikkan tubuh, ia mencium aroma yang bertahun-tahun lamanya tidak pernah ia cium. Seperti percampuran antara susu dan pepohonan—yang samar-samar diingatnya. Aroma yang memikat.
Ia melihat Taehyung berdiri di belakangnya, wajahnya datar seperti biasa ia lihat, sementara tangannya masih berusaha menggapai rambut di kepala Jungkook.
Jika kalian menghabiskan waktu lama dengan Omega, kalian akan mulai mengenali aroma tubuh mereka, ia ingat kalimat itu di suatu buku yang pernah ia baca.
Tapi ia tidak menyangka ia akan mencium aroma senikmat ini dari seorang Taehyung. Ya, seorang Taehyung.
"Aku tidak menyangka kau akan setinggi ini. Padahal dulu tinggi kita selalu sepantaran," kata Taehyung. "Kau banyak berubah, Jungkook-ah."
Begitu pula denganmu.
"Kenapa kau tiba-tiba keluar dari kamarmu?"
"Aku bosan. Jimin dan Baekhyun tidak ada di kamar mereka, dan seharian tidak ada orang datang ke kamarku. Jadi kupikir lebih baik aku keluar kamar saja," Omega itu berjalan mengitari ruang latihan dengan wajah kagum bercampur penasaran, "Aku tidak menyangka ruang latihan kalian akan sebesar ini."
"Justru ini ruangan terkecil yang pernah kugunakan untuk latihan, berbeda dengan ruangan yang pernah kita pakai sebagai latihan militer awal," sahut Jungkook menanggapi.
Ya, ia berkata sejujurnya. Ruangan berukuran seratus meter persegi itu digunakan sebagai area berlatih bela diri tangan kosong, alat-alat weightlifting, area latihan menembak, dan masih banyak lagi. Jungkook sendiri pun terpukau karena semua alat-alat latihan yang mereka miliki bisa muat di satu tempat seperti ini.
"Hmm, begitukah?" Taehyung berdeham pelan, "Kurasa aku terlalu banyak tinggal di tempat sempit, sampai-sampai aku melihat tempat ini sebagai tempat yang begitu besar."
Alpha yang lebih muda itu terlalu gatal untuk menanyakan bagaimana kondisi tempat yang ia tinggali sebagai Omega di Korea Utara, tetapi terlalu takut untuk menyakiti perasaan Taehyung. Pada akhirnya, Alpha itu hanya memilih diam dan memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh Omega di hadapannya.
Taehyung berjalan menuju tempat latihan menembak, dan mengambil sebuah pistol berpeluru karet. Ia mengarahkan pistol itu ke sasaran, sebelum akhirnya menarik pelatuk. Peluru karet tepat menembus di tengah-tengah sasaran.
Melihat hal itu, Jungkook spontan berseru, "Uwa! Kau melakukannya, Hyung!"
"Kau tidak mungkin lupa bahwa aku dulu adalah salah satu penembak paling mahir di batallion ke 13 'kan?" Taehyung tersenyum bangga.
Jungkook tanpa sadar ikut tersenyum melihat senyuman kotak yang menjadi ciri khas Taehyung selama ini. Sembilan tahun lamanya ia harus menunggu untuk melihat senyuman itu lagi.
"Tapi kukira—selama kau tidak ada—kau akan lupa bagaimana caranya menembak!"
"Tentu saja tidak! Aku—" ekspresi Taehyung berubah muram dengan cepat, "Kau tahu, selama aku ada di ruang tahanan—jika ada tentara yang mendatangi selku, aku akan mencuri pistol dari mereka selama mereka tertidur. Tapi begitu aku ketahuan, mereka langsung—menghabisiku."
Menghabisi. Jungkook merasa ingin memusnahkan orang-orang yang pernah menyentuh Taehyung.
Samar-samar ia bisa membayangkan Taehyung, dengan kedua tangannya ditahan dengan tangan yang lebih besar, berusaha berontak tetapi terlalu lemah untuk melawan.
"Aku... Aku mengerti, Hyung. Kau tidak perlu menceritakannya," ujar Jungkook akhirnya.
Taehyung hanya mengangguk pelan, lega karena Jungkook menghentikan ceritanya. "Kau mau mencoba berlomba dalam menembak denganku? Aku tak yakin bahwa kemampuanmu akan lebih baik daripada aku."
Seringaian muncul di wajah Jungkook, menampilkan gigi kelincinya yang khas, "Kau berani bertaruh? Apa hukumannya bagi yang kalah?"
"Push up?" Taehyung memberi ide, "Aku tidak yakin bahwa aku bisa melakukan push up, jadi jika aku kalah, kau boleh memukul tanganku dengan dua jari."
"Curang! Kenapa aku push up sedangkan kau hanya dipukul di tangan?"
"Ini adil, babo! Kau pikir sudah berapa tahun aku tidak latihan fisik, eo?"
Jungkook mengerang—tetapi akhirnya menyetujui kesepakatan yang ditawarkan Taehyung.
Keduanya mengatur posisi, masing-masing siap dengan posisi menembak.
BANG
BANG
"Aku menang!" seru Jungkook, begitu tahu bahwa kelima pelurunya tepat mengenai tengah sasaran, menyebabkan sebuah permukaan yang sedikit berlubang pada sasaran.
Taehyung berseru kesal, "Tentu saja kau menang, kau punya waktu selama bertahun-tahun menggunakan pistol!"
"Hukuman tetaplah hukuman, Hyung," seru Jungkook senang, tanpa sadar menyanyikan kalimat yang barusan diucapkannya.
Taehyung menunjuk ke ring tinju, "Bagaimana kalau hukumannya setelah kau berhasil mengalahkanku dalam Judo? Aku masih bisa melakukan Judo!"
Jungkook ingin memotong ucapannya dengan menambahkan Tapi kau baru pulih seminggu lalu setelah melahirkan, dan sekarang kau ingin bertanding Judo denganku?! "Uh, Hyung, bahkan tubuhku sekarang hampir dua kali lipat darimu," Alpha itu mengangkat salah satu lengannya yang kekar dengan timbunan otot-otot, sengaja menyombongkan tubuhnya yang kini telah berubah atlestis ketimbang beberapa tahun lalu. Jika beberapa tahun lalu ia adalah seorang Alpha kecil yang bertubuh kurus dan lemah, maka sekarang ia adalah seorang Alpha dengan tubuh idaman—otot yang menonjol hampir di setiap bagian tubuhnya.
Sementara Taehyung, jika dulu ia adalah seorang Alpha dengan postur cukup berisi dengan otot yang lumayan di tubuhnya dan mungkin hampir sama atletisnya dengan Jungkook sekarang, maka saat ini ia hanya seorang Omega dengan tubuh kurus (Apa mereka teratur memberinya makan?)—kecuali bagian perutnya yang lebih berisi—kemungkinan besar karena selama bertahun-tahun ia telah melahirkan sebanyak lebih dari 4 kali.
"Hmm, bagaimana kalau kita mencobanya dulu?" tanya Taehyung mulai ragu dengan idenya. "Aku masih ingat beberapa gerakan Judo—dan kurasa aku masih bisa mempraktikannya."
"Aku takut untuk menyakitimu, Hyung..."
Taehyung memasang wajah kesal, "Apa karena sekarang ini aku seorang Omega? Makanya kau bilang begitu?"
"Hyung—"
"Jadi kau mau atau tidak?"
Jungkook hanya menggeleng lemah, tetapi senyuman muncul di wajahnya. Taehyung yang dikenalnya dulu selalu memaksa, bahkan akan menyeretnya jika Jungkook tidak pernah menuruti kemauannya. Ia naik duluan ke ring tinju dan kemudian mengulurkan tangannya pada Taehyung.
"Naiklah kalau begitu."
Taehyung membalas senyumannya dan meraih tangan Jungkook, "Jangan ragu untuk mengeluarkan semua kemampuanmu Jungkook! Aku ingin tahu sampai mana kemampuanmu sekarang ini. Kudengar dari Jin-hyung kau menjadi wakil Namjoon-hyung."
"Begitulah," Jungkook mengendikkan bahunya, berusaha untuk acuh tidak acuh.
"Apa kau yang terkuat sekarang ini?"
"Kalau dibandingkan dengan Hobi-hyung yang mahir senjata ataupun Jongdae-hyung dalam pertarungan jarang dekat, kurasa aku hanya lebih tangkas jika berhadapan satu lawan satu."
"Kau bohong," kata Taehyung, "Kau dijuluki Hwanggeum Maknae oleh Jin-hyung bukan tanpa sebab kan?"
"Bagaimana kalau kita coba buktikan sekarang?"
Keduanya berdiri saling berhadapan. Jungkook tidak berhenti memandangi Taehyung.
Shi-bal, ia bertambah cantik saja—seperti bukan Alpha pada umumnya.
Dulu, bila Jungkook ingat dengan baik, Taehyung memiliki dua alis yang tajam dan ekspresi yang sedikit sangar jika ia berubah serius. Tapi kini—entah apa karena pengaruh hormon dan perubahan gendernya yang sekarang ini menjadi seorang Omega, Taehyung berubah menjadi lebih cantik. Mungkin ia masih memiliki sisi-sisi kejantanan yang dimiliki oleh seorang Alpha, tapi semuanya seperti digantikan oleh sisi yang pada umumnya cenderung dimiliki oleh seorang Omega.
Tahi lalat di wajahnya membuat wajahnya semakin eksotis, dan Jungkook baru menyadarinya hari ini. Bibirnya—meski tidak seranum bibir Jimin ataupun Seokjin—tetapi garis mulutnya terlihat elegan dan indah. Alpha itu tanpa sadar menjilat bibirnya, membayangkan bagaimana rasanya jika ia mengulum bibir itu dengan bibirnya. Dan juga bentuk tubuhnya. Yang membedakan pada bentuk tubuh Omega adalah pinggul mereka yang cenderung lebih lebar daripada kebanyakan Alpha maupun Beta pria.
Pikiran Jungkook kembali melayang saat ia menaruh kedua tangannya di antara pinggul tersebut, menggoyang-goyangkannya sementara ia—
Kenapa tiba-tiba kau semesum ini, Jungkook? Ia memaki dirinya sendiri.
Taehyung memberi aba-aba padanya untuk bersiap-siap setelah keduanya saling membungkuk memberi hormat. Setelah itu ia melihat Taehyung berjalan mendekatinya, begitu pula dirinya. Kedua tangan Taehyung memegang baju dan bagian celananya—yang kemudian ditiru oleh Jungkook. Jungkook menahan napasnya begitu ia merasakan aroma tubuh Omega itu menguar ke wajahnya.
