LIVE

-Sick-

"Ukh… Sakit!! Jangan lagi…" lirihan yang tak terdengar siapapun seperti sebuah bisikan. Pandangannya mulai kabur. Tenaganya hilang saat itu juga. Tubuhnya terhuyung ke arah lantai yang masih dipijaknya. Tak ada Naruto ataupun Gaara yang akan menopang tubuhnya seperti sebelumnya.

Itachi... Masih ada Itachi disini. Dialah yang sekarang menopang tubuhnya.

"Sasuke!! Hei, ada apa!? Sasuke!!" Itachi menggoyangkan tubuh Sasuke. Sedangkan Sasuke sendiri tak memberikan jawaban apapun. Wajah yang biasanya terlihat datar meski dalam keadaan kacau sekalipun, kini tak terpancar darinya. Yang ada hanya ekspresi wajahnya yang menderita menahan sakit.

Jangan lagi… aku tak suka ini. Kenapa penderitaan ini masih saja ada? Aku tak ingin melihatnya begini. Tak bisa. Aku tak akan mampu. Tolonglah jangan perlihatkan ekspresi ini dihadapanku lagi…

"Bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit." Itachi menyangga tubuh Sasuke bermaksud ingin berdiri. Namun tangan Sasuke mencengkeram bajunya.

"Ti-tidak perlu. A-aku… tidak… apa… apa." Ucapnya terbata karena harus menahan sakit. Begitu sulitnya mengucapkan satu kalimat pendek dengan sakit yang ia rasakan.

"Apanya yang tidak apa-apa!! Tidak bisa! Aku akan membawamu ke ruma…" kata-katanya terpotong karena Sasuke mencengkeram bajunya lebih kuat dari sebelumnya.

"Sudah… kubilang… aku t-tidak apa-apa… ambilkan saja obatnya…"

Itachi diam sejenak. Dia menggerutkan giginya. Dia sungguh tak menyukai keadaan ini. Tapi ia menuruti kata-kata adiknya itu.

"B-baiklah. Tunggu sebentar."

Dibaringkannya Sasuke di ruang keluarga. Sementara ia cepat-cepat mengambil obat di kamar Sasuke yang berada di lantai dua. Untung saja rumah itu tak begitu besar, sehingga Itachi tak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan obat tersebut. Begitu pula Sasuke, ia tak perlu lama menunggu agar dapat segera meminum obatnya sehingga rasa sakit yang dirasakannya dapat berkurang dan hilang.

1 menit, 2 menit, hingga akhirnya dalam waktu 5 menit obat itu menunjukkan khasiatnya. Wajah Sasuke sudah tak memperlihatkan ekspresi menderita lagi. Kini ia dapat tidur dengan tenang dipangkuan kakaknya. Begitu juga dengan Itachi, perasaannya sudah lega dan tenang.

Itachi menidurkan Sasuke di kamarnya. Diselimutinya tubuh yang agak kurus milik adiknya itu agar terlindungi dari dinginnya malam yang menusuk. Dibelainya pelan dahi sang adik yang tertidur damai. Bagi Itachi, situasi seperti tadi ibarat mimpi buruk. Sungguh pemandangan yang mengerikan di malam itu.

"Untung hanya serangan kecil ya, Sasuke?" senyum tipis tergambar diwajahnya. Setidaknya kecemasannya lumayan berkurang. Meski ia ingin sekali mendengar jawaban pertanyaannya dari Sasuke. Tapi, ya sudahlah. Biarkan saja. Lebih baik begini bukan?

Itachi hanya termenung menerawang gelapnya malam melalui jendela kamar Sasuke. Ingatannya kembali ke saat beberapa jam lalu ia bertemu dengan seseorang. Orang yang membicarakan hal serius dalam hidupnya. Orang yang membuatnya berpikir keras dan bimbang saat ini.

-Flashback-

18.00

Saat-saat di mana matahari menyembunyikan diri. Itachi keluar dari tempatnya bekerja keras untuk mendapatkan uang. Tanpa sepengetahuannya, seseorang terlihat sedang menunggunya.

