BLUE
Cast:
Kim Jongin as Kim Kai (GS)
Kim Joonmyeon as Choi Joonmyeon aka Suho
Choi Jin Ri as Choi Jinri aka Sulli
Park Chan Yeol as Park Chanyeol
Xi Luhan as Oh Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Kim Minseok as Kim Minseok (GS)
Zhang Yixing as Zhang Yixing aka Lay (GS)
Huang Zi Tao as Wu Zi Tao aka Tao
Other cast(s) (bertambah seiring waktu)
Pair: Belum ditentukan.
Disclaimer: Semua cast yang ada di cerita ini hanya milik Tuhan, orang tua, SM Ent, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama mereka saja. The plot is MINE. Jika ada cerita dengan alur yang hampir sama, itu adalah suatu kebetulan saja.
Warning: Gender switch, typo(s), alur berantakan, cerita membosankan.
Don't Like, Don't Read.
Happy Reading~
.
.
.
Jaejun High School. 07.15 KST.
"Sudah siap masuk sekolah barumu?" Tanya pemuda berparas malaikat—Suho—yang membukakan pintu mobil untuk Kai. Mereka sudah berada di halaman parkir sebuah sekolah yang sangat megah. Jaejun High School, begitulah yang tertulis di gerbang depan sekolah.
"Ne, Oppa." Jawab Kai sambil menuruni mobil. Ia mengenakan seragam musim dingin berwarna biru dongker. Mata karamel gadis berkulit tan itu memandang sekeliling. Banyak siswi yang memandang sinis kepadanya—atau lebih tepatnya memandang sinis tangan kirinya yang digenggam oleh Suho. Tatapan mereka membuat Kai semakin merapat kepada Suho. Ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Gwaenchana, Kai-ya. Jangan pedulikan mereka." Kata Suho lembut—menenangkan gadis di sampingnya yang sedikit gemetar. Kai hanya mengangguk kecil sebagai respon. Mereka kembali melangkah menuju ruang kepala sekolah.
"Kita sudah sampai. Masuklah, Soo Man seongsaengnim pasti sudah menunggumu. Saat istirahat nanti, Oppa akan menemuimu." Suho mengusap surai madu adiknya. Kai mengangguk dan tersenyum manis.
Tok Tok Tok
"Silahkan masuk." Sahut sebuah suara berat dari dalam ruangan.
Cklek!
Suara pintu dibuka membuat lelaki paruh baya yang sedang asyik dengan korannya, menoleh ke arah pintu. Ia mendapati seorang gadis—dengan senyum manisnya—berjalan menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya lelaki itu—Lee Soo Man—sambil meletakkan koran dan melepas kacamata bacanya.
"Annyeonghasimnikka, Seongsaengnim. Naneun Kim Kai imnida. Anda bisa memanggil saya Kai. Saya murid pindahan dari Jepang." Jelas Kai. Ia membungkukkan badannya memberi hormat, lalu tersenyum kembali.
"Ah, ne ne. Annyeong, Kai-ssi. Silahkan duduk." Kata Soo Man ramah.
Kai segera mendudukkan dirinya ke kursi di hadapan Kepala Sekolah barunya.
"Bahasa Korea-mu sangat lancar untuk ukuran seseorang yang baru pindah kesini, Kai-ssi." Pujinya.
"Sebenarnya saya memang asli orang Korea, Seongsaengnim. Tapi, karena keperluan bisnis Ayah saya, kami sekeluarga harus pindah ke Jepang." Soo Man mengangguk-anggukkan kepalanya—tanda ia mengerti.
"Mulai hari ini kau resmi menjadi murid di Jaejun High School. Saya ucapkan selamat bergabung disini. Jika ada yang kurang dimengerti mengenai peraturan atau pelajaran, kau bisa menanyakannya padaku atau guru lainnya." Kata Soo Man sambil tersenyum lembut, "Oh iya, kau akan masuk ke kelas 1-3." Tambahnya.
