"Hmmmm... Kami berpacaran sekitar... 7 tahunan? Sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Kami berdua sepakat menunggu sampai suamiku masuk ke JBL sebagai pemain inti dan memenangkan pertandingan pertamanya. Pada saat itu juga, aku mulai mengelola gym Ayah dan melatih tim basket SMA Seirin." Jelas Riko sambil memainkan cincin di jari manisnya, bibirnya tetap menyunggingkan senyuman nostalgia selama ia menjelaskan. "Ah, tapi mungkin semua dimulai ketika ia mengajakku menonton film berdua saat kita kelas.. 3 SMA?"

"Saat Anda kelas 3 SMA? Bukankah pada saat itu, Anda dan ayah Anda sibuk melatih tim Vorpal Swords untuk menghadapi tim Jabberwock dari Amerika Serikat?" tanya Higashio sambil mengecek buku tulisnya.

"Oh, sesudah pertandingan itu tentunya." Koreksi Riko sambil menganggukkan kepalanya.


Answer Me, Seirin

Chapter 2 : Which One?

I do not own Kuroko no Basket


19 tahun yang lalu,

"Yak! Ayo berkumpul!" seru gadis berambut cokelat susu setelah bunyi pluit terdengar nyaring di dalam aula olahraga SMA Seirin. Gadis itu mengisyaratkan dengan tangannya untuk meminta para pemain berkumpul di dekatnya.

"Hari ini latihan bisa disudahi. Apabila ingin latihan tambahan diperbolehkan tetapi ingat bahwa aula harus ditutup dan dikunci kembali. Kunci bisa dititipkan kepada Harada-san, pengawas sekolah. Apa ada pertanyaan?" tanya gadis itu dengan suara lantang, di dekapnya papan jalan berisi beberapa kertas penting. Ketika ia melihat seorang anak kelas satu mengacungkan tangan, ia mengangguk singkat sebagai tanda pemuda tersebut boleh mengajukan pertanyaannya.

"Apa jam malam hari ini juga sama? Pukul 11 malam?" tanya pemuda berambut hitam itu dengan percaya diri.

"Masih sama seperti kemarin. Jam malam pukul 10 malam hanya berlaku pada Hari Jum'at dan Sabtu. Apa ada pertanyaan lagi? Oh ya, Kagami-kun, aku minta kepadamu untuk tidak merusak ring lagi. Pesan kepala sekolah. Kalau kau merusaknya, kubunuh kau." Ancam gadis itu sambil menarik garis lurus di lehernya dengan jempolnya seraya 'tersenyum' kearah pemuda berambut merah yang bergidik di tempat.

"O-Ossu, pelatih!" balas pemuda tersebut sambil berkeringat dingin, sementara anggota tim lain tertawa melihat reaksi rekan mereka. Karena tidak ada lagi yang bertanya, gadis itu akhirnya membubarkan para pemain dan terduduk di lantai dengan badan bersandar ke tembok sambil mengehela napas panjang lalu memejamkan matanya.

"Senpai, apa aku perlu mengantarmu pulang? Senpai terlihat capek sekali.." suara seorang perempuan membuat gadis itu membuka mata dan menoleh kearah gadis berambut rambung pirang yang berjongkok di sebelahnya dengan ekspresi khawatir di wajah bulatnya.

"Tidak apa, Risa-chan. Aku bisa pulang sendiri. Kau beres-beres lah terlebih dahulu lalu pulang bersama yang lain." jawab gadis itu sambil tersenyum kearah sang manager klub basket SMA Seirin yang masih kelas satu itu. Setelah mengutarakan demikian, Riko berseru kepada anggota tim lain,

"Kalian! Pastikan Risa-chan pulang dengan aman dan selamat ya!" yang direspon dengan seruan 'MENGERTI!' oleh para anggota tim lain yang sedang merapikan aula olahraga. Hal yang dilakukan oleh sang pelatih membuat gadis berambut pirang itu, Hagiwara Risa namanya, tersenyum lebar sebelum akhirnya pamit dan berlari ke ruang ganti perempuan.

"Kau tidak apa-apa, Riko?" kali ini suara seorang pemuda yang membuat Riko membuka matanya dan melihat sosok pemuda berambut cokelat dengan postur tubuh yang tinggi dan besar di hadapannya, lengkap dengan senyuman di wajahnya.

"Aku baik-baik saja, Teppei. Hanya capek. Aku harus mengatur pertemuan dengan majalah Gekkan Basketball yang ingin mewawancaraimu, Kagami-kun dan Kuroko-kun. Selain itu, aku harus mengatur pertandingan latihan dengan SMA Rakuzan, permintaan Akashi-kun. Aku juga harus merevisi training menu demi persiapan preliminaries interhigh, beruntung Hyuuga-kun membantuku dengan itu. Sepertinya masih banyak lagi.." jelas gadis yang dipanggil Riko itu sambil mengecek seluruh kertas dari papan jalan yang ia dekap di dadanya lalu menghela napas panjang kembali.