"Lama tak bertemu ya, Itachi?" seseorang berpakaian celana panjang yang serba hitam berdiri di samping mobil sedan mewah berwarna hitam yang diparkir di pinggir jalan.

"Ada urusan apa kau menemuiku?"

"Ya ya… aku tahu kau memang orang yang tak suka basa-basi. Tentu saja masih dengan topik masalah yang sama." orang tersebut mendekat ke arah Itachi.

"Paman Madara, sudah berapa kali kukatakan, aku tak akan menyerahkannya pada orang sepertimu. Sudah bagus aku masih memanggilmu paman sekarang ini!" Itachi mulai sedikit emosi.

"Dasar pembelot. Bukankah aku sudah memberimu waktu selama 2 tahun ini? Apa itu masih kurang? Mau sampai kapan kau menentangku?"

"Aku tak peduli. Bukankah dia lebih meilihku daripada kau! Tak akan kubiarkan kau merebutnya dariku! Aku yang akan melindunginya."

"Oh begitu? Baiklah. Buktikanlah mulai sekarang kalau kau bisa." kalimat menusuk terakhir yang diucapkan seseorang yang dipanggil 'paman' oleh Itachi sebelum ia pergi dengan mobil mewahnya dan meninggalkan Itachi dalam keadaan emosi.

-End Flashback-

┼--------┼

Langit yang gelap, kini mulai terang kembali. Suara ayam jantan yang berkokok seakan meneriakkan bahwa matahari akan segera menyinari dunia. Cahaya terang mulai menyusup melalui celah kecil jendela dalam kamar. Cahaya terang yang membuat mata kita terbuka menyambut datangnya pagi. Tak sedikit orang yang berharap semoga hari ini jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Meski langit gelap sejenak, ia pasti akan segera menunjukkan terangnya. Apakah manusia yang hidup dalam kegelapan mampu menunjukkan sisi terangnya juga?

Liburan sudah berakhir. Tahun ajaran baru dan semester baru telah menanti. Bagi seorang pelajar yang rajin, hari ini adalah hari yang menyenangkan dan penuh hal-hal baru. Tapi bagi seorang pelajar yang malas, hari ini adalah hari yang merepotkan, menyebalkan sekaligus membosankan.

"Huaahh… membosankan. Aku tak bisa bangun siang lagi." keluh Shikamaru yang berjalan dengan santai, padahal anak-anak yang lain berlarian karena gerbang sebentar lagi akan ditutup.

"Apanya yang nggak bisa bangun siang? Buktinya sekarang kau berangkat kesiangan. Haah… kenapa liburan cepat sekali berakhir? Padahal belum banyak hal yang kulakukan." keluh Kiba yang tak kalah kesiangannya dengan Shikamaru.

"Hei, kalian!! Cepat sedikit! Kalian ini sudah kelas 3!! Perbaiki tingkah laku kalian!" seorang sensei yang disiplin ternyata sudah berjaga di gerbang sekolah. Pakaian dan sepatu yang bersih membuat penampilannya terlihat rapi. Sensei yang berdiri tegap dengan kedua tangan disembunyikan dibelakang. Semua murid kenal siapa dia.

"Iya iya, Iruka-sensei." ucap Kiba dan Shikamaru bersamaan. Ternyata mereka berhasil juga memasuki gerbang yang menurut mereka seperti gerbang neraka.

Suasana yang cukup ramai. Di gerbang, koridor, juga kelas. Banyak murid tahun ajaran lalu memenuhi tempat-tempat tersebut. Ada juga anak kelas 1 baru yang masih bingung mencari kelas mereka karena masih asing dengan sekolah barunya sekaligus suasananya.

"Kalian lama sekali! Kompak banget sih kalau telat!" Naruto berteriak di koridor sekolah. Tentu saja dia tidak sendiri. Di sana sudah ada Sasuke, Gaara, Sasori Neji dan Sai.

