Previous Chapter
Apa dia—seorang ELF?
Itu orang seperti—Kim Kibum.
Akhirnya kau datang juga, Bryan.
—o0o—
Chapter 2
Rasa shock menyerang Jenny tatkala dua manik matanya menangkap sosok siluet orang yang ia lihat saat ini. Mulutnya membuka membentuk huruf O, sementara kedua matanya membelalak lebar. Ia masih tak percaya akan orang yang saat ini berada di depan sebuah panggung yang akan dipakai untuk seminar kuliah hari ini.
Orang itu, yang tadi ia lihat di depan pintu ruang staf. Orang yang begitu mirip dengan—
"Inilah dia seorang aktor yang bakatnya sudah tidak diragukan lagi. Kita sambut bintang tamu kita pada seminar kali ini, Bryan Trev!"
Sang MC baru saja selesai memberi sambutan, yang disertai oleh suara tepukan tangan penonton yang meriah, kecuali Jenny yang masih asyik melongo dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Lalu otaknyapun memproses dengan cepat apa yang baru saja terjadi.
Pemilik nama Bryan Trev itu.
Bryan?
Bukankah itu nama bule-nya seorang—
—Kim Kibum?
Dan memang orang itu mirip dengan Kim Kibum. Jenny berani bersumpah. Itu memang Kim Kibum. Kim Kibum Super Junior itu.
Wajah dinginnya. Senyum imutnya. Mata sipitnya. Kulit putihnya. Semua itu hanya khas dimiliki oleh si ice prince-nya Super Junior. Kim Kibum.
Salah satu dari member Super Junior—yang Jenny tahu—sudah mengambil keputusan untuk hiatus manggung dari mereka sejak lama, untuk terjun ke dunia akting dan menjelma sebagai seorang aktor.
Namun ia masih saja tidak menyangka akan kehadiran sosok itu di sini. Di seminar ini. Langsung di depan matanya.
"Ah—Good afternoon everybody!" si Bryan itu mulai member sepatah kalimat pertama sebagai pembuka. Setelah para mahasiswa di universitas membalas sambutan darinya, ia beserta MC mulai membahas seminar pada hari ini.
Gayanya, tutur katanya, semuanya memang khas milik Kibum. Jenny sangat tahu itu meski sudah lama ia juga tak melihatnya, namun hatinya bersua demikian.
Yang lebih parahnya lagi, seminar itu berlangsung lebih dari satu hari, dan orang itu yang menjadi bintang tamunya. Sial.
Begitu rindunya ia akan kehadiran sosok ini. Dan sekarang kerinduannya terbalas sudah.
Namun orang itu tampil sendiri, tidak sesuai dengan harapannya selama ini, yaitu tampil bersama dengan 12 orang lainnya.
—o0o—
Bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit malam di Seoul, menjadi obyek pandang bagi Eunhyuk, yang saat ini tengah berdiri di atas balkom kamar yang ditempati olehnya bersama dengan Donghae. Angin malam menerpanya dengan lembut, yang bersuhu dingin, sama seperti kondisi hatinya saat ini. Sedari tadi pikirannya terus menerus melayang, bintangpun seolah menjadi penyebab karena arah pandang Eunhyuk tidak lepas dari benda alam itu.
"Sedang apa kau disitu, hyung? Cuaca malam tak baik untukmu," mendadak muncul sebuah suara bass ke permukaan, yang tidak lain tidak bukan adalah teman satu kamarnya, Donghae. Kedua kakinya kini sedang berjalan ke arah seseorang yang baru saja ia tanya sekaligus nasihati.
Untungnya telinga Eunhyuk masih dapat menangkap ucapan Donghae dan mendengar derap kakinya meski tadinya ia sedang melamun. "Ingin menikmati suasana luar saja, Hae," ucapnya seraya menatap ke arah lawan bicaranya yang kini sudah berada di sampingnya.
"Aku tahu kau bohong. Pasti kau masih memikirkan konferensi pers tadi?" tanya Donghae seraya menatap Eunhyuk tajam, dan memang telak.
Sebuah konferensi pers yang sempat dihadiri oleh member Super Junior tadi, memang sudah diduga oleh Eunhyuk akan mengungkit kesedihan yang sudah lama ia rasakan. Padahal sebenarnya niat Super Junior menghadiri konferensi pers itu ialah hanya untuk mengonfirmasi mengenai penyelanggaraan fanmeeting mereka yang akan diadakan tanggal 6 November, yang bertepatan dengan anniversary mereka.
Eunhyuk tersenyum miris mengingat dialog-dialog itu. Mengapa konferensi dimulai dengan pembahasan mengenai album? Dan mengapa topik pembicaraan menjadi posisi leader sementaranya? Dan mengapa ia malah jadi mengatakan apa yang sedari dulu ia rasakan sejak kepergian Hangeng dan Kibum dari Super Junior?
Memang saat di depan media tadi Eunhyuk terlihat santai-santai saja, tetapi kenyataannya itu hanyalah sebuah topeng yang ia pasang untuk menutupi semua kepedihannya. Bahkan pada saat di mobil saat perjalanan pulang bersama Donghae ia sempat menitikkan air matanya. Kesedihan tentang karir Super Junior saat ini yang seperti terlantar, serta kerinduannya pada Leeteuk, Heechul, dan Yesung, bahkan Hangeng yang sudah hengkang dari Super Junior dan Kibum yang entah kemana dan dimana sekarang. Apalagi ia rindu pada saat-saat dulu, saat dimana Super Junior masih menjalani hari-hari bersama dengan jumlah anggota yang benar-benar utuh dalam satu dorm.
