Yay. Update juga. Akhirnya. Nulis pas udah gawe ribet juga. Capek tenan. Award! Hwaaa. Belum ada ideee⦠DD:
Perlu diingat di sini Kakei genderbend menjadi perempuan. Jadi mohon maklum jika Kakei jadi sangat OOC.
Disclaimer : Eyeshield 21 bukan punya saye.
OOC sangadh. Typo masih ada gak ya. Romance. Dan mohon anggap Kakei sebagai cewek biar fic ini tetap berjalan. Hehe
DL ? DR !
Happy reading. :D
xxxX-Change! xxx
"... Jadi begitu ceritanya?"
Kakei mengangguk sambil mengayunkan tubuhnya perlahan. Akaba mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Kakei dengan serius. Ia bersandar di tiang ayunan dan mengangguk-angguk paham.
"Hhh... Aku bingung mau kemana sekarang.."
Kakei menghela nafas panjang. Ia semakin merapatkan seragam Kyoshinnya. Sedih dan bingung apa yang harus Ia lakukan selanjutnya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kamu tinggal di apartemen saja?"
Apartemen? Ya mungkin ide yang lumayan. Menelepon orangtua agar tidak khawatir dan tinggal di apartemen kecil. Cukup memberi jalan keluar. Kakei tersenyum. Ia mengangguk.
"Ide bagus, Akaba. Hari ini aku akan langsung mencari apar... tunggu. Aku tidak punya banyak uang. Belum lagi aku harus membeli baju."
Wajah Kakei yang semula terlihat bersemangat, kembali meredup. Tidak mungkin Ia memakai pakaian itu terus. Kakei harus mencari pekerjaan. Ya pekerjaan. Dan membuang jauh keinginannya untuk terus bermain di american football.
"Baju untukmu itu urusan mudah. Aku juga bisa meminjamimu uang untuk membayar apartemen, Kakei-kun."
"Akaba, 'Kakei-kun' sudah tidak pantas lagi untukku."
Kakei mengucek-ucek ujung roknya galau. Tak pernah terbayangkan sejak Kakei lahir, hari dimana Ia kehilangan kegagahannya sebagai seorang laki-laki dan berganti menjadi feminimnya seorang perempuan.
Akaba kembali jongkok di depan Kakei sambil menatapnya dalam. Otak sehatnya mulai mengalami gangguan saat Ia melihat tubuh Kakei setiap jengkalnya tanpa seinchipun luput dari pandangannya. Kakei sexy. Tak dapat dipungkiri oleh siapapun, termasuk Akaba. Tentu saja! Akaba itu masih normal!
"A-Apa lihat-lihat?"
Lamunan Akaba buyar saat Kakei melempari wajahnya dengan seragam Kyoshin Kakei yang kebesaran. Dengan senyum simpul, Akaba menyampirkan seragam Kyoshin itu di bahunya dan mengulurkan tangannya dengan gentle.
"Ayo pergi, Kakei-chan. Kamu harus segera mencari apartemen untuk tinggal."
"Kenapa kamu jadi ikutan perhatian, Akaba?"
Wajah Kakei kembali merona. Namun meski begitu, akhirnya Ia menyambut juga uluran tangan Akaba dengan salah tingkah. Mainset Kakei sepenuhnya berada di set seorang perempuan. Dan pastinya, sebagai gadis yang baru pertama kali mendapat perhatian dari lawan jenisnya, Ia merasa sangat malu.
Padahal dulu, Kakei merasa biasa saja saat berhadapan dengan perempuan. Ia tak pernah merasa salah tingkah atau bagaimana. Hanya saja otak cerdasnya menyadari jika ada beberapa orang yang jika Ia dekati, akan salah tingkah dan wajahnya merona.
Dan kini Kakei mengalaminya! Merasakan sensasi debaran yang menggelitik hatinya saat tangan besar dan hangat Akaba menggenggam tangannya cukup erat. Seolah tak ingin orang yang berada dalam genggamannya itu pergi dari sisinya. Eh?
Mereka berdua berjalan bersisian. Akaba mencoba untuk menyesuaikan langkahnya dengan langkah kecil Kakei. Ia tersenyum simpul mendapati sahabatnya yang lebih tinggi darinya kini hanya sebatas dadanya.
