Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Typos, Ooc, Deskripsi tidak karuan, dan kecacatan lainya.

Note: Jika kalian lihat penampakan Typos yang bergentayangan. Mohon membaca do'a dan terus berjalan lurus.

Efek samping: Terlalu lama membaca fic ini akan terkena Diabetes Dikarenakan Author yang terlalu manis kaya gula sampe disemutin #Duagh!

Happy Reading Minna

.

.

.

Hinata merapikan peralatan tulisnya. Lalu membereskan beberapa kertas soal yang memenuhi mejanya. Memasukan buku-buku seusai ia gunakan ke dalam tas. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal Hinata mantap meninggalkan kelas.

Kakinya melangkah dengan laju yang tidak lambat. Menyelusuri koridor penuh sesak lalu lalang para siswa. Maklum saja, jam pulang sekolah baru dibunyikan beberapa menit lalu. Namun Hinata tidak sabar menunggu sekolah lengang terlebih dahulu. Ada urusan yang harus ia selesaikan. Hingga akhirnya Hinata harus rela berdesak-desakan diantara mereka. Ia bersyukur memiliki tubuh mungil, Hinata dengan gesit dapat menghindar dari kerumunan para siswa.

Ia berbelok ke arah Ruang Kesehatan. Bukan karena Hinata sakit, atau apapun hal dibenak kalian. Sungguh Hinata sehat. Dia bahkan tak berniat menjenguk siapapun disana. Sasuke tak berada di Kelas saat jam pelajaran terakhir. Biasanya Sasuke pergi ke Ruang Kesehatan sebagai tempat pelarian kantuknya saat menghadapi pelajaran yang menurutnya membosankan. Hinata ingin mengembalikan Flashdisk milik Sasuke, yang telah beberapa hari ini menginap dirumahnya.

Setiap Hinata ingin mengembalikan benda penyimpan data itu, salalu ada halangan untuk bertemu si empunya. Sasuke yang selalu menghilang entah kemana saat Hinata hendak mengembalikan Flashdisknya, terkadang Flashdisk Sasuke tertinggal di Rumah, dan kerap kali Hinata lupa. Contohnya kemarin, Flashdisk sudah berada dalam genggamanya, Sasuke menatapnya bingung menunggu kata-kata yang terlotar dari mulutnya. Namun bodohnya Hinata hanya diam. Semua kalimat-kalimat yang sebelumnya ia siapkan jika bertemu Sasuke seakan menguap seketika. Hinata tak mengerti apa yang terjadi, setiap ia bertemu Sasuke isi kepalanya kosong.

"Jika tak ada yang ingin kau bicarakan. Aku pamit pulang," Sasuke mulai beranjak pergi.

"Tu-tunggu."

"Kalau begitu cepat katakan. Aku tak punya banyak waktu."

Dalam kegugupan yang luar biasa karena dipandangi oleh Uchiha Sasuke –pemuda pujaanya. Hinata mencoba mengingat tujuan ia bertemu Sasuke. Ditambah suasana kelas yang hening karena memang jam pelajaran berakhir sudah berlalu membuat Hinata kikuk lantaran Sasuke terus menatap dirinya.

"Ck. Cepatlah Hyuuga," Sasuke mulai jengah dengan semua ini.

"A-ano... Sasuke-san. Ba-bagaimana kabarmu?" Hianta meruntuki dirinya sendiri yang begitu bodoh mengucapka kalimat itu. Tidak adakah kalimat lain yang lebih masuk akal. Oke, kalimat ini memang wajar diucapkan. Kalimat tadi memanglah bukan mantra yang dapat menyihir orang menjadi buruk rupa. Tapi bukanlah kalimat yang tepat. Menanyakan kabar? Yang benar saja. Bukankah setiap hari Hinata bertemu? Apalalagi dirinya sekelas dengan Sasuke.