"Algeseumnida, Seongsaengnim. Mohon bimbingannya." Kai bangkit dan membungkuk kembali.
"Baiklah, mari saya antar ke kelas." Soo Man berdiri dan berjalan keluar. Kai mengekor di belakangnya. Suasana di koridor sunyi senyap karena bel pelajaran sudah berbunyi lima menit yang lalu.
.
.
.
Classroom 1-3.
"Annyeonghaseo. Naneun Kim Kai imnida. Kalian bisa memanggilku Kai. Mohon bantuannya." Kai membungkukkan badannya dan memasang senyum manisnya.
"Baiklah, Kai-ssi, kau bisa duduk di samping Jinri. Jinri-ah, angkat tanganmu." Kata Han seongsaengnim. Terlihat seorang gadis cantik dengan senyum kekanakkan mengangkat tangannya. Kai mengangguk mengerti dan berjalan menuju bangkunya.
"Hai, namaku Choi Jinri. Panggil saja Sulli." Kai mendapati gadis di sampingnya mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah tepat beberapa detik setelah ia duduk.
"Kim Kai imnida. Panggil saja Kai. Bangapta, Sulli-ssi." Kai menjabat tangan Sulli dan tersenyum cerah. Setelah sesi perkenalan singkat mereka, mereka kembali memusatkan perhatian masing-masing ke depan—mendengarkan penjelasan Han seongsaengnim.
Teng Teng Teng
Tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Bersamaan dengan itu, hampir semua siswa berhambur keluar kelas menuju kantin, perpustakaan, atau ke lapangan.
"Kai-ah, kau ingin ikut ke kantin dengan kami?" Tanya Sulli. Sepanjang pelajaran, mereka sesekali mengobrol untuk mengakrabkan diri masing-masing.
"Kau duluan saja, Sulli-ah. Aku sedang menunggu seseorang." Jawab Kai sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Arraseo. Kami duluan. Bye." Pamit Sulli.
Kai membereskan buku-bukunya setelah melihat Sulli menghilang di balik pintu, menuju kantin bersama dua murid lain.
"Kai!" Teriak seorang pemuda dari ambang pintu kelas Kai. Kai menoleh dan melihat Suho sedang berdiri di depan pintu sambil mengatur nafasnya. Mereka saling melempar senyum.
Kai berlari kecil ke arah Suho. "Oppa lama sekali." Keluhnya sambil memukul lengan Suho pelan.
"Mian, Kai-ya. Aku harus menanyakan dimana kelasmu terlebih dahulu. Kajja, kita ke kantin." Ajak Suho.
"Eum. Ayo, Oppa." Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama, membuat para siswa dan siswi yang mereka lewati memandang iri.
.
.
.
Lapangan Basket JHS.
"Hei, aku dengar ada murid baru di sekolah kita. Dia seorang gadis. Sepertinya dia murid kelas satu." Kata seorang siswa yang sedang menghalangi siswa lain—yang sedang men-dribble bola.
"Tadi pagi aku juga melihatnya bersama Suho-hyung, sunbae kita." Timpal siswa lain yang mencoba menerobos ke bawah ring.
"Oper, Yeol!" Teriaknya pada siswa yang men-dribble bola. Siswa yang dipanggil dengan nama Yeol itupun mengoper bola di tangannya pada siswa tadi. Dengan cekatan, siswa itu menangkap bola dan langsung melompat dan memasukkan bola ke dalam ring.
"Yeeesss! Good job, Hyukkie!" Ucap Yeol. Kini ia melakukan 'high five' dengan siswa yang ia panggil Hyukkie atau nama lengkapnya Kang Min Hyuk itu. Yeol sendiri bernama Park Chan Yeol.
"Cih, kalian selalu saja menang." Keluh siswa lain yang tadi menghadang Chanyeol. Ia bernama Lee Jung Shin.
