Cross Academy
Pagi hari, di depan pintu sekolah, Cross Academy
Perkenalkan, namaku Cross Yuuki atau biasa dipanggil Yuuki. Umurku enam belas tahun dan kini aku bersekolah di Cross Acedemy, sekolah ayahku. Ya, kalian tidak salah dengar. Aku adalah anak kepala sekolah di sekolahku sendiri. Agak lucu dan risih, ya?
"Kyaa! Kyaa! Kyaa!"
Tenang, kalian tidak sedang mendengar jeritan ketakutan. Tidak ada kecelakaan ataupun yang meninggal di sini. Ini hanya jeritan para siswa siswi Day Class saja. Ini sudah biasa terjadi setiap harinya dalam seminggu, dua kali sehari, setiap pagi dan petang.
Ups...
Apa aku lupa memberitahu? Cross Academy bukanlah seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Bila sekolah pada umumnya hanya membuka satu kelas saja di pagi hari, Cross Academy punya dua kelas; Day Class dan...Night Class. Aku dan siswa siswi lainnya yang berbaju hitam adalah siswa Day Class, sedangkan yang berbaju putih adaah siswa siswi Night Class. Adanya dua kelas ini karena bangunan sekolah kami Cuma ada satu, sehingga kami harus menggunakannya secara bergantian. Tapi pliss deh, Night Class? Kelas malam? Bagaimana mungkin siswa-siswi itu betah belajar malam-malam di gedung sekolah yang lebih mirip kastil ini? Aku, sih ogah.
"Kyaa! Kyaa! Kyaa!"
'Jeritan mereka ini membuatku sakit kepala saja!' gerutuku dalam hati.
Jeritan kegilaan para siswa siswi—terutama siswi—Day Class ini bukan tanpa alasan. Dari gerbang ini, tempat dimana kami semua menunggu sambil berdesak-desakan ini, akan muncul deretan model dan manusia super tampan plus menawan bak bidadari, itulah siswa-siswi Night Class. Meski aku tidak menyukai mereka karena kebisingan yang mereka buat ini setiap harinya, mau tidak mau aku mengagumi mereka. Bagaimana tidak? Para siswa-siswi itu benar-benar sesuatu. Ketampanan dan kecantikan mereka itu luar biasa, mereka semua tampak berkilau di mataku seperti patung manekin terbaru. Meski aku kesal dengan jeritan para siswi, aku bisa paham kenapa mereka mengidolakan para murid Night Class bahkan tergila-gila pada mereka.
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku didorong dari belakang. Untungnya aku masih bisa menyeimbangkan diriku agar tidak jatuh tersungkur. Benar-benar, deh. Siswi-siswi ini jadi menggila setiap pagi dan petang. Mereka tidak mau lihat siapa yang ada di depan mereka, yang penting mereka bisa menyaksikan siswa-siswi Night Class di barisan terdepan. Akibatnya, aku yang hari ini ada di barisan terdepan jadi sengsara atau ibarat kata...jadi calon tumbal kalau kegilaan mereka sudah sampai puncaknya. Aku mesti siap terinjak-injak, nih.
"Minna-san, sagatte kudasai,"
Seketika suasana membatu seolah waktu berhenti berputar. Siswa-siswi langsung berdiri rapi membentuk barisan di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan masuk ke sekolah. Tidak ada satupun yang berbicara, semuanya diam berdiri dengan patuh seperti barisan upacara bendera. Semua kebisingan dan jeritan tadi lenyap ditelan kesunyian.
Aku menoleh dan menemukan penyebab kepatuhan semua murid Day Class secara tiba-tiba. Seorang pemuda tinggi berambut gelap berdiri di ujung jalan. Mata gelapnya memandangi barisan murid-murid satu persatu dalam sorot mata yang tak bisa ditebak. Sorot mata dalam itu membuat setiap murid bungkam. Tidak ada yang berani melawannya, terlebih lagi posisinya sebagai prefect sekolah dan juga anak angkat dari kepala sekolah, membuatnya tambah disegani.
Ketika pintu sekolah terbuka dan menampakkan deretan murid-murid bak supermodel, suasan sunyi kembali lenyap. Banyak siswa-siswi menjerit kegilaan lagi, meski kali ini mereka lebih tenang, tidak seheboh tadi karena ada prefek yang mengawasi mereka.
Barisan supermodel itu pun berjalan dengan diapit barisan siswa-siswi Day Class di kanan dan kiri. Sekarang mereka benar-benar tampak seperti model.
Pria berambut pirang yang berjalan paling depan tersenyum ramah pada siswa-siswi.
"Ohayou! Onna no ko tachi!" sapanya ramah. Nama pemuda berambut pirang itu adalah Aidou Hanabusa-senpai, senior Night Class yang paling 'menggelikan'.
"Ohayou, Idol-senpai!" sapa para siswi Day Class.
