Disclaimer: Naruto'll always be Masashi Kishimoto's. I don't take any profit from using the characters on this story.

Warning: typos yang pasti akan selalu ada, gajeness alert, crack ( maybe ), minim dialog, full Sakura's POV, AU, incest ( maybe? )

Don't like don't read. Simple as that.


Dulu, dulu sekali … Nii-san bukanlah lelaki seperti ini …

Masih amat jelas teringat diotakku, bahwa Nii-san adalah sosok yang amat menyenangkan. Nii-san selalu menemaniku bermain, selalu membuatku tertawa. Bahkan Nii-san rela terluka hanya untuk melindungiku dari anak-anak yang suka menjahiliku.

Nii-san selalu berkata padaku untuk menjadi gadis yang kuat. Nii-san pulalah yang pertama kali memuji rambutku―yang menurut orang-orang aneh karena warnanya yang seperti bunga sakura.

"Rambutmu cantik Imouto, jadi jangan bersedih lagi ya?"

Kata-kata itu yang akhirnya membuatku kembali tersenyum.

Kata-kata itulah yang membuatku untuk mencintai rambutku juga.

Nii-san selalu rela menggunakan waktunya untuk bermain bersamaku. Walaupun permainan itu adalah permainan anak perempuan sekalipun. Ia lebih memilih bermain denganku daripada dengan teman-temannya di luar sana.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Imouto. Aku berjanji."

Sebuah janji masa kecil yang dibuat oleh seorang anak lelaki dan anak perempuan berusia 8 dan 9 tahun yang masih belum mengerti betapa kuatnya arti janji itu. Namun mendengar kata-kata itu saja dapat membuatku kembali tersenyum.

Kami selalu berangkat sekolah bersama. Walaupun Nii-san berbeda kelas dan berbeda tingkatan denganku, namun Nii-san selalu setia menungguku pulang. Nii-san selalu menggenggam tanganku lembut disaat kami berjalan bersama. Senyum Nii-san selalu hangat. Dan Nii-san selalu membuatku tersenyum, membuatku bisa melupakan kepedihan karena ditinggalkan oleh Kaa-san.

Dan seiringnya waktu, kami terus bertumbuh. Dulu Nii-san yang begitu ceria sedikit demi sedikit berubah menjadi dingin. Namun hanya padaku saja Nii-san memberikan kehangatannya.

Walau saat itu Nii-san sudah berada di sekolah lain, Nii-san tetap setia mengantar dan menjemputku. Walaupun Nii-san harus terlambat masuk sekolah sekalipun.

"Karena aku berjanji akan selalu bersamamu 'kan, Imouto? Aku akan selalu melindungimu."

Nii-san mengatakannya sambil menggandeng tanganku erat, ditemani oleh semilir angin musim gugur yang menusuk dan cahaya keoranyean yang mulai mewarnai langit.

Saat itu memang masih begitu berbeda …

Saat itu Nii-san masihlah Nii-san yang hangat dan baik hati …

.

.

Namun seiring bertambahnya usia kami, Nii-san jadi begitu berbeda. Nii-san tidak pernah menggandeng tanganku lagi, Nii-san tak pernah tersenyum padaku.

Nii-san tak pernah memberikan kehangatannya padaku lagi.

Saat kucoba untuk menanyakan alasannya, Nii-san selalu menghindariku dan memberikan tatapan dinginnya padaku. Mungkin dimatanya aku sudah sama dengan orang lain.

"Kau pengganggu. Pergi!"

Hanya tiga kata itulah yang kudapat saat aku menahannya pergi untuk pertama kalinya. Dan ketiga kata itu sukses membuat dadaku terasa begitu nyeri.

Sejak saat itu kami tak pernah berbicara dengan satu sama lain.

.

.

Musim terus berganti. Dari musim semi, ke musim panas, lalu musim gugur, dan pada akhirnya kembali ke musim dingin.

Dingin … Itulah yang aku rasakan setiap aku melihat sosok Nii-san.

Meskipun kami adalah keluarga, namun mengapa kami terlihat seperti orang asing?

Aku bahkan tidak tahu kesalahan apa yang aku perbuat sehingga Nii-san … membenciku …


Ikatan

By: taintedIris


Karena sekeras apapun kau mencoba untuk menghindarinya, bukankah ikatan itu pada akhirnya akan membimbingmu pada akhir yang sama?


"Tadaima."

Kuucapkan kata itu saat pintu rumah telah kututup, sambil melepaskan sepatuku yang agak basah karena terkena salju. Dan tak lama kemudian, kudapati sosok Kaa -san keluar dari dapur sambil memegang spatula.

"Okaeri, Sakura-chan. Tumben pulang cepat. Sekarang masih jam 2 'kan?"

"Hari ini ada rapat guru, Kaa-san. Apa ada makanan?"

Aku melepaskan kaus kaki yang melekat pada kakiku, kemudian disusul oleh mantel dan syal yang sedari tadi melilit tubuh dan leherku. Aku dapat melihat Kaa-san tersenyum kecil sambil berjalan kembali ke dapur.

"Ada. Apa kau lapar? Kalau begitu Kaa -san akan panaskan makanannya."

"Hai."

Aku berjalan menuju kamar sambil menenteng tasku dengan rasa malas. Pandanganku kini terpaku pada pintu kamar di sebelah kamarku.

Kamar Nii-san.

Entah kenapa dadaku selalu terasa sakit setiap kali aku mengingat sosok dengan rambut kemerahan itu. Namun setiap aku merasakannya selalu aku tepis kembali perasaan itu.

Tapi, rasanya sulit sekali.

Nii-san, apa sebenarnya kesalahanku?

Aku masih ingat jelas, dulu aku selalu berusaha menanyakan alasan mengapa Nii-san menghindariku. Namun bukannya menjawab, ia malah menutup pintu kamarnya tepat di depan wajahku.