"Sudahlah, Jungshin-ah. Lain kali kita balas mereka." kata Kim Seok Jin—rekan setim Jung Shin. "Jadi, bagaimana siswi itu? Apakah dia cantik?" Jin merangkul pundak Jung Shin dan Min Hyuk—yang berdiri bersebelahan—dari belakang sambil menatap mereka dan menaik-turunkan alisnya. Sedangkan Chanyeol, kembali bermain dengan bola basketnya.
"Molla. Aku tidak begitu jelas saat melihatnya." Jawab Min Hyuk sambil mengedikkan bahunya. "Chanyeol, kau mau ikut ke kantin tidak?" Tanyanya sembari berjalan keluar lapangan dengan kedua temannya—Jung Shin dan Jin. Chanyeol pun mau tidak mau mengikuti mereka.
.
.
.
Kantin JHS.
"Suho!" Panggil seorang siswa—dengan paras cantik—di salah satu meja di kantin itu. Suho tersenyum dan menarik Kai ke meja tersebut.
"Yeojachingumu Hyung?" Tanya siswa berwajah poker face. Semua yang ada di meja itu memandang Suho dan Kai penasaran.
"Aniya. Dia ini adikku yang baru pindah dari Jepang." Jelas Suho. "Nah, Kai, perkenalkan dirimu." Pinta Suho.
"Annyeong. Kim Kai imnida. Cukup panggil Kai saja. Bangapta." Kai membungkuk sebentar, lalu tersenyum manis—membuat para siswa dan siswi di hadapannya tampak terpesona. Bagaimana tidak? Di depan mereka ada seorang gadis yang tersenyum sangat manis, bahkan senyumannya bisa melelehkan hati orang-orang yang melihatnya.
"Ehem..." Suara deheman Suho sukses mengembalikan orang-orang di hadapannya ke alam nyata. Mereka menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal—salah tingkah karena tertangkap basah memandang Kai tanpa berkedip. Kai tertawa kecil melihat tingkah teman-teman kakaknya ini.
"Kai, ini Luhan-hyung, Sehun, Minseok-noona dan Yixing, atau kau bisa memanggilnya Lay. Mereka sahabat-sahabatku. " Suho menunjuk temannya satu per satu. Kai hanya mengangguk. Suho sering menceritakan sahabat-sahabatnya pada Kai, jadi Kai tidak kesulitan mengenali mereka.
Mereka berdua duduk di hadapan ketiga pemuda disana. "Dimana Tao?" Tanya Suho pada ketiga temannya saat menyadari ada yang kurang.
"Aku disini Hyung." Seorang siswa—dengan lingkaran hitam di bawah matanya—berjalan menghampiri mereka. Ia membawa nampan berisi lima mangkuk dan lima gelas. Sepertinya ia memesankan makanan dan minuman untuk Luhan, Sehun, Minseok, Lay dan dirinya sendiri. Ia duduk di samping Kai—yang kehadirannya belum disadari olehnya. Ia menengok ke samping kanan dan—
"Nuguya?" Tanyanya sambil terlonjak kaget.
Kai terkekeh melihat ekspresi Tao. "Hehe. Kim Kai imnida. Tao-oppa bisa memanggilku Kai. Aku adik sepupu Suho-oppa yang baru pindah dari Jepang." Kai tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit. Tiba-tiba...
"Akh! Appo..." Kai memekik ketika satu cubitan mendarat di pipinya. Suara teriakannya sukses membuat semua mata tertuju pada meja mereka. Sadar akan keadaan itu, Tao pun langsung bangkit dan tersenyum meminta maaf pada semua murid di situ—yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Kecilkan suaramu, Kai." Bisik Tao. Ia sudah duduk kembali.
"Yak! Siapa yang mencubit pipiku duluan, eoh?! Itu salahmu Oppa!" Kai mengomeli Tao dengan suara sepelan mungkin. Ia mengusap-usap pipinya yang memerah karena cubitan Tao. Kelima murid lainnya menahan tawa melihat pertengkaran kecil antara Kai dan Tao.