Saat mereka harus berebut tempat karena sempitnya ruang…
Saat mereka memakan lauk mereka dalam satu meja makan…
Saat mereka bercanda bersama sampai-sampai suasana dorm bisa jadi sangat berisik…
Saat mereka latihan menyanyi dan menari bersama…
Saat mereka menadahkan tetes peluh serta air mata mereka bersama-sama…
Saat mereka memikul beban mereka bersama-sama…
Saat mereka berjuang melewati derasnya arus di dunia public figure sebagai sebuah boyband…
Dan juga saat mereka dalam satu panggung bersama dan memadukan segala bakat mereka menjadi satu…
Mengingat itu semua lagi-lagi air mata Eunhyuk terasa mendesak untuk keluar lagi. Segala kerinduan itu terasa meluap-luap di hatinya. "Aku rindu semuanya…" lirihnya seraya terisak. Oh tidak, ia tidak dapat menahannya.
Donghae segera mendekap Eunhyuk erat. Membantunya memikul segala penderitaan di hatinya saat ini, walau tak dapat dipungkiri apa yang dikatakan oleh Eunhyuk tadi juga ia rasakan.
"Sudahlah hyung, jangan menangis lagi," ucapnya seraya membersihkan anak sungai kecil di pipi Eunhyuk dengan menggunakan jemarinya. "Menangis tidak akan membalikkan keadaan."
"Tapi hyung, aku sudah tak tahan lagi menahan semua gejolak rindu ini pada mereka semua, pada keadaan yang dulu, hyung," ucap Eunhyuk dengan suara seraknya. "Mengapa hal-hal yang menyangkut mereka diungkit-ungkit lagi!"
Donghae berusaha menenangkan Eunhyuk dengan menyapu kepalanya dengan lembut. "Sssshhh, tenanglah. Kendalikan dirimu. Bukan hanya kau yang merasakan seperti ini, akupun juga, kita semua disini juga. Tapi waktu terus berjalan hyung," ia kemudian menengadah ke arah langit. "Namun hyung, kita masih berada di bawah langit yang sama. Itu artinya masih adanya peluang untuk kita semua bertemu kembali dan merajut sebuah kisah bersama kembali. Dengan title keluarga kita, Super Junior. Super Junior, sebuah gugusan bintang yang menyinari sinarnya secara sama-sama, membentuk satu kekuatan yang melahirkan suatu generasi yang sangat luar biasa. Dan sinarnya akan selalu abadi, dan selalu menjadi titian harapan. Meski sinarnya seredup apapun, tetap masih ada secercah sinar, secercah harapan. Meski kemungkinan penyatuan secara utuh akan keanggotaan keluarga kita saat ini kecil, namun masih ada kesempatan untuk itu. Maka dari itu, percayalah hyung, suatu saat nanti, Tuhan pasti akan mengabulkan doa serta harapan kita."
Indra penglihatan dari Eunhyuk menangkap pancaran sinar dari kedua bola mata Donghae usai dirinya selesai berkata-kata. Entah mengapa hatinya menjadi terasa lebih hangat. Apalagi setelah ia menyaksikan sebuah senyum tertarik dari bibir lawan bicaranya itu.
"Kau pernah dengar sepatah kata yang menjadi pegangan bagi ELF untuk kita?" tanya Donghae. Sudah pasti Eunhyuk tahu akan jawabannya, namun Donghae sudah angkat bicara kembali. "Promise to believe. Mereka saja sudah berjanji pada diri mereka sendiri, untuk percaya bahwa kita itu tetap satu, tetap Super Junior yang 13 tambah 2 itu, meski dalam keadaan apapun. So, we must promise to believe it too. And I swear if God will help and bless us. Amen."
—o0o—
Bibir bagian bawah milik Jenny digigiti oleh gigi bagian atas milik dirinya sendiri. Rahangnya mengeras, tangan kirinya menggenggam erat tas selempang biru safir miliknya. Sementara itu tangan kanannya sibuk mendekap sebuah berkas seminar yang baru saja diperolehnya tadi dari panitia seminar universitasnya. Seminar di hari kedua sudah selesai, namun ia masih berada di ruangan ini. Hanya dirinya. Karena ia baru saja mendapat panggilan dari Bryan, sang guest star seminar. Entah untuk apa, yang jelas saat ini perasaannya diselimuti oleh rasa cemas yang begitu kuat. Cemas karena ini hanya melibatkan dirinya dan Bryan, serta cemas karena takut rencananya akan gagal.
Rencana?
Ya, pasca Jenny tahu bahwa yang mengisi acara guest star itu adalah Bryan—yang sangat merujuk ke arah Kibum—Jenny tiba-tiba memikirkan sebuah rencana untuk mempertemukan Bryan—atau Kibum—dengan para member Super Junior di Korea Selatan sana. Kebetulan ia akan menghadiri fanmeeting yang diselenggarakan oleh mereka—dan tiket sudah berada di tangan, dan kebetulan pula ia baru saja mendapat kabar bahwa teman satu negara yang akan menemaninya untuk ke sana juga membatalkan niatnya karena datangnya suatu masalah pada dirinya. Jadilah Jenny berhasil mengantongi dua tiket. Rencananya, tiket tersebut akan diberikan untuk si Bryan itu agar bisa menghadiri fanmeeting Super Junior.
Walaupun Jenny tahu, rencananya sangat beresiko. Apalagi nasib belum bisa dipastikan, apakah sosok dengan Identitas sebagai Bryan itu memang Kibum atau bukan.
Namun, kebetulan lagi, Jenny dipanggil oleh sang bintang tamu.
Dan orang itu kini datang di hadapannya.
"Maafkan saya karena saya sudah menunda waktu istirahat anda, Jenny. Saya tahu anda sudah lelah dalam menghadiri seminar ini," ucap Bryan seraya menelusuri bagian bangku audience, dengan menenteng tas jinjingnya yang bercorak hitam itu.
Oh tidak, Bryan tahu namanya. Bryan ingat namanya. Ralat, bukan Bryan, tetapi Kibum. Kibum!