Kenapa?

Dapat kurasakan kini kedua tanganku mengepal erat, dengan air mata pada pelupuk mataku yang siap mengalir kapan saja. Dengan kasar kuhapus air mata itu dengan punggung tanganku, lalu aku kembali berjalan menuju kamarku yang memang terletak di sebelah kamar Nii-san.

Blam.

.

.

"Kaa-san dengar, Sakura-chan berhasil meraih peringkat satu lagi dalam ujian. Selamat ya."

Aku pun menganggukkan kepalaku dengan sumpit yang masih berada dalam mulutku. Walaupun Kaa-san sering memujiku karena nilai yang kuperoleh, tetap saja aku merasa malu dan senang.

"Sa―Sasori-niisan juga hebat kok. Kaa-san jangan hanya memujiku saja."

Meskipun kepalaku tertunduk, aku dapat melihat pergerakan makan Nii-san menjadi terhenti. Kaa-san yang sepertinya tidak menyadari hal itu pun masih tersenyum sambil mengambilkan lauk untukku.

"Ah, kalau soal Nii-san mu itu 'sih Kaa-san sudah bosan memujinya. Kaa-san mau memujimu saja―"

Brak!

Pandanganku dan Kaa-san teralih pada sosok Nii-san yang baru saja menggebrak meja dengan raut dingin yang terlihat jelas di wajahnya. Entah kenapa, aura yang diberikan Nii-san membuat bulu kudukku meremang.

"Aku sudah selesai makan."

Tanpa babibu Nii-san langsung meninggalkan meja makan dengan mangkuk nasi yang baru dimakan kurang dari setengahnya. Dan kini aku dapat melihat raut keterkejutan Kaa-san yang begitu kentara.

"Sakura-chan makan dulu ya, Kaa-san akan mengurus Sasori. Masa' karena hal itu saja dia ngambek?"

Aku pun menganggukkan kepalaku, dan beberapa saat kemudian sosok Kaa-san menghilang dibalik pintu. Dengan lesu, kubereskan mangkuk makananku sambil membuang sisa-sisa nasi yang ada di dalamnya.

Nafsu makanku seperti menguap begitu saja.

.

.

"Hei Sakura-chan! Lihat, itu Sasori-senpai!"

Dapat kudengar jeritan sahabat baikku yang memekakkan telinga, Ino Yamanaka, saat waktu istirahat. Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil mengunyah roti melon yang berada ditanganku.

"Bukankah ia sangat tampan? Sakura-chan, masa' kau tidak bisa memberikan nomornya padaku?"

Bukan sebuah rahasia lagi bahwa aku, Haruno Sakura, adalah adik sang Haruno Sasori. Dan adalah sebuah kewajaran ketika banyak anak perempuan disekolahku yang begitu memuja Nii-san dan bersikap baik padaku karena aku adalah adiknya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa hubunganku dengan Nii-san tak sebaik yang mereka kira.

'Hh, bahkan nomornya saja aku tidak punya,' batinku miris.

"Gomen ne,Ino-chan, Nii-san tidak mengijinkan aku memberikan nomor ponselnya pada siapapun. Itu termasuk kepada sahabatku sendiri."

Ino pun cemberut mendengar penjelasanku. Maaf ya Ino, bukan maksudku juga membohongimu.

"Yeah tak apa. Lagipula Sasori-senpai terlalu jauh untuk dijangkau. Lihat saja pandangan matanya, dingin dan menusuk! Meskipun memang mengerikan, tapi tetap saja Nii-sanmu tampan! Haaaah, seandainya aku ini adiknya …" ujar Ino berandai-andai. Aku hanya bisa mengendikkan bahuku sambil meneruskan acara makanku dan mengalihkan pandanganku pada sekotak susu strawberry yang berada di mejaku.

Ino, aku kadang berpikir seandainya saja aku bukanlah adiknya …

.

.

"Hei, Sakura. Pulang bersama?"

Sosok Sasuke Uchiha terlihat dihadapanku ketika aku sedang mengenakan sepatuku sepulang sekolah. Dapat kudengar Ino kini berdeham dan terkikik geli.

"Wah, sepertinya ada yang menjemput nih. Aku duluan ya, Sakura-chan!"

Tanpa dapat aku cegah, sosok sahabat berambut blondeku itu menghilang entah kemana, dan aku hanya dapat menghela nafas. Kelihatannya teman pulangku hilang sudah.

Eh, tapi masih ada Sasuke kok!

Aku mengebas-kebaskan rokku yang tertutup mantel sambil tersenyum ke arah pemuda dengan bola mata kelamnya yang sedaritadi menungguku mengenakan sepatu.

"Tentu."

Kami pun berjalan bersama sambil sekali-sekali bercakap-cakap, yaaah walaupun akulah yang lebih sering berbicara dan Sasuke hanya menanggapinya dengan kata-kata yang singkat.

Sasuke, Uchiha Sasuke.

Dia adalah sesosok lelaki yang merupakan temanku sejak pertama kali kami masuk di Konoha High. Walaupun ia dingin, setidaknya ia masih berusaha bersikap baik di depanku.

Ino bilang lelaki itu menyukaiku, tapi kutepis dugaan sahabatku itu jauh-jauh.

Tidak mungkin 'kan seorang Sasuke yang begitu populer dan tampan menyukaiku yang notabene adalah seorang gadis biasa-biasa saja dengan wajah yang tidak cantik dan hanya memiliki sedikit kelebihan? Ada-ada saja.

"Kau bengong."

Dua kata yang meluncur dari bibir pemuda itu sukses membuyarkan khayalanku yang entah sudah sampai mana. Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya sambil mengerjap-kerjapkan mataku.

"Kok kamu tahu?"

"Karena sedaritadi kau tidak menjawab pertanyaanku."

