2 Heart (Kaisoo)

Main Cast :

- Kim Jongin as Kim Kai

- D.O as Do Kyungsoo

- U-KNOW Yunho as Jung Yun Ho

- Cho Kyuhyun as Do Kyuhyun

- Hangeng as Heol Yong Guk

Support Cast :

- Lee Min Ho as Kim Min Ho

- Baekhyun as Byun Baekhyun

- Xi Luhan as Shin Lu Han

- TAO as Huang Zi tao

- Kris as Wu Yifan

Cameo Cast :

- Chanyeol as Park Chanyeol

- Xiumin as Kim Min Seok

- Sehun as Oh Sehun

- Chen as Kim Jong Dae

Cast disini milik tuhan dan emaknya yang ngelahirin tapi plot ini asli dan murni dari saya. Karena, saya tertarik dengan latar belakang korea Utara. Terima kasih yang sudah review ya :)

Selamat membaca, reader

.

.

.

Korea Utara, November 1996- Januari 1997

Seorang anak kecil mengikuti gerak-gerik sang ayah. Padahal anak kecil tersebut tak tau apa yang ayahnya sedang lakukan.

"Ya presiden, saya akan segera kesana"Anak kecil itu berkedip manis ketika sang ayah mematikan teleponnya.

"Ayah"

"Nanti saja, Jongin. Ayah sedang sibuk"Seperti tau apa yang anaknya akan memintanya. Sang ayah langsung menolak dengan lembut sambil mengelus pelan rambut sang anak. Sang ayah memakaikan tas anak semata wayangnya. Semenjak istrinya meninggal ketika melahirkan Jongin. Sang ayahlah yang melakukan semua ini. Setelah memakai tas sang anak, kini giliran ayahnya memakai nametag di bagian dadanya.

"Kim Min Ho"Nama itu begitu pas dengan kekuasaan yang dimilikinya. Wataknya yang tegas namun perhatian membuat ketua militer tentara korea utara ini sangat dikagumi oleh warga atau rakyat Korea utara. Sang ayah menggandeng sang anak sambil mencubiti pipi tembem Jongin kecil. Jongin kecil menampilkan matanya yang seperti bulan sabit ketika memandang sang ayah. Ia sangat senang, karena ayahnya tak sesibuk biasanya. Ayahnya mengantarkannya ke taman kanak-kanak.

"Nah Jongin, kau belajarlah yang benar"Jongin mengangguk. Sang ayah mengusap bahu Jongin dan menatapnya lekat.

"Kau itu siapa ?"

"Kim Jongin"

"Anak dari siapa ?"

"Kim Min Ho. Kepala angkatan militer Korea Utara."Melihat tingkah Jongin kecil, Kim Min Ho mencium jidat sang anak dan menyuruhnya masuk kedalam. Sang anak melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Ketika Jongin sudah tak terlihat lagi, pada saat itu juga Kim Min Ho berangkat menuju kantornya.

.

.

.

Semua berbaris dan memberikan hormat kepada Kim Min Ho ketika ia sudah berada di hadapan para anggota tentara yang lain. Min Ho menyuruh para tentara untuk menurunkan tangannya.

"Bagaimana dengan latihan para militer, Yong Guk-ssi ?"Pemuda yang bernama Yong-Gak itu tersenyum.

"Cukup baik"Yong Guk tersenyum. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Yong Guk dan Min Ho sudah bersahabat sejak mereka menjadi anggota militer. Berbeda dengan Min Ho yang bijaksana, Yong Guk orang yang keras kepala dan ia merupakan orang yang susah ditebak seperti apa yang direncanakannya atau hal terburu apa lagi yang akan dilakukannya.

"Baik, saya akan memulai hitungan latihannya. Di mulai dari sekarang"Ketika mendengar perintah dari Min Ho. Semua anggota militer tampak sibuk melakukan kegiatan fisik untuk menunjang kemiliteran.

.

.

.

"Baik anak-anak, hari ini akan ibu umumkan untuk main peran Squirrel and Hedgehog"Anak-anak yang berusia 5 tahun itu, tampak tenang duduk di kursinya masing-masing. Termasuk Jongin. Perasaan anak itu tak karuan. Ia ingin sekali, ikut dalam drama musikal ini. Kartun ini, kartun kegemarannya lalu alasan yang sangat kuat untuk ikut drama ini adalah ia ingin ayahnya ikut menonton drama musikalnya.

"Baiklah, pemeran utamanya dipegang oleh Kim Jongin. Selamat sayang kau yang akan menjadi Geumsaegi "Jongin kecil menaikan tangannya ke atas sebagai tanda bersemangat. Semua anak-anak itu berkumpul didepan meja Jongin memberinya selamat layaknya anak kecil. Sayang, kebahagiannya hilang dalam sekejap ketika ayahnya menelepon bahwa ia tak akan pulang malam ini. Padahal, ia ingin sekali ayahnya mencium dirinya dan memberi selamat padanya.

"Huh"Jongin kecil menghela nafasnya panjang. Dan mulai menyalakan laptopnya. Dengan kepintarannya, Jongin kecil mencoba menghilangkan jejak agar tidak diketahui oleh layanan internet bahwa ia sedang mencari berita artis Korea Selatan.

.

.

.

"Korea Selatan kembali berulah lagi, Minho-Ssi"Yong Guk yang tak bisa menahan emosinya akhirnya hanya bisa mengoceh dihadapan sahabatnya Kim Min-Ho. Min-Ho memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sakit, ketika para tetua menyuruhnya untuk melemparkan bom ke perbatasan Korsel. Tidak segampang itu dan tak bisa gegabah. Para militer juga seorang manusia. Mereka perlu dan butuh strategi persiapan untuk perang. Baginya, latihan biasa amatlah kurang.

"Tidak segampang itu, Yong Guk ! Memangnya, kita sudah tau strategi apa yang mereka pakai. Kita harus membacanya terlebih dahulu pergerakannya. Bilang pada tetua, jangan gegabah. Itu malah membuat kita jatuh ke dalam lubang"Yong Guk yang tak terima dengan usulan Min Ho keluar dengan mendobrak pintu. Min-Ho mengusap wajahnya kasar. Ia melirik ke arah foto Jongin. Melihat wajah anaknya itu membuat ia dapat tersenyum sedikit. Ia mencoba menelepon Jongin kecilnya itu. Mencoba memastikan bahwa ia baik-baik saja.

"Yeoboseyo"Suara khas anak kecil muncul dari seberang sana. Mendengar suara Jongin kecil, membuat Min-Ho mencoba melupakan sebentar pekerjaannya yang sungguh membuatnya penat.

"Jongin annyeong hasimnika"

"Eoh, Abeonim. Jongin, sendirian. Jongin mau bersama Abeonim"Min-Ho menggerakan perlahan bibirnya dengan membentuk sebuah senyuman. Andai, ia ada dihadapannya. Ia pasti memeluk hangat calon prajuritnya.

"Seorang militer tidak boleh takut terhadap apapun. Kau mengerti ?"

"Ne"Tentu Jongin hanya bisa menjawab lemah. Ayahnya tak mengerti apa yang diinginkan oleh Jongin. Ia hanya ingin ayahnya ada dihadapannya. Hanya itu.

"Apa ? Lebih tegas"

"NE ABEONIM"Terdengar kikihan dari sang ayah dari seberang sana. Jongin ikut tertawa mendengar kikihan dari sang ayah.

"Abeonim, aku ikut dalam drama musical. Aku jadi Geumsaegi. Untuk acara minggu depan"Teriak bangga Jongin pada ayahnya. Ia berharap ayahnya setuju untuk menonton dirinya. Walaupun, Jongin yakin hanya 0,1% ayahnya akan mengatakan iya.

"Abeonim akan datang"Hati Jongin seperti akan copot mendengarnya. Jongin kecil mecoba menjauhkan telepon genggamnya dan mencoba membersihkan telinganya. Takut ia salah mendengar karena banyaknya kotoran ditelingannya.

