Author's Note: Pertama-tama saya ingin berterimakasih pada para pembaca yang telah menyempatkan diri mereka untuk membaca dan mereview fic ini, atas perhatian dan review anda-anda sekalianlah chapter 2 ini dapat dibuat dan diselesaikan (meski lama).

Warning: Sama dengan chapter 1, hanya saja saya merasa kalau chapter ini lebih parah dari sebelumnya...

Disclaimer: Shin Megami Tensei beserta semua seri Persona dan karakter-karakternya adalah milik Atlus... Padahal pengennya sih bilang kalau plot cerita ini juga punya Atlus sekalian deh... Biar saya nggak usah nanggung malu karena kehancuran dan keanehan plot fic ini...


Chapter 2: Realization

"Ini... Dimana?" gumam seorang pemuda berambut abu-abu sembari membuka matanya dan bangun dari posisinya secara perlahan. Tanpa disadarinya, ia telah berada disuatu tempat yang sangat luas dan gelap. Pandangan matanya mulai menjelajahi semua tempat yang bisa dilihatnya, berusaha mencari petunjuk dan gambaran mengenai tempat tersebut. Namun, ditengah kegelapan yang menyelimutinya, iris abu-abunya tidak dapat menemukan objek apapun, yang terlihat dimatanya hanyalah kegelapan yang pekat, yang bahkan membuatnya kesulitan untuk memandangi tangannya sendiri. Pantang menyerah, sang pemuda pun mulai berjalan secara perlahan, menjelajahi kegelapan yang menyelimutinya, sekaligus mencari petunjuk mengenai tempat tersebut.

Pemuda itu terus berjalan dan berjalan, kedua bola mata keabu-abuannya masih terus berusaha menjelajahi tempat itu, mencari sebuah objek. Setelah beberapa waktu, akhirnya matanya menemukan sebuah objek yang dapat ia fokuskan. Ditengah kegelapan, ia melihat adanya seberkas kecil cahaya, menyelimuti sesosok figur yang sepertinya familiar baginya. Dipenuhi rasa keingintahuan, kakinya mulai bergerak dalam tempo yang lebih cepat, berusaha membawa tubuhnya untuk menemui cahaya itu secepatnya.

Sekarang, disanalah ia berdiri, menatap sesosok figur yang sangat familiar baginya. Pemuda itu mengenakan seragam yang sama dengannya, sebuah headphone hitam-oranye duduk mengitari lehernya, rambut dan irisnya memiliki warna cokelat yang serupa. Pemuda itu berdiri dengan tangannya yang terlipat didepan dadanya, tubuhnya diselimuti oleh seberkas kecil cahaya yang membantu daya pandang sang ketua. Mengenali pemuda itu sebagai Yosuke, remaja berambut keabu-abuan itu menghela nafas lega.

"Yosuke" panggil sang ketua, singkat.

Mendengar namanya dipanggil, pemuda berambut kecokelatan itupun memfokuskan pandangannya pada sang ketua, berbagai macam ekspresi yang bercampur memancar dari wajahnya, menghasilkan tatapan yang dingin dan tajam. Melihat ekspresi wajah partnernya, pemuda itu terkejut, namun tetap berhasil untuk mengendalikan perasaannya dan tetap berwajah tenang, berupaya untuk mengeluarkan pertanyaan yang ingin dikeluarkannya atas rasa keingintahuannya.

"Yosuke... Ini... dimana? Apa kau tahu sesuatu?" ucap sang ketua pada partnernya.

Setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya dan sampai pada pemuda yang berdiri didepannya, tatapan pemuda itupun bertambah dingin, namun kali ini dengan setitik kesedihan yang dapat terlihat secara samar-samar pada pandangannya.

"Kenapa kau malah bertanya padaku? Bukannya kau tidak mau berharap pada orang lain? Kau lebih memilih untuk tidak pernah bertemu denganku kan?!"

"Apa...?" gumam sang ketua setelah mendengar kata-kata Yosuke. "Memang... harus demikian kan?! Hanya ini... Hanya ini satu-satunya cara..." pikir sang ketua sementara alisnya mengerut, ekspresi wajahnya terlihat pilu.