"Baik," jawabnya singkat."Sudah selesai'kan? Aku pamit pulang," Sasuke mengendong tasnya. Kini Sasuke benar-benar beranjak pergi meninggalkan Hinata.

"Ya. Hati-hati," Hinata terdiam, melihat punggung Sasuke yang kian mengecil karena jarak.

Hinata memekik setelah menyadari Flashdisk Sasuke masih berada dalam genggamanya. Ia menepuk jidatnya sendiri. Hinata meraih tas yang berada tak jauh dari jangkauanya. Tanpa pikir panjang Hinata berlari mengejar Sasuke. Namun nyatanya hanya tersisa koridor yang sepi. Ia berlari menuju Halaman depan Sekolah. Menuruni tangga begitu cepat. Tak menyadari tali sepatunya tak terikat sempurna, tinggal satu anak tangga lagi ia akan berada di lantai satu. Namun tali sepatu yang menjuntai bebas terinjak kaki lainya. Alhasil Hinata terjatuh dengan lutut mencium lantai terlebih dahulu. Hinata meringis, lebam berwarna biru kehitaman di lututnya terlihat kontras dengan kulit putih Hinata. Sakit menusuk-nusuk lututnya, susah payah Hinata bangun. Walaupun tertatih-tatih ia berjalan, namun masih ada niatan mengejar Sasuke. Seperti yang ia duga sebelumnya, di halaman depan tak ada keberadaan Sasuke. Hinata telah tertinggal jauh.

Apapun namanya Hianta sungguh bodoh. Ia dengan gampangnya melupakan tujuan awal bertemu Sasuke. Kalau saja dirinya ingat tujuanya yaitu mengembalikan Flashdisk Sasuke, tak akan sampai begini. Ia tak harus berlari mengejar Sasuke. Kalu saja ia lebih teliti mengikat tali sepatunya terlebih dahulu dan menuruni tangga tidak tergesa-gesa pasti lututnya masih mulus seperti beberapa saat lalu. Dan yang terpenting adalah dirinya dapat mengejar Sasuke. Karena bagaimanapun caranya Flashdisk ini harus berada di tangan Sasuke. Dengan begitu perasaanya akan tersampaikan.

Sejak awal Hinata memang sudah bersalah. Membuang-buang waktu Sasuke hanya untuk mendengarkan Hinata menanyakan kabar? Sungguh konyol. Dengan ini Sasuke akan mengenalnya sebagai gadis yang membosankan. Mungkin setelah ini Sasuke akan menjauh. Mana mungkin Sasuke mau mengenal gadis membosankan seperti dirinya. Baiklah, itu terlalu berlebihan bukan? Yang jelas Hinata hanya tak ingin memiliki kekurangan di mata Sasuke.

.

.

.

.

.

Hinata menghela nafas. Perlahan tanganya mendorong pintu tua nan rapuh milik Ruang Kesehatan. Kakinya melangkah masuk. Disambut bau obat-obatan yang menyengat menyerang indra penciuman Hinata. Mata Lavendernya menyelusri setiap titik ruangan ini. Namun tak menemukan sosok yang ia cari. Hinata hanya melihat kasur-kasur ruang kesehatan yang berjejer rapih. Dan seorang gadis berambut merah muda tengah merapikan selimut. Hinata perlahan mendekat ke arah gadis bernama Sakura itu.

"Hinata-chan ada yang bisa saya bantu?" Sakura menghentikan sejenak kegiatanya.

"Ano... Sakura-chan. Apa kau melihat Sasuke-kun?"

"Oh ternyata kau mencari Sasuke," Ujarnya sembari memasukan tumpukan selimut yang sudah dilipat rapih ke dalam lemari besar di sudut ruangan."Dia sudah pergi. Tak lama setelahnya kau datang. Mungkin dia masih berada tak jauh dari sini."

