2. Despair
...the devil was once an angel.
.
Malam tanpa akhir. Tetes air keran. Keringat dingin. Cermin retak. Jendela-jendela itu buta. Cahaya neon terpantul di dinding. Kuberbisik di kesunyian "Kau sendirian."
Dan ujung pisau itu tertancap di leher sahabatnya yang tak sadarkan diri. Jatuh, anak manusia laki-laki, itu tertunduk. Gemetar ia memandangi darah segar sahabatnya yang mengalir ke arahnya, jeritan memekik diliputi pilu menjadi saksi atas teror sifat dengki dan iri manusia. Kini jiwanya gelap gulita. Bisikanku kemudian menutun ia memandang jendela terbuka dengan tekanan udara yang masuk membelai pori-pori kulit, menawarinya sebagai jalan menuju pintu kematian baginya. Jiwa rapuh mengulurkan tangan begitu mudah padaku, mengundang seringai di bibirku. Ia terbang, kendati tak bisa melawan gravitasi, di atas tanah tubuhnya terhempas melepas napas.
Selamat datang di neraka.
"Jangan pernah mengeluarkan api hitam itu di hadapanku." Baekhyun, makhluk abadi incubus itu menodongkan cakar panjang padaku. "Jangan pernah!"
Aku melenyapkannya dari tanganku, tidak sedang selera ingin mendengar histeria incubus di antara hening malam yang dingin ini, terlebih ketika penampilannya sekarang terlihat sangat segar penuh energi manusia. Aura yang harum bak bunga lili—dia tidak berusaha menyembunyikan aromanya— menjelaskan bahwa dia baru pulang berburu—menggoda anak manusia menukar jiwa dengan seks yang luar biasa. Baekhyun adalah salah satu incubus tertua, juga adalah makhluk neraka, tugasnya memang tidak sesederhana hanya memberikan pelayanan seks namun juga melibatkan sebuah kontrak jiwa dengan segala macam perjanjian. Tetapi kupikir, tetap saja tugas incubus dan succubus itu jauh lebih mudah dari tugas iblis.
Succubus dan Incubus cenderung berusia lebih lama dari makhluk abadi lainnya walaupun mereka makhluk yang lemah, sebab mereka bukan tipe makhluk petarung seperti iblis, setan maupun vampir. Tetapi kemampuan menyembunyikan jati diri, yaitu aroma dan aura mereka dari makhluk abadi lainnya, dan dengan hidup berbaur berdampingan bersama anak manusia, membuat mereka bisa bertahan sangat lama. Jika keberadaan mereka terindikasi dalam bahaya, maka incubus dan succubus hanya perlu mengubah wujud mereka menjadi monster, hewan atau mengubah diri mereka menjadi seorang manusia dengan meniru wajah tertentu, karenanya sulit mengetahui manakah wajah asli mereka yang sebenarnya. Dan aku, kebetulan saja mengetahui wajah asli Baekhyun si incubus, tepatnya ketika bertemu untuk pertama kalinya dengannya di hari ke tujuh keberadaanku di neraka, di kerajaan Lucifer, tempat di mana wajah semua makhluk abadi neraka kembali pada kesejatiannya. Karena umur panjang mereka pula, mereka lebih mengetahui banyak hal, seperti ladang informasi, terutama bagi diriku sebagai iblis yang baru lahir.
Ada alasan mengapa aku datang jauh-jauh pergi ke tempatnya di ujung timur, dan menunggunya selama berjam-jam di luar rumahnya—Baekhyun tidak suka rumahnya diterobos, jadi aku menunggunya di luar— sebelum dia pulang, yaitu berhubungan dengan mengapa aku menunjukkan api hitam yang baru-baru ini tiba-tiba menjadi kemampuan baruku— mungkin.
"Jadi, ada apa dengan api hitam ini?"
Baekhyun membuka pintu lalu aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. "Api hitam adalah ciri dari iblis tingkat tinggi, tidakkah kau tahu hal sepele itu?"
