Yaoi KaiLuHun | Saldaga| part 2
Written by : babyLU
Nie ff pernah aku post di fp exo fanfiction. Aslinya straight sih cuman aku pengen nyoba buat yaoi versinya aja disini hahaha XD
Jadi harap maklum kalo nemu kata-kata janggal karna kelewat pas ngeditnya ^^V
NB: demi kelancaran cerita anggap disini si Kai lebih tua dari Baeki ya, okeee :p
.
.
.
Aku pernah mendengar jika cinta itu tidak harus memiliki, bagiku itu hanyalah omong kosong belaka.
Untuk apa kita mencintai seseorang jika tidak bisa memilikinya?
Bukankah lebih baik jika menyerah, memupus perasaan itu sehingga tidak akan ada lagi hati yang sakit?
Namun kata menyerah tidak ada dalam kitab hidupku.
Semua yang kuinginkan harus menjadi milikku.
Bagaimanapun caranya . . .
.
.
.
Jongin P.O.V
"gomawo"
Luhan membuka sabuk pengaman kulit yang melintang di tubuhnya, tersenyum sekali lagi sebelum benar-benar keluar dari mobilku.
Aku mengangguk menanggapi senyumannya.
Kedua sorot mataku terus terfokus pada figure indah itu, memastikan jika tidak ada sedetikpun moment indah yang kulewatkan. Aku tak pernah bosan jika harus memandangi sosok mengagumkan miliknya.
Sempurna.
Sangat sempurna, jika ada kata yang derajatnya lebih tinggi dari sempurna maka aku akan menggunakan kata itu untuk menggambarkan sosok Luhan.
Iris mataku membesar seketika tatkala kulihat sosok sempurnaku terjatuh begitu saja, tergeletak tak berdaya diatas tanah. Aku menutup kasar pintu mobilku, tidak peduli jika hal itu dapat membuat goresan di barang mewahku ini. Yang sekarang terus berputar di otakku adalah Luhan yang tiba-tiba terjatuh pingsan.
"Luhan gwaencahana?"
Aku merengkuh tubuh mungilnya. Tatapan matanya memancarkan ribuan ketakutan, wajah pucat dan tubuh menggigil hebat. Kumohon jangan lagi!
Luhan menarik jas putih gading yang kukenakan, membenamkan wajah kedalamnya.
"api . .api- api itu"
Kuedarkan pandangan mencari hal apa yang telah membuat Luhan begitu ketakutan seperti ini. Seorang petugas keebersihan kampus yang tengah membakar puing-puing daun kering yang gugur dari dahan pohon.
Aku mengeratkan pelukanku pada tubuh gemetarnya
"ssshhh, iya kita pulang sekarang"
"LUHAAAAN-ssi. . ."
Seorang pemuda yang entah siapa datang dengan setengah berlari menghampiri kami, aku tidak mengenalnya namun bisa kurasakan jika dia juga sama khawatirnya sepertiku.
"sebaiknya kita bawa Luhan-ssi ke ruang kesehatan"
Namja itu, Sehun menarik tubuh tak berdaya Luhan dariku hendak membopongnya namun segera kucengkeram kasar tangannya yang telah lancang menyentuh Luhan. Tidak ada yang boleh menyentuh Luhanku.
"aargh, hey apa masalahmu?"
Dia merintih kesakitan merasakan tangannya yang mulai membiru karena cengkramanku. Dengan sekuat tenaga Sehun berusaha melepaskan tangannya dan langsung terjerembab kebelakang saat dengan sengaja kulepas begitu saja genggamanku.
"urus dirimu sendiri"
Aku membopong tubuh Luhan, mengalungkan kedua tangannya di leherku. Dan langsung melesat pergi saat kami sudah masuk kedalam mobil. Meninggalkan Sehun yang memandang dengan heran seraya memegangi pergelangan tangannya yang membiru.
"jongin . . api- api itu membakar seseorang"
Aku mengerahkan sebelah tangan yang bebas menyetir untuk membelai rambut kecokelatan miliknya, berusaha memberikan sedikit ketenangan padanya.
Jongin bodoh.
Seharusnya tadi aku tidak menurunkannya disitu sehingga dia tidak perlu merasakan rasa sakit seperti ini. Demi apapun aku paling benci melihat sebutir air keluar dari emerald matanya.
Selalu begini setiap dia melihat api. Bukannya aku tidak tau penyebabnya.
Aku tau, bahkan sangat tau karena bagaimanapun akulah yang membuat psikisnya menjadi sedikit trauma setiap melihat api.