"Hehehe. Mianhae. Siapa suruh kau begitu menggemaskan." Tao tertawa kecil melihat Kai mengerucutkan bibirnya lucu. Waktu istirahat kali ini diisi oleh canda tawa serta pertanyaan-pertanyaan dari sahabat-sahabat Suho untuk Kai.
.
.
.
Choi Family's House, 14.30 KST.
Hari ini Kai pulang bersama Lay dan Tao menggunakan mobil Tao. Suho mengikuti jam pelajaran tambahan mengingat ia sudah berada di tahun ketiga di sekolahnya. Sudah setengah jam Kai hanya memencet tombol-tombol remote televisi tanpa berniat menonton acaranya. Karena bosan hanya diam di rumah, Kai memutuskan berjalan-jalan di sekitar kompleks tempat tinggal keluarga Choi.
Ia keluar mengenakan celana jeans abu-abu panjang, kaos biru berlengan pendek dan sepatu kets-nya, serta mantel bermotif kotak-kotak pemberian ibunya. Tak lupa ia membawa peralatan menggambar di dalam ranselnya. Selain menari, Kai juga suka menggambar.
"Nona ingin pergi kemana?" Tanya pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengannya di pintu depan.
"Aku ingin jalan-jalan di sekitar sini." Jawabnya sambil tersenyum manis.
"Apakah perlu saya antar?" Tawar pelayan tadi.
"Tidak perlu. Terima kasih. Aku tidak akan lama." Tolak Kai dengan sopan. "Aku pergi dulu." Pamit Kai sambil membungkukkan badan. Pelayan itu membungkuk dan tersenyum akan tingkah sopan keponakan majikannya itu.
.
.
.
At Park, 15.00 KST.
Kai's PoV
Setelah lelah berkeliling, aku menemukan sebuah taman—dengan arena bermain anak, lapangan basket, lapangan futsal, dan banyak bangku-bangku. Aku duduk di salah satu bangku di dekat lapangan basket. Kupandangi sekelilingku, disana banyak anak kecil yang sedang bermain ditemani oleh ibu mereka. Banyak juga remaja yang bermain futsal, basket, atau sekedar duduk-duduk di taman tersebut. Menikmati pemandangan berwarna dasar putih salju yang tampak di sebagian besar wilayah taman itu.
Aku mengeluarkan buku sketsa dari dalam ranselku. Buku itu sudah hampir penuh oleh karyaku yang sebagian besar adalah pemandangan. Kuperhatikan sekitar, mencari objek yang menarik untuk digambar. Gotcha! Aku menemukannya! Sekelompok remaja—sepertinya seumuran denganku—sedang bermain basket, tak jauh dari tempat dudukku.
Salah satu dari mereka sedang men-dribble bola. Ia meliuk-liuk melewati lawannya. Hingga akhirnya ia melompat, memasukkan bola ke dalamring dan bergelantungan di ring tersebut. Pemuda itu melakukan slam-dunk. Aku terpana melihat aksinya—sampai-sampai lupa untuk berkedip.
Sejenak kuingat kembali aksinya dalam otakku. Dengan perlahan, kugoreskan pensil di atas kertas kosong dalam buku sketsaku, membentuk serangkaian memori yang ada di dalam benakku. Sesekali aku tersenyum sambil melihat ke lapangan basket.
'Perfect.' Batinku dalam hati saat melihat ulang hasil sketsaku.
Aku melirik jam yang bertengger di tangan kananku. 16.40 KST. Lama juga aku di taman ini. Saatnya pulang sebelum membuat orang rumah khawatir. Kumasukkan buku sketsa dan peralatan menggambarku ke dalam ransel.
Belum jauh aku melangkah, ada seorang anak perempuan—mungkin umurnya sekitar enam atau tujuh tahun—sedang berjongkok sambil menangis.
"Gwaenchana?" Aku berjongkok di depannya. Anak itu mendongakkan kepalanya. Aku bisa melihat matanya memerah dan bengkak, pipinya juga basah oleh airmata.