"Hah? Aku akan diwawancarai oleh Gekkan Basketball?" tanya pemuda dengan nama panjang Kiyoshi Teppei itu sambil menunjuk dirinya dengan nada polos. Pertanyaan Kiyoshi membuat gadis itu tersenyum pahit sebelum memukul pundak pemuda itu dengan papan jalan di tangannya. Tidak terlalu kencang tetapi tidak pelan namun cukup untuk menghasilkan suara erangan kesakitan dari keluar dari mulut pemuda tersebut.

"Aku sudah bilang kepadamu dari minggu lalu, Teppei." Desis Riko kepada pemegang posisi center tim basket SMA Seirin tersebut. Respon Riko dibalas dengan senyuman polos yang masih menahan sakit dari pemuda di hadapannya. Riko mencibir sebelum menunjuk dengkul pemuda berambut cokelat tersebut dan berkata, "Kompres lututmu ya." perintah Riko dengan nada pelan, yang dibalas dengan anggukan dari pemuda tersebut.

"Oh iya, Riko. Nanti jangan lupa untuk mengecek LINE-mu ya." ucap Teppei sambil berdiri dan menepuk pundak sang pelatih pelan, seakan-akan memberi gadis itu semangat. Riko mengangguk cepat dan membuat isyarat dengan tangannya untuk menyuruh Kiyoshi pergi. Riko akhirnya berdiri dari tempat ia duduk dan berjalan ke ruang loker wanita. Akan tetapi, sebelum ia masuk ke dalam ruang loker, sebuah suara memanggilnya,

"Pelatih! Aku baru saja berbicara lewat telepon dengan Hayakawa dari SMA Kaijou. Ia mengajukan rekues kepada kita untuk menyelenggarakan pertandingan latihan bersama dengan SMA Kaijou minggu depan." Jelas pemuda berambut hitam berkacamata. Riko berniat untuk mengecek aktivitas timeline tim basket SMA Seirin untuk mengonfirmasi dari ponselnya sebelum pemuda tersebut menggenggam ponsel gadis itu dan menurunkannya.

"Agenda minggu depan adalah latihan spesial bersama Kagetora-san pada Hari Senin dan Selasa. Hari Jum'at-nya adalah wawancara Kiyoshi, Kagami dan Kuroko oleh majalah Gekkan Basketball. Aku mencoba kroscek dengan jadwal SMA Kaijou melalui Hayakawa dan ternyata kita semua memiliki hari kosong pada Hari Kamis. Pertandingan akan dilaksanakan di SMA Kaijou. Transportasi akan diurus oleh Hagiwara-san selaku manager." Lanjut pemuda tersebut sambil tersenyum bangga. Mendengar penjelasan pemuda berambut hitam dan berkacamata yang mendetail tersebut, Riko menghela napas lega.

"Aku bersyukur sekarang kau sudah mulai kapten-ppoi, Hyuuga-kun. Bilang kepada Hayakawa-kun bahwa kami akan senang menerima kesempatan untuk bertanding bersama SMA Kaijou. Setelah beres-beres, aku akan memberitahu kepada semua anak melalui LINE." Ucap Riko. Pemuda yang dipanggil Hyuuga itu tertawa sebelum berkata,

"Aku sudah kapten-ppoi dari awal aku menjabat sebagai kapten tim basket SMA Seirin tahu." Bantah Hyuuga sambil cemberut mendengar perkataan awal yang diucapkan oleh Riko. Riko tersenyum pahit kepada kapten tim baske SMA Seirin sebelum masuk ke dalam ruang loker.

Setelah merapikan tas dan menggantikan kaos serta jersey Seirin yang ia gunakan selama latihan dengan pakaian seragam berlengan pendeknya, Riko akhirnya keluar dari ruang loker dan mengunci pintunya. Ia melihat 6 orang yang masih tinggal di aula untuk latihan tambahan dan sepertinya sedang melakukan pertandingan 3-on-3. Termasuk duo Kagami Taiga dan Kuroko Tetsuya.

"Jangan memaksakan ya, kalian! Kalau sudah capek, pulang dan istirahat!" perintah Riko sambil berlalu. Keenam pemain yang tinggal tersebut mengiyakan dan membungkuk sejenak kepada pelatih mereka. Ketika Riko berjalan keluar aula olahraga, ia melihat ada sosok yang bersandar ke tembok gedung, seperti menunggu seseorang.