Aku hanya bisa nyengir sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Malu!

"Memang tadi kamu menanyakan apa?"

Entah permainan mataku atau apa, dapat kulihat rona kemerahan yang amat sangat samar terlihat pada kedua pipi pemuda berambut gelap itu. Aku menaikkan alisku.

"Tidak ada. Lupakan saja."

Lelaki itu langsung berjalan di depanku tanpa sekali pun menoleh ke arahku. Aku pun mendengus sebal sambil berusaha mensejajarkan langkahku dengannya. Tanganku meraih lengannya.

"Jangan berjalan cepat-cepat dong! Kau 'kan laki-laki, susah mengejar langkahmu."

Aku dapat merasakan langkah lelaki itu terhenti, membuat aku pun menghentikan langkahku.

"Kau mau jadi pacarku?"

Dan kini aku dapat merasakan rasa hangat menjalari dada dan wajahku, diiringi oleh jantungku yang berdebar-debar begitu kencang.

Seorang Sasuke Uchiha menyatakan cinta padaku?

Aku dapat merasakan sesuatu yang hangat kini menggenggam tanganku erat, menyalurkan kehangatan pada tanganku yang dingin beku. Dan yang membuat jantungku berdebar semakin cepat adalah kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir lelaki Uchiha itu.

"Aku sudah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu."

Entah kenapa aku membiarkan lengan hangat Sasuke menggenggam tanganku sambil menyeret tubuhku. Dalam hati aku bersyukur karena aku pasti sudah meleleh seperti jeli kalau saja Sasuke tidak memegang tanganku.

Dan sedaritadi detak jantungku terus menggila, menolak untuk berdetak normal seperti biasanya. Rasa hangat pun tak kunjung hilang dari dalam dadaku. Dan entah kenapa sedaritadi bibirku tidak dapat berhenti tersenyum.

Apakah ini yang dinamakan cinta?

Sasuke menghentikan langkahnya ketika kami telah berdiri di depan pagar rumahku. Dan ia pun melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

Mendadak, aku kembali merasakan hawa dingin menerpa tanganku.

"Ermm … Terima kasih telah mengantarku hari ini Sasuke―"

"Sasuke-kun."

"Eh?"

"Panggil aku Sasuke-kun."

Eh?

Dapat aku rasakan rona merah kembali menjalari wajahku. Dan dapat kulihat juga rona kemerahan yang agak samar pada kedua pipi Sasuke. Aku meremas ujung rokku dengan kuat sambil menggigit bibir bawahku.

"Sa―Sasuke-kun."

Aku dapat merasakan kedua tangan Sasuke yang hangat menangkup kedua pipiku yang sedaritadi memanas. Perlahan, wajah lelaki itu mendekat, mempersempit jarak yang tercipta diantara kami.

Kini kurasakan sesuatu yang manis dan hangat menyapu bibirku lembut, diiringi oleh kehangatan yang menjalari dadaku dan detak jantungku yang semakin menggila. Aku pun turut memejamkan kedua mataku, membiarkan diriku terlena oleh kemanisan yang diberikan oleh bibir Sasuke.

Bahkan dinginnya angin musim dingin yang menerpa tidak dapat meredakan kehangatan yang kini kurasakan.

Kedua mata kami terbuka saat Sasuke melepaskan bibirnya dari bibirku. Sasuke menempelkan keningnya pada keningku.

"Aku benar-benar mencintaimu, Sakura." ujarnya pelan.

Dengan agak ragu kuulurkan kedua tanganku, menyentuh kedua pipi Sasuke yang terasa begitu hangat. Dapat kulihat senyum tipis kini menghiasi wajah tampan Sasuke.

"A―aku juga mencintaimu … Sasuke-kun."

Sasuke kembali menciumku. Namun kali ini ciuman yang ia berikan terasa lebih manis dan hangat, membuatku terlena dan tanpa sadar aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Aku membiarkan lidahnya menyapu lembut bibirku, membiarkan lidah itu memasuki rongga mulutku, membuatku mabuk karenanya.

Sasuke kembali melepaskan ciuman itu dengan nafas yang terengah-engah, begitu juga denganku.

"A―aku akan meng-sms-mu nanti. Sampai jumpa besok."

Belum sempat kubalas, lelaki itu mengecup keningku dengan kecepatan kilat dan langsung berlari meninggalkanku yang masih terbengong-bengong di depan rumah. Perlahan, jari tanganku menyentuh bibirku yang masih terasa hangat.

Ciuman pertamaku.

"Hihihi."

Aku terkikik geli sambil menundukkan kepalaku dan tersenyum senang. Untung saja daerah rumahku sepi sehingga tidak akan memalukan kalau-kalau berciuman di depan rumah.

Dengan jantung yang masih berdetak cepat dan pipi yang masih terasa begitu panas aku pun membuka pagar rumah sambil bersenandung kecil.

Namun ketika aku mendongakkan kepalaku, betapa kagetnya aku mendapati sosok Nii-san yang amat kukenal berdiri di depan pintu rumah dengan pandangan yang amat menusuk.

Nyeri.

Apakah Nii-san sedaritadi berdiri di sana?

"A―ano, Nii-san …"

Nii-san pun berjalan melewatiku. Tubuhnya dengan sengaja ia tabrakkan pada tubuhku, membuatku terhuyung sedikit. Dan sosok itu pun kemudian membuka pagar rumah dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang kini menggenggam erat ujung rokku untuk yang kedua kalinya hari ini.

.

.

"—jadi tak apa 'kan kalau Sakura-chan Kaa-san dan Tou-san tinggal sementara waktu?"

Aku pun mendongakkan kepalaku setelah mendengar Tou-san selesai berbicara. Rencana Kaa-san dan Tou-san pergi ke luar kota selama tiga hari ke depan membuatku merasa tidak nyaman. Bukannya apa, ditinggalkan berdua saja bersama Nii-san itu rasanya bagaikan menyiksa dirimu lebih jauh lagi.