Sudah ia duga, bermain kejar-kejaran bersama Uchiha Sasuke tak akan semudah yang Hinata bayangkan. "Bigitu rupanya," Hianata tersenyum getir. Terduduk lemas di pingir ranjang.

"Kalian terlihat sering bersama. Apa kalian berdua memiliki ikatan khusus?" Sakura mengambil tempat duduk berhadapan dengan Hinata. ia bertopang dagu, bantal yang tak jauh dari jangkauanya sebagai tumpuan. "Tak usah tegang begitu Hinata-chan. Dengar, aku bisa menjaga rahasia. Aku adalah sahabatmu tak seharusnya kau menyembunyikan rahasia padaku. Aku tau menjadi kekasih orang yang populer dan digilai gadis-gadis memang tidaklah mudah."

"Bukan begitu. Maksudku kau salah paham Sakura-chan," Hinata mengadu kedua telunjuknya. Menyembunyikan rona merah di balik tebal poninya. "Hubungan kami hanya sebatas teman tidaklah lebih, sungguh."

"Apa kau menyukainya, Hinata-chan?" Emeraldnya memancarkan keseriusan. "Apa kau menyukai Sasuke?"

Hinata kaget bukan main, pertanyaan Sakura yang tiba-tiba membuatnya gelagapan. Apakah ia harus jujur dan mempercayai rahasia ini pada Sakura sahabatnya? Atau sebaliknya? "A-aku..."

"Ku harap itu tidak," Potong Sakura. Pancaran matanya berubah sendu. "Aku menyukai Sasuke."

Hianta menahan nafas saat Sakura mengucapkanya. Tidak heran memang. Tapi ia tidak mengerti arah dari obrolan ini. Ia diam. Hinata juga menyukai Sasuke, Sangat suka. Dan kini Sahabatnya mengatakan bahwa ia juga menyukai orang yang sama. Bagaimanapun juga Hinata bingung dihadapkan situasi seperti ini. Saat kau dan sahabatmu menyukai orang yang sama, apa yang akan kau lakukan?

"Ka-kau menyukai Sasuke?" tenggorokanya terasa kering.

"Kurasa begitu. Jantungku berdetak cepat saat berada didekatnya. Kau tau, seperti mau meledak."

"Be-benarkah?" Hinata nampak tak begitu antusias akan obrolan ini.

"Ya, Hinata-chan kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau menyukai Sasuke?"

Hinata terdiam."A-aku tidak-"

"Kau memang Sahabat sejatiku Hinata-chan," Sakura melompat dari tempat duduknya, memeluk Hinata sekuat yang ia bisa. "Aku tau, kau tak akan menghianatiku."

Tunggu! Bukan ini yang Hinata maksud. Namun Hinata tak bisa berbuat apa-apa. Ia senang melihat sahabatnya Sakura bahagia, Hinata tak ingin melukai persaan Sakura dengan pengakuanya. Dan disisi lain ia tak ingin cintanya bertepuk sebelah tangan.

"Sekarang berjanjilah padaku," kelingking Sakura teracung didepan wajah Hinata. "Berjanjilah kau tak akan menghianati persabatan kita, berjanjilah kau tak akan seperti Ino."

Hinata meneguk ludah dengan susah payah. Yamanaka Ino, ia masih ingat nama itu. Gadis pirang itu adalah sahabat Sakura sejak kecil. Mereka selalu bersama, tak dapat terpisahkan. Entah apa yang terjadi diantara mereka berdua, rumor mengatakan Ino merebut kekasih Sakura. Dan sejak saat itu persahabat mereka hancur. Hinata tak mau bernasib sama dengan Ino, Sakura adalah teman terbaik yang ia punya. Dan Hinata tak ingin melihat Sakura terluka, terlebih lagi itu disebabkan olehnya. Hinata tak ingin kehilangan Sakura.

Hinata menautkan kelingkingnya pada milik Sakura, "Ya, tentu saja."

.

.

.

.

.