"Iya kan?! Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi." ucap pemuda berambut kecokelatan itu. Tepat setelah ia selesai mengucapkan kalimat tersebut, cahaya yang menyelimutinya pun menghilang bersama sosoknya.

Sang ketua menghela nafas sambil menyentuh dahinya dengan tangan kanannya, memejamkan matanya. Baru saja ia memejamkan matanya, ia merasakan adanya cahaya lain didepannya, seberkas cahaya kecil yang tetap dapat sampai pada bola matanya, menembus kelopak matanya. Merasakan adanya cahaya didepannya, pemuda itu pun membuka matanya secara reflek. Didepannya sekarang, berdirilah seorang gadis. Perempuan itu mengenakan jaket berwarna hijau, mata dan rambutnya dihiasi dengan warna cokelat karamel yang serupa, kedua tangannya beristirahat dipinggangnya.

"Souji-kun... Apa yang Yosuke katakan... tidak benar kan? Kau... tidak berpikir begitu kan?" tanya perempuan itu dengan keragu-raguan dalam suaranya.

Mendengar pertanyaan Chie, sang ketua hanya bisa menundukkan kepalanya, menghadap kegelapan yang tidak berdasar dibawah kakinya, tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

"Souji-kun? Kau... tidak berpikir begitu kan? Kau tidak serius berpikir begitu tentang kami semua kan?" tanya perempuan itu lagi, berusaha mendapatkan jawaban dari sang ketua.

Souji, yang memang tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, kembali memejamkan matanya dan berusaha menata kembali emosinya. Berbagai macam perasaan dan emosi bercampur baur dalam hatinya, ia bingung, khawatir, dan gelisah. Namun disaat ia masih berusaha menata kembali perasaannya, gadis berambut cokelat didepannya terus mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya, seolah-olah mendesaknya untuk memberikan jawaban. Akhirnya, diluar kontrol emosinya, kata-kata pun meluncur keluar dari mulut sang ketua.

"Cukup... Sudah cukup... CUKUP SUDAH!!!" jerit sang ketua dengan keras. Perasaan yang bercampur dalam hatinya akhirnya meluncur keluar bersama teriakannya, walaupun sebenarnya perasaan itu sendiri masih terus bergumul dalam dirinya. Merasa muak dengan perasaan dan emosi yang berkecamuk dalamnya, remaja berambut keabu-abuan itupun berlari melewati sosok salah satu sahabatnya itu, tidak ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan yang memicu ketidak teraturan perasaannya.

Pemuda itu terus berlari dan berlari, tanpa mengetahui tujuan ataupun arah yang ia tuju. Namun sepanjang kakinya berusaha membawa tubuhnya, matanya menemukan berkas-berkas cahaya dengan sosok-sosok yang ia kenali seperti yang telah dilihatnya sebelumnya, telinganya mendengar suara-suara yang familiar baginya. Setiap kali ia mendengar suara, setiap kali ia melihat adanya berkas cahaya yang muncul didepannya, ia pun akan semakin mempercepat gerakan kakinya dan melewati semua sosok yang muncul dihadapannya, tidak ingin mendengar pertanyaan apapun yang mereka lontarkan padanya.

"Souji-kun, ada apa denganmu? Kau tidak mungkin tiba-tiba berpikir begitu kan? Katakanlah pada kami..."

"Senpai! Apa yang kau pikirkan?! Seriuslah!"

"Senpai! Apa yang salah denganmu? Buang pikiran bodoh itu dari kepalamu!"

Walaupun ia berusaha berlari dan tidak mendengarkan suara-suara itu, entah kenapa suara-suara tersebut seakan-akan menggaung dalam hatinya, biarpun demikian, sang ketua tetap berusaha untuk mengacuhkannya, ia terus mengulang-ulang kata 'cukup' dalam hatinya sambil terus berlari, menembus kegelapan pekat yang tiada akhir, sampai tiba-tiba, ia mendengar sebuah suara sayup-sayup memanggilnya.

"Onii-chan..."

