;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Am I Woken Up? (part I)
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
.
.
"Selamat mimpi buruk"
Siapa Kau?
"Sebagai tanda perpisahan, aku akan memberimu sebuah hadiah kecil"
"Kyaaa~aaa!"
Aku tersentak dari mimpiku bersama lengkingan parau yang masih berdenging di telinga. Bayangan lelaki berpakaian serba hitam misterius itu masih jelas tergambar. Wajah pucatnya, bola matanya yang tidak wajar, seringai sadis di bibirnya, dan makhluk menjijikkan yang keluar dari lengannya. Semuanya. Seolah itu baru saja ku alami sesaat sebelum ku menyadari aku masih berada di ruangan serba putih dengan lampu neon menyilaukan melekat di langit-langit, dan tangan kiriku dalam keadaan di gips.
"Eh? Nona Miku? Anda sudah terbangun?" Tanya suster yang hari ini sedang bertugas ketika dia membuka jendela kamarku, sehingga bias mentari menyerbu masuk dan menampakkan sekat tipis yang terbentuk karena cahaya beradu dengan keremangan.
"Lily?" ucapku kemudian setengah bertanya saat ku kembali memperhatikan suster itu dan melihat tulisan di papan nama yang tertempel di dada kirinya. Suster muda itu seketika mengalihkan perhatiannya padaku dan memasang wajah ramah yang biasa di berikan oleh suster pada umumnya untuk pasien mereka. Ia terlihat masih di usia kedua puluh, aura jiwa mudanya terlihat jelas terpancar dari wajah yang berseri-seri ketika berjalan menghampiriku saat tak sengaja kusebut namanya barusan.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" ia balik bertanya sambil sedikit membungkukkan badan. Membuat rambut pirang yang dia biarkan terurai bergelayut.
"Ah, tidak ada, aku hanya sekedar membaca papan namamu" ucapku sedikit merasa tidak enak karena hanya memanggil nama tanpa memintanya untuk melakukan apapun untukku. Salah satu tugas suster adalah membantu pasien yang di rawat, bukan? Melakukan hal seperti tadi pasti akan membuat beberapa orang yang berprofesi sepertinya menggerutu kesal dalam hati.
"Oh, saya baru di pindahkan di distrik ini kemarin dan baru bertugas hari ini" suster itu hanya berkata demikian, raut wajahnya tidak berubah sama sekali dan intonasi ceria di kalimat yang dia ucapkan terdengar tidak di buat-buat. Untuk seorang suster muda, sepertinya ia cukup penyabar. "Umm, nona Miku sepertinya sangat akrab dengan para suster di sini ya? Padahal saya baru di sini tapi nona terlihat seperti orang yang baru melihat orang asing ketika melihat saya di sini" lanjutnya berbicara tanpa kecanggunggan sedikitpun, seperti kami telah saling mengenal sebelumnya. Sangat berbeda dengan beberapa suster yang hanya berlalu lalang di ruanganku untuk sekedar mengecek kondisiku setelah insiden yang kualami sebulan sebelumnya.
."Uh… eh… tidak juga, aku hanya selalu memperhatikan papan nama setiap suster yang keluar masuk ruanganku" jawabku jujur dan tersenyum kecut.
"Oh, begitu ya? Pasti mereka kurang bisa berkomunikasi dengan baik pada nona" mungkin juga, beberapa pasien yang kurang bisa menjaga sikapnya mungkin perlahan-lahan telah mengikis kebiasaan yang seharusnya mereka perlihatkan pada para pasien lain. Sehingga mereka lebih kaku dan hanya akan memberi senyumnya jika seorang pasien memanggil nama mereka dengan sopan. "Tapi karena sekarang ada saya, jumlah suster yang bisa menghibur pasiennya menjadi bertambah bukan? Umm, biar kita bisa lebih akrab, nona panggil saja saya Lily, jangan sus, Oke?" ujarnya mengusulkan.
Sebenarnya bukan ide yang buruk, aku benar-benar suka dengan kepribadian suster ini. Tapi memanggil seseorang yang lebih tua darimu seperti itu bukannya tidak pantas? Maka aku pun memutuskan untuk memanggilnya…
"Oke, Lily Nee-chan" dan memberinya sebuah senyuman akrab. Sejenak suster itu tersentak dan terdiam memandangiku.
"Eh? Nee-chan?" ulangnya kemudian, ku yakin ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan panggilan yang ku berikan padanya barusan.