"A-Apa sih?"
Menyadari daritadi Akaba hanya senyum-senyum gaje, Kakei jengah juga. Tidak Kobanzame, Mizumachi, orang-orang yang Ia temui, dan Akaba. Semua menyebalkan. Memandanginya dengan tatapan yang menyebalkan pula.
"Aku akan menjagamu..."
Kakei menajamkan pendengarannya. Suara Akaba tertelan oleh deru mobil yang ramai di sore hari. Namun yang Ia tangkap hanya kata 'mu' saja. Kakei semakin merapatkan tubuhnya, berusaha mendengar kembali perkataan Akaba. Namun Akaba hanya bungkam.
"Apa, Akaba? Tadi kamu bilang apa?"
Akaba melirik Kakei sekilas. Kemudian membuang muka ke arah keramaian jalan kota. Ia tak ingin Kakei tau jika jantungnya menjadi ritme yang kacau saat tubuh Kakei yang langsing itu mendekat.
"Tidak apa-apa. Hm, bagaimana jika apartemen itu saja? Tidak terlalu jauh dari sekolahmu kan?"
Akaba menunjuk sebuah gedung apartemen cukup megah. Lebih pantas disebut hotel daripada apartemen. Kakei menggeleng pelan. Bagus tentu saja. tapi uangnya juga bagus!
"Gak mau. Mahal. Lagipula sekolah sudah tidak penting lagi. Aku tak mungkin masuk sekolah Kyoshin di tengah semester begini kan?"
Suara Kakei terdengar serak dan bergetar. Ia galau. Sampai kapan Ia akan terjebak di tubuh perempuannya? Yang Ia tau perempuan itu resikonya sangat besar. Euh...
"Tapi kamu masih mau tetap sekolah?"
Kakei mengangguk pelan. Tentu saja! Orang bodoh itu sampah masyarakat. Ia tidak mau menjadi seperti itu. Mudah ditipu. Mudah dirayu. Lha?
"Kalau begitu, aku akan melakukan sesuatu agar kamu bisa sekolah lagi. Ayo masuk."
Akaba menarik pelan tangan Kakei dan berjalan ke dalam apartemen. Kakei hanya pasrah saat sang pemilik apartemen meminta datanya dan Akaba memberikan kartu ATM-nya untuk membayar kamar apartemen untuk satu bulan.
"Baiklah. Tuan Akaba dan Nona Kakei, anda bisa melihat kamarnya sekarang. Kamar nomor 041. Ini kuncinya. Semoga berkesan."
Sang pemilik apartemen tersenyum ramah dan memberikan kuncinya pada Akaba. Ia menyangka Akaba dan Kakei adalah sepasang pengantin baru. Hahaha.
"Ukh. Sepertinya pemilik apartemen itu salah mengira kita, Akaba."
Kakei mulai membuka suaranya saat mereka berjalan menuju kamar 041. Akaba hanya tersenyum dan memainkan kunci kamar. Boleh juga. Lumayan untuk peruntungan masa depan.
"Sudahlah. Tidak usah kamu hiraukan."
Mereka tiba di kamar 041. Akaba memasukkan kunci dan membuka pintu. Kemudian menyalakan lampu yang terdapat tepat di samping pintu. Dan terlihatlah sebuah kamar cukup mewah untuk ukuran apartemen.
Kamar seharga tiga puluh ribu yen perbulan itu memang sebanding. Kamar mandi dengan bath tub dan shower. Ranjang ukuran king dengan dua bantal besar dan selimut. Beranda yang mengarah ke jalan raya yang cukup luas. Serasa rumah sendiri saja kamar itu.
Kakei duduk di ranjang yang cukup tinggi dan membuka sepatunya. Tak dapat dipungkiri Ia lelah. Sangat lelah. Diliriknya Akaba yang masih berjalan-jalan melihat-lihat fasilitas kamar. Sedikit banyak sang pemilik manik merah itu membuatnya tenang. Hal yang aneh...
"Hei, Kakei-kun. Sepertinya tak ada yang kurang lagi. Tinggal baju dan makanan, kan? Aku akan datang besok membawakannya untuk..."
