Disclaimer: Hetalia belongs to Himaruya Hidekaz

AU, fem-uke (in this chap: England/Alice Kirkland), probably OOC, human name used, gaje, abal, maybe typo(s)

Wordcounts: 893 words (sisanya separator, disclaimer, warning, dan coretan tidak penting)

Sey Bonnefoy31 presents...

Happy reading! :)

"Udaranya hangat, ya," Alfred membuka jendela ruang guru lebar-lebar agar udara hangat musim semi dapat menelusup masuk ke dalam ruangan yang hanya diisi dua orang itu. Dirinya, dan Alice.

"Anda membuka jendela terlalu lebar, Tuan Jones," kata Alice santai sambil menyeruput pelan-pelan teh dari cangkir keramik miliknya.

Alfred membetulkan letak kacamatanya. "Anda tidak ingin menikmati udara musim semi, Nona Kirkland?" Alfred tersenyum pada Alice, namun Alice tak menggubrisnya. Alice masih terus menyeruput tehnya tanpa membalas pertanyaan Alfred.

Alfred memutar bola matanya kemudian tersenyum kecil. Ia menarik kursi di sisi Alice, kemudian mendudukinya. "Sudah jam makan siang. Anda tidak ingin makan siang?" tanyanya pada Alice.

Alice meletakkan cangkirnya. "Tentu saja," katanya sambil mengelap bibirnya dengan kertas tisu.

Alfred tersenyum. "Boleh saya temani?" tanyanya sekali lagi. Alice hanya mengangguk kecil tanda tidak keberatan.

"Jadi," Alfred berdehem, "apa makan siang Anda, Nona Kirkland?" Alfred berbasa-basi dengan Alice.

Alice meraih paper bag-nya, kemudian membukanya dengan hati-hati. "Scone," jawabnya singkat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Alfred. "Biar saya tebak, hari ini Anda membawa hamburger seperti biasa, benar begitu Tuan Jones?" Alice tersenyum kecil.

Alfred terkekeh, "Anda sudah hafal, ya," katanya.

Alfred dan Alice menikmati makan siang masing-masing dengan canggung. Selalu begitu setiap hari di saat hanya tinggal mereka berdua di ruang guru. Alice dengan scone-nya, Alfred dengan hamburgernya. Makan siang dilalui dengan hening dan kaku satu sama lain. Sangat tidak nyaman.

"Jadi Tuan Jones," Alice memecah keheningan, "bagaimana resolusi anda ke depan?" lanjutnya.

Alfred membetulkan letak kacamatanya. "Merombak sistem pembelajaran matematika untuk ke depan mungkin," jawabnya sambil mengangkat bahu.

Alice mengangguk-angguk kecil. "Sayang sekali, padahal banyak yang menyukai metode Anda yang sekarang, Tuan Jones," komentar Alice.

"Justru itu, saya akan membuat orang lain semakin menyukai pelajaran ini dengan sistem yang baru. Mungkin tidak akan jauh berbeda dengan sistem pembelajaran yang sekarang, tapi lebih mudah dan menyenangkan. Saya tidak akan berubah sepenuhnya, kok!" Alfred menyunggingkan seberkas senyuman lantas mengunyah hamburgernya."Bagaimana dengan, munch, Anda, munch, Nona Kirkland, munch?"

Alice memutar bola matanya. "Anda tidak boleh berbicara sambil mengunyah, Tuan Jones," katanya.

Alfred menyeringai. "Sudahlah, memangnya apa pedulimu?" Alfred terkekeh pelan.

Alice tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal beberapa kali. "Sama seperti Anda, ingin merombak sistem pelajaran sastra," katanya lantas menyuapkan sepotong scone ke mulutnya sendiri.

"Kalau keinginan Anda, apa yang Anda harapkan tahun ini?" Alfred bertanya pada Alice.

"Mmm... Mungkin saya akan mengambil beberapa kelas memasak," gumam Alice.

Alfred tertawa. "Hahaha... Maksudnya supaya masakan Anda lebih baik dan lebih enak, begitu?"

Alice memukul punggung Alfred. "Y-yah... Begitulah! Aku... aku ingin... berlatih memasak...," suara Alice terdengar semakin melemah. Alice meletakkan kembali potongan scone-nya. "Anda tahu pendapat orang lain tentang masakan saya?"

"Ya, saya tahu. Mereka bilang scone Anda rasanya seperti obat pencuci perut," Alfred menahan tawanya agar tidak meledak terlalu keras di depan Alice.

