Dragon Ball Super

Original : Akira Toriyama

.

.

.


Lapis dan Lazuli saling menoleh, di pagi yang mendung ini, mereka mendapatkan target : Pedagang Roti.

"Lapis, ayo"

Lapis mengangguk cepat. dia berjalan mengendap-endap dari belakang pedagang, kemudian langsung masuk ke kolong meja.

Lazuli mengamati aksi adiknya dari sebrang, memastikan bahwa Lapis masih aman dari mata orang-orang. Lazuli memberi isyarat jari telunjuk untuk mengatakan bahwa Lapis harus mengambil rotinya.

Dengan sigap, roti di atas meja satu persatu di ambil, Lapis agak gugup, tapi dia yakin bahwa aksi pencuriannya ini berhasil.

Setelah semuanya sudah cukup, kini Lapis harus meninggalkan kolong meja dan melewati pedagang roti. ini sangat sulit, pasar mulai ramai. Lazuli sendiri tidak bisa menghampiri adiknya ke sebrang karena aksi mereka akan ketahuan.

Tapi Lapis adalah anak yang berpikiran pendek, dia nekat keluar dari kolong hingga kepalanya langsung terbentur kaki meja. membuat getaran meja yang mengejutkan sang pemilik roti.

"Eh!?"

"WAAA!?"

Lapis langsung kabur dengan banyak roti di kedua tangannya.

"HEI! PENCURI! ANAK ITU MENCURI DAGANGANKU!"

"Ayo Lazuli!" seru Lapis. Lazuli langsung menyusul.

"Kau sih tidak sabaran!" protes Lazuli.

"Tidak ada waktu untuk marah-marah, kita sembunyi dulu!"

Si kembar berlarian melalui ramainya orang-orang, sementara di belakang sudah ada dua polisi yang mengejar.

"Hoi! Kalian! tunggu dulu!" teriak si polisi.

Lazuli terkejut. "Ga-gawat! polisi!?"

"Lewat sini, Laz!"

Lapis langsung menarik lengan kakaknya ke arah gang sempit, mereka sembunyi di sebelah tong sampah, sementara dua polisi masih mengejar. untungnya, mereka sudah pergi.

"A-apa mereka sudah pergi?" tanya Lazuli.

"Ku rasa begitu..."

"Ayo, kita cari tempat yang sepi... polisi itu pasti masih mencari kita" gumamnya.

Dengan nafas terengah-engah karena berlari, mereka pun semakin masuk ke dalam gang tersebut. bersembunyi tanpa meninggalkan jejak. Mereka sangat lahap, beruntung hari ini roti yang mereka dapatkan memiliki ukuran yang besar. bahkan masih bisa di bagi dua.

"Setelah makan, nanti kita kemana lagi?" tanya Lapis.

"Mencari uang" jawab Lazuli.

"Baiklah"

Mungkin lebih tepatnya bukan 'mencari', tapi mereka akan 'mencuri' uang.


Keduanya masih was-was ketika berjalan di tengah kerumunan orang. mereka masih takut di kejar polisi, tapi Lazuli meyakinkan bahwa dirinya dan Lapis tidak akan tertangkap di wilayah ini.

Berjalan melewati deretan TV di balik layar kaca toko. Lapis dia menghentikkan langkahnya sebentar untuk menonton.

"Jadi, pasukan pita merah itu mengincar Dragon Ball?"

"Hm?"

"Lapis, apa yang kau lakukan?" tanya Lazuli.

Lapis tidak menjawab, dia hanya menatap layar.

"Iya, katanya, ada 7 bola naga berwarna oren yang mereka incar. rumornya, 7 bola naga itu dapat mengabulkan segala keinginan!"

"Segala keinginan?"

Segala keinginan? gumam Lapis.

"Lapis?" Lazuli masih memanggil.

"Sshh, dengar baik-baik!"

"Iya, tapi pasukan itu sudah lama hancur. tapi kepolisian masih mencari sebagian anggotanya karena di khawatirkan, pasukan pita merah akan bangkit lagi"

"Lalu, bagaimana dengan Dragon ball itu?"

"Mereka tidak pernah mendapatkannya, ku pikir itu cuma rumor belaka yang di buat-buat"

"Kau dengar itu, Laz? Dragon ball!" kata Lapis. tapi Lazuli masih bingung.

"Lalu?"

"Bola itu dapat mengabulkan segala keinginan, bagaimana kalau kita mencarinya?" kata Lapis, mulai semangat.