Mendengar suara tersebut, langkah kaki pemuda tersebut pun terhenti, ia mengalihkan pandangannya kesekitarnya, mencoba mencari sumber suara yang merupakan penyebab dari penyesalannya dan pemikirannya akhir-akhir ini. Jauh didepannya, ia melihat adanya seberkas kecil cahaya yang berada ditengah-tengah kegelapan. Begitu iris abu-abunya menangkap keberadaan cahaya itu, kakinya kembali bergerak, berusaha membawa tubuhnya untuk sampai pada cahaya itu secepatnya.

Pada saat sang ketua sampai didepan berkas cahaya itu, benar saja, terdapat sesosok anak perempuan disana, rambut cokelatnya diikat dua kiri-kanan. Gadis mungil itu duduk memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya dibalik kedua lututnya. Mengenali gadis kecil itu sebagai sepupu kesayangannya, pemuda tersebut pun memanggil namanya.

"Nanako..."

Begitu gadis kecil itu mendengar suara yang memanggil namanya, sang kakak dapat melihat bahwa pundak gadis itu sedikit menegang. Sang kakak pun segera meletakkan kedua belah tangannya diatas pundak gadis itu, kembali memanggil namanya.

"Nanako... Ini aku, onii-chan... Ada apa? Apa yang terjadi, Nanako?" tanya sang pemuda dengan penuh perhatian dan kekhawatiran dalam suaranya. Pada saat pemuda tersebut bertanya demikian, dilema yang sejak tadi melandanya menguap, seperti air yang menguap ke udara. Saat itu, yang ada di kepalanya hanyalah kekhawatiran tentang keadaan sepupu kesayangannya. Namun, ia tidak menyadari kalau hilangnya dilema tersebut merupakan pertanda akan kedatangan dilema yang lebih besar lagi, sama seperti air yang menguap menjadi awan, yang merupakan pertanda awal akan kedatangan hujan di kemudian hari.

Mendengar suara kakak sepupunya, gadis mungil itu pun mengangkat kepalanya, bola matanya yang kecokelatannya menatap bola mata lain yang berwarna keabu-abuan, pelupuk matanya terlihat berair, seakan-akan sedang berusaha menahan tangis, namun begitu gadis kecil itu melihat wajah kakak sepupunya, tetesan air pun mengalir dari pelupuk matanya, melewati pipinya. Dengan suara yang terisak-isak, gadis mungil itu kembali memanggil kakaknya.

"Onii-chan..."

"Nanako, ada apa? Tenanglah, onii-chan disini bersamamu."

"Onii-chan... Apa onii-chan... menyesal telah bertemu denganku? Onii-chan... menyesal karena pernah bersama denganku?"

Akhirnya pertanyaan itupun keluar dari mulut Nanako, masih dengan suara yang pelan dan terisak-isak karena tangisnya. Mendengar pertanyaan itu, mata sang ketua membelalak, kedua tangannya yang tadinya berada dipundak gadis kecil itu, kini terkulai di kedua sisi tubuhnya. Hujan telah turun dari awan yang terbentuk atas dilemanya sebelumnya, menghasilkan dilema yang lebih besar dalam hatinya.

"N-nanako... Aku..." Souji berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh adik sepupunya. Ditengah usahanya untuk menenangkan adik sepupunya, ia kehilangan kata-katanya dan tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Entah kenapa ia tidak dapat mengatakannya pada Nanako. Kata-katanya seakan-akan tersangkut ditengah tenggorokannya.

Melihat ekspresi wajah kakak sepupunya, akhirnya gadis kecil itupun memahami sesuatu, sesuatu yang belum tentu benar, namun hampir merupakan kebenaran pada saat itu. "Onii-chan... menyesal..." tutur gadis kecil itu, kalimatnya tidak lagi terdengar seperti pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan, sebuah kesimpulan. Air mata terus membasahi pipi gadis kecil itu, lalu ia kembali memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya dibelakang kedua lututnya. Seiring dengan itu, berkas cahaya itu pun menghilang bersama sosok gadis mungil itu.

"Na-nanako..."