Saat Akaba selesai mengecek kamar, Ia mendapati Kakei sudah terlelap di pinggir kasur besarnya. Kakinya masih menggantung di lantai. sepertinya Kakei benar-benar kelelahan atas kejadian hari ini.
Akaba menghela nafas pelan kemudian mengangkat tubuh Kakei dan membaringkannya di tengah kasur. Ringan. Pikirnya. Tanpa sengaja, rok seragam sailor Kakei tersingkap saat Akaba menurunkan Kakei. Setelah sadar bahwa rok Kakei tersingkap, segera Akaba menutupinya dengan selimut. Wajahnya sedikit merona.
"Fuu.. Bahaya sekali, Kakei-kun."
Akaba duduk di samping Kakei dan menyingkap rambut poni Kakei yang menutupi sedikit wajahnya. Ditatapnya sosok indah itu lekat. Cantik. Seksi. Mulus. Imut. Siapapun yang masih normal pasti akan goyah imannya saat melihat Kakei tertidur pulas.
"Ssh.. Mm.."
Akaba menoleh. Kakei benar-benar tertidur pulas. Terdengar desah nafasnya yang teratur. Mendengar itu, Akaba dengan segera mengambil jarak sebelum sesuatu terjadi pada sahabatnya gara-gara ulahnya. Bodoh sekali, Akaba.
xxxX-Change! xxx
"Ngg?"
Beberapa jam kemudian, Kakei terjaga dan mendapati kamarnya kosong. Ia duduk dengan kecewa dan melirik secarik kertas di samping kasurnya. Dari Akaba.
Kakei-kun, aku pulang dulu.
Maaf aku tidak membangunkanmu.
Sepertinya kamu sangat kelelahan. Jadi aku tulis surat ini saja untuk mengabarkan.
Aku akan datang besok pagi. Baik-baiklah di sana.
Akaba
Kakei menghela nafas keras. Sendirian lagi. Hari sudah malam. Perut Kakei mulai bunyi karena lapar. Sedangkan Ia tak punya uang untuk beli makanan jadi atau beli bahan makanan. Dengan wajah melas, Kakei memeluk bantal dan bersandar di ujung ranjangnya.
"Lapar. Ungg.."
PIIP
Ponselnya berbunyi. Dengan malas, Kakei mengambil ponselnya di saku dan melihat siapa pengganggu yang tak tau jika perutnya belum diisi hari ini. Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah merona.
From : Akaba
Fuu. Kakei-kun, sudah bangun? Lapar bukan? Aku akan ke sana sekarang. Tunggulah.
.
"Kenapa dia tau aku lapar?"
Kakei beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sekarang Ia seorang perempuan. Perempuan mana yang tidak rapi-rapi dulu sebelum tamu datang? Dan kini Kakei sudah berdiri di depan cermin besar di kamar mandinya. Ada yang aneh...
"Leherku kenapa merah begini? Digigit nyamuk ya?"
Kakei menelusuri lehernya dengan jari. Tanda merah itu tidak sakit. Tidak juga gatal. Hanya saja terlihat nyata membekas di lehernya. Tanda apa ini? Namun Kakei tak ingin berpikir negatif dan memilih mandi secepatnya sebelum sang tamu datang.
Ting tong
Tepat saat Kakei selesai mandi, bel kamarnya berbunyi. Dengan panik, Kakei memakai baju dan roknya. Cepat sekali si manik merah itu datang? Jangan-jangan waktu SMS tadi, dia sudah di jalan?
Ting tong ting tong ting tong
Terdengar lagi. Ikh, apa maunya sih si manik merah gitar otaku itu? Sabar dikit ngapa. Gak tau apa orang lagi pakai baju. Ukh. Batin Kakei dalam hati, ngedumel.
"Iyaaa!"
Dengan kasar, Kakei membuka pintu dan mendapati wajah Akaba yang menatapnya dengan khawatir. Eh? Kenapa tuh Akaba? Kok wajahnya serius begitu?
"Kakei-kun! Aku pikir kamu kenapa-kenapa!"
Tangan Akaba terjulur, siap untuk memeluk Kakei. Namun kemudian Ia menariknya kembali. Tahan, Hayato. Tahan. Sekarang dia perempuan. Rapuh dan sensitif. Jangan seenaknya berbuat. Akal Akaba berbicara.
