Gundam Seed/Destiny © Bandai, Mitsuo Fukuda, Chiaki Morosawa, and Affiliations.
There is no financial advantage taken from this piece of writing and it's only for entertainment purpose. No rights infringement is intended. Everything other than plot and my own OC (if any) are owned by the rights holders.
May GS/D always stay alive in our hearts and imagination.
M for mention of gore, a bit of nudity, and mature themes.
Horror/Crime/Drama/Mystery/Supernatural
FlayLacus, KiraFlay, KiraLacus, AsuCaga, TolleMilly, Surprise Pairings.
000
Devotion
By : Naw d Blume
000
Lacus menggosok punggung Flay yang putih dengan sponge kuning sambil sedikit menekan hingga lapisan kulitnya yang kering terkelupas. Dalam bathtub berisi air hangat itu, keduanya berimpit kulit ke kulit. Rambut pink panjangnya telah diikat erat dan diselubungi bath-cap. Flay yang duduk di depannya mengenakan bath-cap serupa. Jari jemari yang lentik menelusuri garis punggung hingga tulang ekor gadis bermata biru itu.
Sponge di tangannya ia lepaskan, hingga mengapung di permukaan air.
"Flay...," panggilnya kecil. Tangannya melingkar di perut gadis itu. Ia bergerak maju hingga tubuh bagian depannya melekat erat pada punggungnya.
"Lacus ... ah!"
Tangan Lacus menangkup bagian depan Flay dan meremasnya. "Jangan pergi kemana-mana."
Gadis berusia dua puluh delapan tahun itu kemudian menggigiti leher putih Flay, menorehkan bekas-bekas merah lalu menolehkan wajahnya hingga keduanya dapat menyatukan bibir. Lidah pun berpagut dengan air liur yang menetes.
Di luar kamar mandi, di atas meja di samping tempat tidur, ponsel Lacus berdering nyaring. Ada sebuah nama yang terpampang di layar.
…Kira Hibiki is calling…
000
"Kakak? Sedang apa?"
Kira menengok dan menemukan adiknya yang telah mengenakan piyama kuning bergambar beruang di ambang pintu. "Menelpon Lacus," jawabnya pendek sembari mematikan sambungannya dan meletakkan ponselnya di meja.
"Kenapa kau belum tidur?"
"Tidak bisa tidur. Tumben sekali, Kak? Biasanya jam segini sudah asyik ngobrol sama Kak Lacus di kamar."
Kira mengeluarkan napas kecewa. "Sudah tiga hari ini Lacus tidak bisa dihubungi."
"Jangan-jangan dia ngambek, Kak? Kakak bikin salah, ya?" tanya adik semata wayangnya itu dengan pandangan menuduh sembari duduk di kursi lainnya yang mengitari meja bundar di teras itu.
Kira mengedikkan bahu. Di benaknya, ia mengingat-ingat apa saja yang sudah diperbuatnya yang dapat berpotensi menyebabkan Lacus marah padanya. Dahinya berkerut semakin banyak ketika ia merasa belum pernah melakukan sesuatu yang salah.
Cagalli menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan sebuah desahan kecil, ia berucap, "Aku bahkan belum pernah bertemu dia selama ini. Masa kalian udah mau putus, sih?"
"Hush. Jangan, dong." Kira menyentil kening adiknya itu.
Cagalli mengelus-elus bekas sentilan kakaknya itu, menggerutukan protesnya. "Kak Lacus orangnya kayak apa, sih, kak? Udah sebulan ini jadian masa aku belum tau orangnya kayak apa. Kakak batal terus bawa Kak Lacus ke sini."
Kira mengambil ponselnya, kemudian membuka folder gambar. Ia lalu menyerahkan ponselnya itu kepada Cagalli dengan wajah penuh rasa puas.
"Cantik, kan?"
Di layar ponsel pemuda itu ada seorang gadis yang tersenyum lembut. Rambut pink panjangnya tergerai bebas ditiup angin. Di kepalanya hanya ada jepit rambut kecil berwarna emas. Sepasang matanya nampak tulus. Cagalli mendapati dirinya terpesona pada gadis berambut merah muda itu.
"Cantik, Kak. Jangan sampai Kakak putus dengannya. Aku lebih suka Kakak dengan cewek ini daripada dengan Kak Natharle," ujarnya sembari mengembalikan ponsel kakaknya itu. "Kak Nat terlalu tua untuk kakak."
"Lacus juga lebih tua dari kakak. Tiga tahun lebih tua."
"Dasar, penderita oedipus complex," komentar Cagalli lirih.
"Aku dengar apa katamu, Cags."
"Sorry. Sorry. Bercanda!" Cagalli cengengesan kemudian meraih tangan kakaknya itu dan mengelus-eluskan pada pipinya. "Aku tetap sayang Kakak meskipun Kakak pecinta wanita yang lebih tua, kok."