"Hiks hiks...ada yang hiks mengambil lollipop-ku hiks Eonni...hiks hiks.." Katanya sambil terisak.
"Uljima..." Kuusap kepalanya dan kutuntun ia ke bangku terdekat—bangku yang tadi kududuki. Ia hanya menurut sambil mengusap matanya—masih sedikit terisak.
Aku merogoh ke dalam ranselku. 'Semoga masih ada.' Batinku. "Ah, ternyata memang masih ada." Gumamku.
"Eonni punya lollipop. Ini untukmu." Aku menyodorkan sebuah lollipop ke hadapannya.
Ia hanya memandangku sambil mengerjap-kerjapkan matanya. "Ini untukku Eonni?" tanyanya.
"Eum, ini untukmu." Aku tersenyum melihatnya—yang juga tersenyum cerah. "Jangan menangis lagi, ne?" Kuusap airmata di pipi bocah—yang sedang asyik dengan permennya—itu. "Eonni pulang dulu. Sudah hampir malam. Kau juga harus pulang."
"Ne. Sebentar lagi Oppa-ku datang. Pay pay, Eonni cantik." Ia melambaikan tangannya. Aku tersenyum sambil melambaikan tanganku padanya dan berbalik pulang.
'Pasti Suho-oppa sudah mencariku.' Pikirku.
Kai's PoV End
.
.
.
Someone's PoV
Selama beberapa hari ini orangtuaku pergi ke luar kota. Aku ditugaskan untuk menjaga adikku yang masih berumur 6 tahun. Karena keperluan itu, sepulang sekolah, aku harus langsung pulang—menemani adikku di rumah.
Untuk mengusir bosan, aku mengajaknya ke taman dekat rumah. Di taman, ia bermain dan berlarian bersama teman-temannya. Sedangkan aku seperti biasa—bermain basket—bersama teman-temanku. Hitung-hitung menghangatkan tubuh didinginnya udara musim dingin sekarang. Walaupun begitu, aku tetap mengawasinya dari sini. Tapi sialnya, aku lengah beberapa menit belakangan, hal itu membuat adikku menghilang dari jangkauan pandanganku.
Baru saja aku akan mencarinya, ternyata adikku ini berada di salah satu bangku tak jauh dari lapangan basket—dimana aku berada sekarang. Tapi tunggu sebentar,
'Siapa gadis yang bersama adikku itu?' tanyaku dalam hati. Aku melihat seorang gadis—dengan rambut panjang berwarna madu, dia cukup tinggi untuk ukuran perempuan—memberikan sesuatu kepada adikku dan membuat adikku senang. Tak lama kemudian dia pergi setelah melambaikan tangannya.
"Eun Ji?" panggilku setelah berada di hadapan adikku. Dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar dengan mulut yang dipenuhi oleh lollipop. Aku melihat matanya sembab dan pipinya sedikit basah, seperti habis menangis. "Gwaenchana? Kau menangis? Siapa perempuan tadi?" Aku mengusap pipinya setelah duduk di sampingnya.
"Nan gwenchana, Oppa. Tadi Ha Won merebut lollipop-ku. Dia nakal sekali. Eonni itu yang memberikan lollipop ini padaku. Eonni itu sangat baik 'kan, Oppa? Dia juga cantik sekali." Jelas adikku panjang lebar.
Aku hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya. "Apa kau sudah mengucapkan terima kasih?" tanyaku.
Eun Ji menunduk lalu menggeleng perlahan. Aku menghela nafas. Aku sudah hafal betul dengan kebiasaannya—melupakan sekitarnya setelah mendapat yang ia mau.
"Kau harus berterima kasih saat bertemu Eonniitu lagi ne. Kajja kita pulang." Aku bangkit dan menggandeng tangan kecilnya. Beranjak dari taman menuju rumah kami—tidak jauh dari sana.
Someone's PoV End
.
.
.
Choi Family's House. 17.30 KST.
"Kau ini dari mana saja, Kai? Kenapa baru pulang, eoh?!" Bentak pemuda tampan kepada gadis di hadapannya.