"T―Tapi, Tou-san …"

"Sakura-chan, Tou-san harap kamu dapat mengerti. Lagipula 'kan kalian dulu sangat akrab. Masa' kau tidak mau menghabiskan waktu bersama Nii-sanmu?"

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Nii-san yang sedaritadi sibuk berkutat dengan makanannya dalam diam. Aku pun menghela nafas perlahan.

"Baiklah … Tapi aku titip oleh-oleh loh."

Tou-san pun mengacak-acak rambutku sambil tersenyum, sementara Kaa-san kembali dari dapur membawa puding coklat kesukaan Nii-san.

.

Aku pun kembali ke kamar setelah melakukan perbincangan kecil bersama Kaa-san, sementara Tou-san dan Nii-san sibuk menonton TV bersama sambil sesekali berdebat tentang acara yang mereka tonton. Terkadang aku merasa iri dengan Tou-san ...

Pada tanganku kini terdapat beberapa lembaran 10.000 yen yang disiapkan Kaa-san untukku membeli kebutuhan tiga hari ke depan, sekaligus tambahan apabila mungkin dibutuhkan.

Langkahku terhenti ketika aku mendengar langkah lain di belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati sosok Nii-san yang kini juga tengah menatapku dengan pandangan dingin dan menusuk yang selalu ia berikan padaku.

Aku menelan ludahku perlahan dan membalikkan tubuhku, berusaha untuk tetap menutup mulutku dan bersikap seolah Nii-san tidak pernah ada. Walau rasanya selalu sakit saat aku berusaha melakukan hal itu.

Baru saja aku memutar gagang pintu, aku mendengar suara Nii-san yang entah kenapa membuatku jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Apa kau pacaran dengannya?"

Aku membalikkan tubuhku. Dengan takut-takut kupandangi sosok Nii-san yang masih memandangku dengan pandangan yang sama. Namun yang berbeda, pandangan itu kini terasa jauh lebih menusuk, membuat tubuhku merinding.

"Y―ya."

Aku dapat merasakan pandangan Nii-san yang menerawangiku dari atas hingga bawah, dan dapat kulihat sosok itu kini membuka pintu kamarnya dan menghilang dibaliknya, meninggalkanku yang kini mengepalkan kedua tanganku saking takutnya.

.

.

"Kami berangkat ya!"

Aku melambaikan tanganku setelah sebelumnya aku memeluk Kaa-san dan Tou-san di depan pintu rumah. Dan tak lama, sosok orangtuaku itu kini tidak terlihat lagi setelah mobil yang mereka naiki membawa mereka pergi.

Aku membalikkan tubuhku. Aku kembali terlonjak kaget ketika pandanganku menangkap sosok Nii-san yang tengah berdiri di ujung pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Aku pun menelan ludah perlahan dan menundukkan kepalaku, meremas ujung hoodieku dengan gelisah.

Dan tak lama kemudian dapat kudengar bunyi pintu yang tertutup. Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati sosok Nii-san kini tak terdapat di sana lagi, dan pintu rumah yang tertutup. Dan tanpa sadar nafas yang sedaritadi kutahan kini keluar dari paru-paruku. Dan genggaman tanganku pada hoodie yang kukenakan berangsur-angsur mulai melonggar.

Entah kenapa meskipun kakak tak pernah kasar padaku, dadaku tetap terasa sakit.

.

Aku tengah menyaksikan sebuah talkshow ditelevisi ketika sosok Nii-san tiba-tiba muncul dari atas dengan mantel berwarna hitam yang melekat ditubuhnya. Sepertinya Nii-san akan keluar rumah.

"Nii-san, apa kau akan kembali untuk makan malam?"

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Nii-san berkutat dengan sepatunya tanpa mengucapkan sepatah kata dari mulutnya. Sosok itu kemudian menghilang dibalik pintu, meninggalkanku yang sedaritadi menatap punggungnya dengan suara televisi yang terlupakan.

.

.

Kini aku tengah berkutat dengan kare yang kini berada di dalam mangkuk nasiku, memakannya dengan lahap. Setidaknya, aku bisa memasak sedikit-sedikit, walaupun tidak sehebat Kaa-san.

Kupandangi mangkuk nasi di depanku yang mulai mendingin. Rasa nyeri kembali kurasakan ketika kembali teringat sosok Nii-san yang tadi siang mengacuhkanku. Namun segera kutepis rasa sakit itu dan kembali melanjutkan kegiatan makanku yang sempat tertunda.

Selesai makan, aku membereskan mangkuk makanku dan membawanya untuk dicuci. Sempat terpikir olehku untuk membuang nasi yang masih ada dalam mangkuk nasi yang kusediakan untuk Nii-san. Namun suara hati kecilku mengatakan untuk tidak melakukannya.

Dalam hati kecilku, tersirat keyakinan bahwa Nii-san belum makan malam.

Bahwa Nii-san pasti akan segera pulang.

Dengan agak ragu, kutinggalkan mangkuk nasi itu bersama kare ayam kesukaan Nii-san yang kelihatannya mulai mendingin.

Sebelum kutinggalkan, kupandangi makanan yang tak tersentuh itu dalam diam. Dan tak lama kemudian aku menyeret tubuhku ke ruang tamu dengan langkah gontai.

.

Rasanya begitu lama kutunggu sosok Nii-san kembali ke rumah, dan kini rasa kantuk telah menguasai mataku. Tapi tidak, aku tidak akan tidur sebelum Nii-san pulang.

Aku yakin Nii-san tidak membawa kunci cadangan. Kalau aku tidur, bagaimana ia dapat masuk ke dalam rumah nanti?