"A-Aku tadi habis mandi. Maaf ya?"
Kakei tersipu malu kemudian mempersilakan Akaba untuk masuk. Akaba duduk di kursi, diikuti Kakei yang penasaran melihat Akaba membawa kantong cukup besar. Namun tak mau merasa ge-er duluan, Kakei lebih memilih diam dan menunggu Akaba berbicara duluan.
"Fuu.. Kakei-kun..."
"Akaba, sampai kapan kamu mau memanggilku begitu?"
Kakei manyun. Si manik merah gitar otaku ini payah. Gak tanggap. Lupa ya jika Kakei Shun yang ada di depannya itu sekarang adalah perempuan? Masa dipanggil -kun?
"Oh? Maaf. Jadi aku harus memanggilmu apa? Shun-chan?"
"Diam."
Kakei membuang muka kesal. Tepatnya Ia menutupi rasa malunya dipanggil begitu. Akaba tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia kemudian memberikan bawaannya pada Kakei.
"Ini. Bukalah."
Dengan penasaran, Kakei membuka kantong pemberian Akaba. Baju! Dan beberapa makanan yang cukup untuk hari ini. Baju-bajunya juga bagus. Sepertinya mahal. Dan tidak lupa, pakaian dalam.
Wajah Kakei merah melebihi apel. Apa-apaan ini? Si Akaba membelikan pakaian dalam untuknya? Tidak terbayang, Akaba masuk ke toko pakaian dan memilih itu semua untuknya. Tapi apa cukup ukurannya?
"Te-Terima kasih, Akaba. Maaf merepotkan seperti ini."
Pertanyaan macam itu nanti saja deh ditanya. Yang lebih penting, Kakei harus berterima kasih karena masih ada yang mau memperhatikannya. Dengan berbinar, Kakei mematut baju-baju pemberian Akaba di cermin.
"Hm? Tanda itu..."
Akaba secepat kilat menutup mulutnya. Kakei menoleh dan menatapnya. Oh tidak! Terdengar ya?
"?"
"Tidak apa-apa. Baju itu cocok untukmu. Cobalah pakai."
Kakei mengangguk senang. Ia kemudian masuk ke kamar mandi sambil membawa baju yang kata Akaba bagus. Padahal perkataannya tadi hanya untuk menutupi gugupnya saat melihat leher Kakei. Yap. Tanda itu...
Akaba's POV
Fuu. Untung saja dia tak mendengar kata-kata yang tak sengaja kukeluarkan...
Tanda itu...
Dia pasti sudah menyadarinya saat mandi tadi. Tanda merah nyata di leher kirinya itu... semua karena ulahku.
Ok, Hayato. Kau sudah melakukan hal yang bodoh.
Saat melihat Kakei yang tertidur dengan pasrah dan mendengar desah nafasnya yang teratur, akal sehatku melayang. Man, aku laki-laki normal. Melihat hal itu, tentu saja aku bereaksi.
Aku berusaha meredamnya dengan cara mandi. Menyiram kepalaku yang panas dengan air dingin adalah yang terbaik. Memang ampuh. Namun saat aku keluar kamar mandi, tetap saja aku menemukan sosok itu lagi.
Fuu. Tanpa sadar aku duduk di sampingnya. Mendekatkan wajahku perlahan ke wajahnya. Sesaat aku mendengar Kakei mengerang pelan. God, jangan sampai aku hilang kendali.
Bersyukurlah. Kakei memalingkan wajahnya saat aku hampir menempelkan bibirku ke bibirnya. Dan aku menyadari kebodohanku. Fuu. Tidak smart jika aku melakukan itu saat Kakei tak berdaya. Tidak gentle.
Namun karena terlanjur, aku menurunkan kepalaku ke lehernya. Dengan sangat perlahan, aku mengecup lehernya. Dan yang aku tidak mengerti, kenapa membekas di lehernya? Tanda merah itu?
"Akaba, bagaimana? Cocok tidak?"
Aku terhenyak dan kembali ke dunia sebenarnya. Kulihat Kakei baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Cocok sekali! Jika kalian tidak dapat membayangkan pakaian apa yang Kakei pakai, aku akan menggambarkannya.