Kedua-duanya masih dalam posisi seimbang, sampai akhirnya Taehyung memuntir kakinya di sekitar betis Jungkook, membuat Alpha itu nyaris kehilangan keseimbangan. Tetapi kemudian oleh Jungkook—dengan mudahnya—ia mendorong tubuh Taehyung, sebelum akhirnya Omega itu jatuh dengan punggung menyentuh permukaan lantai ring terlebih dahulu. Jungkook yang juga kehilangan keseimbangan menjatuhkan dirinya ke atas tubuh Taehyung, yang ditahannya dengan kedua tangannya.
"Ah! Tentu saja kau yang menang!" seru Taehyung kesal, "Aku harus berlatih Judo lagi sampai aku bisa mengalahkanmu, Jungkook-ah! Juga latihan menggunakan senjata api!" ia masih dalam posisi terlentang di atas lantai.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin berlatih lagi?"
Taehyung menatapnya dengan tatapan datar, "Bagaimana aku melindungi diriku sendiri jika aku tidak berlatih bela diri, huh? Lagipula sekarang aku juga harus melindungi Jimin dan Baekhyun. Baekhyun yang paling lemah di antara kami, dan Jimin—dia baru 18 tahun..."
Jungkook tidak bergerak dari posisinya, tangan dan tubuhnya masih mengunci tubuh Taehyung di bawahnya, "Aku mengerti," kata Alpha itu. "Aku bisa mengajarimu latihan."
Taehyung tertawa pelan, "Kau sudah tumbuh besar sekali, Jungkook-ah! Bahkan tubuhmu lebih berat dan lebih tinggi daripada yang kuingat. Kau juga—" Omega itu menjilat bibirnya, "Kau juga menjadi Alpha yang hebat. Auramu berubah." Tangannya bergerak untuk menyentuh dagu Alpha itu, "Kenapa sekarang wajahmu begitu serius? Kapan terakhir kali kau tertawa?"
Jungkook teringat akan pertanyaan Yugyeom yang sering dilontarkan padanya.
Alpha itu menjatuhkan kepalanya ke leher Taehyung, mencium aroma manis yang semakin pekat. Dilihatnya ada dua bekas gigitan yang berbentuk seperti luka yang sudah lama mengering. Apakah ini perbuatan Alpha di daerah perbatasan? Jungkook memejamkan matanya dan perlahan ia bisa merasakan tubuh Omega itu menegang, "Hyung," kata Alpha itu memulai, "—semenjak kau pergi, aku—aku seperti kehilangan semuanya."
Taehyung yang pada awalnya tersenyum padanya, kini berubah larut dan menjadi diam mendengar pernyataan yang meluncur dari bibir Alpha itu.
Merasa agak canggung dengan jeda yang tertanam di antara mereka, Jungkook mengangkat tubuhnya, matanya memandang lurus ke wajah Taehyung. Wangi manis yang ia hirup tadi semakin kuat, dan Jungkook merasakan wajahnya semakin dekat ke wajah Taehyung.
Omega itu mendorong bahu Jungkook dengan keras. "Meomchwoyo."
Kaget dengan reaksi Taehyung, Jungkook langsung kembali mengangkat tubuhnya dengan panik. "Hyung."
Omega itu menelengkan kepalanya ke arah lain, "A-Aku hanya menganggapmu sebagai adik, Jungkook-ah. Dan aku ingin kau mengingat dan terus melihatku sebagai seorang Alpha, bukan sebagai seorang Omega jalang yang sudah digunakan beberapa kali oleh tentara Korea Utara." Taehyung beranjak turun dari ring tinju.
"Taetae-hyung."
Taehyung tidak menoleh. Omega itu terus berjalan keluar dari ruangan latihan, meninggalkan Jungkook yang hanya bisa diam menerima reaksi darinya.
Beberapa menit kemudian, Jungkook menyadari sikapnya tadi dan langsung memaki dirinya sendiri.
Taehyung menganggapnya sebagai adik.
Tetapi Jungkook telah sedikit merusak kepercayaan itu dari Taehyung dengan hampir kehilangan kendali.
Padahal ia hampir mendapatkan sosok Taehyung yang ada di masa lalunya.
"Jungkook babo. Selalu mengacaukan segalanya. Selalu bertindak dengan otot, bukan dengan otak."
25 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
02.21 a.m
Seokjin tidak bisa tidur di kasurnya malam itu. Ia berusaha memejamkan mata. Tetapi pikiran-pikiran buruk berterbangan di kepalanya. Ada sesuatu yang mengganggu malamnya saat ini, tetapi ia tidak tahu apa itu.
Suara hujan—hujan asam—terdengar berjatuhan di atap mereka. Mungkin pagi hari saat mereka terbangun nanti, mereka harus segera mengganti lapisan atap dengan yang baru.
Ia tidak bergeming menatap langit-langit kamar mereka saat Namjoon melingkarkan tangannya ke pinggangnya, mendekap Beta yang lebih tua itu erat di pelukannya. Suara berat bergema di telinganya.
"Kau tidak bisa tidur, Hyung?"
"Pikiranku masih dipenuhi dengan Omega-Omega yang disekap oleh Korea Utara."
"Ada apa dengan mereka?"
"Apakah tidak terpikir olehmu, Joonie?" Seokjin memutar tubuhnya sehingga wajahnya menghadap Alpha di sebelahnya, "Kenapa Omega-Omega yang seharusnya punah bertahun-tahun lalu, justru kini muncul lagi? Bukankah Omega terakhir diumumkan berada di Jepang? Sebelum akhirnya Omega itu juga mati perlahan karena wabah penyakit? Pasti Korea Utara melakukan sesuatu yang berhubungan dengan eksperimen berbahaya. Entah apa eksperimen yang mereka lakukan," Beta itu membenamkan kepalanya ke dada bidang Namjoon. "Taehyung yang dulu adalah Alpha, sekarang seorang Omega. Bahkan ia sudah melahirkan sebanyak lebih dari empat kali! Dua orang Omega yang lainnya pun—mereka dulunya merupakan Beta..."
"Bukankah itu hal yang bagus? Artinya kita bisa mengembalikan manusia ke dunia ini."
"Tapi aku hanya ingin tahu, apa yang bisa membuat mereka merubah gender kedua mereka," Beta itu kembali fokus dengan suara rintik hujan di luar, wajahnya termenung sedih, "Jimin dan Baekhyun sendiri sudah bilang bahwa bayi-bayi yang lahir selama ini, hanya ada satu anak saja yang selamat. Apa ini sudah menjadi takdir kita untuk menjadi umat manusia yang terakhir?"
"Karena memang sudah dipastikan bahwa manusia akan punah, Seokjin. Sudah menjadi takdir kita," Namjoon mengelus kepala Seokjin dengan lembut. Matanya kembali terpejam karena rasa kantuk, "Pada akhirnya, semua manusia akan mati. Jika alam sekarat, maka seluruh makhluk hidup pun akan ikut sekarat bersamanya."
Seokjin ikut memejamkan matanya, "Aku takut, Joonie. Aku takut akan mati. Aku takut manusia tidak akan pernah ada lagi di muka bumi ini."
"Ssh," Namjoon mendiamkan kekasihnya itu, "Semua ini karena kesalahan manusia yang telah merusak alam. Maka alam menebus kesalahan kita dengan memberikan wabah penyakit."
"Justru kita yang menanggung kesalahan orang-orang sebelum kita," gumam Seokjin dengan suara lirih.
"Hyung, tidurlah."
Terdengar suara gaduh di dekat kamar mereka. Seokjin langsung duduk tegak di tempat tidurnya, sementara Namjoon yang setengah mengantuk berusaha membuka matanya.
"Suara apa itu?"
Terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka, "Jin-hyung! Buka pintunya! Ada yang terluka!"
Buru-buru Seokjin turun dari tempat tidur. Ia membuka kunci pintu dan melihat Baekhyun berdiri dengan wajah cemas dan khawatir.
"Ada apa malam-malam begini, Baekhyun-ah? Apa terjadi sesuatu pada Taehyung lagi?"
"Ini Jimin—," katanya dengan napas tersengal-sengal, "Ia terjatuh di dapur—tangannya sobek karena—"
Tanpa mendengar penjelasan Baekhyun, Seokjin langsung meninggalkan Namjoon sendirian di kamar mereka, sementara Baekhyun mengekor di belakangnya. Dilihatnya tangan Jimin berlumuran darah, wajahnya meringis karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Sementara di dekat meja, tergeletak knife-hand yang juga berlumuran darah. Dengan cepat Seokjin mengambil kotak obat dan menarik tangan Jimin ke wastafel—mencucinya secepat mungkin—agar tangan Jimin bersih dari darah sekaligus menghemat persediaan air.
Kemudian ia meneteskan alkohol ke tangan Omega mungil itu, menghasilkan suara pekikan kesakitan dari Jimin. Dengan cepat ia membalur tangan Jimin dengan obat dan perban.
"Pendarahannya sudah terhenti. Kuharap kau akan lebih berhati-hati jika memegang pisau lagi nantinya. Sekarang bakteri penyebab pembusukan daging sering bermunculan di mana-mana," kata Seokjin. "Kenapa kalian tidak tidur jam segini?"
"Aku lapar—" kata Jimin merasa bersalah, "Makanya aku meminta Baek-hyung untuk menemaniku ke dapur. Tapi ternyata aku masih payah dalam menggunakan pisau."
"Jika ada di antara kalian yang lapar, kalian bisa mengambilnya di lemari es di pojok sana," Seokjin menunjuk ke pojok dapur, "Tapi kuharap kalian mengerti untuk tidak terlalu sering mengambil makanan di sana. Makanan akhir-akhir ini sulit didapatkan."
"Kami mengerti, Hyung. Gamsahamnida," Baekhyun menolong Jimin berdiri dari lantai dan keduanya setengah berlari mengikuti Seokjin. Seokjin tidak memperhatikan mereka sedang mengikutinya sampai ia mendengar Baekhyun berkata, "Hyung, jika kau keberatan, aku juga ingin menjadi tenaga medis."
Seokjin membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun, mulutnya terbuka lebar—seolah-olah terkejut dengan ucapan Baekhyun, "Kau serius mau jadi tenaga medis?"
Baekhyun mengangguk, "Aku—aku hanya berpikir, di antara orang sebanyak ini, jika kau sendirian yang membantu mengobati luka mereka, pasti kau akan kewalahan," ia tersenyum agak malu-malu. "Jika kau tidak keberatan, mungkin aku bisa menjadi asistenmu?"