"Abeonim, tadi bicara apa ?"Min-Ho tau anaknya itu sedang mencoba mendengarkannya secara seksama. Lagi-lagi, Min-Ho tertawa mendengar suara dari sang anak. Ia tau, Jongin mencoba memastikan pendengarannya.

"Abeonim, akan datang. Jongin, makanya bersihkan telingamu sebelum tidur. Jangan kau kebiasaan seperti ayahmu. Kau mengerti ?"Jongin terdiam sesaat kemudian Min-Ho harus menjauhkan telepon genggamnya ketika Jongin berteriak senang. Ini adalah hari keberuntungan Jongin yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

.

.

.

"Jadi bagaimana rencanamu, kepala Kim"Min-Ho menghela nafasnya panjang sebelum memulai presentasi dihadapan presiden dan perdana menteri. Ia berdoa, semoga jalan yang diambilnya benar.

"Baik, disini rencanaku adalah disiapkan bom gas yang dapat tertidur. Jadi, kita bisa mengambil apa yang dicuri oleh Korea Selatan. Jadi, tak perlu harus penumpasan darah. Aku sudah menyiapkan 3 posko untuk kita berjaga-jaga dekat dengan bahan rakitan bom gas tidur. Terakhir..."Sebenarnya Min-Ho agak ragu untuk mengungkapkan ini. Ia takut, terjadi penyalahgunaan yang akan mereka lakukan. "Ini adalah ketika kita memang tak punya jalan lain."Min-Ho mengeluarkan alat dengan tombol besar yang membuat semua orang yang menghadiri rapat tersebut menaikkan alisnya. Tnada bahwa mereka bertanya-tanya 'Barang apa itu ?'

"Barang apa itu ?"Dari sekian banyak orang yang menghadiri rapat hanya presiden Korea Utara yang bertanya tentang barang tersebut. Lagi-lagi, Min-Ho menghela nafasnya kembali sebelum menjawab pertanyaan dari presiden Korea Utara. "Ini Bom menggunakan sinar bluetooth yang bisa menghancurkan 300 km"

.

.

.

"Uri Hamke Sarangeun"Nyanyian itu terhenti ketika guru-guru taman kanak-kanak Seoldam memberikan tepuk tangan pada anak didiknya.

"Jongin-ah, kau kenapa bersemangat sekali latihannya ? Apa kau lagi bahagia ?"Tebakan sang guru benar. Jongin mengangguk dengan semangat. Sang guru yang gemas pada pipi Jongin yang kenyal langsung mencubitnya pelan.

"Apa yang membuatmu semangat ?"

"Ayahku akan menonton dramaku, songsaem-i"Teriak Jongin bahagia. Semua guru-guru pada terkejut. Mengingat siapa yang tak tau Kim Min Ho ketua pewira militer yang dapat membuat lawannya kabur itu berniat menonton drama Jongin. Sungguh ada kemajuan. Jongin memang berbeda dari yang lain, yang sepertinya haus atas kebersamaan terhadap keluarga.

"Benarkah ? Kalau begitu, kau harus lebih semangat. Songsaem-i yakin, ayahmu akan bangga padamu"Jongin lagi-lagi mengangguk dan menampilkan gigi putih kecilnya pada gurunya. Gurunya langsung memeluk Jongin dengan hangat. Jongin pulang dengan perasaan bahagia. Ia berjalan sambil bersenandung lagu drama yang akan dipentaskannya. Di depan rumahnya, ayahnya keluar dari mobil dinasnya.

"Abeonim"Min-Ho melihat Jongin langsung memeluknya, menciuminya dan menggelitikinya. Terlihat betapa rindunya Min-Ho padanya. Min-Ho langsung membawanya kedalam dan menundukkannya di sofa.

"Kau mau makan apa ?"

"Aku ingin makan ramyeon"

"Ramyeon ? Abeonim yakin, kemarin kau makan ramyeon bukan ?"Tentu saja, mana ada anak kecil seusia Jongin bisa memasak. Yang Jongin bisa hanya, membuat susu dan menyeduh mie panas ketika sang ayah tak ada. Bayangkan, jika ayahnya sebulan meninggalkannya berapa banyak ramyeon yang ia makan. "Tidak kau tidak boleh"Jongin memanyunkan bibirnya namun ia hanya bisa menurut.

"Bagaimana kalau kita makan daging diluar saja, oke ?"Wajah Jongin kecil kembali ceria. Sudah lama, ayahnya tak mengajaknya keluar rumah bersama. Ya, walaupun hanya sebatas makan saja.

.

.

.

Tampak dipagi harinya, tuan Kim Min Ho tampak sibuk bersiap-siap dan sudah memakai seragam militernya. Terlihat gagah dan rupawan memperjelas bahwa siapapun ingin menjadi ibu dari Kim Jongin atau lebih tepatnya menjadi istri dari kepala militer Kim Min-Ho.

"Abeonim"Jongin menghampiri Min-Ho sambil mengucek matanya pelan berusaha menetralkan kesadarannya yang masih diambang batas. Min-Ho mendekati Jongin sambil memeluknya. Ia terus menciumi pipi Jongin.

"Abeonim kapan pulang ? Abeonim, tidak akan lupa bukan dengan drama musikalku kan ?"Min-Ho duduk terjongkok agar menyamakan tinggi Jongin kecil. Ia mengusap bahu Jongin pelan.

"Abeonim tak akan lupa, Jongin-ah"Bohong ! Jongin tau bahwa ayahnya kini tengah berbohong ! Terlihat dari mata sang ayah yang tak berkata jujur saat menatap manik Jongin kecil.

"Yunho-ssi"Merasa namanya dipanggil, Orang yang bernama Yunho itu pun menghampiri majikannya. Ia menunduk hormat pada tuannya itu. Min-Ho hanya tersenyum memandang Min-Ho tersenyum "Tolong jaga dia, berikan ia makan yang benar"Tanpa disadari Jongin, Mata Min-Ho terbersit kekhawatiran yang besar yang entah-apa-yang akan terjadi padanya.

Jongin dan Min-Ho berjalan keluar rumahnya. Mobil jeep tentara siap tersedia untuk mereka pakai. Hari ini, Jongin tidak sekolah. Tentu, karena negaranya berperang pasti semua sekolah di Korea Utara diliburkan. Jongin duduk samping ayahnya. Ketika sampai di alun-alun pyeongang terdengar suara semangat nasionalis rakyat Korea Utara. Disinilah, Jongin dan ayahnya harus berpisah. Ketika Min-Ho keluar semua pada menunduk hormat padanya. Sang presiden langsung menatapnya haru memandang pemandangan Jongin dan Min-Ho. Ketika ia selesai pamit pada warga Korea Utara, Min-Ho pergi bersama para tentara yang lain bersiap untuk menghadapi perang.

"Abeonim"Sebuah suara serak parau keluar dari mulut mungil Jongin kecil. Air matanya sudah mengalir begitu saja bertanda perpisahan dengan ayahnya. Jongin selalu panik, ketika ayahnya berperang.

.

.

.

Korea Selatan,November 1996-Januari 1997

"Apa sih sebenarnya maunya partai utara itu !"perdana menteri Do Kyu Won itu tampak geram sambil menggebrak mejanya. Sudah berbagai cara ia lakukan agar berdamai dengan Korea Utara namun yang didapatkan hasilnya adalah perang lagi.

"Menurut sumber yang ada, ia memulai pergerakan"Informasi itu membuat Kyu Won mengacak rambutnya frustasi. Handphonenya berdering, terlihat dilayar handphonenya sebuah nama 'Keparat' membuat Hoon Woon mendecikkan lidahnya.

"Waeyo ?"

"Hyung lihatlah kebawah"Kyu Won langsung mendekatkan diri pada jendela kantornya. Terlihat sepasang keluarga kecil melambaikan tangan padanya. Ketika sudah sampai diruangannya, pria yang perawakannya mirip dengan Kyu Won itu pun langsung memeluknya.

"Omo, Nappeunjashi ! Kyu Hyun-ah, kau tidak malu dengan istri dan anakmu itu ?"Kyu Won mendorong adiknya itu tak peduli adiknya itu meringis kesakitan. Istri Kyuhyun hanya bisa tertawa memandang tingkah suami dan kakak iparnya itu.