Namun, segera setelah hilangnya berkas cahaya Nanako, berkas cahaya lain kembali muncul, jaraknya beberapa meter lebih jauh dari berkas cahaya sebelumnya. Dibawah berkas cahaya yang baru, tampaklah sosok seorang remaja. Remaja tersebut mengenakan seragam laki-laki sekolahnya, bola matanya berwarna biru keabu-abuan, dan rambutnya yang pendek ditutupi dengan topi yang berwarna biru tua yang serupa. Remaja tersebut hanya berdiri dan memandangi sang ketua yang juga menatapnya, wajahnya tidak banyak menunjukkan ekspresi apapun, walaupun terdapat sedikit kesedihan yang terpancar darinya. Melihat wajah dan ekspresi itu, pemuda berambut keabu-abuan itu kembali merasakan kepedihan yang pernah dirasakannya sebelumnya, sesuatu yang ia kira sudah berlalu dan tidak akan dirasakannya lagi, walaupun ternyata kali ini, rasa pedih itu malah terasa lebih hebat daripada sebelumnya. Sang pemudapun berusaha mengeluarkan suaranya dan memanggil sosok didepannya, walaupun akhirnya suara yang dapat keluar dari mulutnya saat itu hanyalah berupa sebuah bisikan.

"Nao..to"

Seakan-akan tidak mendengar suara sang pemuda yang memanggilnya, remaja berambut biru itu tetap berdiri ditempatnya, terdiam tanpa kata-kata dan tetap menatap lelaki yang memanggilnya. Namun, tidak lama kemudian, detektif itu pun membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan sang ketua. Melihat hal itu terjadi didepan matanya, kaki sang ketua kembali bergerak secara reflek, berusaha mengejar sosok yang berjalan meninggalkannya sambil terus memanggil namanya.

"Naoto! Tunggu! Naoto!"

"Sang ketua terus berlari, berusaha mengejar sosok Naoto yang berjalan didepannya, namun, walaupun ia terus berlari, kegelapan yang membentang diantara mereka kian lama kian meluas, sampai akhirnya sosok dan cahaya itupun menghilang, ditelan oleh kegelapan yang pekat disekitarnya.


"Na-Naoto!!" teriak sang ketua sambil terbangun dari posisinya, tersentak. Sinar matahari pagi menyinari kamarnya melalui jendela, menembus gorden yang menutupinya. Sang pemuda tersebut duduk diatas futonnya, nafasnya tersengal-sengal, keringat mengucur membasahi wajah dan tubuhnya. Tangan kanannya mencengkram bagian dada dari pakaian yang dikenakannya, seolah-olah sedang menahan sakit dari sebuah luka yang tak terlihat. Berbagai macam pikiranpun mengalir kedalam otaknya, ketakutan dan kepedihan merasukinya begitu ia mengingat akan mimpi yang baru saja ia lihat. Merasa harus menenangkan diri, sang pemudapun menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Setelah beberapa kali melakukan hal tersebut dan merasa lebih tenang, remaja berambut keabu-abuan itupun segera bangun dari futonnya, melipat dan merapikannya, lalu melaksanakan rutinitas sebelum sekolahnya sendirian dirumah yang kosong itu.


Souji tidak begitu mengingat perjalanan yang ditempuhnya dari kediaman Dojima sampai ia tiba disekolahnya, otaknya sibuk dengan berbagai macam pikiran yang terus menghantuinya, terlebih lagi karena mimpi anehnya semalam. Tanpa atensi sedikitpun untuk pelajaran yang sedang berlangsung, sang ketua kembali bertanya pada dirinya sendiri.

"Apa aku... salah... lagi? Apa pemikiran dan tindakanku ini... salah?" pikir sang ketua berkali-kali, alisnya mengerut selagi ia berpikir, tangan kanannya menggenggam bolpennya, matanya terus menatap buku matematika yang terbuka diatas mejanya, meskipun atensinya tidak tertuju pada buku itu. Untungnya, guru matematika mereka pada saat itu terlalu sibuk bercerita tentang kehidupan rumah tangganya dan tidak banyak memperhatikan keadaan murid-muridnya. Meskipun sang ketua tidak menyadari bahwa terdapat tiga pasang mata yang terus memperhatikannya sejak tadi, secara diam-diam dan dengan tatapan kekhawatiran yang terpancar jelas dari setiap bola mata tersebut. Namun, tidak lama kemudian...

*Ding-dong*

Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi.