"Teme! Kemana saja kau?! Aku menelfonmu berkali-kali."

Sasuke mesti menjauhkan ponsel dari telinganya jika tak ingin terkena tuli mendadak yang disebabkan oleh suara dasyat Naruto. Samar-samar ocehan Naruto masih berlanjut. Sasuke tak punya waktu untuk hal itu. Ia meletakan ponselnya begitu saja di atas meja. Sasuke beranjak ke dapur mengambil air dingin dari kulkas lalu ia tuangkan dalam gelas. Meneguknya perlahan hingga dahaga itu hilang. Sasuke kembali menempelkan ponselnya ke telinga.

"Hei Teme! Kau masih disana? apa kau dengar aku?!"

"Hn."

"Bagus. Aku kira kau pergi ke kamar mandi, membiarkan aku berceloteh sendirian."

Tepat sekali. Namun bukan kamar mandi kali ini, melainkan dapur. "Hn. Ada apa Dobe?"

"Apa kau sudah mengerjakan tugas Kurenai-sensei? Aku baru ingat sekarang. Siswa yang tidak mengumpulkan tugas tidak akan diizinkan mengikuti ujian akhir."

"Lalu?"

"Kabar buruknya adalah malam ini hari terakhir pengumpulan tugas. Dan aku tidak mau mengulang kelas di tahun depan hanya karena tugas bodoh itu. Kau mengerti maksudku'kan Teme?"

"Hn. Kenapa tidak kau coba kerjakan sendiri?!"

"Err... aku alergi matematika"

Sasuke memutar bola matanya. Tidak adakah alasan yang cukup kuat hingga meluluhkan hatinya. Dan dengan begitu Sasuke akan menolong dengan suka rela. Lagipula ia sama sekali tidak tahu menahu perihal tugas akhir Kurenai-sensei. Namun perkataan Naruto ada benarnya juga. Ia pun sama dengan Naruto. Sasuke tak ingin mengulang di tahun depan hanya karena tugas bodoh ini. Maka dengan amat terpaksa Sasuke harus mengerjakan tugas sialan ini. Sebenarnya Sasuke tidak begitu peduli tugas. Namun jika sampai menyangkut ujian akhir dan pastinya akan berdampak pada kelulusan, ia lebih memilih mengerjakanya. Sasuke tak mau berakhir di alat pemenggal kepala milik keluarga Uchiha dengan alasan telah mencoreng nama baik keluarga karena tidak lulus ujian. Itu mimpi buruk.

"Kau menang Dobe, aku akan membantumu. Sebagai bayaranya kau harus mentraktirku satu minggu penuh."

"Kau memang sahabat terbaik ku Teme. Dan tentang mentraktirmu satu minggu penuh itu aku sanggupi. Itu hal mudah. Kirimkan tugasnya ke alamat e-mailku."

"Hn."

Sambungan diputuskan dari pihak Sasuke. Ia memijat pelan kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Baiklah, ayo buat ini menjadi mudah. Sasuke bangkit menuju meja belajarnya. Sekarang ia harus mulai dari mana? Bahkan Sasuke tidak tahu tugas mana yang Naruto maksud. Meja belajar yang berantakan membuat pikiranya semakin semrawut. Ia lupa kapan terakhir kali menggunakan meja belajar ini sebagaimana fungsi utamanaya. Sasuke mencari-cari kontak di ponselnya. Satu nama, ketemu. Dengan cepat Sasuke tekan tombol call.

BIPP...BIPP...BIPP...

Hinata terkejut bukan main. Setelah membaca tulisan dilayar ponselnya- 'Sasuke calling'. Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi tolong bangunkan Hinata. Ia tak sanggup menahan detak jantung yang bergemuruh hebat ini. Seseorangg siapa saja tolong Hinata. Sepertinya dia sudah mulai melayang-layang di atas sana. Ini kesempatan Hinata untuk lebih dekat dengan Sasuke. Hinata mengatur nafasnya bersiap untuk mengangkat panggilan Sasuke. Tarik nafas yang dalam. Tahan, lalu keluarkan melalui mulut. Terus berulang-ulang. Sekiranya sudah merasa baikan Hinata menekan tombol hijau pada ponselnya.