"Pasti ini Kyungsoo. Sudah tambah cantik saja ya ?"Kyu Won mengelus pelan rambut indah gadis kecil yang berumur sekitar 7 tahun ini.

"Annyeong haseyo ahjussi"karena kelucuan Kyung Soo. Kyu Won tak bisa menahan untuk tak mengacak rambut Kyung Soo. Beruntung sekali, adiknya yang bengal itu diberikan istri yang sangat cantik bernama Sungmin beserta anaknya yang begitu cantik layaknya putri dalam dongeng.

"Hyung, Sunmul"Kyuhyun memberikan sebuah kotak hadiah. Kyu Won menyerngitkan alisnya sebelah. Ia mencoba mengingat atau mungkin menebak dibalik hadiah tersebut.

"Aish, coba berfikirlah secara postive padaku ! Aish, Jinja ! Hari ini hari ulang tahunmu. Makanya, cepatlah kau menikah lagi agar ingatanmu itu tak menua"Celotehnya dengan panjang lebar. Kyu Won ditinggalkan istrinya karena penyakit virus yang tak terdeteksi oleh dokter. Sampai sang istri meninggal Kyuwon tidak dikarunai anak satupun. Kyuwon kembali menyerngit ketika membuka kotak hadiah yang diberikan Kyuhyun.

"Itu pistol terbaru. Aku membelinya sewaktu kami jalan-jalan di Las Vegas. Pistol itu mampu menembak dari jarak 20 meter dan kecepatannya 110 km per jam. Harga ? Kau tak usah memikirkannya hyung. Aku ikhlas, sungguh"Seperti tau apa yang ada dalam otak Kyu won. Kyuhyun langsung berbicara tanpa henti. Sungmin menyenggol suaminya dengan sikutnya menyuruhnya untuk diam agar kakak iparnya bisa berbicara sesuatu.

"Sungmin, bolehkah aku pinjam suami dulu. Ada yang harus aku bicarakan dengan Kyuhyun"Sungmin mengerti. Ia mengajak Kyungsoo keluar agar kakak iparnya itu dapat berbicara dengan leluasa.

"Korea Utara ingin melakukan perang kembali"Kyu Won akhirnya mulai berbicara setelah kepergian Sungmin.

"Lalu ?"

"Kembalilah ke militer"

"Apa ? Hahahaha, Hyung. Apa obat Hyung sudah habis, eoh ?"Tentu Kyuhyun tercengang, dikarenakan tiba-tiba Kyu Won menyuruhnya kembali ke militer. Sedangkan, ia sudah berhenti menjadi anggota militer dikarenakan ia sudah menikah dan tentu ia tak mau meninggalkan Sungmin. Apalagi sekarang ia sudah mempunyai putri kecilnya Kyungsoo. Mana tega ?

"Aku tau, itu sangat berat untukmu. Tapi, tak ada yang bisa menggantikanku menjadi kepala perang selain kau, Hyunnie. Korea Utara sudah bergerak jauh saat ini. Presiden juga sudah angkat tangan akibat ulahnya. Ia mempunyai persenjataan yang kuat. Kumohon, kau salah satu orang genius yang dapat merakit bom dengan hanya waktu beberapa menit. Jadi, kumohon kembalilah"Kyuhyun menggeleng. Kakanya benar-benar kehilangan kesadarannya. Apa ia tak memikirkan perasaan Kyuhyun yang sudah menikah ?

"Hyung, aku sudah menikah. Lalu, aku sudah mempunyai Kyungsoo. Bagaimana bisa, aku meninggalkan mereka dalam perang ? huh ? Jika aku mati, apa yang akan terjadi dengan Sungmin ? Ia akan menjadi orang tak waras hyung"Kyuwon menghampiri Kyuhyun dan memegang tangannya erat. Terlihat jelas dari tatapan kakaknya, ia sedang mengharap juga memohon. "Tolonglah kyuhyun, demi menjaga nama baik ayah di dunia politik"Kyuhyun merasakan kini otaknya kosong dan tak tau harus menjawab apa.

.

.

.

"Tuan muda"Jung Yunho pengawal pribadinya tersenyum setelah menemukan tuan mudanya itu sedang melihat langit. Ia menaruh nampan yang berisi nasi kimchi dengan susu.

"Apa yang tuan muda lakukan disini ? Udara malam tidak bagus untuk tuan muda"Jongin menolak. Jongin menggeleng. Namun matanya masih menatap bintang yang ada dilangit.

"Ahjussi, kata seongsaenim-ku hari ini akan ada bintang jatuh"sebagai seorang anak kecil pasti percaya pada hal itu. Jangankan anak kecil, orang dewasa saja percaya bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan. Mendengar penuturan Jongin, Yunho menyerah dan duduk disampingnya.

"Oh bintang jatuh"Jongin kecil langsung berdiri. Karena takut jatuh, Yunho memeganginya. Jongin menutup matanya dan bersiap untuk memohon "Aku berharap, abeonim menonton drama musicalku"Air mata Yunho menetes mendengar permintaan Jongin kecil.

"Min-Ho ada apa kau menghubungiku ? Dikira kau tak punya waktu untuk bersosialisasi"Nada Yunho sedikit mengejek pada sahabatnya itu. Ia yakin, Min-Ho diam-diam mengambil waktu kerjanya untuk menemuinya.

"Yunho, bisakah kau menjadi pengawal pribadi Jongin"Yunho terkekeh mendengar permintaan sahabatnya itusedikit tak sopan karena tanpa basa-basi.

"Kau berani membayarku berapa, kepala militer Kim Min-Ho ?"Yunho hanya menemukan matanya yang basah namun ia langsung menutup wajahnya dengan topinya.

"Min-Ho-ya"Tiba-tiba Min-Ho mengambil tangannya. Pipinya sudah basah karena air mata. Baru pertama kalinya, Yunho melihat Min-Ho menangis dengan mudahnya. Biasanya, ia akan menangis seorang diri.

"Besok aku akan perang melawan partai selatan kembali"Min-Ho mencoba mengatur nafasnya sebelum melanjutkan bicaranya "Entah kenapa hatiku merasa, aku tak bisa tau, kita akan mengeluarkan bom untuk pengeboman di partai selatan"Yunhho tercengang dengan rencana negaranya itu.

"Aku yakin, ini akan menjadi perang hebat kembali setelah tahun 1950. Jadi kumohon, jika aku tak kembali. Tolong jaga Jongin untukku"

"Cih, Jongin akan kulindungi tanpa kau membayarku"

"Ahjussi ?"Lamunan Yunho buyar ketika Jongin menarik bajunya pelan. "Ahjussi, kenapa menangis ?"Sepintar-pintarnya Jongin. Jongin hanyalah seorang anak kecil yang polos. Yunho mengusap rambut Jongin kecil.

"Ahjussi tidak apa-apa. Hanya iri, kenapa Jongin lebih pintar dari ahjussi"Jongin tertawa. Layaknya orang dewasa yang membanggakan dirinya, Jongin menepuk dadanya. Yang tentu saja membuat Yunho tidak bisa menyembunyikan tawanya.

"Tentu saja, karena aku calon prajurit partai Utara menggantikan abeonim"

.

.

.

Kyuhyun kini duduk diantara para tentara yang lain untuk dikirim perang Korea Utara. Ia memandangi foto dirinya, sungmin tak lupa Kyungsoo ketika ulang tahunnya kemarin yang ke-7 tahun. Kemudian ia memenjamkan matanya.

'Tuhan selamatkan aku, agar aku bisa bertemu lagi dengan orang yang saya cintai'

"Biar kami periksa dulu"Kyuhyun membuka matanya dan bersiap memegang senjata karena saat ini Korea Utara sedang mengecek yang ada dalam mobil mereka. Mereka saling melempar pandangan tajam. Salah satu penjaga Korea Utara memeriksa barang-barang mereka sedangkan yang satunya lagi menatapgerak-gerik lawan mereka.

"Silahkan pergi"Salah satu itu berucap sambil membuang savinanya seperti mengejek. Sungguh, itu bukanlah sebuah perbuatan terhormat.