Lihat, kan, kenapa aku bilang dia itu paling menggelikan? Semua siswi memanggilnya dengan julukan 'Idol-senpai'. Benar-benar membuatku merinding...
"Kyaa! Shiki-senpai! Kain-senpai!"
"Ru-ruka-san!"
"Idol-senpai!"
Tiba-tiba aku didorong dengan keras dari belakang, karena gerakan yang tiba-tiba aku tidak bisa mengantisipasinya dan jatuh tersungkur dengan keras ke depan, tepat ke atas tanah yang keras.
"Aduh..." Aku meringis kesakitan sambil memegangi lututku.
Kemudian aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku merasa suasana di sekitarku mendadak sunyi senyap. Ada apa, ya?
Aku memberanikan diri untuk menoleh. Ada sepasang kaki jengang di depan mataku. Aku menengadah menelusuri kaki-kaki jenjang itu hingga berakhir ke sebingkai wajah putih dingin bermata lilac yang tajam menusuk.
"Minggir!" suruhnya dengan nada dingin yang sangat tak ramah.
Aku baru sadar kalau aku terjatuh tepat ke hadapannya dan menghalangi jalannya, bahkan bukan hanya dirinya, melainkan juga menghalangi jalan para murid Night Class. Aku buru-buru berdiri dan membungkuk,
"Sumimasen, Kiryuu-senpai! Sumimasen!" pintaku sambil membungkuk berkali-kali.
Aku terus membungkuk, tapi tidak aku dengar jawaban apapun dari orang yang aku mintai maaf tersebut. Di pandangan mataku, kaki-kaki itu melangkah menjauhiku seolah aku ini bukan apa-apa. Aku terus membungkuk hingga aku pastikan Kiryuu-senpai sudah tidak ada di hadapanku lagi.
"Yuuki, daijoubu ka?"
Aku berdiri tegap lagi dan langsung bertemu pandang dengan seorang kakak kelas dari Day Class sepertiku. Ia tidak selembut ini ketika menertibkan siswa-siswi sebagai prefek tadi.
Aku menjawab pertanyaannya dengan seulas senyum, "Daijoubu, Kaname-senpai. Shinpai shinai yo,"
"Yokatta," jawab Kaname-senpai seraya bernafas lega.
"Apa kamu terluka?"
Aku kira yang bertanya itu Kaname-senpai, tapi mulutnya tidak bergerak. Aku menoleh dan baru menyadari kalau murid-murid Night Class belum pergi. Mereka semua terdiam di tempatnya dan anehnya...mata mereka semua tertuju padaku...hanya padaku...bahkan mata Kiryuu-senpai.
"Aku tanya, apa kamu terluka?" ulang Kiryuu-senpai.
Aku tersadar dan buru-buru melihat kakiku. Aku merasakan sedikit nyeri di sana dan ternyata memang benar, kakiku berdarah.
"Ah, iya," jawabku. Kemudian aku tersadar akan satu keanehan. Aku kembali memandang Kiryuu-senpai. "Bagaimana senpai bisa tahu?"
Tiba-tiba pandangan Kiryuu senpai beralih dariku. Ia memandang Kaname-senpai dengan tatapan kesal, "Seharusnya kamu bisa bertindak lebih cepat sebelum aku duluan yang menyadarinya, prefek Kuran-senpai,"
Aku memandang Kiryuu-senpai dan Kaname-senpai bergantian. Ada atmosfir keruh yang menyeruak kental di antara mereka berdua.
"Maaf," kata Kaname-senpai, tapi wajahnya samasekali bukan wajah seseorang yang meminta maaf. "Aku akan segera membawanya ke klinik, Kiryuu-kun. Terima kasih untuk perhatian dan sarannya,"
Kiryuu-senpai memutar tubuhnya kembali, "Semuanya, ayo kembali ke asrama,"
Dengan patuh, semua siswa-siswi Night Class mengikuti perintah Kiryuu-senpai. Mereka semua kembali ke asrama Moon Dorm tanpa bertingkah lagi atau berucap satu patah kata pun. Seakan terpengaruh para murid Night Class, siswa-siswi Day Class pun tidak lagi ribut. Mereka masuk ke sekolah dengan tertib, meski di antara mereka pun masih terdengar bisik-bisik kagum dan senang karena bisa bertemu dengan para murid Night Class hari ini.
Setelah suasana tenang, Kaname-senpai menoleh padaku. Ia tersenyum cemas.
"Mari aku antar ke klinik,"
.
.
.
Klinik Sekolah
Aku duduk di atas ranjang putih klinik sekolah sementara Kaname-senpai di bawahku berlutut sambil mengobati luka di lututku dengan anti septik.
"Arigatou, Kaname-senpai," ujarku. "Padahal aku bisa melakukannya sendiri, tapi Kaname-senpai sampai mau repot-repot begini..."
"Tidak apa-apa," jawab Kaname-senpai. "Meski aku hanya kakak angkatmu, sudah tugas seorang kakak untuk menjaga adiknya, kan?"