Aku berani bersumpah demi apapun jika aku sama sekali tidak berniat menyakitimu namun pria tua itu pantas mendapatkannya. Maaf telah membuatmu harus melihat semua kejadian itu.
Aku memarkir asal mobilku di depan pintu rumahku, meminta penjaga pintu yang berdiri di depan untuk mengurusnya. Dan langsung membopong Luhan kedalam rumah.
"tuan muda apa yang terjadi?"
Kris yang kebetulan sedang berdiri di depan pintu langsung mengikutiku dari belakang. Aku merebahkan tubuh Luhan dengan perlahan diatas sofa ruang tamu.
"Kris, obatnya"
Kris langsung merogoh saku jas hitam yang telah menjadi seragam sehari-harinya. Mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi beberapa butir kapsul berwarna hitam.
Aku meraih kepala Luhan dan menyandarkannya di lenganku, Kris yang mengerti apa yang akan kulakukan buru-buru berlari untuk mengambil segelas air putih.
"kau akan merasa lebih baik setelah ini"
Kapsul hitam itu sukses masuk kedalam bibir mungil Luhan, melewati kerongkongannya untuk kemudian di proses di dalam lambung.
Tubuhnya sedikit mengejang dan menggeliat tak nyaman sebentar, kemudian menjadi lebih tenang karena sekarang dia tengah tertidur.
"tuan Luhan melihat api lagi?" tanya Kris
Aku mengangguk kecil.
.
.
.
Luhan P.O.V
Aku bisa merasakan seseorang membuka selimutku karena hawa dingin langsung meresap ke sepanjang permukaan kulit. Namun mataku terlalu lengket hanya untuk sekedar mengecek siapa orang yang telah berani mengganggu tidurku.
"tuan Luhan, bangun tuan"
Suara ini sangat familiar, bibi Jung?
Aku membuka mataku, gelap karena lampu kamarku memang sedang dalam keadaan mati namun samar-samar aku masih bisa melihat figur wanita tua yang telah merawatku sejak kecil ini.
Aku sedikit beranjak dan mengucek kedua mataku.
"ayolah bibi, ini masih tengah malam untuk pergi ke kampus" tolakku
"tuan harus kabur dari sini sekarang juga, saya akan bantu tuan membereskan barang-barang"
Terlihat jelas gurat kekhawatiran di setiap ucapannya.
Dahiku otomatis berkerut mendengar ucapannya, kenapa aku harus kabur dari rumahku sendiri?
Oke, mungkin ini memang rumah ayahku namun aku kan anaknya.
"apa maksudmu bibi, aku tidak mengerti"
"telah terjadi banyak kebohongan di rumah ini namun tuan tidak bisa mengingatnya . . ."
Bibi Jung terlihat agak ragu untuk meneruskan ucapannya yang justru membuatku semakin penasaran.
"tuan tidak ingat apa yang terjadi tadi pagi?"
Aku berfikir sejenak.
Tadi pagi seingatku seperti biasa aku sarapan bersama Jongin dan Baekhyun di meja makan. Lalu Jongin mengantarku ke kampus dan . . .
Sekarang aku terbangun di tengah malam dalam kamarku?
Aku memegangi kepalaku yang tiba-tiba berdenyut hebat. Aneh.
Aku sama sekali tidak bisa mengingat apa saja yang kulakukan setelah Jongin mengantarku ke kampus.
Tidak mungkin jika waktu bisa terlompati begitu saja menjadi tengah malam seperti sekarang ini.
"ini semua karena tuan Jongin memberikan obat yang bisa membuat tuan menjadi lupa . . ."
"bibi Jung jangan bercanda. Mana ada obat seperti itu . . ."
"tapi pada kenyataannya memang ada tuan, kapsul berwarna hitam itu mampu melemahkan susunan syaraf di otak tuan. Membuatnya tidak bisa menyimpan memori tentang hal yang baru saja terjadi. Dan tuan muda Jongin yang selama ini meminumkan obat itu untuk anda . . ."
Gila. Mana ada obat yang bisa membuat orang menjadi amnesia sesaat.
Tapi bibi Jung, dia orang paling terpercaya di keluarga kami. Merawatku bahkan saat aku masih dalam kandungan sampai sekarang jadi mana mungkin dia tega membual seperti ini.
Dan lagi untuk apa Jongin melakukannya padaku?
Selama ini kami tidak pernah punya masalah, dan dia begitu baik padaku.
Aku tidak tau siapa yang bisa kupercaya saat ini.