"Kyuhyun, kenapa kita tidak penggal saja tadi kepalanya ?"Salah satu tentara protes yang hanya diam saja ketika harga diri Korea Selatan diinjak oleh salah satu musuh mereka.

"Shim Changmin, jika kau mulai sebelum perang yang ada kau lebih dulu dipenggal kepalanya. Kau paham ?"Kyuhyun tau sifat Changmin sahabatnya itu. Ia pasti, akan terbawa emosi jika sudah menyangkut rasa nasionalisnya terusik. Changmin menghela nafas dan mau tak mau harus menyetujui ucapan Kyuhyun. Setelah sampai di camp, semua para tentara siap berkumpul. Changmin dan Kyuhyun sudah berdiri di depan untuk membimbing tentara.

"Pembacaan Ikrar militer akan segera dimulai"Changmin langsung maju beberapa langkah kedepan. Pandangannya lurus badannya tegap siap untuk membaca ikrar militer sebelum berperang "Kami agresi militer Korea selatan bersumpah : 1. Kami berperang tidak memulainya duluan dan tidak akan menyakiti lawan jika tidak terpaksa. 2. Kami akan membawa kemenangan dan kehormatan Korea selatan sebagai tentara. 3. Kami siap mati demi kehormatan negara dan membela negara"Ucapan Changmin langsung diucap ulang oleh para tentara lainnya. Setelah pembacaan ikrar selesai, Changmin mempersilahkan Kyuhyun untuk memberitaukan rencana perang mereka.

"Baik, kita disini untuk apa ?

"Untuk memberikan kemenangan dan kehormatan partai selatan"

"Walaupun kalian harus siap mati ?"Semua tentara terdiam mendengarnya. Kyuhyun mengerti sebenarnya mereka tak sanggup untuk meninggalkan keluarganya. Kyuhyun sangat mengerti itu. Ia tersenyum.

"Aku Do Kyuhyun menjadi kepala militer baru disini bersama Changmin. Aku akan menggantikan Do Kyuwon selaku kini Kyuwon sudah menjadi perdana menteri. Namun, kalian tak usah khawatir aku mengerjakan tak becus. Karena rencanaku adalah rencana hyungku juga. Aku akan berusaha sekuat mungkin"Semua terdiam. Bagaimana bisa, yang sudah berhenti bermiliter memimpin perang. Dan banyak yang bilang, bahwa ia ikut militer karena lingkup keluarganya dan dianggap kinerja asal saja"Baiklah, rencanaku adalah sudah menyiapkan kapal selam untuk memata-matai pergerakan partai utara. Lalu masuk kedalam, untuk menculik perdana menteri agar perdana menteri itu tidak semena-mena menginjak semenanjung batas wilayah selatan lalu buat surat perjanjian damai"Seperti tidak yakin dengan ucapan Kyuhyun semua terdiam.

"Hei, Kyuhyun itu selalu mendapatkan bintang empat ketika masih menjabat di militer. Ia ikut militer bukan karena keluarganya. Tapi karena kemampuannya. Kau tau siapa yang memenangkan game war friendship di Amerika ? Yaitu kami. Dan didalam kelompok itu, semua rencananya dibuat oleh Kyuhyun. Ia lah yang membuat kita mendapat penghargaan militer terbaik. Arra ? Tepuk tangan buat Kyuhyun kalau begitu"Semua bertepuk tangan akibat ucapan Changmin yang secara tiba-tiba. Semua menunduk hormat pada Kyuhyun. Mereka mulai mempercayai Kyuhyun. Kyuhyun memandang Changmin yang hanya mengangkat bahu. "Aku tidak melakukan apapun, Kyuhyun-ah. Aku hanya berkata yang sebenarnya"

Tanpa disadari oleh Korea Sekatan, saat ini Korea Utara sedang mematai peregerakan Korea Selatan melalui laptopnya ia memonitori semuanya.

"Cepat cari dimana partai Selatan menyembunyikan kapal selamnya !"Setelah perintah dari Yong Guk dikeluarkan, 2 prajurit menunduk hormat dan langsung mencoba mencari kapal selam itu.

"Ternyata yang menjadi kepala militer umurnya sama sepertimu dan hanya berbeda mungkin sekitar 2 tahun. Tak sulit, untuk mengalahkannya"Min-Ho hanya terdiam dan tetap berkonsentrasi menatap layar monitornya. Namun pikirannya hanya tertuju pada satu hal 'aku harus bisa menonton drama Jongin dan menyelesaikan perang ini secepat mungkin'

.

.

.

"BOUNCE WITH ME BOUNCE WITH ME
BOUNCE WITH ME BOUNCE
BOUNCE WITH ME BOUNCE WITH ME
BOUNCE WITH ME BOUNCE"Jongin mengurung diri untuk mendengarkan musik korea selatan kesukaannya. Lagu Dj doc selalu menemani Jongin ketika Jongin sedang bosan. Ketika Yunho masuk kedalamnya, Jongin langsung bernyanyikan lagu Gisaemi lagu yang nanti akan dinyanyikan untuk drama musicalnya

"Sudahlah Ahjussi sudah tau"

"Apa ?"Yunho menaruh nampannya disamping ranjang Jongin. Mengambil Handphone dari balik kantongnya dan menunjukkan sebuah foto yang membuat mata Jongin terbuka lebar. Ya, foto H.O.T.

"Ahjussi juga suka artis partai Selatan. Jadi tenang saja. Lalu, ahjussi bisa dance H.O.T loh"Jongin terkikik seperti tidak percaya apa yang dikatakan Ahjussinya padanya.

"Naege haneuli yalryeo isseo keurae keurae naneun nae ipeseo itgo
Keurae dareun yeonideuleun kiseureul hae
Hajiman hangsang naneun nawi dwi-e isseoyaman hae
Ije keumanhae eum nado namjande eum
Nae maeum neodo alko itneungeol ara
Kerae ije nado jichyeoseo haneulman barabol su bwa-e"Selesai bernyanyi, Yunho diakhir bergaya layaknya H.O.T . Jongin memandangnya dengan kagum. Matanya berbinar melihatnya.

"Ajarin aku, ahjussi"

"Boleh, tapi ada syaratnya ?"

"Apa ?"

"Jangan panggil aku Ahjussi lagi. Panggil aku samchon"

.

.

.

"Maaf kapten kita menemukan dimana persembunyian kapal selam itu"Yon Guk langsung berdiri dan menggebrak meja. Ia menyunggikan senyumannya. Lalu tertawa dengan puasnya.

"Segera bom kan ! Jangan sampai, ia mengetahui rencana kita."Semua menunduk hormat pada Yong Guk dan langsung pergi untuk melaksanakan perintahnya.

"Kim Min-Ho, jika kau tak bisa mengurusi ini maka aku yang akan mengurusi partai selatan. Hahahahaha"Tawanya murka. Semua para prajurit Korea Utara secara diam-diam masuk kedalam wilayah partai selatan. Ia pun memasang bom peledak di setiap sudut gudang.

"Apa persiapannya sudah selesai ?"Tiba-tiba partai Selatan datang dan membuat partai utara panik. Mereka sebisa mungkin bersembunyi agar tak ketauan.

"Sudah Changmin-ssi, kita akan siap membakar mereka hidup-hidup esok hari. Tapi, Changmin-ssi, jujur ahjussi tidak percaya pada kemampuan Kyuhyun. Apakah kita bisa mengandalkannya ?"Changmin menepuk pundak paman tersebut dan tersenyum padanya "Percayalah, ditangan Kyuhyun partai selatan akan menang"

Changmin masuk kedalam kapal selam tersebut dan melihat-melihat sekeliling. Namun ketika ia menemukan sebuah bayangan orang yang muncul dalam kaca, ia pun menyenggol paman penjaga kapal selam itu untuk melihat. Mereka pun terkejut karena mereka sudah melakukan perlawanan.

"Ahjussi Nam, apakah kita akan menang melawan partai utara ?"Changmin sengaja agar singa keluar dari kandangnya dan bisa membunuh mereka dengan cepat ditangannya.