"Never mind, sir," kata Jenny seraya tersenyum memaklumi—dan gugup.
"Enaknya kita sama-sama duduk di sini saja, ya. Biar ngobrolnya enak," ucap Bryan seraya mengambil posisi duduk di salah satu bangku. "Ayo kau duduk saja, jangan berdiri saja di situ."
Dengan sikap santai seorang Bryan, tak membuat Jennypun ikut santai. Ia justru semakin gugup berada di hadapan orang itu. "Eh—iya sir," ucapnya yang pada akhirnya mengambil tempat duduk agak jauh dari Bryan. "Omong-omong, ada apa anda memanggil saya?"
"Oh itu—soal proporsal," Bryan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Jenny. Seandainya Jenny tahu, bahwa Bryan saat ini juga tak kalah gugup dengan dirinya. Bukan soal ini sebenarnya yang ingin ia bicarakan. Namun perihal—
—insiden seminar di hari kemarin. Bahwa Bryan melihat Jenny mengenakan jaket biru safir yang jelas-jelas bertuliskan "ELF" dan "Super Junior" ketika berada di depan ruang aula ketika seminar sudah selesai dilaksanakan.
Dan karena itulah ia jadi teringat akan insiden tabrak-menabrak dengan seorang mahasiswi di koridor. Gambar garskin ponsel itu masih terbayang di dalam pikirannya. Sayang muka gadis yang ia tabrak itu tidak terbayang, jadi Bryan tidak tahu siapa orang yang ia tabrak.
Namun entah mengapa, hati Bryan berkata bahwa orang ini yang ia tabrak. Entahlah, ia tidak tahu. Yang jelas penyebab saat ini ia ingin bertemu dengan mahasiswi ini ialah karena insiden seminar di hari pertama itu. Untungnya saja ia melihat wajahnya dan nametag-nya yang berbentuk bordiran di jaketnya kala itu. "Tugas proporsal seminar yang kalian buat, sudah selesai saya periksa. Dan ternyata punyamu yang paling mengesankan, Jenny. Saya ingin mengajakmu untuk mengerjakan proyek pementasan teater, dengan atas nama kamu dan nama universitas. Dan teater itu akan diselenggarakan secara umum, yang tentunya disaksikan oleh banyak pihak. Apakah kau mau, Jenny?"
Jenny terperanjat mendengar tuturan dari Bryan. "Benarkah? Tentu saya bersedia menerimanya dengan senang hati," katanya dengan mata yang berbinar-binar.
"Bagus, kalau begitu saya akan ajukan ini kepada pihak universitas," ucap Bryan. "Nanti saya akan kabari lagi kepada Jenny dan kepada pihak fakultas. Omong-omong, bisakah saya meminta nomor telepon anda? Kalau bisa ditulis dalam secarik kertas."
"Oh, tentu saja, sir. Tunggu sebentar, saya akan menulisnya."
Beberapa saat setelah detik berjalan, menunggu Jenny dalam menulis apa yang ia minta, akhirnya Bryan menerima secarik kertas yang berisi nomor telepon dari Jenny, setelah ia mengucapkan, "Thank you so much, sir. I'm so glad now."
Bryan tertawa ringan dan iapun berkata, "You're welcome, dear."
"Eung—sir—" ucap Jenny gugup. Apakah ini saatnya untuk memulai? Memastikan kebenaran, dan menjalankan rencana?
"—omong-omong, kau sangat mirip dengan Kibum oppa, my Idol in South Korea," lanjut Jenny, dengan nada yang sesantai mungkin. Padahal sebaliknya. "Hahaha, I don't know why, sir, but I think you're similar with my lovely idol, Kim Kibum. He is my idol who lives at South Korea, and he is a member of Super Junior, a boyband from there. You know, sir? Hahaha."
Perkataan yang dituturkan oleh Jenny sukses membuat Bryan tercengang.
Tercengang karena Jenny mengatakan my lovely idol,
Dan lebih tercengang karena Jenny mengatakan he is a member of Super Junior, a boyband from there—South Korea.
Rupanya Jenny begitu menyadarinya. Menyadari bahwa sosoknya adalah sosok seorang Kibum.
Ia tidak menyangka, jika ELF masih mengingat sosok Kibum, padahal orang itu sudah lama hiatus dari Super Junior.
Rasanya—air mata ini begitu menggunung di kelopak matanya. Bersiap untuk tumpah.
"It's not similar, Jenny. But it's a fact."
Kini giliran Jenny yang tercengang. Apa tadi katanya?
It's a fact?
Jadi benar apa yang hati Jenny bilang, ketika melihat sosok itu di depan pintu ruang staf?
Ditambah lagi Jenny disuguhkan oleh pemandangan sosok Kibum sedang menorehkan smirk di hadapannya. Smirk khas si manusia es milik Kibum yang biasa ia lihat di foto-foto.
"Really? So you're real Kim Kibum?" tanya Jenny dengan nada yang meninggi karena keterkejutannya. Sosok idolanya kini berada di hadapannya. "Oh—you know, oppa? I miss you so badly, oppa. I really miss all of you. Your smile, your face, your style, your voice, your rap," cerocosnya dengan semangat.
Namun ketika Jenny mengucapkan kata-kata ini—"And I miss you when I saw you on the stage with Super Junior members, oppa."
Dan juga kata-kata ini—"Oppa, don't you miss them? Don't you miss Super Junior? Don't you miss when you lifed with them? On their dorm? Or on the stage? Don't you?"
Serta kata-kata ini—"Because I, and ELF too, really miss those things of you."
—Persetan, Jenny tidak kuasa menahan air matanya. Padahal ia sudah berusaha keras supaya harga dirinya tidak jatuh di depan idolanya sendiri.