Hati kecil Seokjin merasa tersentuh, "Oh? Kau berpikir seperti itu? Tentu saja dengan senang hati aku akan menerimamu sebagai asisten! Besok kau boleh membantuku kalau kau mau."
Baekhyun tersenyum lebar pada Seokjin. Mereka berpisah di ujung tenda, Seokjin pergi ke kamarnya dan Namjoon, sementara Baekhyun membawa Jimin ke kamar mereka. Saat mereka hampir sampai di tenda yang berisi kamar tidur mereka, kedua Omega itu berpapasan dengan Chanyeol.
"Oh!" tubuh mungil Jimin menabrak dada Chanyeol dengan suara benturan kecil. Baekhyun langsung menahan tubuh Omega yang lebih muda itu agar tubuhnya tidak terjuntai ke belakang. Matanya langsung menatap Chanyeol.
Chanyeol balas menatapnya dengan tatapan seperti hendak menindas.
"Uh," Baekhyun kehilangan kata-katanya saat Alpha bertubuh tinggi itu mengernyitkan dahinya. "H-ha—"
"Kenapa kalian berkeliaran malam-malam begini?" tanyanya, tiba-tiba suaranya berubah lembut.
"Chanyeol-hyung!" seru Jimin, "Maafkan kami, kami baru saja dari dapur tadi. Aku kelaparan, makanya aku meminta Baek-hyung untuk menemaniku."
"Begitukah?" Chanyeol menyelidiki keduanya dengan tatapan datar—membuat Baekhyun merasakan lehernya menegang. Tetapi kemudian Alpha itu menujuk ke tangan Jimin yang diperban, "Tanganmu tidak apa-apa?"
"Oh ini, ini hanya terkoyak oleh pisau di dapur—"
Chanyeol menarik tangan Jimin dan memperhatikan tangan mungil Omega itu dengan seksama, "Kau tidak bisa bilang ini hanya terkoyak pisau. Lain kali kau harus lebih berhati-hati, Jimin-ah."
"Ne, ne, aku mengerti!"
Alpha bertubuh tinggi itu pergi ke tendanya setelah ia yakin bahwa kedua Omega itu telah sampai di kamar mereka dengan selamat. Baekhyun mencuri-curi pandangan ke arah Chanyeol.
"Aku tidak mengerti, kenapa dia bisa mengenalmu? Dan kenapa hubungan kalian sudah seakrab tadi?" tanya Baekhyun menuntut. Ia mengira Chanyeol adalah Alpha yang mengerikan dan jahat—sama seperti Alpha-Alpha lain yang mereka temui sebelum diselamatkan oleh tentara Korea Selatan. Tetapi kenyataannya adalah, Alpha-Alpha di sini sangat menjaga naluri agresi dan segala tindak tanduk mereka terhadap Baekhyun, Jimin dan Taehyung.
"Dia menemaniku berjalan-jalan di sekitar kamp militer sini, setelah Jin-hyung melarangku keluar sendirian. Dia orang yang baik—berbeda dengan orang-orang yang selalu kita temui setiap malam, Hyung."
Baekhyun berdehum, "Aku tahu. Alpha-Alpha di sini baik. Ketua mereka juga. Dan Jeon Jungkook—tentara yang kelihatannya masih muda tapi sudah menjadi wakil Kim Namjoon. Tampaknya dia sangat menyukai V—um... Tae-hyung." Lidahnya masih terasa asing. Semasa mereka masih berstatus sebagai Omega di bawah pengawasan tentara Korea Utara, Taehyung biasa dipanggil oleh tentara di sana dengan sebutan V.
Jika ia dengar dari Omega-Omega yang lebih tua, karena begitu menjadi Omega, Taehyung langsung menjadi yang paling favorit di antara para tentara. Visual wajahnya yang indah, dan lubang kemaluannya yang sangat disukai oleh para tentara. Mereka sering kali mengatakan pada Omega yang lain bahwa berhubungan seks dengan Taehyung adalah salah satu nikmat paling membahagiakan yang pernah mereka rasakan. Seperti berhubungan dengan seorang Omega yang masih perawan.
Baekhyun masih merinding memikirkannya.
Bahkan setelah ia berhasil melahirkan seorang anak dengan selamat, Hyung-sik, jenderal yang menguasai Batallion ke 3 khusus daerah perbatasan, langsung menjadikannya sebagai Omega pribadinya—bersama dengan Seojoon, wakilnya yang juga seorang Alpha. Hyung-siklah yang menjadi ayah dari anak pertama Taehyung yang berhasil selamat; Jihoon.
Tetapi Alpha itu tidak bisa menjadi ayah yang tepat bagi Jihoon. Ia langsung melakukan eksperimen pada anaknya tersebut, berupaya untuk mengubah anaknya menjadi Omega secara alami melalui percobaan-percobaan mengerikan. Tetapi begitu diketahui oleh pemerintah Korea Utara, anak itu langsung dibawa ke Pyongyang.
Meski Baekhyun yakin bahwa hidup anak itu tidak akan lebih buruk daripada apa yang telah Hyung-sik lakukan padanya.
Bahkan dengan Omeganya sendiri, Hyung-sik bisa berubah menjadi sosok mengerikan. Beberapa kali ia menyiksa Taehyung secara fisik. Beberapa saat lalu sebelum Taehyung hamil dengan anaknya yang terakhir, Baekhyun selalu mendapati luka-luka lebam di sekitar tubuh Taehyung. Bahkan tak jarang Omega yang lebih tua itu pingsan karena malnutrisi dan bekas penyiksaan yang ia terima.
Penderitaan Taehyung selalu jadi yang terburuk di antara mereka semua.
Bahkan penyiksaan yang diberikan pada Baekhyun selama ia menjadi budak seks tidak ada apa-apanya. Ia hanya disiksa jika ia tidak menurut—dan oleh karena itu hampir setiap saat ia selalu mengikuti apa yang diinginkan oleh tentara yang menggunakannya.
Baekhyun menyisir rambutnya yang berwarna hitam jelaga dan menyentuh tengkuknya, membayangkan hidupnya jika ia terus menjadi seorang Beta.
"Hyung, kita sudah sampai."
"Oh."
Omega yang lebih tua itu memandangi Jimin. "Jimin-ah."
"Ne?"
"Apakah saat ini kehidupan kita akan lebih baik?"
Jimin balas memandangnya.
"Aku berharap demikian, Hyung."
Keduanya berpisah di depan pintu kamar masing-masing.
25 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
10.44 a.m
Kyungsoo menjadi yang pertama kali menyadari bahwa ada orang lain di sekitar basis militer mereka. Ketika ia menggunakan lensa binokularnya dari ruang jaga, matanya mencurigai sebuah kepala manusia—tidak jauh dari area mereka menaruh ranjau untuk jebakan. Tidak lama ia memperhatikan adanya orang lain di basis militer lain, kali ini ia menyaksikan beberapa buah mobil bersenjata—Marauder—berjalan menuju basis mereka. Ia langsung menghubungi Hyun-woo yang bertugas jaga bersama Junmyeon, Jongdae dan Yongguk melalui HT yang telah tersambung langsung ke jam tangan yang mereka kenakan.
"Mayday. Arah jam tiga. Mobil bersenjata. Over."
Di kejauhan ia bisa melihat Hyun-woo, Junmyeon, Jongdae dan Yongguk berlari kembali ke kamp militer mereka. Tetapi tiba-tiba sebuah tembakan diarahkan ketiga orang Beta yang berusaha melarikan diri—musuh langsung menyadari keberadaan mereka.
Kyungsoo dengan panik langsung menyalakan pemancar radio dan menghubungi Namjoon yang berada di dalam.
"Acknowledge. Mayday. DO. 33B. Ada tiga mobil bersenjata dan beberapa tentara. Mereka menembak Woo, Chen dan Suho. Over."
Beta itu menunggu jawaban dari Yoongi saat sebuah pisau terhempas ke lehernya. Terkesiap, Kyungsoo langsung membalikkan tubuhnya dan hendak memuntir tangan orang yang memegang pisau tersebut, tetapi dengan cepat orang itu menangkap kedua tangannya dan menjatuhkan tubuh Kyungsoo ke atas meja. Chip penghubung HT yang dari tadi berada di tangannya jatuh terlempar keluar jangkauannya, dan Kyungsoo merasakan kepalanya ditekan dengan kasar. Tenaganya untuk melawan tiba-tiba hilang.
"Kalian—"
"Ssh," seorang Alpha dengan rambut berwarna hitam dan kulit gelap menaruh jari telunjuknya ke atas mulut Kyungsoo, menyuruhnya diam, "Bisa tolong tunjukkan di mana Omega-Omega itu berada?"
25 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
10.46 a.m
Yoongi nyaris berteriak panik pada Namjoon begitu ia menerima panggilan darurat dari Kyungsoo.
"Namjoon-daewi-nim! Panggilan darurat dari Kyungsoo. Ada tentara Korea Utara menyusup ke daerah kita dan mereka membawa 3 kendaraan bersenjata. Mereka juga sudah mulai menembaki Hyun-woo, Jongdae, Junmyeon, dan Yongguk. Tidak ada balasan dari ketiganya."
Namjoon langsung berdiri dari kursinya, "Shi-bal! Mereka sudah mengetahui keberadaan kita! Beritahu Hoseok dan Won-sik untuk segera menyiapkan mobil! Kita harus pergi sekarang!" ia langsung beralih pada Seokjin yang dari tadi mengamati dengan resah dan waswas, "Beritahu yang lain bahwa kita harus pergi sekarang!"
Tanpa disuruh dua kali, Beta itu langsung menghilang untuk memberi kabar pada yang lain.
Namjoon bergerak untuk mengambil pistol dan persenjataannya yang lain dan langsung meminta Yoongi untuk segera bersiap-siap pergi.
Pikirannya sesaat melayang pada ketiga bawahannya yang kemungkinan besar sudah tidak bernyawa. Tetapi ia tidak bisa memastikannya jika basis mereka sudah terkepung oleh pasukan tentara Korea Utara. Rasa bersalah menyelimuti dirinya, dan ia berharap bahwa ia sudah membuat keputusan yang tepat.
Semoga kalian selamat.
25 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
10.50 a.m
"Cepat, cepat! Kalian harus segera membereskan barang-barang kalian! Bawa yang memang diperlukan dan tinggalkan yang tidak perlu kalian bawa!"
Seisi kamp langsung berubah panik begitu mengetahui kabar bahwa pasukan Korea Utara telah sampai di daerah basis militer mereka. Masalahnya adalah mereka hanya berupa pasukan khusus yang terdiri dari beberapa orang, sementara pasukan yang dibawa oleh Korea Utara kemungkinan terdiri dari 30 orang atau lebih.