"Akhirnya... Baiklah anak-anak, sampai bertemu besok." kata guru matematika mereka yang sepertinya juga sudah tidak sabar untuk meninggalkan ruangan kelas dan pulang. Setelah guru mereka keluar dari kelas, semua murid pun segera membereskan barang-barang mereka masing-masing dan bersiap untuk meninggalkan kelas, kecuali satu orang...

"Ng... Souji-kun? Kau... tidak membereskan barang-barangmu?" tanya seorang gadis yang duduk disebelah kanannya.

"Ah! Oh, iya... Terima kasih telah memberitahuku, Chie." jawab sang ketua setelah terkesiap dari lamunannya dan segera bangkit untuk membereskan barang-barangnya.

"Souji-kun? Apa kau baik-baik saja? Sepertinya akhir-akhir ini kau jadi lebih sering melamun..." tanya seorang gadis berambut hitam yang duduk didepan kanannya, suaranya terdengar khawatir.

"Ah... Iya... Aku tidak apa-apa..." jawab pemuda berambut abu-abu itu dengan senyum kecil yang terlihat agak dipaksakan diwajahnya, membuat Yukiko mengerutkan alisnya pada saat ia melihatnya.

"Errgh... Hei! Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke dunia TV? Kita bisa melakukan sedikit latihan... atau semacamnya-- Aw!! Chie! Kenapa kau menginjak kakiku?"

"Bodoh kau!" jawab gadis berambut kecokelatan itu sambil mendekatkan kepalanya ke telinga Yosuke dan berbisik, "Kenapa kau malah mengingatkannya tentang dunia TV?!"

"Aku hanya berusaha membuatnya berhenti berpikir terlalu banyak!" desis pemuda itu. Yukiko, yang masih berada ditempat duduknya, segera bertindak cepat untuk mengalihkan perhatian sang ketua dari kedua temannya.

"Yah, itu kan hanya usul saja... Jadi... tidak harus dituruti..." kata gadis berambut hitam itu ragu-ragu. Sejak Nanako diculik, mereka memang tidak pernah masuk kedalam dunia TV lagi. Mereka tahu bahwa mereka harus menyelamatkan gadis kecil itu secepatnya, namun setiap kali mereka melihat kondisi sang ketua, mereka tidak sanggup menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan dunia itu.

Sang ketua yang ternyata telah mendengar semua pembicaraan kedua temannya sebelumnya, akhirnya meyadari bahwa mereka semua tengah mencemaskan kondisinya. Tidak ingin membuat mereka khawatir lebih jauh lagi, Souji pun menjawab, "Tidak, tidak apa, ayo kita pergi."

"Hah? Kau... yakin?" tanya seorang gadis berambut cokelat yang langsung berhenti berdebat dengan temannya.

"Ya, ayo kita pergi, aku tak apa-apa." jawab sang ketua dengan nada yang lebih meyakinkan.

"Baiklah! Kalian bisa pergi ke Junes sekarang. Aku akan segera memberitahu Kanji dan yang lainnya, setelah itu kami akan menyusul kalian kesana." kata remaja berambut cokelat itu seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan kelas para adik kelasnya dibawah.

-To be continued-


Author's Note: Iya-iya, saya tahu kalau saya bilangnya fic ini cuman akan jadi two-shot... Tapi kalau mau bener-bener dijadiin two-shot, chapter 2 nya bisa panjang banget... Jadi saya potong aja... Tadinya saya nggak mau fic ini jadi terlalu panjang, tapi akhirnya sekarang saya ikut ngalir aja deh sama ceritanya, ikutin aja mau jadi berapa panjang... Menurut prediksi saya sekarang ini sih... 4 chapter.

Secara pribadi, saya merasa kalau fic ini... aneh... Saya juga bingung apa entah pemikiran Souji disini masuk akal apa nggak... Tapi yah, saya tetap berharap anda-anda sekalian menyukainya... (nggak tau diri, udah jelek tapi minta disukain) Yah, pendapat kan subjektif sifatnya... Terakhir, saya mohon kepada para pembaca sekalian untuk meninggalkan pesan dan kesan tentang chapter ini dalam review! Terimakasih banyak.