Begitupula dengan Kibum. Ia juga berusaha keras untuk menghadang air matanya keluar dari kelopak matanya. Hatinya begitu terenyuh mendengar ucapan tulus Jenny. Suara ELF tentang dirinya akhirnya ia dengar sendiri. "Don't cry, dear," ucapnya yang pada akhirnya buka mulut juga. Jemarinya bergerak mengusap anak sungai di pipi Jenny. "I miss Super Junior too, honestly. I miss when I lifed with them, when I wasted my time with them. And I miss ELF too. I miss their support. I miss when I saw sapphire blue ocean."
Jenny melihatnya. Jenny melihat sorot mata Kibum yang tampak sayu. Kedua matanya seolah sedang menatap ke arah bagian belakang Jenny. Jenny tahu bahwa lawan bicaranya saat ini juga sedang berusaha tegar di depannya. Salah satu tangan dari Kibum Jenny raih, lalu dipegangnya dengan erat. Menyalurkan sedikit kekuatan pada idolanya itu. Lumayan—eh?
"Tenanglah, oppa—"
"How are Super Junior now? Ah I don't know now," ucap Kibum seraya menatap ke arah Jenny kini, namun ekspresi menyedihkannya tetap terpasang.
"Kabar mereka baik-baik saja, oppa. Namun jumlah member dari mereka saat ini sedang sedikit karena banyak di antara mereka yang sedang menjalani wajib militer di Korea Selatan sana," tukas Jenny. "Apa kau tidak menonton konferensi pers mereka kemarin? Mereka bilang mereka juga rindu akan Super Junior dengan kehadiran dirimu, oppa. Mereka bilang mereka rindu akan Super Junior yang masih berjumlah 13 orang."
"Benarkah?—aku bahkan tidak tahu ada konferensi pers mereka kemarin," ucap Kibum yang lagi-lagi merasa terkejut karena mendengar suatu pernyataan, bahwa ternyata Super Juniorpun merindukan dirinya pula. Ia pikir ia sudah dianggap sampah oleh mereka.
Jenny mengangguk membenarkan. Ia bisa membaca ekspresi Kibum, yang begitu kaget mengetahui apa yang tidak ia tahu mengenai kegiatan Super Junior kemarin. Namun dimata Jenny hal tersebut tidak dinilai sebagai sesuatu yang buruk, justru ia melihat adanya suatu kepedulian yang ditunjukkan melalui mimik muka milik Kibum. "Ne, oppa. Dan mereka bilang bahwa mereka akan menggelar sebuah fanmeeting secara publik, dalam rangka merayakan anniversary mereka."
"Anniv?" Tanya Kibum heran. Membuat Jenny mendadak kesal. "Jangan bilang kau tidak ingat kapan mereka anniv?"
Kibum bergeming. Otaknya sedang berusaha keras untuk mengingat sesuatu. "6 November?"
Emosi Jenny yang tadinya menanjak karena tidak habis pikir bahwa Kibum bisa melupakan hari besar itu, mereda karena dugaannya salah. "Right, oppa. Apakah kau ingin menghadirinya? Kalau kau mau aku bisa membantumu. Bukankah kau merindukan mereka, oppa? Ini bisa menjadi kesempatanmu untuk bertemu dengan mereka," tawarnya. Begitu gencarnya ia melaksanakan rencananya ini. Kesempatan ini tidak dianggurkan secara sia-sia. Jenny akan memanfaatkannya dengan segera untuk mempertemukan her lovely idol dengan keluarganya ini.
Kibum tidak menyangka akan datangnya tawaran ini dari seorang ELF. Padahal tadinya ia hanya berencana untuk menanyakan kabar Super Junior padanya. Memang ini tawaran yang inginkan—sebenarnya—dari lubuk hatinya yang sudah haus akan kehangatan berada di tengah-tengah member Super Junior. Akan tetapi mendadak ia teringat sesuatu. "Tapi aku—ada jadwal penting di hari itu. Jadi aku tidak bisa menghadirinya. I'm so sorry."
Dan seketika, hati Jenny jatuh terhempas ke bawah. Dan retak.
"Tapi—mengapa, oppa?" tanya Jenny yang masih shock akan tindakan yang dilakukan oleh Kibum. "Memangnya seberapa pentingnya jadwal oppa itu? Apa jadwal itu tidak lebih penting dari keluarga oppa—Super Junior? Bukankah kau merindukan mereka? Mereka juga merindukanmu—bukankah sudah kubilang? Ini kesempatanmu untuk melihat mereka kembali dan bertemu lagi, lalu apa oppa mau sia-siakan itu hanya untuk jadwal oppa yang—" racaunya yang nada bicaranya masih cukup terdengar tenang, namun raut mukanya jauh berbanding terbalik. Penolakan itu bagaikan boomerang baginya. Ia pikir rencananya akan berhasil.
"—ah sudahlah, oppa," desah Jenny, yang akhirnya pasrah. "Maafkan saya, jika saya sudah lancang. Maaf karena saya sudah bertindak tidak sopan di depan oppa. Saya hanya tidak menyangka saja jika oppa sudah menolak bantuan dari saya, karena saya pikir tadinya oppa benar-benar ingin bertemu dengan Super Junior. Saya hanya ingin membantu oppa untuk itu, dengan memberikan jalan mudahnya. Maafkan saya, saya tidak pantas untuk mengatur hidup oppa yang saya sadari, bahwa sebagai seorang aktor, tentunya oppa sangat sibuk. Saya hanya seorang—ehm—fans yang hanya pantas untuk men-support oppa dalam hal apapun, bukan untuk mengatur. Maaf jika saya tadi lepas kendali, saya hanya begitu merindukan dimana saya melihat oppa berkumpul bersama keluarga oppa, walau hanya di depan layar laptop. Sekali lagi saya minta maaf—" ucapnya. Lalu iapun beranjak dari tempat duduknya.