"Tentu. Komunis tidak akan bisa mengalahkan ideologi yang berdasarkan nasionalis"Changmin mengangguk dan kembali melihat-melihat namun tatapan sebenarnya untuk mengintai keberadaan partai utara.

"Tapi bukannya, Uni Soviet dapat mengalahkan Amerika dalam perang dunia ?"Ahjussi Nam tau tujuan pembicaraan Changmin. Changmin ingin mereka marah sehingga keluar dari persembunyiannya. Dengan takut-takut Ahjussi Nam berbicara "Tapi bukannya pada akhirnya Uni Soviet kalah karena ulah anggotanya sendiri yang ingin bersatu dan menyadari bahwa komunis itu salah"

"Brengsek"Dugaan Changmin benar. Semua partai utara sudah keluar dari sarangnya. Siap menembaki Changmin. Changmin membuang ludahnya seakan menantang partai utara untuk bertempur. Ia tak peduli walau ia hanya sendirian.

"Keluarlah Ahjussi"

"Tapi..."

"GAYO !"Mendengar perintah Changmin, Ahjussi nam yang sedang ketakutan mencoba melarikan diri.

"Dor"

"Ahjussi"Changmin berteriak ketika Ahjussi Nam terkena tembakan. Ia langsung menyerang prajurit partai utara yang menembak ahjussi Nam.

"Kau brengsek !"Tanpa disadari yang lainnya. Ahjussi Nam bangkit dan mencoba meloloskan diri. Ia harus menyampaikan ini pada Kyuhyun. Satu-satunya harapan untuk partai Selatan. Sedangkan Changmin masih sibuk berkelahi dengan para militer partai utara. Semuanya mampu dihabiskan oleh Changmin. Tapi tiba-tiba sebuah pistol digunakan memukul tengkuk Changmin yang membuat Changmin kehilangan kesadarannya.

"Kepala militer Yong Guk"Semua menunduk hormat ketika Yong Guk datang.

"Apa semua bom sudah dipasang"

"Sudah dipasang tuan, hanya saja kami belum sempat mengaktifkannya karena orang ini tiba-tiba datang"Yong Guk mengangguk mengerti penjelasan dari salah satu prajuritnya.

"Kalau begitu cepat diaktifkan"Yong Guk yang hendak pergi tiba-tiba terhenti langkahnya dan melemparkan sesuatu ke salah satu prajuritnya. "Pastikan itu masuk kedalam mulutnya. Ia tak boleh dibiarkan hidup"

.

.

.

"Hei itu bukannya Nam Gyul ahjussi"Salah satu tentara itu melecehkan kepada temannya itu.

"Kau bodoh ? Tentu saja Nam Gyul ahjussi tidak ada disini. Karena dia menjaga kapal selam itu bukan ?"Karena temannya itu kesal. Ia pun memegang leher dan menyuruhnya menunduk paksa agar bisa ia lihat dari terepong. Ia menoleh pada sahabatnya itu.

"Kau benar Wooyoung-ah"Mereka langsung bergegas menghampiri ahjussi Nam. Mereka tampak kaget melihat ahjussi Nam dalam kondisi berdarah.

"Ahjussi nam, kau tidak apa-apa ? Ya ! panggil Kim Soohyun uisa-nim lalu panggil kepala Do"Tanpa basa-basi tentara yang ada didekatnya menurut dan langsung pergi menuju tenda Kyuhyun.

"Maaf kepala Do"Nafas tentara itu terengah-engah memasukki tenda Kyuhyun.

"Apa ada masalah ?"Kyuhyun langsung mengerti melihat kondisi tentaranya seperti itu. Ia memastikan bahwa partai Utara sudah bergerak.

"Nam Ahjussi tertembak"

"Apa ?"

K

A

I

S

O

O

Korea Selatan, Seoul, Gangnam

"Kyungsoo sayang, ayo kita berangkat. Hari ini bukannya pentas senimu kan ? Sekarang kan tahun baru. Hm ?"Kyungsoo kecil tak menunjukkan ekspresi apapun. Sungmin mengerti, anaknya itu marah pada Kyuhyun karena disaat pentas seninya Kyuhyun tak bisa ikut karena memimpin perang.

"Sayang, dengarkan Eomma. Kyungsoo harus tetap tampil maksimal ya sayang, biar appamu bangga padamu. Walaupun appa tidak datang, tapi appa bisa melihat videomu dan foto-fotomu itu. Jadi tersenyumlah. Kau sangat jelek ketika kau cemberut, baby"

"Benarkah appa akan menonton video eomma nanti. Bagaimana appa mati ?"Sungmin tercekat apa yang keluar dari bibir Kyungsoo. Ia tak menyangka anaknya akan berbicara seperti itu. "Krystal, Suzy dan Yura. Genk jahat itu berkata 'ayahmu itu kan tentara, ia tak mungkin menonton pentas senimu. Ia pasti akan mati' Kyungsoo takut eomma, omongan mereka terjadi"Kyungsoo mengucapkan itu dimulut polosnya sebagai layaknya anak kecil. Sungmin memeluk Kyungsoo dan membelai rambut halusnya.

"Appamu tetap bersama kita. Appa akan selamat, percayalah pada eommamu"Sungmin mencoba menenangkan hati Kyungsoo dan membuatnya berhenti menangis. Namun, dalam hatinya sebersit ke-khawatiran terhadap suaminya. Apa suaminya itu makan benar ? Apa ia meminum vitamin yang ia kasih ? Ia begitu takut dan begitu khawatir sebenarnya. 'Kyuhyun-ah, neo gwenchana ? Kumohon teruslah hidup, demi Kyungsoo. Demi anak kita'

.

.

.

Disinilah Kyuhyun sudah berdiri. Di depan gedung kapal selam milik negaranya yang akan menjadi sebuah senjata untuk mengalahkan partai utara namun korea utara telah mengetahuinya. Tanpa basa-basi, Kyuhyun beserta tentara yang lain masuk kedalam gudang tersebut dan berusaha mencari Changmin.

"Shim Changmin, jawab aku kau dimana ?"Nama yang ia panggil tak memberikan sahutan kembali.

"Shim Chang..."

"Kepala Do, kami menemukan bom. Kini waktu tinggal tersisa 10 menit lagi"

"Apa ? Cepat temukan Changmin dan nonaktifkan"

"Maaf, tapi bom itu diproteksi. Sehingga, kami tak bisa menonaktifkannya"Kepala Kyuhyun seperti akan meledak mendengar hal itu. Ia frustasi ! Karena ternyata kini pergerakan partai utara menunjukkan perkembangan pesat.

"KALAU BEGITU CEPAT TEMUKAN KEPALA SHIM !"

Kyuhyun benar-benar panik saat ini. Waktu sudah menunjukkan waktu 2 menit lagi. Mereka berusaha menemukan Changmin tapi tak berhasil. Begitupula, dengan menonaktifkan bom. Ketika waktu sudah menunjukkan waktu 1 menit lagi, Kyuhyun menemukan Changmin dengan mulut yang sudah berbusa.

"Shim Changmin, bangunlah ? Shit !"Merasa tak ada waktu. Kyuhyun langsung menggendong Changmin dipunggungnya berusaha membawanya keluar.

"Cepat kalian keluar juga ! Aku sudah menemukan Changmin !"Mendengar aba-aba Kyuhyun, mereka langsung menurut.

'BOM!' Gudang itu akhirnya tebakar saat mereka sudah ada diluar. Kyuhyun langsung menurunkan Changmin dan menidurkan Changmin yang kini bibirnya sudah membiru. Kyuhyun membuat sungai kecil, ketika ia memegang nadi sahabatnya itu.

"CHANGMIN-AH !"Kyuhyun menepuk dadanya yang terasa sesak akibat menangis. Semua prajurit tentara menurunkan topinya sebagai tanda bahwa mereka kini tengah berduka dengan kehilangan kepala militer yang tegas namun peduli dan tak pernah merasa dirinya seorang kepala militer.

.

.

.

"HEOL YONG GUK, APA YANG KAU LAKUKAN !"Min-Ho masuk ke dalam ruangan Yong Guk. Yong Guk hanya menaikan alisnya.

