Disclaimer: 'Katekyo Hitman Reborn!' belongs to Akira Amano
'Kuroshitsuji' belongs to Yana Toboso
Warning: Alternate reality, OOC (mungkin), (Ciela), gaje, abal, SebasCielaMuku inside! Maybe typo(s) ^^
Chapter 2: Similar Faces!
Happy reading! ^o^
~#~#~#~#~#~
"Tch, kau muncul di saat yang tidak tepat!" Mukuro mendecak kesal. Ia terpaksa mundur, memberi jalan pada gadis –yang tampaknya bernama Ciela itu—untuk melepaskan diri setelah sebelumnya mencabut garpu yang menancap di pipinya.
"Apa yang kau lakukan pada Nona?" Sebastian menatap tajam pada Mukuro setelah gadis itu meloloskan diri.
Mukuro menyeringai lebar. "Kufufufufuu... Aku belum melakukan apa-apa, kok! Hanya ingin mengajaknya bersama-sama. Sampai kau datang menghancurkan suasana setidaknya," Mukuro menjulurkan lidahnya tanpa rasa hormat sedikitpun.
Gadis bergaun merah muda tadi menoleh ke arah Mukuro dan Sebastian, lantas mengamati wajah mereka satu sama lain. "Ini Sebastian... Lalu siapa makhluk ini...?" Gumam gadis itu. Gadis itu memandang penuh selidik. "Siapa dia, Sebastian?"
"Ah~ aku ini ket-... MMPH!" Sebastian membekap mulut Mukuro yang seenaknya sendiri nyelonong menjawab. Sebastian tidak mungkin mengatakan pada gadis itu kalau ini adalah keturunannya di masa depan 'kan?
Sebastian langsung memasang senyum berkilaunya. "Ah~... Dia Mukuro. Dia kembaran saya. Maaf, dia datang dari desa terpencil, jadi mungkin perilakunya sangat mengganggu. Maafkan kelancangan Mukuro, Young Mistress..." Sebastian menundukkan kepalanya sedikit.
Gadis itu hanya memandang Mukuro sebentar, lantas kembali mengayunkan langkahnya pergi. "Baiklah. Cepat siapkan makan siang, Sebastian..."
"Yes, my Lady..." Sebastian meletakkan satu tangannya di dada, kemudian menunduk.
"Uakhh! Apa-apaan sih? Kenapa harus dari desa?" Mukuro berteriak setelah Sebastian melepas bekapannya ketika gadis itu pergi. Mukuro memberi penekanan pada dua kata terakhir.
Sebastian mengelap keringatnya santai. "Habis perilakumu sangat tidak terdidik, sih! Seperti orang yang bodoh yang tidak berpendidikan," Sebastian menjulurkan lidahnya. "Mulai sekarang, panggil saja saya Sebastian. Saya masih belum tua, tahu!"
Alih-alih mengamuk dan mengeluarkan ilusi andalannya, Mukuro malah pundung di sudut ruangan. Kalau saja ia tidak ingat kalau Sebastian itu kakek moyangnya, pasti Sebastian sudah ia habisi sejak awal.
"Tadi itu Nona Ciela Phantomhive. Kepala keluarga sekaligus anggota keluarga Phantomhive terakhir yang tersisa setelah peristiwa kebakaran beberapa tahun lalu. Tunjukkan sikap yang baik padanya!" Sebastian menata makanan di atas kereta kecil sambil terus berbicara tanpa menoleh sedikitpun pada Mukuro.
Mukuro bergeming. Ia masih terduduk di sudut ruangan.
"Bodoh. Ayo bangun! Ganti pakaianmu dengan tailcoat! Jaman sekarang pakaian seperti itu dianggap aneh oleh orang-orang!" Sebastian melemparkan satu setel pakaian pada Mukuro. Mukuro lantas pergi ke kamar mandi, sedangkan Sebastian mendorong kereta kecilnya ke meja makan, untuk menghidangkan makan siang pada Lady-nya.
Sebastian hendak masuk ke ruang makan, tapi ia kembali lagi ke dapur untuk mengambil lap kain miliknya yang tertinggal di sana. Beberapa menit kemudian, Sebastian kembali mendorong keretanya untuk berjalan lebih jauh ke ruang makan.
Betapa terkejutnya Sebastian akan pemandangan yang ada di ruang makan. Mukuro –yang sudah berganti pakaian menjadi tailcoat, duduk di sisi lain meja makan. Dengan kata lain, satu meja dengan Ciela. Namun bukan itu yang membuat Sebastian sebal. Ia geram karena Mukuro dengan seenaknya sendiri mencubit-cubit pipi Ciela, dan sesekali menyentuh dagunya.
