I'm Me
(Eternal silence)
…
…
…
_
Jongin beberapa kali mengerjapkan matanya, ia rasa ia tidur terlalu lama. Mengedarkan pandangan, Jongin tampak asing dengan ruang kamar yang ditempatinya.
Ia melenguh pelan, merenggangkan sendi – sendinya ketika dirasa nafas seseorang mengenai tengkuknya. Badannya terasa panas, ia merasa demam dan kedinginan. Dan ketika Jongin berbalik, betapa terkejutnya ia saat wajah seorang yang begitu dikaguminya tengah memeluknya posesif.
"Kau bangun, sayang?" Dan suara dalam itu mampu meluluhlantakkan jantungnya. Jongin serasa membeku, ia tak dapat menggerakan setiap bagian tubuhnya tiba – tiba.
"Tidurlah! Hari masih malam!" Dan lelaki yang ia tahu adalah Sehun ini semakin memeluknya erat, menyadarkan Jongin bahwa dirinya dan Sehun tengah telanjang bulat. Astaga! Apakah Kai baru saja bercinta dengan Sehun?
Jongin terlonjak dari tidurnya, membuat Sehun terkejut berlebihan dan ikut terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Ada apa Kai?" Tanya Sehun lembut seraya mengusap sayang pundak Jongin dan memberikan ciuman hangat pada pipi si Tan.
"Aku bukan Kai!" Sehun mengernyit heran. Apakah Kainya sedang mengigau?
"Aku Jongin. Kim Jongin! Bukan Kai"
Deg
…
…
…
-Bagian 2-
Jantung Sehun berdetak bertalu – talu. Badan Kai terasa panas dan terlihat menggigil. Kainya sakit. Dan kenapa Sehun tak menyadarinya?
"Kai! Badanmu hangat, sayang! Kau sakit!" Sehun menarik selimutnya, melingkarkan pada tubuh Jongin yang masih membeku ditempatnya.
"Aku bukan Kai! Aku Jongin!" Suara Jongin terdengar parau. Ia nampak seperti orang linglung, seorang bodoh yang tak tahu apa yang sedang dilakukannya disini, ia kebingungan dan cemas. Mata sayunya menatap Sehun, kemudian suara – suara asing yang kerap kali meneriakinya kembali menghampiri, lalu menyadari bahwa ia terbangun menjadi pribadinya. Kai kembali mengijinkannya bangun dari ketidaksadarannya. Dan Jongin hanya tak ingin Sehun kecewa bahwa seseorang yang tengah mendapatkan perhatiannya bukanlah Kai, melainkan the host dari kepribadiannya, Kim Jongin!
"Kau berhalusinasi, sayang! Aku akan mengambilkan baju untukmu!" Tak acuh akan pernyataan Jongin. Sehun turun dari ranjangnya dalam keadaan telanjang, cukup membuat pipi jongin merona, secepat kilat si manis itu menundukkan wajahnya, ia malu.
Sehun memungut celana bahannya, memakainya kemudian berjalan menuju lemari dan memilih satu hoodie hangat juga celana training miliknya untuk dipakai Jongin.
"Biar aku pakaikan! Setelah ini minum obat kemudian tidur!" Sehun berjalan menghampiri Jongin, mengusak lembut surai Jongin yang mulai memanjang. Sehun berniat menarik selimut yang melingkari tubuh Jongin, tapi Jongin menolak. Jujur dia malu.
"Biar aku sendiri saja!" Dan kemudian meraih satu setel baju ditangan Sehun.
"Sehun!" Jujur, Jongin sedikit salah tingkah, ia tak tahu harus model bagaimana ia ganti baju. Sehun terus memperhatikannya, malah duduk dipinggir ranjang sambil menatap Jongin lekat – lekat.
"Bisakah kau berbalik sebentar? Aku ingin memakainya dulu" Sehun tentu saja mengernyit keheranan. Tampaknya ia keberatan. Untuk apa ia berbalik? Toh, Sehun sudah melihat setiap inchi tubuh kekasihnya ini.