"Kau jangan berpura-pura tak tau, Yong Guk ! Aku tau, kau yang perintahkan untuk meracuni kepala Shim bukan ?"Melihat senyuman milik Yong Guk, ia menarik kerah kemeja Yong Guk. "Kenapa kau melakukan itu ?"Yong Guk melepaskan tangan Min-Ho dari kerahnya.

"Sekarang kau menjadi pengkhianat, Kim Min-Ho" Min-Ho mengusap kasar wajahnya. Susah berbicara dengan otaknya kosong.

"Heol Yong Guk, apa yang kau rencanakan itu tidak akan berdampak baik bagi negara. Wajah kita, akan semakin buruk di kanca internasional."

"Sekarang, kau yang harus jawab pertanyaanku, Kim Min-Ho. Sejak kapan mereka menilai bagus terhadap kita ? Sejak kapan, negara Komunis seperti kita peduli pada internasional ?"

"TAPI KITA AKAN MENDAPATKAN SANKSI. DAN SANKSI INTERNASIONAL TIDAK AKAN MAIN-MAIN. YANG MUNGKIN SAJA, AKAN MERUGIKAN NEGARA ! MERUGIKAN RAKYAT ITU ! SADARKAH KAU, HEOL YONG GUK !"Min-Ho sadar bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan bedebah seperti Heol Yong Guk itu. Ragu untuk melangkah, Min-Ho memejamkan matanya sebentar

"Aku harus kesana"

.

.

.

Yunho masuk kedalam rumah Jongin dengan membawa beberapa belanjaan makanan. Ia mengusap-usap bahunya dan berlari-lari kecil menahan dingin.

"Jongin-ah, kenapa rumah gelap seperti ini ? Aku tau, kau mau profesional dalam lati..."Omongan Yunho terhenti ketika melihat Jongin dance candy dihadapannya. Anak itu begitu lucu dan manis. Ia mengikuti pose Yunho sebelumnya diakhir setelah ia bernyanyi.

"Han"Otak Yunho seperti harus menunggu untuk mencerna dengan apa-yang-sedang-terjadi.

"Saengil Chukahamnida, Samchon"Yunho mengambil kue pie cokelat yang dipegang oleh Jongin.

"Bagaimana kau tau ?"Jongin menunjukkan sebuah tanggal yang dilingkari di dalam kalendar. "Itu yang kau bundari tanggal ulang tahunmu bukan ?"Yunho tercekat. Ia lupa ternyata hari dimana ia harus membayar utang tepat dimana ia berulang tahun juga.

.

.

.

"Kepala Do, kepala partai utara datang pada anda, apakah lebih baik suruh usir saja"Kyuhyun menggeleng dan justru membiarkan kepala partai utara itu datang dan masuk dalam tendanya.

"Ada apa ?"

"Joseonghwamnida"Kyuhyun tercekat. Ia mencoba menajamkan pendengarannya kini partai utara sedang meminta maaf padanya.

"Apa ?"

"Joseonghwamnida, telah membunuh kepala Shim. Kami turut berduka cita. Ini sebuah kecelakaan. Jangan berikan kami sanksi atas hal ini"Kyuhyun tercengang kemudian ia tertawa. 'Dasar partai utara, tak tau kata basa-basi. Ia sudah membunuh sahabatku'

"Apa tak diberikan sanksi ? Tolong, kau melanggar undang-undang dengan memakai bom nuklir meracuni kepala Shim ke daerah yang seharusnya tak boleh partai utara jelajahi. Kau tau itu BUKAN ? SATU LAGI, KAU MEMBUNUH SAHABATKU SECARA TIDAK TERHORMAT, TUAN"Kyuhyun sudah diujung kemarahannya. Kyuhyun menarik kerah kemeja Min-Ho namun Min-ho tersenyum dan mencoba melepaskan tangan Kyuhyun secara perlahan.

"Kalau begitu, biarkanlah kali ini aku menjadi pengkhianat"

"Apa ?"

"Kau ingin merampas Bom nuklir partai utara bukan ? Semuanya ada di perbatasan pyongyang. Pastikan kau membawaku karena yang dapat membuka pintu penyimpanan itu hanya sidik jariku."

"Jangan berbicara omong kosong"

"Aku tidak akan berbicara omong kosong, jika kau mencabut sanksi internasional pada warga partai utara ? Aku tidak akan biar Krismon terjadi kembali. Jika, kau berkhianat maka kepalamu yang akan menjadi taruhannya, Do Kyuhyun-nim"Min-Ho pergi meninggalkan tenda Kyuhyun sambil menyunggikan senyuman tapi bersama air matanya juga yang jatuh di menggumpal dimatanya. Sedangkan, lamunan Kyuhyun terhenti ketika melihat telepon dari sang kakak.

"Ya ! benarkah kapal selam semuanya sudah terbakar ? Benarkah Shim Changmin terbunuh ? Lalu, rencanamu apa ? Kyuhyun, Kyuhyun jawab aku"Kyuhyun hanya terdiam dan tak menjawab. Jarinya menyentuh tombol untuk mematikan teleponnya.

'Apa aku harus benar-benar percaya ? Tapi mata Min-Ho itu berkata ia sedang tidak berbohong'Kyuhyun mengacak rambutnya sambil berteriak frustasi. Partai utara menghabiskan tenaga dan pikirannya. Hebat !

.

.

.

Kyungsoo tidak menyentuh makanannya sama sekali. Tingkah Kyungsoo membuat teman-temannya bertanya.

"Zitao, kau tau Kyungsoo kenapa ?"anak perempuan berkepang dua dengan umur yang sama dengan Kyungsoo itu berbisik pada anak perempuan yang ada disanpingnya.

"Aku juga tidak tau, sejak kemarin ia terlihat murung. Shin Luhan, ngomong-ngomong itu cokelat milikku"Menyadari bahwa ia mengambil sebagian dari cokelat Tao, Luhan hanya bisa memberikan senyum manisnya pada anak perempuan berdarah china tersebut.

"Pati Genk jahat itu berbuat jahat lagi karena Kris memberinya cokelat"Tao yang mendengarnya hanya menatapnya sedih. Tao seorang anak SD yang sudah mengerti soal cinta terlebihh dahulu dibandingkan dengan teman sebayanya. Satu sekolah pun tau, kalau Tao menyukai Kris. Pria berdarah China yang dulu tinggal kanada dan kini pindah ke korea karena sang ibu menikah dengan pria korea. Dan zitao juga mempunyai latar belakang yang sama dengan Kris. Yaitu ibunya menikah lagi dengan pria asal korea. Itulah mengapa ia sangat menyukai pria itu.

"Sudahlah, Tao. Kau tak usah sedih, banyak laki-laki tampan disekolah ini"teriak baekhyun kesal karena tingkah laku Tao.

"Aku tau, maaf. Ayo, kita hampiri Kyung."Secara perlahan ketiga gadis itu mendekati Kyungsoo.

"Aku tau, kalian ada dibelakang"Harapan untuk membuat Kyungsoo kaget terasa sia-sia. Matanya yang besar itu dapat melihat sekeliling dengan sejelas-jelasnya.

"Oke, To the point. Ada apa denganmu, Kyung ?"Baekhyun mengintrogasi Kyungsoo layaknya orang dewasa.

"Baek, bisakah kau tidak menunjukkan bahwa dirimu sok tua dengan bahasamu itu ? Kita masih berumur 7 tahun"

"Ok maaf"

"Baek, kau bawa pancake Kimchi lagi ? Bolehkah untukku ? Aku suka makanan ibumu. Ibuku hanya memasak sup rumput laut dan bihun goreng"Dengan senang hati, Kyungsoo memberikan makanan itu pada Luhan. Tao hanya menggerakan matanya dengan malas. Tadi, ia diomelin karena sok dewasa karena soal cokelat yang kris berikan sekarang teman-temannya sendiri yang hmm, maaf bisa dikatakan sedikit agak bodoh.

"Apa Genk jahat menjahatimu lagi ?"Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Kyungsoo menghela nafas panjangnya.