"Kau jangan mengada-ada! mana ada sebuah bola yang dapat mengabulkan segala keinginan, lagipula kau dengar sendiri kan? itu cuma rumor. belum tentu benar" kata Lazuli.

"Tapi bagaimana kalau itu sungguhan? kita harus mencarinya Laz!" kata Lapis lagi.

"Lalu, kita akan mencari dimana?" tanya Lazuli.

Seketika, Lapis terdiam.

"Ehhh anu... itu... eehhh..."

"Yang kita butuhkan saat ini adalah uang! bukan bola naga itu!" Lazuli menegaskan.

"Huh, kau ini sih tidak bisa di ajak serius. pokoknya, kita harus menemukan Dragon Ball itu dan membuat keinginan!"

Lazuli menggelengkan kepalanya, pasti Lapis sedang kekurangan mineral sehingga dia berhalusinasi tentang Bola naga tersebut.

"Lupakan Dragon Ball, ayo kita mencari uang" Lazuli menegaskan.

Nah, Lazuli bukan orang yang mudah percaya dengan hal-hal gaib. sekalipun itu hanya sebuah Dragon Ball, Lazuli lebih mementingkan apa tujuan mereka sekarang : bertahan hidup dan selalu bersama Lapis selamanya.


Siang hari, awan-awan nimbus di langit menghalangi teriknya panas matahari.

Kali ini, mereka akan melakukan aksi secara terpisah. Lapis akan mencuri uang dengan triknya sendiri, nanti setelah mendapatkannya, mereka akan bertemu lagi di pertigaan. Lazuli pun menyetujuinya, tapi dia mengingatkan Lapis agar sampai tak tertangkap polisi.

Mereka pun memulai...

Lazuli berjalan pelan melalui kerumunan orang, menatap isi saku mereka, dan memastikan bahwa dompet mereka tebal (dompet tebal, berarti mempunyai banyak uang). Ketika dia menargetkan si pria tua yang sedang berbelanja, Lazuli berjalan melewati belakangnya dan tangannya menyabet dompet tersebut dari saku sang pemilik, Lazuli langsung memasukkan dompet itu ke dalam jaket kecilnya.

Dia berjalan cepat ke belakang pohon dan membuka semua isinya.

"haah..."

Kurang beruntung, 1 lembar Zeni sangat tidak cukup.

"Aku harus menemui Lapis" gumamnya. mungkin Lapis mendapatkan uang lebih.


BRRUKKGH!

Lapis langsung tersungkur, lembaran zeni berhamburan di atas tanah dan para preman itu mengambilnya.

"Hahaha! dasar bocah, kalau mau mencuri, kau harus pintar menipu!"

"Ugghh.. i-itu uangku! JANGAN AMBIL!" Lapis melawan, melayangkan satu tinju tangannya ke arah si preman, namun pukulan tersebut terasa seperti memukul bantal empuk.

"Ggggr! kembalikan uangku! aku yang menemukannya duluan!" teriaknya.

"HAHAHAHA!"

"Kau mau uang ini kan? ayo ambil!"

Dan si preman melayangkan satu tendangan telak ke arah perut Lapis, seketika ia memuntahkan darahnya.

"AAARGGHH!"

"Kau pikir kau bisa mengambil uang ini? lihat! tubuh sependak itu mana bisa mengalahkan kami yang besar!? ingat ya, sekali bocah tetap bocah!"

Lapis menggertakkan giginya, dia bukan bocah. dia bukan anak lemah, dia adalah pemberani! si bocah berambut hitam tersebut berdiri di antara preman bertubuh besar, mereka mempermainkannya, seperti boneka di dalam ring.

"HAAAAAAA!"

Lapis meninju sekuatnya, dia tidak menyadari betapa lemahnya dirinya. dan kini para preman itu menginjaknya habis-habisan.

"LAPIS!?"

Lazuli menyeru panik, dia melihat adiknya di kerumuni 4 preman. Lapis nampak tak berdaya, dia seperti tak sadarkan diri.

"MENJAUH DARI ADIKKU!"

Bruuaaakkkhhhhh!

Lazuli mendorong preman tersebut sampai terjatuh. Lazuli bukan anak biasa, dia akan sangat marah kalau melihat adiknya terlukai.

"Hei! Siapa kau!?"

"Huh! dia anak perempuan, tidak usah di pukul!"