"—and oppa, you must know some things, if you are the most I love of my idols, of Super Junior members—honestly. I appreciate you so much in your carriers. Although you've already hurt me now, because you can't meet Super Junior members on 6th November later—but actually I want to see it—but you've already give me your special gift, that you invite me to working together about your project as a teater for my university. It makes me love you more and more as your fans, as an ELF and a Snower," lanjut Jenny seraya tersenyum. Matanya sudah berkaca-kaca. "Thank you so much, oppa, you're my best bias in my life. And sorry oppa, I should go out from here now. Good afternoon, sir."
Usai mencium punggung tangan Kibum, Jenny lantas melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan. Meninggalkan Kibum dengan rasa yang sangat bersalah karena telah melukai seorang fansnya yang—tidak ia sangka—ternyata menjadikan dirinya sebagai bias utamanya. Bukan hanya itu, rasa dilema kini hinggap di benaknya, dengan keputusan yang harus ia ambil mengenai kegiatannya pada tanggal 6 November mendatang.
Dan pasca ia meninggalkan ruangan, Jenny bersegera untuk pergi ke toilet wanita, dan menumpahkan air mata sepuas-puasnya, yang sedari tadi terbendung.
—o0o—
Bandara Internasional Beijing baru saja Rinyi pijaki, setelah ia membayar biaya taksi. Angin sepoi-sepoi serta polusi udara berkat hilir mudik pengunjung bandarapun menyambutnya dengan hangat. Ia kemudian menutup pintu mobil dan bawaannya yakni tas ransel berukuran besarpun kemudian diambilnya dari dalam bagasi mobil lalu digendong di atas punggung. Setelah semua dipastikan beres dan tidak ada yang tertinggal, taksipun pergi meninggalkan Rinyi dan ia lantas melenggang menuju ke dalam bandara.
Rinyi teringat akan kabar yang ia dapati kemarin mengenai salah satu artis idolanya yaitu Hangeng, akan pergi ke Seoul, Korea Selatan, pada hari ini pula, sama seperti dirinya. Meski ada setitik harapan akan bertemunya ia dan Hangeng di sini, namun rasanya mustahil. Pasti banyak orang yang sama seperti dirinya dan bahkans mengambil tindakan yang macam-macam untuk sengaja melihat Hangeng langsung di tempat kejadian perkara, entah itu hanya sekedar mengandalkan mata telanjang atau disertai dengan kamera atau bahkan sinar lampu serta mikropon. Butuh tenaga ekstra dan ia sedang malas mengeluarkan banyak tenaga untuk saat ini. Ia sedang hemat tenaga untuk perjalanannya hari ini ke Seoul, untuk mencapai satu tujuan, yaitu bisa menghadiri fanmeeting Super Junior. Walaupun Hangeng sendiri—dimatanya—masih merupakan bagian dari Super Junior, namun ketimbang harus berdesak-desakan di bandara ini hanya untuk melihat seorang Hangeng, lebih baik berdiri dengan rapi di ruangan fanmeeting untuk melihat kedelapan member Super Junior lainnya.
Akan tetapi, untuk sekarang keadaan bandara masih belum terlihat adanya kericuhan khas fans-fans, ataupun perburuan para wartawan dengan kamera mereka. Mungkin belum sekarang, barangkali? Ataukah sekarang sedang ricuh namun bukan di sisi bandara sini? Entahlah.
Yang jelas Rinyi sangat merasa bersyukur.
Usai menyerahkan segala dokumen untuk keberangkatannya pindah negara, Rinyi lantas menunggu pesawat yang akan mengangkutnya tiba di bandara. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang kecilnya, untuk melihat waktu saat ini. Dan ia baru tahu, bahwa butuh waktu lebih dari setengah jam namun kurang dari sejam untuk menunggu pesawat datang.
Karena ia sedang memegang ponsel saat ini, Rinyi lantas mengetik suatu chat yang akan dikirimnya untuk seorang teman ELF-nya di luar China, tentunya menggunakan bahasa internasional yang menjadi penghubung komunikasi antar negara.
Hey Minjae, I've already in Beijing airport now. Yeay finally I go to my second lovely country, Seoul! And finally I can meet SJ hooray! I'm so happy you know. Okay, wish god bless me, yea! See ya in there!^^
Usai pesan chat-nya terkirim kepada orang yang dituju, Rinyi menaruh ponselnya kembali ke tempat semula. Iapun benar-benar menunggu.
Detik demi detik berjalan, hingga pada akhirnya sebuah pesawat datang menjemput Rinyi. Kedua kakinya segera bekerja untuk melangkah setapak demi setapak dalam kurun waktu yang cepat menuju ke dalamnya. Meski dirinya sempat berdesakan dengan para penumpang lain—yang sangat tidak ia suka, apalagi dengan bawaannya yang segudang—pada saat berada di tangga untuk menaiki pesawat, namun hal tersebut tidak kunjung menyurutkan semangatnya untuk berangkat ke Korea Selatan sana. Pada akhirnya ia menemukan posisi dimana ia duduk yaitu di dekat jendela dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas kursi pesawat yang empuk.
Ketika saatnya tiba, pesawatpun mengepakkan sayapnya. Selama terbang, Rinyi tentunya tidak menganggur begitu saja, ia kemudian melakukan aksi fangirling dengan menggunakan tab-nya. Mulai dari membuka berbagai akun jejaring sosial-nya dan berbicara mengenai artis idolanya yaitu kesemua member dari Super Junior sebagai seorang ELF, sampai menonton video tentang para member Super Junior. Hingga mengundang orang yang berada di sampingnya untuk menegurnya.