Jawaban yang tidak kusangka. Tidak seperti bayanganku yang kukira aku sudah terkena penyakit menular dari alien yang mungkin kebetulan mampir untuk memeriksakan kesehatannya di rumah sakit.
"Jadi...apa aku sudah menjadi iblis tingkat tinggi?" Tanyaku tersenyum penuh harap. Semudah inikah?
Namun kerutan di kening Baekhyun melenyapkan senyumku. Sepertinya tidak semudah itu.
"Selama di kerajaan Lucifer, bukankah kau sudah pernah bertemu dengan iblis tingkat tinggi lainnya?" Incubus ini berubah menjadi sangat serius, seolah dia tidak yakin aku sudah pernah mengalaminya.
"Tentu saja. Kau pikir siapa yang menyeretku ke kerajaan neraka sedetik setelah aku jatuh dan berubah menjadi iblis? Tidak mungkin aku lupa pada mereka." Kengerian menjalar ketika membawa kembali ingatan di hari pertama aku memasuki gerbang kerajaan neraka. Wujud dan penampilan mereka layaknya manusia biasa, tetapi dengan tanduk, mata merah, cakar, dan taring. Itu tidak sedikitpun menakutkan, kekuatan iblis merekalah yang mengerikan. Aku bergidik berjalan ke arah sofa ruang tamu rumah Baekhyun dan melemparkan tubuhku di atasnya.
"Lalu apa tepatnya yang kau rasakan saat bertemu mereka?" Baekhyun menatapku tampak ingin mengarahkanku pada suatu kesimpulan.
"Haruskah aku menjawabnya? Kau sudah tahu jawabannya." Incubus ini diam, menatapku datar, sifat dingin yang sama sekali tidak cocok dengan topeng manusia yang entah siapa yang dia tiru, mungkin milik seorang manusia yang sudah mati berabad-abad yang lalu, karena wajah yang dipakainya terkesan kuno.
Aku menghela napas, enggan menguraikan. "Ada saat dimana mereka tidak menekan kekuatan mereka di neraka, dan berdiri dari jarak sepuluh meter saja dari mereka sudah membuatku tersiksa tidak bisa bernapas dan berharap mereka membunuhku saja."
"Lalu saat mereka menekan kekuatan iblis mereka?"
"Berdiri di samping mereka tetap membuatku ingin mati."
Baekhyun mendekat lalu duduk di sofa sampingku. "Dan apa aku terlihat ingin mati duduk di dekatmu?"
Kemudian aku mengerti. Sebagian.
"Lantas bagaimana aku bisa menggunakan api hitam?"
"Karena itu artinya, kau dalam proses menjadi seperti mereka. Iblis tingkat tinggi. Walaupun tidak akan ada yang tahu kapan tepatnya kau akan seutuhnya berubah." Baekhyun menahan siku di lengan sofa, menautkan jari-jari tangannya sembari melanjutkan. "Api hitam milikmu belum memiliki efek panas seperti milik iblis tingkat tinggi lainnya, itu bahkan tidak bisa dibandingkan, milikmu masih sangat amat lemah. Tetapi itu menjelaskan seberapa gelap jiwamu."
"Bukankah jiwaku memang sudah gelap?" Bantahku.
Baekhyun menoleh padaku, terdiam sejenak. "Jiwa murni malaikat tidak akan sepenuhnya gelap hanya dalam waktu dua tahun setelah jatuh. Tetap akan ada sifat-sifat malaikat yang masih menempel padamu selama waktu tertentu. Tetapi semakin lama kau di neraka, maka kau akan semakin menjadi seperti makhluk neraka lainnya. Walaupun memang belum pernah ada yang mendapatkan api hitam hanya dalam waktu dua tahun setelah menjadi iblis."
Aku tertunduk memperhatikan diriku melalui telapak tanganku. "Itu artinya, semakin gelap jiwaku, maka aku akan semakin kuat sebagai iblis, begitu juga aku akan semakin cepat menjadi iblis tingkat tinggi."
"Siapa yang telah memancing kebencianmu, Dyo?" Tanya Baekhyun. Baginya kini aku adalah pelajaran baru, pengetahuan baru sementara aku satu-satunya iblis dua tahun yang bisa menggunakan api hitam, ciri dari iblis tingkat tinggi.