Jungkook merasakan adrenalinnya terpacu begitu mendengar bahwa Korea Utara menyerang daerah kamp mereka. Begitu ia selesai mengemasi barang-barangnya, ia langsung berlari ke kamar Taehyung, dan mendapati Omega itu sedang terduduk di atas kasurnya dengan wajah pucat. Tangannya terpilin dengan posisi canggung, seluruh tubuhnya gemetaran karena rasa panik bercampur rasa ketakutan.
"Jungkook-ah, me-mereka—mereka datang untuk kami—pasti mereka ingin-"
Jungkook mendekap bahu Taehyung, "Jangan kau cemaskan soal itu. Sekarang kita akan pergi ke tempat yang lebih aman sebelum mereka berhasil merebutmu kembali." Ia melihat Taehyung hanya mengangguk lemah, "Kalau begitu, sekarang kita pergi keluar. Hobi-Hyung pasti sudah menyiapkan mobil untuk kita pergi."
Keduanya keluar dari kamar Taehyung dan berpapasan dengan Chanyeol yang sedang mengawal Baekhyun dan Jimin keluar dari kamar mereka. Jungkook dan Chanyeol—seolah-olah mereka saling mengerti pikiran satu sama lain, membawa ketiga Omega itu keluar dari kemp.
Tepat mereka keluar dari kamp, sebuah ledakan terdengar tidak jauh dari ruang pengawas. Suara ledakan tersebut diikuti dengan getaran hebat, membuat kelima orang tersebut langsung menundukkan tubuh secara spontan. Begitu keadaan membaik, Jungkook membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak lebar.
Kyuungso.
Kepulan debu yang diiringi suara ban berdecit menyita perhatiannya. Hoseok dan Wonsik, masing-masing membawa kendaraan bersenjata dan satu lagi membawa truk penumpang. Mereka turun dari kendaraan mereka dan langsung membuka pintu mobil. Tanpa dinyana lagi, Hoseok juga memberi senjata pistol pada Taehyung. Omega itu memandangi senjata di tangannya dan Hoseok secara bergantian.
"Senjata untukmu. Kau pasti ingat caranya menembak 'kan?"
Taehyung mengangguk dan langsung mengantongi pistol tersebut di celananya.
Jungkook dan Chanyeol membantu ketiga Omega untuk naik ke kendaraan, sementara Yugyeom dan Daehyun sibuk menarik tas berisi berbagai macam persediaan amunisi dan senjata tambahan. Sementara itu Seokjin mengabarkan bahwa masih ada dua orang lagi yang belum muncul, Namjoon dan Yoongi. Dengan waswas, Jungkook mengambil senjatanya dan turun dari kendaraan.
"Tunggu, Jungkook-ah! Kau mau ke mana?!" tanya Seokjin khawatir, melihat anggota termuda dan wakil kapten mereka tiba-tiba turun dari kendaraan tanpa berkata apa-apa.
"Menjemput Yoongi-hyung dan Namjoon-hyung."
Seokjin hanya mengangguk, "Berhati-hatilah!"
Taehyung hendak ikut turun dan pergi menemani Jungkook, tetapi Yugyeom menahannya, "Kau tidak bisa pergi, Hyung. Karena kau salah satu sasaran mereka."
Omega itu hanya memandang Yugyeom dengan netra yang nanar.
Semoga kau selamat, Jungkook-ah.
25 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets Base Camp
11.08 a.m
Yoongi dan Namjoon dengan hati-hati, berusaha menyelinap keluar dari ruang pertemuan mereka. Ada empat orang tentara berjaga, berseragam dan bersenjata lengkap. Akan berbahaya jika mereka terang-terangan melakukan penyerangan. Sambil memberi isyarat satu sama lain, Yoongi berjalan di depan Namjoon sambil berusaha melewati dua orang tentara yang sedang sibuk memeriksa lorong kamp.
Sebuah suara membekukan keduanya.
"Hyung, kami menemukan dua orang!"
Seorang tentara berseragam lengkap memberi isyarat pada teman-temannya yang lain.
"Cepat lari!" seru Namjoon sambil menarik Yoongi yang kini berada di belakangnya. Keduanya berlari berlawanan arah, sementara suara langkah kaki dan suara derapan tentara-tentara Korea Utara mengejar dari segala penjuru. Jantung Namjoon terasa mau pecah. Keadaan berubah dari tenang menjadi berbahaya dalam sekejap.
Suara tembakan dilepaskan memekakan telinga kedua Alpha yang berusaha melarikan diri itu.
"Tiarap!" tiba-tiba sebuah suara memecah derungan senapan.
Jungkook berdiri di hadapan Namjoon dan Yoongi, tangannya memegang sebuah granat. Tanpa pikir panjang, Alpha yang lebih muda itu melempar granat di tangannya ke gerombolan tentara yang sibuk menembaki mereka.
Ketiganya langsung melompat keluar kamp saat getaran hebat berguncang disertai suara ledakan dan suara teriakan kesakitan yang memekakan gendang telinga. Asap dan bau tengik gosong tubuh manusia langsung memenuhi hidung mereka. Jungkook langsung menarik kedua Alpha yang lebih tua itu menjauh dari kamp.
"Kau memang hebat, Jungkook-ah! Tanpamu, mungkin kami sudah hancur lebur ditembaki oleh mereka!" seru Yoongi memuji keberanian Alpha yang lebih muda tersebut.
Jungkook tidak merespon, terus berlari ke depan, sementara suara tembakan semakin menjadi-jadi di belakang mereka.
Tiba-tiba sebuah kendaraan yang telah dipersenjatai dan dilapisi dengan baja, serta sebuah truk bermuatan penumpang berhenti tepat di hadapan mereka. Hoseok langsung muncul di antara bukaan kecil pada kendaraan tersebut dan berseru, "Cepat naik! Ada dua kendaraan lain yang mengejar kami!"
Sementara Namjoon naik ke kendaraan bersenjata, Jungkook dan Yoongi naik ke kendaraan truk berpenumpang. Di dalam sana ada Taehyung, Jimin, Baekhyun, Chanyeol, dan Seokjin. Sementara Yugyeom dan Daehyun berada di dalam kendaraan bersenjata bersama Hoseok dan Namjoon.
Begitu melihat Jungkook menaiki truk, Taehyung langsung melempar pelukan ke tubuh Alpha tersebut.
Mata berwarna perak itu berkaca-kaca oleh air mata, "Kukira kau—"
"Aku baik-baik saja, Hyung!" Jungkook hanya tersenyum dengan gigi kelincinya—membuat Seokjin, Yoongi dan Chanyeol saling melempar pandangan ke satu sama lain. Barusan ia tersenyum?
Tiba-tiba truk berbelok tajam dan nyaris melempar penumpang di dalam keranda keluar di jalanan. Suara tembakan kembali menghiasi sekitar mereka—menciptakan kepulan debu di udara. Seokjin langsung mengeluarkan masker dan membagikannya ketiga Omega di dalam truk.
"Pakai ini. Udara akan semakin memburuk begitu kita keluar dari perbatasan," kata Seokjin.
Suara tembakan kembali menggema di telinga. Kali ini diikuti dengan penampakan dua kendaraan bersenjata mengepung truk dari dua sisi yang berbeda.
"Mereka mengepung kita! Aku tidak bisa lari dari mereka!" seru Won-sik panik.
"Mundur dan segera cari jalan lain! Biar Yoongi-hyung yang memberi tahu Hobi-Hyung bahwa kita berpindah jalur!" balas Jungkook, memberi instruksi.
Won-sik mengikuti instruksi dari Jungkook dan langsung mengerem secara mendadak, sebelum akhirnya berputar membentuk huruf O pada permukaan tanah. Ia langsung membawa truk kembali mendekati daerah perbatasan, sementara kedua kendaraan Korea Utara berusaha memutar arah. Tetapi dengan cepat Won-sik membawa mereka ke balik pegunungan yang terdiri dari bebatuan, berusaha menghilang dari pandangan mereka.
"Apa kita selamat? Apa mereka sudah pergi?" tanya Jimin pada Seokjin dengan raut wajah cemas.
"Semoga saja begi—"
Tiba-tiba kendaraan bersenjata yang berupa mobil jeep menghadang mereka. Seorang tentara berjaga di atas kap mobil, mengendalikan senapan mesin ke arah truk yang dibawa oleh Won-sik. Beta itu memekik kaget, "Shibal! Berapa banyak mereka yang mengejar kita?!"
Baekhyun ikut berteriak panik saat dua orang tentara Korea Utara, salah seorangnya merobek terpal yang memayungi kepala mereka dan memaksa masuk ke dalam truk. Ia menembaki seisi truk, tetapi dengan cepat Jungkook mengambil pisau bermata pendeknya dan langsung menebas leher tentara itu. Darah segar langsung mengucur deras dari leher orang itu, dan tubuhnya terlempar keluar truk. Sementara tentara satu lagi berhasil mendekap tubuh Taehyung.
Jimin berusaha melepaskan Taehyung, tetapi ia langsung memukul wajah Omega itu dengan sikunya.
"Sekarang jangan melawan," kata tentara itu dengan nada mengancam. Ia menodongkan pistol ke kepala Taehyung, "Jika kalian tidak ingin Omega jalang ini terluka."
Jungkook merasakan emosi di dadanya kembali meluap. Ia bersiap-siap untuk menerjang Beta keparat itu, tetapi Yoongi menahannya.
"Jungkook-ah, jangan bertindak sembarangan—"
"Tapi—"
Taehyung berusaha mengambil pistol yang dari tadi berada di kantung celananya, sementara tangannya yang lain berusaha menghalangi tentara yang menangkapnya dengan berusaha menjauhkan mata pisau dari lehernya. Selang beberapa detik tentara tersebut berjalan mundur menjauhi bagian dalam truk, Taehyung mengarahkannya ke leher Beta tersebut dan menarik pelatuk.
Suara letupan senjata api mengejutkan seisi truk.
Tubuh tentara tersebut kini terkulai lemas dengan darah mengucur deras dari lubang menganga di kerongkongan dan bagian belakang kepalanya. Darah bermuncratan seperti air mancur ke wajah Taehyung.
Seisi truk mendapati Omega itu, dengan ujung pistol tertuju pada tubuh tak bernyawa di atas lantai truk. Tangannya gemetaran saat berusaha membersihkan darah yang mengotori sebagian wajahnya, sedangkan air matanya nyaris jatuh membasahi pipinya. Jungkook menghampiri Omega itu dan langsung menurunkan moncong pistol di tangannya.