"Aku hanya berkeliling kompleks dan bermain di taman, Oppa." Jawab Kai dengan lirih. Ia menundukkan kepalanya—tidak berani menatap Suho.
"Lalu kenapa ponselmu tidak aktif?" Suho menurunkan nada bicaranya.
"Ponselku lowbat sejak pulang sekolah, Oppa. Jadi aku men-charge-nya sebelum pergi. Mianhae, Oppa." Kai menatap Suho dengan puppy eyes-nya—membuat Suho tidak tega memarahinya lagi.
Suho menghela nafasnya. "Hhh... Ya sudah, sebaiknya kau mandi. Setelah mandi, kita makan malam bersama." Suho menepuk bahu Kai sebelum beranjak ke dapur. Kai mengangguk sekilas dan beranjak ke kamarnya.
.
.
.
Setengah jam kemudian, Kai sudah berada di ruang makan bersama dengan Suho. "Dimana Ahjussi dan Ahjumma?" Tanya Kai ketika ia tidak melihat kehadiran mereka.
"Appa dan Eomma sedang menghadiri pernikahan pegawai Appa." Kai hanya menggangguk dan bergumam 'oh' mendengar perkataan Suho. Merekapun memulai acara makan malam dengan hening. Hanya suara sendok bertumbukan dengan piring yang memenuhi ruang makan.
"Oppa, kau masih marah padaku?" Kai bergumam pelan disela makannya. Walaupun begitu, Suho masih bisa mendengar pertanyaannya. Matanya menatap gadis—yang sedang mengaduk-aduk makanannya—itu.
"Ani. Aku tidak marah. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu." Ia mengambil jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak ingin hal itu terulang lagi." Suho melihat bahu Kai menegang seketika. Namun dalam hitungan detik ia sudah bisa rileks.
Kai mendongak dan berkata, "Aku baik-baik saja, Oppa." Ia tersenyum, tapi di mata Suho senyum itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Suho hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
Setelah selesai makan, Kai menonton televisi di ruang keluarga ditemani oleh Suho yang sedang membaca majalah. Ia menonton acara musik, sesekali ikut bersenandung kecil ketika ia familiar dengan lagu yang sedang ditayangkan.
" Bagaimana kalau kau ikut organisasi OSIS saja denganku?" Tanya Suho tiba-tiba.
"Mwo? A-aniyo, Oppa. Aku ini tidak pernah ikut organisasi seperti OSIS. Aku tidak mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan keorganisasian." Ucapnya polos, "Lagipula aku sudah memutuskan untuk masuk klub dance saja." Jelasnya.
"Atau kau mau ikut klub vokal juga? Suaramu bagus kok." Bujuk Suho lagi.
"Shireo. Suaraku ini tidak bagus, Oppa. Kasihan orang-orang yang mendengar. Aku hanya ingin ikut klub dance saja."
Sudah banyak orang yang menyarankan Kai untuk mengikuti banyak klub, tapi memang dasarnya jiwa Kai sudah terikat pada tari, jadi sekeras apapun orang lain memaksanya, gadis itu tetap akan memilih menari.
Suho pun hanya mengangguk menanggapinya. Ia sudah terlalu mengenal Kai hingga hafal betul dengan sifat adiknya itu.
TBC or END?
.
.
.
Author's note: Chapter 2 update! Yeay~ *o* otte? Bingung kah? Aku juga bingung haha. Disini emang pairnya belum kelihatan. Mungkin chap depan udah bakal ketahuan pairnya siapa aja. Sebenernya ff ini udah lumayan lama bersarang di laptopku, tapi castnya beda. Walaupun tinggal ganti nama aja, tapi aku juga harus ngerubah alurnya dikit biar sesuai. Jadi, buat yang penasaran sama lanjutan ceritanya (itupun kalau ada :D), sabar dulu ya. Pasti nanti terjawab kok rasa penasaran kalian.
xoxo,
Kaiko94