"Iya! abaikan saj- UAAAAAAGHHH!?"

Masa bodoh dengan omong kosong mereka, Lazuli langsung menendang selangkangan si preman sampai dia benar-benar ambruk.

"Aaarggghh!?"

"HAAAH!? Kau baik-baik saja!?"

"Ayo Lapis, berdirilah!"

Lazuli langsung merangkul Lapis, tapi Lapis menarik diri dari rangkulan kakaknya. si pirang sangat terkejut.

"Lazuli! diam! aku harus melawan preman itu!" kata Lapis.

"Apa kau gila!? mereka nyaris membuatmu babak belur!" bentak Lazuli.

Dan di saat yang sama, polisi datang menemukan perkelahian mereka.

"HEI KALIAN! Berhenti disitu!"

Gawat!? Lazuli bergumam kaget.

Para preman itu panik, mereka melepas Lapis dari tangannya dan bergegas kabur.

"Kabur! ada polisi!"

"Hei tunggu! kita belum selesai!" Lapis masih protes, tapi Lazuli langsung menggendong adiknya dan bergegas lari dari kejaran polisi.

"Lazuli! turunkan aku! turunkan aku!" bentak Lapis.

Tak memedulikan keras kepala adiknya, Lazuli berlari tanpa tujuan arah, yang dia pikirkan sekarang bagaimana caranya mereka bebas dari kejaran polisi. tidak ada pilihan, mereka berdua harus selamat.

Langkah kakinya terasa berat, tapi Lazuli tidak bisa diam disini.

Apa yang harus kulakukan?

Apa yang harus kulakukan!?

Dia berpikir keras, Lazuli pergi ke gang kecil dan bersembunyi di balik dinding besar. polisi tersebut masih mengejarnya namun tak menyadari bahwa si kembar sembunyi di situ.

"hahhh...! hahh..."

Lazuli merasakan saluran nafasnya seperti tersumbat. lelah karena berlari, dan lelah karena menggendong adiknya.

"Cih! Lazuli! gara-gara kau aku tidak bisa memukul preman kurang ajar itu!" omel Lapis.

Dan Lazuli langsung membanting adiknya sampai tersungkur ke tanah, Lapis mengaduh kesakitan.

BRUAAKGHH!

"Aduhh! La-Laz...! apa yang kau lakukan!?" tanya Lapis.

"Dasar keras kepala! kau ini tidak bisa di atur!" teriak Lazuli.

"Kau sendiri yang menghalangiku! padahal aku tadi berhasil mendapat uangnya!" Lapis tak kalah berseru.

"Mengambil uang dari mana!? para preman itu!? kau salah orang, Lapis! seharusnya kita mengambil dompet orang lain yang sedang lengah! bukan berhadapan langsungdengan orang yang lebih kuat darimu! kau paham!?" bentaknya lagi.

Melihat pasang aquamarine di mata kakaknya yang mendadak dingin, membuatnya sukses membungkam mulutnya.

"Lapis, dengarkan aku... kau tidak pandai berkelahi. ku mohon... berhentilah seperti itu..." gumamnya.

"..."

"Aku tidak bisa melihatmu terluka begini, aku merasa gagal melindungimu, Lapis... turuti aku sedikit saja. berhentilah menantang orang lain..."

"..."

"Ka-kalau saja... kalau saja kau mati, bagaimana denganku, Lapis? kau mau membiarkan aku hidup sendirian?"

Dan kali ini, Lapis benar-benar tertegun.

Bukan, Lapis bukan bermaksud seperti itu. tapi... dia juga tak ingin melihat kembarannya menangis. perlahan-lahan, Lapis merasa bersalah.

"A-aku..." nada suaranya agak merintih. "Maaf... Lazuli..."

"Kita bisa mencari jalan lain, tapi tidak dengan berkelahi. kau mengerti?" tanya Lazuli. kedua tangannya membingkai garis halus wajah adiknya, menatap pasang matanya dengan penuh pengharapan.

Lapis menghela nafas. rasanya... dia harus berhenti.

"Aku... cuma ingin kuat agar bisa melindungimu Laz"

"Eh?"

"Maaf, ku kira... dengan seperti ini, akan membuatmu senang" gumamnya, berkecil hati.

"Yang membuatku senang sudah lebih dari cukup, kau kebahagiaanku. makanya aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu" jelas Lazuli.

"Baiklah... a-aku mengerti..."

TO BE CONTINUED