"Aku… malu!" Justru, satu senyum terukir membentuk garis lengkung yang Indah dibibir Sehun. Kai tampak menggemaskan jika malu – malu begini. Sejak kapan Kai malu ganti baju dihadapannya? Yoshikazu Kai memang sulit ditebak, pikirnya.
"Baiklah, aku tak akan melihat! Aku akan membuatkanmu makanan dan teh, lalu kau harus minum obat, oke?" Ucap Sehun dengan wajah teduhnya.
"Ba… Tunggu! Apa kau baru saja menyebutkan nama benda bulat kecil berwarna putih yang rasanya tak lebih enak dari daun pepaya?" Wajah memelas itu. Ingin rasanya Sehun ciumi bertubi – tubi. Sungguh demi rumput laut bergoyang! Kai begitu menggemaskan, dan Sehun baru tahu sisi Kai satu ini setelah lima bulan mereka menjalin hubungan. Setaunya Kai pemakan segala, daun pepaya sekalipun. Dan anak itu jarang merajuk.
"Aku tak ingin menerima segala penolakan dan alasan, Kai! Aku buatkan bubur ya? Lalu minum obat!" Setelah mencium hangat pelipis Jongin, Sehun begitu saja beranjak dari duduknya, meraih kemeja kerja yang tadi dibuangnya begitu saja saat bercinta dengan Kai, membuka pintu dan meninggalkan Jongin yang masih diam mematung pada tempatnya.
Bukan tanpa alasan Jongin tak menginginkan bulatan aspirin masuk kedalam mulutnya, hei obat dari Luhan lebih dari selusin dirumahnya. Selain rasanya yang tak lebih enak dari akar dewa, pun karena semua obat pasti mengandung bius, membuatnya terlelap setelah beberapa menit meminumnya. Dan Jongin masih ingin terjaga. Ia takut Kai kembali menguasai tubuhnya hari ini. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
-I'm me-
Tiga puluh menit lebih lima detik Jongin menunggu Sehun dipinggir ranjang, dan Batang hidung pria itu sama sekali tak muncul dari balik pintu. Jongin khawatir kalau – kalau Sehun membakar dapurnya sendiri. Ia sangat tahu bahwa Sehun sangat buruk dalam memasak, sangat tidak bersahabat dengan pisau, panci, kompor dan tetek bengeknya, intinya Sehun benar – benar musuh besar dapur.
Jongin tentu saja tahu. Beberapa kali ia tersadar dari alter egonya dirumah Sehun, meski tak terlalu sering. Sedang berkutat dengan masakan yang hampir matang dan dari bau saja sungguh nikmat. Pertama kali, Jongin kelabakan dengan segala jenis alat – alat dapur, bahkan Jongin begitu saja melemparkan pisau dapur kesudut ruangan. Tangannya bergetar hebat, pun badannya yang mengeluarkan keringat dingin banyak - banyak. Ia bukan tipe orang yang pandai memasak. Sangat berbeda dengan Kai, si ahli meracik bumbu dapur serta merta masakannya, dan dari sana Jongin mengerti alasan Kai hampir tiap malam berkunjung ke rumah Sehun. Anak itu benar – benar berperan sebagai kekasih idaman, memasakkan makan malam untuk kekasihnya sepulang kerja. Salah satu hal yang membuat Jongin merasa kalah telak dengan adik kembarnya (setidaknya Jongin ingin berdamai dengan alternya, dan menganggap Kai sebagai saudara kembar).
Dulu, waktu mereka terbangun akan terperinci dan terbagi adil bagi si the host. Jongin akan menjadi dirinya pada waktu pagi hingga setidaknya jam 7 malam, dan Kai sebagai si nocturnal yang menguasai tubuh Jongin pada malam hari. Itulah mengapa Kai lebih sering bertemu Sehun daripada dirinya, karena Sehun akan menjadi super duper sibuk saat siang dan banyak berkencan dengan dokumen – dokumen menyebalkannya, sedangkan Jongin juga terlalu sibuk dengan kuliah serta kegiatan amal dan volunteer yang diikutinya. Namun, akhir – akhir ini nampaknya Kai semakin menunjukkan eksistensinya dan menyabotase tubuh Jongin dengan kepribadiannya.