"kenapa . . kenapa Jongin melakukannya?" tanyaku
Bibi jung menggigit bibir bawahnya, samar-samar kulihat cairan bening mengaliri pelupuk mata teduhnya.
"agar tuan tidak tau tentang hal yang sebenarnya telah terjadi, berhubungan dengan tuan besar . . ."
Abeoji?
Kenapa dengan abeoji . . .
"abeoji kenapa?"
Tanpa kusadari aku mengguncang-guncang bahu bibi Jung terlampau kasar. Apa yang sebenarnya telah terjadi disini. Aku merasa begitu bodoh karena tidak tau tentang hal yang telah terjadi di dalam rumahku sendiri.
"anda akan ingat dengan sendirinya nanti, sebaiknya sekarang kita pergi dari sini"
Bibi Jung menarik tanganku untuk beranjak.
Entahlah, aku tidak mengerti. Pikiranku benar-benar terasa berat, aku tidak bisa berfikir dengan jernih sekarang.
"tuan, kumohon percayalah pada saya"
Aku menangguk mantap dan beranjak dari ranjangku. Mengambil beberapa helai pakaian dan kartu kredit yang bisa kugunakan untuk menghidupiku selama dalam pelarian.
Aku mengikuti bibi Jung yang berjalan dengan hati-hati di depanku, aku merasa seperti pencuri dalam rumah sendiri. Mengendap-endap dalam kegelapan.
Bibi Jung mengarahkanku untuk lewat pintu belakang, melewati dapur.
"bagaimana dengan penjaga di depan?" tanyaku
"tenang saja tuan, saya telah memasukkan obat tidur ke dalam kopi mereka"
Mengagumkan, sepertinya bibi Jung telah menyiapkan pelarian ini dari jauh-jauh hari.
Kreet!
Aku hampir saja melompat dari posisiku saat mendengar suara pintu dapur yang di buka.
Bibi Jung mengisyaratkanku untuk segera bersembunyi di bawah meja makan, dan aku langsung saja menurutinya.
Seseorang menyalakan lampu dapur dan berjalan masuk, aku bisa melihat dengan jelas langkah kakinya dari bawah meja dan aku tau dengan betul kaki milik siapa ini.
"tu- tuan muda, a- ada yang bisa saya bantu" ujar bibi Jung lirih. Aku tau dia ketakutan sekarang, terlihat jelas dari nada bicaranya.
"apa yang kau lakukan tengah malam begini?" tanyanya dingin. Lebih dingin dari lantai keramik yang kugunakan untuk tengkurap saat ini. Demi apapun aku belum pernah merasa setegang ini sebelumnya, semoga saja dia tidak mendengar deru jantungku yang memburu.
"sa- saya hanya ingin membuat teh untuk menghangatkan badan. Tuan muda mau saya buatkan juga?"
Ayolah bibi Jung jangan membuatnya curiga.
"dalam kegelapan?"
Hatiku mencelos saat mendengar pertanyaannya barusan, rasanya seperti di jatuhkan dari lantai 100 gedung pencakar langit.
Bibi Jung terdiam, tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan tuan mudanya ini.
Perlahan kaki Jongin melakukan pergerakan, dia melangkah menuju kulkas yang berada tak jauh dari tempat persembunyianku. Ya tuhan tolong selamatkan aku.
Jongin mengambil sebotol air mineral dan mulai melangkah keluar.
"jangan lupa matikan lampunya"
"i- iya tuan"
Aku menghela nafas lega, seakan beban beribu-ribu ton yang baru saja ku panggul menghilang begitu saja.
"tuan Luhan sebaiknya kita segera pergi"
Aku mengangguk dan keluar dari kolong meja, meraih tas ransel yang berisi pakaianku. Untung saja tadi Jongin tidak melihat tas ini.
Aku memasuki Porsche hijau tosca yang di belikan abeoji saat ulang tahunku yang ke 20 tahun lalu, sedangkan bibi Jung membukakan garasi mobil. Ya tuhan haruskah aku benar-benar melakukannya.
Aku percaya pada bibi Jung meskipun kedengarannya ini gila.
"bibi Jung ayo naik" ujarku setelah mobil yang kunaiki telah berhasil kunyalakan.
Tak ada jawaban.
"bibi Jung!" teriakku lebih keras namun masih terdengar seperti bisikan.
"tu- tuan . . ."
Jantungku bergemuruh hebat saat melihat pemandangan di hadapanku, Jongin yang entah sejak kapan datang dan dia menahan kedua tangan bibi Jung ke belakang.