Sebastian serasa ingin memberondongi Mukuro dengan piring dan pisau roti—kalau saja ia tidak ingat kalau itu bukan perabot miliknya.
SYUUT!
Sebastian melayangkan garpu ke kepala Mukuro. Mukuro mengaduh sambil melirik kesal pada Sebastian. "Awww..."
Sebastian menatapnya datar. Mukuro agak kesal, segeralah ia mendekat ke arah Sebastian. "Apa-apaan sih? Kenapa dari tadi aku ditusuk garpu?" Desisnya.
Sebastian memutar bola matanya. "Baiklah kalau tidak mau ditusuk garpu. Kalau ditusuk ini bagaimana?" Ia mengacungkan pisau daging yang tajam dan mengkilat. Seketika Mukuro menggigit bibirnya sendiri.
"Hmm... Garpu aja deh... Hehehee..." Ia meringis. "Eh, ngomong-ngomong, kamu suka sekali 'sih memakai garpu? Senjatamu garpu ya? Wahh... Bentuknya mirip senjataku di masa depan. Yahh... Walaupun ukurannya jauh lebih besar sih. Hehehehe..."
Sebastian tersenyum meremehkan, "Ha? Garpu yang lebih besar? Pitchfork maksudnya? Wahh... Wahh... Jadi senjatamu cuma garpu rumput? Hihihi... Ternyata keturunan saya di masa depan adalah seorang tukang kebun. Sungguh tidak lebih baik daripada pekerjaan saya sekarang. Hihihi... Jadi ingat seseorang yang tadi menghina saya..." Sebastian terkikik sarkas.
Mukuro yang merasa tersindir langsung mendesis kesal, "Bodoh! Tentu saja bukan garpu rumput! Itu sejenis trisula!" Dengusnya sewot.
Sebastian hanya tersenyum congkak sambil berlalu. "Maafkan ketidak sopanan saudara saya ini, nona. Saya akan memberinya sedikit pelajaran..." Sebastian menghampiri Ciela lantas menunduk hormat.
Ciela menghentikan aktivitas makannya. "Eh? Benarkah? Padahal barusan aku ingin mengajaknya makan bersama..." Sahut Ciela polos.
Sebastian bagai tertohok mendengar pengakuan Ciela. Mulutnya ternganga. Sedangkan Mukuro sendang terkikik kecil.
"Bukankah Nona pernah berkata tidak akan pernah makan satu meja dengan seorang tikus got?" Sebastian memberi penekanan pada dua kata terakhir dengan pandangan mata merendahkan pada Mukuro.
Ciela tersenyum simpul. "Tapi dia 'kan tamu? Sekali ini saja, biarkan dia duduk di sini..."
Mukuro melenggang angkuh, kemudian menarik kursi dengan anggun dengan senyum tiga jari tidak lepas dari bibirnya. Sedangkan Sebastian tetap stay cool, padahal dalam hatinya ia sudah siap menendang wajah Mukuro sampai babak belur seperti kali pertama ia melawan Grell Sutcliff.
~#~
Sebastian membereskan piring dan peralatan makan lainnya dari meja makan. Kemudian membawanya dengan kereta dorong ke dapur. Di dapur, ia bertemu Mukuro—orang yang paling tidak ingin ia lihat wajahnya sedang duduk-duduk santai di sudut ruangan. Sebastian berpura-pura tidak peduli. Ia terus melanjutkan kegiatannya dengan mengacuhkan keberadaan Mukuro. Hatinya masih dongkol karena kejadian tadi. Sedangkan di sisi lain, Mukuro sedang bergumam-gumam tidak jelas layaknya orang mabuk di sudut ruangan.
"Hahaha... Majikan cilikmu itu manis juga ya, Sebastian!" Mukuro tersenyum menyeringai sendiri. Sebastian tidak memperdulikan omongan Mukuro. Ia terus mengelap gelas-gelas kaca yang baru selesai ia cuci.
"Hei, Sebastian!" Panggil Mukuro. Sebastian bergeming.
"Sebastian!" Panggil Mukuro sekali lagi. Sebastian tetap tidak menggubris omongan Mukuro.
"Sebastian!" Kesabaran Mukuro mulai habis.
Sebastian menghentikan gerakan tangannya, kemudian meletakkan lap dan gelasnya ke tempatnya mula-mula, setelah itu membalikkan punggungnya dan berkata, "Apa?" dengan wajah datar dan tidak tulus.