"Hyuuga-kun? Nungguin siapa?" tanya Riko ketika menyadari bahwa sosok yang berada di luar gedung adalah Hyuuga Junpei, pemuda berkacamata dan berambut hitam yang merupakan kapten tim basket SMA Seirin. Pemuda itu menoleh kearah gadis yang baru keluar dari aula olahraga.

"Mengantarmu pulang. Terakhir kali kau pulang sendiri, Kagetora-san datang ke sekolah dan memarahi tim karena membiarkan, dan aku kutip "putri-berhargaku-yang-cantik-dan-manis-itu", pulang sendirian." Jawab Hyuuga sambil berjalan di sebelah Riko. Mendengar penjelasan sang kapten mengenai apa yang ayahnya lakukan kepada anggota tim-nya membuat Riko hanya bisa menghela napas panjang.

Keduanya berjalan pulang sambil mendiskusikan mengenai tim mereka. Mulai dari training menu, keuangan sampai ke sifat-sifat para anak kelas satu yang baru. Percakapan yang terdengar seru adalah sifat-sifat para anak kelas satu yang baru. Menurut sang gadis, anak-anak kelas satu yang baru tidak segila Kuroko-kun dan Kagami-kun, walaupun ada dua anak yang benar-benar jago untuk pemain yang baru lulus dari sekolah SMP. Sementara menurut Hyuuga, ia menemukan salah satu anak baru yang menarik. Anak itu baru memainkan basket ketika masuk ke Seirin, akan tetapi perkembangan skill-nya cukup pesat dan Hyuuga mengagumi anak itu.

Keduanya tiba di depan kediaman Aida yang merangkap sebagai gym. Hyuuga menunggu di luar, memastikan bahwa gadis yang juga pelatih tim basket SMA Seirin masuk ke dalam rumah. Riko melambaikan tangan kepada sang kapten dan baru akan menutup pintu kaca dari gym tersebut sebelum sang kapten berseru,

"Pelatih! Maukah kau pergi menonton bersamaku Minggu siang?!" seru Hyuuga dengan lantang. Saking lantangnya, pemuda tersebut megatupkan mulut dengan tangannya dan bersemu merah. Riko sendiri terdiam, membelalakkan matanya.

Hyuuga melirik ke lantai atas bangunan yang merupakan kediaman Aida yang sesungguhnya, berharap bahwa suaranya tidak terdengar sampai ke telinga kepala keluarga Aida yang terkenal galak kepada seluruh lawan jenis yang mendekati putri semata wayangnya.

Hyuuga baru akan membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya untuk menutupi warna merah tomat yang kini menghiasi wajahnya, ia mendengar gadis itu memanggil namanya. Hyuuga mengadahkan kepalanya dan melihat sang pelatih membuka mulutnya.


Wanita berambut cokelat susu itu memainkan ujung rambutnya sambil mengernyitkan wajahnya, seakan-akan sedang berpikir mengenai sesuatu. Ia juga membenarkan posisi duduknya kembali sebelum membuka mulutnya dan bergumam,

"Film yang mana waktu itu suamiku ajak aku nonton ya? Tahun itu aku hanya menonton film mengenai robot dan film superhero? Kami semua cukup sibuk sehingga tidak sering menonton bioskop.." gumam Riko sambil memicingkan matanya. Kesulitan sang wanita tersebut mengingat membuat kedua reporter tersebut tertawa kecil, diikuti oleh Riko yang merasa malu bahwa ia melupakannya.

"Ah, tetapi sepertinya suamiku juga tidak mengingatnya." ungkap Riko dengan nada santai sambil memijit lehernya. Beberapa detik setelah ungkapan tersebut, ponselnya berbunyi dan ia melihatnya.

"Aku ingat lho, istriku sayang..." gumam Riko sambil melihat ponselnya, membacakan apa yang tertera pada layar ponselnya. Sesuai menggumamkan hal tersebut, Riko bersandar ke sofa dan menutupi mulutnya dengan ponsel di tangannya, seakan-akan sedang menahan tawa.


halo. karena satu dan lain hal, judulnya diganti ya hehe. Judul yang kemarin itu dibuat sambil teler. well ini juga dibuat pas lagi teler si jadi ya.

Oh, kemungkinan fanfic ini ngga akan 3 chapter.. Bisa lebih? Tapi kemungkinan di bawah 10 chapter kok. Saya juga masih nganggur dan semangat nulis lagi tinggi jadi yha semoga bisa lah sehari satu kayak sekarang.

Untuk para reviewers (makasih udah review yah ketjup sayang dari author muah), hayo siapa suami Riko heheheheh