"Kuberi tau, kalian berdua nggak sekelas bareng kita. Tapi kalian sekelas sama Sai." Sasori to the point ke inti masalah hari ini tanpa basa-basi.

"Yang benar kami sekelas sama si muka datar ini?" Kiba menelusuri nama-nama murid yang tercantum dikertas yang sudah ditempel di pintu kelas yang sekaligus jadi ruang mereka belajar.

Kelas 3-1

Hyuuga Neji

Namikaze Naruto

Sabaku Gaara

Sabaku Sasori

Uchiha Sasuke

Kelas 3-2

Akimichi Chouji

Hyuuga Hinata

Inuzuka Kiba

Nara Shikamaru

Rock Lee

Sai

Tenten

Yamanaka Ino

"Kok bisa overprotect Prince, crush Prince, twin Prince, Ice Prince sekelas? Bisa bangun kerajaan tuh." Kiba diam sejenak karena dapat death glare dari Gaara dan Sasuke. Si anak polos Naruto dan Sasori hanya memenuhi kepala mereka dengan tanda tanya.

"Asyik!! Aku sekelas sama Hinata!!" Kiba kegirangan. Neji yang sebelumnya sudah menahan death glarenya, akhirnya ikut serta juga bersama Sasuke dan Gaara.

"Oh iya! Nanti pulang sekolah jangan lupa kita ada latihan di rumahku. Band kita di undang dalam acara menyambut anak kelas1 yang baru." Sasori memulai topik baru dengan semangat.

"Iya. Tuh si anggota OSIS yang mengajukan band kita untuk mengisi acara." Neji menunjuk Shikamaru.

"Bagus kan? Biar band kalian terkenal dikit. Daripada tuh band cuma buat main-main mengisi waktu kalian." Shikamaru menjelaskan dengan santai.

ANBU School, sekolah yang cukup terkenal di kota Konoha. Sekolah dengan gedung bertingkat empat. Halaman dan lapangannya lumayan luas.

Hari pertama mereka berjalan biasa-biasa saja. Namanya juga sekolah. Setiap harinya pasti membuka buku, membaca, menulis, mendengarkan guru dan sebagainya. Toh mereka sudah kelas 3 SMA, tak perlu ada perkenalan satu persatu. Setidaknya mereka kenal dengan siswa lain seangkatan dengan mereka walau tidak semuanya.

Jam istirahat Sasuke dan yang lainnya berkumpul. Mereka hanya makan dan ngobrol membahas sesuatu seperti biasanya. Naruto ribut nggak karuan. Kiba adu mulut dengan Neji gara-gara deketin Hinata. Gaara sibuk ngurusin kembarannya si Sasori yang tak beda jauh dengan Naruto. Sisanya masih damai menikmati makanannya. Sedangkan Sasuke sibuk dengan Hpnya.

-----------------------------------------------------------------------

From Aniki

Pulang sekolah jangan kemana-mana.

----------------------------------------------------------------------

To Aniki

Kenapa? Nanti aku ke rumah Gaara. Ada latihan Band.

----------------------------------------------------------------------

From Aniki

Nggak boleh. Nanti kau harus ikut aku.

----------------------------------------------------------------------

To Aniki

Kemana?

---------------------------------------------------------------------

Sial! Kenapa nggak dibalas sih!

13.30

Waktu cepat juga berlalu. Lega rasanya dapat terlepas dari keseriusan belajar. Sasuke cs sudah berkumpul dekat gerbang sekolah, menunggu Gaara yang datang dengan mobilnya dan Neji dengan motor Ninja-nya.

"Sasuke! Ikut aku." mendadak Itachi muncul dari luar gerbang. Spontan semuanya menengok ke arah Itachi.

"Untuk apa kau ke sini? Aku kan sudah bilang nggak bisa! Aku mau ke rumah Gaara."

"Nggak boleh. Pokoknya kau harus ikut aku." Itachi menarik tangan Sasuke, lalu menyeretnya keluar area sekolah. Naruto menyadari ada sesuatu yang tak beres.