"Kau tau bukan sebentar lagi, aku ulang tahun yang ke 8 ?"Mereka bertiga mengangguk.

"Sepertinya ulang tahunku akan sepi tidak ada appa disampingku"Dan sukses membuat mereka bertiga menatap sedih Kyungsoo dan mengusap bahu Kyungsoo. Mereka tetap masih seorang anak kecil, walaupun mereka terlihat ingin menjadi orang dewasa.

.

.

.

"Jongin-ah"Jongin menengok ke arah Yunho. Yunho menghampiri Jongin entah-apa yang sedang dilakukannya.

"Sekarang saja sudah tanggal 9 Januari, sebentar lagi tanggal 14 Januari. Kau mau hadiah apa ?"Jongin menggeleng.

"Aku hanya ingin abeonim. Abeonim bohong padaku bahwa hari ini ia akan datang"Jongin mulai terisak kemudian dari isakan itu berlanjut menjadi air mata "Ia berjanji padaku, bahwa ia akan menonton drama musicalku. Tapi, ia tidak pulang hari ini."Yunho ingin rasanya menampar dirinya akibat perbuatannya yang salah ucap. Jika Min-Ho ada disampingnya, entah apa yang dia lakukan jika Yunho ketauan kini membuat anaknya itu menangis. Yunho memeluk Jongin dengan erat. Membiarkan Jongin hangat dalam dekapannya.

"Jongin-ah, abeonim-mu pasti akan pulang. Percayalah"

.

.

.

Handphone Min-Ho berdering. Ia menyunggingkan senyumnya ketika melihat nama Kyuhyun terdapat di layar handphonenya. Ia mencari tempat yang sunyi ketika Kyuhyun memintanya untuk bertemu.

"Jadi apa rencanamu ? Mengapa kau menjadi pengkhianat di negerimu sendiri. Ku dengar, kau orang yang terpandang di partai utara"Kyuhyun mencoba mengusik Min-Ho dengan tujuan bahwa niatnya yang kemarin tidaklah main-main.

"Aku hanya partai selatan dan partai utara berdamai."Ia maju selangkah dan semakin dekat dengan Kyuhyun. "Aku tidak punya pilihan lain, dibandingkan negaraku hancur di tangan pemerintahannya sendiri. Aku tak akan pernah menarik kata-kataku"

Kyuhyun perlu beberapa saat untuk mencerna perkataan Min-Ho yang baru saja diucapkannya. Ia berdehem "Lalu apa rencananya ?"

"Tapi, aku perlu bantuanmu ?"Dan kalimat itu membuat Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya.

.

.

.

"Apa sudah siap semuanya ?"Presiden partai Utara sudah datang dalam rapat dadakan rapat yang saat ini dilangsungkan. Semua sudah berkumpul kecuali Min-Ho.

"Lalu kemana kepala Kim Min-Ho"Semua berbisik mendengar presiden mengucapkan nama Min-Ho.

"Saya disini, presiden. Maaf, saya terlambat. Saya ketiduran karena kepala saya teramat sakit"Presiden partai utara itu mengerti dan menyuruh Min-Ho duduk. Bagaimana pun Min-Ho mempunyai peran penting dalam perang ini.

"Jadi bagaimana strategi selanjutnya Kim Min-Ho dan Heol Yong Guk. Sepertinya kalian berbeda arah"Keduanya terdiam. Yong Guk menatap Min-Ho dengan penuh kebencian.

"Tapi itu lebih baik, Heol Yong Guk. Biar, partai selatan tau bahwa kita lebih mampu darinya"

"Tapi, presiden"Min-Ho berdiri dan mencoba mengelak "Itu akan memperburuk keadaan, bisa-bisa kita tak akan pernah ada dalam list negara. Dan itu akan membuat rakyat semakin terpuruk"

"Kau mencoba berkhianat kepala Kim"Kim Min-Ho terdiam. Bukan maksud dirinya, untuk berkhianat. Semuanya akan ada efeknya dan karena hal itu, Min-Ho sengaja mengeluarkan bom di akhir. Namun, karena Yong Guk semuanya jadi berantakan ditambah presiden menyetujui caranya. Yong Guk menatap Min-Ho dengan tatapan menyindir.

"Animnida, presiden. Joseonghwamnida. Aku akan mengurus semua bom nuklir untuk dipersiapkan esok pagi. Saya permisi dulu"Tidak hanya alasan itu Min-Ho keluar dari ruangannya tapi karena ia merekam perkataan rapat tadi dan memberikannya kepada Korea Selatan.

"Maafkan abeonim, Jongin-ah. Ayah tak datang"Min-Ho jalan tegap lurus kedepan namun terdapat bulir air mata di pelupuk matanya.

.

.

.

Tanggal menunjukan tanggal 10 Januari 1997. Sudah 3 bulan perang berlangsung namun belum ada titik temu diantara keduanya.

"Bunuh presiden Gong Dok Hwa itu malam ini. Besok, kita akan membuat kesalan jadi berpihak pada partai selatan."Bawahannya itu langsung segera melaksanakan perintah atasannya. Tanpa diketahuinya, Min-Ho telah memasangkan CCTV kecil dibagian pulpennya. Berkat kemajuan teknologi, partai selatan. Semua topeng Heol Yong Guk mulai terbuka.

"Jangan gegabah, Kim Min-Ho"Kyuhyun mencoba menahan tangan Min-Ho saat hendak seperti ingin membunuh seseorang yang bernama Heol Yong Guk itu.

"Tapi, ia akan membunuh presiden. Sudah aku duga, dari awal rencannya akan seperti ini."

"Aku akan membantumu."Min-Ho menatap Kyuhyun dengan tatapan tak mengerti. Kyuhyun menyunggingkan senyuman pada Min-Ho "Aku akan membantu menjadi tahanan demi persatuaan Korea"

.

.

.

Kyuhyun duduk disebuah ruangan formal tapi terkesan nyaman jika berada didalam ruangan ini. Itu adalah ruangan presiden Gong Dok Hwa.

"Jadi apa tujuanmu datang kesini kepala Kyuhyun"

"Aku memberikan sepaket buklet bunga atas kemenangan partai utara terhadap partai selatan."Tepat seperti dugaan Kyuhyun, Heol Yong Guk datang dengan memberi minuman padaa Kyuhyun berserta presidennya itu. Kyuhyun melihat serbuk didalam minumnya dan bisa Kyuhyun yakini bahwa itu sebuah racun. Kyuhyun mendekatkan minuman kepada kamera yang kini sedang dipantau oleh Min-Ho. Presiden Dok Hwa tersenyum mendengar pengakuan dari Kyuhyun secara mengejutkan.

"Ternyata partai Selatan mengakui itu"Kyuhyun mendekatkan badanya ke arah presiden Dok Hwa.

"Tapi". Kyuhyun memperlihatkan alat yang membuat presiden Dokhwa menyerngit heran. "Ini adalah sebuah alat bom yang dapat dipasangkan secara pararel oleh listrik. Jika bersatu dengan aliran lsitrik, bom ini akan meledak dan bisa mengalahkan Bom atom. Tentu saja, ini lebih hebat. Karena, dapat menghancurkan kota pyongyang dalam hitungan detik. Kalau begitu, saya pamit dahulu. Presiden Dok Hwa yang terhormat"Kata Kyuhyun mematikan kameranya secara diam-diam dan pergi. Bisa dibayangkan, betapa marahnya Dok Hwa. Ia melemparkan meja dan menjadi berantakan. Yon Guk datang dan keheranan melihat Dok Hwa yang masih hidup. Seharusnya, dia sudah tak berkutik karena racun yang ia berikan diminumannya.

"Kenapa, kau melihatku seperti itu ?"

"Animnida, apa yang sedang terjadi ?"Yong Guk masuk kedalam ruangan presiden Dokhwa untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ?

"Kepala keparat partai selatan itu, Cih ! menyombongkan dirinya seperti itu. Ia bilang ia akan membuat bom dengan aliran listrik dan akan menghancurkan kota kit... ARGH."Yong Guk mencekik leher sang presiden. Ia menggunakan sarung tangan agar jejaknya tidak ketahuan.

