A/N: Makasiiiih buat semua yang udah review chapter 1... ^_^
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Setting: AU
~VENTRILOQUIST~
Chapter 2
#
#
"Akhirnya selesai juga," Kankurou mengusap peluh di wajahnya. Kardus-kardus berisi boneka-boneka itu telah tertata rapi menjadi tumpukan yang tinggi.
"Bagus sekali. Pekerjaanmu rapi," terdengar suara boneka perempuan memuji. Kankurou berbalik dan menemukan Sasori berdiri di depannya, tanpa ekspresi seperti biasa, dengan kedua boneka tetap berada di bahunya.
"Terima kasih," Kankurou tersenyum.
"Kita akan berangkat setengah jam lagi. Bawalah semua kardus boneka itu ke karavan di luar," ujar boneka laki-laki.
"APA! Semuanya! Dalam setengah jam!"
"Kau mau ikut tidak?"
"Baiklah," Kankurou mendesah.
"Bagus," suara boneka perempuan itu terdengar ceria, tapi bernada agak mengejek. "Kami, bersama Tuan Sasori, akan menunggu di depan," bersamaan dengan itu, Sasori berbalik dan meninggalkan Kankurou. Pemuda itu langsung terduduk, mengeluh.
"Sepertinya aku dimanfaatkan..." gerutunya. Tapi dia cepat-cepat mengubah pikirannya.
"Ini semua demi boneka-bonekaku. Aku tidak akan menyerah sampai di sini," dia bangkit, lalu mulai mengangkat kardus. "Aku akan menuruti semua perintah Tuan Sasori, asalkan aku tidak pergi dari surga ini."
Dengan semangat baru tersebut, Kankurou memulai pekerjaannya.
.
.
"Semua... sudah... kuangkut..." napas Kankurou terengah-engah ketika ia melapor pada Sasori yang menunggu di depan teater boneka.
"Bagus! Sekarang, kita berangkat," kata boneka laki-laki. "Tujuan berikutnya adalah kota sebelah!"
Sasori berjalan menuju karavannya, diikuti oleh Kankurou yang membawa karung bonekanya sendiri. Karavan itu cukup bagus dan sama sekali tidak bobrok seperti teater yang baru saja mereka tinggalkan. Dindingnya bercat hitam dengan hiasan awan-awan merah. Corak yang agak aneh, namun bagi Kankurou, terlihat elegan.
Rodanya ada empat, berwarna-warni. Bagian depan karavan adalah sepeda kayuh biasa, tersambung dengan bagian dalam karavan yang berfungsi sebagai rumah berjalan. Di atas sadel sepeda kayuh tersebut, duduk seseorang.
Atau Kankurou kira begitu, sebab ketika dia melihat lebih dekat, ternyata yang terlihat seperti orang itu adalah boneka!
"Maaf..." Kankurou berujar pelan, "apakah itu robot?"
Kepala boneka perempuan menoleh pada Kankurou, sementara Sasori tetap berjalan.
"Apanya yang robot?"
Kankurou menunjuk si boneka sais.
"Tidak ada robot di sini! Yang ada hanyalah boneka mekanis," kata si boneka perempuan kasar, lalu memalingkan wajahnya lagi dengan angkuh. Kemudian mereka telah tiba di depan pintu karavan. Sasori membukanya, setelah itu masuk ke dalam. Kankurou mengikuti.
Bagian dalam karavan itu juga penuh boneka bergelantungan. Tapi di luar itu, semuanya bersih dan rapi. Barang-barang tersusun teratur di rak, lantai kayunya pun tanpa kotoran. Karavan itu dibagi menjadi tiga ruangan dengan sekat di antaranya.
"Ruangan kami dan Tuan Sasori adalah yang di sebelah situ," boneka laki-laki menunjuk ke kiri. "Agar Tuan Sasori bisa mengawasi Sang Sais."
"Di sini adalah ruangan utama," lanjut boneka perempuan. "Karena kau ikut bersama kami, kau tidur di sana."
Tangan boneka perempuan itu menunjuk ke ruangan di sebelah kanan.
"Baik. Terima kasih banyak, Tuan Sasori."
Kedua boneka di bahu Sasori saling berpandangan di belakang kepala Sasori.
"Kau tidak berterima kasih pada kami?"
Kankurou salah tingkah, tapi akhirnya berkata, "Mmm... terima kasih, mmm..."
"Namaku Ibu," kata boneka perempuan.
"Dan aku Ayah," sambung boneka laki-laki. Kankurou melongo sejenak, menghela napas, lalu dengan agak enggan melanjutkan perkataannya tadi, "Terima kasih, Ibu... Ayah..."
"Sama-sama!" sahut kedua boneka itu ceria. Setelah itu Sasori berjalan pergi bersama mereka—wajahnya bahkan tidak berkedut sedikit pun.
Dan karavan itu mulai bergerak...
.
.
Ternyata ruangan yang ditunjukkan oleh kedua boneka tadi adalah dapur sekaligus tempat barang-barang. Kardus-kardus yang diangkut Kankurou tadi ada di sini. Hanya di dapur inilah tidak ada boneka menggelantung di langit-langitnya.
Kankurou menghempaskan tubuh di salah satu kursi di sana, kemudian membuka karungnya.
"Kita sudah selangkah lebih dekat menuju istana kita, boneka-bonekaku," ujarnya sambil tersenyum. "Aku berjanji akan..."
"Janji apa?"
Kankurou terlonjak, dan menoleh cepat. Di belakangnya ada seorang perempuan tua yang sedang menyeduh teh.