"Tidak boleh ya?" lanjutku memandanginya lekat-lekat. Ia kembali meluruskan badan, menumpuk kedua telapak saling mengait di depan dada, memberiku senyum yang sama seperti sebelumnya.
"Boleh saja kok, nona Miku" jawab Lily dengan seutas senyumnya, sayang, ia masih memanggilku dengan sebutan nona. Seharusnya ia memanggilku…
"Miku chan" ucapku sedikit ketus. Aneh, ia malah tertawa kecil, apa maksudnya? Apa aku tak pantas dengan sebutan itu? Aku tersinggung sekarang. Pasti mukaku saat ini terlihat sedikit merah dan pipiku menggembung. Aku tak tahu mengapa bisa begitu, mungkin karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil.
"Umm, baik, Miku chan" balasnya kemudian. Suster itu seperti gemas dengan tingkahku, sebab ia mencubit lembut pipiku setelah berkata demikian. Membuatku yang anak tunggal ini benar-benar merasa seperti memiliki seorang Onee-chan sendiri sekarang.
x-X-x
Sebulan. Bukan waktu yang singkat tentunya. Para penjaga yang menolongku mengatakan bahwa aku mengalami shock berat saat di temukan, mereka datang karena mendapat alarm dari salah satu rekan mereka yang di tugaskan untuk menjagaku malam itu. Tapi anehnya, mereka tidak mendapati keberadaan rekan tersebut sesampainya di sana. Seolah lenyap begitu saja. Kamera pengawas yang masih menyala juga tidak menangkap gambar-gambar akan adanya sesuatu yang mencurigakan yang menyelinap ke rumah. Sedangkan aku? Aku sendiri tak sadarkan diri dan baru siuman tiga hari kemudian.
"Miku Chan? Kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu" Tanya Lily yang sedang menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. Aku diam dan hanya menyambut makanan bertekstur lembut tersebut kemulutku tanpa menoleh padanya yang mungkin menatapku keheranan karena sempat melamun. Ugh, aku harap bisa keluar dari tempat ini secepatnya, menu bubur tiga kali sehari lama-lama membuatku mual, keluhku spontan dalam hati saat rasa hambar makanan itu menyentuh lidahku.
"Tidak ada" jawabku lirih sambil berjuang mengunyah bubur. Aku tahu benda ini tidak seharusnya di kunyah, tapi syaraf-syaraf penggerak mulutku yang biasa mengunyah makanan lebih liat dari ini selalu kesulitan jika berurusan dengan makanan satu ini. "Air" pintaku kemudian. Tapi bukannya mendapat apa yang kuinginkan, Lily hanya menggeleng tanda ia tidak mau mengindahkan kemauanku.
"Jika Miku Chan selalu minum saat makan, makanannya tidak akan habis, perut Miku chan hanya akan penuh oleh air. Miku chan akan kekurangan nutrisi nantinya dan semakin lama sembuhnya" susulnya dengan penjelasan panjang lebar. Aku kesal, tapi apa yang di ucapkan Lily memang benar. Aku ingin segera pergi dari sini, bukan? Jadi, mau tidak mau aku harus bisa bertahan dari semua ini. Selain itu, aku sendiri yang meminta Lily untuk menyuapiku, (aku sudah tidak tahan terus-terusan menyendok bubur… hiks… hiks…) jadi aku harus bertanggung jawab, menghabiskan menu makan malamku.
Lily. Dia benar-benar gadis yang ceria dan mudah berkomunikasi denganku. Padahal hanya sehari kami bertemu, tapi aku sudah merasa sangat dekat sekali dengannya. Aku benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Onee-chan yang suka bercanda denganku. Sesuatu yang hingga saat ini baru kualami.
"Umm, Lily Nee-chan…" sela ku pada acara makan ini saat hal yang mengganjal pikiranku kembali melintas. Ku akui, waktunya benar-benar tidak tepat. Karena yang ingin kutanyakan adalah benda yang "diberikan" oleh lelaki misterius itu padaku. Perutku perlahan-lahan terasa mual.
"Lily Nee-chan tidak mau mendengar alasan apapun jika itu membuat Miku Chan tidak mau menghabiskan makanannya" selanya sambil menyodorkan sesendok lagi. Uh, baru sehari saja, ia sudah berlaku keras padaku, mungkin itu adalah salah satu sifat aslinya yang baru kuketahui.
"Bukan, aku hanya ingin bertanya?" jelasku kemudian sambil menghalau sendok di hadapanku. Wajahku memucat (aku masih membayangkan "benda" itu loh).