Itu benar. Sepuluh tahun yang lalu, Kaname-senpai menjadi kakakku. Ayahku mengangkatnya sebagai anak. Ayah bilang, orangtua Kaname-senpai meninggal dan dia tidak punya siapa-siapa lagi sejak saat itu, makanya ayahku mengangkatnya sebagai anak untuk merawatnya. Bagiku, dia sudah seperti kakak kandungku.
"Tingkah laku Kiryuu-senpai masih menyebalkan seperti biasanya," keluhku dengan kesal.
"Yah, mau diapakan lagi. Dia harus tegas. Dia, kan ketua asrama Night Class, sudah sewajarnya dia bersikap begitu," balas Kaname-senpai.
"Tapi, sikapnya yang terlalu dingin itu, aura gelap yang selalu dipancarkannya dan membuat semua orang takut itu, semuanya tentang dia itu tidak ada yang enak! Bahkan dia bersikap sangat dingin padaku! Sepertinya dia bersikap sedingin itu hanya kepadaku saja!" keluhku panjang lebar.
"Tidak juga, ah," tukas Kaname-senpai.
"Tidak apanya? Dia itu selalu pasang tampang tak enak hanya di depanku saja! Kalau di depan yang lain sikapnya sedikit lebih baik!" lanjutku. "Ugh...memangnya apa salahku? Berbicara saja dengannya aku tidak pernah...Kok tahu-tahu dia bersikap sedingin itu? Kaname-senpai, apa kamu tahu kenapa Kiryuu-senpai—
Aku mematung di tempatku ketika melihat Kaname-senpai terpaku di tempatnya. Kedua mata hitamnya memandang dan terfokus pada lututku yang terluka. Kedua mata hitam yang biasanya tenang dan tak terjangkau itu kini tampak...seperti menginginkan sesuatu. Mata itu terlihat aneh sekarang. Sekarang Kaname-senpai terlihat menakutkan...Apa yang terjadi?
"Kaname-senpai?" tegurku.
Kaname-senpai tersentak kaget lalu menengadah memandangku dengan bingung.
"Ada apa?" tanyaku.
"Huh? Ada apa apanya?" Ia balik bertanya.
"Itu...tadi...Kaname-senpai terlihat...sedikit aneh," jawabku.
"Aku? Aneh apanya? Aku baik-baik saja," jawab Kaname-senpai dengan senyuman.
Hm...iya juga. Dia tampak baik-baik saja. Ah, mungkin tadi itu hanya perasaanku saja.
.
"Nah, sudah selesai,"
Aku memandangi lututku yang kini sudah berbalut perban rapi dengan sangat puas. Kaname-senpai memang serba bisa. Aku bahkan tidak merasakan perih saat dia mengobatiku dengan antiseptik.
Aku beranjak dari ranjang dan berjalan meninggalkan Kaname-senpai. Aku membuka pintu klinik dan hendak pergi, namun sebelum pergi, aku berputar balik. Aku memberikan senyum padanya.
"Arigatou, Kaname-senpai," ujarku.
"Dou itashitmashite," jawab Kaname-senpai sambil tersenyum.
.
.
Change POV
Yuuki berlari keluar dari klinik dengan agak terpincang karena kakinya yang terluka. Ia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri ketika melangkah pergi. Bahkan ia tidak melihat keberadaan seorang pemuda berambut putih yang sedang berdiri di samping pintu klinik dalam diam. Sang pemuda sudah ada di sana sejak Yuuki masuk ke klinik, mengawasi setiap gerak-gerik Yuuki.
"Kamu hampir kehilangan pengendalian dirimu, kan, Kuran-senpai?" tanya sang pemuda.
"Kiryuu Zero-kun, bukankah agak tidak sopan mengawasi diam-diam begitu?" tegur Kaname.
"Aku hanya ke sini untuk mengawasi," jawab Kiryuu Zero. "Aku tidak akan pernah percaya padamu,"
Kaname terdiam di dalam.
"Kalau kamu sampai menyentuhnya, aku tidak akan mengampunimu," ancam Zero yang kemudian secara tiba-tiba menghilang.
Di dalam klinik, Kuran Kaname hanya memandang ke luar dengan dingin, ke tempat dimana tadi Kiryuu Zero berada. Ia kelihatan sangat sangat tidak senang dengan ucapan Kiryuu barusan. Kedua tangannya mengepal dengan keras meski ekspresinya tak menunjukkan banyak perubahan. Kemarahan tertanam jelas di dalam ketenangan dirinya.
.
.
.
.
Fuala...itulah chapter pertama dari story ini?
Bagaimana dengan perubahan-perubahannya?
Uhm...maaf, tapi...cerita ini hanya second project Author, jadi cerita ini tidak akan author utamakan.
Cerita ini akan pending dan akan author update tidak tentu waktu, mohon maaf atas ketidaknyamanannya (_ _)