Jongin sempat terlonjak berlebihan ketika melihat keadaan dapur Sehun, ia memutuskan untuk turun dari ranjang dan menghampiri pria tampan yang lebih dari tiga puluh menit berkutat didapurnya dan keadaannya sudah seperti bekas tempat perang dunia, atau mungkin Korea Utara baru saja melemparkan rudalnya ke dapur Oh Sehun. Sangat berantakan, dan… sangat – sangat berantakan. Jongin menekankan kata sangat dan berantakan hingga dua kali.
Dua panci sedang dan ukuran kecil berhamburan dilantai, spatula kotor juga tergeletak mengenaskan di samping kompor, hei! Spatula dan panci? Air menggenang basah dibawah wastafel, kain lap juga beberapa sudah terlihat kotor bekas bubur yang belum jadi. Oh Tuhan! Sehun benar – benar buruk saat didapur.
"Err… Sehun!" Jongin menghampiri Sehun takut – takut. Pasalnya dapur benar – benar kacau seperti terkena badai topan.
"Oke Sehun! Tinggal aduk sekali lagi dan wala… jadi!" Satu senyum menghiasi bibir Jongin. Kenapa Sehun menggemaskan sekali? Hatinya menghangat mengingat begitu perhatiannya seorang Oh Sehun pada kekasihnya. Jongin sekarang tahu alasan Kai begitu mencintai pria ini, termasuk dirinya.
"Oh Sehun!" Jongin memanggil sekali lagi.
"Hanya begini saja? Bubur tawar? Tak ada lauk? Apakah Kai menyukainya? Oh tidak!" Dan gumaman keras itu sekali lagi membuat Jongin menahan tawanya. Ternyata Oh Sehun tak sedingin kelihatannya.
"H-Hun!" Sedikit canggung, Jongin menghampiri Sehun, menyentuh pundak pria tinggi dihadapannya, membuat si empunya nama terlonjak berlebihan. Ia terkejut.
"Kai? Apa yang kau lakukan disini, sayang?" Entah kenapa, jantung Jongin selalu uring – uringan tak jelas tiap kali Sehun memanggilnya sayang.
"Kau… menghancurkan dapurmu, Hun!" Menatap sekelilingnya. Jongin dibuat takjub oleh keahlian artistik Sehun menghancurkan dapurnya.
"Maksudku. Kau harusnya istirahat di kamar! Kenapa kau malah disini? Apa ada yang kau butuhkan? Kau bisa berteriak memanggilku! Demi Tuhan! Kau sedang sakit Kai!" Dan Jongin tersenyum hangat dan Sehun terpesona sekali lagi. Demi apapun yang ada didunia ini, Kai begitu Indah, dan memesona.
Ditengah senyumannya Jongin kembali merasakan gejolak tak mengenakkan pada perutnya. Rasa panas dan dicengkram kuat seolah meremas lambungnya. Badan Jongin memang panas, namun ia sama sekali tak merasakan pening dikepalanya, hanya saja perutnya terasa begitu perih. Sepertinya maghnya kambuh. Salah makan apa ia kemarin?
"Kai?" Sehun mengernyit ketika didapatinya senyum Jongin terasa janggal.
"Aku baik – baik saja. Apa sudah matang buburnya?" Kemudian Jongin melongokkan kepala kebelakang Sehun. Melihat satu panci kecil berisi bubur buatannya.
"Tentu! Duduklah, dan biarkan aku yang menyiapkannya" Jongin menurut. Ia duduk dikursi depan meja makan sembari menunggu Sehun. Jemarinya menggenggam bajunya kuat – kuat. "Oh Tuhan! Perutku perih sekali" Lirihnya.
Tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menghidangkan makanan didepan Jongin. Lelaki itu dengan cekatan menyiapkan segalanya termasuk air minum dan obat untuk Jongin.
Jongin berusaha menahan rasa sakitnya, tak ingin membuat Sehun khawatir, jika saja pria itu khawatir. Satu hal, Sehun begitu mengkhawatirkannya karena lelaki itu hingga kini masih menganggapnya sebagai Kai, kekasihnya. Sama sekali tak mengenal kepribadian asli dari tubuh itu, sama sekali asing dengan nama Kim Jongin.