"Kau... eh, maksudku, Anda..." Kankurou ingin bertanya apakah dia manusia atau boneka, namun rasanya tidak sopan. Tapi perempuan tua itu mengerti.
"Aku seratus persen manusia," dia terkekeh pelan seraya menyodorkan teh pada Kankurou. "Namaku Chiyo. Aku adalah pelayan Tuan Sasori sejak dulu."
Dalam hati, Kankurou merasa lega sekali melihat manusia lain di sini selain dirinya dan Sasori.
"Aku Kankurou. Aku..." dia terdiam, memikirkan statusnya. Sebenarnya apa statusnya di sini? Asisten? Pelayan? Pembantu?
"Kau ikut dengan kami, kan? Selamat datang," Chiyo tersenyum hangat. "Sudah lama sekali sejak ada yang bergabung dengan kami. Kau boleh panggil aku Nenek Chiyo."
Dia berdiri dan menyiapkan sepiring kue, lalu meletakkannya di depan Kankurou.
"Makanlah. Kau pasti lapar."
"Terima kasih banyak," tanpa ragu, pemuda pembuat boneka itu langsung memakan kue di depannya. Enak sekali. Chiyo memerhatikannya dengan senyum yang semakin lebar.
"Aku jadi ingat, dulu Tuan Sasori selalu berekspresi seperti itu ketika makan kue buatanku," ujarnya. Nada suaranya penuh kasih sayang.
"Nenek sudah kenal Tuan Sasori sejak lama?" tanya Kankurou dengan mulut penuh kue.
"Aku mengasuhnya sejak bayi. Tidak ada yang lebih mengenalnya daripada aku," jawab Nenek Chiyo sambil menyeduh teh lagi untuk dirinya sendiri. "Aku bisa menulis biografinya sambil menutup mata."
"Nenek Chiyo..." Kankurou menggantungkan kalimatnya. Dia ingin sekali menanyakan sesuatu yang dari tadi mengganjalnya, namun dia ragu.
"Apa?"
Kankurou menelan ludah.
"Ng... apakah Tuan Sasori... tidak bisa bicara?"
Nenek Chiyo terkekeh mendengar pertanyaan itu.
"Bisa. Tapi aku tak tahu apakah dia masih ingat caranya bicara," jawabnya enteng. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar suara Tuan Sasori sejak dia memutuskan untuk menjadi ventriloquist sepenuhnya dan selalu menjadikan Ayah serta Ibu sebagai mulutnya."
Pandangan Nenek Chiyo menerawang ketika mengatakan itu. Sembari terus mengunyah kuenya, Kankurou meraba bahwa pasti ada sesuatu dengan masa lalu Sasori. Mungkin Sasori telah mengalami hidup yang lebih rumit dibandingkan apa yang sudah dirinya alami.
"Kau tahu, Kankurou? Dia bahkan tak pernah tersenyum lagi. Semua yang bisa dilakukan mulutnya telah diwakili oleh Ayah dan Ibu. Kecuali makan dan minum, tentu saja."
Kepala Nenek Chiyo tertunduk sedih. Kankurou merasa tidak enak melihatnya, akhirnya dia mengalihkan pembicaraan.
"Nek, apakah Tuan Sasori benar-benar master boneka yang hebat?"
Nenek Chiyo menatap Kankurou dengan pandangan tak percaya.
"Pertanyaanmu itu retoris. Tentu saja! Tuan Sasori adalah master boneka terbesar yang pernah siapapun tahu. Dia seorang ventriloquist, dia ahli marionet, dia pembuat boneka handal... yah, intinya, otaknya adalah kota boneka. Semua ilmu tentang boneka ada di sana."
"Sungguh?" mata Kankurou berbinar. "Ternyata memang tidak salah aku ke sini!"
"Kau suka boneka, Kankurou?"
"Tentu saja!" Kankurou mengambil karungnya dan menunjukkan isinya pada Nenek Chiyo. "Ini semua buatanku sendiri!"
Si perempuan tua menatap Kankurou yang bersemangat, lalu mengeluarkan kekehannya lagi.
"Sekarang aku mengerti kenapa Tuan Sasori mau menerimamu ikut bersama kami," ujarnya. "Kankurou, kalau kau bersikap baik dan bisa beradaptasi dengan cara hidup dan sifat kami, kelak kau akan bisa meminta Tuan Sasori untuk mengajarimu beberapa trik bonekanya. Bahkan mungkin dia akan mengajakmu dalam pertunjukan. Tuan Sasori itu murah hati, kalau dia sudah suka dan percaya pada seseorang. Sayangnya, hanya sedikit orang-orang seperti itu baginya."
"Benarkah? Benarkah Tuan Sasori akan mengajariku?"
"Bisa jadi, kalau kau..."
"Aku pasti bersikap baik dan menuruti semua perintahnya," kata Kankurou penuh tekad. "Aku ingin sekali bisa menjadi ventriloquist sepertinya, dan memelajari hal-hal lain tentang boneka darinya. Untuk istana bonekaku nanti..."
"Istana boneka?"
"Ya!" kemudian, selama beberapa saat berikutnya, Kankurou menjelaskan segala impiannya tentang boneka kepada Nenek Chiyo, yang mendengarkan sambil terus tersenyum.
Tuan Sasori... ingatkah kau? Kau pernah seperti pemuda ini sebelumnya... hidup, dan penuh mimpi...
Tapi sekarang?
Apakah kau masih mencintai boneka, seperti dulu?
Apakah kau masih... mencintai hidupmu?
TBC
#
A/N: TIDAAAAK...! Oh ya ampun, sepertinya ini akan menjadi lebih panjang daripada perkiraan saya... T_T