"Dia sudah mati, Hyung."
Taehyung hanya menatapnya dengan tatapan kosong, air matanya bercucuran.
Suara kendaraan lain menyita perhatian mereka. Jungkook, Chanyeol, dan Yoongi langsung menyiapkan senjata mereka—bersiap-siap jika ada yang kembali menyerang mereka. Tetapi ternyata di atas kap kendaraan bersenjata tersebut berdiri Yugyeom—dengan setengah wajahnya tertutup oleh masker. Ia melambaikan tangan, memberi instruksi bahwa keadaan untuk sementara aman.
HT di pergelangan tangan Yoongi berdesir dan mulai mengeluarkan bunyi transmisi—dari Namjoon, "RM. Mayday. Tolong beritahu Won-sik untuk mencari tempat yang aman. Kami berhasil mendapatkan Yongguk, tetapi ia terluka parah di bagian perut."
25 Januari 2045
6.41 p.m
Mereka mengungsi ke sebuah pegunungan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka tadi. Pegunungan yang mereka rasa aman karena terletak di ujung tebing dan terdiri dari batu-batuan cadas, dan sedikit pepohonan yang daunnya sudah mengering karena kemarau berkepanjangan. Warna langit kala itu merah seperti darah, bercampur warna hitam jelaga karena polusi udara. Malam menjelang disertai kesunyian, tidak ada suara hewan malam menyambut waktu datangnya sang candra. Hanya sepi, dan suara rintihan kesakitan.
Kelompok Pasukan Brigade Khusus ke 13 itu merasa beruntung dengan keadaan aman sementara disertai penampakan sumber mata air yang entah dari mana, begitu saja mengalir di dalam gua tempat mereka bernaung sekarang. Tetapi air tersebut kini diwadahi di dalam sebuah baskom yang warnanya sudah memerah karena terpolusi oleh darah.
Wajah Hoseok memucat, melihat pemandangan di hadapannya, tetapi ia tidak tega untuk mengalihkan pandangannya dari teman seperjuangannya itu.
Peluh membasahi dahi dan tengkuk Seokjin, tetapi Omega itu tetap berusaha menutup luka menganga di perut Yongguk. Perutnya kini sobek dari bagian dada hingga ke bagian atas perut, memperlihatkan sebagian susunan organ dalam pencernaannya. Darah merembes secara periodik dari tubuhnya. Wajah Beta tersebut kini pucat karena kekurangan darah, tetapi netranya memancarkan bahwa ia harus bertahan hidup lebih lama—meski napasnya menandakan bahwa ia tidak akan bisa menghirup oksigen lebih lama lagi. Setiap kali ia menghirup oksigen, paru-parunya seperti berkontraksi hebat, memaksanya untuk mengeluarkannya kembali secara paksa.
"Dia kehilangan banyak darah," kata Seokjin lirih. Baekhyun membantunya menjahit perut Yongguk, meski wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa mualnya. "Peluru timah mengenai bagian usus besar dan lambungnya. Lambungnya sudah tidak bisa diselamatkan."
Namjoon menggenggam tangan Yongguk yang sudah berada di ambang kematian. Mata Alpha itu nanar—seolah-olah airmatanya mengancam untuk membasahi wajahnya, "Kau sudah berjuang dengan sangat berani, Yongguk-ah."
"A-aku... Jong—Jongdae, Hyun-woo, Junmyeon—mereka—" napasnya terputus-putus, "Mereka semua ditangkap. K-Kyungsoo juga—"
Jungkook mengusap lengan Beta itu. Matanya menatap kosong, tetapi ia tahu apa yang harus ia katakan, "Jika memungkinkan, kami akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan mereka. Sekarang sudah saatnya kau beristirahat."
"Tapi—tapi aku takut mati—aku—"
Airmata mulai membasahi wajah Yugyeom dan Daehyun. Keduanya mengalihkan wajah mereka dari api unggun, tidak bisa menahan tangisan mereka. Sementara Jimin sudah banjir oleh air mata, tetapi wajahnya ia sembunyikan di balik dada Taehyung. Terlalu takut untuk menyaksikan hal buruk yang terjadi di depan mata mereka. Terlalu takut untuk melihat darah yang begitu banyak mengalir dari perut Yongguk.
Hari ini mereka akan kehilangan salah satu teman mereka.
Seisi gua tahu jika dalam setiap misi, sudah pasti akan ada nyawa yang harus dikorbankan.
Tapi ini adalah hal yang berbeda, karena sudah 2 tahun mereka bersama—mengemban tugas bersama. Seperti sebuah keluarga.
"Kau tidak akan mati sendirian," kata Jungkook menenangkannya. "Kami semua ada di sini. Kami semua menemanimu."
Mata Yongguk berkaca-kaca, "Tapi... Setelah ini—aku-aku akan sendiri..an..."
"Hyung," Jungkook mengambil satu tangan Yongguk dan menggenggamnya, kini ia berusaha agar mata Beta tersebut sepadan dengannya, "Setelah ini kau tidak akan sendirian. Kau akan bersama dengan keluargamu di Incheon. Kau akan tenang bersama mereka."
"Ne."
Yongguk hanya menghela napas panjang, berusaha memaksakan sebuah senyuman—dan kemudian ia menutup matanya.
Cukup lama sampai ia berhenti bernapas.
Seokjin menitikkan air mata, "Pukul tujuh lewat sepuluh."
Namjoon berdiri dari tempatnya duduk dan mengusap wajahnya, "Tutup tubuhnya dengan kain yang tersisa," ia beralih pada orang-orang yang tersisa di hadapannya. "Aku dan Jungkook akan menguburkannya malam ini. Hoseok dan Won-sik, kalian membantu kami untuk membawakan tubuh Yongguk ke atas gunung."
Kedua Beta itu hanya mengangguk dan terduduk dalam diam. Hoseok mulai menangis terisak-isak begitu Won-sik menutupi tubuh Yongguk dengan selembar kain berwarna putih—yang memerah begitu menyentuh bagian perutnya.
"Wae, wae," gumam Hoseok lirih.
Yoongi menoleh ke arah Hoseok, matanya merah dan kulitnya terlihat lebih pucat dari biasanya, "Ini bukan pertama kalinya dari kita semua ada yang mati."
"Andwae, ini pertama kalinya di tugas kita, kita kehilangan empat orang yang sudah menjadi keluarga dari kita, dan satu orang lagi kehilangan nyawanya di peperangan ini," kata Jungkook. "Tapi aku bersumpah, jika orang pusat bersedia mengirimi kita bala bantuan, aku akan mengerahkan segala kemampuan untuk menyelamatkan Junmyeon-hyung, Jongdae-hyung, dan Kyungsoo-hyung."
Jika itu mungkin, batin Taehyung putus asa, tetapi ia tidak mengatakannya keras-keras.
Malam itu, tepat pukul 11 malam, Jungkook, Namjoon, Hoseok dan Won-sik membawa tubuh Yongguk yang sudah tidak bernyawa ke atas gunung. Jungkook dan Won-sik menggali tanah sedalam mungkin, tetapi karena mereka kehabisan tenaga akibat porsi makanan yang semakin menipis dan suhu yang turun drastis pada malam hari, mereka harus berbagi tugas dengan Namjoon dan Hoseok—meski Jungkook bersikeras untuk menggali kuburan Yongguk sendiri.
"Setidaknya biarkan aku membantu kalian, Jungkook-ah. Sudah menjadi kewajibanku untuk ikut menguburkannya," kata Namjoon saat Jungkook menolak permintaannya untuk menggantikan Alpha itu menggali tanah kuburan untuk Yongguk.
Setelah satu jam menggali tanah, mereka memasukkan tubuh Yongguk yang tidak bernyawa ke dalam tanah. Satu persatu dari keempatnya mengucapkan salam perpisahan, diakhiri dengan Namjoon yang seolah-olah memberi pidato singkat.
Sudah lama sekali semenjak perang meletus, mereka tidak pernah menguburkan tentara korban perang ke tempat asal mereka. Pasti selalu di tempat terakhir mereka mati. Karena kebanyakan dari tentara yang mati di medan perang saat ini pun sudah tidak punya keluarga untuk diperjuangkan. Termasuk Yongguk yang telah kehilangan keluarganya ketika Incheon tiba-tiba saja mendapat serangan mendadak dari tentara Korea Utara—membunuh kedua saudaranya, seorang wanita Alpha dan seorang laki-laki Beta, serta kedua orang tuanya yang sudah tua.
Jungkook hanyalah salah satu orang yang beruntung masih memiliki keluarga—meski ia tidak tahu bagaimana keadaan Appa dan Hyungnya saat ini—dan sudah dua tahun tidak pernah berkomunikasi dengan mereka.
Selepas mereka menguburkan Yongguk; Namjoon, Hoseok dan Won-sik beranjak turun dari pegunungan. Sementara Jungkook masih berdiri lama di atas sana. Menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengeluarkan kalung rantai yang terbuat dari perak, dan membuka isinya. Sebuah foto dua orang anak kecil, satu laki-laki dan satu lagi perempuan.
Mereka saudara Yongguk yang telah lama mati.
Ia menaruh kalung tersebut di atas gundukan tanah kuburan Yongguk.
Kemudian Alpha itu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, memberi hormat terakhir, dan berjalan kembali ke dalam gua tempat ia dan yang lain bernaung untuk saat ini.
26 Januari 2045
04.17 a.m
"Kau belum tidur sama sekali?"
Jungkook menoleh ke asal suara tersebut dan menemukan Taehyung berdiri di belakangnya. Alpha itu hanya menggeleng dan kembali duduk terdiam di tempatnya—di atas ujung tebing. Matanya menatap lurus ke depan, menyaksikan langit yang berwarna biru nan silam, perlahan berubah warna menjadi oranye keungu-unguan.
Taehyung duduk di sebelahnya, dan menawarkan selimut pada Alpha itu.
Jungkook menerimanya tanpa suara.
Suara Taehyung memecah kesunyian, "Kau tahu, Jungkook-ah, jika kau sedih, kau tidak perlu menunjukkannya dengan air mata."
"Ne."
Omega itu mengusap lengan Jungkook dengan lembut dan penuh perhatian, "Aku tahu ini semua kesalahanku. Jika saja aku dan yang lain tidak ikut kalian—"
"Yongguk-hyung mati dengan terhormat," potong Alpha itu cepat.
Taehyung terdiam.