"Mau aku suapi?" Jongin tak menoleh pada Sehun yang duduk dikursi sebelahnya, hanya menatap lurus mangkuk berisi maha karya Sehun didalamnya. Tanpa Sehun sadari, Jongin tengah menggigit bibirnya keras – keras.
"Kai?" Dan yang dipanggil hanya menggeleng pelan, meraih sendoknya perlahan dengan tangan sedikit gemetar menahan sakit diperutnya.
Baru akan menyuapkan sesendok bubur, Jongin tiba – tiba bangkit dari duduknya, cepat – cepat pergi ke kamar mandi terdekat, ia mual.
Sehun panik bukan main. Berlari menghampiri Jongin yang sudah menunduk lemas didepan kloset.
"Kai?" Sehun memegang kedua pundak Jongin untuk menahan tubuh sang terkasih. Sama sekali tak ada yang dikeluarkan dari mulut Jongin, tapi pria itu tahu bahwa Jongin tengah kesakitan.
Air muka Sehun begitu cemas ketika Jongin menjatuhkan dirinya pada dadanya. Nafas sang kekasih terlihat terburu, dan tanpa sadar Jongin mencengkram kuat – kuat ujung kemeja Sehun.
"Apa yang sakit, sayang?" Tanya Sehun seraya mengusap lembut surai Jongin.
Hanya gelengan pelan yang didapati Sehun. Pria itu lantas memeluk Jongin sayang bermaksud memberikan kehangatan pada kekasihnya.
"Kalau begitu aku akan menyuapimu kemudian minum obat"
-I'm me-
"Byun! Kau sudah tahu kabar Jongin?"
"Justru aku menghubungimu karena kupikir kau tahu dimana anak itu sekarang"
"Jongin menghilang?"
"Sudah lebih dari duapuluh empat jam anak itu tak ada kabar"
"Terakhir kali aku bertemu Kai saat di kampus di jam kuliah pertama, setelah itu si nama Jepang itu menghilang entah kemana, ia membawa kabur tubuh Jongin entah kemana tanpa kabar sama sekali. Aku khawatir, Dae!"
"Sehun? Kukira anak itu akan lari kerumah kekasih sangat tampannya itu"
"Bukan saatnya bergurau, Kim Jongdae! Temanmu sudah hilang dalam kurun waktu lebih dari sehari semalam! Kau tahu alamat rumah atau nomor telepon CEO sexy itu?"
"Kau lebih parah! Kau kira aku siapanya Oh Sehun? Memiliki nomor pribadi pengusaha panas itu? Atau kau dapat kabar dari Luhan Hyung mungkin?"
"Tak ada! Dia malah menyarankanku bertanya pada kakakmu. Tapi ratusan kali aku coba hubungi nomor ponsel Minseok Hyung, yang ada kotak suara yang muncul"
"Panggilanku saja tak diacuhkan olehnya. Tunggu! Bukankah si mata rusa dan Minseok Hyung berada dalam satu rumah sakit?"
"Yang kau sebut si mata rusa itu hampir menjadi kakak iparmu kalau kau lupa!"
"Pria China itu bilang, ia sedang ada urusan di Songdo, jadi seharian tak menginjakkan kaki di Rumah sakit Hanyang"
"Dan sekarang lelaki itu malah berkencan dengan naga China"
"Tunggu! Tunggu! Tunggu!"
Jeda beberapa saat diantara mereka.
"Kris!" Ucap mereka bersamaan.
-I'm me-
"Aku tidak pergi ke kantor hari ini! Kai sedang sakit, jadi kuserahkan pekerjaan hari ini padamu, Kris!""Suhu tubuhnya naik, beberapa kali ia meremas perutnya juga mual"
Sayup – sayup Jongin mendengar suara seseorang sedang melakukan panggilan dari balik pintu. Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya.