Mukuro mengernyitkan dahinya. "Kau ini ada apa, 'sih? Kenapa wajahmu masam begitu?" Mukuro mengelus-elus dagunya, pura-pura berpikir sesuatu.
Sedetik kemudian ia menjentikkan jarinya. "Ooh... Aku tahu! Pasti kau sedang cemburu 'kan, karena tadi aku lebih dekat dengan majikanmu, si Ciela itu. Iya, kan...?" Tebak Mukuro dengan senyum kemenangan merekah di bibirnya. Ia menoel-noel pipi Sebastian yang mulai memerah.
Sebastian kesal, ia melemparkan sebuah sendok ke kepala nanas Mukuro. Mukuro mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya. "A-apa-apaan sih!" Sebastian membentak Mukuro. Ia mendecak kesal.
"Nih, lap-lap jendela, sana! Mulai sekarang, kamu adalah butler tidak resmi keluarga Phantomhive!" Sungut Sebastian sambil melempar selembar lap pada Mukuro.
Mukuro mengeluarkan cengiran liciknya seperti biasa. "Apa saja aku lakukan untuk rumah Ciela tercinta~... Kufufufufu..."
Sebastian menghela nafasnya ketika Mukuro sudah keluar ruangan. Ia menyesali dirinya yang begitu malang memiliki keturunan seperti Mukuro. Tapi mau bagaimana lagi? Begitu pikir Sebastian.
"Aaaa!" Terdengar suara teriakan wanita dari halaman rumah. Sebastian segera melesat ke arah sumber suara tersebut. Ia menelusuri taman tersebut, kemudian menemukan Maylene sedang terduduk. Maylene tampak bagai orang yang begitu shock sambil berteriak. Di depan Maylene, ada Mukuro yang tampak kebingungan dengan tingkah pelayan wanita keluarga Phantomhive tersebut.
Sebastian menepuk bahu Maylene dari belakang. "Maylene? Kau baik-baik saja?"
"AAA!" Maylene berteriak terkejut sekali lagi, kali ini dengan suara lebih keras.
Sebastian mencoba menenangkan Maylene untuk tenang, namun maid itu malah semakin terkejut dengan keadaan sekelilingnya. Ia memandang wajah Mukuro dan Sebastian berulang-ulang secara bergantian.
"Waaa! Sebastian-nya jadi dua!" Maylene berteriak dengan wajah bersemu.
Sebastian dan Mukuro menghentikan gerakannya. Mereka bertukar pandang satu sama lain, kemudian terkikik kecil.
"Oh, Maylene, ini kembaran saya, namanya Mukuro," Sebastian menyikut lengan Mukuro, memberi isyarat agar memperkenalkan dirinya.
"Saya Mukuro," jawabnya singkat dan tidak niat.
Maylene membetulkan letak kacamatanya, kemudian mengernyitkan dahinya polos. "Mukuro? Nama yang aneh untuk orang Inggris," ujarnya.
"Memang dia bukan orang Inggris," Sebastian buru-buru menimpali, "dia berasal dari sebuah daerah pedalaman di negeri bernama Neverland. Saking terpencilnya tempat itu, bahkan orang negeri itu sendiri jarang ada yang tahu pedalaman tempatnya hidup. Karena ia berasal dari tempat yang sangat terpencil dan tidak terkenal, maka dari itu ia berperilaku buruk karena tidak pernah diajari sopan santun," jelas Sebastian panjang lebar.
Mukuro sweatdropped. Ia mendengus kesal. Neverland? Neverland apa? Memangnya aku ini Peterpan apa? Pikirnya sebal.
"Nah, Maylene," panggil Sebastian, " lebih baik sekarang kamu mencuci baju saja! Ingat ya, pakai deterjen dua sendok, bukan dua bungkus, mengerti?" Sebastian mengeluarkan senyum berkilaunya, sedangkan Maylene mengangguk polos dan segera berlalu ke tempat cucian.
Mukuro melangkah berat ke arah Sebastian. "Maksudmu tadi apa?"
Sebastian mengernyitkan dahi. "Apanya yang apa?" Ia balas bertanya.
"Ne-ver-land!" Mukuro menggemeletukkan giginya.
"Oh," Sebastian tersenyum lebar, "saya hanya mengarangnya. Saya teringat dongeng sebelum tidur yang pernah saya bacakan untuk Nona, dan saya teringat latar tempat ceritanya, yaitu negeri yang bernama Neverland. Itu saja," jawab Sebastian seadanya.