"Seorang malaikat tingkat tinggi, yang menangkapku beberapa hari yang lalu." Senyum ironi mengolok diriku sendiri—mungkin ini sifat malaikat yang tersisa yang dimaksud Baekhyun. "Dia juga mengatakan betapa gelap jiwaku. Pantas saja dia terkejut."
Baekhyun tak bertanya lebih lanjut. Salah satu sifatnya yang kusuka. Memberitahu hanya yang harus diberitahu. Tidak bertanya ketika lawan tidak ingin menerima pertanyaan. Kemahirannya membaca suasana mungkin diperoleh dari perjalanannya setelah melewati lapisan waktu.
Ketika aku berpamitan untuk pergi, dia berkata. "Lain waktu ketika kau datang lagi kemari sebagai iblis tingkat tinggi, mungkin kau tidak akan bersedia repot-repot menungguku di luar, tetapi akan langsung membakar rumahku dengan api hitammu jika aku tidak cepat datang."
Aku terkekeh, meskipun aku tahu apa maksud dibalik kata-katanya itu. Kecemasan, kekhawatiran, kepedulian, incubus dan succubus berbeda dengan iblis dan makhluk neraka lainnya, sedikit banyak mereka memiliki sifat dasar seperti manusia. Mereka bisa peduli, berteman, dan mencintai, namun juga bisa dendam, dengki, dan kejam.
Sementara aku, aku terbuang karena menumbuhkan sifat selain dari kebaikan. Dan sebagai iblis, jika aku tidak memenuhi tugas seperti yang diharapakan neraka, maka para kaki tangan Lucifer akan memusnahkanku, seperti para iblis lain yang dinilai tak cukup berkontribusi untuk tujuan maha agung para iblis melawan kerajaan surga. Tetapi jika sebaliknya, maka aku akan menjadi iblis tingkat tinggi seiring besarnya kegelapan yang kutebarkan di bumi,... Dan kehilangan diriku yang sekarang, seperti maksud dibalik makna kalimat pengantar pulang Baekhyun padaku.
Waktu tidak berkesudahan. Fajar tak jenuh menyingsing. Senja tak jemu bergulir. Dalam selimut pekat malam, menyusur zaman yang terus merengsek mengikuti awan panjang mengarak rendah. Dua abad berlalu.
Api hitam memanjang berbentuk cambuk melilit sayap putih, merobeknya dari tubuh malaikat yang kemudian bertekuk lutut. Bulu-bulu putih halus berjatuhan. Tak ada rintihan. Malaikat tak merintih. Tubuh berubah menjadi asap putih dalam damai. Dan lenyap.
Salah satu malaikat tertinggi di timur telah tumbang. Sekarang, aku bukan lagi bocah yang akan gemetar ketakutan bertemu malaikat tingkat tinggi, justru dari mereka dengan mudah kubunuh. Hingga beberapa julukan disematkan padaku ; iblis penjagal, iblis pembantai, iblis sinting. Memangnya aku peduli? Aku adalah api kegelapan.
"Kau memang kejam."
Tak perlu menoleh untuk mengetahui keberadaan Baekhyun yang berdiri sangat jauh namun masih bisa kudengar jelas suaranya.
"Kau bilang dia mengejarmu." Balasku. Menekan kekuatanku yang sesaat lalu mengecam segala makhluk hidup di sekitarku.
"Jangan jadikan aku alasan untuk membunuh." Ucapnya. Ketegasan yang diselimuti ketakutan itu memancing kekehan dariku, yang lalu berefek teror padanya.
"Aku tidak peduli."
"Kita tidak lagi berada di perang surga, kau tahu."
Aku mendecih. Aku bahkan belum lahir saat perang di surga antara malaikat dengan iblis sebelum akhirnya Lucifer beserta pengikutnya diusir dari surga. Lalu mengapa aku harus berpedoman pada hal itu untuk memulai pertarungan atau tidak? Kenyataannya perang antara malaikat dan iblis tidak akan pernah berakhir sebelum tiba hari pemusnahan dunia. "Memangnya harus berada di perang surga untuk membunuh mereka? Ingat, mereka juga membunuh kaumku."