"Yongguk-hyung, dia mati karena ia berpegang teguh pada apa yang ia rasa benar. Dan aku rasa aku juga sudah seharusnya mati melindungi kalian," pada akhirnya Jungkook menoleh ke arah Taehyung. "Kami tidak akan membuat kalian kembali tersiksa di sana. Aku berjanji."
Air mata berjatuhan dari mata Taehyung, "Kenapa kau banyak sekali berubah, Jungkook-ah. Kau—kau bukan anak kecil lagi seperti dulu…" Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, "Tapi aku tidak mau kau mati karenaku. Aku tidak ingin menjadi seorang Omega yang lemah di pandanganmu. Bagaimanapun keadaan tubuhku sekarang ini, aku tetaplah seorang Alpha dulunya."
"Aku melindungimu bukan karena kau seorang Omega, tapi karena aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi, Hyung."
Mendengar ucapan tersebut, Taehyung mendekap tubuh Jungkook sesaat—dan membimbing Alpha tersebut untuk menidurkan kepalanya ke pangkuan Omega yang lebih tua itu. Taehyung berbisik, "Jal jayo, Jungkook-ah."
Jungkook menutup matanya.
26 Januari 2045, Hanbando Bimujang jidae
07.55 a.m
Jongin menguatkan rahangnya ketika Hyung-sik menampar wajahnya. Telinganya berdenging saat atasannya itu menatapnya dengan tatapan marah.
"Kau gagal."
"Ye."
"Aku mengatakan padamu untuk membawa V ke sini, tapi kau malah membawa pulang tiga orang Beta yang tidak berguna ini? Apa maksudmu, Kai?" ia menatap Jae-hwan dan Eunkwang, dua orang Beta yang menjadi teman satu misi Jongin. "Ken, Jae-hwan, kenapa kau tidak bisa mengontrol tindakan Kai? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku ingin kalian membawa V hidup-hidup ke sini? Apa ucapanku kurang jelas?"
Kyungsoo, Hyun-woo, Jongdae dan Junmyeon hanya bisa terdiam mengamati seisi ruangan tersebut. Mereka saat ini sedang berada di basis militer Divisi Batallion ke 3—jika itu memang benar yang mereka dengar. Rasa takut meliputi ketiganya, karena mereka tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh musuh pada mereka saat ini. Kyungsoo sejenak berpikir sebaiknya mereka langsung membunuhnya dan yang lain agar tidak ada informasi yang bisa dibocorkan.
"Joesonghamnida," kata Jongin pelan, berusaha menahan emosinya sekaligus ingin membela kawanannya tersebut. "Tapi kami punya alasan khusus kenapa kami membawa mereka ke sini. Kita bisa menyiksa mereka untuk mendapatkan informasi mengenai sistem pertahanan Seoul, kan? Atau setidaknya mengenai daerah perbatasan?"
Hyung-sik menatap Jongin, tampak sedikit tertarik, "Hmm, benar juga. Akhir-akhir ini kita tidak memiliki sumber informasi yang tepat untuk mengorek pengetahuan mengenai Korea Selatan."
Kyungsoo meronta dan berusaha berbicara, tapi mulutnya disumpal dengan kain dan kedua tangannya terikat dengan sangat kuat. Mustahil baginya untuk berontak.
Jongin menunjuk ke arah tiga orang Beta yang kini masing-masing memasang ekspresi ngeri di wajah mereka, "Salah satu dari mereka, bisa kita bawa ke ruang interogasi."
"Ne," ujar Hyung-sik menyetujui ide Jongin, "Kalau begitu—" ia menunjuk pada Hyunwoo dan Jongdae, "Kita bawa dua orang ini ke ruang interogasi. Jika salah satu dari mereka tutup mulut, pasti satunya lagi bersedia untuk membuka mulutnya." Ia menjetikkan jari dan dua pasang tentara membawa Hyun-woo dan Jongdae keluar ruangan.
Dengan sekuat tenaga, Kyungsoo dan Junmyeon berusaha meraih Hyun-woo dan Jong-dae yang meronta-ronta meminta pertolongan. Tetapi dengan kasar, dua orang tentara memukul kepala mereka dengan siku, membuat keduanya jatuh pingsan. Dengan dada bergemuruh penuh rasa putus asa, Kyungsoo menatap Hyung-sik dengan penuh kebencian.
Alpha itu menangkap tatapan Kyungsoo dan hanya tertawa. Ia berjalan mendekati Kyungsoo dan berbisik pelan, "Apa kau sebegitu bencinya pada kami, tentara Korea Utara, sampai-sampai kau tidak berdaya untuk menyelamatkan kedua temanmu tadi?" ia mengambil pengikat kain yang menyumpal mulut Kyungsoo.
Kyungsoo membuang ludah ke sepatu Alpha itu dan berkata penuh rasa amarah, "Shi-bal nom-ah!"
Hyung-sik menendang wajah Beta itu dengan keras, membuat Junmyeon langsung bereaksi. Suara tawa Hyung-sik semakin keras, sementara Jongin hanya diam memandang Kyungsoo dengan rasa geli. Di belakang mereka Jae-hwan dan Eunkwang hanya menatap dengan tatapan kosong, tetapi wajah Jae-hwan terlihat gemetar karena rasa takut.
"Kai—Jongin-ah," panggil Hyung-sik pada Jongin, "Kau boleh membawa mereka berdua ke tempat eksperimen. Jika salah satu dari mereka ada yang berhasil bertahan hidup dalam waktu 3x48 jam, kau boleh memilikinya," ia memandangi tubuh Kyungsoo dan Junmyeon satu persatu. "Ya. Beta-beta ini, mereka memiliki tubuh yang bagus. Cocok sekali sebagai percobaan yang baru."
Senyuman kejam merekah di wajah Jongin, "Aku mengerti, Daejang-nim."
Ia meminta Jae-hwan dan Eunkwang membawa Kyungsoo dan Junmyeon ke sebuah ruangan gelap yang dipenuhi dengan spesimen-spesimen aneh di lemari-lemari terbuat dari kaca. Jae-hwan mengambil sebuah tabung berisi cairan mencurigakan, dan menyedot isinya dengan jarum suntik panjang. Kyungsoo setengah sadar saat Jae-hwan menyuntikkan isinya ke tengkuknya dan tengkuk Junmyeon. Dilihatnya Junmyeon menggelepar di sebelahnya dengan rasa sakit luar biasa tergambar di wajah Beta itu.
Sesaat kemudian Kyungsoo merasakan rasa sakit yang sama menyerangnya, disertai rasa panas yang tidak mengenakkan terasa membakar bagian bawah perutnya. Kyungsoo mengerang kesakitan. Ia berusaha memegangi perutnya, tetapi kedua tangannya masih terikat di belakangnya.
Terakhir kali sebelum ia hilang kesadaran, ia mendengar Jae-hwan berbisik pelan padanya—dengan wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Mianhae, mianhae..."
26 Januari 2045
10.48 a.m
Jungkook terbangun dari tidurnya karena ia mendengar suara rintihan kesakitan diikuti dengan suara panik. Ia mengusap kepalanya—menyadari bahwa ia sudah tidak tertidur di pangkuan Taehyung, tetapi kini ia hanya berbantalkan selimut dan tanah. Masih berusaha mengumpulkan dan memproses keadaan sekitarnya, Jungkook akhirnya berdiri dan berjalan menuju ke dalam gua.
Dilihatnya Baekhyun dan Seokjin mengelilingi Jimin, sementara tangan Omega mungil itu digenggam oleh Taehyung. Wajahnya merah, keringat mengucur di seluruh tubuhnya, dan erangan keluar dari mulut Omega mungil yang saat ini sedang dikelilingi oleh dua Omega lainnya beserta Seokjin. Tiba-tiba aroma manisan Korea—manggaetteok jika ia tidak salah ingat—menguar dari tubuh Jimin. Lebih kuat daripada aroma Taehyung yang pernah ia cium. Jungkook merasakan penisnya mulai bereaksi, sampai akhirnya Taehyung melepaskan tangan Jimin dan mendorong tubuh Jungkook menjauh darinya.
"Hyung, apa ada sesuatu terjadi pada Jimin? Kenapa tiba-tiba ia—"
"Jungkook-ah, saat ini Jimin sedang mengalami heat. Jika kau tidak mau kehilangan kendali, sekarang lebih baik kau pergi bersama Namjoon-hyung, Yoongi-hyung dan Chanyeol. Aku, Baekhyun dan Seokjin-hyung akan mencari tempat yang aman untuk Jimin sampai heatnya selesai," kata Taehyung menjelaskan. Ia nyaris tertawa karena melihat ekspresi bingung di wajah Alpha tersebut, tetapi rasa khawatirnya terhadap Jimin memendam rasa gelinya.
"O-oh, heat."
"Ya, artinya jika ia berhubungan seks dengan Alpha, ia bisa memiliki seorang anak. Bayi."
"Dia mengalami heat palsu, kan? Bagaimana mungkin jika dia—"
Taehyung menghela napas, "Aku mengerti maksudmu. Memang aneh jika Omega seperti kami bisa mengalami heat tanpa diinduksi oleh hormon lainnya, tapi heat kami lebih menyakitkan dan lebih berpotensi menghilangkan akal Alpha jika kalian terlalu dekat dengan kami dalam waktu lama saat heat," Jungkook masih menatapnya dengan bingung—dan Taehyung mengusap wajahnya dengan frustasi. "Jungkook-ah? Apakah aku harus menjelaskan semuanya padamu jika kau mau?"
Wajah Jungkook memerah. Ia menggeleng, "Ne, ne. Aku mengerti! Kalau begitu aku akan pergi."
Alpha itu membalikkan badannya, pergi meninggalkan gua dan mulai mendaki gunung bebatuan. Sampai di puncak gunung, akhirnya ia tidak bisa mencium aroma Jimin sama sekali. Dilihatnya di atas sana—di sisi yang berseberangan dengan kuburan Yongguk, tidak hanya ada Namjoon, Yoongi, dan Chanyeol, tetapi juga ada Hoseok, Won-sik, Daehyun dan Yugyeom. Mereka duduk membentuk ligkaran. Ketujuh orang tersebut menoleh saat mereka mendengar suara langkah kaki menaiki gunung.
Hoseok melambaikan tangannya, "Oh, kau baru bangun. Sini, bergabung bersama kami!"
"Pasti Seokjin-hyung menyuruh kalian ke sini," tebak Jungkook.
"Jika aku boleh mengatakannya, baru pertama kali ini aku merasakan aroma ketika Omega mengalami heat," Chanyeol tidak langsung membenarkan ucapan Jungkook, "Dan baunya... Aku seperti hilang kendali untuk beberapa saat."