"Mm… sepertinya kami nggak bisa ikut latihan hari ini. Besok masih ada latihan kan? Janji deh besok kami ikut." Naruto pergi begitu saja. Dia malah menyusul Sasuke dan Itachi yang belum jelas akan kemana.

"Apa!? Yang benar saja. Mana bisa kalau cuma bertiga?" Neji setengah kesal dengan keadaan ini. Sementara dua anak kembar hanya bisa angkat bahu.

┼--------┼

"Kak Itachi mau ngajak kemana sih?" Naruto berjalan sejajar dengan Itachi.

"Apa-apaan sih? Ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan. Tapi sekarang kau malah mengajakku ke tempat tak jelas. Lagipula kau kan sibuk bekerja! Untuk apa menyempatkan diri melakukan hal tak penting seperti ini?" omel Sasuke disepanjang jalan.

"Tentu saja karena ini penting." Jawab Itachi singkat tepat saat mereka sampai di tempat tujuannya.

"Mm…Bukankah ini rumah sakit? Lebih tepatnya rumah sakit keluargaku. Sebenarnya ada apa?" Naruto bingung sendiri.

"Sudah jelas kan, Naruto." Itachi menyeret Sasuke lagi. Sasuke hanya bisa mendengus kesal.

"Eh Sasuke? Daijoubu?" Naruto berlari menyusul karena tertinggal akibat kebingungannya.

Meski pertanyaannya tak mendapat jawaban, tapi Naruto dapat menebak apa jawabannya. Dia sudah lama mengenal dua bersaudara Uchiha ini. Naruto tahu semua tentang Sasuke. Naruto tahu semua rahasia Sasuke. Diantara semua teman-temannya, hanya Naruto yang tahu.

"Dasar! Sudah berapa kali kuingatkan untuk selalu chek up dua minggu sekali. Tanpa kujelaskan panjang lebar, kau pasti juga tahu kalau penyakitmu ini tambah parah. Itu kan tubuhmu sendiri, apa tak bisa menjaga kesehatan tubuh sendiri!?" ceramah yang dilakukan dokter wanita bernama Tsunade tiap kali ia memeriksa kondisi Sasuke. Sasuke sendiri sudah sangat bosan mendengarnya. Tentu saja itu karena dia benci membicarakan kesehatannya sendiri. Begitu juga dengan Itachi kalau sudah manyangkut hal ini juga tak kalah cerewetnya.

Tak lama setelah itu, masuklah seorang perawat. Seorang gadis seumur dengan Itachi. Memiliki rambut berwarna pink, serta warna hijau matanya merupakan suatu hal yang mencolok dari dirinya yang saat ini berpakaian serba putih ala perawat.

"Ah! Sakura-Neechan! Kapan datang? Hisashiburi…" sapa Naruto dengan wajah berseri-seri karena senangnya melihat sepupu akrabya yang bertahun-tahun tak bertemu.

"Oh, Naru! Sudah besar ya? Aku baru kembali ke Konoha seminggu lalu."

" Kenapa tak memberitahuku? Tinggal dirumahku saja ya?"

"Oh iya! Bagus juga. Bagaimana kalau mulai sekarang Sakura yang menjadi pengawas kesehatan Sasuke? Jadi ada yang mengurus kesehatannya di rumah." Dokter Tsunade tiba-tiba mengusulkan sebuah ide yang cukup mengagetkan mereka semua. Khususnya Sasuke.

"Kebetulan kan rumahku dekat dengan rumah Sasuke!" Naruto menambah sebuah pernyataan yang sangat mendukung.

"Boleh juga kalau itu bisa berguna." Meski sempat mempertimbangkan usul tersebut, akhirnya Itachi setuju juga. Lagipula tak ada masalah karena Itachi sebenarnya sudah lama mengenal Sakura. Sepupu Naruto berarti juga sepupu Deidara, sahabatnya. Hanya saja dia tak terlalu akrab dengan Sakura. Alasan lain, ini juga demi Sasuke. Setidaknya kekhawatirannya yang berlebihan dapat berkurang.