Ia bangkit dari posisi tidurannya. Kepalanya pening, suara didalam kepalanya begitu bising, mereka bersama – sama meneriaki Jongin. Ada yang salah dengan dirinya. Jongin kemudian kembali seperti orang linglung, seorang idiot bodoh. Ia memegangi kepalanya, memejamkan matanya dan mengernyit dalam. Ia kembali merasakan beberapa periodik ingatannya hilang. Ia serasa gila, siapa dirinya? Apa yang dilakukannya? Seakan pertanyaan – pertanyaan itu memburunya membabi buta. Jongin kualahan. Kepalanya pening.
Ia kepayahan
Pikirannya penuh sesak, namun jiwanya kosong dalam keheningan.
Jongin serasa frustasi.
-I'm me-
Knock… knock…
Ketika pintu depan rumahnya diketuk, Sehun sedang berkutat dengan alat – alat dapurnya. Ia memutuskan untuk kembali berperang dengan salah satu ruangan didalam rumahnya satu ini. Setidaknya ia harus membuatkan sarapan untuk Kainya.
"Sebentar!" Membasuh tangan dengan air kran kemudian mengeringkannya. Sehun berhambur menuju pintu utama.
"Pagi Tuan Oh Sehun!" Sehun mengangkat sebelah alisnya. Memandang heran pria berperawakan mungil dihadapannya. Dandanannya sederhana namun menarik. Kulitnya putih bersih mendekati pucat, seperti tipe kulitnya.
"Saya Kim Minseok! Tuan Kris Wu beberapa waktu lalu menyuruh saya kemari!" Kemudian Sehun mengangguk paham. Jadi ini kekasih dokter dari Kris? Menarik! Tapi sejak kapan si pria naga itu menyukai tipe lembut seperti Kim Minseok ini?
"Jadi anda adalah kekasih Kris Wu? Apa aku salah?"
"Benar!" Dan Sehun menyadari ada semburat merah dipipi bulat pria mungil itu. "Tak usah terlalu formal, kau bisa memanggilku Minseok! Kita hanya terpaut jarak usia satu tahun!"
"Baiklah, Min-"
"AARRGGGHHHH"
Teriakan keras menggema hingga ruang depan, menginterupsi perbincangan Sehun dan Minseok.
"Jongin/Kai!"
Membelalakkan bola mata, keduanya berucap bersamaan. Didetik berikutnya Minseok mengekori Sehun yang berhambur berlari menuju sebuah kamar.
…
…
…
To be continued
_
Huwweeee... maaf... maaf... maaf... jika chapter ini kurang memuaskan dan terlalu berbelit ㅠ.ㅠ
maaf juga jika diluar ekspektasi.
Jujur, aku nulis bagian Jongin sakit magh itu pas kebetulan maghku juga kambuh, memaksaku harus mangkir dari kerjaan XD
entahlah, temen - temen dapet feelnya gak pas bagian Jongin sakit. Kurang lebih begitulah rasa - rasanya XD
maaf ya jika aku kurang bisa membawa suasana di cerita ini.
Buutttt... uuwwaaa aku seneng banget, review temen - temen sekalian buat aku semangat nulis *0*
makasih ya :)
o iya, aku dengerin lagu fadednya alan walker pas nulis ini.meskipun gak nyambung sama cerita, tapi entah kenapa cocok aja ㅋㅋㅋ
tapi maaf sekali lagi karena gak bisa bales satu - satu review. Jujur aku gak tau caranya bales ㅠ.ㅠ
(Ini cerita temanya sedikit berat, maka dari itu, aku minta maaf jika ceritanya belibet dan membosankan)
(by the way, ultimate biasku adalah Kim Minseok sebenernya XD tapi, sial! Kim Jongin like a wrecker bias list! damn! AKU HISTERIS LIAT FOTO - FOTO DIA KEMAREN ㅠ.ㅠand why i keep thingkin' 'bout who take Jongin's photo. I though it Sehun. Tipe - tipe foto blurred and look alike candid, like Sehun's mostly did) XD
tenang... itu hanya pemikiran shipper kurang moment macem saya ㅠ.ㅠ
ah, aku nyampah lagi...
semoga suka
(best regards... Caesarinn)