"Moshi-moshi."

"Hn. Hyuuga kirimkan padaku tugas Kurenai-sensei."

Hinata menutup mulutnya yang menganga. Sial! Ini benar-benar suara Sasuke. Hinata bodoh, memangnya siapa lagi kalau bukan suara Sasuke. Sudah jelas yang tertera di layar ponselnya adalah Uchiha Sasuke. Rasanya ingin sekali Hinata berlari keluar dan berteriak sekeras-kerasnya. Hinata tak dapat menahan lagi jutaan kupu-kupu yang berterbangan dalam perutnya. Ia tak pernah begitu sesenang ini.

"Kau dengar aku?"

"Y-ya tentu saja."

"Kalau begitu cepat kirimkan."

Kirimkan? Apa yang harus Hinata kirim? ia tidak mengerti. Hinata meruntuki dirinya yang terlalu hanyut dalam pikiranya sendiri. Sekarang apa yang harus ia katakan. Sementara ini Hinata lupa dan masih mengingat ucapan Sasuke beberapa saat lalu.

"Ck. lama sekali."

"Gomen. Aku sedang mencarinya." Bohong, padahal Hinata sendiri tidak tahu apa yang harus ia cari.

"Kau ada dimana?"

"Di Rumah."

"Aku akan kesana."

Tutt... Tutt... Tutt...

Sambungan diputus. Hinata terpaku. Ia masih diam dalam posisi awal. Masih berusaha mencerna kalimat Sasuke barusan. 'Aku akan kesana' artinya ia akan bertemu Sasuke. Di Rumahnya dan dengan keadaan mengenakan piyama bermotiv kelinci. Oh shit! Sekarang apa yang harus ia perbuat? Sungguh Hinata amat dibingungkan dangan situasi ini. Ia senang sekaligus bingung. Tidak mungkin Hinata keluar menemui Sasuke dengan baju tidur seperti ini'kan?

Suara klakson mobil memacu jantungnya semakin gila. Sasuke ada di luar sana dan Hinata belum ada persiapan sedikitpun. Mengapa cepat sekali Sasuke sampai? Tentu saja bodoh! Rumahnya hanya berjarak dua kompleks dengan rumah Sasuke. Hinata berfikir keras saat ini, dan suara klakson mobil Sasuke yang semakin keras membuyarkan pikiranya. Ia tak punya pilihan lain, Hinata harus menemui Sasuke. Walau hanya berbalut piyama.

Sasuke mengecek jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya. 2 jam lagi batas pengiriman tugas Kurenai-sensei. Tugas dikirim melalui e-mail. Perkembangan zaman begitu pesat hingga mengumpulkan PR saja menggunakan media online. Dan sekarang ia masih menunggu gadis bersurai Indigo itu keluar dari rumahnya. Namun sampai saat ini Hinata belum menampakan diri juga. Sasuke tak mengerti mengapa perempuan repot sekali jika ingin keluar rumah. Meskipun itu hanya membuang sampah di depan pekarangan yang jaraknya kurang dari 10 meter. Mereka harus terlihat sempurna setiap saat. Tapi ayolah... jangan berlebihan. Kau tau itukan, pepatah tua mengatakan itu berulang kali. Para gadis akan lebih cantik tanpa menggunakan make-up. Kau tidak harus berdandan layaknya artis yang akan pergi ke pesta, sedangkan kau hanya pergi ke Sekolah untuk mencari ilmu. Pandanganya terpaku kala seorang gadis bersurai Indigo sepunggung menghampirinya. Piyama putih permotiv kelinci yang Hinata kenakan serta sandal berbulu berbentuk singa menambah kesan imut pada Hinata. Sasuke tersenyum tipis melihat orang yang sendari tadi ia tunggu telah muncul dihadapanya.