Aku merogoh ponsel yang berada dalam kantung piyamaku sambil menutup mulutku yang mengeluarkap kuap. Tidak ada sms dari Sasuke, mengingat pacarku itu telah tidur terlebih dahulu karena sedang sakit. Sebenarnya aku ingin sekali menjenguknya, namun tidak bisa karena aku harus menunggu Nii-san pulang.

Tapi syukurlah ia dapat mengerti.

'Lagipula aku tidak ingin menularkan sakitku padamu.'

Senyum kembali merekah dari bibirku ketika aku mengingat penggalan kalimat yang diketik Sasuke untukku beberapa jam yang lalu. Rasa hangat dapat kurasakan tengah menyusup dalam tiap rongga dadaku, membuatku merasa lebih rileks dan bahagia.

Betapa beruntungnya aku memiliki kekasih sebaik dia.

BRAK!

Ditengah lamunanku tiba-tiba dapat kudengar suara pintu yang terbuka agak kencang, membuatku sedikit terlonjak kaget.

Apakah itu Nii-san?

Dapat kurasakan jantungku kembali berdetak lebih kencang. Antara takut dan tegang, kuambil vas bunga yang dipajang di atas meja ruang tamu―sedikit berjaga-jaga kalau ternyata yang masuk adalah maling.

Dengan langkah perlahan aku pun melangkah menuju pintu depan, berusaha membuat langkahku tidak bersuara. Pegangan tanganku pada vas bunga itu menguat, seiring dengan keringat dingin yang kini mulai mengucur dari pelipisku.

"Nii-san? Apa itu kau?"

Tidak ada jawaban. Dan hal itu sukses membuatku semakin ketakutan.

Dengan susah payah kutelan ludah yang sedaritadi menghambat tenggorokanku. Namun baru saja aku akan melemparkan vas bunga yang berada ditanganku, bola mataku terbelalak ketika melihat sosok dengan rambut kemerahan yang amat ku kenal kini tengah terbaring di depan rak sepatu dengan pintu yang belum tertutup. Aku pun langsung meletakkan vas bunga yang berada ditanganku disembarang tempat dan menutup pintu.

Sebelum menutup pintu dapat kulihat badai salju kini tengah berlangsung. Rasa dingin kembali kurasakan ketika angin musim dingin menerpa kulitku yang tidak tertutup kain.

Nii-san berjalan ke rumah dalam keadaan seperti ini?

Aku pun segera mengangkat tubuh Nii-san yang tengah terbaring di atas lantai dengan susah payah. Dan samar dapat kucium aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya.

Apakah Nii-san mabuk?

Namun segera kembali kufokuskan pikiranku pada sosok lelaki yang kini tengah kurangkul dengan susah payah itu. Dengan tenaga yang kumiliki, kuangkat tubuh Nii-san dan kuseret tubuhnya menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Setelah berkali-kali hampir jatuh, akhirnya aku dapat menginjak ujung lantai yang terakhir.

Tiba-tiba dengan kecepatan kilat, tubuhku terhempas menuju tembok, dengan sosok Nii-san yang membentengiku dengan kedua tangannya.

"N―Nii-san?"

Kutatap sosok yang kini tengan menjepitku dengan tatapan ketakutan. Aku pun menahan tubuhnya dengan kedua tanganku. Namun bukannya menjauh, tubuh itu malah semakin mendekat. Dan kini dapat kucium aroma alkohol yang menusuk dari mulutnya yang kini mulai terbuka.

"Sakura ….."

Dan tanpa dapat aku cegah, bibir Nii-san tiba-tiba menempel pada bibirku, membuat kedua mataku terbelalak. Aku pun meronta dan memukul dadanya berkali-kali, namun sepertinya tidak digubris olehnya. Nii-san semakin beringas menciumku, menggigit bibirku kasar dan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutku yang mulai terasa anyir karena darah.

Sedangkan aku hanya bisa menangis dalam diam ketika Nii-san menciumku dengan kasar. Aku hanya bisa mencengkeram bahunya ketika bibirnya kini menjelajahi leherku, menggigit dan menjilatinya.

Nii-san begitu menakutkan.

Aku dapat merasakan kedua tangan Nii -san yang hangat dan besar kini tengah menangkup kedua pipiku lembut. Ia menghapus jejak-jejak air mata dari pipiku dengan ibu jarinya yang hangat.

Ah, sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan ini.

"Sakura …"

Pandanganku teralih pada wajah Nii-san yang tengah menatapku dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Namun belum sempat aku membuka mulutku, Nii-san kembali membuka mulutnya.

"Kau memuakkan!"

Dengan kasar Nii-san melepaskan pegangan tangannya dari pipiku, meninggalkan sedikit bekas kemerahan di sana. Dan sosok itu berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang agak terhuyung.

Aku hanya bisa menatap punggung itu menjauh dengan air mata yang terus membasahi pipiku. Dan dapat kurasakan tubuhku kini terasa begitu lemas. Tanpa dapat kucegah, tubuhku pun merosot ke bawah dengan rasa sakit yang amat sangat kini menghujam dadaku tanpa ampun.

Mengapa kau mengatakan aku menjijikkan? Bukankah kau yang menjijikkan, mencium adikmu sendiri yang bahkan tak tahu apa-apa! Bukankah kau yang memuakkan, menghindari dan menyalahkanku tanpa sebab!

Setetes air mata kembali jatuh dari mataku.

Namun tak ada rasa benci yang kurasakan meskipun Nii-san memperlakukanku dengan kasar. Sekeras apapun aku mencoba, pada akhirnya aku tidak bisa mengabaikan sosok lelaki itu dalam hidupku.

Kenapa kau bisa sedangkan aku tidak bisa, kak?

.

Dan keesokan harinya Nii -san bertingkah seperti tak ada apapun yang terjadi kemarin. Ia mengacuhkanku seperti biasanya, memberikanku tatapan yang amat dingin seperti biasanya.