"Memangnya bau Omega yang sedang heat seperti apa?" tanya Yugyeom penasaran. Seumur hidupnya sebagai Beta, ia tidak memiliki indera penciuman setajam seorang Alpha.
"Mereka punya aroma yang berbeda-beda," kata Namjoon menjelaskan. "Terkadang bau manis, terkadang berupa aroma buah-buahan, atau bahkan bunga-bunga yang dulu kita sering temui saat kecil."
"Kudengar, kalau seorang Alpha atau Beta berhubungan seks dengan Omega, rasanya sangat nikmat. Apa betul begitu?" Daehyun ikut bertanya, di wajahnya terpasang rasa penasaran bercampur takjub.
"Aku tidak pernah berhubungan dengan Omega. Mana aku tahu," kata Won-sik menanggapi. "Toh percuma saja, di dunia ini mungkin hanya tersisa kurang dari sepuluh orang Omega."
"Bukankah di antara kita semua memang tidak pernah ada yang berhubungan seks kecuali Namjoon-hyung dengan Seokjin-hyung?"
Semua mata memandang ke arah Namjoon, dan kapten Pasukan Brigade Khusus ke 13 itu memerah. "Kau bicara apa, Jungkook-ah? Kenapa tiba-tiba kau membawa topik seperti itu?"
"Bagaimana rasanya berhubungan dengan Seokjin-hyung, Daewi-nim?" Yugyeom memainkan alisnya sambil tersenyum jahil.
"Aku tidak akan pernah menceritakannya pada kalian!"
Yoongi yang dari tadi bersama mereka tidak berkata apa-apa. Ia hanya termenung menatap langit. Jungkook yang menyadari ada sesuatu yang aneh dengan sunbaenimnya tersebut, langsung menghampiri Yoongi. "Kau tidak apa-apa, Hyung?"
Yoongi hanya mengangguk muram, "Ne."
Jungkook tidak bertanya lebih baik, menganggap bahwa Alpha yang lebih tua itu ingin menyendiri untuk saat ini. Mungkin masih berusaha melepaskan diri dari kematian Yongguk yang begitu tiba-tiba dan keberadaan empat orang teman mereka lainnya yang tidak diketahui kondisinya hingga sekarang.
Tidak perlu waktu dua hari, saat ini pun Jungkook sudah mulai merindukan tawa Yongguk dan keempat temannya yang lain.
27 Januari 2045
02.20 a.m
Yoongi terduduk dari mimpinya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit mulut gua. Mendengarkan suara erangan kesakitan disertai aroma manisan Korea yang semakin kuat di hidungnya. Tiba-tiba Alpha itu merasakan mulutnya kering dan adrenalinnya terpacu lebih kuat dari biasanya. Ia berjalan menuju aroma tersebut berasal, menghirup aroma manis itu sebanyak-banyaknya. Kakinya pergi membawanya ke bagian lebih dalam di gua.
Dilihatnya ke belakang, teman-temannya yang lain termasuk Omega-Omega yang lainnya telah tertidur pulas. Yoongi mendorong dirinya masuk ke bagian terdalam gua, dan berhenti sampai di sebuah lubang menjorok, dengan penerangan dari lubang kecil yang membawa masuk cahaya bulan dan panas dari sebuah lampu gas.
Yoongi menghirup aroma tersebut lebih banyak lagi, tahu bahwa ia semakin dekat dengan sumbernya.
Mata kelamnya menangkap sesosok tubuh yang sedang menggeliat kesakitan di atas matras. Napas Jimin menderu-deru, tangan mungilnya memegangi perutnya, sementara satu tangannya lagi memegangi dadanya. Begitu Omega itu menyadari kehadiran Yoongi, ia terkesiap dan langsung mengulurkan tangannya pada Yoongi.
"Hyung—Alpha..."
Yoongi tidak dapat menahan nalurinya. Ia langsung menyergap tubuh Jimin dalam dekapannya. Tanpa sepenuhnya sadar, Alpha itu menarik baju Jimin hingga terlepas seluruhnya. Tangannya menggerayangi seluruh bagian tanpa terkecuali, lalu menciumi titik-titik sensitif Omega itu. Jimin mengerang ketika Yoongi mengemut putingnya dan menciumi lehernya tanpa ampun. Meski sekilas ia terhenti saat melihat perban yang membalut tangan kanan Omega itu.
Alpha itu menelan ludahnya, "Jiminnie—shi-bal, Jiminnie... tubuhmu—kau cantik sekali—"
Alpha itu membuka kaus putihnya dan kemudian menggigit leher Jimin dengan posesif, mengklaimnya, menandai bahwa ia menetapkan Jimin sebagai miliknya. Omega itu mendesah panjang, pikirannya bereaksi dengan gigitan yang diberikan oleh Yoongi.
"Uhhn... Alpha—"
Setelah ia yakin ia telah menandai Jimin, Yoongi mengeluarkan penisnya dari celananya. Kemudian ia membuka dan mengangkat kedua kaki Jimin selebar mungkin, sebelum akhirnya memasukkan penisnya ke lubang kemaluan Jimin. Satu, dua, hingga tiga kali, sampai akhirnya ia terjatuh lemas di atas tubuh Jimin.
Pikirannya masih dikendalikan oleh nafsu, tetapi ia berusaha menahannya—dan samar-samar ia hanya bisa mencium aroma manisan Korea. Yoongi bergerak di sebelah tubuh Jimin, dan mendekap Omega yang terlelap itu dalam tubuhnya.
27 Januari 2045
06.40 a.m
"Apa yang kau lakukan Yoongi-ah—"
Seokjin menatap dengan tidak percaya, begitu paginya ia pergi ke tempat Jimin, mengecek jika heat Omega itu masih berlangsung. Sehari yang lalu ia mendengar dari Taehyung dan Baekhyun bahwa heat Omega seperti mereka berakhir lebih lama, sekitar seminggu lebih, jika mereka tidak memiliki pasangan Alpha. Tetapi kini ia justru dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya seperti kehilangan kepalanya.
Yoongi sedang tidur sambil mendekap tubuh Jimin. Kedua-duanya telanjang, hanya ditutupi dengan sehelai selimut putih.
Seokjin mengguncang-guncangkan tubuh Yoongi, "Apa yang kau lakukan Yoongi-ah?! Tidak bisakah kau bangun sekarang?"
Yoongi akhirnya membuka matanya. Ekspresinya terlihat kesal karena dibangunkan tiba-tiba saat ia sedang bermimpi indah, "Hyung, bisakah kau—" ia menoleh ketika mendengar suara lenguhan dari Jimin. Matanya langsung membelalak lebar, "Mwo?"
Jimin langsung terduduk di matras dan menatap Yoongi dengan bingung. Kemudian matanya beralih pada tubuh mereka yang telanjang. Begitu menyadari sesuatu, wajahnya langsung memerah, "Uh, Hyung, apa aku dan kau—"
"Ya, kalian berhubungan seks. Apa kalian tidak ingat sesuatu?"
Jimin menatap Seokjin dengan tatapan panik, "A-aku tidak ingat apapun—biasanya aku sadar jika aku berhubungan seks dengan Alpha saat heat, tapi aku tidak bisa ingat apapun jika aku benar-benar melakukannya dengan Yoongi-Hyung!" Omega itu berusaha mengingat-ingat jika ia meminta sesuatu pada Yoongi, tetapi nihil, diingatannya hanya ada gelap disertai rasa sakit. Bahkan ketika dulu ia masih berada di bawah kendali Korea Utara, ia bisa mengingat betul ketika ia heat, Alpha yang bersetubuh dengannya akan menyiksanya habis-habisan. Meninggalkan bekas luka di sekitar tubuhnya, menimbulkan bekas memar di sekitar wajah dan lengannya.
Taehyung tiba-tiba muncul di balik punggung Seokjin. Wajahnya langsung berubah cemas, "Jimin-ah! Kau tidak apa-apa? Apa Alpha ini menyakitimu?!" ia langsung menatap Yoongi dengan tatapan menuduh, "Sudah kukatakan kemarin untuk menjauh dari Omega yang sedang heat! Kenapa kalian tidak pernah bisa mengontrol diri kalian, huh?!"
"Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa ke sini! Aku hanya ingat bahwa ada bau manis yang membimbingku ke sini! Lalu setelah itu semuanya jadi gelap," kata Yoongi berusaha menjelaskan.
Taehyung mengamati Yoongi sesaat dan langsung duduk di sebelah Jimin. Tangannya bergerak ke tubuh Omega yang lebih muda itu, mencari-cari jika Yoongi meninggalkan bekas luka di sekitar tubuhnya. Tetapi ia hanya menemukan bekas gigitan di leher Jimin—tetapi hal itu tampak lebih buruk di matanya. Ia langsung menunjuk marah pada Yoongi, "Kenapa kau mengklaimnya, Hyung?!"
"Hah? Untuk apa aku mengklaimnya?"
Taehyung menunjuk pada bekas gigitan di leher Jimin. "Ini artinya kau menandai bahwa dia adalah milikmu. Arti lainnya; bahwa kau harus berhubungan seks dengannya setiap Jimin mengalami heat, jika ingin cepat mengakhiri heat."
Yoongi menelan ludahnya.
Seokjin mengangkat Alpha bertubuh pendek itu, "Sekarang cepatlah kau pergi dan kenakan bajumu, aku perlu melakukan pemeriksaan pada Jimin jika kau melakukan sesuatu yang tidak diinginkan padanya."
"Tapi aku tidak mungkin—"
Seokjin menendang Yoongi hingga ia pergi.
Jimin menarik lengan Taehyung, wajahnya berubah cemas, "Tapi aku tidak akan hamil, 'kan?"
"Bukankah selama ini kau menghabiskan heat dengan Alpha, tetapi belum pernah hamil? Kau akan baik-baik saja Jimin-ah," Omega itu memeluk Jimin. Ia tahu alasan Jimin takut jatuh hamil. Karena setiap Omega selain dirinya yang pernah mengandung, pasti akan mengalami keguguran ataupun melahirkan anak yang telah mati.
Pasti pikiran Omega yang masih muda itu dipenuhi rasa takut jika dirinya sampai hamil, ia hanya perlu menerima kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya akan mati.
Ia tahu karena Taehyung pun berpikir demikian.
Seokjin menghela napas panjang. Ia menyimpan kembali senternya ke saku, "Aku tidak melihat bekas kekerasan di tubuh Jimin. Kurasa Yoongi-ah memang tidak berbuat di luar batas semalam."
Taehyung tersenyum lega, "Baguslah kalau begitu. Aku tidak ingin jika Alpha-Alpha di sini sampai berbuat hal yang sama seperti Alpha-Alpha di Korea Utara."