Kemeja putih dengan model perempuan dengan dua kancing terbuka, pita mungil di bawah lehernya, dan rompi bertali tipis membentuk tubuh langsingnya serta rok renda warna senada dengan rompinya. Imut. Kakei terlihat moe.
Aku jago memilih pakaian ternyata. Dibantu adikku yang memang perempuan sih. Namun tetap saja. Ternyata menyenangkan juga membeli pakaian untuk perempuan. Banyak variasinya. Lain kali aku akan membelikannya baju gothic atau lolita saja. sepertinya lebih cocok.
Aku mengangguk pelan dan memberinya senyum. Pujian tak luput kuberikan. Memang itu pantas untukmu, Shun.
Dan berdoalah, Hayato. Agar kau tidak lepas kendali seperti tadi. Fokus. Fokus.
Normal POV
"Hey Akaba. Tau tidak..."
Kakei duduk di samping Akaba dengan baju barunya. Ia menata Akaba sambil memegang lehernya dengan wajah gusar dan takut. Oh tidak.
"... Waktu aku terbangun, leherku sudah merah begini. Apa yang terjadi ya?"
"Digigit nyamuk."
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Akaba. Selebihnya Ia bungkam. Kakei mengangkat sebelah alisnya. Meski bingung, akhirnya Kakei berusaha melupakan rasa penasarannya atas tanda itu. Awalnya Ia pikir jika Akabalah yang melakukannya. Tapi sepertinya mustahil.
Kakei beranjak mengambil makanan yang dibeli Akaba dan duduk di lantai. Diliriknya Akaba yang masih diam seribu bahasa. Ada apa sih sebenarnya?
"Akaba, mau?"
Kakei memecah keheningan yang tidak mengenakan ini dengan menawarkan makanannya. Sushi yang dibawa Akaba enak. Jadi Kakei lupa untuk menawarkan ke yang memberikannya.
"Fuu. Tidak usah, Kakei-ku... maksudku, Kakei-chan. Aku sudah makan. Hm?"
"Ya sudahlah. Amm.."
Akaba berjalan mendekati Kakei yang asyik makan, kemudian duduk di depannya. Kakei terdiam sambil mengunyah sushinya pelan. Mau apa gitar otaku ini duduk depan begitu?
"Ada nasi di pipimu.."
Dengan perlahan, Akaba menyentuh pipi Kakei. Yang berada di depannya sudah sukses memerah karena malu. Dilihatnya Akaba memakan sebulir nasi di jarinya. Tambah merah lagi wajah Kakei saat itu.
"A-Akaba baka.."
"Tidak apa-apa."
Samar-samar Akaba mendengar ritme jantung Kakei tak beraturan. Nafasnya juga agak tersengal. Apa agara-gara barusan?
"..."
"..."
Keduanya terdiam. Kakei semakin salah tingkah. Sedangkan Akaba berusaha menahan dirinya agar tidak memeluk makhluk imut di depannya yang sedang memerah.
PIIP PIIP PIIP
Ponsel Kakei berbunyi. Dengan cepat dan panik, Kakei mengambil ponselnya dan mengangkat telepon. Tanpa sengaja, Ia menekan tombol loudspeaker. Walhasil, suara di seberang sana terdengar jelas.
"Kakei-chaaann! Nhaaa! Kemana kau? Aku mencemaskanmuuu. Besok datang ke Kyoshin yaa. Katakan sekarang kau dimana? Aku akan membawamu ke tempat yang amaaann..."
"Mi-Mizumachii. Berisik tau. Jangan teriak-teriak begitu. Aku tidak apa-apa. sekarang aku sudah ada di tempat yang aman.."
Kakei melirik Akaba yang mengangkat sebelah alisnya saat mendengar suara Mizumachi menggema di kamar itu. Benar-benar dah. Perusak suasana orang nih.
"Eeh? Benarkah? Kalau begitu boleh aku ke tempatmu? Aku mencemaskanmu..."
"Ti-Tidak usah. Aku baik-baik saja. sungguh. Ini sudah malam, Mizumachi. Aku malah takut jika kamu datang malam-malam begini..."