"Hei—" telinga sebelah Rinyi yang tidak tertutupi headset-nya menangkap sebuah suara yang seolah menyapanya. Untuk memastikan apakah ia salah dengar atau tidak, Rinyipun bertanya kepada orang di sebelahnya. Sayangnya orang tersebut mengenakan masker serta kacamata hitam sehingga wajahnyapun tidak kelihatan. "Ehm—apa kau memanggilku?" tanyanya dengan menggunakan bahasa China. Biarlah orang itu mengerti atau tidak, ia tidak peduli.
"Ya," jawab orang itu. Rupanya orang tersebut juga bisa berbahasa China. "Ehm, itu—apa kau menonton video tentang Super Junior?" tanyanya balik.
"Eung—ya," jawab Rinyi. Bukannya senang, ia justru merasa canggung. Om-om ini begitu asing dimatanya. Dan hal itu sangat mengganggunya, apalagi sekarang ini ia tengah menyetel video yang sejak orang itu menyapanya, ia tak kunjung mem-pause-nya sehingga ia mulai tertinggal untuk mengikuti jalan ceritanya. "Memangnya, ada apa ya, om?"
"Oh—kau ELF?" tanya orang itu lagi. "Bagaimana karir Super Junior sekarang?"
"Karir mereka?" bukankah menjawab dua pertanyaan yang baru saja dilempar kepadanya, Rinyi malah bertanya lagi. Entah mengapa rasa canggungnya sudah mulai mereda. Dan pada akhirnya ia menjawab, "Mereka masih cukup popular sebagai boyband yang super seperti namanya, tapi sayangnya tahun ini mereka belum comeback," seraya mem-pause video yang sedang ditontonnya.
"Belum comeback? Tapi ini sudah bulan November," ucap orang itu, yang membuat Rinyi sedikit merasa terperangah. Orang ini begitu peduli akan Super Junior. "Iya, dan tinggal beberapa hari lagi mereka merayakan anniversary mereka yang ke-8 tahun. Seharusnya mereka sudah mengantongi album terbaru mereka, tapi entah mengapa pihak SM bahkan hingga saat ini belum memberikan kabar yang pasti. Padahal aku sudah sangat rindu dengan kehadiran mereka di panggung," ucapnya yang kemudian menengadah ke arah jendela. "Bahkan aku sangat berharap akan adanya keajaiban bahwa Super Junior bisa comeback dengan personil yang lengkap, ke-13 member bisa berdiri dalam satu panggung kembali seperti dulu."
"13 orang? Tapi bukankah ada personil yang keluar?" tanya orang itu lagi. Oh tidak—pertanyaan ini memancing Rinyi untuk menaikkan emosinya.
"Siapa yang keluar?" Tanya Rinyi balik, dengan nada yang meninggi. "Bagiku Super Junior masih 13 orang dan akan selamanya begitu. Hangeng oppa dan Kibum oppa tetaplah bagian dari Super Junior meski sekarang mereka meniti jalan mereka sendiri-sendiri. Aku yakin suatu saat mereka bisa kembali kepada Super Junior, cepat atau lambat."
Persetan. Ada apa dengan orang ini? Tak tahukah orang ini bahwa Rinyi kemarin malam bahkan sempat menangis—padahal menjelang ia hendak pergi jauh—karena ELF membahas kembali tentang Super Junior ketika masih unjuk gigi dengan jumlah 13 orang pada salah satu jaringan sosial yaitu twitter, sehingga membuat dirinya ikut flashback ke masa lampau. Dan sekarang orang itu membuat dirinya mengenang masa lalu lagi.
"Begitu ya?"
"Iya, mengapa om?" tanya Rinyi yang emosinya masih belum stabil dan sedang berusaha untuk stabil.
"Tidak apa-apa, saya juga merindukan mereka," mendengar nada bicara orang asing itu yang mulai melirih, Rinyi mulai terperangah lagi. "Mereka siapa? Super Junior?"
Dan ketika mendapati jawaban, "Iya," dari sang lawan bicara, mulut Rinyi mulai gatal untuk melempar sebuah pertanyaan baru. "Memangnya ada apa antara om dengan mereka?"
Rinyi tahu kalau orang di sebelahnya bukan ELF, karena ELF pasti mengikuti perjalanan karir Super Junior dengan inisiatif mereka sendiri. Namun mengapa orang ini tampak begitu peduli dengan Super Junior?
"Apa saya harus memberitahumu?" orang ini gemar sekali memberi kalimat pertanyaan.
"Apa saya harus memaksamu untuk membuka masker dan kacamata hitam itu?!" ucap Rinyi yang mulai kesal. Orang ini membuatnya penasaran, dan ia benci akan hal itu. Untunglah ia berhasil membalikkan pertanyaan yang dilontarkan oleh orang tersebut. "Sebenarnya kau ini siapa?!" lanjutnya.
"Asal kau berjanji untuk diam jika aku memberitahumu," pinta orang itu. Apa apaan ini, belum kenal saja orang asing ini sudah meminta yang macam-macam pada Rinyi. Bagaimana jika orang ini teroris?—ah prasangka buruk baru saja menghampiri iri Rinyi karena rasa penasarannya yang kian mengembang. Namun dengan nafas yang berat pada akhirnya—,"Iya, aku janji. Sekarang tolong jawab."
Orang asing itu mulai membuka kacamata hitam dan maskernya dan—hei, tunggu dulu!
Itu bukan orang asing.
Orang ini justru orang yang sangat tidak asing baginya.
"Ha—hangeng gege?!"
Hanya sebuah senyuman tipis yang menyambut keterkejutan Rinyi yang meledak. Tahan Rinyi, jangan pingsan.
"Ingat janjimu, diamlah. Ingat, kita sedang berada di dalam pesawat," ucap Hangeng pelan. "Jangan takut, santai saja."
Suara yang terdengar di telinga Rinyi tadi sungguh berbeda dengan suara yang tadi, sebelum ia tahu bahwa lawan bicaranya ini ialah seorang Hangeng. Penyamaranmu, sungguh sempurna, Hangeng gege.