Muncul empat kedutan di dahi Alice. "Uh, menyindir tepat di depan orang dimaksud itu tidak sopan, Tuan Jones," Alice menarik nafas mencoba menahan amarahnya.

"Sungguh, aku bercanda! Silahkan lanjutkan kalimat Anda, Nona Kirkland," Alfred tersenyum hangat untuk menenangkan Alice—sekaligus membendung tawa kerasnya agar tidak meledak saat itu juga—kemudian Alfred mengunyah hamburger-nya lagi sembari mendengarkan Alice berbicara.

Alice tersenyum. "Maka dari itu saya akan mengambil kursus memasak beberapa untuk bulan ke depan," kata Alice.

Alfred mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rencana, munch, yang bagus, munch, Nona!" Alfred memuji.

Alice menautkan jari-jari tangan kirinya dengan jari-jarinya di tangan kanan. "Lalu, bagaimana dengan anda sendiri, Tuan Jones?" tanyanya.

Alfred mengelus-elus dagunya sendiri. Ia kemudian meletakkan hamburger miliknya, kemudian mengepalkan tangannya ke udara dengan senyum riang merekah di bibirnya. "Aku ingin menjadi hero!" Alfred berseru semangat dengan nada berapi-api.

Alice memutar bola matanya. "Itu namanya berkhayal, Tuan Jones!" Alice mengusap kepalanya sendiri.

Alfred tersenyum hangat. "Tentu saja bukan menjadi hero seperti Superman atau Batman, Nona Kirkland," Alfred melepas kacamatanya, "tapi menjadi hero untuk setiap orang yang saya sayangi...," lanjutnya. Mata biru Alfred memandang lurus ke mata bening berwarna hijau milik Alice. Menelusup, memaksa Alice memandang kesungguhan dalam matanya dari dekat.

Alfred menghela nafas. "Hah... Ngomong-ngomong, Anda memiliki mata yang cantik, Nona Kirkland."

Alice terbangun dari lamunannya, kemudian ia segera menguasai tubuhnya kembali. "A-ah, benarkah Tuan Jones?"

Alfred tersenyum. "Sungguh. Anda memiliki mata yang indah. Mata hijau bening yang bersinar seperti batu zamrud. Anda memiliki mata yang indah, Nona Kirkland."

Alice tersipu-sipu. "Anda bisa saja!" Alice berkilah kemudian terkekeh. "Siapa yang mengajari Anda berkata barusan?" Alice tersenyum meremehkan.

"Saya belajar sendiri. Dari buku, dan dari Ibu guru," Alfred menanggapi Alice dengan senyuman.

"Ibu guru? Anda pasti bercanda," Alice mengibaskan tangannya di depan wajah Alfred.

Alfred tertawa kecil. "Tidak, saya serius, Nona! Buktinya, kalau saya sedang kosong mengajar saya selalu ikut mendengarkan penjelasan Anda di kelas sastra dari luar kelas!"

Alice tertegun. "Dari luar kelas?" Ia menaikkan sebelah alisnya.

"Iya," jawab Alfred, "kalau saya tidak mengajar, saya selalu ikut mendengarkan! Sungguhan, kok!" Alfred tersenyum semakin lebar, sedangkan Alice semakin terkejut dibuatnya.

Alice masih terkaget-kaget dengan semua penuturan Alfred. Ia hanya bisa menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya sendiri. Alice hanya bisa tersenyum, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan meraih kacamata Alfred yang tergeletak di meja.

"Terima kasih kalau begitu, Tuan Jones," Alice sedikit berjinjit kemudian memakaikan kacamata itu kembali ke mata pemiliknya.

Alice tersenyum hangat, kemudian ia berjalan ke arah jendela yang terbuka lebar, kemudian merentangkan tangannya menikmati semilir udara musim semi yang menyibakkan rambut pirang panjangnya.

"Ngomong-ngomong Nona Kirkland," Alfred berdehem, "apakah Anda berencana untuk memiliki kekasih atau suami saat ini?"

"E-eh?"

~Hamburger x Scone, end?

AN:

Ah, terima kasih yang sudah membaca (dan review) chapter satu! Terima kasih juga karena sudah membaca cerita ini sampai chapter 2. Apakah alurnya terlalu cepat? Atau ending-nya terlalu menggantung? Wah, silahkan untuk pembaca berimajinasi sendiri bagaimana jawaban Alice untuk Alfred. Ah, apakah kali ini ceritanya semakin pendek dan abal? Kalau begitu saya janji chapter depan akan dua kali lebih panjang dari yang ini ^^. Tolong tinggalkan review, ya!

Review please...