"Kau bilang kau tidak peduli."
"Memang tidak. Tapi apa boleh buat, pendendam memang sudah menjadi sifat iblis."
Baekhyun terdiam. Sebelum kemudian aku dan dia berada dalam siaga saat merasakan hawa keberadaan yang tajam mendekat. Baekhyun menjaga jarak semakin menjauh, sementara aku mengeluarkan aura iblisku semakin kuat untuk menggertak siapapun malaikat yang berani mendekat. Ya, malaikat. Hawa keberadaan yang terang seperti yang kurasakan sekarang, hanya dimiliki oleh kaum malaikat, malaikat tingkat tinggi.
Dalam sekejap sebuah cahaya bersinar terang muncul di hadapanku, kemudian dalam kilat berubah menjadi sesosok malaikat dalam penampilan manusia— bertubuh tinggi berkulit tembaga menggunakan kaus abu-abu potongan V di leher dengan celana hitam, dia seperti manusia yang berlenggak-lenggok memamerkan baju yang dikenakannya, sesuatu yang mereka sebut model. Aku tidak tertarik pada kehidupan manusia, hanya pernah beberapa kali mengikuti jiwa gelap milik manusia yang disebut model. Seperti itulah penampilan rupawan malaikat yang berdiri mematung memandangi sisa-sisa asap putih di belakangku dengan duka.
"Aku terlambat." Monolognya.
Aku menatap tajam. Tangan kananku mengeluarkan api hitam yang kuubah bentuk menjadi cambuk. Dalam kasat mata aku bisa menilai bahwa malaikat ini berada di level yang sangat tinggi, hingga tak bisa kuukur, apakah aku atau dia yang paling kuat.
Matanya melirik padaku, tatapannya sendu sarat rasa pilu, luka, menderita, dan... Sesuatu yang lembut? Mengapa malaikat ini menatapku seperti itu? Menjijikkan.
"Seharusnya dulu aku tidak melepaskanmu." Ucapnya penuh penyesalan. "Ini salahku."
"Apa yang kau katakan?" Geramku padanya.
"Kau mengenalnya?" Suara Baekhyun jauh di belakang, menyela.
"Tidak." Mengapa aku harus mengenal malaikat?
"Dia adalah malaikat bernama Kai."
"Lalu?" Aku tak bisa menangkap maksud Baekhyun.
"Mungkin kau pernah bertemu dengannya."
"Jika begitu dia sudah menjadi asap."
"Ingatanmu sebelum kau menjadi..." Baekhyun ragu mengatakan sesuatu, yang sepertinya takut menyinggungku. "...menjadi seperti sekarang, sudah memudar."
"Jadi ingatanmu sebelum berubah menjadi iblis sinting, memudar?" Sela si malaikat. Sebuah cahaya muncul di tangannya, berubah bentuk menjadi tali cahaya panjang yang melilit melingkar di telapak tangannya. "Haruskah kuingatkan kembali pertemuan pertama kita dengan ini?"
Kurang ajar. Sayap hitam keluar dari punggungku, terbang ke arahnya aku melempar cambukku, membidik lehernya tetapi dia berkelit cepat. Menggunakan kakinya malaikat itu berpindah-pindah menghindari cambukku dengan gesit, tanpa perlawanan, yang berarti penghinaan bagiku. Gemeretak gigiku mendengung di telinga, dengan tangan kiriku aku membuat tombak menggunakan api hitam, lalu melemparnya lurus ke arah dada malaikat itu, yang dengan mudah ditepis oleh cahaya yang muncul dari tangannya. Sekarang aku tahu ini tidak akan mudah, tapi dia bukan malaikat tingkat tinggi pertama yang pernah kuhadapi. Dengan tombak dan cambuk aku menyerangnya bertubi, sehingga pada satu cela aku berhasil mengecohnya, tombak api hitamku menancap di dada kirinya. Seringai mengolok berbinar di wajahku, tetapi malaikat itu mendecih dan dalam sekejap tombakku berubah menjadi asap putih sebelum lenyap. Rupanya tombakku tidak menancap cukup dalam. Sialan!