Mukuro hanya bisa melengos. "Ya sudahlah, aku pergi saja!"
"Mau kemana?" tahan Sebastian.
"Mau menguntit Nona," jawab Mukuro.
Sebastian mulai was-was. Sepertinya pekerjaannya hari ini akan bertambah repot...
~#~
Pikiran Sebastian salah. Pekerjaannya tidak hanya repot hari itu, tapi keesokan, keesokan, dan keesokan harinya juga. Ia tidak habis pikir mengapa Mukuro begitu terobsesi dengan nona mudanya.
Pekerjaan sampingan Mukuro sebagai butler tidak resmi juga ia lalaikan. Ia meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Contohnya kemarin, ketika ia disuruh Sebastian untuk membakar daging untuk makan malam, ia malah meninggalkan daging itu untuk mengikuti Ciela hingga daging itu hangus dan berujung pada omelan keras Sebastian pada Mukuro. Hal seperti itu tidak terjadi sekali atau dua kali. Sudah berkali-kali, hingga mulut Sebastian rasanya sudah jengah memberi peringatan padanya.
Tidak, bukan hanya Sebastian saja yang merasakan penderitaan itu, tapi hampir semua orang—dengan Ciela sebagai pengecualian—di rumah itu merasakan hal yang sama. Tanyakan saja satu persatu pada semua pelayan di Manor House, siapa yang tidak memiliki pengalaman buruk karena Mukuro?
Karena itu, satu hal yang perlu diingat, Mukuro Rokudo ada seorang butler tidak resmi yang sama sekali tidak dapat diharapkan. Bukannya membantu, pekerjaannya setiap hari adalah merusuh dan menambah beban pekerjaan pelayan yang lain. Ditambah lagi pelayan itu belum tentu mengerjakan seluruh pekerjaan dengan becus. Pada akhirnya tetap Sebastianlah yang menjadi tumpuan semua masalah itu.
Entah Ciela tidak mengerti, tidak peduli, atau ia hanya menyembunyikannya, dari luar ia tampak sangat baik-baik saja dengan tingkah Mukuro yang jelas-jelas sangat mengganggu itu.
Sebuah pikiran kembali menghantui benak Sebastian. Apakah Mukuro Rokudo sudah jatuh hati pada majikannya?
Sebastian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pikiran apa pula itu? Ia membuang jauh-jauh pikiran itu dari benaknya. Namun semakin ia mencoba melupakannya, makin banyak pula pertanyaan tak terjawab yang merasuki pikirannya.
Apakah Mukuro Rokudo benar-benar jatuh hati pada majikannya?
Atau hanya sekedar mengagumi saja?
Lalu mengapa Sebastian mempertanyakan hal ini?
Sekedar penasarankah?
Atau memang ia sedikit cemburu?
Lalu mengapa ia cemburu?
Apakah ia bersaing dengan keturunannya di masa depan?
Mengapa ia begitu menggebu membawa Mukuro pulang ke waktu asalnya?
Lalu apa maksud dari perasaan sebal tiap kali Mukuro mendekati Ciela?
Apakah yang sebenarnya menyukai Ciela itu dirinya atau Mukuro?
Apakah ia juga jatuh hati pada majikannya sendiri...?
~#~
Hari ini sudah berakhir. Malam hari. Sebastian mengeluarkan jam saku dari kantung tailcoat-nya kemudian ia membuka dan melihat jarum jam yang berputar pada lingkaran jam itu. Pukul sebelas lebih dua belas. Sudah terlarut bagi seseorang untuk masih terjaga pada jam-jam ini. Ia baru saja membereskan meja makan yang berantakan setelah makan malam. Cukup melelahkan karena Mukuro ikut makan di meja makan tadi, dan itu artinya masalah.
Mungkin tinggal dirinya sendiri yang masih terjaga. Rumah ini terlalu hening. Ia bahkan dapat mendengar suara derit roda kereta dorongnya bergema di telinganya. Ia kembali ke tempat penyimpanan piring di dapur. Ia meletakkan piring dan peralatan makan kembali pada raknya setelah sebelumnya sudah ia gosok hingga mengkilat. Sebastian meletakkan kereta dorong di sudut dapur kemudian menyapu pandangannya ke seluruh penjuru dapur. Ia melihat Mukuro tertidur di sebuah bangku di tengah ruangan.
Sebastian mendekat ke bangku itu kemudian memandang generasinya di masa depan itu. Ia bergumam, "Maaf, walaupun kau adalah keturunan saya, saya tidak bisa membiarkanmu terlalu lama berada dalam waktu sejarah yang salah..."