Dan begitu pula di hari-hari berikutnya.

Dan aku pun berusaha untuk mengabaikan Nii -san seperti biasanya, berusaha untuk tidak menangis setiap kali aku mengingat kejadian malam itu.

Pada akhirnya roda kehidupan akan selalu berputar.

Aku tetap tertawa bersama teman-teman dan kekasihku, bercanda dan bermain seperti biasanya, seakan-akan peristiwa kemarin hanyalah sebuah mimpi buruk.

Namun entah kenapa, pandangan mataku tak pernah lepas dari sosok lelaki yang bertahun-tahun telah mengisi lembar kehidupanku itu.

.

.

Nii -san, apakah aku tak ada artinya lagi bagimu?

Kemanakah sosokmu yang kukenal dulu?

.

.

Dan hari-hari terus berlalu. Nii-san sebentar lagi akan lulus, dan aku akan naik ke kelas tiga.

Kakak memutuskan untuk menerima beasiswa diluar negeri, dan sukses membuat Tou-san dan Kaa-san senang sekaligus sedih.

"Kemanapun kau akan pergi, Tou-san dan Kaa-san akan selalu mendukungmu. Namun sebelum pergi, sering-seringlah berada di rumah, kami ingin membuat kenangan indah denganmu sebelum kau pergi dalam waktu yang lama, Sasori."

Diam-diam aku mendengarkan pembicaraan pribadi antara Tou-san, Kaa-san dan Nii-san di ruang tamu. Dan entah kenapa, dadaku kembali berdenyut sakit mendengarnya.

Kenapa Nii-san ingin pergi?

Bukankah Nii-san sangat menyayangi Kaa-san dan Tou-san? Bukankah Nii-san berjanji akan selalu bersamaku?

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, imouto. Aku berjanji."

Kata-kata itu kembali terngiang-ngiang dalam kepalaku, membuatku tertawa miris.

Apalah gunanya janji itu, Nii-san sendiri bahkan merasa muak padaku.

Dengan langkah gontai aku pun melangkahkan kakiku dari sana, meninggalkan keluargaku untuk mendapatkan privasi sementara aku hanya bisa menangis dalam diam.

.

Tok Tok.

Suara ketukan pintu yang agak pelan mengalihkan pandanganku pada buku yang kubaca. Aku pun melirik ke arah jam dindingku, mendapati kini angka menunjuk ke arah angka 11.

Alisku pun terangkat sebelah.

'Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?'

Dengan agak ragu aku bangkit dari posisi tiduranku sambil merapatkan sweater yang sedaritadi melekat ditubuhku. Betapa terkejutnya aku ketika aku mendapati sosok Nii-san yang berdiri di depan kamarku. Aku langsung mundur selangkah secara refleks.

"N―Nii―"

"Bolehkah aku masuk?"

Aku pun mengerjap-kerjapkan kedua mataku. Dan sebelum kujawab lelaki di depanku itu pun langsung masuk ke kamarku. Perlahan, kututup pintu di depanku dengan pandangan mata yang tak lepas dari lelaki yang kini mendudukkan dirinya di atas ranjangku.

"Nii-san?"

"Aku yakin kau sudah tahu aku akan meneruskan kuliahku diluar negeri. Menguping bukan kebiasaan yang baik."

Aku pun menggigit bibirku perlahan, merasa malu sekaligus gugup mendapati Nii-san berbicara denganku, menatapku dengan tatapan dingin dan menusuk.

"Go―gomen ne."

"Hn."

Lama kami terdiam dengan posisi Nii-san yang terduduk dan aku yang tetap berdiri di depan pintu kamar. Aku terus menundukkan kepalaku sementara dapat kudengar suara pergerakan yang dibuat kakak di atas tempat tidurku.

Agak takut-takut kudongakkan kepalaku, dan mendapati sosok Nii-san yang kini tengah menatap pigura fotoku. Wajahku langsung memanas ketika aku menyadari pigura yang Nii-san pegang adalah pigura yang berisi fotoku dengan Sasuke-kun.

"A―ano, itu …"

Belum sempat kulanjutkan kata-kataku, Nii-san sudah beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke arahku. Aku pun langsung menyingkir dari posisi berdiriku, membiarkan Nii-san membuka pintu kamarku lalu menutupnya perlahan.

Namun langsung kutahan pintu kamarku sebelum sempat ia tutup. Tanganku mencengkeram erat ujung sweaternya.

"Nii-san …"

Aku dapat merasakan pergerakan tubuh Nii-san terhenti. Dan tak lama kemudian dapat kurasakan sesuatu yang hangat menggenggam tanganku, melepaskan tanganku dari cengkeraman pada sweaternya.

Aku hanya bisa berdiri dalam diam hingga suara pintu kamar kakak yang tertutup tertangkap oleh indera pendengaranku. Dan aku hanya bisa diam sementara air mata kini kembali mengalir dari pelupuk mataku.

Apakah kita tidak bisa seperti dulu lagi?

.

.

Tak terasa musim dingin pun telah berganti menjadi musim semi, membawa kehangatan dan warna menghiasi dunia kembali.

Aku kini hanya bisa memandangi sosok Nii-san dari kejauhan sementara Nii-san terlihat tengah berbincang-bincang dengan teman-temannya sesudah acara kelulusan. Disampingku terdapat Sasuke yang mengelus pucuk kepalaku lembut.

"Sana, ucapkan selamat pada Nii-sanmu."

Aku menatap Sasuke dengan tatapan horor.

"H―hah? Sasuke-kun, kau tahu 'kan bagaimana hubunganku dengan Nii-san―"

"Bagaimanapun juga ia adalah kakakmu. Ayo, aku temani."