Ternyata pepatah bahwa harapan adalah doa itu benar-benar fakta. Rasa mustahil Rinyi tadi ditumpas mentah-mentah dengan kemunculan seorang Hangeng, yang ternyata duduk tepat di sebelahnya. Ia masih tidak menyangka pertemuannya dengan sang idola yang sangat digemarinya itu tiba dengan sangat kebetulan. Sangat. Tanpa harus berebut posisi dengan pesaing lain yang juga ingin bertemu dengan orang ini.
Dan seketika pula, mood Rinyi terhadap orang ini mendadak berubah. Kekesalannya lekas berganti dengan rasa senangnya yang melonjak tinggi.
"Gege, senang sekali aku bisa bertemu denganmu. Aku benar-benar merasa beruntung gege," Rinyi tidak kuasa menahan air matanya. Ini benar-benar mengharukan bagi dirinya.
"Hei—jangan menangis," ucap Hangeng seraya mengusap air mata Rinyi menggunakan jemari tangan kanannya. "Nanti aku dikira macam-macam denganmu," lanjutnya.
Detak jantung Rinyi seakan memompa darah lebih cepat saat jemari tangan idolanya saat ini sedang mengusap kedua pipinya dengan lembut. Benar-benar sesuatu yang luar biasa bagi dirinya, karena belum tentu ELF lain bisa mendapatkan sentuhan dari member Super Junior seperti sekarang ini. "Iya gege, maafkan aku. Tapi aku senang sekali gege, akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung."
Hangeng tertawa renyah mendengar pengakuan yang diutarakan oleh Rinyi. "Tidak usah berlebihan begitu. Sudahlah, tenangkan dirimu."
Rinyi menarik kedua ujung bibirnya ke atas, lalu berusaha untuk menenangkan dirinya. "Iya, gege," ucapnya seraya mengeringkan air matanya sendiri. Idolanya ini benar-benar sosok yang ramah, membuat hatinya kini merasa tentram.
Usai melihat kondisi Rinyi lebih tenang, Hangeng segera membuka topik pembicaraan baru. "Omong-omong, apa kau sendirian di sini?" tanyanya
"Iya, gege," jawab Rinyi, yang nada bicaranya kini terdengar seperti percakapan yang biasa ia lakukan kepada orang-orang terdekatnya.
"Kalau oppa boleh tahu—" ucap Hangeng, yang berhenti sejenak untuk memastikan apakah yang ia lihat dengan ekor matanya sedari tadi benar atau tidak—bahwa gadis ini mengenakan jaket warna biru safir serta bandana di kepalanya yang bertuliskan huruf Hangeul Super Junior. Dan ternyata memang iya. "Sebenarnya kau mau kemana? Kau banyak mengenakan aksesoris bercorak ELF."
Rinyi terperanjat. Rupanya Hangeng menyadarinya. "Gege ternyata masih ingat ya cirri khas ELF," ucapnya yang masih tidak menyangka seorang Hangeng yang notabenenya sudah lama tidak bergabung dengan Super Junior ternyata masih mengingat ELF—fandom fans mereka. Kemudian ia teringat akan pertanyaan dari Hangeng yang belum terjawab. "Sebenarnya, aku ingin menghadiri fanmeeting Super Junior di Seoul saat anniversary mereka. Apa gege diundang ke sana?"
Apa? Anniv?
Hangeng hampir saja lupa akan hari sakral itu. Sebentar lagi.
Dan—fanmeeting?
"Kalau corak ELF tentu gege masih mengingatnya, mana mungkin gege lupa dengan mereka yang ikut berjasa membesarkan nama oppa," ucap Hangeng menyahut kalimat pertama yang diucapkan Rinyi sebelumnya. "Tapi kalau soal Super Junior fanmeeting itu, gege bahkan belum mendengar kabarnya," lanjutnya, yang kali ini tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Benarkah?" tanya Rinyi. "Mereka mengatakan itu pada saat konferensi pers beberapa hari yang lalu. Jangan bilang gege juga tidak menontonnya."
"Jujur—gege sama sekali tidak tahu. Saya sudah lama tidak mengetahui kabar mereka lagi," Hangengpun mulai melirih. Malu karena ia menunjukkan reaksi ketidaktahuannya dihadapan seorang ELF yang ia kenal masih menganggap dirinya masih menjadi bagian dari Super Junior. Menyesal karena dirinya tidak berusaha mencari tahu lagi tentang keadaan Super Junior beberapa tahun terakhir ini, apalagi sejak ia merilis albumnya sendiri.
Rasa yang membuncah di hatinya, sejak Hangeng mengetahui bahwa ia memiliki dua buah jadwal di Korea Selatan itu kini hadir lagi. Rasa yang dimiliki oleh orang yang tidak bertemu dengan orang yang disayanginya dalam jangka waktu yang lama.
Ada hasrat di dirinya, yang berkeinginan untuk bertatap muka langsung dengan keluarganya lagi. Bertemu mereka, memeluk mereka, dan menghabiskan waktu bersama mereka lagi.
Tapi—
"Gege ke Korea ini sebenarnya ada perlu dengan album solo karirku saja awalnya, tapi setelah mendengar kabar darimu itu, gege ingin ke sana juga jadinya. Jujur saja—gege sangat merindukan teman-teman Super Junior, teman seperjuangan gege dulu," ungkap Hangeng dari lubuk hatinya yang dalam yang dicurahkan.
Namun nafasnya mulai tertahan saat ia mengatakan ini, "Tapi oppa sudah bukan dari mereka lagi sekarang."
—ya, insiden beberapa tahun silam. Saat dirinya menyatakan diri untuk keluar dari Super Junior. Keluar dari keluarga besar yang membesarkan namanya itu dan memutuskan untuk bersolo karir.
Sejak itulah, semua berubah.
