Sasuke kadang lupa bagaimana rasanya menghirup udara segar. Sejak pelariannya dari kohona, udara segar bukanlah temannya. Mengingat dirinya sama sekali tak pernah betul – betul lepas dari pertarungan. Sekalipun disaat – saat ia tidak bertarung, aroma anyir darah para lawannya tergantikan dengan aroma alat – alat medis dan aroma zat – zat kimia. Tinggal di sarang Orochmaru membuatnya terbiasa dengan segala jenis aroma tak menyenangkan tersebut. Tanpa ingat lagi betapa segarnya udara di luar gua terkutuk itu.
Tapi hari itu ia resapi lagi. Napasnya yang masih terasa berat sebagaimana tubuhnya. Jendela kamar rumah sakit yang sengaja terbuka. Membiarkan udara segar itu menemani Sasuke.
Ia akhirnya bangun 5 hari lalu. Banyak hal yang terjadi. Dari perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Butuh lama waktu lama Sasuke untuk bisa beradaptasi dengan tubuh ini. Apa lagi menerima kenyataan ia berubah total secara fisik. Mengingat mentalnya masih sama seperti dulu.
"SAKURA!"
Denyut di kepala Sasuke kembali lagi. Pening yang perlahan – lahan membuat memori – memori Sasuke akan perang setengah tahun lalu kembali ke potongan – potongan yang utuh.
Sasuke mencoba duduk. Sembari memegang kepalanya. Ia ingin memastikan. Perlahan dan pasti Sasuke beranjak dari kasur. Melepaskan Infus dan juga alat bantu napas dari tubuhnya. Mendekati jendela kamar rumah sakit yang terbuka lebar.
Sasuke berusaha menaiki jendela itu. Sembari berdiri dan meresapi lebih dalam udara segar yang ia rindukan ini. Dan sadar secara penuh, ia harus pergi.
Ketidakpastian ini mencekiknya.
.
.
.
.
.
"Sasuke menghilang!"
Waktu yang Naruto rasakan serasa berhenti sejenak. Otak bodohnya ini kadang butuh waktu untuk mencerna. Namun, pada detik itu juga Naruto beranjak. Mengabaikan seruan – seruan Shizune.
Demi Kamisama! Ingin rasanya Naruto memaki. Bagaimana bisa pasien yang baru saja bangun dari koma selama setengah tahun itu hilang dari pengawasan. Walau tak bisa disangkal kekuatan Sasuke Uchiha dalam kabur dari suatu tempat. Tapi tetap saja.
Sasuke baru saja sembuh total dari perubahannya menjadi seorang wanita! Naruto bahkan masih ingat betapa sulitnya Sasuke untuk duduk kemarin. Dan betapa sulitnya Sasuke dalam bernapas. Dengan dada yang besar membuat nya kadang merasa sesak (jujur Naruto tidak mengerti bagaimana pengobatan itu membuat pertumbuhan seperti itu secara cepat).
Naruto cukup bingung untuk mencari ke mana. Konoha belum me-rekronstruksi ulang Uchiha Mansion. Ataupun apartemen yang Sasuke tempati dulu. Dan Naruto juga sudah mengecek semua tempat makan yang masih utuh pasca perang. Dan beberapa toko yang telah selesai rekronstruksi.
'Aduh, bodohnya aku!' batin Naruto. Tentu saja setiap orang yang ia tanya tidak tahu Sasuke pergi ke mana. Karena Sasuke yang mereka tahu itu seorang pemuda.
Naruto memandang matahari yang mulai tak terlihat. Ia tidak ingat seberapa lama ia telah mencari Sasuke. Dan nyaris membuatnya putus asa. Tidak. Ia tidak boleh menyerah.
Ia menghampiri seorang wanita dan anaknya. "An-no, apakah Oba-san melihat wanita dengan rambut kelam lewat sini? Kira – kira seumuran denganku,"tanya Naruto dengan sedikit kehilangan napas.
"Ah, Naruto. Ya aku tadi melihatnya. Mengenakan baju pasien kan? Ia tadi menanyakan di mana pusara korban perang kemarin. Aku langsung memberitahu di mana. Masih tempat yang sama seperti yang lain kan."
Mendengar pernyataan wanita tua tersebut membuat Naruto menghilang seketika. Dengan kecepatan yang tak dipungkiri lagi Naruto berlari. Ia tahu betul apa maksud Sasuke mencari pusara tersebut. Dan membuat dadanya sedikit berdenyut.
'Sasuke'
.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan malam – malam di sini?"ucap Sasuke saat ia mendapati gadis merah muda itu berdiri dihadapannya. Seakan menghalangi usahanya keluar dari Konoha.
"Aku tahu kau akan lewat sini saat kau pergi. Karena itu aku menunggu di sini,"jelas sang Haruno yang terlihat putus asa.
"Pergi dari sini. Dan tidurlah,"balas Sasuke tanpa emosi. Ia mulai muak dengan keberadaan gadis aneh itu.