"MATI"Setelah ia mencekiknya cukup lama, presiden Dok Hwa meninggal. Ia pun keluar dari ruangannya tanpa ia sadari, bahwa ada kamera merekamnya yang tadi sengaja ditinggalkan oleh Kyuhyun.

.

.

.

Pagi harinya ruangan Kyuhyun sudah ramai berkumpul dengan banyaknya prajurit partai utara yang datang. Kyuhyun bukannya marah, malah menunduk hormat.

"Apa yang bisa kulakukan, demi partai utara"

"Cih, jangan sok baik."Salah satu tentara Korea Utara memberinya video. Ia menyetelnya di ruangan televisinya. Kyuhyun berpura-pura terkejut dengan rekamannya.

"Aku memang datang tapi maksud kalian membawa video ini padaku itu apa ?"

"Kepala Min-Ho memberikan video ini diruang cctv kami. Dimana ada dirimu didalam video ini pada saat kematian presiden."Kyuhyun tersenyum dalam hatinya. Yong Guk, dimana menjadi provokator partai utara untuk memerangi partai selatan sudah terjebak dalam perangkapnya bersama Min-Ho.

"Apa ? Kalian ingin mati ?"Kyuhyun menahan salah satu prajurit yang hendak melakukan perlawanan pada partai utara.

"Aku siap disidang. Bawa aku. Tapi, jika aku tak bersalah kupastikan partai utara akan mengalami memori yang kelam"Tak mau mendengar basa-basi Kyuhyun, partai utara langsung membawanya. Min-Ho keluar dari persembunyiannya ketika mereka sudah menghilang.

"Kau ? Jika terjadi sesuatu pada kepala Do, kau dipastikan akan mati di tangan partai selatan."Min-Ho menoleh pada salah satu tentara yang sepertinya mulai menghormati Kyuhyun sebagai kepala militer.

"Tenang saja, kepala militer Do tidak akan mati. Lalu, kau tidak perlu membunuhku karena aku akan dibunuh di tangan negaraku sendiri"

"Apa ? Apa mak..."Omongan tentara itu terhenti ketika Min-Ho menemukan pesan ditelepon gengamnnya.

"Dia ada sudong Guyok, lebih baik aku datang sendiri. Siapkan alat komunikasi kalian"

.

.

.

"ARGH"Kyuhyun menyerngit kesakitan. Bagaimana tidak ? Ia selalu dipukuli oleh para tentara partai utara. Pelipisnya sudah mengeluarkan darah. Baju kepimpinannya terlepas diganti dengan baju putih polos. Benar-benar seperti tahanan.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sehabis ini ?"

"Tunggu saja kepala Kim datang. Ia yang akan membunuh orang dihadapanku sekarang ini."Tak berangsur lama, Min-Ho datang dengan menggunakan Jeep tentaranya.

"Jadi partai selatan, tak tau malu sekali."Min-Ho datang dengan menunjukkan smirknya.

"Kukira, kau hanya mementingkan kabar internasional, kepala Kim Min-Ho"Min-Ho menoleh padanya seakan 'kau gila ?' "Aku tak akan melepaskan siapapun yang telah membunuh presiden kita tercinta ini"Min-Ho mendekat dan mengarahkan pistolnya di perutnya.

"Oh ayolah, jangan diperut. Di kepalanya saja. Biar, ia cepat mati"Yong Guk tidak menyadari, bahwa semua ini adalah skenario Kyuhyun dan Min-Ho. Min-ho menurutinya dan mengarahkan pistolnya ke arah kepala Kyuhyun.

"DOR"

"YA !"

Yong Guk sangat marah pada Min-Ho karena Min-Ho mengarahkan pistolnya ke atas langit-langit. Min-Ho hanya mengangkat bahunya "Joseonghwamnida, tadi aku hanya takut pelurunya habis. Bagaimana kalau kita pakai pisau saja"

"Apa ?"

Min-Ho langsung melepaskan tali pengikatnya pada Kyuhyun dan saat itu juga, salah satu tentaranya berhasil membawa Kyuhyun pergi. Yong Guk mencoba mengejarnya namun ditahan oleh Min-Ho. Terjadi perkelahian diantara mereka, sampai akhirnya.

'Dor'

Min-Ho terkena tembakan Yong Guk. Min-Ho akhirnya terjatuh tergeletak. Yong-Guk menghampiri Min-Ho dengan mengangkat dagunya. Ia puas, melihat Min-Ho terlihat begitu kesakitan.

"Kau pengkhianat sampah ! Tak berguna ! Memalukan kau sebagai kepala militer partai utara hanya karena masalah berita internasional"Yong Guk yang hendak ingin pergi ditahan oleh Min-Ho memegang kakinya. Min-Ho mengeluarkan perekam suara ketika saat kematian sang presiden. Dengan setengah kesadarannya, Min-Ho tertawa licik.

"Dasar manusia tak berguna ! Matilah kau !"

'Dor !'

Yong Guk menembak Min-Ho dengan kali ini menembak bagian kepalanya. Yon Guk pun keluar untuk mengejar Kyuhyun kemudian menyimpan rekaman yang Min-Ho dapatkan. Ia tak boleh sampai ketauan, bahwa ia pelaku pembunuhan presiden.

"Jongin-ah, abeonim mencintaimu. Maafkan abeonim, Jongin-ah"Kalimat itu kalimat terakhir ketika ia masih diambang batas kesadaran setelah itu kegelapan merenggut cahanya beserta jiwanya. Kim Min-Ho telah mati.

.

.

.

"Jongin-ah, sepertinya bahan-bahan makanan sudah habis. Samchon harus beli dulu. Jongin, tak apa-apa kan kalau samchon tinggal dirumah sendirian ?"

"Tidak apa-apa, samchon. Aku menunggu abeonim pulang. Kudengar, perang sudah berakhir. Berarti di hari ulang tahunku nanti, ayah ada"Yunho terdiam kembali. Ia rasanya, ingin cepat-cepat menikah. Iri dengan Min-Ho yang mempunyai anak perhatian seperti Jongin. Ia mengusap pucuk kepala Jongin. Lalu pergi ke supermarket. Ia dengan cepat, berbelanja agar Jongin tidak lama ditinggal.

"Berita hari ini : Dikabarkan bahwa dari pihak partai utara ditemukan 2 pengkhianat. Heol Yong Guk membunuh presiden Dok Hwa dan Kepala militer Kim Min-Ho merencanakan agar partai selatan memenangkan perang tersebut."Yunho terdiam dan perlu beberapa saat untuk mencerna informasi yang baru saja ia dapat.

"Jongin-ah"Yunho menjatuhkan tas belanjanya dan langsung berlari kerumah. Berharap, Jongin tak melihat berita itu.

.

.

"Oh, samchon cepat sekali. Aku sudah la..."Omongannya terhenti ketika ia melihat yang datang bukanlah Yunho. Ia mundur beberapa langkah, karena takut.

"Ahjussi-neun nuguseyo ?"Jongin mengedip lucu dan terlihat sangat polos. Orang itu mendekatkan pada Jongin.

"Kau rindu pada abeonim-mu bukan ? Aku akan membawamu ketempat abeonim-mu berada"Dengan perasaan senang, Jongin menurut dan mengikuti orang itu. Hingga, diperempatan jalan. Jongin melihat punggung seperti ayahnya.

"Abeonim"

'Bruk'

Badan Jongin kecil terpental, karena tertabrak mobil. Jongin mengeluarkan darah dibagian kepalanya. Dengan segera, 2 orang pakaian tentara itu membawa Jongin yang tak sadarkan diri ke dalam mobil.

.

.

.

Yunho masuk kedalam rumah dengan terburu-buru, ia semakin panik ketika melihat Jongin kecil tak ada dirumah. Ia kemudian keluar rumah, dan mencari Jongin seluruh kota pyongyang. Sampai tak terasa, ia mencarinya hingga fajar kembali menyinari bumi. Ia terduduk, karena lelah. Air matanya mengalir karena frustasi kehilangan Jongin.

"Joseonghwamnida, Min-Ho-ya. Aku tak bisa menjaga Jongin dengan baik"