Aku yakin cengraman tangannya di lengan wanita paruh baya itu begitu kuat melihat ekspresi kesakitan yang terlukis jelas di wajah tuanya.
"mencoba untuk kabur?"
Suara berat yang begitu dingin, membuat segenap susunan syaraf di lidahku menjadi kelu untuk menjawab pertanyaannya. Sorot mata tajam yang belum pernah kulihat sebelumnya, dia nampak begitu marah sekarang.
"LEPASKAN BIBI JUNG . ." teriakku dari dalam mobil.
"andwaaaaee tuan pergilah!" balas bibi Jung. Mana mungkin aku meninggalkanmu begitu saja.
Mereka berjalan mendekat kearah mobil. Apa yang harus kulakukan tuhan?
Kaki kananku tetap siaga dia atas pedal gas yang siap membawaku meluncur kapanpun.
"matikan mobilnya dan keluar"
Aku menggeleng menolak perintahnya. Entah kenapa perasaanku menjadi ciut saat melihat sisi lain dari Jongin ini, dia terlihat menakutkan.
"tuan pergilah, jangan pikirkan saya"
"aku tidak mungkin . . ."
"keluar sekarang juga XI LUHAN"
Dan untuk pertama kalinya juga Jongin berteriak padaku.
Aku jadi semakin yakin jika ada sesuatu yang memang disembunyikannya.
Aku menggigit bibir bawahku ragu, melihat secara bergantian antara Jongin dan bibi Jung.
"PERGIIIII~" teriak bibi Jung sebelum mulutnya di bungkam dengan tangan Jongin.
Aku memejamkan kedua mataku rapat, bersamaan dengan itu menginjak pedal gas membuat porsche yang kunaiki melesat menjauhi mereka berdua.
"LUHAAAAN~ . . ." teriak Jongin.
Aku bisa melihat dari kaca spionku jika kini dia berlari mengejarku membuatku makin menaikkan laju mobil menjadi 100 km/jam.
Aku terus melaju tanpa tau akan berhenti dimana, yang sekarang ada di pikiranku hanyalah pergi sejauh-jauhnya dari rumah itu. Atau lebih tepatnya dari Jongin.
Hingga kulihat sebuah cahaya yang bersinar terang menuju kearahku dari depan, sebisa mungkin kucoba untuk menginjak pedal rem agar mobilku tidak menghantam benda beroda empat yang kini hanya berjarak 5 meter dariku.
Namun sepertinya aku salah perhitungan. Karena sekarang yang bisa kurasakan hanyalah kegelapan dan hangatnya lelehan merah pekat yang mengalir dari pelipisku setelah membentur dashboard mobil.
Mungkin tuhan mengecamku karena telah meninggalkan bibi Jung.
.
.
.
Jongin P.O.V
"saya mohon ampun tuan muda . . hiks"
Aku menendang wanita tua yang tengah bersimpuh di kakiku, bahkan jika dia mencium kakiku sekalipun aku tak kan pernah mengampuni perbuatan lancangnya.
Mencoba memisahkanku dengan Luhanku huh?
"kenapa bibi Jung melakukannya?" tanya Kris yang mewakiliku berbicara.
Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi saking marahnya, aku lebih memilih diam dan menahan luapan emosi yang sudah menggumpal di ubun-ubun.
"saya . . saya hanya – hiks . . tidak tega melihat tuan Luhan di bohongi seperti ini"
Aku menggebrak meja di samping sofa yang kududuki, bisa kulihat jika wanita tua itu tak kalah terkejutnya dengan Kris yang berdiri di belakangku. Dia makin menangis kencang.
"jadi kau pikir aku membohongi Luhan? JAWAB AKU"
"bukan begitu tuan- tapi . . tapi"
"pergi dari hadapanku sekarang juga!" titahku
Wanita tua itu menatapku seakan tak percaya karena aku melepaskannya begitu saja. Dia tetap pada posisinya yang bersimpuh di hadapanku.
"pergi sekarang sebelum aku berubah pikiran"
"terima kasih tuan"
Dengan tergesa bibi Jung berdiri dan mulai melangkah pergi.
Dor!
Sebuah timas panas melesat menembus kepalanya yang telah ditumbuhi beberapa helai rambut putih, disertai dengan ambruknya tubuh tua renta itu.
"tapi- tuan muda bukankah anda telah membiarkannya pergi?" tanya Kris yang tidak mengerti akan perbuatanku barusan.
"Seseorang yang telah melakukan kesalahan tidak pantas untuk hidup"
.
.
.
RnR pleaseeeee~ XD