Seokjin ingin bertanya, seburuk apakah perlakukan Alpha-Alpha tersebut pada ketiga Omega ini, sampai akhirnya Taehyung begitu protektifnya pada Jimin dan Baekhyun—berusaha menjaga Omega-Omega ini dari jangkauan Alpha saat heat? Tetapi ia mengurungkannya, karena takut pertanyaan itu terlalu sensitif untuk dibahas.
27 Januari 2045
05.34 a.m
Hari itu, karena persediaan makan mereka yang semakin terbatas dan respon dari pemerintah pusat yang belum diterima hingga saat ini, Namjoon akhirnya memutuskan agar mereka berpindah tempat. Jumlah hewan-hewan liar yang mereka temui di alam pun setiap harinya semakin sedikit, karena cuaca dan udara yang semakin memburuk. Kemungkinan mereka untuk berburu pun semakin berkurang. Pada akhirnya, Ia menyarankan agar mereka pergi mencari desa atau kota yang sudah ditinggalkan—karena kemungkinan besar toko-toko yang menjual makanan kaleng dan makanan instan akan ada di sana.
Dan sesuai kesepakatan, mereka akan berangkat di malam hari, untuk mengurangi kecurigaan tentara Korea Utara mengenai keberadaan mereka. Berdasarkan pengamatan Yoongi dari peta yang disimpannya, desa terdekat berada sekitar delapan puluh kilometer, jarak yang pas untuk dicapai sambil menghindari musuh.
Siang harinya, saat Jungkook tengah mengasah pisaunya, Taehyung muncul dan duduk di sebelahnya. Omega itu memasang wajah muram begitu datang, jika Jungkook menyadarinya.
"Hyung?"
Taehyung mengamati Jungkook mengasah pisaunya—tapi Alpha itu tahu jika Taehyung sedang terbenam dengan pikirannya, "Kau sudah tahu, kan? Kalau Yoongi berhubungan dengan Jimin ketika ia sedang heat?"
Jungkook membuka mulutnya, kaget dengan berita yang ia dengar. Pantas saja pagi tadi Yoongi langsung menghilangkan diri di atas bebatuan sambil membawa radio-radio kesayangannya. Rupanya ia sedang berkontemplasi tentang dirinya dan Jimin. "A-aku baru tahu."
"Yoongi kehilangan akalnya, ketika ia mencium aroma Jimin. Makanya ia tidak ingat ketika ia menyetubuhi Jimin," kata Taehyung. "Alpha yang kehilangan akal saat berhubungan dengan Omega, selalu mengerikan di dalam benak kami. Mereka pasti akan berubah kasar."
"Apa Yoongi-hyung menyakiti Jimin?"
Taehyung hening untuk beberapa saat, "Tidak, untungnya. Tapi masalahnya aku dan Baekhyun, cepat atau lambat kami akan segera mengalami heat. Dan aku ingin kau segera menjauh dari kami begitu heat kami muncul."
Jungkook hanya mengangguk mengiyakan. Meski sesungguhnya ia cukup ragu akan bisa menahan aroma tubuh Taehyung begitu Omega itu sedang heat. Masalahnya Yoongi sendiri tidak bisa menahan dirinya dari aroma tubuh Jimin! Bagaimana jika Taehyung dengan aromanya yang memikat itu sedang dalam heat? Mungkin Jungkook perlu mengikat dirinya pada sebuah pohon agar tidak lepas kendali.
"Tapi kenapa kami harus menjauh, Hyung? Bukankah jika aku baca dari buku, berhubungan seks antara Alpha dengan Omega justru cepat menghentikan heat?" tanya Jungkook pada akhirnya setelah suasana kembali hening.
Taehyung menatap Jungkook, "Kau tidak tahu 'kan, apa yang dikatakan oleh buku selanjutnya? Bahwa heat berhenti jika Alpha yang menjadi pasangan seorang Omega melakukan hubungan persetubuhan, atau jika terjadi proses kehamilan."
Sesuatu berbunyi 'kilik' di otak Jungkook. "Kau—tidak ingin hamil," kata Alpha itu akhirnya, "Tapi—tapi apa benar-benar kalian tidak pernah bisa melahirkan bayi dengan selamat? Selain anak pertamamu, Jihoon?"
Omega itu tersentak mendengar nama anaknya. Tetapi kemudian wajahnya kembali melunak, "Ya, sejauh ini hanya Jihoon yang berhasil selamat. Usianya 7 tahun, aku ingat pasti," air mata berkumpul di wajahnya, "Kau harus tahu rasanya—bagaimana saat kau yang seharusnya adalah seorang Alpha, tiba-tiba berubah menjadi Omega. Lalu melahirkan anak, dan anak itu begitu saja direbut dari tanganmu. Bahkan kau tidak sempat mengingat wajah anakmu seperti apa." Suara Omega itu tercekat di tenggorokan, "Aku ingin kau mengingatnya, Jungkook-ah. Park Hyung-sik. Orang yang telah mengubah hidupku."
Park Hyung-sik.
"Dia—?"
"Alpha yang sudah mengklaimku," kata Taehyung. "Alpha—dan Appa kandung dari Jihoon putraku."
Jungkook merasakan dadanya memanas—mengetahui bahwa anak dari Taehyung berasal dari Alpha selain dirinya.
"Jungkook-ah, Taehyung-ah, sudah saatnya kita pergi."
Suara Seokjin yang memanggil mereka memutus percakapan di antara keduanya.
Taehyung berdiri duluan, meninggalkan Jungkook yang masih mengasah pisaunya.
Pikiran Alpha itu terbang ke suatu nama yang dari tadi berusaha diingatnya.
Park Hyung-sik.
28 Januari 2045 Hanbando Bimujang jidae
03.34 p.m
Kyungsoo tidak tahu pasti jam berapa saat ia terbangun dari tidurnya. Ia masih berusaha mengendalikan pikirannya. Rasa panas yang dari kemarin membakar tubuhnya, kini semakin menjadi-jadi. Peluh mulai mengucur dari dahi dan anggota tubuhnya yang lain semenjak suntikan pertama yang ia terima. Ia juga mulai merasakan selangkangannya basah, entah karena keringat atau sesuatu yang lain, sejak beberapa jam yang lalu. Mulutnya terasa kosong.
Beberapa saat lalu, Jae-hwan memberinya nampan berisi makanan dan segelas air putih. Tapi perutnya dan bagian kemaluannya terlalu sakit baginya untuk bergerak. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara erangan Junmyeon, disertai suara teriakan melengking. Hingga akhirnya suara itu tidak terdengar lagi. Meski ia tidak bisa melihat Junmyeon karena ruang sel mereka dibatasi oleh tembok setinggi lima meter, ia tahu bahwa pelan-pelan Junmyeon menyerah pada keadaan. Mungkin temannya itu sekarang dalam keadaan sekarat.
"J-Junmye—on..." erangnya sedih. Tubuhnya terasa lemah dan tidak bisa digerakkan.
Beta itu merasakan airmatanya yang baru saja kering, kini kembali tumpah. Belum tiga hari ia ditangkap, ia sudah merasakan dirinya menyerah dan siap mengatakan segalanya pada tentara Korea Utara. Tetapi bayangan akan kelompoknya yang mungkin berusaha menyelamatkan mereka berkelebatan dalam kepalanya.
Ia harus bertahan hidup.
Ia harus kembali pada teman-temannya.
Perasaan dan keinginan lain muncul di dalam benaknya.
Keinginan agar seseorang memasuki lubang kemaluannya dengan penis mereka, lalu berejakulasi di dalamnya. Ia ingin agar seseorang mendominasinya, mengklaimnya.
Kyungsoo menggigit bibirnya hingga berdarah.
Di saat itulah Jongin muncul sambil membawa Hyun-woo. Kepala Beta itu terkulai lemas—sehingga Kyungsoo tidak dapat melihat wajah temannya itu. Tapi ia bisa membayangkan wajah Hyun-woo saat ini babak belur karena penyiksaan oleh tentara Korea Utara. Diperhatikannya lagi, bagian kaus putih Hyun-woo basah oleh darah dan cairan lainnya.
"Aku membawakan temanmu. Kurasa kau cukup kesepian untuk saat ini 'kan?"
Jongin melempar tubuh Hyun-woo yang sudah tidak bergerak sama sekali ke lantai sel Kyungsoo yang dingin—dan setelah kembali mengunci pintu sel, Alpha itu berjalan pergi meninggalkan sel.
Tangan Kyungsoo berusaha meraih tubuh Hyun-woo. Dan disadarinya Hyun-woo hanya diam, tidak menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali. Matanya yang membengkak dengan warna merah dan biru hanya menatap kosong ke wajah Kyungsoo.
Temannya itu sudah tidak bernyawa.
Kyungsoo merasakan rasa panas semakin menjalar di tubuhnya, dan ia semakin menangis menjadi-jadi.
TBC
Catatan Penulis:
Bang Yongguk (26) dan Hyun Woo (27) menjadi karakter pertama yang mati.
Berarti karakter yang masih hidup dari Pasukan Brigade Khusus ke 13 beserta kode nama mereka adalah sebagai berikut:
Kim Namjoon aka RM (27)
Kim Seokjin aka Jin (29)
Jung Hoseok aka Hobi (27)
Min Yoongi aka Suga (28)
Park Chanyeol aka Yeol (26)
Jeon Jungkook aka JK (25)
Kim Yugyeom aka Brown (25)
Jung Dae-hyun aka DH (26)
Kim Won-sik aka Ravi (28)
Do Kyung-soo aka DO (27)
Kim Jun-myeon aka Suho (29)
Kim Jongdae aka Chen (28)
Lalu Omega:
Kim Taehyung (27)
Byun Baekhyun (26) Baekhyun dibuat lebih muda dari Taehyung lol
Park Jimin (18)
Untuk pasukan Batallion ke 3 Korea Utara adalah sebagai berikut:
Park Hyung-sik aka Horang (31) –usianya sengaja dibuat tua lol
Park Seojoon aka SJ (33) –karakter misterius yang akan muncul di kemudian hari
Kim Jong-In aka Kai (26)
Lee Jae-hwan aka Ken (28)
Seo Eun-kwang aka EK (28)
Daftar ini dibuat untuk mempermudah mencari usia dan nama karakter yang ada.
Terima kasih bagi yang sudah memfollow, menambahkan ke cerita favorit, dan juga yang sudah mereview! Sampai jumpa di chapter 3!
Saran dan kritik diterima, bahkan yang mau flame pun silahkan (haha, saya sudah terbiasa diflame)