Kini, buku lama yang telah usang mulai terbuka kembali. Cerita yang berada di dalamnya mulai dibaca lagi. Kenangan yang terselubung mulai keluar dari persembunyiannya.
Mengingat hari-hari terberat dalam hidupnya.
Ketika ia memutuskan untuk melepaskan diri.
Ketika Super Junior tetap menahannya.
Ketika egonya tetap teguh pada pendirian.
Ketika suatu hasil berpihak padanya.
Ketika publik menyorotnya dimana-mana.
Ketika ia menyaksikan berbagai kemarahan dan tangis karena dirinya.
Saat itulah, Hangeng merasa sangat terluka. Bahkan ia hampir berpikir untuk melakukan bunuh diri.
"Gege…" seloroh Rinyi yang merasa shock menyaksikan air mata yang kini malah menganak sungai di pipi tirus Hangeng. Membuat ia yang tadinya ingin marah kepada Hangeng karena telah berkata sebuah pernyataan laknat—yaitu Hangeng bukan bagian dari Super Junior lagi—menjadi—entah mengapa rasanya ia ingin menangis lagi. Menangis karena menyaksikan idolanya menangis. Ia sangat paham akan penyebabnya itu. Sudah lama ia menjadi ELF, dan tentu saja ia banyak mengetahui kisah yang telah dilalui oleh Super Junior, termasuk pengunduran diri Hangeng dari Super Junior.
"Jangan menangis," lanjut Rinyi, yang gantian mengeringkan air mata kesedihan itu. "Gege kuat, gege sudah berhasil melewati waktu-waktu terberat gege ketika itu. Maka dari itu, gege jangan keluarkan air mata itu lagi," hiburnya.
"Tapi gege kadang merasa kalau gege seperti—"
Sampah. Ya, itulah yang ingin Hangeng katakan. Mengingat cacian dari berbagai pihak karena keputusannya itu—bahkan dari keluarga kesayangannya sendiri—membuat ia bak daun kering yang jatuh dari pohon, dan tergeletak begitu saja di tanah. Begitu menyedihkan.
Namun Rinyi segera menginterupsinya, sebelum ia mendengar kata itu, kata yang ia tahu akan diucapkan oleh Hangeng. "Gege, dengar. Di mata kami, ELF, gege masih dianggap sebagai karunia dari Tuhan yang sangat berharga bagi kami. Gege masih dianggap oleh kami semua, ELF, Super Junior juga begitu. Walaupun engkau sudah mengambil jalan untuk bersolo karir, kau tetap ada di hati kami semua. ELF tetap men-support-mu, Super Junior juga merindukan kehadiranmu," tuturnya dengan rasa perjuangan untuk menahan air mata.
Hangeng speechless. Benarkah? Benarkah ia masih dianggap sebagai sesuatu yang berharga, setelah ia campakkan?
Sementara itu, Rinyi tiba-tiba berpikiran tentang suatu hal. Sesuatu yang pada akhirnya ia akan berikan kepada Hangeng, meski ini cukup merugikan dirinya—dan uangnya. Ia lalu mengambil selembar kertas dengan memiliki fungsi yang khusus pada saat berada di Seoul nanti dari dalam tasnya, lalu dikeluarkan.
Rinyi memutuskan untuk berbicara kembali setelah ia tidak mendengar Hangeng angkat suara—yang ia tahu sedang menenangkan dirinya. "Kalau gege mau, aku bersedia membantumu bertemu dengan mereka. Kebetulan aku mengantongi satu tiket fanmeeting. Kalau gege mau, aku bisa memberikannya untukmu secara cuma-cuma. Ini bisa menjadi kesempatanmu untuk bertemu dengan mereka. Anggap saja ini hadiahku untukmu."
Ya, ini sudah keputusannya yang bulat.
Tatapan mata Hangeng tertuju kepada selembar tiket fanmeeting di depannya. Tiket yang seolah menggodanya untuk diraih. Akan tetapi ia teringat akan suatu hal yang berkaitan dengan jadwalnya.
"Tapi—Aku ada jadwal tanggal 6 juga. Jadi—bentrok," ucap Hangeng dengan berat hati menolaknya dengan gaya bahasa yang sehalus mungkin. Jangan sampai ia membuat hati ELF yang mengasihinya terluka lagi. "Lagipula, sayang sekali jika kau tidak memegang tiket ini. Bukankah tujuanmu ke Korea Selatan hanya untuk menghadiri acara ini?"
Rinyi bergeming. Ia tahu bahwa Hangeng tidak menerima pemberiannya. Memang benar jawaban dari pertanyaan terakhir yang dilontarkan olehnya, akan tetapi—demi sang idola, ia rela melakukan apa saja jikalau ia diberi kesempatan untuk mempertemukan kembali orang itu dengan keluarga lamanya, termasuk mengorbankan apa yang seharusnya menjadi miliknya, demi kebahagiaan idolanya. Tapi hatinya tetap bersikukuh. "Sudah, terima saja gege. Kau lebih membutuhkannya daripada aku. Pegang sajalah dulu, siapatahu ternyata gege bisa berkesempatan untuk menghadirinya."
Hangeng mulai menimang-nimang. Ia ingin sekali memiliki tiket ini, namun ia juga merasa tidak enak hati kepada yang memberi benda berharga ini. Orang yang duduk di sebelahnya ini sudah rela berkorban demi dirinya. "Tapi—"
"Ah—pegang saja," paksa Rinyi akhirnya. Ia meletakkan tiket fanmeeting itu di tangan kanan Hangeng. Menerima hadiah darinya saja lama sekali. "Kau tidak usah memikirkanku. Kebahagiaanmu, kebahagiaanku juga, gege. Anggap saja ini hadiahku."
Pada akhirnya, Hangeng mulai menerimanya dengan ikhlas.
—o0o—