Dan tanpa dapat aku cegah, aku membiarkan Sasuke menyeretku menuju sosok Nii-san yang kini mengalihkan pandangannya ke arah kami. Sasuke tersenyum kecil ke arahku dan menepuk pundakku.

"Sana, ucapkan. Kumpulkan keberanianmu."

Entah kenapa, ucapan Sasuke membangkitkan semangat dalam diriku. Aku pun menganggukkan kepalaku perlahan ke arahnya sambil tersenyum.

"Hai."

Aku berjalan meninggalkan Sasuke yang kini terlihat agak jauh dariku, membiarkan aku berjalan menuju sosok Nii-san yang tak jauh di sana. Dapat kulihat pandangan teman-teman kakak kini teralih padaku, dan tak lama kemudian mereka pun meninggalkanku berdua saja dengan Nii-san.

Aku pun berdiri di depannya sambil menggigit bibirku perlahan. Kubiarkan kepalaku terus tertunduk.

"A―Ano, itu …"

"Hn. Arigatou, Imouto."

Aku langsung mendongakkan kepalaku ketika kata-kata itu meluncur dari bibir Nii-san. Kudapati sosok Nii-san yang tengah menatapku dengan pandangan yang sama seperti dulu, pandangan yang lembut dan hangat.

Dan tanpa dapat kutahan, aku langsung memeluk Nii-san dan menangis di dadanya yang bidang dan hangat.

Betapa rindunya aku dengan panggilan itu, betapa rindunya aku dengan tatapan yang hangat dan lembut itu.

Aku dapat merasakan kedua tangan Nii-san yang kini melingkari pinggangku sambil memelukku lebih erat, dan tak lama pelukan itu melonggar. Nii-san melepaskan pelukanku dan memegang pundakku.

"Jangan menangis lagi." ujarnya sambil mengelus pucuk kepalaku dengan agak kaku. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sambil menahan mulutku meluncurkan isakan yang sedaritadi kutahan.

Tak lama kemudian kudapati sesuatu yang hangat tengah merangkulku sambil mengelus-elus punggungku lembut. Dan berikutnya dapat kudengar suara Nii-san yang membuatku membelalakkan kedua bola mataku.

"Jaga dia baik-baik, Uchiha-san. Dia adalah sosok yang begitu berharga bagiku."

Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati punggung kakak yang mulai menjauh dari pandanganku. Sementara Sasuke pun memelukku sambil berusaha menenangkanku.

"Aku pasti akan menjaga Sakura baik-baik, Sasori-niisan!"

Aku langsung mengalihkan pandanganku dan menatap wajah Sasuke yang memancarkan ekspresi kesungguhan dan keseriusan. Dan kini dapat kurasakan kehangatan menjalari kedua pipi dan dadaku.

Namun yang membuat wajahku terasa lebih hangat lagi adalah karena pandangan orang-orang yang kini menuju ke arah kami sambil menatap kami antara histeris dan tercengang.

Aku baru sadar kalau Sasuke mengatakannya di depan gerbang sekolah dengan suara yang cukup keras.

Dan Sasuke memanggil Nii-san dengan sebutan Sasori-niisan!

.

.

Dan tak terasa 10 tahun telah berlalu sejak saat itu.

Kini aku tengah terduduk di ruang tamu bersama sosok suami yang sedaritadi tengah menggendong buah hati kami yang tengah tertidur. Sesekali dapat kudengar suara berat suamiku itu mengalunkan sepotong lagu tidur dari bibirnya.

"Sasuke-kun, kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk menyanyi. Aku takut Daichi-kun akan terbangun mendengar suaramu yang jelek itu."

Jitakan pun dengan manis mendarat pada keningku sementara Sasuke memegangi tubuh Daichi―anak kami―dengan sebelah tangannya. Aku pun meringis kesakitan sambil memegangi keningku yang aku yakini mulai memerah akibat jitakan suami tercintaku itu.

"Ittai!~ Sasuke no baka, kau tega sekali!" rengekku kesal.

"Berisik. Kalau kau mengoceh seperti itu Daichi-kun akan bangun." ujar Sasuke sambil menimang-nimang tubuh Daichi digendongannya. Aku pun menggembungkan pipiku kesal.

"Sejak Daichi-kun ada, kau jadi mulai berani main tangan denganku, Uchiha. Aku jadi takut untuk memberikan anak lagi untukmu."

"Siapa disini yang berani main tangan?"

Aku pun mendongak dan mendapati sosok Tou-san tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk sehabis mandi. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan memeluk tubuh Tou-san.

"Itu Tou-san, Sasuke-kun sekarang jadi suka memukulku."

Tou-san pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap kepalaku lembut.

"Ah, benarkah? Sepertinya aku harus memberikan lelaki itu pelajaran―"

"Hibiki Haruno, jangan berpikiran untuk menyakiti menantu kesayanganku ya!"

Aku dan Tou-san mengalihkan pandangan kami, mendapati sosok Kaa-san yang masih menggunakan celemeknya dengan spatula yang ia acungkan ke arah Tou-san. Aku dan Tou-san langsung bergidik karenanya.

"Terima kasih telah membelaku, Kaa-san."

"Sama-sama, Sasuke-kun."

Aku pun menjitak kepala Sasuke sambil mengerucutkan bibirku kesal. Sasuke hanya tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Daichi.

Ting Tong.

Pandanganku teralihkan pada bel rumah yang tiba-tiba berbunyi. Sasuke pun menatapku sambil tersenyum.

"Sana bukakan pintunya. Mungkin itu Sasori-niisan."

Aku pun menganggukkan kepalaku dan langsung melesat ke arah pintu dengan bersemangat. Aku langsung membuka pintu yang kini berada di depanku, dan mendapati sosok dengan rambut kemerahan yang amat aku kenal tengah berdiri di depan pintu dengan sebuah koper besar yang berada ditangannya.