"Maaf telah membuatmu menunggu." Hinata menunduk dalam tak berani menatap Sasuke, terlebih lagi dengan keadaan seperti ini.

"Hn."

"I-ini yang kau minta."

"Hn. Arigatou," Sasuke menerima flasdisk yang diulurkan padanya.

Hening. Tak ada dari mereka berdua yang berniat memecahkan kesunyian ini. Terlalu sibuk dalam pikiranya masing-masing. Angin malam berhembus perlahan, Hinata memeluk dirinya sendiri. Tak ingin mati konyol hanya karena kedinginan. Baju tidur berbahan tipis mana munkin dapat melindunginya dari hawa dingin. Namun beberapa saat kemudian Hinata tak merasakan dingin lagi melainkan sebaliknya, hangat. Ia terbengong saat menegetahui jaket Sasuke yang sudah menyelimuti tubuhnya. Ia mendongkak, mendapati Sasuke juga tengah menatapnya. Pandangan mereka beradu, diam beberapa saat. Hinata menunduk menyembunyikan rona pipinya. Tak kuat menahan gejolak aneh dalam perut serta jantung yang menggebu-gebu.

"Masuk."

"Hah?" nampaknya Hinata mulai terserang penyakit tuli.

"Masuklah jika tidak ingin sakit. Angin malam tak baik untukmu yang anak Rumahan."

Mata Hinata berbinar. Sasuke begitu perhatian padanya. Apakah mungkin...

"Jangan mengangap berlebihan Hyuuga. Jika kau sakit aku juga yang repot, jadi cepatlah masuk."

Hinata merengut. Apa-apaan pemuda Uchiha ini. Tak bisakah membiarkan Hinata melambung dalam kegembiraan walau hanya sesaat. "Selamat malam Sasuke-kun." Hinata memaksakan senyum, lalu berbalik menuju Rumahnya.

"Hyuuga."

Langkah Hinta terhenti. Ia berbalik menatap Sasuke bingung. "Ya."

"Ada yang ingin ku katakan padamu."

"A-apa itu?" Hianta menunggu. Perasaan dongkol pada Sasuke menguap seketika. Detak jantungnya tak terkendali. Apakah Sasuke memiliki perasaan yang sama terhadapnya? Dan akan mengutarakanya sekarang? Oh tunggu dulu. Pastikan Hinata telah menghubungi Ambulace. Hanya untuk jaga-jaga saja jika Hinata mendadak tidak sadarkan diri.

"Sebenarnya.." Sasuke menggantungkan kalimatnya, sedikit ragu untuk melanjutkan.

Hinata meneguk ludah dengan susah payah. Perkataan Sasuke yang menggantung membuatnya didera rasa penasaran hebat. 'katakan! Ayo cepat katakan Sasuke! Katakan bahwa kau juga menyukaiku.'

"Sebenarnya pakaian dalamu tercetak jelas. Aku sarankan tidak memakai itu lagi jika keluar Rumah."

Hinata tak dapat lagi berfikir jernih saai ini. Satu kata dalam otaknya, "KYAAAA...!"

.

.

"Apa kau menyukai Sasuke?"

"Aku Tidak. Aku tidak akan ragu mengatakan bahwa aku sangat menyukai Uchiha Sasuke."

.

.

TBC

A/N: hohohoho sebelumnya Author minta maap karena ngaret update. Sebagai gantinya Author banyakin isi dichap 2 ini. Thanks untuk Reviewnya Minna-san juga para Silent Readers. Author senang membaca respon positif dari kalian. Maap Author kagak bisa bales satu-satu, Author kudu kembali bertapa di bulan. Ketemu lagi di chap 3 kawan... ^^b