Sebastian melangkahkan kakinya keluar dapur. Matanya masih belum mau terkatup, maka ia tidak ingin tidur saat itu. Ia menyusuri tiap Manor House, memeriksa segala keadaan rumah itu dan memastikan bahwa besok, ketika majikannya sudah bangun, rumah itu sudah berada dalam kondisi rapi seperti sedia kala.
Ia masih melangkah, bahkan saat ia sudah tidak tahu lagi entah akan kemana kakinya akan membawa dirinya. Ia menghentikan langkahnya. Telinganya sayup-sayup mendengar keributan kecil dari dalam kamar majikannya. Ia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali sebelum akhirnya ia mendengar suara majikannya lalu ia menyebutkan namanya hingga kemudian ia diberi izin untuk masuk ke dalam kamar itu.
"Anda masih terjaga, Nona?" Sebastian tersenyum simpul.
"Uh, begitulah," jawab Ciela seadanya.
Sebastian melihat beberapa buku terjatuh di samping ranjang Ciela. Ia berspekulasi bahwa buku itulah yang barusan menyebabkan bunyi ribut kecil. Ia membereskan buku yang berserakan itu kemudian meletakkannya kembali ke meja kecil di samping tempat tidur Ciela.
Pandangan Ciela menerawang, kemudian sedetik kemudian ia tersenyum sendiri.
"Mengapa Nona tersenyum?" tanya Sebastian.
Ciela mengalihkan pandangannya pada Sebastian. "Mmm... Sebastian, apa pendapatmu tentang Mukuro Rokudo?"
Mata Sebastian melebar. Satu lagi pertanyaan merasuki dirinya, apakah kini majikannya mulai tertarik pada Mukuro Rokudo?
Sebastian berdehem, "Lelaki yang cukup mengganggu. Pekerjaannya membuat rusuh. Begitulah..."
Ciela tertawa kecil mendengar jawaban Sebastian. "Kau benar," komentarnya.
"Lantas mengapa Anda membiarkan dia terlalu lama ada di Manor House?" tanya Sebastian.
Ciela mengangkat bahunya. "Entahlah. Dia orang yang menyenangkan. Aku hanya ingin berteman dengannya. Sesederhana itu."
"Hmm, lalu Sebastian, apa sebenarnya hubunganmu dengannya?" tanya Ciela sekali lagi.
"Bukankah saya pernah bilang kalau kami kembar?" Sebastian berbalik bertanya.
"Aku tidak percaya," jawab Ciela.
Sebastian menghela nafas. " Mengapa Anda begitu yakin?"
"Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang aneh dan berbeda. Kalian pasti merahasiakan sesuatu!" Ciela berargumentasi.
Sebastian tersenyum simpul. "Baiklah saya mengaku. Memang kami bukan kembar, tapi kami tetap keluarga. Kita seperti kembar—tentu saja—karena wajah kami sangat mirip satu sama lain," jelas Sebastian. Setelah itu Sebastian terdiam selama beberapa saat. Ia seperti memikirkan sesuatu, entah apa itu.
"Nona, saya yakin tidak lama lagi Mukuro Rokudo akan pergi dari rumah ini...," kata Sebastian tiba-tiba.
Ciela mengernyitkan dahinya bingung. "Apa maksudmu?"
Sebastian tersentak. Ia seakan baru sadar bahwa ia baru saja mengucapkan apa yang terintas pada pikirannya. "E-eh? Tidak. Sekarang lebih baik Anda pergi tidur," kilah Sebastian. Ia mempersilahkan Ciela naik ke ranjangnya, kemudian membantu sang nona muda untuk menarik selimutnya.
"Uh, Sebastian," panggil Ciela pelan, "kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu, iya kan?"
Sebastian tersenyum misterius, "Ya, Nona. Saya memang sedang menyembunyikan sesuatu...," kata Sebastian lantas mematikan penerangan pada kamar itu.
"Selamat malam, Nona Ciela..."
~#~#~#~ TO BE CONTINUED... ~#~#~#~
AN:
Ciaossu!
Saya tahu fandom crossover sepi sekali, namun saya masih belum berkeinginan men-disconnect cerita ini. Ehehe... Mungkin chapter depan menjadi chapter pamungkas. Semoga cerita ini lebih baik dan lebih berbobot daripada yang sebelumnya, ya...
Umm, kalau saja ada pembaca yang benar-benar membaca cerita ini (selain saya tentunya) tolong sumbang saya review ya! Hehehe...
.
Review please~... :D