"Baiklaah. Sampai jumpa besok aja. Datang ya? Malam, Kakei-chaann!"
PIP
Sambungan diputus. Kakei meringis pelan mendapati sahabatnya begitu perhatian seperti itu. Dasar Mizumachi. Selalu saja begitu. Sejak berkenalan, mereka seperti perangko. Tidak terpisahkan. Serba bersama-sama. Kecuali ke kamar mandi tentunya.
Kakei tersenyum sambil memandangi ponselnya. Tanpa menyadari tatapan dalam bak lautan Akaba mengarah padanya. Cemburu? Apakah itu perasaan yang nyata, yang sedang dihadapi Akaba mendapati Kakei tersenyum dan sedikit salah tingkah mendapa perhatian dari Mizumachi?
"Shun-chan..."
"Eh?"
Kakei memalingkan wajahnya dari ponselnya ke arah orang yang memanggilnya dengan nama kecilnya. Sudah tak terhitung berapa kali wajah Kakei merona merah seperti itu.
"Aku..."
"Ng?"
"Fuu. Lupakan. Sudah malam. Seperti yang kau katakan, kamu takut jika ada laki-laki datang malam-malam kan? Aku pamit dulu. Besok aku datang lagi."
Akaba beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Ia memakai sepatu pantofelnya dan meraih knop pintu. Namun gerakannya terhenti saat sesuatu menarik lengan bajunya sangat perlahan.
"Kakei?"
"Oh? Ma-maaf..."
Kakei secepatnya menarik tangannya. Bodoh. Kenapa tiba-tiba saja tubuhnya bergerak sendiri dan menahan lengan baju Akaba seperti itu? Seakan... Tak mau orang tersebut pergi..
"... Fuu. Tenanglah. Aku janji besok akan datang lagi. Hati-hatilah di sini. Aku akan segera mengirimimu SMS jika sudah sampai rumah."
Akaba meraih tangan Kakei dan mengecup punggung tangannya. Dengan senyum tetap terpasang di wajahnya, Ia memakai kacamata hitamnya dan berjalan meninggalkan apartemen Kakei.
"Bo.. Bodoh..."
Kakei tetap mematung di tempat sambil menggenggam tangannya. Setelah sadar, barulah dengan cepat Ia menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia bergulung-gulung gusar di kasur. Memorinya terus memainkan kejadian saat Akaba memperlakukannya dengan lembut. Saat pertama bertemu. Saat makan tadi. Sebelum pulang...
PIIP
From : Akaba
Fuu. Aku sudah pulang. Kuharap kamu tidak kesepian di sana, Kakei-chan
.
To : Akaba
Selamat datang. Di sini lengang sekali. Aku agak takut. Tapi tidak apalah. Daripada aku harus tidur di bawah jembatan.
.
Kakei dengan cepat membalas SMS dari Akaba. Hatinya sedikit kecewa ketika nama panggilannya kembali berubah menjadi nama keluarganya. Sejujurnya Ia sangat senang saat Akaba memanggilnya dengan nama kecilnya. Serasa menjadi orang terpentingnya. Hmm~
From : Akaba
Tidak akan. Terlalu sayang untuk orang seindah dirimu tidur di tempat seperti itu..
.
To : Akaba
Gombal. Huuuhh.. -3-
.
From : Akaba
Aku serius. Oh ya, jangan tidur terlalu malam. Tidak baik untuk kulitmu.
.
To : Akaba
Aku tau itu.
.
From : Akaba
Baguslah. Dan.. Maaf..
.
Maaf? Kenapa Akaba minta maaf? Namun hingga beberapa menit ke depan, Akaba tak menerima balasan SMS dari Kakei. Meski hati penuh tanya, mata Kakei sudah terlalu berat untuk membalas SMS Akaba hingga Ia ketiduran.
"Fuu. Besok aku akan mendaftarkanmu sekolah. Selamat malam, Shun-chan."
xxxX-Change! xxx
TBC
Gajeee. Huhuhu. Stuck gitu. Maaf ya minna. Agak bingung nih. Huhuhu
Hoho. Mohon di review setelah di baca. :D. Agar saye bisa semangat menulis di tengah pekerjaan. Wahahahah.