"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu." Ujarnya datar, sembari terus menghindar, aku melihat dia mengulur tali yang sejak awal hanya digenggamnya, tanpa sempat kusadari, dalam kilat tali itu sudah mengikat tubuhku, dan aku jatuh berdebam keras di tanah. Sial!
Aku menggeliat, sembari berusaha menciptakan sesuatu menggunakan apiku, tetapi tidak ada yang muncul, tali cahaya itu juga menyegel kekuatan iblisku. Dia mendekat padaku, lalu menginjak punggungku sementara kedua tangannya menyergap salah satu sayapku. Aku tahu apa yang akan dilakukannya, menghancurkan sayapku, dan itu membuatku bergidik ngeri. Iblis tanpa sayap akan menjadi makhluk abadi yang cacat, yang akan mengemis mati daripada hidup tanpa kekuatan iblis. Inikah akhir dari diriku?
"Kau memang iblis sinting pembantai para malaikat, tapi ingatkah kau bahwa para iblis menyebutku malaikat sadis?" Ujarnya, sebagaimana sifat sadis pada umumnya, suaranya lembut penuh kasih namun menyiratkan kekejaman.
Tangan yang menggenggam sayapku terasa membakar. Seolah bulu-bulu sayapku dicabuti satu-persatu, dan aku tidak tahan untuk menjerit, bahkan telingaku nyeri mendengarnya. Di saat itu tiba-tiba Baekhyun melompat keluar lalu berlari ke arahku, tetapi tidak sampai limapuluh kaki dariku dia terlempar mundur.
Bodoh.
Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh incubus? Mendekati malaikat tingkat tinggi dalam keadaan mengeluarkan kekuatannya hanyalah tindakan bunuh diri. Bahkan jika malaikat bernama Kai ini adalah malaikat tingkat rendah, seorang incubus tidak akan mampu melawannya. Lagi pula apa yang ingin dia lakukan? Menolongku? Jangan gila. Aku tidak akan repot-repot menolongnya jika dia berada di posisiku. Benar yang dikatakannya, aku membunuh salah satu malaikat tertinggi penjaga timur, bukan karena malaikat itu mengejar Baekhyun, aku hanya menjadikan alasan itu untuk membunuh, bukan karena aku peduli padanya. Iblis tak punya kepedulian, setidaknya tidak jika bukan karena alasan yang licik dan menguntungkan bagi iblis itu sendiri.
Dari jauh, Baekhyun berdiri, kemudian merubah tubuhnya menjadi makhluk monster besar dengan taring panjang, bertanduk dan bercakar besi. Dia melompat tinggi ke arah kami hanya untuk lagi-lagi terlempar jauh oleh sengitnya aura tak kasat mata malaikat sialan ini. Baekhyun terjatuh dengan darah keluar dari mulutnya. Pertempuran dalam diam dengan perbedaan kekuatan mencolok ini membuatku muak. Baekhyun tak akan menghasilkan apapun, yang dilakukannya hanya bisa mengulur waktu Kai tidak merobek sayapku. Namun apa gunanya? Aku tidak bisa menggunakan kekuatan iblisku untuk melepaskan diri. Aku melirik malaikat bernama Kai itu dari bahuku, membuat mataku membelalak ketika kulihat dia menciptakan panah cahaya, metode membunuh malaikat ialah menggunakan panah atau pedang cahaya untuk membunuh makhluk neraka dengan menancapkannya di dada.
Dan entah karena alasan licik dan menguntungkan apa yang akan aku dapatkan dari Baekhyun dengan melakukan ini, tetapi aku berteriak keras ; "Jangan!" pada Kai.
Gerakannya terhenti. Memandang ke bawah, padaku dengan terkejut. "Jangan?" Tanyanya tak yakin.
"Jangan." Geramku.
"Kau peduli pada incubus?"