"Tadaima."

Perlahan, senyum pun terkembang dari bibirku.

"Okaeri, Nii-san."

.

.


Hari keberangkatan Nii-san akhirnya tiba juga. Hari itu aku ikut mengantarnya bersama Kaa-san dan Tou-san. Sepanjang perjalanan mereka sibuk berbicara, dimana Kaa-san memberikan nasihat-nasihat untuk selalu menjaga diri dan Tou-san yang menimpali ucapan Kaa-san sembari memfokuskan pandangannya ke arah jalan.

Sedangkan aku hanya bisa diam tanpa mengucapkan kata sedikitpun.

Aku terdiam sambil menatap ponselku sementara Kaa-san dan Tou-san tengah mengurus passport dan tiket Nii-san, meninggalkan aku dan Nii-san bersama dengan penumpang lainnya di ruang tunggu.

"Sakura …"

Aku pun mendongakkan kepalaku dan mendapati sosok Nii-san yang tengah menatapku dengan tatapan sedih dan terluka. Dan entah kenapa, dadaku berdenyut lebih sakit dari biasanya.

"Gomen ne, selama ini aku selalu menyakitimu."

Aku hanya bisa menggigit bibirku perlahan sementara dapat kurasakan pandangan Nii-san yang tak pernah lepas dariku.

"Selama ini … Aku begitu menyayangimu, Sakura. Tidak, bukan rasa sayang seperti saudara, tapi rasa sayang yang berbeda …"

Aku langsung mendongakkan kepalaku dan menatap Nii-san dengan rasa kaget bercampur sedih. Rasanya nafasku kini seperti tercekat.

"Pada awalnya aku bingung harus bersikap bagaimana kepadamu, dan tanpa sadar aku menjaga jarak denganmu. Aku mengabaikanmu dan menyakitimu. Aku … benar-benar kakak yang amat buruk ya."

Aku hanya bisa diam, dengan pandangan mata yang tak pernah terlepas dari sosok Nii-san yang kini terlihat begitu rapuh.

"Malam itu … Aku masih dalam keadaan sadar ketika aku menciummu. Saat itu pikiranku amat kacau karena melihatmu berciuman dengan pria lain, dan pada akhirnya aku bilang kau menjijikkan. Hahahahaha, padahal akulah yang menjijikkan, padahal akulah yang―"

Aku langsung memeluk tubuh Nii-san dengan erat.

"Cukup Nii-san, cukup … Gomen ne, gomen …" ujarku parau. Dapat kurasakan Nii-san melingkarkan kedua tangannya, ikut memelukku dengan erat.

"Seandainya, seandainya saja kita bukanlah saudara, Imouto …"

Aku hanya bisa memeluk sosok Nii-san sambil menangis dalam diam.

Gomen ne, Nii-san …

Gomen ne …

.

.


Aku hanya bisa menatap sosok Nii-san yang kini telah berdiri di depan tempat pemeriksaan sebelum masuk ke dalam pesawat. Sebelumnya, Nii-san, Kaa-san dan Tou-san sambil berpelukan, berusaha untuk terlihat tegar dan saling melemparkan senyum.

Aku hanya bisa terdiam sambil menatap punggung itu menjauh.

Namun entah kenapa justru aku malah berlari dan menahan ujung pakaian Nii-san sebelum ia masuk ke dalam pintu yang berada di depannya. Aku pun menggigit bibirku perlahan sambil menundukkan kepalaku.

Tiba-tiba dapat kurasakan sesuatu yang hangat dan besar mengelus pucuk kepalaku lembut. Dan perlahan, sesuatu yang hangat itu juga yang melepaskan tanganku dari cengkeraman pada baju Nii-san.

"Saat aku pulang nanti, kau harus menyambutku, Imouto. Nii-san sangat menyayangimu."

Pandangan mataku tak lepas dari sosok pemuda dengan rambut kemerahan yang kini berjalan semakin berjauh dari hadapanku. Dan dapat kurasakan sesuatu yang hangat menepuk bahuku perlahan.

"Sakura-chan, ayo pulang."

Aku pun menganggukkan kepalaku dan membalikkan tubuhku menjauh dari sana. Namun meskipun tubuhku bergerak menjauh, pandangan mataku tak pernah lepas dari pintu yang terlihat semakin mengecil itu.

.

.


Hari telah mulai sore, membuatku mempercepat langkahku dengan nafas yang mulai terengah-engah.

Kupacu kedua kaki kecilku sambil memegangi sekantung permen jelly kesukaan Nii-chan yang kubeli dengan uang hasil tabunganku. Berkali-kali aku hampir terjatuh, namun aku segera menyeimbangkan tubuhku dan mempercepat kembali langkah kakiku.

Dan mataku pun terbelalak senang ketika aku melihat pagar berwarna hitam yang amat aku kenal kini berada di dekatku. Dengan semangat kubuka pintu pagar tersebut dan menutupnya dengan keras.

Masalah diomeli Kaa-san itu bisa dipikirkan nanti, yang jelas permen jelly ini harus Nii-chan makan!

Aku segera berjalan menuju pintu rumah dengan langkah yang lebih cepat. Aku pun harus melompat beberapa kali dahulu agar dapat membuka gagang pintu.

Cklek!

Berhasil!

Aku pun segera membuka pintu rumah dengan bersemangat. Dan yang membuatku semakin senang adalah sosok Nii-chan yang kini tengah tersenyum ke arahku dengan cengiran lebar yang menghiasi wajahnya. Bekas permen jelly pun masih terlihat pada sudut bibirnya.

"Tadaima, nii-chan!"

Dan cengiran itu pun semakin melebar.

"Okaeri, Imouto!"

.

.

.


Karena kita ditakdirkan untuk selalu bersama sebagai saudara. Bukankah begitu, kak?