"Eh?" Lily memandangiku penasaran. Ia meletakkan kembali sendok yang masih penuh itu ke mangkuk bubur dan memangku mangkuk tersebut. Sepertinya ia sedang menunggu pertanyaan yang ingin kuajukan padanya.
"Apa dokter sudah memeriksa lengan kiriku?" tanyaku terang-terangan. kemudian isi perutkku pun serasa naik hingga kerongkongan. Mataku terbelalak sampai berair. Lily pun dengan sigap memijit tengkukku, membuatku merasa sedikit lebih baik.
"Miku Chan, mengapa menanyakan hal itu sekarang? Tuh kan, jadi hampir muntah begini" keluhnya khawatir, ia sudah mendengarkan ceritaku sebelumnya. Aku tahu aku tidak seharusnya menanyakan hal yang berhubungan dengan itu sekarang, tapi aku benar-benar merasa takut jika "benda" itu masih di dalam tubuhku. Aku tak tahu apa yang bisa di lakukannya. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.
"Ma-Maaf…" gumamku lemah sementara Lily tetap mencoba menenangkanku dengan pijitan. Ia berkata bahwa aku tidak perlu takut pada apapun, ia telah menanyai para dokter yang menanganiku dan mereka berkata telah mengeluarkannya dari tubuhku, tanganku yang dalam kondisi terbungkus gips menjadi buktinya. Tapi tetap saja, aku khawatir.
"Yah, sepertinya perut Miku chan tidak bisa menampung apapun lagi deh" desah Lily kecewa dan memandangku murung. Aku tersenyum kecil sambil menjulurkan lidahku dan mengedipkan sebelah mata. Untuk pertama kalinya, aku bisa mengurangi porsi makan malamku, he he he. "Miku chan nakal, kasihan kan buburnya" candanya kemudian sambil memasang senyum yang kusukai, tapi lagi-lagi, tangannya berlari kepipiku saat aku lengah dan mulai mencubit. Sontak aku mengaduh kecil. Namun… Lily malah tertawa! Ah, Lily Nee-chan jahil!
"Itu hukumannya karena Miku chan nakal" lanjutnya tanpa melepas cubitannya. Uh, awas kamu Lily Nee-chan! Dan aku pun melancarkan serangan balasan. Sementara matanya menyipit karena tertawa, aku mainkan kelima jari kananku yang bebas dan…
"Lily Nee-chan! Rasakan jurusku ini! Tickling no jutsu!" kelima "senjata"ku seketika menghunjam titik "vital" Lily. Dia pun mulai bergoyang-goyang karena geli.
"Kyaaa~aaa! Ha ha ha! Hentikan Miku chan, Nee-chan tidak tahan geli" pintanya. Tapi aku tidak mau menuruti, hingga akhirnya ia pun membalasku dengan cara yang sama. Baru saja kami hendak bersenang-senang, sebuah suara kaca pecah seketika mengacaukan suasana. Aku yang terkejut, langsung mendekap tubuh Lily erat dan menjerit. Menjerit bersamaan kedua lengan Lily yang segera memelukku erat seolah ia melindungiku dari serpihan kaca yang mungkin terlempar ke arah kami.
"Kyaaa~aaa!" begitulah pekikku yang membahana. Aku mencengkeram erat baju Lily, menyembunyikan kepalaku dan aku tak berani melihat apa yang terjadi. Aku berpikir bahwa itu suara dari rudal teroris yang menghantam gedung ini. Tapi tunggu, itu mustahil. Saat ini semua umat manusia berjuang mempertahankan eksistensi melawan Dark Being dan sejauh ini tidak ada satupun kabar aksi terorisme dan sejenisnya. Jadi, jika itu bukan rudal, lalu apa? hanya satu jawaban. Dan jawaban itu…
"GRRROOOAAARRR~RRR!"
.
.
A/N : Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca Fic ini. Berbagai saran, kritik dan masukan akan saya terima. Tapi saya tidak menjamin bisa memenuhi, namun saya akan berusaha semampunya untuk bisa memberi yang terbaik.
Beelzebub : "kek pemilu aja gan, lebay ente"
sebentar, tunggu setelah pariwara berikut ini...
"Bag! Bug! Desh! Pyar! Meow! Duarrrr! Dradadadadadadadadadadadadad adadadadad! BLEGGGAAARRR~RRR!"
Beelzebub : "A-Ampun Gan..." :bonyok:
maaf atas ketidaknyamanan dalam membaca fic ini, saya sebagai author menyampaikan maaf sebesar-besarnya kepada readers sekalian. n_n