"Apa!? Tidak mau!!" dan tentu saja hanya Sasuke yang menolak mentah-mentah usul itu. Tapi sayangnya tak ada yang memperdulikan sanggahannya tersebut. Apa daya seorang Uchiha Sasuke tanpa pendukung? Dia hanya bisa pasrah.

Sial! Merepotkan! Untuk apa sih kakak menyetujui usul seperti ini!? Siall!!

┼--------┼

Malam kembali menyelimuti hari. Angin berhembus kencang. Suara gesekan daun di pohon terdengar begitu kesepian. Begitu sunyi…

Suasana seperti itulah yang juga menyelimuti rumah sederhana Sasuke. Memangnya hal gaduh apa yang dapat ditimbulkan oleh dua laki-laki yang tak banyak tingkah seperti mereka berdua? Paling-paling hanya suara televisi atau musik yang sengaja mereka perdengarkan.

Hari ini Itachi benar-benar meluangkan waktunya demi Sasuke. Dia sengaja meminta ijin untuk bekerja setengah hari saja. Untuk apa dia melakukan hal merepotkan seperti ini? Padahal 2 tahun sebelumnya dia tak pernah melakukan hal seperti ini.

"Sasuke! Cepat turun makan malam!" teriak Itachi ketika melewati tangga. Beberapa menit kemudian Sasuke muncul di ruang keluarga. Mereka biasa makan malam di situ. Ruang yang memiliki dinding kaca menghadap ke luar rumah, sehingga mereka dapat melihat betapa sunyinya kehidupan malam di luar sana.

"Lama sekali. Apa sih yang kau lakukan di kamar? Cepat makan!" nada omelan dan perintah seperti biasa.

"Apaan sih? Kau ini selalu mempermasalahkan hal kecil." Nada balasan Sasuke seperti biasa sambil memasukkan sesuap makanan yang ada dimeja ke dalam mulutnya.

"Ingat! Beruntung Sakura-san masih harus menyelesaikan tugas pentingnya di rumah sakit selama seminggu. Jadi kau masih bisa bebas sekarang. Tapi setelah itu kau tak boleh protes apapun lagi."

"Hm." Jawabnya datar setengah kesal sambil mengunyah makanan dalam mulutnya. Sasuke mulai kesal lagi.

┼--------┼

ANBU School.

"Huff, ini latihan yang terakhir. Besok kita manggung perdana! Nggak nyangka. Ganbatte!!" Sasori berteriak dengan wajah girang dan mengangkat salah satu tangannya yang sudah dikepal. Sedangkan saudara kembarnya yang sama-sama meiliki rambut berwarna merah hanya memain-mainkan stik drum yang masih dibawanya.

"Heh, kita ini kan cuma tampil untuk mengisi acara saja. Tak perlu bicara begitu! Kayak mau konser aja." Neji menyanggah.

Blab la bla…. Mereka ribut dengan topik yang mereka bahas.

"Mm, Sasuke… kau sudah merasa kan? Mobil itu mengikuti kita sejak kemarin." Pandangan Naruto dan Sasuke terfokus pada mobil sedan hitam di seberang jalan.

"Ya aku tau. Mobil itu hanya mengikutiku. Tidak salah lagi. Pasti mereka."

"Masih saja ada yang melakukannya. Apa mereka tidak bosan? Kau berhati-hatilah, Sasuke." Naruto dan Sasuke bicara berbisik agar tak terdengar teman-temannya yang lain.

-TBC-

┼--------┼

Apakah kalimat2nya terlihat kacau? Pasti iya. Ga konsen brow…..

Raeru : Gomen ya Sas! Sebenarnya aku ga tega membuatmu begini. Tapi aku pengen kau begini. -innocence-

Sasuke : Ingat! Gue gak akan menerimamu di Uchiha. Dasar! Nikaido!

Raeru : Yaelah Sas…. Jangan marah gitu dong….

Readers…. Tolong aku dong…..

Review yach!!! Onegai….