Kira memutarkan bola matanya, tapi kemudian menepuk-nepuk kepala adiknya yang berusia empat tahun lebih muda darinya itu. Ketika angin malam menerpa kulitnya, pemuda itu berdiri dan menarik Cagalli ke dalam rumah. Entah kenapa, angin malam malam itu terasa lebih dingin dari biasanya; membuat pemuda itu menggigil samar.
000
"Lacus, kau mencintaiku, kan?" Flay berbisik di telinga Lacus sembari memeluk leher gadis berambut pink itu.
Lacus melepaskan pelukan Flay kemudian memiringkan badannya sehingga kedua gadis itu berbaring berhadap-hadapan. Sepasang mata biru cerah milik Lacus memandangi gadis yang beberapa centimeter lebih tinggi darinya itu dengan pandangan penuh rasa sayang. Ia memajukan wajahnya hingga hanya ada jarak beberapa senti saja di antara bibir keduanya.
Lacus balas berbisik, "Apakah kau mencintaiku?"
Flay diam kemudian menarik wajah gadis itu agar bersandar pada cekungan di bawah dagunya. Jari jemarinya yang berkuku merah membelai rambut pink panjang yang ia idamkan dengan lembut. Lacus meninggikan selimutnya hingga menutupi bahu Flay, mrmberikan kehangatan pada kedua tubuh mereka yang tak berbalut.
"Tenang, Flay. Aku mencintaimu. Bukankah aku sekarang di sini?"
Flay merasakan bibir Lacus bergerak di permukaan kulitnya. Bibir itu tersenyum.
Malam semakin larut. Keduanya pun terlelap dalam pelukan satu sama lain. Tidak ada suara lain selain suara napas Flay yang teratur.
000
"Ayolah, Cagalli. Kamu harus ikut!" rengek Tolle tanpa rasa malu di koridor kampus. Pemuda berambut cokelat itu merangkul gadis yang beberapa sentimeter lebih pendek darinya itu dengan raut muka memelas.
Cagalli melepaskan rangkulan pemuda itu; sedikit risih ketika ia mendapati beberapa orang terang-terangan memandangi keduanya. "Kamu tahu aku enggak begitu suka main yang begituan, kan? Sudah cukup yang kemarin itu."
"Tapi Cags, kalau kamu enggak ikut, Athrun juga enggak mau ikut juga."
Gadis tomboi itu bergeming sembari memandangi pemuda itu datar seolah berkata 'lalu?' melalui pandangan matanya.
Tolle menggaruk lehernya. "Kamu kan tahu Athrun bisa ngeliat yang begitu. Aku dengar, yang begitu itu lebih tertarik pada orang-orang yang punya kemampuan lebih. Kalau Athrun ikut, aku yakin keberhasilan kali ini bisa meningkat."
"Oh? Jadi maksudmu … Athrun sebagai umpan? Seperti kemarin?"
"Uh ... yah, kurang lebih seperti itu...?"
Gadis itu memutarkan bola matanya. Tentu saja. Ia seharusnya memperkirakan alasan pemuda eksentrik itu. Ia berdecak kesal, tidak rela kekasihnya dijadikan umpan. Lagi. Dengan langkah panjang, ia meninggalkan Tolle –yang tanpa rasa putus asa mengikuti langkahnya dan dalam tiga langkah berhasil menyamai langkahnya.
"Ayolah, Cags. Pliiis. Pliiis. Pliiis. Ini akan jadi yang terakhir kalinya! Aku janji!"
Cagalli berhenti berjalan dan menoleh ke samping. "Terakhir kali, kamu juga bilang begitu."
"Ini beneran yang terakhir. Janji, deh. Mau ya? Mau? Kalau yang ini gagal, kami enggak akan ngajak kalian lagi. Janji! Kami mau deh, nraktir kalian di Kedai Kebab Babah. Beneran, janji. Nggak lagi lagi habis ini. Tapi piiis ... pliiis ... ikut, ya? Ya? Ya? Please..."
Ketika Cagalli menarik napas panjang, Tolle tahu, gadis itu mengiyakan. Bahkan sebelum gadis itu memberikan jawaban, pemuda itu sudah berjingkrak menjauh –tak lupa memberikan pelukan kecil pada gadis itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan sembari berjalan menjauh dari Cagalli, ia menelpon seseorang. "Kuzzey? Cagalli bilang 'iya'. Pastikan Athrun tahu, oke? Nanti malam kita jadi pergi!"
Pemuda itu sampai di ujung lorong ketika ia teringat akan suatu hal. Ia membalikkan badannya kemudian berseru: "Nanti malam jam setengah dua belas. Aku yang jemput! Kalian tunggu saja. Di rumahmu. Jam setengah dua belas."
Cagalli berdecak kesal lagi. Kekasih sahabatnya itu benar-benar bermuka tebal. Ia menundukkan kepalanya pasrah sembari meminta maaf ketika salah seorang dosen paruh baya menegurnya agar tidak berisik karena kelas yang masih berlangsung. Dengan muka memerah, gadis itu segera melangkah menjauh.
000
To be continued
000
Chapter 1 akhirnya... XD
Belum terasa bumbu genrenya, kan? Sowwie.
Thanks for reading.