"Dia adalah incubus tertua. Sumber informasi yang mengetahui segala hal. Jika kau membunuhnya, kau tidak hanya akan menabuh genderang perang pada para incubus dan succubus, tetapi juga pada semua makhluk neraka. Jika dia mati hari ini, maka besok akan tercipta kekacauan yang tidak akan pernah dibayangkan oleh para malaikat. Tidak hanya perang yang akan terjadi tetapi kalian juga akan melihat manusia-manusia kesayangan kalian menuju neraka. Karena dia, memiliki nilai tinggi dari hanya sekedar incubus bagi para makhluk neraka." Sepanjang hidupku, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah kuucapkan. Selain itu sekarang aku pun ingat mengapa aku bertindak reaktif melindungi Baekhyun, sebab memang begitulah nilai Baekhyun bagi neraka, karena itu ia dengan mudah bisa keluar masuk kerajaan Lucifer untuk ukuran makhluk yang tergolong makhluk rendah seperti incubus. Dia istimewa, karena dia incubus tertua yang telah hidup selama waktu yang tak terhitung lagi hingga sekarang. Dia sumber informasi, yang menyimpan sejarah perang besar antara iblis dan malaikat di surga. Dia menyimpan sejarah para makhluk neraka dalam ingatan dan kecerdasannya.
Sementara Kai, seperti halnya para malaikat penyayang makhluk fana yang lainnya, yang tidak menyukai kekacauan bagaimana pun ia disebut anjing sadis— malaikat tetaplah malaikat —ia dengan mudah menerima alasanku. Lalu melenyapkan panah di tangannya.
"Pergi!" Teriakku pada Baekhyun. Selagi berdiri dia menatapku bingung, namun cakar tajam panjang yang muncul dari kuku-kukunya lagi, menandakan jawaban tidak. Bodoh! "Jika kau mati mereka akan menyalahkanku, bodoh! Mereka akan membunuhku terlebih dahulu sebelum menyerang para malaikat beserta manusia!"
"Kau yakin bukan aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu?" Sela Kai dari atasku penuh ketertarikan.
"Diam!" Geramku. Aku menggapai-gapai tubuh Kai dengan kakiku, berusaha menendang si malaikat sadis ini, dalam kesia-siaan.
Baekhyun menatapku sedih. Oh tidak. Sifat incubus dengan segala kepeduliannya. "Pergi! Kau lemah! Kau akan mati sia-sia tanpa sempat menolongku! Kau pikir dengan terus berusaha melawan kau akan bisa mengalahkannya? Berdiri di sampingku saja kau gemetar. Bagaimana kau akan menghadapinya?!"
"Aku tersanjung kau mengakui aku lebih kuat darimu." Sela Kai, lagi.
Dan amarah membakarku. Aku sedang membujuk incubus bodoh itu dan malaikat ini terus mengintervensi. Lalu entah aku mendapatkan dorongan kekuatan dari mana, api hitam kelam milikku tiba-tiba muncul menyelubungi tubuhku hingga melelehkan tali cahaya yang mengikat. Kai segera melompat menjauh dariku dan aku berdiri dengan cepat, dengan cepat juga menciptakan pedang dari api hitamku. Memunggungi Baekhyun sembari mengarahkan pedangku pada Kai yang justru memandang takjub padaku, aku berteriak pada Baekhyun ; "Pergi!"
Hening.
Lalu aura keberadaan Baekhyun menghilang. Aku berdiri diam dalam posisiku, masih memandang tajam mengancam pada Kai, tetapi kemudian tiba-tiba tubuhku lemas, pedang hitam di tanganku lenyap, aku jatuh tersungkur. Kakuatan tali cahaya malaikat itu tidak sepenuhnya hilang, itu masih menyiksa tubuhku. Pandanganku kabur, kesadaranku terkikis, tapi aku masih bisa melihat sepatu hitam Kai yang beranjak mendekat.
"Kau mengejutkanku lagi. Seperti ketika pertama kali kita bertemu." Sayup terdengar suaranya di dekatku. Seiring mataku yang terpejam, samar kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipiku.
.
Continued...
.
—*—