Sakura menangis kala itu. Ia tidak dipedulikan seperti biasa. Dan membuat dirinya yag mencintai Sasuke sia – sia.
"Kenapa kau tak bilang apa – apa padaku? Kenapa kau selalu saja diam? Dan tidak berkata sepatah kata pun padaku?"
"-aku bilang, aku tidak butuh bantuan mu. Jangan pernah mencoba mencariku."
Pernyataan itu membuat Sakura diam. Dan memberikan keluasan bagi Sasuke untuk kembali berjalan meninggalkannya. Menyadari Sasuke tetap akan pergi dan dirinya tak bisa menghentikan hal tersebut. Membuat dada Sakura sesak. Sesak akan ketidakberdayaan dirinya dalam menghentikan Sasuke. Ataupun mencintainya.
"A-Aku mencintaimu de-dengan sepenuh hati! Ji-jika kau tetap di sini bersamaku...tidak akan ada penyesalan! Karena setiap hari kita akan bersenang – senang dan bahagia! Dan aku bersumpah akan hal itu!"
Serak tangisan Sakura membuat Sasuke berhenti sejenak. Mencerna tiap pernyataan Saskura yang penuh emosi dan perasaan itu. Dan beberapa kata dari gadis itu sedikit membuat dada Sasuke ngilu. Tapi ia harus teguh dengan apa yang ia inginkan sekarang.
Hening itu membuat isakan Sakura terdengar jelas. Jujur saja gadis itu, apapun yang terjadi. Ia juga merupakan temannya. Yang selalu ada. Yang selalu rela. Yang selalu-
-untuknya.
Betapa pahitnya rasanya melepaskan orang yang telah lama memberikannya afeksi sebegitu besar untuk ia lepas. Tapi Sasuke sadar secara penuh, perjalanan yang ia tempuh tidak akan dapat mudah ditempuh Sakura. Gadis itu cengeng. Cerewet. Manja. Rentan.
-dan mudah rapuh.
Sasuke harus memilih. Melanjutkan jalannya. Atau tetap tinggal agar tangis sang gadis berhenti.
Dan tentu semua tahu apa yang Sasuke pillih.
"Kau mengganggu."
Deretan aksara itu membuat dada Sakura merasakan remuknya patah hati.
.
"Sasuke,"
Detik itu Sasuke kembali. Dari memori yang kabur. Dengan air mata yang berlinang. Dadanya kembali sesak. Sesak akan udara yang ia nanti. Udara segar yang seakan menjauhinya karena membenci sikapnya. Membenci apa yang sudah ia lakukan pada-
-Sakura.
Jemari Sasuke meraba aksara yang terukir di batu memorial itu. Memastikan aksara yang mengukir nama gadis merah muda itu, benar – benar nama sang gadis. Napas Sasuke tertahan.
Sakura Haruno.
Terukir jelas. Dengan ukiran rapi dan penuh keindahan.
Menyedihkan rasanya. Nama sang gadis terukir di sini. Bukan di-
-hatinya.
"Sasuke, tarik napas!"
Napas yang Sasuke tarik kala itu menyesakkan. Dan pandangannya kembali kabur. Kabur penuh dengan air mata.
"Sasuke, tenangkan dirimu,"ucap orang yang sejak tadi memerintahnya. Sasuke tahu itu Naruto. Dan kenyataan itu membuat Sasuke menggigit bibirnya.
Ia mendorong Naruto. Menarik kerah ninja kuning itu. Dan berseru, "Katakan pada ku ini semua, bohong!"
Naruto sedikit tertahan napasnya. Ia terkejut dengan apa yang terjadi pada Sasuke sekarang. Ekspresi sang Sahabat sangat sulit dijelaskan. Naruto terdiam sejenak. Ia meraih lengan Sasuke dengan lembut.
"Sa-suke, itu semua-"
"-kumohon,"
Isak itu menyela Naruto. Begitu pula air mata yang Naruto sendiri bahkan tak pernah menjumpainya.
"-kumohon. Katakan semua ini hanya -mimpi."
Naruto ingin menangis. Ia membenci dirinya.
Karena kala itu, berbohong saja ia-
-tidak sanggup.
Author's note
Yeahhh update cepet. Semoga semuanya suka ya. Dan sebelum ada yang bertanya, adegan Sakura n Sasuke itu ada di chapter 181. Pas Sasuke mau ke goa Orochimaru. Dan sengaja sih dipotong banyak. Biar nggak persis di komiknya. Setidaknya cukuplah memberi gambaran dan itu kan bagian dari memori Sasuke, dan you know lah memori tuh bagaimana. Chapter kemaren hebat bangettt. Nggak nyangka yang suka banyakk. Dan btw Arn nggak bisa janji update cepet yaaaaaaa. Berdoa aja kegiatan sekolah Arn nggak padet padet amat :'''''''') jadi bisa update (horayyy!)
Udah ah itu aja.
Enjoy!
Samarinda 11/03/18
